Disclaimer : Masashi Kishimoto

Pairing : Naruto U. x Hinata H.

Rate : T

Genre : Romance, Fantasy

Warnings : AU, Gaje, OOC, (miss) Typo yang pasti ada, dan masih banyak lagi…

.

.

.

Diliriknya Naruto yang kembali fokus pada bukunya, "Naruto-kun…." Bisik Hinata dalam Hati. "Apa yang akan terjadi?"

.

Chapter 4 : Reaching You!

Hinata memandang langit-langit kamarnya, kedua tangannnya dilipat dibelakang kepalanya sebagai bantal tambahan untuknya. Masih terngiang di telinganya perkataan Shikamaru yang begitu ambigu, tapi ada satu hal yang dia yakini … itu bukanlah hal yang terdengar baik.

Sudah jam setengah Sepuluh malam dan ia belum bisa tertidur, pikirannya melayang antara Naruto dan perkataan Shikamaru. Bahkan dalam hatinya ia berharap Naruto akan baik-baik saja, ia tidak tau kenapa tapi Naruto membuatnya sangat khawatir.

Mencoba untuk membuat dirinya tidur, Hinata berjalan menuju rak buku yang berada tidak jauh dari tempat tidurnya itu. Setelah memilih beberapa buku dan mengambilnya, ia berjalan kembali ke tempat tidurnya. Hanya butuh beberapa menit membaca sampai akhirnya ia mulai merasa mengantuk dan tanpa sadar buku tersebut terlepas dari tangannya. Hinata tertidur.

Sekelebat bayangan tampil dalam penglihatannya, tapi ia sendiri tidak mengetahui apa itu. Bayangan-bayangan tesebut terus muncul dengan cepatnya sampai ia sulit melihat gambarnya dengan jelas. Keringat mulai bermunculan di dahinya, nafasnya terasa sesak. Ia memegang dadanya yang terasa nyeri.

"…Kami-sama… Tolong selamatkan dia…"

Hinata membuka matanya secara tiba-tiba, kemudian ia terduduk dan barulah ia tersadar bahwa nafasnya terasa sesak dan keringat membanjiri wajahnya. Sambil mengatur nafas, Hinata mencoba mengingat mimpinya tadi malam namun gagal. Tidak satupun alasan ia temukan mengapa ia menjadi seperti ini di pagi hari dan ini adalah pertama kali ia mengalaminya.

TOK! TOK! TOK!

Suara ketukan pintu membuyarkan lamunannya, dengan mengambil satu kali nafas panjang ia bangkit dari tempat tidur dan menuju kearah pintu.

Membuka pintu, Hinata menemukan Matsuri berdiri didepan pintunya, "Aku akan turun sebentar lagi, Matsuri-chan".

Mengerti perintah majikannya, Matsuri hanya membungkukkan badan dan membalas dengan senyuman sopan, "Baiklah. Saya mengerti Hinata-sama". Kemudian ia berlalu meninggalkan majikannya tersebut.

Setelah menutup pintu, Hinata memutuskan bahwa ia tidak perlu mengingat mimpinya semalam. Kemudian ia memutuskan untuk mempersiapkan diri menuju termpat rutiannya setiap pagi. Sekolah.

Hinata melirik jam dinding kelasnya, sekarang sudah pukul sepuluh dan ia belum malihat Naruto satu kalipun hari itu.

SREEKK…

Pintu kelas Hinata bergeser menampilkan sesosok pemuda yang baru saja ia pikirkan dan tanpa sadar ia tesenyum tipis melihat Naruto yang masuk kelas dengan perlahan-lahan seperti murid yang datang terlambat dan tidak ingin ketahuan gurunya. Kemudian ia berhenti ditengah kelas dan memukul jidatnya sendiri. Selanjutnya ia berjalan normal dan melambaikan tangannya kepada Hinata. Kemudian Naruto duduk di jendela tempat kesukaannya.

"…Kami-sama…"

Hinata mendengar bisikan aneh dikepalanya diikuti dengan rasa nyeri. Refleks Hinata memegang kepalanya yang terasa sakit. Keringat mulai muncul diwajahnya. Perasaan yang sama yang ia rasakan tadi malam muncul kembali.

"Hinata-chan? Kau tidak apa-apa? Kau sakit?" tanya Ino yang melihat tindakan aneh Hinata. Ino memegang pundak Hinata untuk melihat keadaanya.

"Ke… kepalaku sakit…." Bisik Hinata tidak bisa menahan rasa sakit yang semakin menjadi.

Ino yang khawatir memutuskan untuk membawa Hinata ke ruang kesehatan. Setelah meminta izin guru, Ino segera membantu Hinata berdiri.

Baru beberapa langkah jauhnya dari meja, Hinata merasakan sakit dikepalanya semakin terasa. Hinata berusaha mempertahankan langkahnya, namun gagal. Pandangannya terlihat mulai gelap dan ia tidak tahan lagi. Sebelum kehilangan kesadarannya, masih sempat diliriknya Naruto yang terlihat kaget saat ia tiba-tiba terjatuh. "Naruto-kun…." Bisiknya dalam hati sebelum kesadarannya menghilang.

Tiupan angin terasa segar diwajahnya, cahaya yang silau memaksanya untuk membuka mata. Perlahan tapi pasti kelopak matanya terbuka. Namun keadaan yang ada dalam penglihatannya saat ini sama sekali tidak dikenalinya. Tangannya menyentuh tempatnya duduk saat ini dan menemukan bahwa ia sedang terduduk disebuah padang rumput yang sangat hijau. Sejauh mata memandang ia hanya melihat rumput hijau yang bergerak ditiup angin. Dia juga bisa melihat deretan gunung di kejauhan dan hutan di ujungnya yang lain.

Tunggu sebentar!. Kenapa ia berada disini? Seingatnya ia ada dikelas dan apa yang sedang dilakukannya disini? Dengan perlahan Hinata mencoba berdiri, namun ia menyadari hal yang aneh. Pakaiannya... Ia menggunakan yukata berwarna biru dengan motif bunga berwarna putih. Pakaian yang cantik pikirnya.

Sejenak Hinata merasa terhanyut dengan keadaan sejuk dan nyaman disekitarnya, namun segera ia bawa kembali kesadarannya. Sambil menggeleng-gelengkan kepalanya Hinata mulai mencoba mencerna apa yang terjadi.

"Aku harus bagaimana? Apa yang harusnya kulakukan terlebih dahulu?" Ucapnya kepada dirinya sendiri. Matanya masih berkeliling, saat itulah ia melihat seseorang dari kejauhan melambai kearahnya.

Siapa itu? Pikirnya dalam hati, walaupun orang itu berjalan semakin dekat, Hinata masih belum bisa melihat wajahnya dengan jelas.

Orang itu terus mendekat, tapi wajahnya terlihat buram dan tak jelas. Yang terlihat jelas dipandangannya adalah orang itu sedang tersenyum kepadanya, senyuman yang tidak asing pikirnya. Orang itu hanya berbicara hal-hal yang tidak dimengertinya, namun hanya berada didepannya ia merasa bahagia. Ini bukan perasaanya! pikir Hinata dalam hati. Ini bukan dirinya!, tapi kenapa ia bisa berada disini? Orang itu masih berbicara kepadanya ketika disekeliling mereka berubah gelap.

"Hahh… Hahh…" Nafas Hinata terasa sesak ketika ia menyadari bahwa ia sedang berlari bersama seseorang. Orang yang tidak dikenalnya tadi. Sepertinya ia sedang berada ditengah hutan dan tengah berlari. Ia tidak tahu ia lari dari apa, namun kakinya terus memaksanya untuk berlari. Tangan kanannya digenggam oleh orang itu, lagi-lagi wajahnya tidak jelas. Hujan yang sangat lebat dan cahaya bulan yang tertutup oleh tingginya pepohonan membuatnya ketakutan.

Mereka masih berlari dan terus berlari tanpa tahu arah. Mata Hinata berkedip cepat, sesekali menyingkirkan air hujan yang mengganggu pandangannya, didepan sana ada cahaya! Teriak Hinata dalam hati.

SRAAKKK…

Hinata dan orang yang tidak dikenalnya itu menembus pepohonan dan semak belukar dengan nafas yang terengah-engah dan keringat yang sudah tercampur dengan air hujan hanya untuk mendapati tebing yang terjal didepan mereka.

Mereka masih berdiri ditepi tebing itu ketika Hinata melihat kilauan cahaya bulan yang terpantul dimata anak panah yang sedang terarah pada orang yang masih menggenggam erat tangannya. Tanpa pikir panjang, hanya sebuah gerakan reflex yang tidak disadari Hinata. Ia melindungi orang itu dengan punggungnya.

SLAB!

Rasa sakit tiba-tiba terasa dipunggungnya, pandangannya menjadi lebih kabur dari sebelumnya. Tapi, ia tahu orang itu berteriak kepadanya, memanggil namanya. Hinata mendengar suara orang banyak yang terdengar semakin jelas menandakan mereka semakin dekat. Sambil memeluk tubuh Hinata yang terus mengeluarkan darah, orang itu memutuskan untuk terjun bebas kedalam jurang berasama Hinata.

TIDAAAKK…!

Hinata membuka matanya dengan seketika, keringat membanjiri wajahnya. Ia juga menyadari bahwa seragamnya basah karena keringat. Jantungnya berdetak beberapa kali lebih cepat daripada biasanya, nafasnya juga terasa berat. Namun, yang ia sadari saat ini adalah ia sedang berada didalam ruangan putih dan tubuhnya sedang menggunakan selimut berwarna putih. Ia tidak sedang berada ditempat yang tidak dikenalinya lagi. Ia mengenal tempat ini, salah satu tempat yang sering ia kunjungi disekolah selain perpustakaan. Ya, ruang kesehatan. Tapi, apa yang sedang dilakukannya disini? Dan apa yang barusan ia lihat tadi? Mimpi?

"Kau sudah sadar, Hinata?" tanya sebuah suara yang sudah sangat dikenal Hinata.

"Na…ruto-kun?" Tanya Hinata untuk memastikan.

"Hm. Aku disini." Jawab Naruto sambil begeser dari tempat duduknya sebelumnya—diatas tempat tidur— ke kursi yang berada disamping tempat tidur Hinata.

Hinata melirik Naruto dan sambil memegang kepalanya yang terasa sedikit sakit, "Kenapa… aku ada disini?" tanya Hinata yang mengedarkan pandangan kesekeliling tempat itu dan menyadari hanya ada dia dan Naruto disana.

Naruto mengikuti pandangan Hinata yang menjelajahi tempat itu kemudian terfokus lagi pada Hinata, "Kau tadi pingsan, ingat? Dan alasan mengapa ruangan ini terasa sangat sepi karena temanmu yang mengantarmu sudah dari tadi kembali ke kelas dan perawat sekolah baru saja keluar tadi." Jawab Naruto sambil mengarahkan jempol tangannya kearah pintu yang tertutup.

Naruto terus berbicara tentang kejadian tadi dan terus membicarakan keadaannya, tapi semakin Naruto berbicara semakin Hinata teringat akan sesuatu. Suara Naruto terdengar seperti ia sudah mendengarnya sejak dulu sekali, suara yang sangat akrab, bukan seperti baru dikenalnya selama beberapa minggu tapi seperti sudah didengarnya selama bertahun-tahun. Apakah benar suara ini yang ia dengar? Ataukah suara yang ia dengar adalah milik orang lain? Tapi kenapa terdengar sangat-sangat-sangat mirip dengan suara Naruto? Dan dimana ia pernah mendengar suara seperti ini sebelumnaya? Dimana?

"Hinata? Kau dengar apa yang ku katakan?" tanya Naruto sambil mengibaskan tangannya didepan wajah Hinata yang terlihat melamun.

"Ah? I-iya…" Hinata menggelengkan kepala lemah, "Aku tidak apa-apa… hanya sedikit lelah". Hinata bangkit dari posisi tidurnya dan melihat sekeliling ruang kesehatan itu, mencari sesuatu.

"Pukul berapa sekarang?" tanya Hinata setelah mencoba mencari letak jam dinding namun tak ditemukannya.

Naruto menatap jam yang melingkar manis ditangannya, "Sekarang sudah hampir jam 2 siang. Kenapa?"

"Ja-jam 2 siang? ini sudah jam pulang sekolah… ugh…" Hinata memegang kepalanya yang terasa sedikit pusing.

Melihat Hinata memegang kepalanya, muncul perasaan gelisah yang baru pertama kali dirasakan Naruto, Ia tidak tahu kenapa, namun sejak bertemu Hinata banyak hal tentang sesuatu dalam dirinya yang muncul dengan tiba-tiba dan anehnya ia tidak tahu apa itu, ia tidak mengerti sama sekali.

"Kau tidak apa-apa Hinata?" Ucap Naruto menyuarakan pikirannnya, "Kau masih sakit? Atau kau tidak nyaman berada disini?" Tanya Naruto lagi untuk memastikan.

"Aku ti-tidak apa-apa, hanya sedikit pusing." Jawab Hinata menenangkan lalu mengedarkan pandangannya lagi ke sekeliling ruangan putih itu. "A-aku memang ga-gampang sakit sejak masih kecil. Aku su-sudah menghabiskan setengah dari hi-hidupku berada di ruang perawatan, jadi aku sudah terbiasa di tempat seperti ini. Na-naruto-kun ti-tidak p-perlu khawa…tir." Ucap Hinata lirih dibagian ujung kalimatnya walaupun masih bisa didengar Naruto.

"Hmm… jadi ini yang namanya 'perasaan khawatir'? aku sepertinya mulai paham." Naruto memegang dagunya bertingkah seperti orang yang sedang berpikir.

Hinata kaget mendengar perkataan Naruto, walaupun ia mendengar dari Naruto bahwa mereka hanya mempunyai beberapa emosi sederhana. Tapi, Hinata baru tahu bahwa rasa khawatir adalah hal yang langka bagi orang-orang seperti Naruto.

"Kau tidak tahu apa itu rasa khawatir, Naruto-kun?" Hinata memutuskan untuk bertanya lagi pula tidak ada salahnya bertanya. Iya kan?

Naruto menganggukkan kepalanya, "Benar. Selama ini yang ku tahu hanya perasaan yang menggelitik saat melihat sesuatu yang kuanggap lucu, selebihnya aku tidak mengerti" jelas Naruto yang masih setia dalam posisi berpikirnya.

Hinata yang mendengarkan hanya bisa membuka mulutnya sedikit karena terkejut dengan perkataan Naruto barusan.

"Di dalam sini…" Naruto menyentuh dadanya dengan tangan kanan, "… ada sesuatu yang membuatku terasa sesak saat melihatmu terjatuh dikelas tadi, ah! Dan juga saat kau memegang kepalamu yang terasa sakit. Awalnya aku tidak tahu apa itu, ternyata itu yang manusia sebut perasaan khawatir." Naruto masih mengusap-usap dadanya tanpa memperhatikan wajah Hinata yang sudah memerah.

Tiba-tiba saja Hinata merasa panas tanpa sebab, tangan kanannya memegang pipinya yang terasa panas dan tangan kirinya ia gunakan untuk mengipas-ngipas wajahnya.

"Kau kepanasan Hinata? Padahal ruangan ini AC nya sudah dinyalakan. Apa kau mau aku menurunkan suhunya, Hinata-chan?" Tanya Naruto yang melihat tingkah aneh Hinata.

"I-i-i-i-i-itu ti-tidak perlu, Naruto-kun. A-a-aku tidak apa-apa." Hinata merasa wajahnya semakin panas dan ia mulai mempercepat kipasan tangannya sampai pada akhirmya ia memutuskan untuk memgang kedua pipinya yang terasa terbakar itu.

Naruto tidak mengerti apa yang sedang dilakukan Hinata, wajahnya memerah dan ia terlihat seperti kepanasan. Apa mungkin Hinata terkena demam? Itulah yang ada dipirannya saat ini. Dan ia sekarang sedang memikirkan bagaimana caranya untuk memastikan Hinata terkena demam atau tidak. Naruto memang pernah melihat bagaimana manusia melakukan hal tersebut, tapi ia tidak yakin bahwa ia paham bagaimana cara kerjanya. Namun, akhirnya Naruto memutuskan untuk mencoba apa yang pernah ia lihat itu.

Naruto kemudian berdiri tepat disamping Hinata yang masih memegangi wajahnya. Begitu merasakan kehadiran Naruto disampingnya, Hinata lantas mendongakkan kepalanya untuk melihat Naruto.

"Apa yang… …" Kata-kata Hinata terhenti saat ia merasakan tangan Naruto di kedua bahunya, matanya melebar saat tiba-tiba Naruto menempelkan dahinya di dahi Hinata.

"Aku pernah melihat manusia melakukan ini saat ingin mengetahui kalau seseorang sedang demam atau tidak, jadi aku mencobanya. Hmmm… tapi bagaimana ini, aku tidak bisa merasakan apapun." Naruto masih berbicara sambil mempertahankan posisinya itu, namun ia tidak sadar bahwa kelakuannya itu bisa membuat Hinata benar-benar terkena demam.

'Wa wa wa wa wa wa … Na-Naruto-kun… wajah Naruto-kun te-terlalu dekat!' Hinata semakin panik, ia bahkan tidak bisa mendengar apa yang dikatakan Naruto saat ini. Hinata tidak bisa berpikir dengan jelas apa yang sebenarnya terjadi. Yang ia tahu sekarang rasa panas mulai menjalar dari dahinya yang bersentuhan dengan Naruto. Ia benar-benar panik sampai akhirnya ia mengalami overheat. Selanjutnya ia tidak tahu lagi apa yang terjadi.

Naruto masih diam pada posisinya, ia memang merasakan bahwa tubuh Hinata tiba-tiba menegang namun hal selanjutnya yang ia merasakan tubuh Hinata tidak lagi menegang dan saat ia memutuskan untuk melihat Hinata dan menjauh dari posisinya itu, ia melihat Hinata tertidur dengan wajah yang terlihat sangat memerah, atau tepatnya ia pingsan? Naruto hanya bisa menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Ia benar-benar tidak mengerti.

"Kalau kau sudah merasa lebih baik, kau boleh pulang Hinata." Ucap wanita berambut pendek hitam itu kepada Hinata yang berdiri didepan mejanya.

"Iya. Maaf karena saya sudah merepotkan lagi, Shizune-san." Hinata membungkukkan badannya tanda permintaan maafnya. "Kalau begitu saya permisi dulu." Ucap Hinata kemudian memakai tas ransel yang telah berada di tangannya itu. Setelang membungkuk sekali lagi, Hinata kemudian keluar dari ruangan itu.

Hinata melirik jam tangan yang melingkar dipergelangan tangannya yang menunjukan pukul tiga siang, keadaan sekolah cukup sepi hanya terlihat beberapa murid yang masih mengikuti kegiatan klub sekolah. Sejak awal Hinata memang tidak mengikuti kegiatan klub apapun karena fisiknya yang lemah.

Hinata sedang berjalan dilorong kelas yang sepi ketika tiba-tiba sebuah pintu kelas disampingnya terbuka dan menampilkan sosok pemuda berambut kuning yang tidak dilihatnya diruang kesehatan tadi.

"Hinata-chan, kau sudah mau pulang?" tanya Naruto sambil menutup pintu dibelakangnya.

Hinata membalas pertanyaan Naruto dengan anggukan pelan, "Bekerja?" tanya Hinata memastikan dan dijawab dengan anggukan dan cengiran yang menjadi ciri khas Naruto.

"Kau pasti lelah, bagaimana kalau ku antar pulang. Ini bisa dibilang menghemat waktu dan tenaga." Ajak Naruto yang khawatir melihat wajah pucat Hinata.

"Um… baiklah." Setelah berpikir sebentar akhirnya Hinata menyetujui permintaan Naruto.

Mendapat pesetujuan Hinata membuat Naruto senang tanpa sebab, dikeluarkannya kunci emas dari kantongnya dan langsung menggunakannya ke pintu yang baru saja ditutupnya tadi. "Aku akan menghubungkannya dengan pintu rumahmu agar tidak menimbulkan kecurigaan seperti sebelumnya." Setelah berkata seperti itu, Naruto kemudian membuka pintu kelas tersebut dan menampakkan ruang tamu rumah Hinata. Walaupun sudah beberapa kali melihat hal ini, namun tetap saja ini sangat mengagumkan menurut Hinata.

"Tadaima…" ucap Hinata pelan kemudian masuk kedalam rumah.

"Ah! Anda sudah pulang Hinata-sama." Matsuri datang menyambut Hinata begitu dilihatnya nona mudanya itu datang. dengan langkah cepat Matsuri berada disamping Hinata sambil menyamai langkah Hinata menuju kamarnya. "Apakah anda butuh sesuatu, Hinata-sama." Tanya Matsuri untuk memastikan.

Hinata berhenti sejenak untuk berpikir. "Tidak. Sepertinya aku tidak butuh sesuatu untuk sementara." Setelah berkata seperti itu, ia melanjutkan langkahnya yang tertunda, menuju kamarnya.

Naruto sedang duduk diatas sebuah bangunan ketika dua pemuda muncul entah dari mana dibelakangnya. Naruto mengetahui siapa yang datang walaupun ia tidak berbalik untuk melihatnya. Mereka adalah rekan yang pertama ia kenal ketika datang kedunia ini beberapa ratus tahun yang lalu.

"Naruto." Terdengar sebuah panggilan dari pemuda yang lebih pendek dengan rambut yang diikat seperti nanas. Disebelahnya pemuda yang terlihat lebih tinggi dengan rambut yang terlihat selaras dengan cahaya bulan dan menggunakan masker pada wajahnya hanya melihat Naruto dengan tatapan yang tidak terbaca.

"Ada apa, senpai-tachi." Ucap Naruto santai, masih dengan tatapan menuju lampu-lampu temaram kota.

Kini pemuda dengan rambut perak berjalan satu langkah lebih maju. "Dengarkan Shikamaru, Naruto. Kau tidak harus bersama gadis itu sepanjang waktu dan hampir melalaikan tugasmu." Pemuda itu menghela napas pelan sebelum melaknjutkan ucapannya. "Memang tidak banyak dari kita yang kembali ke wujud kita sebenarnya karena melalaikan tugas den tercemar dengan emosi manusia. Tapi, bukan berarti kau tidak akan seperti itu." Ucap pemuda itu menyelesaikan kalimatnya.

"Aku… Aku tidak yakin, Kakashi-senpai. Perasaan yang kurasakan saat ini, terasa asing namun pada saat yang sama terasa begitu ku kenal. Dan aku tidak tahu perasaan seperti apa ini." Naruto kemudian berdiri dan berbalik memandang dua senpainya itu. "Aku harus tahu, ada apa sebenarnya denganku. Sampai saatnya tiba, tolong biarkan aku, Senpai." Naruto memandang mereka dengan wajah serius yang tidak pernah ia perlihatkan pada siapapun.

Naruto berjalan melalui kedua pemuda itu, kemudian terlintas dikepalanya perkataan Kakashi tentang kembali kewujud mereka sebenarnya yaitu kembali menjadi energi yang mereka serap atau dengan kata lain 'dibuang'.

Naruto sampai pada pintu penghubung atap gedung tersebut dengan lantai bawah kemudian ia memasukan kunci emas miliknya dan memutarnya. Sebelum masuk kedalam pintu tersebut, ia menolehkan kepalanya untuk melihat kedua senpainya itu dan senyum bahagia terpasang indah diwajahnya. "Lagipula, tidak buruk juga kembali menjadi hangatnya sinar matahari." Setelah mengucapkan itu, tubuh Naruto hilang ditelan pintu yang tertutup meninggalkan kedua pemuda itu dalam keheningan.

"Haahhh…." Hinata mengehela napas berat yang bercampur khawatir siang itu. Ia sedang mencoba menghabiskan makan siangnya di atap sekolah ketika pikirannya sedang memikirkan sosok pemuda yang selalu tampil dengan cengiran khasnya.

Sampai jam istirahat selesai, Naruto tidak terlihat sama sekali. Hinata kembali ke kelas dan mulai sibuk dengan pemikirannya sendiri. Ia ingin mengetahui keberadaan Naruto, tapi ia baru sadar bahwa ia tidak tahu cara menghubungi Naruto.

Hinata memasukan kotak bekalnya kedalam tas, ia menopang dagu dengan sebelah tangannya dan pandangannya teralihkan kearah jendela yang selalu di duduki oleh Naruto. Apa mungkin Naruto sedang banyak pekerjaan? Hm. Ya. Ya. itu mungkin saja. Itu bisa saja terjadi kan?… … Haahhh… menyedihkan. Ia hanya sedang berusaha untuk menghibur dirinya sendiri.

Meski tanpa ia sadari, ternyata keberadaan Naruto sudah memberi kesan tersendiri yang begitu aneh. Ia tidak tahu mengapa, tapi ia merasa seperti sudah lama mengenal Naruto. Rasa nyaman ketika bersama dan rasa khawatir ketika Naruto dalam masalah, semua perasaan itu timbul tenggelam didalam pikirannya.

Bunyi bel tanda berakhirnya waktu istirahat membuyarkan pikirannya. Diliriknya seorang guru yang sekarang sedang membuka pintu kelas berharap melihat seseorang yang sedang ditunggunya muncul. Namun, Hinata hanya bisa menarik napas panjang ketika harapannya masih belum terwujud sambil berusaha fokus pada pelajaran didepannya.

Dipohon sakura yang berada didekat gerbang sekolah tiba-tiba Naruto muncul entah dari mana, kemudian dengan pandangan yang tidak terbaca ia melirik Hinata yang sedang fokus dikelasnya. Tidak lama setelah itu, Naruto menghilang kembali tanpa melakukan apapun.

Dua orang pemuda mengamati Naruto dari atas gedung sekolah Hinata, dan saat Naruto menghilang mereka saling berpandangan dan melempar tatapan yang penuh pertanyaan.

"Menurut mu, apa yang sedang dipikirkan Naruto, Shikamaru?" tanya Kakashi dari balik maskernya.

"Aku tidak tahu." Jawab Shikamaru singkat sementara pandangannya terfokus pada tempat yang ditinggalkan Naruto tadi. "Baru pertama kali aku melihat reader dengan sumber energi sangat terbatas seperti Naruto?" sambung Shikamaru tanpa mengalihkan pandangannya.

"Hmm…" Kakashi memegang dagunya seperti sedang memikirkan sesuatu.

"Apa mungkin ada yang lain seperti Naruto, Kakashi-senpai? Misalnya dari reader yang 'terbuang'?" kali ini tatapan Shikamaru tertuju pada seniornya itu, dengan tatapan serius yang jarang ia perlihatkan.

"Tidak." Jawab Kakashi singkat. "Walaupun aku sudah ada lebih lama dari mu, aku belum pernah melihat kondisi seperti ini." melihat kearah langit, Kakashi melanjutkan perkataannya. "Dan yang kutahu juga reader 'terbuang' juga tidak lebih dari lima orang dan semuanya menghilang karena lalai dalam tugas yang menyebabkan takdir seorang manusia berbeda dari yang seharusnya, dan pada akhirnya kita juga tidak tahu kemana mereka menghilang. Yang kita pahami mereka hilang karena telah merusak garis takdir dan istilah 'terbuang'lah yang kita gunakan untuk menyebut kejadian itu sampai saat ini."

Shikamaru hanya mengamati seniornya itu dalam diam, mereka diciptakan hampir tanpa emosi. Yang mereka ketahui adalah bahwa mereka harus melakukan tugas yang sudah diberikan kepada mereka –mengamati kehidupan manusia.

"Aku tidak mengerti." Ucap Shikamaru sambil menggaruk belakang kepalanya.

"Aku juga." Sambung Kakashi. "Tapi, apa yang sedang kau lakukan?" tanya Kakashi melihat apa yang sedang dilakukan Shikamaru.

"Ah. Ini? aku sering melihat manusia melakukan ini saat mereka tidak mengerti akan sesuatu, aku hanya ingin mencobanya." Jawab Shikamaru.

Mendengar jawaban Shikamaru, Kakashi hanya bisa menggelengkan kepalanya.

Hinata menutup pintu kamarnya, ia berjalan dengan lesu menuju tempat tidurnya. "Haaahh…." Helaan napasnya terdengar mengisi keheningan kamarnya sore itu. Sepanjang hari Naruto benar-benar tidak terlihat sama sekali, padahal ia berharap bisa melihat naruto hari ini. Tapi, mau bagaimana lagi kalau ternyata Naruto memang sedang sibuk bekeja.

Dengan malas Hinata membaringkan tubuhnya diatas tempat tidurnya yang tampak rapi, kemudian matanya melirik jam kecil yang berada diatas meja. Sudah pukul setengah enam sore, matahari sudah terlihat keemasan di luar balkon jendelanya.

SREEK

Hinata bangun terduduk diatas tempat tidurnya mendengar bunyi dari luar jendelanya. Kamarnya berada di lantai dua dan juga cukup tinggi, jadi tidak mungkin kalau ada orang yang bisa memanjat kearah kamarnya dari bawah, yang mungkin bisa melakukannya saat ini adalah… …, Hinata bangun dari tempat tidurnya dan dengan langkah yang cukup cepat menuju arah balkon kamarnya.

Disingkirkannya tirai putih yang menghalangi balkon dan kamarnya saat itu, senyum terkembang melihat sosok yang sudah ia cari seharian ini. "Naruto-kun…" ucapnya lirih. Dilihatnya Naruto yang sedang duduk bersandar pada pagar balkon jendelanya, dari wajahnya terlihat sekali Naruto tampak lelah.

"Kau tidak apa-apa, Naruto-kun…?", Hinata mendekati Naruto dan mencoba untuk membantunya berdiri. Namun, saat akan menyentuh lengan Naruto, tangan Hinata tidak menggapai apapun. Tubuh Naruto tampak seperti angin. Ia mencobanya sekali lagi dan kali ini juga gagal, Hinata duduk di samping Naruto dan mencoba menyentuh tangan Naruto lagi. Namun, lagi-lagi ia tidak menyentuh apa-apa. Ia bahkan bisa melihat tangannya sendiri yang menembus tubuh Naruto. Hinata baru manyadarinya, matanya melebar tidak bisa menyembunyikan rasa kagetnya. Dihadapannya kini Naruto duduk dengan napas yang terengah-engah dengan kepala tertunduk dan Hinata bisa melihatnya dengan jelas tubuh Naruto yang terlihat seperti memudar.

"NARUTO…!"

TBC

Hiyaaa… akhirnya jadi juga ch. 4 ini, walaupun agak berbeda dengan plot awal sihhh… hahahaha. Masih adakah yang mau singgah ditempat kumuh ku ini. Tolong tinggalkan kesan kaliannnn… m(^_^)m.

Oh iya… terimkasih juga buat yang sudah mau Fav, Alert, dan juga yang sudah berikan masukan saran saran kalian. Semuanya sangat membantu ku lohhh… walaupun aku masih banyak salahnya, terima kasih sudah memberi dukungannn… !

Special Thanks :

Murasaki Nabilah, Tsukikohimechan, KillYouLove, hyuga ashikawa, .526, yudi, Cuka-san, IndigoRasengan23, hqhqhq, Hyuuga Divaa Atarashii, Audhitaputri, , andypraze, KandaNHL-desu, rfauryn, YonaNobunaga, Kamen Reader Anugrah, Jamal the roun, KandaNHL-desu, siswanto uciha senko, Putchy-chan, Hyuuzumaki Shadowink NHL, Blue-Temple Of The King, , Uzumaki 21, issei-shan, bubu-lanlan, Dark Namikaze Ryu, hanazonorin444, , dsdjskflfjdfjkytyrtfbv nffv, Lyn kuromuno, Cicikun, Aoi Namikaze Kezia, hana, koyuki-kun, Hyuuga Divaa Arashii, kirei- neko, Akemi Yoshi, Blue-Temple Of The King, Mitsu Rui, , Dragon warior.

Aku sangat senang saat membaca semua comment kalian lho…! Dan untuk para silent reader juga terima kasih banyak karena sudah mau singgah… aku akan mencoba menyelesaikan cerita ini, walaupun kayaknya butuh waktu lama (hehehe… gomen.). sampai jumpa di chapter selanjutnya… V(*3*)V