Marriage Not Dating Part 4

Cast:

Jung Yunho, Kim Jaejoong

Genre:

Comedy, Romance

Warning:

Remake/Saduran dari drama Korea dengan judul yang sama.. Yaoi/BL..

Disarankan untuk membaca secara perlahan.. kkkk.

don't like don't read..

** Happy Reading **

"Cara Berpisah Secara Manusiawi yang Pertama : Menghilang "

Jaejoong melangkahkan kakinya untuk mengejar Yoochun. Keadaan restoran yang lumayan ramai menghambat laju Yoochun. Jaejoong yang dalam keadaan setengah mabuk akhirnya sampai juga dihadapan Yoochun yang sekarang sudah terpojok. Yoochun diam terpaku di depan meja kasir dengan Jaejoong yang ada dihadapannya.

"Akhirnya aku bisa melihatmu". Ucap Jaejoong dengan senyumnya. Tangannya membelai puncak kepala Yoochun. "Kenapa kau tidak menelponku?" Tanya Jaejoong imut.

"Jaejoong~ah, apa kau tidak membaca pesan singkatku?" Tanya Yoochun sambil mencoba mengeluarkan senyumnya.

"Pesan singkat? Ahh. Hahahahaha. Iya". Ucap Jaejoong riang sambil merogoh saku celananya guna untuk mengambil ponselnya.

Yoochun ikut tersenyum riang saat melihat Jaejoong yang sepertinya tidak marah kepadanya.

"Terima kasih, Maaf, Berbahagialah". Ucap Jaejoong lantang hingga membuat Yunho dan Ahra hanya memutar bola matanya malas mendengar percakapan Jaejoong dan Yoochun.

"Terima kasih karena Kau menjadi pahlawanku dulu, kau minta maaf karena telah terjadi sesuatu padaku sekarang. Dan yang terakhir, kau tidak ingin aku kembali pada pecundang sepertimu". Lanjut Jaejoong setengh berteriak. Seluruh pasang mata yang ada di dalam restoran sekarang sedang menatap ke arah Yoochun dan Jaejoong.

"Aku memang bodoh, tapi aku sangat tahu maksudmu itu". Ucap Jaejoong mengasihani dirinya sendiri.

Yoochun yang melihat Yunho sedang memandangnya mencoba untuk meminta bantuan. Tapi Yunho hanya diam dan tidak mengindahkan Yoochun.

Jaejoong yang mulai kesal, menodongkan botol birnya ke dada bidang Yoochun. Yoochun yang diperlakukan seperti itu jadi kaget.

"Kau mau membodohiku dengan pesan singkat itu? Kau pikir aku tidak tahu?" ucap Jaejoong sambil tetap menyodorkan botol birnya di dada Yoochun.

"Ok. Sebentar, tolong lepaskan botol ini". Sahut Yoochun khawatir. Mencoba untuk menenangkan Jaejoong.

"Aku tulus mencintaimu. Aku sangat terluka sekarang, padahal aku sudah memimpikan masa depan bersamamu! Bagaimana bisa kau mengakhiri ini hanya dengan satu pesan singkat?" jaejoong meninggikan suaranya saat mengatakan bagaimana perasaannya sekarang pada Yoochun. Emosi sudah menyelimuti pikirannya. Tanpa sadar tangannya bergerak secara cepat untuk memukul kepala Yoochun. Yoochun yang melihat itu langsung berjongkok dan melindungi kepalanya agar tidak terkena pukulan botol bir yang dibawa Jaejoong.

Sebelum Jaejoong dapat memukul kepala Yoochun, Yunho dengan cepat menggenggam tangan Jaejoong. Menghalangi Jaejoong agar tidak melakukan tindakan kekerasan.

Yoochun yang melihat Yunho sedang berusaha mencegah Jaejoong langsung mencoba melarikan diri ke ruang yang berada di bawah restoran.

"Apa ini kantor polisi. Aku sedang diserang oleh penguntit. Tolong selamatkan aku. Aku akan mati". Ucap Yoochun saat menelpon kantor polisi.

Setelah itu, Yoochun kembali mencari tempat untuk bersembunyi.

"Kau lagi?" tanya Jaejoong saat melihat orang yang sedang menggenggam tangannya adalah Yunho.

"Aku sedang membantumu. Kau harusnya bersyukur". Jawab Yunho tenang.

"Kenapa?" tanya Jaejoong lagi. "Kau takut aku akan menjadi lebih menyedihkan lagi? Aku tahu betapa menyedihkannya aku sekarang. Tapi, aku harus bagaimana lagi?aku tidak bisa mengakhiri ini dengan tenang dengan cara manusiawi seperti kalian. Aku perlu bicara dengannya walau aku akan terlihat menyedihkan! Aku hanya perlu kejelasan sekarang" teriak Jaejoong frustasi. Airmatanya akhirnya tidak bisa dibendungnya lagi.

Yunho hanya menatap Jaejoong miris. "Keluarlah". Kata Yunho pelan.

Bukannya keluar, Jaejoong malah menuju ruang bawah restoran. Mencoba mencari keberadaan Yoochun. Yunho yang melihatnya akhirnya mengikuti langkah Jaejoong.

Yoochun berjalan pelan untuk kembali ke restorannya, dia berfikir Jaejoong sudah pergi. Namun, belum sempat dia menaiki tangga, dia melihat Jaejoong yang sedang menuju ke arahnya. Dengan secepat yang ia bisa, Yoochun akhirnya masuk ke dalam toilet yang tidak jauh dari tempatnya berdiri.

Jaejoong yang melihatnya kemudian berlari menghampiri Yoochun.

"Ya.. Park Yoochun". Seru Jaejoong lantang sambul menggedor pintu toilet. "Keluar kau!" teriak Jaejoong.

Yoochun merasa terintimidasi kali ini. Dia meringkuk di dalam toilet. Berharap polisi segera datang.

"Jika kau tidak menginginkanku lagi, katakan langsung padaku. Setelah itu, baru aku akan pergi, brengsek!".

"Kumohon, pergilah". Sahut Yunho sambil menarik tangan Jaejoong agar menjauh dari tempat persembunyian Yoochun.

Naas bagi Yunho, dirinya malah terkena pukulan botol bir yang dibawa Jaejoong. Hidungnya mulai mengeluarkan darah. Ahra, Changmin, dan semua pegawai restoran yang menyusul ke ruang bawah restoran sangat terkejut saat melihat Yunho yang berteriak kesakitan.

"Ya. Memangnya sulit mengucapkan selamat tinggal di depan wajahku langsung? Aku akan mencoba mengerti kalau aku melihatmu langsung. Kenapa dan bagaimana semua ini bisa menjadi seperti ini. Aku pikir aku akan bisa mengerti, kalau aku melihat matamu". Ucap Jaejoong dengan bercucuran airmata. Semua orang yang melihatnya hanya diam membisu.

"Kita berdua saling jatuh cinta. Tapi, kau ingin berpisah dengan cara seperti ini?" ucap Jaejoong memelas.

Yoochun yang semakin gemetar takut, kembali mengambil smartphonenya dan menghubungi kantor polisi. Jaejoong yang mendengarnya mencoba untuk membuka pintu toilet. Dengan seluruh tenaganya, akhirnya pintu itu terbuka. Yoochun yang kaget akhirnya terjengkang kebelekang. Semua pegawai Yoochun berteriak histeris. Takut apabila Jaejoong melakukan tindakan yang lebih jauh kepada Yoochun.

Jaejoong menatap ke dalam manik mata Yoochun. Mencoba mencari kejujuran dalam mata pria yang dicintainya. Jaejoong melepaskan botol bir dari genggamannya.

"Ya, sekarang aku mengerti karena aku sudah melihat wajahmu. Cuma aku yang jatuh cinta. Semuanya hanya aku yang rasakan". Ucap Jaejoong pelan dengan mata yang berkaca-kaca.

Kantor Polisi

Yunho terlihat duduk di depan meja polisi yang sedang bertugas malam itu. Wajah Yunho terlihat sangat pucat. Yunho berusaha untuk bernafas dengan menggunakan mulutnya, karena kedua lubang hidungnya terdapat tissue guna menyumbat darah yang keluar akibat pukulan Jaejoong tadi.

Di sisi kanannya ada Jaejoong yang sedang diintrogasi oleh petugas polisi. Jaejoong terlihat mengantuk karena efek minuman keras yang tadi diminumnya.

"Tuan.. tolong bangunlah!" ucap petugas polisi sambil memukul meja agar Jaejoong terbangun.

"Kenapa kau melakukan itu?" tanya pak polisi saat melihat mata Jaejoong terbuka.

"Aku hanya merindukannya". Jawab Jaejoong santai. "Aku mencintainya. Aku ingin melihat dia. Dan menyentuhnya". Imbuhnya sambil memeragakan bagaimana dia melihat Yoochun dan menyentuhnya. Efek mabuk Jaejoong masih belum hilang.

"Itulah yang dilakukan pasangan. Cinta sejati!" ucap Jaejoong semangat.

"Baiklah." Terdengar suara lantang. Jaejoong, Yunho, dan petugas polisi melihat ke arah sumber suara. "Kau tahu kenapa banyak orang mengalamai depresi?" sahut ahjussi mabuk yang sedang berada di dalam kantor polisi. "Karena mereka kekurangan sentuhan orang lain".

"Dia bilang tidak begitu. Jika kau terus seperti ini, ini termasuk kejahatan". Ucap pak polisi kepada Jaejoong.

"Aku tidak tahu jika dia tidak menginginkanku. Aku pikir, aku bisa mengubah dirinya. Aku mau berusaha mengubahnya. Lalu selanjutnya, aku ingin berakhir dengan cara baik-baik". Jawab Jaejoong dengan memelas.

"Benar. Orang Korea punya sifat kemauan yang kuat". Lagi-lagi ahjussi pemabuk kembali menyahut perkataan Jaejoong. Semuanya kini melihat ke arah ahjussi pemabuk.

"Ahjussi. Bisakah kau diam". Teriak petugas polisi yang sedang menginterogasi Jaejoong.

"Ahjussi itu kenapa bisa ada disini?" Tanya Jaejoong penasaran kepada pak polisi.

"Dia menganiaya rekan wanitanya saat makan malam kantor karena wanita itu terus menolaknya". Jawab pak polisi. "Saat dia menawarkan alkohol". Lanjutnya.

"Aku suka rekan kerjaku itu. Aku rasa dia sangat imut. Memangnya salah menepuk punggungnya?" teriak ahjussi pemabuk membela dirinya. "Jangan terkesima begitu. Tapi, mereka menyebutnya itu sebagai penyerangan dan penguntitan. Padahal aku tidak bersalah. Mereka semua seperti itu". Sambungnya.

"Oh begitu". Gumam Jaejoong setelah mendengar penjelasan sang ahjussi pemabuk. "Aku menguntitnya. Aku adalah stalker". Jaejoong menangis histeris saat menyadari bahwa dirinya adalah stalker Yoochun.

Yunho dan semua orang yang berada di dalam kantor polisi melihat ke arah Jaejoong yang sedang menangis. Sang petugas polisi semakin frustasi dibuatnya

"Ah, mumpung aku ada disini. Bisakan kau cari orang yang hilang?" tanya Jaejoong kepada pak polisi setelah dia berhenti menangis.

"Apa?" tanya pak polisi bingung.

"Wanita itu mengundangku ke rumahnya. Tapi, ternyata dia bukan ibunya. Dia mengundangku ke rumahnya, tapi ternyata dia tidak mengundangku. Kenapa wanita berpenampilan baik itu melakukan hal ini padaku? Kau tahu?" tanya Jaejoong panjang lebar kepada pak polisi.

"Apa yang kau bicarakan?" tanya polisi itu.

"Hei, apa kau tahu apa yang dia bicarakan?" Yunho yang ditanya hanya menggelengkan kepalanya.

"Ini sangat aneh. Siapa dia? Aku harus bertemu dengannya". Gumam Jaejoong.

Yunho terlihat sedang berendam air panas di dalam bathup miliknya ditemani dengan segelas wine. Yunho mencoba meregangkan otot-otot tubuhnya, mencoba bersantai sejenak. Namun, pikirannya malah teralihkan ke Jaejoong. Yunho memikirkan raut muka Jaejoong saat mengatakan kalau dia tulus mencintai Yoochun.

"Bodoh sekali dia. Aku terus memikirkannya. Kenapa aku jadi begini?" Tanya Yunho pada dirinya sendiri.

"Ini adalah kejahatannya yang pertama. Apa dia akan dihukum?" tanya Yunho pada pak polisi.

"Dia akan langsung dibawa ke pengadilan". Jawab pak polisi sambil menuliskan sesuatu di map miliknya.

"Bagaimana kalau bayar denda saja, tidak usah ke pengadilan". Yunho mencoba untuk bernegoisasi dengan pak polisi.

"Kenapa? Bukankah dia yang menyerangmu?" tanya Pak polisi penasaran.

"Ah ini". Yunho melepas tissue yang ada di dalam lubang hidungnya. "Aku yang memukul diriku sendiri". Ucapnya asal.

"Tapi, ibunya korban, ingin dia dihukum berat'. Jawab pak polisi final.

"Apa sidang dilakukan hari ini?" tanya Yunho pada dirinya sendiri setelah tersadar dari lamunannya.

Yunho kembali menyantaikan dirinya daam balutan air hangat. Diminumnya wine merahnya. Namun, kesenangannya terganggu saat terdengar suara gaduh dari luar kamar mandi.

Seorang ahjussi dan dua ahjumma terlihat memasuki apartemen mewah Yunho.

"Lihatlah!" sang ahjussi yang ternyata adalah seorang agen properti.

"Omoo. Bagus sekali". puji sang ahjumma.

"Hei". Teriak Yunho saat melihat orang-orang asing yang masuk ke dalam apartemennya. Yunho masih mengenakan bathrobenya.

"Oh, Kau ada disini? Aku tidak tahu" tanya ahjussi agen properti.

"Apa yang kalian lakukan dirumahku?" teriak Yunho marah.

"Aku Cuma melihat-lihat". Jawab ahjussi.

"Lihat?" tanya Yunho.

"Kau kan mendaftarkan ke agen kami kalau apartement ini mau disewa". Sang ahjussi menjelaskan dengan ramah.

"Di sewa? Kau pasti salah?" jawab Yunho sebal.

"Kau bilang butuh penyewa baru secepatnya". Ucap sang ahjussi. "Kau bilang aku bisa datang kapan saja karena ini sangat mendesak". Lanjutnya.

"Silahkan lihat-lihat". Ucap sanhjussi kepad dua ahjumma yang sepertinya akan menyewa apartement Yunho.

Yunho mengerang frustasi. "Aish. Sekarang giliran pemilik rumah ini yang memberikanku masalah". Erangnya frustasi.

"Sangat rapi disini, dan lantainya juga bagus". Ucap ahjumma.

"Aku juga suka tirai ini". Ucap ahjumma yang satu lagi.

"Aku yang merenovasinya sendiri". Ucap Yunho mencoba untuk sabar.

"permisi, ini pasti ada salah paham". Ucap Yunho kepada ahjussi. "Aku tidak mendaftarkan apartement ini ke agenmu untuk disewa. Jadi, bisakah kau pergi sekarang?". Jelas Yunho.

"Kami akan melihat-lihat rumah ini dengan cepat". Ucap sang ahjussi ramah.

"Rumah ini sangat modern". Teriak sang ahjumma.

"Bisa kau pergi sekarang?" tanya Yunho kepada sang ahjumma.

"Pergilah sekarang!" teriak Yunho marah sambil membanting pintu kamarnya.

Yunho sedang duduk di sebuah ruang VIP restoran dengan seorang yeoa paruh baya.

"Aku ingin menyewa apartement itu". Tanya Yunho tanpa basa-basi.

"Kau ingin menyelesaikan semuanya dengan uang?" tanya yeoja paruh baya yang ternyata adalah Ibu Yunho.

"Kau saja menyelesaikan masalahmu lewat agen real estade". Sahut Yunho kepada Ibunya.

"Aku tidak tahu itu sangat efektif". Ucap sang Ibu. Ms. Jung mengambil cangkir tehnya dan meminumnya dengan anggun. "Sudah bertahun-tahun aku tidak duduk denganmu seperti ini. Sangat menyenangkan". Lanjutnya.

Yunho hanya memutar bola matanya bosan.

"Mari kita lakukan ini setiap hari kalau kau sudah pindah ke rumah kita". Sepertinya Ms. Jung ingin Yunho kembali tinggal di rumah bersamanya.

"Aku tidak akan pernah pindah dari tempat itu". Jawab Yunho final.

"Kau ingin rumah atas namaku, tapi tidak ingin tinggal denganku. Kau tak tahu malu". Tanya Ms. Jung santai.

"Aku akan menandatangani kontrak dan memberimu depositnya. Atau kau akan menjualnya padaku?" sahut Yunho.

"Aku tidak tahu kenapa kau sangat suka dengan tempat itu. Tidak banyak kenangan indah disana. Hidup sendirian itu terlihat menyedihkan bagi orang lain".

"Kau terus saja hidup dengan khawatir tentang orang lain. Khawatirkan diri eomonim sendiri". Ucap Yunho datar.

Ms. Jung langsung mengeras mendengar ucapan Yunho. "Bawalah namja cantik yang kuundang itu ke rumah". Ucap Ms. Jung.

"Siapa yang kau undang?" tanya Yunho. Yunho kembali teringat akan ucapan Jaejoong saat di kantor polisi yang mengatakan bahwa ada seseorang yang mengundangnya kerumahnya.

"Jadi, kau mengundangnya?" tanya Yunho kembali.

"Mereka akan menandatangani kontrak sewanya jam 6 nanti. Bawa namja itu atau kau pindah dari tempat itu". Ancam Ms. Jung.

Yunho yang mendengar ancaman Ms. Jung hanya terdiam. Setelah Ms. Jung pergi meninggalkannya, Yunho langsung berlari keluar.

"Anda membenarkan andalah yang membuat keributan di kantor pemerintah? Denda 50.000 won". Seorang hakim terlihat sedang bertugas.

"80.000 won karena memeras. 70.000 won karena pemungutan pajak". Sang hakim mengetok palunya tanda keputusan sudah dibuatnya.

"Kasus nomor 3292. Terdakwa Kim Jaejoong, silahkan bersaksi". Sang hakim memulai menyidang Jaejoong.

Jaejoong yang saat itu memakai pakaian serba hitam langsung berdiri dari tempat duduknya dan berjalan menuju depan untuk bersaksi.

"Anda melakukan penyiksaan terus- menerus, anda membenarkannya?" Tanya sang hakim.

Jaejoong tertawa saat mendengar pertanyaan sang hakim. Semua mata menuju ke arah Jaejoong saat ini.

"Terdakwa". Seru sang hakim mengingatkan Jaejoong.

Yunho saat ini sudah berada di depan gedung pengadilan. Yunho mencoba untuk masuk tapi seorang petugas menghalanginya.

"Kau mau kemana? Periksa dulu baru boleh masuk". Tanya si petugas keamanan.

Yunho kemudian melepaskan jam tangannya dengan tergesa-gesa,

"Anda membenarkan kalau anda menguntit?" sang hakim kembali bertanya kepada Jaejoong.

"Aku ini penyihir gila. Aku ini sudah gila". Jawab Jaejoong dengan serius, membuat sang hakim menampilkan raut wajah bingung.

"Maaf aku sedang buru-buru". Ucap Yunho kepada petugas keamanan yang sedari tadi mencegahnya masuk.

"Kau mau pergi kemana?" tanya sang petugas.

"Aku harus bersaksi". Jawab Yunho.

"Memangnya apa hubungan kalian?" petugas keamanan kembali bertanya. Yunho bingung harus menjawab apa.

"Aku adalah tunangannya". Jawab Yunho cepat tanpa sempat berfikir.

Kembali di ruang sidang. Jaejoong terlihat sedang menjalaskan kepada sang hakim apa yang dia katakan kepada si brengsek Yoochun.

"Mari kita menikah". Ucap Jaejoong lantang.

Tiba-tiba pintu ruang sidang terbuka dan menampakkan sosok Yunho. Semua mata melihat ke arah Yunho. Tak terkecuali Jaejoong.

"Kenapa si brengsek itu datang kemari?" tanya Jaejoong pada dirinya sendiri namun dengan suara yang agak keras.

"Dia si brengsek yang kau maksud?" tanya seorang terdakwa yang juga sedang menunggu giliran sidangnya kepada Jaejoong.

"Tunggu, bisa aku bersaksi?" tanya Yunho kepada hakim yang bertugas.

"Aku keberatan, Yang mulia" ucap Jaejoong keras.

"Kau siapa?" Tanya sang hakim kepada Yunho.

"Aku berteman dengan si penggugat". Jawab Yunho jujur. "Aku tahu cerita yang sebenarnya". Lanjutnya.

"Ya, dia memang menguntit pria itu. Tapi, korban seharusnya menolak dengan tegas Dakwaan kalau dia melakukan kejahatan penguntit. Pria, tidak akan pernah mengatakan tidak. Si pria itu hanya menghindarinya saja" yunho mencoba menjelaskan kepada sang hakim.

"mereka berkencan dan kekasihnya menghilang begitu saja. Bukankah wajar kalau dia mencarinya? Dia terus bersembunyidan mengirim 1 pesan singkat kalau hubungan mereka berakhiri. Itu juga tidak jelas".

"Tunjukkan pesan singkat itu kepada yang Mulia". Yunho menyuruh Jaejoong menunjukkan bukti pesan singkat yang dikirimkan Yoochun kepadanya.

"Ok. Aku mengerti situasi ini". Ucap sang hakim. "Aku menganggap kalau terdakwa tidak bersalah. Namun karena kau mabuk dan membuat keributan di tempat usahanya, kau bersalah karena masalah itu". Lanjut sang hakim.

"Aku akan memberikan denda sebesar 50.000 won". Sang hakim mengetukkan palunya tanda persidangan Jaejoong sudah berakhir.

Yunho tersenyum lega mendengar keputusan sang hakim.

Jaejoong mengeluarkan selembar uang 50.000 won.

"Harga yang harus kubayarkan untuk cintaku yang lebih besar dendanya daripada menyebrang sembarangan tapi lebih kecil dari memeras". Ucap Jaejoong dalam hati.

Jaejoong berjalan pelan sambil sesekali memikirkan nasib cintanya yang kandas.

"Cintaku seperti pipis di jalan, semuanya berakhir disitu". Batinnya nelangsa. "Akankah aku bisa mencintai lagi?"

Langkah Jaejoong terhenti saat tiba-tiba Yunho berhenti di depannya.

Jaejoong berusaha menghindari Yunho, namun Yunho terus saja menghalangi jalannya.

"Ada apa sih denganmu?" Tanya Jaejoong sebal.

"Ayo kita pergi ke rumahku". Ajak Yunho santai.

"Apa?"

"Untuk bertemu dengan ibuku. Dia menunggumu". Yunho kembali menjelaskan.

"Apa-apaan ini?" tanya Jaejoong tidak mengerti. "Kenapa harus aku?"

"Ahjumma yang mengundangmu itu, sebenarnya adalah Ibuku".

"Apa?"

Yunho hanya tersenyum simpul kepada Jaejoong. Jaejoong yang kaget hanya terdiam terpaku mendengar penjelasan Yunho.

~~ TBC ~~

Thank's for reading..

Gamsahamnida..

Terimakasih buat yang sudah mau review, follow, maupun favorite..

Mian kalo chapter ini kurang memuaskan.. kkkk..

fast update..

^,^ Phicha Gyuzizi ^,^