Imperfect Angel
.
Remake dari novel Nureesh Vhalega, Imperfect Angel.
Warn!
Typo(s), Gender Switch, pendek, etc.
Gak suka HunKai? Close aja ya ~
CERITA INI BUKAN MILIK SAYA, SAYA HANYA MEREMAKE SAJA TANPA MELUPAKAN PEMBUAT CERITA INI. REMAKE NOVEL BY NUREESH VHALEGA
CERITA INI BUKAN MILIK SAYA, SAYA HANYA MEREMAKE SAJA TANPA MELUPAKAN PEMBUAT CERITA INI. REMAKE NOVEL BY NUREESH VHALEGA
CERITA INI BUKAN MILIK SAYA, SAYA HANYA MEREMAKE SAJA TANPA MELUPAKAN PEMBUAT CERITA INI. REMAKE NOVEL BY NUREESH VHALEGA
CERITA INI BUKAN MILIK SAYA, SAYA HANYA MEREMAKE SAJA TANPA MELUPAKAN PEMBUAT CERITA INI. REMAKE NOVEL BY NUREESH VHALEGA
CERITA INI BUKAN MILIK SAYA, SAYA HANYA MEREMAKE SAJA TANPA MELUPAKAN PEMBUAT CERITA INI. REMAKE NOVEL BY NUREESH VHALEGA
Chapter 4 :
.
Jongin membanting pintu kantornya dengan napas yang memburu. Hasil rapat dengan dewan direksi sama sekali tidak membuat perasaannya membaik. Faktanya, Jongin merasa semakin depresi. Setelah semua hal buruk yang ia alami kemarin, Jongin tidak percaya ada hal buruk lain yang menantinya hari ini.
Para dewan direksi mengancam akan mempercepat pemilihan pimpinan perusahaan dan pilihannya tentu saja bukan Jongin, melainkan kakaknya yang murahan dan suka merusak segala hal itu. Mereka beranggapan Jongin terlalu mementingkan emosi dan kurang kompeten atau dalam kata lain, Jongin kurang profesional.
Betapa menggelikan penilaian itu, mengingat para dewan direksi yang terhormat sama sekali tidak tahu tentang hal yang sebenarnya terjadi. Jongin tidak membatalkan pernikahan jutaan dolarnya dengan Minho tanpa alasan.
Terima kasih pada Baekhyun untuk kegiatan menjijikkan yang dilakukannya dengan Minho, hingga Jongin tidak memiliki keraguan atau penyesalan sedikit pun karena sudah mengambil keputusan yang membuat perusahaannya mengalami kerugian besar.
Jika saja para dewan direksi tahu kepribadian Baekhyun yang sesungguhnya, tak membutuhkan waktu lama hingga mereka menendang Baekhyun keluar dari perusahaan. Namun pada kenyataannya, takdir selalu memihak Baekhyun. Dengan cerita menyedihkannya, ia mengambil hati setiap orang berkedudukan penting di perusahaan dan berhasil mengantongi banyak suara.
Sedangkan di sisi lain, Jongin justru mendatangkan kerugian besar dengan membatalkan pernikahan dan proyek pentingnya untuk pembangungan perumahan eksklusif itu masih berupa wacana. Jongin tidak bisa membiarkan Baekhyun mengambil posisi itu. Jongin tidak akan membiarkan Baekhyun mendapatkan segala hal yang diinginkannya.
Jongin akan melakukan apa pun, bagaimanapun, agar ia yang terpilih sebagai pimpinan perusahaan. Pintu kantor Jongin terbuka dan Halla melangkah masuk. Tanpa kata, Halla menarik Jongin keluar dari kantornya. Setelah berbagai perlawanan yang sia-sia, akhirnya Jongin menyerah dan membiarkan Halla membawanya ke coffee shop yang ada di lobby gedung.
"Aku tidak mau mengulang cerita mengerikan itu, Halla," ucap Jongin.
"Kau tidak harus menceritakannya, aku sudah mendapat laporan lengkap dari Sana. Termasuk hasil dari rapat dewan direksi hari ini. Aku datang untuk memberikan dukungan moral. Kau tahu aku tidak memiliki pekerjaan apa pun selain mengganggu Taehyung oppa dan istrinya atau menunggu Jongdae oppa pulang dari kantor," sahut Halla ringan.
Dua jam kemudian, setelah menghabiskan dua gelas kopi juga selusin donat, Jongin merasa lebih baik. Mereka membicarakan segala hal yang tidak nampak penting, namun Jongin senang karena bebannya seakan menghilang selama sesaat.
"Unnie, bagaimana perasaanmu yang sebenarnya? Maksudku, setelah semua rencana pernikahan itu. Aku tahu kau tidak mencintai Minho, sejak awal kalian lebih terlihat seperti rekan bisnis, namun waktu satu tahun bukanlah waktu yang singkat," ucap Halla hati-hati. Jongin menghela napas.
"Aku tidak tahu bagaimana seharusnya aku merasa, Halla. Tentu saja aku marah. Namun aku memiliki masalah yang lebih besar di sini. Dengan membatalkan pernikahanku, kesempatanku untuk menang dari Baekhyunnsemakin kecil."
"Kalau begitu, kau hanya harus menikah. Jika pernikahan begitu penting dan bisa membuatmu menang, maka kau harus melakukannya," sahut Halla.
"Apa kau lupa? Aku baru saja menemukan calon suamiku berselingkuh. Jika aku mencari pria lain, di mana tepatnya aku bisa menemukan seorang pria muda yang belum menikah dengan latar belakang sempurna juga uang yang banyak dan bersedia menikahiku dalam waktu dua bulan?" balas Jongin.
Halla membuka mulut, namun terpotong suara dering ponsel yang menyenandungkan intro lagu River Flows in You dari Yiruma. Halla langsung memutar matanya, tak percaya Jongin masih menggunakan lagu itu. Sementara Jongin yang tak peduli meneruskan percakapannya di ponsel dengan ekspresi serius. Setelah menurunkan ponselnya, Jongin mendesah frustrasi.
"Oh Sehun sungguh membuatku gila. Bagian mana dari tidak dijual yang tidak bisa ia mengerti? Aku tidak mengerti mengapa ia begitu gigih ingin membeli resort-ku. Di antara sekian banyak resort yang kutawarkan sebagai gantinya, pria itu tetap saja memilih resort di Busan. Apa yang salah dengannya?" gerutu Jongin.
"Apa unnie baru saja mengatakan Oh Sehun?" tanya Halla serius. Begitu Jongin mengangguk, Halla melanjutkan,
"Kau ingat perjalananku ke Los Angeles tahun lalu? Aku ke sana untuk menghadiri pemakaman temanku semasa kuliah, Oh Luhan. Ia adalah saudara kembar Sehun. Aku mendengar desas-desus bahwa kini Sehun berhenti menjadi sutradara karena memiliki obsesi yang berhubungan dengan kematian Luhan."
"Dan sekarang kau tahu obsesinya itu adalah membeli resort-ku yang di Busan," sahut Jongin. Hening sesaat. Tiba-tiba Halla menjentikkan jarinya, membuat Jongin mengerutkan kening. "Kau memiliki jawabannya, Unnie! Tentu saja kau sudah memilikinya. Ya ampun, mengapa tidak terpikirkan sejak tadi?" seru Halla bersemangat.
"Apa yang kau bicarakan?" tanya Jongin tidak mengerti. "Kau tadi bertanya di mana bisa menemukan pria muda sempurna dan semacamnya, bukan? Dan jawabannya adalah Oh Sehun!" jawab Halla masih dengan menggebu-gebu. Jongin membelalakkan mata. Ketika berhasil mengatur kembali ekspresinya, Jongin menggelengkan kepala.
Dengan jelas juga tanpa ragu menolak ide itu, namun Halla tetap melanjutkan. "Pria itu sudah menghantuimu selama enam bulan, unnie. Aku yakin Sehun tidak akan menyerah hingga ia mendapatkan resort-nya. Aku rasa ini adalah win-win solution. Unnie mendapatkan suami sempurna, sementara Sehun akan mendapatkan resort yang menjadi obsesinya."
Jongin tercengang mendengar penuturan Halla, namun kepalanya tetap menggeleng. "Bukankah unnie akan melakukan apa pun untuk menang dari Baekhyun? Lagi pula, apa bedanya melangsungkan pernikahan palsu dengan pernikahan kerjasama yang sebelumnya akan unnie lakukan? Pikirkan kembali, unnie," ucap Halla serius.
Jongim menatap Halla, lalu bertanya, "Kau sungguh-sungguh menyarankan hal ini?" Halla menghela napas. "Tentu saja ini bukan hal yang baik, aku tahu itu. Namun ini jalan keluar terbaik untuk masalahmu. Kecuali unnie mau mempertimbangkan saranku untuk pergi dari keluargamu dan melupakan seluruh persainganmu dengan Baekhyun"
"Tidak akan pernah. Aku tidak akan membiarkan Baekhyun mendapatkan keinginannya. Aku akan terus berjuang hingga berhasil menghancurkannya," balas Jongin seketika. Halla menghela napas.
Dengan sedih ia menatap sahabatnya yang begitu tenggelam dengan kebencian juga dendam, namun apalagi yang bisa dilakukannya? Halla sudah memberikan banyak saran untuk Jongin dan jika saran itu melibatkan kata mengalah pada Baekhyun maka secepat kilat Jongin akan menolaknya. "Tidakkah kau ingin bahagia, Unnie?" tanya Halla pelan.
Alih-alih menjawab, Jongin justru bangkit berdiri dan melangkah kembali menuju kantornya. Meninggalkan Halla yang kembali menghela napas di belakangnya.
oOoOoOo
Jongin memandangi kemacetan di depannya dengan tangan sibuk memijat pelipisnya. Benaknya dipenuhi dengan percakapannya bersama Halla tadi siang. Jongin benci mengakuinya, namun semakin ia memikirkannya, semakin ia tahu saran Halla adalah satu-satunya jalan keluar untuknya. Bukan saran untuk pergi meninggalkan keluarganya, namun tentang pernikahan negosiasi itu.
Jongin bahkan sudah memikirkan seluruh syarat untuk pernikahan negosiasi itu. Jongin tahu ia terdengar seperti orang gila, namun Jongin tidak bisa menahannya. Jika itu adalah satu-satunya jalan untuk mengalahkan Baekhyun, maka Jongin akan melakukannya. Karena tidak ada hal yang tidak akan dilakukan Jongin untuk menghancurkan Baekhyun.
Jongin meraih ponselnya, lalu menghubungi Sana. "Sana, tolong atur jadwal pertemuan untukku dan Oh Sehun. Aku tidak peduli kapan, namun usahakan dalam waktu dekat. Terima kasih." ucap Jongin. Tanpa menunggu balasan Sana, Jongin memutuskan sambungan telepon.
oOoOoOo
Negosiasi
Busan, Mei 2014
Sehun melangkah menuju balkon kamarnya. Mengabaikan rasa sakit di dadanya, juga rangkaian kenangan yang menghampiri benaknya, Sehun berdiri di tepi balkon seraya menghela napas. Segalanya nampak biru. Sehun membiarkan matanya menjelajahi pemandangan, meski hatinya menjerit getir.
Baginya tak ada lagi yang terasa indah ataupun menenangkan. Sehun merasa hampa. Setelah berbulan-bulan lamanya hidup seperti itu dan Sehun mulai terbiasa, hal itu tak lagi membuatnya cemas. Pada kenyataannya, Sehun hampir sampai pada titik di mana ia tidak akan melawan dukanya lagi.
Sehun membalikkan tubuh, namun gerakannya terhenti ketika sudut matanya menangkap sosok seorang gadis. Gadis itu mengenakan gaun berwarna oranye pudar dan rambutnya yang berwarna hitam panjang berkibar tertiup angin. Ketika terkena sinar matahari, ada semburat merah gelap pada rambut hitam itu yang membuatnya terlihat mengagumkan.
Gadis itu hanya berdiri di bibir pantai, larut sepenuhnya dalam lamunan. Bahkan ketika gulungan ombak menghampirinya, gadis itu tetap berdiri membeku. Ada sesuatu dalam diri gadis itu yang mampu membuat Sehun terpaku. Tanpa daya, Sehun tetap berdiri di tempatnya dengan mata yang terus memandangi gadis itu. Sehun tidak tahu mengapa dirinya enggan untuk beranjak.
Sehun pun tidak tahu mengapa gadis itu terlihat mempesona di matanya. Namun satu hal yang Sehun tahu, gadis itu baru saja mengubah sesuatu dalam dirinya. Karena kini, untuk pertama kalinya sejak hidupnya berubah hampa, Sehun menemukan sesuatu yang dapat disebutnya indah. Gadis itu terlihat indah baginya.
Ombak kembali menghempas tubuh gadis itu. Menciptakan hujan air di sekelilingnya. Perlahan, tangan gadis itu terangkat dan berhenti tepat di dada kirinya. Gadis itu memejamkan mata. Membiarkan waktu kembali berjalan, sementara ia terhanyut dalam rengkuhan mentari juga semilir angin. Beberapa saat kemudian, gadis itu membuka mata dan melangkah pergi.
Meninggalkan Sehun yang masih terpaku dan hanya mampu memandangi kepergiannya dengan satu pertanyaan besar. Mengapa gadis itu terlihat penuh luka? Belum juga pertanyaannya terjawab, Sehun mendengar suara ketukan di pintu kamarnya. Chanyeol datang mengingatkannya tentang pertemuan dengan pemilik resort ini.
Sehun tidak tahu apa yang telah membuat sang pemilik resort berubah pikiran dan Sehun tidak peduli. Baginya yang terpenting hanyalah membeli resort ini, lalu membuat film sesuai janjinya pada Luhan. Sehun bahkan sudah mempersiapkan cek dengan jumlah uang yang sangat besar. Karena Sehun sungguh akan melakukan apa pun, bagaimanapun, agar resort ini menjadi miliknya.
Ketika Sehun sampai di restoran yang terletak di sisi barat resort, seorang pelayan mengarahkan Sehun untuk menaiki tangga hingga lantai tiga. Pelayan itu membuka pintu ganda yang menyimpan ruangan berdinding kaca di dalamnya. Ruangan itu bermandikan cahaya matahari dan ada sebuah meja di sudut kirinya.
Sehun dipersilakan masuk, sementara langkah Chanyeol ditahan. Meski bingung, Sehun menuruti instruksi pelayan itu dan meninggalkan Chanyeol berdiri di depan pintu. Begitu pintu tertutup, Sehun melanjutkan langkah menuju meja di sudut kiri ruangan. Dan Sehun terkejut ketika melihat orang yang menunggunya adalah gadis itu.
Ya, gadis yang berdiri di bibir pantai beberapa saat yang lalu. Kini gadis itu telah berganti pakaian dengan gaun formal berwarna biru tua. Rambut hitamnya digelung sempurna hingga tak memperlihatkan sedikit pun semburat merahnya yang menganggumkan. Wajahnya tak menampilkan ekspresi apa pun, sementara mata kelamnya menatap Sehun tanpa ragu.
Segala hal yang Sehun anggap indah dalam diri gadis itu menguap, gadis itu telah ber-metamorfosa menjadi gadis tangguh. Gadis itu berdiri, lalu mengulurkan tangannya yang mungil. "Kim Jongin," ucapnya singkat tanpa senyum sedikit pun.
Sehun menyambut uluran tangan itu seraya mengucapkan namanya, kemudian mereka berdua duduk berhadapan dan selama sesaat hanya ada keheningan. Sehun mencoba menata kembali pikirannya yang saat ini meluapkan banyak pertanyaan. "Aku akan menjual resort ini dengan satu syarat," ucap gadis itu tegas.
Sehun mengangguk, mengisyaratkan gadis itu untuk melanjutkan. Sehun sudah mempersiapkan dirinya untuk segala kemungkinan. Sehun akan melakukan apa pun. Sehun sudah siap. Namun ketika gadis itu kembali membuka suara, Sehun sama sekali tidak siap untuk mendengar syarat gadis itu. Syarat yang hanya berupa satu kalimat dan terdiri dari dua kata, namun terdengar begitu mustahil.
Syarat yang membuat Sehun mematung seutuhnya.
"Menikahlah denganku."
OooOoOoO
Jongin mengepalkan tangan yang berada di pangkuannya kuat-kuat. Jantungnya berdentam begitu keras hingga terasa menulikan pendengarannya. Namun Jongin tidak khawatir tentang itu, karena pria di hadapannya tak terlihat akan bersuara dalam waktu dekat.
Jongin tahu syaratnya terdengar begitu gila, apalagi diucapkan kepada seseorang yang benar-benar asing, namun Jongin tidak memiliki pilihan lain. Jongin berusaha menjaga ekspresinya untuk tetap datar. Meskipun hatinya gelisah luar biasa, Jongin tidak akan mundur. Jongin sudah melangkah sejauh ini dan Jongin akan menyelesaikan langkahnya hingga akhir jalan.
Sebelum pria di hadapannya lari dan menganggapnya gila, Jongin melanjutkan, "Hanya sementara. Kau tidak perlu menikahiku untuk selamanya. Aku hanya membutuhkanmu selama satu tahun. Setelah itu kau bebas pergi dariku dan sebagai imbalannya kau bisa mendapatkan resort ini." Keheningan kembali merebak. Mereka berdua saling bertatapan.
Ketika yakin bahwa Jongin benar-benar serius, barulah Sehun memecah keheningan. "Biar kuperjelas. Kau bersedia menjual resort ini dengan syarat aku harus menjadi suamimu selama satu tahun. Apa aku benar?" ucap Sehun. Jongin mengangguk. "Bagaimana jika aku menolak syarat itu?" tanya Sehun.
"Maka kau tidak akan pernah mendapatkan resort ini," jawab Jongin tenang. Mereka kembali tenggelam dalam keheningan. Sehun sibuk dengan pikirannya, sementara Jongin berusaha keras untuk menyembunyikan ekspresinya. Ketika detik demi detik yang menjelma menit terasa semakin mendebarkan, akhirnya Sehun menghela napas dan menatap mata Jongin.
"Aku akan memenuhi syaratmu," ucap Sehun tegas. Jongin menghembuskan napas perlahan. Mata biru-kehijauan yang memerangkapnya dalam tatapan itu seakan tak memberinya celah untuk bernapas. Jongin berdeham, mengalihkan pandangan, lalu memberikan salah satu map yang dibawanya. Map itu berisi perjanjian yang telah dibuatnya bersama Ravi, pengacaranya.
Tanpa kata Jongin mengulurkan map itu pada Sehun. Di dalamnya terdapat kertas berisi perjanjian dasar untuk pernikahan mereka. Hanya menerangkan bahwa kedua belah pihak sepakat untuk menikah, bertahan dalam pernikahan itu dalam waktu satu tahun, dan di akhir masa perjanjian nanti Jongin akan memberikan resort-nya pada Sehun.
Lalu syarat-syarat lainnya yang akan mengatur kehidupan pernikahan mereka akan menyusul, berdasarkan kesepakatan dari kedua belah pihak. Sehun membacanya dengan seksama. Ia sama sekali tidak ragu ketika membubuhkan tanda tangan.
Sehun memberikan map itu kembali pada Jongin, lalu menerima map lain yang berisi salinan kertas perjanjian itu dan menandatanganinya juga. Setelah itu Sehun kembali menatap Jongin. Sehun tidak bisa menebak apa yang ada dalam benak gadis cantik di hadapannya, namun satu hal yang Sehun tahu, gadis itu benar-benar tangguh.
Meski tidak mengerti alasan dibalik pernikahan palsu ini, Sehun mengagumi keberanian gadis itu. "Mengenai syarat-syarat lain, umm. . . tentang hak dan kewajiban selama pernikahan, apa kau akan menegosiasikannya saat ini atau nanti ketika kau datang bersama pengacaramu?" tanya Jongin. "Aku lebih suka menyelesaikannya saat ini," jawab Sehun.
Jongin membuka map yang lain, lalu mengeluarkan dua lembar kertas kosong dan memberikan salah satunya pada Sehun. Mereka berdua mulai menulis dan tak membutuhkan waktu lama bagi mereka untuk benar-benar larut di dalamnya. Ketika jarum pendek pada jam telah berganti, barulah mereka meletakkan bolpoin, kemudian saling bertukar kertas.
Jongin terkejut melihat daftar syarat milik Sehun yang berjumlah tujuh, sama persis dengannya. Mengesampingkan jantungnya yang entah mengapa berdebar cepat, Jongin membaca satu persatu daftar syarat itu. Ternyata poinnya pun tak jauh berbeda. Satu hal yang membuat kening Jongin berkerut hanyalah syarat mengenai pengurusan rumah.
Sehun tidak ingin memiliki pembantu, atau dengan kata lain Sehun ingin mereka berdua yang mengurus rumah secara bergantian. Sementara di sisi lain, Sehun membelalakkan mata demi membaca syarat Jongin mengenai seks.
Jongin menuliskan bahwa mereka tidak boleh mengkonsumsi pernikahan mereka, yang artinya mereka tidak bisa melakukan hubungan intim selayaknya suami-istri. Bukan berarti Sehun memiliki niat untuk melakukannya, hanya saja syarat berikutnya sangat mengejutkan Sehun.
Jongin menulis bahwa selama pernikahan berlangsung, mereka berdua dilarang keras melakukan hubungan yang melibatkan fisik dalam bentuk apa pun dengan orang lain. Syarat ini dengan jelas mengatakan bahwa Sehun harus hidup selibat selama satu tahun. Dalam hitungan detik mereka meletakkan kertas dan saling memandang tepat ke mata masing-masing. Jongin dengan keningnya yang berkerut, sementara Sehun dengan pandangan tak percaya.
"Aku tidak bisa menyetujui syaratmu mengenai kepengurusan rumah. Mungkin kau tidak tahu, tapi aku adalah seorang wanita karier. Tidak mungkin dengan jadwal kerjaku yang padat aku mampu mengurus rumah. Lagi pula tujuanku melakukan pernikahan sandiwara ini bukan untuk menjadi istri yang sesungguhnya, melainkan untuk mengambil alih perusahaan ayahku," ucap Jongin.
Sehun menaikkan sebelah alisnya demi mendengar nada protes yang keras dalam suara Jongin. Selama sesaat Sehun terdiam, lalu menyandarkan punggungnya tanpa memutuskan kontak mata dengan Jongin. Dalam satu kalimat itu Sehun mendapatkan jawaban atas pertanyaannya mengenai tujuan pernikahan sandiwara ini, juga melihat emosi yang benar-benar nyata dari wajah Jongin.
Meski samar, Sehun tahu Jongin ternyata tidak setenang yang ditunjukkannya. "Aku juga tidak bisa menyetujui syaratmu mengenai hidup selibat selama satu tahun. Tujuanku menikahimu bukan untuk menjadi suami sesungguhnya, namun untuk mendapatkan resort ini," balas Sehun tenang. Serta-merta tubuh Jongin menegang.
Ia berusaha menutupinya, namun mata Sehun yang telah terlatih dalam melihat bahasa tubuh sama sekali tidak tertipu. Ada alasan kuat dibalik syarat itu dan Jongin menolak menjelaskannya. Jongin menghela napas. Berusaha meredam jeritan hatinya yang sibuk mencela bahwa semua laki-laki sama saja. Alih-alih mengucapkannya, Jongin justru mengajukan sebuah solusi. Solusi yang tidak benar-benar ia sukai. Namun itu salah satu risiko dari negosiasi, bukan?
"Aku akan membiarkanmu melakukan. . . yah, hal yang ingin kau lakukan. Selama itu tidak mengganggu pernikahan sandiwara ini, aku tidak peduli. Kau bisa tidur dengan wanita mana pun. Pastikan wanita itu menutup mulut. Dan sebagai gantinya kau harus membiarkanku memiliki pembantu rumah tangga," ucap Jongin tegas.
Sehun mengangguk dan mereka kembali menegosiasikan syarat-syarat lainnya. Dengan sedikit pengaturan, juga banyak perdebatan, akhirnya negosiasi itu selesai. Jongin membaca ulang syarat-syarat yang telah mereka setujui.
-Wajib menjaga kerahasiaan negosiasi selama perjanjian berlangsung. Pemberitahuan atau pembocoran dari isi perjanjian dalam bentuk dan kondisi apa pun dianggap sebagai pelanggaran dan perjanjian akan dibatalkan.
-Tidak melakukan kontak fisik selain di hadapan orang lain. Semua kontak fisik yang dilakukan hanya bertujuan untuk mendukung sandiwara.
-Tidak mengganggu privasi satu sama lain dan dilarang keras menyelidiki masa lalu masing-masing atas dasar apa pun.
-Semua jadwal atau kegiatan yang membutuhkan kehadiran kedua belah pihak harus diinformasikan minimal tiga hari sebelumnya.
-Biaya kehidupan selama pernikahan akan ditanggung oleh kedua belah pihak dengan pembagian sama rata. Termasuk biaya pernikahan, pembelian rumah, juga perceraian.
-Tidur secara terpisah. Kecuali pada saat-saat diharuskan seperti pada acara keluarga dan lainnya.
-Memiliki hak dan kewajiban yang sama di rumah. Untuk hal-hal yang tidak dilakukan oleh pengurus rumah, dalam hal ini membersihkan kamar pribadi, harus dilakukan sendiri tanpa campur tangan pihak lain.
-Hak dalam memenuhi kebutuhan fisik harus dilakukan dengan hati-hati dan tetap menjaga kerahasiaan perjanjian.
-Kedua belah pihak wajib melakukan tes kesehatan setiap tiga bulan sekali. Tes pertama dilakukan setelah pengesahan perjanjian dan tes selanjutnya terhitung sejak tanggal itu.
-Dalam kondisi apa pun, dilarang keras berpisah sebelum tenggat waktu yang telah ditetapkan. Pengalihan kepemilikan resort hanya bisa dilakukan satu tahun setelah pernikahan.
-Alasan dari perceraian akan didiskusikan pada waktunya. Dilarang menggunakan alasan yang merugikan salah satu pihak.
Jongin meletakkan kertasnya, lalu mengatakan, "Aku akan memperkenalkanmu pada keluargaku minggu depan, di acara makan malam keluarga. Aku tidak peduli bagaimana kau ingin melakukannya, namun pastikan kau melamarku malam itu dan kita akan menikah dua bulan setelahnya."
"Bagaimana dengan cerita? Kau tahu, orang akan bertanya-tanya. Jika aku tidak salah ingat, kau memiliki tunangan yang akan menikahimu akhir tahun ini, bukan?" balas Sehun. "Katakan saja kita bertemu di resort ini, aku terpesona padamu dan kau terpesona padaku, lalu kita memutuskan untuk menikah," sahut Jongin seadanya.
Sehun berdecak, lalu berkata, "Tidak akan ada yang percaya pada cerita itu." Jongin menyipit, berusaha keras menahan tangannya yang sudah siap melempar bolpoin ke wajah tampan Sehun. Jongin tidak peduli seberapa tampan pria di hadapannya ini, karena kesabarannya benar-benar sudah menipis.
Sejak awal negosiasi, yang melibatkan banyak perdebatan juga sindiran tanpa henti, Jongin tahu hidupnya akan semakin rumit. Namun Jongin tidak menyangka, menahan kesabaran juga termasuk di dalamnya. Ya ampun, bagaimana Jongin sanggup melewatkan waktu satu tahun hidup bersama Sehun jika beberapa jam saja sudah membuatnya gila?
"Jika kau ingin sesuatu yang istimewa, kau bisa meminta penulis naskahmu untuk mengarang sesuatu. Tentu saja aku tidak keberatan dengan cerita romantis yang tidak realistis," sahut Jongin dengan nada mengejek di akhir kalimatnya.
"Tidak semua cerita romantis terdengar tidak realistis. Jika kau memiliki cukup imajinasi, kau bisa membuat sebuah cerita sederhana menjadi tak terlupakan," balas Sehun. "Yah, tidak semua orang bisa hidup hanya dengan imajinasi," sahut Jongin. Sehun mengangkat bahu, lalu mengatakan, "Menjadi kreatif tidak pernah melukai siapapun sebelumnya."
Jongin mengatupkan bibirnya kuat-kuat. Selama beberapa saat mereka terlibat kompetisi saling menatap. Sikap menantang Jongin sungguh menggugah sesuatu yang telah lama tertidur dalam diri Sehun. Menit demi menit terus berlalu, hingga akhirnya Sehun menawarkan seulas senyum perdamaian. Jongin tersentak.
Bukan karena senyum Sehun, namun karena sorot mata Sehun yang bahkan sama sekali tidak berubah dengan senyum di wajahnya. Dan... Kim Jongin baru menyadarinya. Oh Sehun menyimpan duka yang sangat amat pekat.
.
.
.
RnR?
.
.
.
To Be Continued
.
.
.
Note : Maaf yah baru bisa update huhu T.T
Maaf sebelumnya, tidak semua waktu saya akan saya habiskan untuk meremake ff ini bukan? Jika anda tidak menyukai gaya tulisan saya yang bisa dibilang sedikit anda bisa langsung membaca novelnya, saya tidak memaksa. Jongin itu cewek, apa sebelumnya tidak tahu apa itu genderswitch?
