The Looking-glass Tower

Malam hari yang seperti biasa. Sebentar lagi, Vanadise selesai dari pekerjaan membereskan buku di perpustakaan. Lisa dan Bud sudah ia perintahkan untuk tidak menunggunya dan tidur duluan.

Srakk...

Vanadise langsung menoleh ke arah suara aneh itu, seperti suara semak yang di lewati seseorang. Suara itu berasal dari luar. "Mungkinkah Sproutling?" Ia tidak mau menebak dan langsung membuka jendela. Menoleh kiri kanan dan menemukan sebuat kertas kusam bertuliskan "Pergilah ke Tower of Leires SEKARANG!". Vanadise menoleh kiri kanan lagi mencari orang yang meletakkan kertas itu di atas semak dekat jendela. Tidak ada orang, membuat perasaan Vanadise tidak enak. Bergegas ia menutup jendela dan meninggalkan pekerjaannya, ia keluar dari perpustakaan dan menyambar Spear yang ada di dekat pintu, lalu keluar dengan berlari.

Entah kenapa Vanadise merasa cemas sampai melakukan perjalanan dengan berlari menuju Tower of Leires yang dihuni banyak makhluk gaib, seperti Vampir dan Demon Swords. Vanadise sampai di gerbang Tower of Leires dengan nafas yang terengah-engah.

"Leires..."

Vanadise mendengar suara mungil nan bening, ia segera mengadahkan kepala dan melihat seseorang berpakaian putih dengan banyak mutiara di sekujur tubuhnya. Vanadise mengenali rambut cokelatnya, dia adalah Pearl.

Pearl meundur beberapa langkah, ia ingin masuk, tapi ragu juga takut. Tapi ada sesuatu yang mengharuskan dia masuk ke menara itu.

"Pearl..." Vanadise menepuk pundak Pearl dengan tiba-tiba.

"Oh!" Pearl terkejut, ia berbalik dengan wajah ketakutan, tapi setelah matanya menemukan sosok Vanadise, wajahnya memerah malu. "Vanadise! Apa yang kau lakukan di sini?"

"Dan kenapa kau di sini?" Vanadise balik bertanya. "Di sini sangat berbahaya... Di mana Elazul? Aku tidak melihatnya. Dia pasti akan sangat khawatir."

"Oh..." Pearl berbalik dan mengadahkan kepalanya untuk menatap menara. "Aku harus pergi... Menara itu memanggilku." Ia hendak melangkah.

"Tunggu!" Vanadise menangkap tangan Pearl, mencegahnya. "Kau bercanda! Di sana ada Vampir yang bisa menghabiskan darahmu dalam satu detik dan Demon Swords yang bisa menebas mencincang tubuhmu dalam sekejap! Kau tidak bisa pergi sendirian! Aku akan ikut denganmu!"

Mata Pearl menatap Vanadise dengan takjub. "Be-benarkah? Aku akan menjadi beban buatmu..."

"Tidak akan... Karena aku yang meminta untuk ikut denganmu." Jawab Vanadise dengan pasti.

Wajah Pearl memerah. "Te-terima kasih."

Mereka memasuki menara. Satu lantai, dua lantai, mereka lewati dengan aman, dan mencapai pada sebuah ruangan di lantai tiga.

"Ini adalah ruangan teleportasi..." Pearl membuka suara ketika melihat kristal besar di tengah ruangan. "Kita akan selamat di sini dan melewati beberapa lantai."

Vanadise mengangguk, ia menghampiri kristal dan menyentuhnya. Tanah bergetar. Vanadise melihat ke atas dan sekeliling sampai getaran itu berhenti.

"Kita telah berpindah..." Kata Pearl.

//(karena malas menjelaskan perjalanan mereka per lantai, jadi kusingkat... ' maaf)

Mereka telah mencapai lantai teratas. Di depan sebuah pintu yang besar dengan dua patung sebagai penjaga. Pintu yang terlihat kuat.

"Ruangan takdir ada di balik pintu ini..." Kata Pearl sambil menatap pintunya. "Semua orang harus menghadapi masa lalu mereka..." Ia berbalik pada Vanadise. "Vanadise..."

Vanadise mengangguk mengerti. "Kita masuk, tapi aku akan menyuruhmu lari jika terlalu berbahaya."

"B-baiklah..." Pearl memandangi sekujur tubuh Vanadise yang sudah cukup banyak luka. Vanadise telah melindunginya sepanjang perjalanan, bahkan rela untuk terpukul Demon Swords yang berubah jadi hammer demi melindunginya. Elazul juga sering terluka karenanya, tapi Elazul laki-laki, sedangkan Vanadise perempuan. Ia merasa agak tidak enak.

Mereka memasuki pintu itu. Di dalamnya ada seseorang dengan pakaian putih, dengan mutiara-mutiara menghiasi rambut dan pakaiannya, dengan sebuah core di lehernya. Sangat mirip dengan Pearl.

"Kembaran Pearl-kah?... ... Tapi semua mutiaranya hitam, dan core itu... berwarna hitam sehitam langit malam..." Vanadise hanya bisa menatap wanita itu.

"Kau seorang pelindung?" Pearl berjalan satu langkah, bertanya pada wanita itu. Core-nya berkilat sesaat, tapi tidak ada reaksi dari wanita bermutiara hitam.

"Tolong... Beritahu aku..." Pearl memohon. "Aku ingin tahu masa laluku."

Wanita bermutiara hitam itu perlahan menghilang disusul dengan kemunculan asap hitam. Vanadise menyadari bahwa sesuatu yang berbahaya akan muncul. Benar saja, sebuah monster besar muncul, seekor Centaur dengan armor, ia membawa sebuah senjata besar.

Pearl segera berteriak keras ketika monster itu akan memukulkan senjata kepadanya. Vanadise segera menarik Spear-nya dan berlari ke depan Pearl untuk menerima sabetan senjata besar itu.

Senjata itu menghantam keras badan Vanadise sehingga membuatnya terlempar hingga membentur dinding batu dan membuat dinding itu sedikit retak.

"VANADISE!!!" Pearl menjerit sekeras-kerasnya, ia berlari menghampiri Vanadise.

"Mundur! Pearl!" Cegah Vanadise. "Sebisa mungkin, sembunyi atau lari!!!"

Pearl terhenti, dan Vanadise bangun untuk menghadapi monster besar di depannya yang siap menyerang lagi.

//Battle with Giant Centaur (Itu namanya bukan?? Lupa nih)

"Selesai..." Vanadise menarik nafas lega, ia memakai Spearnya sebagai tumpuan nafas terengahnya.

"Kau tidak apa-apa Vanadise?" Pearl memandangnya cemas. "Aku sangat takut..."

"Tenang saja, ini bukan hal yang buruk."

Cling! Core Pearl bersinar sesaat. Ia kebingungan. "Huh? Core-ku..."

Vanadise melihat sekeliling, lalu melihat pintu terbuka dan seseorang masuk ke dalam. "Elazul..." Gumam Vanadise.

"Pearl!" Elazul memanggil, dia menghampiri Pearl dengan wajah marah.

"Elazul..." Walau begitu Pearl terlihat lega.

"Kurasa aku sudah bilang untuk tidak berjalan-jalan sendiri!" Elazul memaki.

"Maafkan aku..." Kepala Pearl menunduk, ia sedikit takut. "Jika aku mencoba memikirkan sesuatu—."

Elazul tidak mempedulikannya, ia beralih pada Vanadise, "Terima kasih lagi." Lalu ke Pearl, "Ayo pergi." Ia melangkah.

Pearl tidak beranjak dari tempatnya. Ia masih mencoba untuk menjelaskan. "Aku rasa seperti aku bisa... kumohon tolong aku... kumohon..." Ia seperti ingin menangis, tapi Elazul tetap melangkah. "Kumohon Elazul..." Pearl masih memohon. "Elazul..."

Akhirnya Elazul terhenti, ia terdiam beberapa saat. Berbalik lalu berkata, "Aku mengerti." Lalu ia beralih pada Vanadise yang sudah berdiri tegak dengan Spear di tangannya. "Bawa Pearl ke bawah menara." Lalu dia menghampiri Vanadise, sangat dekat. "Kalau terjadi sesuatu padanya, aku akan membunuhmu... Mengerti?"

"Baiklah..." Vanadise mengangguk pelan. Ingin rasanya menolak, tapi ia terlanjur mengiyakan.

"Aku akan membereskan sampah kecil." Yang dimaksud Elazul adalah monster. "Jangan biarkan Pearl pergi sendirian." Lalu ia pergi.

Pearl menghampiri Vanadise, wajahnya bersemu merah. "Terima kasih telah menolongku."

//(karena malas menjelaskan perjalanan mereka per lantai lagi, jadi kusingkat lagi... ' maaf)

Vanadise dan Pearl mencapai lantai bawah. Pearl sedikit mondar mandir sampai akhirnya terdengar sesuatu yang jatuh.

"Apa itu?" Pearl menghampiri asal suara. Ia ke dekat tangga lalu membungkuk untuk mengambil sesuatu. "Sebuah catatan?"

"Catatan?" Vanadise jadi teringat kertas kusam yang ia temukan di semak rumahnya. Kertasnya mirip sekali.

"The Jewel Hunter!" Pearl berteriak panik, ia melempar catatan itu dan berlari ke samping Vanadise.

Beberapa detik setelah Pearl sudah di samping Vanadise, seseorang muncul di depan pintu masuk. Jewel Hunter, Sandra.

"Aku memang sangat ingin bertemu denganmu." Sandra tersenyum tipis.

Vanadise menatapnya dengan tatapan penuh kebencian. "Setelah Rubens, dia mau merengut nyawa Pearl!? Tidak akan kubiarkan!! Aku tidak mau melihat seseorang tewas di depanku lagi!"

"Tidak..." Pearl bersembunyi di balik badan Vanadise.

"Core-mu adalah milikku!" Teriak Sandra. "Hukum bongkahan yang telah melupakan kilauan cahayanya! Ayo! Jewel Beast!" Sandra melemparkan sebuah permata yang kemudian bersinar dan menjadi sebuah monster aneh.

"Mundurlah Pearl!" Vanadise menarik Spear-nya.

//Battle with Jewel Beast

Jewel Beast telah kalah. Sandra hanya diam dengan senyumnya. "Kau memiliki partner yang kuat, Pearl." Kata Sandra.

"Jangan mendekat Sandra!! Atau kubunuh kau!!" Teriak Vanadise pada saat itu juga.

"Kenapa..." Pearl menatap Sandra dengan wajah sedih. "Kenapa kau memburu kami? Sungguh keterlaluan!"

"Dengarkan Core-mu..." Sandra mengatakannya denga suara pelan.

"Huh?" Pearl tidak mengerti.

"Kita akan bertemu lagi."

Menyadari kalau Sandra akan kabur, Vanadise segera berlari ke arahnya. "Tunggu! Jangan lari, Sandra!!" Telat, Sandra sudah melemparkan kaitnya dan meloncat ke atas.

"Sampai jumpa, pahlawan!"

"Sial!"

"Apa aku akan mati?"

Vanadise berbalik dan menatap Pearl bingung. Ia tidak percaya dengan kalimat yang baru ia dengarkan. "Apa?"

"Seorang Guardian tanpa seorang Knight hanyalah seekor unggas yang sedang duduk." Pearl terlihat sedih. "Elazul mencari yang lainnya... dan jika Jumi itu adalah seorang Guardian, maka dia akan..." Pearl menghela nafas sejenak. "Dan aku akan sendirian..."

"Tenanglah, Pearl. Kurasa Elazul tidak akan meninggalkanmu, dia itu overprotective padamu." Kata Vanadise, sebenarnya ia agak kesal dengan kalimat Elazul "Kalau terjadi sesuatu padanya, aku akan membunuhmu... Mengerti?" Terdengar menyebalkan di telinga Vanadise. Tapi ia tidak mau mempersalahkannya.

"Aku harap dia tidak menemukan seorangpun." Kata Pearl lagi. "Aku harus pergi. Elazul sedang menunggu... dan aku akan terkena teriakan lagi."

Vanadise ingin tertawa mendengarnya. "Mungkin... Tapi sekali-sekali kau harus memukul kepalanya agar ia tidak teriak-teriak lagi."

Pearl tersenyum. "Terima kasih, Vanadise. Sampai jumpa..." Lalu ia pergi.

"Ya... Dan... Hati-hati...lah..." Mata Vanadise berkunang-kunang. "Humm...?" Ketika akan melangkah, kakinya menjadi lemas.

"Awas!!"

Hampir saja. Jika orang yang berteriak "Awas" itu tidak menangkap Vanadise, pasti dia sudah membentur lantai batu yang berserakan kerikil tajam.

"Hei..." Dia memanggil sambil mengguncangkan tubuh Vanadise dengan perlahan.

Vanadise membuka matanya, lalu bertemu dengan sepasang mata hijau yang ia kenal. "Elazul?" Ia bertanya memastikan.

"Huh?" Benar saja, dia adalah si Lapis Knight.

"Kanapa kau di sini?" Malah itu yang ditanyakan Vanadise.

"...aku baru saja sampai."

"Kau tidak memakai teleport?"

"Tidak..." Alasan...

"Oh..." Vanadise mencoba untuk duduk, Elazul membantunya. "Pearl sudah keluar... Dia pasti menunggumu..."

"Aku tahu..." Jawab Elazul acuh tak acuh.

Vanadise menatap pemuda itu dengan bingung. "Kau tidak segera ke sana...?"

"... ...aku tahu kalau Pearl akan menunggu di Pub yang ada di Domina. Dia pasti ke sana." Elazul memperhatikan seluruh tubuh Vanadise, penuh luka, darah-darah mengalir di wajah, lengan, dan kaki Vanadise, luka yang bisa dibilang cukup parah. Wajar, karena Vanadise menerima semua serangan yang ditujukan pada Pearl. "Dia benar-benar melindungi Pearl..." Pikir Elazul.

"Lalu... kenapa tidak segera ke sana?" Tanya Vanadise. "Cepatlah Pearl menung... Hei! Apa yang kau lakukan!!?" Teriaknya langsung panik ketika Elazul menarik kedua tangan Vanadise ke bahu melewati punggung pemuda itu.

"Berisik... Berhenti mengoceh, dan aku akan mengantarkanmu pulang. Biarkan aku menggendongmu." Ujar Elazul menarik tangan Vanadise sampai gadis itu tergendong dipunggungnya. Lalu Elazul berdiri. "Kau bisa tunjukkan jalannya kan?"

Vanadise tersenyum simpul, tapi Elazul tidak melihatnya. Kemudian mengangguk pelan. "Setelah gerbang menara ini, tinggal ikuti jalan sebelah kiri."

-00-00-00-00-00-00-00-00-00-00-00-

Berkat pengarahan Vanadise, Elazul berhasil mencapai rumah itu dengan mudah. Tampaknya hari akan menjelang pagi, langit terlihat sedikit bercahaya.

Vanadise sempat melihat bayangan Lisa dan Bud yang terkejut di balik jendela kamar atas, tampaknya mereka langsung ke bawah. Dugaan Vanadise benar, karena baru saja Elazul akan melangkah ke depan pintu, pintu itu terbuka disertai dengan teriakan Bud dan Lisa

"MASTER!!!!" Teriak mereka. "Apa yang telah terjadi!!? Kau terluka!!" Mereka terlihat panik sampai ingin menangis.

"Hei, kau! Apa yang telah kau lakukan terhadapnya!!?" Bud memaki Elazul.

"Apa?" Elazul bingung.

Tidak mau terjadi kesalahpahaman, Vanadise segera membuka suara. "Bukan, Bud. Elazul, dia yang menolongku... Jangan marah pa...da...nya... ... ..."

"MASTER!!!" Kedua anak itu berteriak lagi. "Hei! Master! Bangunlah!"

Elazul merasa pusing dengan teriakan-teriakan itu. "Berhenti berteriak dan beritahu aku di mana aku bisa membaringkannya!!"

Kedua anak itu langsung diam. "Ba...baiklah."

"Cepat! Lewat sini!" Sementara Bud membukakan pintu, Lisa menunjukkan jalan ke atas.

Elazul segera mengikuti Lisa menuju ke atas. Lisa menyuruh Elazul untuk membaringkan Vanadise di tempat tidur yang ia tunjuk. Dan pemuda itu segera menurutinya. Lisa meneriakkan Bud untuk memasak air hangat, sementara dia sendiri sibuk mencari peralatan obat.

Beberapa saat kemudian Bud datang dengan sebaskom air hangat beserta handuk kecil. "Ini airnya!" Ia menaruhnya di meja.

"Aku dan Bud akan memetik tanaman obat. Ng... kau..." Lisa terhenti menatap Elazul.

"...Elazul..."

"Un... Ya, er... Elazul... Bisakah kau menyeka luka Master sementara kami memetik tanaman obat?" Tanya Lisa.

Elazul terdiam sebelum akhirnya mengangguk kecil. Ia melihat kedua anak itu pergi setelah melihat anggukannya. Elazul duduk di kursi di samping tempat tidur. Ia menatap Vanadise dengan ragu. "Terlanjur mengiyakan, sekarang aku tidak bisa melakukan apa-apa..."

Setelah berkonflik dengan pikirannya sendiri, akhirnya tangan Elazul meraih handuk dan membasahinya dengan air hangat. Kembali ia menatap Vanadise dengan bingung. "Harus mulai dari mana nih!?" Lalu ia memutuskan untuk menyeka wajah Vanadise terlebih dahulu.

Baru saja Elazul akan mengusap luka di wajah Vanadise dengan handuk. Gadis itu membuka matanya secara perlahan.

"Huh?" Vanadise langsung menatap Elazul. "Elazul? Kau di sini?"

Yang ditanya tidak menjawab melainkan hanya diam sambil menyeka luka di wajah si pengaju pertanyaan. Terus menyeka, membasuh handuk dengan air, lalu menyeka lagi. Vanadise tidak bertanya lagi, dia membiarkan Elazul menyeka lukanya. Dan Elazul menyeka hanya sampai lengan kanannya saja, karena Lisa dan Bud datang.

"Master!! Kau sudah sadar!!" Mereka menghampiri Vanadise, dan Elazul segera menyingkir.

"Kami akan segera merawatmu. Bertahanlah ya!" Kata Lisa.

Lalu kedua anak kembar itu sibuk sendiri. Merasa tugasnya sudah selesai, Elazul berbalik.

"Pemuda Lapis Lazuli..."

Elazul berbalik, dia melihat Lisa dan Bud menghampirinya. "... Kenapa kau memanggilku begitu?" Tanya Elazul pada Bud.

"Kau seorang Jumi kan?"

"Aku bisa menebaknya dari Core-mu..." Sambung Lisa.

"Lalu... apa...?" Tanya Elazul lagi.

"Kami ingin berterima kasih karena kau telah membawa Master pulang. Tanpamu, mungkin Master tidak akan pulang..." Mata Lisa berkaca-kaca.

"Karena itu..." Bud menundukkan wajahnya bersama Lisa.

"Terima kasih..." Ujar mereka berdua.

-00-00-00-00-00-00-00-00-

Elazul menatap rumah di depannya dengan tatapan lurus, lalu berbalik untuk pergi dari halamannya. Ia harus pergi sekarang, karena Pearl pasti sudah menunggunya dengan bingung di Domina.

Sekali lagi Elazul menoleh untuk menatap bangunan itu, lalu melangkah untuk pergi ke Domina.