Previous Chap :
Ia mengoreksi nilainya dan nilai itu berakhir di angka 8.47.
"Untuk lulus ujian ini murid harus mencapai nilai 8.5 dengan catatan setelah dibulatkan..." Gumamnya sendiri. "Kau murid yang pintar—"
"Dan ini hadiah untukmu."
Lalu ia pun mencoret lembaran kertas itu.
Saguru Mayama. 0169. - 8.9 - Lulus
Sakura Haruno. 0170. - 8.4 - Tidak lulus.
Sanada Katou. 0171. - 6.3 - Tidak lulus.
.
.
Sakura's POV
Ting tong ting tong ting tong!
Suara bel yang terus ditekan memenuhi kamar apartemenku, dan tentu saja membuat aku terbangun dari tidurku yang nyenyak.
"Iya, tunggu sebentar..." Sambil meregangkan tubuhku yang pegal, aku menyahut dengan suara parau khas bangun tidur. Tapi sesudah aku mengeluarkan suara, bukannya sabar untuk menunggu, bel masih terus ditekannya. Aku pun menggeram kesal sambil berusaha bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju pintu.
Ting tong ting tong ting—!
Cklek!
"Bel itu cukup ditekan sekali, tau!" Aku berteriak sambil membuka pintu kamar dengan kasar—berniat melihat siapa yang sudah membuat pagiku menjadi berisik.
"Oii..."
Mendengar suara yang sudah familiar itu, alisku naik sebelah. Aku langsung menyibakkan poni ke belakang dan melihat wajah sang pemilik suara. Dan saat mataku menangkap sosok yang ada di depan, mataku membulat, bahkan mulutku menganga.
"Sa-Sasorii!"
Tanpa bicara apa-apa lagi, aku langsung menerjang cowok yang lima tahun lebih tua dariku itu sampai kami berdua jatuh di lantai dengan posisi aku yang meniban tubuhnya. Aku memeluknya dengan segenap hati tapi dia malah meringis tidak suka.
"Baka! Sakit, tau..." Serunya kesal sambil mencoba melepaskan diri dariku.
Kutatap mata brownies-nya yang sudah lama tidak kujumpai dengan cengiran. "Hehe biarin! Aku kangen sama—!"
"Bisa kalian jangan pacaran di tengah jalan?"
Tiba-tiba suara sinis seseorang menyela kalimatku. Aku yang heran hanya mengadahkan wajah untuk melihat ke atas, tapi dengan seketika keningku mengkerut dan suasana yang kurasakan langsung terasa berat. Tentu saja karena api kemarahanku yang masih belum pudar untuknya.
Orang yang menyelaku tadi adalah... Kakashi-sensei.
"Ahaha, maafkan kami..." Cowok yang kusebut dengan nama Sasori itu terkekeh pelan sambil mengusap tengkuknya. "Hei lepasin, kita menutupi jalan orang lain nih..."
Tapi aku tidak merubah posisiku, dan malah menjawabnya dengan nada ketus. "Biarkan saja! Jalanankan masih luas! Kalaupun tidak ada jalan, dia bisa melangkahiku!"
Taruhan, aku yakin Sasori heran denganku. "Sakura, kau ini!"
"Ah... terserah deh!" Sambil berdecak malas, aku bangkit dari tubuhnya, lalu kusempatkan diri untuk membagi tatapan kesalku pada dia yang masih berdiri—menunggu kami menyingkir.
Lalu kubiarkan pria itu pergi melewatiku yang terus merutukinya di dalam hati.
.
.
.
HATE YOU ALWAYS
"Hate You Always" punya zo
Naruto by Masashi Kishimoto
[Kakashi Hatake x Sakura Haruno]
Romance, Hurt/Comfort, Drama
AU, OOC, Typos, etc.
(Kakashi beriris onyx dan dia ngga pake masker)
.
.
FOURTH. Benci
.
.
Normal POV
Merasa motor yang membawanya ke sekolah sudah berhenti, si rambut pink itu turun dari motor lalu melepaskan helm merah yang dipakainya ke Sasori—cowok yang mengantarnya. Melihat wajah ceria Sakura, Sasori hanya membuka kaca helm dan membalas senyuman Sakura dengan cengiran malas.
"Jangan tersenyum selebar itu... kau membuatku takut." Candanya sambil menyimpan helm yang tadi dipakai Sakura. "Mulai sekarang, kau pulang aku yang jemput. Sekolah yang benar." katanya sambil menepuk pelan kepala Sakura.
"Iyaa... Niisan, aku juga tau." Bisiknya dengan senyuman hangat, lalu melambaikan tangan saat Sasori sudah akan menjalankan motornya lagi.
Sesudah sosok itu sudah hilang dari pandangannya, Sakura mulai terkikik sendiri lalu berputar menuju gerbang sekolah. Kenapa dia tertawa? Tentu saja karena sudah ada Ino danTenten yang sedang berdiri di sana—memandangnya dengan tatapan menyelidik.
"Sakuraa~" Suara Ino terdengar manja saat sahabatnya sudah berjalan melewati mereka, dikalungkan lengannya ke leher gadis pink itu. "Tadi siapa sih? Ganteng banget..."
"Iyaa! Kok tidak pernah dikenalin sama kita sih?" Tenten yang ada di sebelah kiri juga langsung memeluk lengannya.
Sakura mendesah malas, padahal di hatinya ia tertawa. "Bukan siapa-siapa..."
Sebenarnya Sakura tidak suka membuat teman-temannya iri, tapi kalau irinya karena Sasori, Sakura merasa sangat berhak untuk tertawa. Masalahnya, cowok yang berumur 20 tahunan tadi bukanlah teman ataupun pacarnya. Dia adalah kakak kandung Sakura. Dan karena mereka sudah tidak satu tempat tinggal selama bertahun-tahun, wajar saja Ino dan Tenten tidak tau—apalagi Sakura sangat malas membanggakan kakaknya ke mereka. Biarkan saja mereka penasaran.
"Oh, iya, daripada urusin dia, katanya pengumuman tes masuk universitas sudah dipajang di mading..." Ia mengalihkan pembicaraan, tapi pembicaraan ini memang jauh lebih penting.
"Ah, benarkah?" Tanya Ino masih dengan posisinya yang menjepit lehernya. "Oke, ayo ke sana."
"Iyaa... tapi bisa lepaskan tangan kalian? Berat niih..."
.
.
~zo : hate you always~
.
.
Sakura's POV
Melihat pemandangan di sekitar mading sudah dipenuhi murid seangkatanku, aku langsung menelan ludah. Di sana ada yang lulus sampai loncat-loncat kegirangan lalu menangis bahagia, dan ada juga menangis histeris karena tidak lulus. Oke, aku semakin takut melihat hasil. Apalagi aku mengisi tes itu dengan sangat tidak maksimal—sehabis menangis, waktu yang tidak mencukupi dan kegalauan lainnya akibat Kakashi-sensei.
Sambil menarik tanganku, Tenten mencoba menyingkirkan beberapa orang yang masih ada di depan mading padahal sudah melihat hasil lulus atau tidaknya. Kenapa Tenten dan Ino tampak tenang-tenang saja? Tentu saja karena mereka tidak mendaftar ke universitas Konoha.
Setelah berdiri di depan mading, aku pun tersenyum dan mengangguk ke arah kedua sahabatku, lalu mencari namaku dengan seksama.
"Hinata, kau lulus, ya?" Menyusul suara itu, langsung terdengar banyak ucapan selamat ke Hinata.
Aku menelan ludah lalu semakin berkonsentrasi untuk menemukan namaku di sana.
"Neji, Shion, Shikamaru dan Shino juga lulus! Mereka hebat ya? Tesnya kan susah banget!"
Aku semakin menajamkan pandangan saat aku sudah menemukan abjad 'S', lalu tinggal mencari 'Sakura Haruno'.
Bukan.
Bukan.
Bukan—ah!
I-Ini dia...!
Jantungku semakin terasa berdetak cepat di saat aku menemukan 'Sakura Haruno' di lautan nama yang terpanjang di mading, lalu aku menggeserkan mataku untuk membaca lulus atau tidaknya aku.
Sakura Haruno. 0170. - 8.4 - Tidak lulus.
DEG!
Jantungku serasa berhenti berdetak, tatapanku langsung kosong saat melihat sebaris tulisan itu.
Tenten yang juga melihat hanya bisa menutup mulut tanda ketidak percayaannya, Ino juga sampai terheran apakah itu benar nilaiku atau bukan. Bahkan mereka tidak jadi memberikan selamat ke teman lain yang lulus.
"Sa-Sakura... i-ini pasti bukan nilaimu kan? Kau kan selalu mendapat nilai yang nyaris sempurna!"
Suara Ino memecahkan lamunanku. Berbarengan dengan air mata yang sudah terjatuh, aku menggeleng tidak percaya lalu kembali melihat tulisan yang terpampang di mading. Tentu saja mereka tidak menyangka. Mereka tidak kuceritakan apapun tentang kelakuan Kakashi-sensei padaku, dan aku sangat yakin mereka tidak akan percaya. Lalu kenapa aku bisa tidak menerima hasil yang seperti ini—padahal aku sudah tau tidak maksimal saat mengerjakan?
Entahlah, rasanya ada yang mengganjal...
Karena... ada seseorang yang sangat mengangguku sebelum ujian, dan ada satu hal yang bisa membuat tulisan 'lulus' menjadi 'tidak lulus'.
Kakashi-sensei.
Tidak tau kenapa di pikiranku hanya ada dia. Mungkin aku bisa dibilang asal menuduh tanpa bukti, tapi feeling-ku terus mengatakan kalau sensei itulah dalang dari semua ini. Dengan menggeram tidak suka, aku langsung berlari meninggalkan Ino dan Tenten yang masih ada di depan mading, lalu berlari menuju tangga.
Aku harus mendatangi orang itu!
.
.
~zo : hate you always~
.
.
"KAKASHI-SENSEI!"
Aku berteriak sesudah kubuka pintu lab biologi dengan gebrakan kencang, entahlah dia ada atau tidak, yang penting aku benar-benar sudah tidak bisa menahan emosiku ini. Kulihat dirinya yang sendirian sedang membaca kamus kecil biologi. Ia melirikku tanpa pandangan heran ataupun marah karena aku sudah berteriak di ruangannya, lalu dengan cuek ia mengembalikan pandangannya ke buku itu.
Tanpa basa-basi lagi aku langsung berdiri di depan mejanya, menatap mata onyx itu dengan sorotan penuh amarah.
BRAKH!
Kugebrak mejanya sampai mengeluarkan bunyi kencang yang langsung mengembalikan perhatian Kakashi-sensei padaku. Dengan tenang pria itu menutup kamusnya lalu menaruhnya ke atas meja, setelah itu ia melihatku dengan pandangan biasa seakan tidak terjadi apa-apa.
"Sensei..." Aku menggeram menahan kesal. "Pasti sensei yang memeriksa kertas jawabanku di tes universitas, kan!?"
"Hn." Ia mengangguk pelan. "Lalu...?"
"Pasti sensei mengurangi nilaiku!"
Sesudah aku menyatakan kalimat itu, alisnya langsung tertekuk. "Kau menuduhku?"
"Aku bukan menuduh sensei, tapi memang sensei yang pasti melakukannya!" Bentakku lagi tanpa mengurangi intonasi suara.
Kakashi-sensei hanya menggeleng pelan—seakan dia adalah guru baik-baik yang dituduh macam-macam. "Itu sama saja menuduhku, Haruno. Lebih baik kau terima saja dengan apa yang kau dapat." Ujarnya sambil bangkit dari tempat duduk—berniat ke tempat lemari penyimpanan alat-alat praktek.
"TIDAK BISA!" Aku menyela tanpa perasaan bersalah, lalu mencegat Kakashi-sensei dengan menarik jas putihnya agar ia berbalik dan semakin serius menatap mataku. "Kau pikir aku belajar keras dari kelas satu SMA itu untuk apa, hah!?" Aku semakin mengeratkan cengramanku, lalu menunduk untuk menyembunyikan butiran bening yang sudah membuat sungai di pipiku. Melihatku yang seperti itu, ia hanya menepis pelan tanganku dari jasnya lalu kembali memajukan langkahnya.
Aku benar-benar sudah putus asa, mataku terus saja mengeluarkan air mata, tapi Kakashi-sensei sama sekali tidak menaruh rasa peduli untukku. Merasa tidak ada gunanya lagi menemuinya, aku hanya bisa menghapus air mata dan membalikan badan untuk keluar lab. Tapi sebelum langkah yang kelima, mendadak pria itu bersuara.
"Kuberi satu kesempatan."
Aku langsung membeku di tempat dan menunggu kalimat selanjutnya. "Buat karya tulis berjudul apa saja tentang IPA, minimal 20 lembar. Kalau kau bisa melakukan hal itu, aku akan menolong nilaimu."
Awalnya harapanku menerang saat Kakashi-sensei memberikan tugas, tapi dengan serentak jalan untuk bisa mendapatkan universitas tujuanku itu langsung kembali meredup, karena...
"Kumpulkan padaku besok."
"Be-Besok? Bagaimana bisa!?"
Ia membalikan badan lalu membagi senyumannya kepadaku. "Aku hanya bisa membantumu sampai sana..."
.
.
~zo : hate you always~
.
.
Di dalam kamar, aku menopangkan daguku di telapak tangan yang sudah tertumpu di meja. Dengan menghela nafas panjang, aku kembali menatap kertas yang sudah terjejer judul karya yang tinggal kupilih. Tapi mengingat deadline karya tulis tersebut, bibirku langsung melengkung ke bawah, mendukung perasaan hatiku ini. Membuat karya tulis dalam satu malam? Walaupun 'hanya' 20 lembar, pastinya tidak akan bisa dibuat dalam satu malam—atau lebih tepatnya kurang dari 24 jam.
Aku meringis sambil memegangi kepalaku yang serasa mau pecah.
Aku yang terlalu banyak dosa, atau sensei itu yang memang mau menambahkan dosanya sendiri sih!? Berbarengan dengan dengusan kecil, kutatap jam digital yang berada di atas meja.
04.39 P.M
Uffhh... jangan buang-buang waktu! Ayo berpikir, Sakura!
Tapi tunggu... ah, aku tau!
Kukepalkan kedua tanganku erat-erat saat terbesit judul karya tulis yang tepat. Lalu dengan semangat kuambil buku yang berjudul 'pedoman membuat karya tulis' yang ada di dekatku, lalu kubuka bersamaan dengan laptop yang sudah menyala dan siap beroperasi.
"Yosh! Ayo semangat, Sakura Haruno! Tunjukkan kalau kau bisa!"
.
.
~zo : hate you always~
.
.
Normal POV
Pagi harinya, dengan mata yang masih sedikit bengkak karena sama sekali tidak tidur—tentu saja karena mengerjakan karya tulis—ia menyapa satu persatu semua teman yang dilewatinya dengan senyuman gembira.
Ya, tentu saja ia gembira. Walau tersiksa selama satu malam, ia akan mendapatkan kelulusan karena tugas tambahan ini. Lagi pula ia mengerjakan karya tulis itu dengan sungguh-sungguh, jadi meskipun hanya sehari ia yakin akan mendapatkan nilai A+ jika diberikan ke guru bahasanya—yang pertama kali mengajarkan untuk membuat karya tulis yang baik dan benar.
Lalu setelah sampai di depan ruangan biologi, masih dengan nafas yang terengah karena menaiki tangga dengan berlari, ia menyamperi Kakashi yang sedang berdiri di samping lemari penyimpanan alat lab. Ia dan kacamatanya terlihat sedang mencatat benda-benda itu dengan lembaran kertas dan pulpen yang dipegangnya.
"Kakashi-sensei..." Panggilnya dengan volume kecil.
Merasa namanya dipanggil, Kakashi hanya melirik melalui ekor matanya. "Apa?"
Dengan senyum kebahagiaan yang terlukis dari bibirnya, ia menyerahkan karya tulis yang sudah dijilid rapih. Kakashi yang melihat karya tulis itu hanya bisa memandang Sakura dengan tatapan datar—tapi Sakura sangat yakin kalau sensei-nya itu terkejut melihat ia dapat menyelsaikannya.
Kakashi sempat akan memberi tuduhan ke Sakura bahwa karya tulis itu pastinya dikerjakan oleh orang lain, tapi kini ia sudah tidak dapat mengatakan hal tersebut karena melihat lingkar hitam tipis di bawah mata Sakura. Mau tidak mau Kakashi mengambil karya tulis itu dan membuka isinya—membuat jantung Sakura sudah tidak tahan lagi untuk berdegup tiga kali lebih kencang. Sakura memandangnya dengan lama, mengigit bibir bawahnya sembari menunggu. Hening selama beberapa saat. Lalu dilihatnya alis Kakashi mengerut, sedikit membuatnya cemas.
"A-Apa ada yang salah, sensei?"
Lalu ia mendengus dan menutup karya tulisnya. "Buruk."
"E-Eh...? Kenapa?" Kini hati kegembiraannya serasa pecah, dengan tampang yang terkejut ia mengulurkan tangan untuk meraih karya tulisnya dan memeriksa di bagian mana yang dikatakan buruk.
"Karya tulis seperti ini sepertinya jauh lebih pantas di sana..."
Srek!
Beberapa detik setelah suara itu, Sakura melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa Kakashi melemparkan karya tulis itu ke dalam tempat sampah yang berjarak setengah meter darinya.
"A-Apa...?" Tubuh Sakura langsung lemas saat melihat nasib karya tulis penuh perjuangan yang susah-susah dibuatnya tadi malam. Padahal setiap kertas di karya tulis itu sampai ia perlakukan baik-baik layaknya cek senilai satu juta yen. Lalu, apa yang dilihatnya sekarang? Kumpulan kertas itu sudah terlipat-lipat karena tertiban puluhan kertas yang lain, dan beberapa sudah kotor karena mengenai bekas praktek biologi yang sudah dari tadi ada di tong sampah.
"Apa sensei tidak bisa menghargaiku sedikit saja! Paling tidak jangan membuangnya seperti itu!" Sakura sudah tidak bisa lagi menyembunyikan air wajah kekecewaan, amarah dan keterkagetannya itu. Kini kedua bola matanya terasa panas—bingung akan mengeluarkan tangisan sedih atau marah. "Aku sudah berusaha, tau!"
"Aku tidak menaruh peduli untuk itu." Dia hanya menaikan sedikit kacamata bacanya, lalu menatapnya dengan pandangan sinis. "Dan aku hanya menempatkannya di tempat yang pantas."
"Jahat! Bahkan aku yakin kau belum membacanya!" Sakura berteriak dengan berjalan mendekatinya—kalau orang ini bukan sensei-nya, dapat dijamin Sakura sudah akan menghajarnya sekarang juga. "Kau punya perasaan atau tidak sih!?"
"Gagal, ya gagal saja. Jangan salahkan orang lain." Ia mengatakan kalimat itu dengan tenang, seakan tidak melihat muridnya yang sudah berkaca-kaca.
Sakura semakin terisak mendengar kalimatnya, dengan salah satu telapak tangan ia tampung semua air mata yang terjatuh sekaligus menutupi wajahnya yang sudah memerah karena menangis.
'Sabar, Sakura... ini hanya cobaan...'
Sakura menelan ludahnya sendiri, bermaksud untuk sedikit menghilangkan isak tangis yang terus keluar. Lalu ia menarik siku Kakashi dengan sedikit kencang agar orang itu bisa melihatnya yang sedang memohon—bahkan sangat memohon padanya. "Kumohon sensei... a-aku hanya mendaftarkan diri di universitas itu! Dan orangtuaku juga sangat ingin aku masuk ke sana!"
"Saya merasa kasihan pada orangtuamu sampai punya anak gagal seperti mu."
Deg!
"A-Apa?" Sakura terbelalak tidak percaya, suaranya terdengar bergetar karena kalimat tadi. Dengan perlahan air matanya mulai kembali mengalir dari pelupuk mata, ia benar-benar tidak percaya akan kalimat dari seseorang yang lebih tua darinya itu. "Sensei... k-kau—!"
Sakura mengigit bibir bawahnya, menjaga agar tangisannya tidak pecah. Sambil menunduk, ia menggenggam erat kepalan tangannya seakan ia bisa meremas wajah gurunya sampai seperti itu. Hatinya terasa robek bila ada nama orangtua yang diungkit-ungkit seperti tadi, rasanya Kakashi mengejeknya dengan telak akan ketidak sanggupannya untuk mengabulkan harapan orangtuanya sendiri.
'Sakura, nanti kamu universitas di sana, ya? Okaasan dan Otousan ingin melihatmu belajar di sekolah itu...'
Sakura Haruno. 0170. - 8.4 - Tidak lulus.
Tidak terasa dirinya semakin terisak, meninggalkan banyak tetesan air bening di samping sepatunya—kini ia benar-benar kesal dengan gurunya itu. Kakashi sama sekali tidak terlihat seperti merasa bersalah, ia malah dengan tenang kembali duduk di bangku meja sebelah lemari peralatan. Tanpa berkata apa-apa lagi, Sakura menghapus air mata dengan punggung tangannya.
Tapi saat ia akan berbalik untuk keluar, suara Kakashi kembali terdengar. "Sudah mau kuliah, tapi masih nangis di saat gurunya menasihati?"
Kalimat itu langsung membuatnya wajahnya memerah—bukan karena menangis, sedih ataupun malu, melainkan suatu emosi yang bernama marah yang dicampur benci.
PLAK!
"Itu bukan menasihati!" Pekikan Sakura menyusul suara tamparan tadi.
Ya, baru saja ia menampar sensei-nya sendiri.
Sambil mengelap air mata yang masih mengalir dari matanya, ia membalikkan diri untuk berjalan keluar lab, tapi Kakashi sudah keburu menahan gerak Sakura dengan cara mencengkram sikunya. Dengan sentakan kasar, Kakashi menarik siku muridnya itu sampai ia berbalik dan pandangan mereka kembali bertemu.
"Minta maaf dulu." Ujarnya tenang sambil menatap mata hijau Sakura yang masih berkaca-kaca.
"Nhh! Sakitt! Lepaskan aku!" Sakura yang tidak suka langsung mencoba memberontak dengan menarik kembali tangannya, tapi usahanya sia-sia karena cengkraman Kakashi lebih kuat dan menyakitkan.
Karena Sakura semakin menangis menjerit-jerit untuk minta dilepaskan, Kakashi kembali menarik tangan Sakura dengan tarikan kecang, membuat tubuh Sakura sampai terhempas ke tubuhnya yang sedang terduduk di kursi. Sakura awalnya memang berdiri, tapi tarikan Kakashi yang tadi membuat ia membungkuk ke arah pria itu dengan posisi kaki yang masih terpijak di lantai. Dan membuat wajah Kakashi yang ada di bawah wajah Sakura hanya tinggal berjarak satuan cm lagi.
Di saat Sakura berniat menepis tangan pria itu dengan tangan salah satunya yang bebas, Kakashi malah menangkapnya—sehingga keduanya sudah terkunci dan tidak bisa digerakkan. Kakashi mengadahkan wajah ke atas, sehingga ia bisa melihat wajah Sakura yang sedang menunduk. Mata emerald Sakura menatapnya dengan pandangan berkaca-kaca, menyebabkan air mata itu mengenai kulit pipi pucat sensei-nya.
"Minta maaf..." Suara penuh dengan nada perintah itu kembali terdengar, membuat Sakura semakin tenggelam akan tangisannya.
Sakura menggeleng, semakin membuat mata onyx Kakashi berkilat—menampakkan sinar kebencian. Lalu dengan menunduk ia biarkan butiran bening di pipinya semakin menghujani wajah rupawan di bawahnya. Ia benar-benar tidak menyangka kalau ia mempunyai guru yang seperti pria di depannya ini.
"Bisa hentikan air mata buayamu itu?" Kali ini Kakashi menyunggingkan seringaiannya—tampak senang dapat melihat jelas air muka Sakura yang sedang menderita.
"Sensei..." Dengan susah payah Sakura mencoba untuk mengeluarkan kalimat itu dari pita suaranya. "Aku... aku benci padamu..." Ia kembali menangis. "Sangat... sangat benci..."
Kakashi terdiam. Dengan perlahan seringaiannya memudar lalu terganti oleh garis lurus.
Ia melihat kedua mata di hadapannya dengan tatapan datar, dan memandang Sakura yang masih mengeluarkan tetesan bening dari matanya yang terpejam.
'Benarkah kau membenciku...?'
Sambil melepaskan salah satu cengkramannya, Kakashi menyentuh kemeja Sakura. Meraih kerah seragam gadis itu lalu menariknya dengan perlahan. Masih dengan memandang mata Sakura yang terpejam, ia menyentuhkan dahinya ke dahi Sakura yang berkeringat akibat menangis—membuatnya dapat merasakan deru nafas memburu muridnya sendiri.
Dilihatnya bibir gadis itu, warnanya senada dengan kelopak bunga sakura—soft pink yang terlihat lembut. Tapi, karena sudah beberapa kali digigit oleh gigi rahang atas sang pemilik, warnanya tampak berubah menjadi merah merekah. Masih dilatarbelakangi oleh suara isak tangis pemilik bibir itu, ia bergerak seakan ingin mengeliminasi jarak di antara mereka. Lalu di saat hidung mereka saling bersentuhan, Kakashi semakin mendekatkan bibirnya ke sesuatu yang dari tadi ia perhatikan.
Tapi saat bibir tipis miliknya hampir bertemu pasangan yang serupa, Kakashi seperti tersentak dan langsung menjauhkan wajahnya—seakan baru sadar dengan apa yang akan ia lakukan. Sambil mendengus kesal, ia mengatupkan rahangnya keras-keras—tampak tersiksa menahan suatu perasaan dari dalam dirinya.
Entahlah apakah ada arti dari semua itu.
Setelah menenangkan diri, ia berbisik ke telinga Sakura—menjawabnya pernyataan yang sempat tertunda dengan nada pelan. Bahkan saking dekatnya, Sakura sampai dapat merasakan bibir dingin Kakashi yang menyentuh kulit telinganya.
"Aku juga sangat membencimu, Haruno."
.
.
TO BE CONTINUED
.
.
Author's Note :
Ah, feel-nya kerasa ngga sih? Bhuhuhu... maaf... ;( Kalau nanya kenapa Sakura bisa nyampe nuduh Kakashi tanpa bukti... ya karena emang Kakashi-lah yang patut dicurigain (bingung sendiri). Emm... apa pendapat kalian ngeliat sikap Kakashi di akhir chap ini? Hehe, dia aneh ya?
.
.
Thankyou for Read & Review!
Special Thanks to :
Makaela Williams, Ellechi, Nay Hatake, Haruno blingermvp, Mamehatsuki, azaela, Eky-chan, Rizu Hatake-hime, OraRi HinaRa, Lightning Fang, Ayano Hatake, Akasuna no hataruno teng tong, Mysunshine-hatake, Putri Luna, gaaro, AmaYuu, Ichybant, Heartbeat Satellite, Akane Fukuyama, AyameHyuga, kakasaku shipper.
.
.
Pojok Balas Review :
Kakashi punya dendam apaan sih sama Saku? Cooming soon, ya? Kerasa banget Hurt-nya. Wah, terimakasih ;) semoga chap ini juga kerasa. Ogah banget punya guru kayak gitu. Iyaa, untungnya sih aku belom nemu guru beneran yang kayak gitu. Tapi kalo kalimat 'Ini sih lebih cocok di tempat sampah' wah, itu ada di sekolahku -.-' Ngga usah ada orang ketiga. Iya, tenang aja, Sasori cuma kakaknya doang kok. Kakashi sebenernya ngga cocok jadi peran antagonis. Iya sih, lama-lama aku jadi sadar -_-a tapi nggapapa deh, jarang-jarang hehe. Usul munculin Sasuke dong, pengen tau reaksi Kakashi kalo Sakura ada yang deketin. Pengennya sih gitu, tapi aku masih belom sanggup buat SasuSaku *alesanapabanget* tapi aku jadinya pake Sasori ;) Untuk AmaYuu-san, aku sebenernya ngga masukin itu ke kerangka cerita, tapi akuakan memakai saran AmaYuu-san, terimakasih ;D
.
.
Next Chap :
"Apa yang sedang terjadi di sini?"
"Kalian sudah mau lulus, jadi lebih baik jangan buat-buat masalah lagi... terutama sama guru."
"Aku benar-benar tidak sudi mengatakan maaf padamu!"
"Jadi, kau mengerti kan kenapa aku bisa membencimu?"
.
.
Review kalian adalah semangatku :')
Mind to Review?
.
.
THANKYOU
