Disclaimer : Beauty Pop © 2004 Arai Kiyoko

o

*:..oO#..::oOo#..:*

Star Drop

by Kiri-chan

Twinkle 4 : A Chaos Crystal

*:..oO#..::oOo#..:*

o

"Seperti biasanya kau hebat ya?"

Kakeru menatap datar pada orang tua di sebelahnya. "Ayah ini ngapain? Cepat sana masak makan malam, hari ini bukan giliranku masak kan?" keluhnya sambil merapikan guntingnya di tempat semula.

"Hahh… kau saja yang masak, Kakeru… aku malas sekali memasak, kenapa ibumu masih belum pulang juga dari luar negeri sih?"

"Ayah jangan mengeluh seperti anak kecil, ibu kan sibuk dengan pekerjaannya, lagipula ayah sendiri kan yang memutuskan kembali ke Jepang dengan alasan tidak betah di Amerika? Payah sekali ayah ini!"

"Apa-apaan kau ini? Nyatanya kau juga ikut ayah kan?"

"Karena ibu lebih bisa mengurus diri daripada ayah! Ayah kan payah sekali kalau sendirian! Bisa-bisa kau mati dalam 3 hari karena tak bisa mengurus diri!"

Toru Minazuki tertawa, "dasar… memang kau yang paling mengerti aku. Tapi bukannya kau senang kembali ke Jepang?"

"Terserah ayah deh!" jawab Kakeru kesal.

Orang tua itu mengulum senyumnya. "Dari kemarin aku menunggu cerita…"

"Hah? Ayah ini bicara apa?" Kakeru mengerutkan alisnya.

"Pura-pura tidak tahu! Bisa-bisanya! Sudahlah, aku tanya langsung saja! Kau sudah berbicara dengan gadis itu belum?"

Kakeru makin bingung, "aku nggak ngerti, bicara ayah kacau sekali, maksudnya apa?"

Toru berdecak kesal. "Kau jangan pura-pura ya, Kakeru! Aku memberikan nomormu pada Seiji! Masa Kiri-chan belum menelponmu sampai sekarang? Jangan coba menipuku!"

Kakeru merasa ada suara petir menyambar kepalanya, kaget setengah mati. "APA? Ayah berikan nomorku pada paman Seiji?"

"Iya, tentu saja!"

"Kapan ayah bertemu dengannya?" kejar Kakeru.

"Itu tak penting! Mudah sekali menemukan Seiji! Jadi kau sudah bicara dengan Kiri-chan belum?"

Napas Kakeru tertahan, "ayah berikan nomorku yang mana…?"

"Kok malah tanya? Tentu saja nomor ponselmu kan? Yang belakangnya 277?"

Kakeru terbelalak, "AYAH INI BODOH SEKALI…! Itu kan nomor ponselku setengah tahun yang lalu! Aku sudah lama ganti nomor! Dasar PAYAH…!"

###

"Si rambut riap-riapan itu belum bangun juga?" Narumi kaget.

"Eh… Kiri-chan sudah bangun kok, kak Narumi… sekarang dia sudah di kamar mandi" jelas Kanako.

"Dasar payah! Sudah 3 kali dia terlambat begini!"

"Wah… Narunaru hafal sekali ya?" Kei nyengir.

"Hah? Apa maksud kata-katamu itu, Kei?" Narumi menatapnya tajam, Kei hanya tertawa.

"Agency itu bisa menunggu, Narumi. Tenang saja…" Ochiai tersenyum.

"Agency apa?"

"Lho? Kiri-chan? Kau cepat sekali" Kanako terkejut.

"Agency yang meminta kita merias modelnya! Aku sudah jelaskan padamu kan?" jawab Narumi.

"Kapan kau bilang begitu?" Kiri mengingat-ingat.

"Payah sekali kau! Bisa-bisanya lupa!" keluh Narumi.

"Habisnya selama ini kita hanya show di sembarang tempat, jadi aku kira hanya itu kegiatan kita" kata Kiri.

"Karena agency itu mengundurkan jadwalnya! Lagipula… siapa yang show di SEMBARANG TEMPAT…?"

"Narumi, cukup… kita berangkat sekarang… waktunya 15 menit lagi nih!" tegur Ochiai.

"Hffhh… baiklah, memangnya berapa model yang akan kita tangani?"

"9 model untuk 3 hari, bayarannya juga lumayan" Ochiai tersenyum, entah kenapa semua orang merasa kacamata Ochiai berkilat sejenak.

"Kita dibayar? Baguslah kalau begitu, keuanganku sedang tipis" komentar Kiri.

"Kenapa itu yang kau pikirkan sih? Pokoknya kerjamu harus profesional! Agency itu terkenal, jadi kau nggak boleh main-main!" Narumi memperingatkan.

Kiri menatapnya sekilas, "aku nggak pernah main-main kok."

"Hah? Masa?" Narumi memasang ekspresi tidak percaya.

"Ayo kita berangkat sekarang! Me ingin cepat-cepat bertemu para beautiful ladies!" seru Iori tidak sabar.

Narumi menghela napas, masih rusak aja otak anak ini…

###

"Eh, orang itu kok melihat ke arahmu terus, Narunaru?" bisik Kei.

"Hah? Orang yang mana?" Narumi penasaran.

"Itu kan Kamijou Aragaki, direktur agency ini" kata Ochiai sambil menaikkan kacamata di hidungnya.

"Wah… masa? Mungkin dia sudah mengenalku?" Narumi tertawa.

"Diam, orangnya jalan kesini tuh!" tegur Kei.

"Kalian… SP?" dia bertanya pada Ochiai, tapi Narumi heran karena pandangan orang itu masih mengarah kepadanya.

"Betul, kami SP" jawab Ochiai singkat.

"Dan… kau…" orang itu menunjuk Narumi ragu-ragu.

Narumi mengerutkan alisnya, tapi setelah itu dia membungkukkan badannya sedikit, "saya Narumi Shougo, hair-stylist SP."

"Ohh… anggota SP ya?" orang itu menarik napas.

"Eh, kenapa?"

"Tidak… kau mirip sekali dengan anak kenalanku, wajahmu itu… mirip sekali dengannya, tapi aku tahu kalau kau bukan dia."

Mata Narumi melebar mendengar penjelasan itu. "Wahh… Narunaru punya kembaran?" komentar Kei langsung.

"Aku sempat bingung melihatmu tadi, tapi kebetulan sekali, anak kenalanku itu juga hair-stylist lho."

Ochiai mengerutkan alisnya, Narumi kaget, mulai mengerti kemana arah pembicaraan direktur agency itu. "Jangan-jangan yang Aragaki-san maksud itu, anak laki-laki yang namanya Kakeru?" tanya Narumi pelan.

"Benar sekali, dia yang aku maksud!" orang itu terkejut, "jadi kalian sudah saling kenal? Kebetulan sekali!"

"Bukan, kami tidak saling kenal, kebetulan kemarin saya bertemu dengannya, saya hanya tahu namanya Kakeru."

Ochiai dan Kei melempar pandangan bertanya-tanya pada Narumi, tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan.

"Kebetulan bertemu? Wah… aneh sekali ya… Iya, dia itu Kakeru Minazuki, anak kenalanku, bakat menggunting rambutnya hebat sekali, sayang dia kurang percaya diri" Kamijou Aragaki menghela napas berat.

Narumi memakluminya, dia memang berbakat tapi… mungkin kurang percaya diri karena keadaan tangannya itu…

"Ngomong-ngomong, pekerjaan kalian harus dimulai sekitar 10 menit lagi, anggota SP hanya kalian bertiga saja?"

"Sebentar lagi mereka semua datang, sekarang sedang mencari satu anggota kami yang hilang" jawab Narumi.

"Hah?" direktur itu menatapnya heran.

Narumi menghela napas kesal, Minamoto Iori langsung menghilang di langkah pertama memasuki area agency, pasti melakukan hal yang nggak berguna lagi.

###

"Me persembahkan aroma terapi mawar ini untuk kalian, ladies…"

"Iori!"

"Uwaa… Kirity! Me terharu you mengikuti me sampai kesini! Coba cium wangi aroma…"

"Kau dicari kakak-kakak senior!" Komatsu langsung memotong kata-kata Iori.

"Ada apa para iblis itu mencari me?" wajah Iori berubah kesal.

"Hah? Siapa yang iblis? Tentu saja karena SP datang kesini untuk merias model kan? Ayo cepat! Kau ditunggu! Kalau tambah lama nanti kita semua kena marah kak Narumi" Komatsu menarik tangan Iori tanpa menunggu jawabannya.

"Ada apa, kak Ken?" tanya Kiri pada Seki yang belum beranjak dari tempatnya.

"Eh… ah, tidak ada apa-apa" jawab Seki cepat-cepat.

Kiri menyusul Komatsu, tapi Kanako mendapati Seki masih belum konsentrasi jalan ke depan, "kak Ken kenapa?" tanya Kanako.

"Rasanya kenal dengan orang itu tidak?" Seki menunjuk ke suatu arah.

"Apa? Yang mana?" Kanako mencari-cari.

"Orang yang itu, yang berdiri di dekat tembok putih."

"Memangnya kak Ken kenal orang itu?"

"Rasanya iya… kau tidak mengenalinya?"

Kanako menggelengkan kepalanya, tapi sesaat kemudian dia merasa ragu, "sepertinya orang itu sedikit familier."

"Iya kan?" desak Seki.

"Kenapa kalian masih berdiri di sini?"

Kanako menoleh. "Ah, Kiri-chan, coba lihat sini" Kanako menarik tangan Kiri, "kau kenal dengan orang itu tidak?"

Mendadak tangan Kiri menjadi dingin dalam genggaman Kanako, reflek dia menoleh dan terkejut mendapati wajah Kiri benar-benar pucat. "Kiri-chan… kenapa?" tanya Kanako cemas.

Kiri sama sekali tidak menjawab, dia membenamkan topinya sehingga Seki dan Kanako tidak bisa melihat ekspresinya, "ayo cepat pergi, kita ditunggu."

###

"Si payah ini sudah datang, tapi kenapa mereka bertiga belum kembali juga?" keluh Narumi kesal.

"Siapa yang you maksud si payah…?" protes Iori.

"Tentu saja KAU…! Siapa lagi?"

"Enak saja! Narusy yang payah! Bukan me!"

"Berisik! Kemana sih Seki dan rambut riap-riapan itu?"

"Maaf…" terdengar suara Seki yang sedikit cemas.

Narumi menoleh. "Kemana saja kalian ini? Kami sudah menunggu dari ta…" kata-kata Narumi terhenti saat melihat wajah Kiri.

"Koshiba, kau kenapa? Wajahmu pucat sekali" tanya Ochiai. Kiri menggeleng lemah.

"Kiri-chan? Kalau sakit kau boleh pulang" kata Kei.

"Aku nggak apa-apa" jawab Kiri.

"Tampangmu sama sekali nggak meyakinkan" kata Narumi.

Kiri memandangnya sekilas, "aku nggak apa-apa" ulangnya.

Narumi menghela napas, "ya sudah kalau begitu, tapi kalau nanti kau kenapa-napa nggak ada yang tanggung jawab lho." Kiri hanya mengangkat bahu mendengar kata-kata Narumi.

"Kita sudah dipanggil" kata Ochiai.

"Bagus, siapa model pertama kita?" ekspresi Narumi langsung berubah.

###

"KALAU BISANYA HANYA SEPERTI ITU LEBIH BAIK NGGAK USAH KERJA AJA KAN?"

"Ada apa di ruang tengah?" tanya Iori penasaran.

"Ah, itu… Kiri-chan dimarahi kak Narumi" jawab Kanako takut-takut.

"WHAT? Narusy! Apa yang you lakukan pada my Kirity…?" Iori langsung menghambur ke ruang tengah, tapi langkahnya terhenti melihat tatapan tajam Narumi.

"TERSERAH KALIAN…! Kalau besok dia pergi, aku nggak akan pergi!" ekspresinya menusuk ke arah Kiri.

"Narumi, tenang…" Ochiai menahan lengannya, tapi ditepis oleh Narumi.

Kiri menatap Narumi dengan tatapan kosong. "Baik, besok aku nggak akan pergi."

"Bagus!" kata Narumi geram, dia berbalik pergi dan menyingkirkan benda yang menghalangi langkahnya dengan kasar.

"Narumi ngamuk deh" Kei menghela napas.

"Koshiba, tidak perlu dengarkan dia, kau bisa pergi besok" kata Ochiai, tapi Kiri menggelengkan kepalanya.

"Aku pusing, mau tidur" jawabnya final, kemudian Kiri berlalu pergi.

"Argh!" keluh Ochiai kesal, dia membanting kacamatanya ke atas sofa.

"Tenang, Occhi…" Kei tidak tahu harus mengatakan apa. Ochiai mengacak rambutnya, stress.

"Ada apa sebenarnya?" tanya Iori pada Seki.

"Yahh… masa kau tidak tahu? Narumi marah-marah soal kerja Koshiba tadi siang!" Ochiai yang menjawab, tidak biasanya dia berkata dengan nada gusar seperti itu. Iori langsung menutup pertanyaannya.

Kanako menggigit bibirnya, mengingat kerja Kiri yang sangat kacau tadi siang, guntingannya berantakan, ada satu model yang rambutnya salah gunting, direktur agency sampai berterus terang kalau dia kesal dengan kerja SP. Kalau sudah seperti itu, wajar saja kak Narumi marah-marah, Kiri-chan kenapa sih? Jalan pikiran Kanako serasa buntu.

###

"Kiri-chan nggak sarapan?" tanya Kei pada Kanako.

Kanako menggelengkan kepalanya lemah, "Kiri-chan bahkan sama sekali nggak mau membuka selimutnya."

"Kenapa ya? Mungkin Kiri-chan sedang marah pada seseorang?" sindir Kei.

"Apa maksudmu?" sambar Narumi kesal.

"Nggak ada maksud apa-apa" Kei melanjutkan makannya tanpa peduli dengan tatapan Narumi.

"Tapi sepertinya Kiri-chan demam, suhunya panas sekali" Kanako melempar pandangan pada Seki.

Seki terkejut, "yang benar? Kenapa dibiarkan saja?"

"Itu… aku… sudah membangunkannya, tapi sepertinya Kiri-chan marah padaku…" Kanako menunduk

Semua orang terkejut mendengarnya. "Maksudmu?" tanya Ochiai kaget.

"Ya… seperti itu… walaupun sudah aku bangunkan tapi dia sama sekali tak bergerak, dan saat aku menyadari kalau dia demam, Kiri-chan malah menepis tanganku dan berkata, 'pergi saja sana!', aku kaget sekali… Kiri-chan nggak pernah bicara sekasar itu" cerita Kanako pelan, semua orang bisa melihat sendok yang dipegangnya gemetar.

"Mungkin perasaan Kiri-chan sedang kacau, dari kemarin siang dia tidak bersikap seperti biasanya" Seki menepuk bahu Kanako, menenangkan.

"Apalagi semalam Narunaru marah-marah padanya, pasti jadi tambah kacau kan?" tembak Kei langsung.

"Wajar kan? Gara-gara dia, direktur agency itu sampai…"

"Kurasa kerja Koshiba yang kacau kemarin itu karena dia sedang sakit" Ochiai menyela dengan tegas. Narumi terdiam, tidak bisa membantah kata-kata Ochiai.

Ochiai melirik jam digital di dalam handphonenya, "bagaimanapun juga, aku rasa kita harus berangkat sekarang, sebelum nama SP benar-benar jadi buruk di mata direktur Kamijou Aragaki itu. Aoyama, kau disini saja, jaga Koshiba… aku rasa dia tidak marah padamu, kalau Koshiba ditinggal sendirian justru tidak baik" kata Ochiai panjang lebar.

Kanako hanya mengangguk pelan.

###

"Sudah merasa agak baikan?"

Kanako menghela napas berat melihat Kiri hanya memandangnya dengan tatapan kosong. "Kenapa obatnya belum diminum?" Kanako terkejut melihat gelas air putih yang masih utuh di samping ranjang.

"Kiri-chan, kau harus minum, kalau tidak, sakitnya bisa makin parah" kata Kanako cemas.

Kiri menolak gelas yang ditawarkan Kanako ke arahnya. "Kiri-chan, nanti kau…"

"Aku nggak sakit" sela Kiri.

"Kau ini bicara apa? Wajahmu pucat, dan… panasnya tinggi sekali!" Kanako menyentuh dahi Kiri, tapi Kiri menepisnya pelan.

"Kiri-chan… kau kenapa…?" tanya Kanako dengan nada putus asa.

Kiri memeluk lututnya dan membenamkan kepalanya disana. "Nggak… aku…"

"Ada apa?"

"Seharusnya… aku…" kata-kata Kiri tertahan.

"Kiri-chan, kenapa? Katakan saja… mungkin aku bisa membantu" desak Kanako.

"Seharusnya aku senang, tapi aku nggak tahu kenapa perasaanku begini…"

"Maksudmu…?" Kanako bingung.

Perlahan Kiri mengangkat wajahnya yang pucat, menatap lurus ke arah Kanako. "Kau ingat… orang yang kemarin kau tunjukkan kepadaku? Yang berdiri di depan tembok putih?"

"I… iya… aku ingat" jawab Kanako ragu-ragu. Orang yang tampaknya familier itu?

"Kau kenal dia?"

"Nggak.." Kanako menggeleng.

"Benar kau nggak kenal dengan orang itu?"

"Aku nggak tahu… tapi sebenarnya aku merasa pernah melihat orang itu… Kau kenal, Kiri-chan?"

Sinar di dalam bola mata Kiri tampak semakin redup. "Itu paman Toru… ayahnya Kakeru… Nggak mungkin salah orang…"

###

"Terimakasih kerja samanya."

"Iya, sama-sama…"

Narumi mengawasi Ochiai dari kejauhan, melihat ekspresi Ochiai saat berbicara dengan direktur agency itu, sepertinya semua baik-baik saja.

"Nggak ada yang perlu dikhawatirkan lagi?"

Narumi menoleh, menemukan Kei berdiri di sebelahnya. "Ya, sepertinya begitu, Kazuhiko sudah menjelaskan tentang yang kemarin."

"Kalau begitu minta maaf sama Kiri-chan sana" Kei menatap lurus ke arah Narumi.

Narumi tercekat, "aku…"

"Nggak perlu ragu-ragu begitu, sudah seharusnya kau minta maaf" tegas Kei.

Narumi terdiam, dia merasa Kei memang benar. Sebenarnya sejak tadi pagi perasaan bersalah sudah menyusup ke dalam dirinya, atau bahkan sejak semalam? Narumi tidak tahu pasti. Apa aku keterlaluan? keluh Narumi dalam hati, yang dia ingat hanya Kiri menatapnya dengan tatapan kosong, dan wajahnya yang pucat pasi… Narumi menghela napas berat, bodoh sekali aku ini…

"Hei, Narumi Shougo!"

Narumi menoleh, terkejut mendapati seseorang berjalan mendekatinya. "Paman Toru?" Narumi kaget, kenapa bisa ada disini?

"Haha… wajahmu tidak perlu sekaget itu kan?"

"Paman punya urusan disini?" tanya Narumi bingung.

"Yahh… seperti itulah, sebenarnya tidak juga sih… Direktur disini teman dekatku" jelas Toru.

"Begitu ya" Narumi mengangguk mengerti. Pantas direktur Aragaki-san menanyaiku soal Kakeru kemarin.

"Sudah ya, aku harus segera pulang, kalau tidak Kakeru bisa marah-marah… Sampai nanti!"

"Iya, sampai nanti" balas Narumi.

Kei menatap Narumi dengan pandangan bertanya-tanya. "Siapa, Narunaru?"

"Kenalan baru" jawab Narumi sekenanya.

###

"Aku pulang."

"Makanannya sudah dingin" jawab Kakeru datar.

"Jahat sekali kau ini, aku kan tidak terlalu terlambat" keluh ayahnya.

"Menurutku terlambat" Kakeru menatap sekilas pada jam dinding.

"Dasar payah, padahal kalau kau bersikap baik, aku punya berita bagus untukmu."

"Berita bagus apaan? Paling-paling hal nggak berguna, lagipula aku merasa sudah bersikap cukup baik" balas Kakeru.

Toru menghela napas, "Kau ini… Ngomong-ngomong staff SP dikontrak oleh Kamijou."

"Itu kan agency model terkenal, hebat juga ya" komentar Kakeru seadanya.

"Dan penanggung jawab SP, kalau tak salah namanya Ochiai, aku melihat diktat yang dia bawa terbuka."

Kakeru menatap ayahnya heran, "lalu kenapa?"

"Yahh… ada data-data klub SP di kertasnya" Toru menyalakan rokoknya.

"Ayah ini bicara apaan sih?" Kakeru makin bingung.

"Kau tahu hair-stylist SP?" Toru menatap anak laki-lakinya dengan serius.

Kakeru mengerutkan alisnya. "Maksudmu Narumi Shougo yang kemarin itu?" jawabnya dengan nada heran.

"Hair-stylist satunya lagi, SP punya dua" Toru menghisap rokoknya dalam-dalam.

Nggak aneh kok, anggota SP juga ada yang menggunting dengan tangan kiri, Kakeru terdiam sebentar, kalau nggak salah si Narumi bilang seperti itu kan kemarin? "Aku rasa memang ada hair-stylist lain, lalu kenapa? Aku nggak ngerti kemana arah pembicaraan ini."

"Namanya Koshiba Kiri" Toru menatap keluar jendela. Kakeru tercekat.

"Hair-stylist SP yang satunya lagi itu, namanya Koshiba Kiri."

###

"Bagaimana keadaannya?" tanya Ochiai saat Kanako baru menutup pintu kamar dari luar.

"Obatnya sudah diminum tapi panasnya belum turun juga" keluh Kanako.

"Mungkin Kiri-chan perlu ke dokter?" usul Kei.

"Narumi, kau punya nomor telepon dokter yang bisa dipanggil kesini?" tanya Ochiai.

"Ada sih… Mau panggil dokter?" Narumi bertanya balik.

"Nggak perlu."

Kanako terkejut, "Kiri-chan! Kenapa kau keluar kamar? Kau istirahat saja!"

"Aku mau ke kamar mandi" jelas Kiri singkat.

"Biar aku bantu…" Kanako menahan lengan Kiri, tapi Kiri menepisnya pelan.

"Aku bisa sendiri."

"Koshiba, jangan memaksakan diri begitu" nasihat Ochiai.

"Kalau Kiri-chan jatuh di tengah jalan kan bahaya" sambung Kei. Seolah tak mendengar apapun, Kiri berjalan meninggalkan mereka tanpa peduli.

Kei melirik Narumi di sebelahnya. "Kenapa kaku begitu, Narunaru? Nggak berani bicara apa-apa ya?" Kei nyengir.

"Diam, Kei" jawab Narumi singkat, setelah itu dia pergi begitu saja.

"Heh… tumben nggak marah-marah?" gumam Kei heran.

###

Kiri menahan kepalanya yang terasa berputar, jari-jarinya mulai mencari sesuatu di dalam lemari es. "Orange juice… Nggak ada ya?" gumam Kiri tak jelas.

"Nih" tiba-tiba minuman yang dicari Kiri disodorkan ke depan matanya langsung.

"Makasih… Narunaru…" Kiri menatapnya dengan pandangan sayu.

"Orang sakit harusnya istirahat kan?" Narumi menarik kursi dapur dan mengisyaratkan Kiri untuk mendekat, Kiri mendudukinya tanpa bicara apa-apa, Narumi duduk di kursi lain. "Nggak masalah minum es?" Narumi mengawasi Kiri yang meminum juice-nya pelan-pelan.

"Nggak apa."

Narumi menghela napas. "Baguslah… Ngomong-ngomong besok hari terakhir kita di Karuizawa, kau bisa istirahat seharian, lalu sorenya kita pergi dari sini" terang Narumi.

"Besok hari terakhir?"

"Ya."

"Cepat sekali…"

"Memangnya kenapa? Kau ingin lebih lama disini?"

"Nggak, aku…" Kiri menggantungkan kalimatnya, tapi tidak berminat untuk melanjutkan.

Beberapa lama mereka berdua duduk dalam diam, Kiri meminum juice-nya dengan pikiran kosong, tapi Narumi justru sibuk dengan pikirannya sendiri.

"Eh, soal kemarin malam…"

"Ya?" Kiri mengangkat mukanya, mengarahkan pandangannya ke dalam mata Narumi, tapi justru itu yang membuat Narumi mengalihkan tatapannya ke arah lantai.

"Aku… sudah keterlaluan…"

Kiri menghela napas, "lupakan saja."

"Maaf…"

"… apa?"

"Maafkan aku."

"Narunaru, kau salah makan ya?" kata Kiri reflek.

Narumi menghembuskan napas keras. "Nggak kok!" protesnya kesal, kalau nada suara Kiri tidak selemah itu, Narumi pasti sudah marah-marah.

"Ya, maafkan aku juga" Kiri tersenyum.

Wajah Narumi memerah seketika, senyum Kiri bahkan terlihat manis walaupun dengan rona pucat pasi seperti itu. "Kau… nggak salah kok" Narumi menunduk.

"Yahh… aku kan sudah membuat kalian repot."

"Kazuhiko sudah membereskannya, dia menjelaskan kalau kau memaksakan diri walaupun sedang sakit, akhirnya direktur agency itu bisa memaklumi. Memang Kazuhiko yang pintar bicara sih" cerita Narumi panjang lebar.

"Iya juga…" Kiri menghabiskan minumannya. Narumi menatapnya beberapa saat.

"Sebenarnya aku ingin bertanya…" Narumi menimbang-nimbang sejenak.

"Ada apa?" Kiri menatapnya heran.

"Kau kenal dengan Kakeru Minazuki?"

###

~ To Be Continued ~