Disclaimer : Naruto punyanya Pak Masashi Kishimoto

.

.

.

warning : OOC, OC, typo(s), abal-abal, bahasa kurang pas, EYD seadanya dan lain-lain, dan lain lain.

.

.

.

.

happy reading :)


Fourth Chapter

.

.

.

.

.

"Sudah… tidak apa-apa, jangan menangis lagi… sebentar lagi juga mereka keluar, Sakura-chan…"

"Hueeeeeee…!"

Berdiri di depan pos satpam di pusat perbelanjaan itu sambil menggendong Sakura kecil yang sedari tadi tidak mau berhenti menangis begitu tahu kakaknya dibekuk aparat, membuat gadis cantik itu sedikit tidak sabaran dan emosinya mulai memuncak. Berulang kali menoleh ke dalam lewat kaca jendela yang sedikit berdebu itu dan hanya melihat kedua pemuda itu dengan memar di wajah, hidung berdarah dan wajah tertunduk dimarahi oleh sang aparat tua berperut buncit hanya membuat jiwanya semakin terbakar rasa kesal.

"Hah…"

Jadi, akting jadi 'teman baik'nya berakhir di sini, kan? Seharusnya aku peringatkan dia. Tidak mungkin Obito dengan mudah berhenti berkelahi seperti ini. Yang benar saja…

"Hah… astaga… Kami-sama, apa yang terjadi…?" gumamnya pelan sambil mengusap air mata di pipi Sakura yang kelihatannya mulai lelah menangis. Seira pun mengembalikan Sakura ke lantai di bawahnya.

Sakura pun membuka tasnya dan mengambil sebuah ponsel dari dalam sana. Mengaktifkannya lalu menekan beberap tombol dan menempelkan ponselnya dalam posisi yang tepat di telinganya. Dia menelepon seseorang.

"Ayah…" dan dia menangis lagi. Apa tangisannya tadi berhenti untuk digunakan dalam percakapan dengan ayahnya ini? Entahlah. Hanya dia yang tahu. "Onii-chan ditangkap satpam di mall… dia berkelahi sampai wajahnya berubah jadi ungu. Hueeee…"

Ayahnya…?

Seira seketika ingat, dia menyimpan nomor ayah Obito dalam ponselnya. Mengikuti jejak si gadis kecil bersurai merah muda itu, Seira segera mencari nomor ponsel ayah Obito dan segera menghubunginya.

"Selamat siang, paman… ini saya, Seira."

"Ah… Seira, ada apa? Tumben sekali menelepon paman?" kata suara pria di seberang sana. Seira memang sudah sangat akrab dengan keluarga Obito berhubung mereka sudah berteman sejak SD.

"Begini, paman…" sebenarnya Seira juga tidak mau melakukan ini, tapi kelakuan Obito memaksanya dan mengalahkan kemurah-hatian Seira saat itu. "Obito… dia berkelahi dengan temannya dan sekarang sedang ada di pos satpam. Saya tidak yakin, tapi… sepertinya kekacauan yang ditimbulkan cukup besar, paman."

"Oh… tolong tetap di sana. Jangan sampai ada wartawan atau siapapun yang mencurigakan sampai mendekat, Seira. Paman akan segera ke sana." Seketika pembicaraan itu terputus. Ayah Obito sudah mengakhirinya lebih dulu sebelum Seira berterimaksih dan meminta maaf karena sudah mengganggunya.

"Seira one-sama…" gadis kecil yang disampingnya itu menarik ujung roknya.

"Ada apa, Sakura…?" tanyanya.

"Apa Onii-chan akan dipenjara?"

"…tidak. Mereka tidak akan dipenjara. Onee-sama akan buat mereka segera dikeluarkan dari sana. Sekarang, tunggu di sini, jangan kemana-mana, ya? Onee-sama akan segera kembali." Seira tersenyum singkat pada Sakura untuk meyakinkannya, lalu berjalan mendekat ke pintu pos satpam.

.

.

.

.

.

"Kalian masih muda bisanya hanya berkelahi saja! Jangan mentang-mentang kalian punya uang lalu kalian bisa bertingkah seenaknya!" pria tambun itu mengomel panjng lebar tiada henti bahkan sambil mengacungkan jari telunjuknya menunjuk-nunjuk kedua pemuda di hadapannya itu.

"Kaliam memang tidak punya…"

BRAK!

Kali ini kalimatnya terputus. Perhatiannya beralih pada seorang gadis dalam balutan seragam sekolah yang baru saja mendobrak masuk ke dalam. Kakashi dan Obito yang ada di dalam pun mengangkat wajahnya dan melihat gadis itu. Seketika Obito langsung menunduk lagi.

"Kami-sama…" gumam sang Uchiha muda sambil menunduk dalam-dalam dan memejamkan mata. Seperti memohon diselamatkan.

"Hei… kau ini siapa?" Tanya pria paruh baya berperut buncit itu.

"Paman, sampai kapan paman mau menahan mereka di sini? Kami ini Cuma remaja biasa, wajar jika berkelahi, apalagi remaja laki-laki seperti mereka ini. Apa paman tidak punya anak laki-laki? Ah… jelas saja tidak punya, kan? Bagaimana paman bisa mengerti?"

"Hei, nona, kau–" satpam itu berusaha memotong kalimatnya, tapi ternyat tidak berhasil. Bahkan omelannya yang tadi bisa dikalahkan oleh omelan seorang gadis muda yang tampilan luarnya begitu manis dan anggun.

"–aku tahu ini memang tidak baik, paman. Tapi orang tua mereka bisa menyelesaikannya dengan cepat. Paman jadi tidak harus buang tenaga untuk ini. Paman, paman kan bukan orang tua mereka, sebenarnya paman tidak punya hak untuk ini. Bagaimana perasaan paman ketika tahu anak paman dimarahi oleh orang lain hanya karena hal-hal sepele seperti ini? Paman pasti tidak bisa terima, kan? Jadi tunggu apa lagi? Lebih baik lepaskan mereka sekarang sebelum orang tua mereka datang."

"Kau!" kali ini satpam itu ganti menunjuk ke arah gadis itu dengan nada suara yang marah. "Jadi kau teman dari mereka?! Tidak bisa! Mereka sudah mengganggu keamanan di sini, jadi ini sudah tugasku untuk mengurus mereka! Kau diam saja!"

"Jadi paman tidak mau melepaskan mereka? Baiklah…" Seira mengeluarkan ponselnya, menekan beberapa nomor lalu menempelkan ponselnya di telinga. Satpam itu hanya diam dengan berkacak pinggang, menunggu apa yang akan dilakukan gadis itu selanjutnya.

"Selamat siang, bisa saya bicara dengan kepala polisi? Saya punya masalah dengan satpam yang salah paham di sini…" sesekali Seira melirik satpam itu dan melihat ekspresinya berubah menjadi sedikit khawatir. "Ya, aku Namikaze Seira."

"Hei… hei, nona! Ja… jangan main-main…"

"Paman, ini aku Seira. Aku punya masalah dengan sat–" seketika ponselnya direbut dan sambungan teleponnya dimatikan oleh si satpam.

"…setelah kupikir-pikir… kau benar, nona… Aku… memang tidak punya wewenang untuk memarahi mereka. Hehe… biar orang tua mereka saja yang selesaikan ini. Aku sangat yakin mereka lebih bisa menurut…" dengan sangat hati-hati si pria tambun itu mengembalikan ponsel Seira dengan sebuah senyuman yang menempel di wajahnya.

"Wah… paman baik sekali… terimakasih banyak, paman…"

.

.

.

.

.

"Seira-chan… kau baik-baik saja?" begitu melangkah keluar dari pos penjagaan utama itu, Seira langsung disambut oleh seorang pria yang sudah sedikit tua dengan wajah cemberutnya yang rasanya tidak bisa hilang. Uchiha Fugaku.

"Aku tidak apa-apa, paman…"

"Maafkan paman… gara-gara putraku yang bodoh ini kau jadi kerepotan."

"Tidak apa-apa, paman. Bukan salah paman…"

Tatapan mata Fugaku yang semula lembut berubah jadi sangat keras dan dingin saat melihat putranya keluar dari dalam pos pengamanan itu. Rasa ibanya sama seklai tidak keluar meski telah melihat ujung bibir anaknya yang berdarah dan matanya yang bengkak, ditambah beberapa titik wajahnya yang memar keunguan juga bajunya yang berantakan.

"Ayah, itu Seira one-sama…" si kecil Sakura kini telah ada dalam gendongan seorang pria berambut perak yang sama dengan milik Kakashi. Yang ini berwajah sedikit lebih tua dari Uchiha Fugaku.

"Ah… Seira, aku ayah Kakashi. Maaf sudah merepotkanmu dan terimakasih sudah menjaga Sakura selama Kakashi membuat kekacauan." Kata pria itu dengan suara baritone-nya.

"…" Seira sudah terlalu banyak menahan emosinya hari ini, hingga kali ini dia tidak bisa lagi bicara. Menahan agar air mata hasil rasa kecewanya yang membuncah tidak jatuh menetes di hadapan orang-orang ini. "Permisi…" gadis itu mengangkat tasnya dan hendak berjalan pergi.

"Seira, biar paman antar sampai ke rumah."

"Tidak usah, paman. Saya bisa pulang sendiri… sampai jumpa…" gadis itu pun segera melangkah cepat-cepat meninggalkan mereka di sana. Dari tempat mereka berdiri, bisa mereka lihat, gadis itu sesekali mengangkat tangannya dan terlihat seperti mengusap wajahnya. Gadis itu menangis.

"Seira…" Obito ingin saja mengejarnya saat itu juga, tapi di sana ada ayahnya dan ayah dari rival seumur hidupnya.

"Hah… apa yang harus kulakukan padamu sekarang…?" pria yang menggendong Sakura itu berbalik dan berjalan menjauh. "Kakashi, temui ayah di kantor." Katanya sebelum menghilang di persimpangan.

"Kau dalam masalah besar. Pulang sekarang, dasar tidak berguna." Dengan langkah cepat Uchiha Fugaku pergi meninggalkan mereka di sana. Masih di depan pos pengamanan itu.

"Brengsek. Ini semua gara-gara kau."

"Ingat-ingat siapa yang lebih dulu memulainya, keparat."

"Urusanku belum selesai denganmu."

"Tentu saja."

"Hei, apa kalian mau masuk ke dalam pos ini lagi? Cepat pergi dari sini!"

.

.

.

.

.

To be Continued


Konichiwa :) (bungkuk dalem-dalem)

lama banget rasanya nggak update fict ku yang satu ini.

sampe sampe authornya lupa sendiri nama OC yang dipake (sumpah ini nggak bohong)

tapi kita sudah tiba di chapter EMPAT! yeeeeeeeeeee (sorak-sorak bergembira)

begitu buat eh... jadinya begini.

harap maklum adanya :D (author di lempar lahar merapi)

yah... begitulah. akhirnya saya malah milih mengeluarkan tokoh tambahan *pak satpam tambun perut buncit #jengjeng, *papa Fugaku #jengjeng, sama *papa Sakumo #jengjengjengjeng

haha... hahaha... :D

maaf deh kalo jadinya bener bener abal dan gaje ._.

saya akan berusaha lebih giat di chapter selanjutnya :D

ditunggu review dan komentar-komentarnya lho :D

sincerely,

VioletUngu.