Mawar dalam lumpur chapter 4

Main pair : AshuInd.

Awas!
OOC (Indra girly? Hanya terlalu anggun. bwahha), Typo(s), GangRape, lemon, dll.

...

Mereka sudah tiba di tempat dimana Danzo akan melakukan transaksi. Dan tempat ini rupanya adalah sebuah bangunan bertatanan indah yang memiliki pemandian air panas. Bangsawan memang memiliki selera tinggi untuk memilih tempat bernegosiasi yang dapat membangkitkan suasana hati.

Perjamuan ini diadakan sebagai kedok seolah mereka bertemu hanya untuk melakukan bisnis dagang. Sebuah negosiasi memang akan mencurigakan jika dilakukan secara diam-diam, apalagi jika dilakukan dua pihak besar. Kelihatannya utusan dari negara air juga cukup licik.

"Indra-san yakin akan melakukan ini? Bagaimana jika Danzo mengenalimu?" Ashura agaknya cemas dengan Indra yang berencana ikut berbaur dengan para pejabat tua itu. Tapi ini satu-satunya jalan yang paling efektif untuk mengamati keadaan.

"Untuk itulah kita menyamar." Ashura tidak mengerti, bagaimana kepercayaan diri Indra itu berasal. Padahal dia telah menderita perlakuan buruk oleh Danzo. Tapi tidak seperti pemuda cantik itu akan trauma, dia bahkan terlihat akan menantang secara terbuka.

Ashura yang sudah terbiasa dengan menyamar sudah siap dengan jenggot dan kumisnya, ia memakai sorban yang menutupi seluruh kepalanya, membuatnya lebih tua dari umurnya. Matanya terus memperhatikan Indra yang sedang memakai kerudung.

Indra berbalik memandangnya dan tersenyum "Kau terlihat berwibawa dengan kumis dan jenggot itu Ashura." Komentarnya, agak merasa penampilan pemuda besar itu sedikit lucu.

Ekspresi Ashura masih tetap tenang, melihat sosok cantik yang hanya terlihat sepasang matanya, tetap tidak bisa membuat tatapannya beralih, dan tidak bisa selain berkata "Mata Indra-san sangat indah." Sepasang mata merah yang dari awal sangat indah itu dibingkai riasan ayeliner dan ayeshadow, membuat kecantikannya lebih merekah dan tajam. Mata yang sanggup menggetarkan jiwa siapapun yang melihatnya.

Indra tidak menanggapi pujian Ashura. Ia sengaja memakai riasan yang mencolok agar tatapannya tidak dikenali. Perawakan tinggi yang ramping itu mengibaskan gaun wanitanya. Ashura segera mengambil sitar yang agak berat dan mengikutinya keluar dari gudang.

Bersikap sebagai petugas panggung, Ashura meletakkan sitar dan mempersilahkan artisnya untuk segera duduk setelahnya. Cukup banyak tamu undangan yang berkumpul dan duduk di depan bangku hidangan masing-masing. Tidak seperti negosiasi rahasia, ini nampak seperti perjamuan yang akrab.

Mata cantik Indra mengamati ke depan, di mana tamu-tamu sedang mengobrol sambil menikmati hidangan, terlihat cukup ramai entah apa saja yang mereka bicarakan. Namun begitu jemarinya mulai memetik senar, alunan petikan merdu memecah keramaian, dan para tamu agaknya teralihkan sehingga berhenti sejenak untuk menikmati melodi.

"Musik yang baik. Aku suka bagaimana caramu menyambut kami." Komentar seorang pria dengan dua kumis di ujung mulutnya. Dia mengambil cangkir, dan meminum sakenya dengan nyaman.

Sementara di depannya tidak lain adalah Danzo, duduk dengan senyuman sambil menuang minuman untuk pria berkumis tersebut.

"Aku lega jika Anda merasa nyaman," Danzo mengangkat gelasnya untuk bersulang bersama. "Demi kerja sama kita di masa depan!"

Pria berkumis itu tidak lain adalah utusan dari negara air. Karena Danzo bersedia memberikan banyak informasi, dia hadir di sini untuk mendapatkan keuntungan yang besar. "Ahh~ memang lezat. Danzo-san memang pandai mengambil hati orang. Aku harap kita benar-benar menjadi saudara." Dia menepuk-nepuk bahu Danzo dengan senang, lalu tersenyum penuh arti. "Tapi aku disini bukan untuk sake, kau ingat?"

"Tentu saja aku ingat." Pejabat tua itu tersenyum lalu menuangkan sakenya lagi. "Itu akan kita bicarakan setelah jamuan ini."

Pria berkumis mengangguk-angguk dengan setuju. Kedua tua itu mengobrol lebih lanjut.

Ashura berpikir, kapan mereka akan mulai melakukan pembicaraan yang serius. Tapi hal yang berkaitan dengan menjual informasi penting negara, rasanya tidak mungkin dirundingkan dengan banyak orang seperti ini. Jika itu terjadi, bukankan itu akan lebih seperti rencana penyerangan?

Tapi kemudian Danzo dan Pria berkumis itu berdiri, mereka keluar dari ruang perjamuan. Ini pasti saatnya. Ashura mendekat kepada Indra dan membisikkan jika dia yang akan pergi. Sementara Indra masih harus memainkan musik untuk mengawasi orang-orang yang masih ada di sini.

Indra berharap Ashura akan berhasil mendapatkan dokumennya. Asalkan bukti itu ada, belut berbisa itu pasti tidak akan dapat berkelit kali ini.

Jemari lentiknya menari di atas sitar dengan anggun. Ia sudah berganti lagu beberapa kali hingga mungkin sudah ada satu jam. Tamu-tamu juga tampaknya sudah mabuk, bahkan ada yang terlihat ketiduran. Bukankan ini terlalu lama untuk Ashura kembali?

Ia menghentikan nafasnya sejenak sambil meredamkan getaran senar dengan tiga jarinya, tanda permainan sudah berakhir.

Menyadari musik telah berhenti, beberapa pria yang sedari tadi setia mendengarkan pun menoleh. Permainan musisi ini cukup mengangumkan, mereka suka mendengarkannya dan mungkin tidak rela untuk berakhir secepat ini.

Seorang pria paruh baya mendekat sambil tersenyum menatap Indra. Melihat musisi yang ramping dengan mata indah menggoda membuatnya semakin penasaran. "Nona, keterampilan bermusikmu sungguh sangat indah. Petugas tua ini sangat senang mendengarkannya. Aku ingin mengundang Nona ke tempatku untuk mendengarkannya lebih lama lagi."

Sikap pria itu jelas tidak mengajukan undangan secara formal. Bahkan senyumannya terlihat tidak sopan. Yang paling mencurigakan, dia telah terpengaruh alkohol, menyeringai dengan wajah merah, penampilan tambunnya cukup untuk membuat seseorang bergidik. Indra telah terbiasa menghadapi pria sejenis ini. Ia membungkuk dengan sopan untuk berterima kasih atas pujiannya juga menolak secara bersamaan.

Merasa sudah cukup untuk mengawasi tempat dimana tidak ada lagi Danzo, Indra berniat untuk segera keluar. Mungkin saja Ashura sudah menunggunya di luar.

"Aku memiliki beberapa perhiasan indah untukmu jika kau mau ikut denganku."

Si cantik yang ramping itu segera mengucapkan maaf, "Saya ada urusan sehingga harus pergi."

"Tidak perlu terburu-buru seperti itu...!"

"Maaf." Indra menggeser pria tambun itu untuk memberinya jalan, namun pria lain ikut menghadangnya, dengan tangan terlentang menghalangi.

"Itu benar Nona. Aku menduga wajahmu secantik permainan sitarmu. Kerudung ini membuatku penasaran."

Indra membelalakkan matanya. Di hadapannya sudah ada beberapa pria yang mengepungnya, membuatnya melangkah mundur penuh antisipasi. Jelas sang Taiko sedang disergap sekarang, mereka sepertinya tidak akan membiarkannya pergi.

Ia tidak menduga para tamu akan seagresif ini. Danzo memang tidak ada di sini, tapi mereka pasti akan mengenalinya sebagai pria jika kerudungnya dirampas.

Tidak menunggunya untuk mencari alasan, lengannya sudah ditangkap. Indra berusaha mengelak, lalu ingin menyerobot ke celah untuk dapat keluar, tapi lengannya tidak dilepaskan. Dapat ia lihat jika pria-pria di sekelilingnya tidak lagi memberikan celah. Wajahnya memucat ketika melihat tatapan mereka dipenuhi seringaian mesum.

Ashura!

...

"Hat! ... "

Tring. Potongan bolah pedang terlempar ke udara dan menancap di tanah.

Pria berjenggot dan berkumis itu memegangi dadanya yang terkena tendangan. Keringat bercucuran di dahinya. Ia gagal untuk mengambil dokumen yang diberikan Danzo kepada Pria berkumis. Ketika sedang menguping pembicaraan mereka di dalam atap, ia tertangkap basah oleh Zetsu hitam, sehingga kini harus berada di tengah-tengah pengepungan.

Sial! Anak buah Danzo benar-benar banyak.

Teman-temannya tidak bisa menampakkan diri karena mereka kalah jumlah. Tapi jika ia tertangkap, berarti Indra juga akan berada di situasi yang sama.

Prajurit Danzo menodongnya dengan senjata tajam, dan dua orang segera menarik tangannya ke belakang, menekan bahu Ashura untuk menunduk di tempat.

Plok plok plok

Sosok tua Danzo keluar dari tempatnya sambil menepuk tangan. Dia pikir, dia cukup senang karena berhasil menangkap penyusup nakal. "Aku sudah menduga... pasti ada saja tikus kecil yang berani menyusup ke sini." Kalimat pejabat tua itu seolah bangga dengan intuisinya.

Ashura mendongak, akhirnya ia berhadapan dengan rubah tua ini lagi. Seminggu yang lalu Ashura telah menipunya dan mencuri dari kediaman Danzo. Jelas pejabat tua itu akan memburunya untuk melakukan perhitungan. Ia dapat melihat mata Danzo yang penuh penghinaan seolah dia hanya melihat seekor kecoak. "Mari kita lihat wajah tikus ini!" Berikutnya dia sudah merobek jenggot dan kumis palsu Ashura. Pemuda itu refleks membuang mukanya tapi Danzo menjambaknya.

"Ohh... Hashirama-san?" Danzo mengangkat alisnya, mengingat jika wajah inilah yang menipunya beberapa minggu yang lalu. "Tapi tidak... kau hanya penipu kecil." Ucapnya dingin sambil menghempaskan kepala itu kembali. Sorban yang dikenakannyapun jatuh ke tanah.

"Hanya penipu dan pencuri... tapi kau sudah cukup terkenal di kalangan bangsawan. Rupanya sudah bosan dengan harta kecil hingga nekat mencuri di kediaman pejabat istana."

"Tapi... tidak hanya itu bukan. Pasti ada yang menyuruhmu. Dan aku tebak... itu adalah orang dalam istana. Kau pikir aku tidak tahu?"

Ashura hanya menatapnya lurus, tidak peduli bahkan jika Danzo mencurigai siapa yang menyuruhnya atau bahkan tahu identitasnya. Karena jika Danzo tertangkap, tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan. Pejabat yang senang mengeruk tanah airnya sudah pasti akan dihilangkan.

Pejabat tua itu berjalan beberapa langkah dan teringat. "Oh ya... mungkin aku juga harus mengakui keberanianmu. Sungguh mengagumkan, kau bahkan sempat mencuri pelacur kecil dari kamarku."

Ashura tidak mengatakan apapun untuk membalasnya, tapi tatapan pemuda itu berubah menjadi tajam. Ia pikir orang macam apa, yang senang menggantung manusia hidup di ruangannya. Pejabat tua ini benar-benar busuk, dia sangat berbahaya, tapi terlihat jika Danzo tidak tahu dari desa mana Ashura berasal. Ashura dan teman-temannya tidak pernah menyebutkan nama di luar, jadi informasi pribadinya tidak pernah terungkap. Akan sangat berbahaya bagi desanya ketika orang-orang ingin menangkapnya.

Danzo tersenyum, terlihat dia belum selesai berbicara. "Namun seperti burung yang kembali ke sangkar, aku senang pelacur itu kembali muncul di hadapanku." Bibirnya menyeringai penuh arti, berbanding terbalik dengan Ashura yang terhenyak panik.

"Indra-san." Pemuda itu hampir melompat untuk berlari menyelamatkan Indra. Tapi lututnya kembali dihantamkan di atas tanah. Dua prajurit Danzo sedang menahannya, dan Zetsu hitam juga masih ada di dekatnya. Jika saja ia tidak kalah jumlah, ia pasti bisa mengalahkan penjaga bayangan tersebut.

Danzo menggosok dagunya, menatap lelaki muda yang meronta itu dengan mata keriputnya "Terlihat kalian sudah cukup akrab."

"Apa yang kau lakukan padanya?" Dilihat dari ekspresi pemuda itu jika dia sangat mengkhawatirkan sang Taiko. Walau sudah dikunci oleh beberapa penjaga, tapi ia tidak menyerah untuk melepaskan diri.

Bukankah Taiko itu hanya makhluk malang yang kebetulan dibebaskan olehnya. Tapi dari sikapnya, seolah pemuda itu telah memproritaskannya. Danzo tidak menyangka jika Taiko cantik itu akan diselamatkan oleh pemuda polos seperti ini. Mulut keriput itu tiba-tiba menyeringai dengan ide yang tiba-tiba didapatkannya. Sepertinya malam ini akan menjadi malam yang manarik.

"Tidak perlu terburu-buru. Aku akan membawamu bertemu dengannya." Si Pejabat tua mengibaskan lengan bajunya, mengisyaratkan penjaga untuk membawa Ashura ke balai perjamuan.

Ashura berusaha mengibaskan lengannya beberapa kali, tapi terlihat ia sudah diikat erat. Ia kembali ke ruangan yang masih memiliki banyak tamu itu, dan tubuhnya di hempaskan ke lantai.

Walaupun terjerembab, ia tidak membiarkan tubuhnya beristirahat sejenak dan segera bangkit. Matanya mengedar ke sekeliling dengan panik, "Di mana Indra-san?" mengabaikan tatapan dari petugas Negara Air yang ikut menonton. Ia tidak bisa menemukan sosok sang Taiko, sebelum sebuah kerumunan menarik perhatiannya. Lantas matanya terbelalak. "INDRA-SAN!" Ashura baru saja akan berlari menghampirinya, namun Zetsu putih menarik talinya hingga kembali jatuh ke lantai, tidak membiarkannya berpindah dari tempatnya.

Jarak mereka hanya beberapa meter. Ashura dapat dengan jelas melihat Indra walaupun pemuda itu di kelelingi oleh orang-orang. Kedua tangan dan kaki pemuda cantik itu di tahan oleh masing-masing pria, membiarkannya memberotak tapi tidak melepaskannya.

"Sial! Ternyata dia seorang pria."

"Tapi dia cantik." Si pria tambun mengusap pipi Indra, pemuda cantik itu membuang mukanya ke samping, tapi tidak sanggup menghentikan tangan-tangan yang jahil itu.

"Kalian bisa melakukan apa saja pada penyusup itu. Dan biarkan temannya menonton saja." Ucap Danzo kepada mereka, membuat seringaian senang mengembang di sudut bibir pria-pria itu.

Mencurigai maksud ucapan Danzo, Indra berusaha melihat ke ruangan. Dan benar Ashura ada disini, Danzo menangkap pemuda itu, dan dia bilang ingin mempertontonkannya? Indra masih berusaha berkelit, menarik tangan dan kakinya. Tapi tidak mungkin untuk satu orang dapat mengalahkan tenaga empat orang. Akhirnya sang Taiko hanya dapat terkulai di antara mereka karena kahabisan tenaga, bernafas dengan kelelahan karena telah lama berjuang.

Melihat bagaimana mereka memperlakukan sang Taiko demikian, amarah Ashura mulai bergejolak. Kaki kanannya menepak ke lantai dengan kekuatan untuk segera bangkit berdiri. Zetsu putih dan seorang penjaga lainnya harus mengerahkan tenaga lebih untuk menekan Ashura agar tetap diam di lantai. "Danzo, lepaskan Indra-san! Apa yang ingin kalian lakukan padanya?"

Mereka tidak peduli dengan Ashura, bahkan Pria berkumis yang menerima dokumen rahasia dari Danzo itu berani melayangkan tangannya pada tubuh Indra di balik pakaian. "Danzo-san... Dia benar-benar cantik. Boleh aku memakannya?"

Sang Taiko yang cantik hanya dapat menggeliat kecil, menahan segala sentuhan yang meraba-raba. Pakaian penyamarannya sudah ditarik dan dirampas beberapa saat yang lalu, meninggalkan dalaman putihnya yang kusut. Penampilannya kacau, rambutnya menyebar di sekelilingnya. Sementara pria berkumis itu bekerja semakin dalam membuka tubuhnya, memaparkan kulitnya yang seputih porselin dengan lekukan tubuhnya yang indah.

Otak Ashura seakan berdering dengan alarm peringatan. "Berhenti! Lepaskan dia!" Ia tidak akan bisa menghentikan mereka dengan hanya berteriak. Ashura benar-benar akan melompat dan melempar pria-pria itu menjauh dari Indra-san miliknya. Ia memberontak dan mengerahkan tenaganya.

Zetsu putih mengernyit, menyadari bagaimana kuatnya pemuda ini hingga dia yang menahannya kuwalahan. Ashura mulai bisa mengangkat lututnya dari lantai. Terpaksa Zetsu harus mengeluarkan tenaga dalamnya untuk menekan leher pemuda itu hingga hampir menyentuh lantai.

"Cobalah untuk diam. Kau harusnya merasa terhormat, karena dapat menonton pertunjukan erotis ini." Danzo memerintahkan untuk menyuruh pria yang kurang berguna menyingkir, membiarkan pemandangan lebih terlihat, dimana Ashura dapat melihat Indra dengan jelas di depannya. Zetsu putih tidak lagi menekan lehernya sehingga Ashura dapat melihat dengan lurus, tapi tetap menggunakan tenaga dalamnya agar tahanannya tetap diam.

Indra tahu Ashura juga berada dalam kesulitan. Orang-orang ini tidak akan menghentikan aksi mereka hingga mereka puas.

Mata sang Taiko berair, kilau yang dapat memikat nafsu orang untuk membuatnya lebih banyak mengeluarkan air mata. Pejabat tua itu mencengkram rahangnya untuk memperlihatkan wajah cantik itu pada Ashura. "Bukankah dia sangat cantik?" Kemarahan yang intens dari pencuri yang dijadikannya sebagai penonton terhormat membuatnya senang. Ini benar-benar menarik.

"Le-paskan- di-a!" Geram pemuda itu tidak terima.

Danzo dapat menebak sebagian besar yang terjadi. Dan dia tidak dapat menahan untuk tertawa. "Lihat! Pencuri ini rupanya sudah jatuh cinta padanya?" Tamu-tamu di ruangan itu juga ikut tertawa memahami ucapannya. Mereka tahu jika si cantik dan pemuda yang terikat itu adalah tikus yang berani menyusup ke dalam pesta mereka. Tapi berkat itu mereka senang karena pesta akan menjadi lebih meriah.

Danzo merasa itu lucu memikirkan seorang pencuri melarikan pelacur dari kamarnya, kemudian sang pencuri jatuh hati pada sang pelacur. "Hahaha... kau benar-benar dapat menghiburku. Karena kau suka padanya, aku akan dengan senang hati menunjukan semua sisi indah dari pemuda cantik ini. Bagaimana? Aku benar-benar murah hati bukan?" Lidah pak tua itu menyentuh pipi bersemu itu, menjilatnya hingga ke telinga.

Indra memejamkan matanya ketika merasakan benda lunak membasahi sisi wajahnya. Ia tidak berani melihat bagaimana ekspresi Ashura yang melihatnya. Setan tua ini sangat mengerti bagaimana cara menyiksa orang.

"KAU- jangan sentuh dia!" Suara Ashura hanya membuatnya tetap sadar tentang kondisinya. Pria-pria di sekelilingnya menatapnya dengan lapar, sementara tangan-tangan mereka menelusuri tubuhnya yang semakin telanjang dan memerah. Bagian sensitif miliknya diremas, membuat tubuh putih yang ramping itu gemetar. Indra menggigit bibir bawahnya untuk mencegahnya dari mengeluarkan desahan.

Keadaannya begitu memalukan. Ashura adalah orang yang paling Indra tidak ingini untuk melihatnya seperti ini. Dikerubungi oleh banyak pria tidak menyisakan harga dirinya sedikitpun, terutama di depan orang yang kau cintai. Ashura pasti akan jijik padanya yang telah disentuh banyak pria. Pemuda itu akan menyesali apa yang telah diucapkannya. Cepat atau lambat ia akhirnya akan ditinggalkan lagi, dan setelah ini selesai ia akan seperti seonggok sampah.

Indra merasa takut. Air mata mengalir tidak bisa ia tahan. Sebagian besar rasa takutnya bukan karena pria-pria yang melecehkannya, tapi kepada satu-satunya pria yang tadinya ingin bersamanya akan melihat sebagaimana kotornya dirinya.

Indra berusaha melihat Ashura dengan pandangannya yang blur karena air mata. "Jangan lihat!" sang Taiko merasa begitu putus asa. "Ashura... kumohon, jangan lihat!" Ia berharap Ashura mau memalingkan wajah atau menutup matanya. Tapi tidak, pemuda itu tetap menatap mereka dengan tajam seolah tidak akan melepaskannya.

Lantas seluruh tubuhnya mengigil. Sang Taiko masih mengingat apa saja yang dialaminya di kediaman Danzo. Mau tidak mau tubuhnya menjadi semakin sensitif. Perasaan yang lembab dan panas menyelimuti selangkangannya, ia milirik hanya untuk mendapati penisnya sedang dihisap. "Ahhh~" lenguhannya terdengar menarik di telinga semua pria yang mendengarnya. Bahkan Ashurapun ikut terdiam.

Ia benar-benar tidak menginginkan ini. Sekali lagi sang Taiko memberontak dari mereka. Danzo melihat Taiko cantik itu belum menyerah untuk melayani mereka. Jadi dia mencengkram rahangnya untuk memaksanya membuka mulut, dan sebotol sake di tuangkan secara paksa. Indra tidak dapat menelan semua cairan yang begitu banyak itu ke dalam tenggorokannya, hingga ia terbatuk dan mengeluarkan cairan itu dari hidungnya. Kepalanya menjadi sakit, dan pandangannya menjadi semakin tidak jelas, sementara nafasnya kacau. Tempatnya berbaring terasa bergoyang.

"Hentikan! Kumohon!" Ashura menatap semua itu dengan kepala berdengung. Indra terlihat menderita dan begitu kasihan. Bagaimana mereka memaksanya seperti itu, bukankan itu penyiksaan. Baru saja ia bertekad untuk tidak membuat Indra kembali menderita, tapi ini apa yang terjadi? Ia sendiri bahkan tidak berdaya dan hanya bisa menonton.

"Kumohon lepaskan Indra-san. Sebagai gantinya kalian bisa melakukan apapun padaku." Pemuda tampan itu memohon dengan sedih. Menatap pada Danzo dengan sungguh-sungguh agar dirinya saja yang disiksa.

"Kau ingin menggantikannya?"

Diperlakukan seperti itu memang terlihat sangat tidak menyenangkan, terutama sebagai seorang pria kau pastinya akan kehilangan harga dirimu. Tapi Ashura pikir jika itu untuk menggantikan posisi orang yang dicintainya, ia bisa menahannya. Jadi pemuda itu mengangguk.

Danzo menatap pada rekannya si pria berkumis, namun menatap pemuda tampan itu dengan gelengan, pria berkumis itu terlihat tidak puas "Aku bukan gay. Si cantik satu ini adalah pengecualian."

"Itu benar!" Seru orang lainnya. Kemudian mereka menertawai tawaran bodoh Ashura. Seperti mereka mau dengan pemuda berotot saja.

"Hahah... sayang sekali."

Indra semakin menangis, tersentuh dengan keberanian Ashura. Ia tidak berharap pemuda itu ingin menolongnya hingga seperti itu. Tapi Indra lebih suka jika Ashura memejamkan mata, dan mengabaikan apa yang sedang terjadi sekarang.

"Anh~ hen-tikan..." Seorang pria menjilati putingnya, dan pria lain menghisap penisnya. Mata Ashura itu masih intens menatap mereka, dan punggung sang Taiko membusung tiap kali serangan. Entah karena pengaruh alkohol, atau karena tatapan mata tajam itu yang membuatnya lebih bereaksi. Seluruh tubuhnya sangat panas seperti dalam heat, dan ia mulai ingin disentuh lebih "...stop! ku-mohon..."

Ketika pikirannya semakin melayang, ia hanya dapat mendesah karena terbawa dalam kenikmatan. Percuma jika menebak apa yang dipikirkan Ashura, sementara dirinya saja tidak dapat mengendalikan tubuhnya.

"Dia punya jari yang lentik. Lebih bagus daripada milik wanita." Pria yang menahan pergelangan tangan putih itu mengamati tangan sang Taiko yang bergerak gelisah, kemudian menjilat dan menghisap jemari itu.

Sang Taiko juga memiliki kaki panjang yang bagus, pahanya sangat mulus dan dia memiliki bokong putih yang terlihat lembut. Semua itu sempat Ashura lihat ketika si pria berkumis melebarkan kaki Indra. Siapapun yang melihat tubuh indah yang menggeliat tidak berdaya itu, mau tidak mau pasti juga akan menjadi panas. Dan desahan yang dihasilkannya juga merdu, menggetarkan hati siapapun yang mendengarnya. Bahkan pemuda yang lurus seperti Ashura masih terkena dampak besar dan merasa selangkangannya sudah sesak.

"Uh! Nnn-ahn.." Kepala bersurai panjang itu mendongak ketika merasa dijilat di bagian anusnya. Pria berkumis itu mencicipi rasanya, lidahnya menggali dan berputar ke dalam anusnya, menggali lebih dalam. "Tidak!..." Membayangkan ia akan segera dimasuki membuat Indra kembali takut. Walau pengaruh alkohol tadi sempat membuatnya lupa, ingatan tentang bagaimana lubangnya dihantam dengan benda keras tetap membuatnya trauma. "Ashuraaa!"

Ashura tersentak dari tempatnya menonton. Indra memanggil namanya! Jelas sekali jika pemuda cantik itu ketakutan dan berharap agar Ashura menolongnya. Bodoh sekali dirinya karena sempat panas melihat orang yang dicintainya disiksa pria-pria lain. Mata sipitnya terbelalak ketika melihat benda laknat keluar dari pria berkumis itu.

"Aku sudah tidak sabar... aku pertama yang akan masuk."

"Berhenti!" Teriakan Ashura hanya tertelah oleh udara. Pria berkumis itu bahkan tidak tertarik padanya, dan sedang dalam perjalanan membimbing batangnya ke arah bokong putih itu.

Detik demi detik, antara kerutan merah muda dengan batang jelek. Pikiran Ashura semakin berdering dengan alarm. "Bajingan, DANZO!"

BRAKK

Slap Slap. Ark! ... ark!" Tubuh beberapa pria tiba-tiba tertembus oleh panah. Mereka semua tersentak kaget dan sudah mendapati kelompok orang luar sudah menyerang ke dalam balai jamuan.

"Penyusup!" Teriak seorang pria sambil menarik pedangnya. Namun kembali melangkah mundur karena terkejut, tidak hanya sekelompok penyusup, tapi banyak orang dengan pakaian prajurit masuk ke dalam balai mengepung mereka.

Ashura berlutut dengan lega. Akhirnya bala bantuan tiba di saat yang kritis.

"Tangkap mereka!" Dan pertempuran akhirnya pecah.

"Ashura!" Seseorang menyerang Zetsu putih, mengayunkan pedangnya beberapa kali sebelum berhasil menggoresnya, membuat Zetsu putih menjauh beberapa langkah. Ashura tidak menyangka siapa yang datang menolongnya, bukankan itu "Taizo!"

Sahabatnya yang beberapa hari menghilang itu tersenyum tiga jari kepadanya. "Apa kabarmu sobat?" sapanya seolah lupa jika dia berada di tengah pertarungan.

"Baik. Sekarang lepaskan aku!"

Taizo memotong tali yang mengikat tubuh Ashura dengan pedangnya. Pemuda itu meregangkan jemarinya dan otot lehernya, Akhirnya ia terbebas dan dapat melempar semua pria ini.

Pria berkumis itu beranjak dari tempatnya, bersembunyi di balik kedua anak buahnya untuk melindungi dirinya sendiri. "Danzo! Apa-apaan ini?!" Tanyanya pada Danzo yang bertanggung jawab mengatur pertemuan. Dia pikir ini semua akan aman dan jauh dari orang lain tahu, tidak menduga mereka sudah di kepung prajurit istana negara Api sekarang.

Pejabat tua itu mengernyit, dia sendiri tidak menyangka prajurit istana akan datang menyergap. Penipu itu ternyata tidak hanya berniat mencuri dokumen seperti sebelumnya. 'Ini pasti Hamura. Tapi bukankan orang itu sedang sibuk menangani masalah dengan para banagsawan?'

Zetsu putih terhempas menabrak pintu hingga ambruk. Sementara tinju yang memukulnya masih terkepal di udara, Ashura tidak pernah senafsu ini dalam bertarung. Ia harus segera mengamankan kekasihnya. Namun ketika menoleh untuk mencari sosok Indra, ia tidak menemukannya.

Ashura segera berlari. Melemparkan penjaga yang melindungi utusan negara Air tersebut kepada Taizo, lalu mencengkram kerah pria berkumis itu. "Dimana Indra-san?"

"Aku tidak tahu apa-apa. Danzo membawanya pergi." Ucap pria berkumis itu karena cukup takut melihat mata Ashura. Ternyata penyusup yang sedari tadi diikat itu aslinya semenyeramkan ini. "Lepaskan aku. Kau tidak bisa melukaiku." Tangan Ashura terkepal. Utusan dari negara lain ini memang tidak boleh dilukai agar tidak menimbulkan masalah antar negara lebih jauh. Karena Danzo sendiri yang memutuskan untuk menjual informasi negara kepada mereka, satu-satunya yang bisa diadili hanya pejabat tua itu.

"Ashura, tenanglah!" Taizo tahu jika pemuda itu mencemaskan sang Taiko. Tapi dia harus tenang. Kerena mengingat sebagaimana liciknya Danzo, jika Ashura bertindak gegabah dan membuat rubah tua itu merasa terdesak, kemungkinan Danzo tidak akan ragu melukai Indra.

"Kenapa kalian membiarkan Pejabat tua itu pergi?" Tanya Ashura menuntut. Prajurit sebanyak ini, tapi bahkan tidak sanggup menangkap rubah tua yang sudah tersudut.

"Mau bagaimana lagi. Dia menggunakan Indra-san sebagai sandra." Jawab Taki dengan cemas.

Ashura segera berlari keluar untuk mengejar mereka. Meninggalkan sisanya kepada prajurit istana.

Posisinya sangat tidak nyaman dipanggul seperti karung beras, rambut panjangnya juga menghalangi pandangan hingga tidak dapat melihat sekeliling. Indra merasa pusing dan ingin muntah, pengaruh sake juga masih kuat di tubuhnya. Sementara tangannya kini juga diikat.

"Kurang ajar. Semua ini pasti ulah Hamura. Aku belum melihat batang hidungnya, tapi aku yakin ingin membunuhnya detik ini juga." Gerutu Danzo mengikuti Zetsu hitam yang membawa Indra.

Prajurit yang mencoba mengikuti mereka telah dihabisi oleh Zetsu hitam, namun baru beberapa saat sudah terdengar sebuah teriakan dari jauh "Danzo! Kemana kau akan membawa Indra-san?" Danzo berdecih melihat seluit Ashura berhasil menyusul mereka. Ia menghentikan Zetsu hitam lalu menurunkan Indra.

Jika dia begitu peduli dengan Taiko ini, maka dia akan menyesalinya. Pejabat tua itu bermaksud untuk membuat Ashura menyesal karena telah berurusan dengannya. Ia mengeluarkan pisau dan menekan benda tajam itu di leher Indra. Dan ketika pemuda itu menemui mereka, dia hanya akan dapat berhenti di tempatnya.

"Jangan lukai dia!" Pinta Ashura dengan sebelah tangan terangkat sebagai isyarat agar Danzo tidak bertindak gegabah.

"Jika kau berani bergerak sembarangan, aku akan memotong leher cantik ini."

Indra hanya dapat bersandar lemas pada Danzo. Ia sendiri tidak berani bergerak. Tangannya masih terikat sehingga tidak berguna jika dia meronta. Atau lehernya benar-benar akan terpotong.

Ini jelas keadaan terdesak. Ashura terlalu terburu-buru untuk pergi sendirian tanpa membawa bantuan bersamanya. Tidak mungkin dia bisa meringkus dua orang penjahat dengan seorang sandera sendirian.

"Seharusnya kau menyerah. Danzo, kau tidak lagi dapat berkelit lagi karena semua bukti sudah jelas. Jadi untuk apa kau harus membawa Indra-san bersamamu? Lepaskan dia!"

"Kau bocah kurang ajar. Berani memerintahkan orang tua."

"Ukh-" Setetes darah mengalir dari leher yang tersayat itu. Wajah sang Taiko yang pucat meringis dalam diam.

"Danzo! Apa yang kau inginkan?" Jelas Ashura tidak tahan melihat Indra disakiti.

Danzo mengisyaratkan Zetsu hitam untuk mengurus Ashura, dan segera makhluk itu melayangkan tinju pada pipi si pemuda. Ashura terhuyung dari tempatnya berdiri, namun tidak hanya itu perutnya juga di tendang dengan lutut, lalu punggungnya di hantam keras oleh siku Zetsu. "Gagh!~"

Mata Indra terbelalak melihat Ashura tersungkur di tanah dan terbatuk kesakitan. Pemuda itu tidak mengelak ataupun melawan ketika Zetsu hitam menghajarnya. "Ashura!" Panggil Indra khawatir.

Danzo mencengkram lengan Taiko itu agar tidak bergerak ke depan sehingga lehernya tersayat sendiri.

Di tengah kesakitannya pemuda itu malah tersenyum agar Indra tidak terlalu khawatir. "Gakh!" Namun segera hilang karena perutnya kembali di tendangi hingga membuatnya hampir memuntahkan cairan lambungnya.

"Hentikan! Berhenti memukulnya!" Seharusnya Ashura tidak memperdulikannya, seharusnya Ashura tidak membiarkan dirinya dipukuli hanya karena Danzo menggunakannya sebagai ancaman. "Danzo. Kumohon hentikan itu. Aku berjanji akan mengikutimu sebagai gantinya."

Danzo mendengus ketika mendengarkan tawaran Indra. "Kau pikir kau berharga untukku? Aku hanya ingin membuat kalian membayar karena berurusan denganku."

Indra tahu pejabat tua ini tidak sesederhana itu untuk hanya berfokus dalam melarikan diri. Dia benar-benar menghajar Ashura yang telah membuat rencananya kacau.

"Ugh~" Ashura meringkuk dengan memar di sekujur tubuhnya. Setelah dihajar sedemikian rupa padangannya menjadi kurang jelas. Namun tetap ia berusaha mendongak untuk mengecek keadaan Indra, dan mendapati sang Taiko sedang menatapnya dengan air mata. "Indra-san... aku tidak apa-apa." Ucapnya kepada Indra. Indra merasa Ashura begitu bodoh. Bagaimana dia mengatakan tidak apa-apa ketika jelas sedang dihajar seperti itu?

"Bunuh dia!"

Indra tersentak dengan kalimat perintah Danzo. Matanya terbelalak lebar ketika Zetsu hitam mengambil pedang dan menganggatnya tinggi-tinggi, bersiap menembus tubuh pemuda di bawahnya.

"Tidak! Jangan bunuh dia!" Teriak Indra putus asa. Ia bahkan tidak peduli dengan pisau dan lehernya, berusaha melepaskan tangannya dari ikatan.

"Rasakan! Ini akibat karena berani menantangku." Danzo menyeringai senang dengan semua ini, setelah ini selesai dia akan pergi secepatnya. Namun baru saja dia akan tertawa, seseorang memukul tengkuknya dan pandangannya menghitam. "si-alan.."

Ketika mendapati tangan Danzo yang memegang pisau terjatuh, Indra menoleh kebelakang dan terkejut, mendapati teman Ashura yang dulu kabur bersama dari kediaman Shimura mengatakan "Yo!" padanya. Indra mengerjabkan mata dua kali, dan tidak tahu harus berekspresi apa, di samping Taizo juga ada si tangan kanan istana, yaitu Hamura yang tersenyum lega.

Pandangan Zetsu hitam teralihkan, dan Ashura memanfaatkan itu untuk menarik sebelah kaki Zetsu untuk membuatnya jatuh. Ashura segera bangkit dan menahan kedua tangan Zetsu yang masih memegang pedang, sehingga terjadi aksi saling mendorong pedang dari mereka.

Pedang itu akhirnya terbuang ke samping tapi Zetsu menendang perut Ashura. Sementara Ashura belum dapat berdiri, Zetsu hitam itu sudah berlari dan menghilang di tempat. Kegelapan malam membuatnya sulit untuk dilihat.

"Sial! Dia kabur." Keluh Taizo yang tadinya berniat untuk mengejar.

Hamura membantu Indra melepaskan ikatan tangannya, lelaki itu juga melepaskan jubah luarnya untuk dipakaikan kepada Indra yang hanya memakai dalaman putih. Namun tidak mengucapkan terima kasih, pemuda cantik itu segera pergi menghampiri Ashura.

"Kau tidak apa-apa?"

Ashura mendongak untuk menatap sang Taiko, dia meringis dengan ekspresi lega hingga hampir mengeluarkan air mata melihat pemuda cantik itu selamat. "Indra-san... lehermu- berdarah!" Ucapnya. Tangannya terulur untuk memegang lengan sang Taiko, dan Indra juga melakukan hal yang sama, memastikan semua baik-baik saja.

"Kau bodoh? Lukamu jauh lebih buruk." Timpalnya dengan sengit kemudian ketika melihat betapa jeleknya muka Ashura dihajar. Ashura menyengir membalas ungkapan khawatir Indra. Bagi Ashura ini bukan apa-apa demi keamanan orang di depannya.

"Kerja bagus. Jika bukan karena kalian, Danzo tidak akan tertangkap." Puji Hamura dengan senyum bangga. Prajuritnya telah meringkus pejabat tua yang kehilangan kesadaran itu.

Indra membatu Ashura berdiri. Kemudian berkata, "Pastikan kau memberikan kompensasi kami dengan harga yang layak."

Hamura tertawa dengan kalimatnya, seraya mengangguk "Baiklah..."

Mereka sudah mengalami banyak hal. Dan ini semua berawal dari misi yang diberikan Hamura. Sementara Indra menjadi seorang Taiko juga karena orang itu yang membawanya ke rumah Okiya. Seperti tidak ada tempat penampungan lain untuk anak kecil. Apakah lelaki ini menaruh dendam kepada ibunya?

"Rupanya Indra-san perhitungan juga ya..." Ashura tiba-tiba menyahut dengan kalimat demikian, seperti melihat sisi lain sang Taiko. Taizo pun tidak ketinggalan untuk tertawa bersama mereka.

Semua sudah berakhir. Pejabat yang suka membuat orang-orang menderita itu sudah tidak dapat berkelit dari hukum. Sementara Indra berpikir sudah sepantasnya Hamura menghargai jasa mereka. Ia tidak akan kembali ke rumah Okiya. Dan Ashura sudah berjanji untuk menemaninya berkelana melihat dunia luar. Indra melihat ke langit berbintang, tidak sabar untuk menantikan perjalanan berikutnya.

~ The End ~

..

la la lala la... la

...

Di dalam ruangan yang gelap dan sepi, Danzo sangat membenci kenapa dirinya bisa berakhir di sini. Selama ini rencananya selalu berjalan baik walaupun masih jauh dari apa yang diimpikannya. Jika ia bisa kembali ke masa mudanya, ia pastikan dapat mewujudkan itu. Menjadi pemimpin negara Api.

Mantan pejabat itu memghantamkan kepalan tangannya ke lantai. 'Persetan dengan garis keturunan raja! Persetan dengan adat istiadat!' Jika saja kekaisaran berubah menjadi republik, ia pasti akan dapat membuktikan diri untuk menjadi raja. Padahal hampir saja! Danzo membenci kenyataannya kemajuan rencananya berjalan dengan lambat. Selama ini ia berusaha menjatuhkan kekaisaran dengan berbagai cara, ketidak senangan masyarakat, persiteruan antar bangsawan, hingga kekacauan militer. Semuanya berjalan sesuai apa yang di rencenakannya. Tapi dampak yang ditimbulkan masih belum cukup untuk melaksanakan penggulingan kekaisaran.

Padahal sedikit lagi. Dengan bantuan Negara lain ia bisa menggoyahkan kekaisaran. Jika saja bukan karena orang-orang itu, jika saja mereka tidak menggangu. Pasti... pasti, ia akan lebih dekat dengan tujuannya.

Pak tua itu tersentak ketika mendengar suara pintu terbuka. Segerombol prajurit dengan pria berjubah putih masuk ke dalam bangunan penjara. Seorang prajurit membuka pintu sel dan mempersilahkan pemimpinnya untuk masuk.

"Kauuu, Hamura!" Melihat wajah orang yang mendalangi penangkapannya, lantas saja Pak tua Danzo menjadi semakin geram dan ingin mengamuk. Tapi belum sempat ia dapat melompat untuk menerjang lelaki itu, dua orang prajurit sudah menahan kedua lengannya.

"Lepaskan! Lepaskan aku! Aku harus membuat perhitungan denganmu!" Raung Danzo dengan menggertakkan giginya, menatap Hamura dengan nafsu ingin mencabiknya.

"Kau sudah tua, tapi penuh dengan tenaga. Aksimu benar-benar terlalu banyak Danzo-san." Ujar lelaki berambut panjang itu.

Biasanya Danzo terlihat tenang dan menjaga wibawanya di depan orang lain terutama bawahannya. Tapi setelah kehilangan kekuatannya, ia pun berubah menjadi orang tua yang tidak sabaran.

"Karena telah melakukan berbagai tindakan yang merugikan negara, korupsi, teror dan kudeta, kau telah diputuskan untuk dijatuhi hukuman mati. Kau tidak lupakan, jika eksekusimu itu hari ini?"

Bukannya ketakutan dan memohon untuk nyawanya, pak tua itu menjadi semakin murka. "Lepaskan! Aku yang akan membunuhmu. Akan kupastikan semua yang berhubungan darah denganmu binasa."

Hamura menatap orang tua itu dengan prihatin. Walaupun tahu akan mati, tetap saja orang tua itu keras kepala.

"Cepat bawa dia!"

Kedua prajurit itu menyeret pak tua yang mengamuk keluar dari penjara, sudah saatnya pergi ke balai eksekusi untuk mengadili kejahatan yang dilakukan mantan pejabat itu.

Pak tua itu masih berteriak "Aku akan membunuh kalian semua yang tidak mematuhiku!" hingga disaat kepalanya menggelinding terpisah, kerutan wajah dengan mata putihnya yang terbelalak tetap menunjukan semua kebenciannya.

lol

~ OOC Danzo ~

"Bulu yang bagus!" Seorang pria gemuk dengan muka ramah mengangguk puas ketika memperhatikan kumpulan bulu rubah dalam gerobak, ada tujuh lembar bulu disana, sangat berharga.

"Yeah.. ini adalah bulu terbaik yang kudapat dari pemilik kebun apel. Disana ada kelompok rubah yang merusak lahannya. Namun tidak disangka itu akan menghasilkan keuntungan yang lumayan. Anda bisa mencium aroma apel pada bulunya bukan?"

Pria bundar itu mengangguk jika dia memang mencium bau harum apel. Dan senyumannya menjadi semakin lebar.

"Sepertinya rubah-rubah itu telah tumbuh dengan memakan buah apel, sehingga tidak hanya coraknya yang indah, bulunya yang lembut juga memiliki aroma khas." Pemuda tampan dengan ikat kepala itu tersenyum meyakinkan. Si Pria Tambun yang sebenarnya adalah pemilik toko pun percaya dengan ucapannya.

"Baiklah. Aku akan memberimu sebesar ini untuk mereka semua."

Ashura menerima dengan senang kantung uang yang cukup banyak untuk pembelian kulit rubah tersebut, kemudian menghampiri partner perjalanannya yang menunggu di samping gerobak.

"Sepertinya kau semakin pandai saja berdagang Ashura." Komentar pemuda berambut panjang itu dengan seringaian. Awalnya karena tidak pernah melihat Ashura beraksi dalam tipu muslihatnya, Indra menilai pemuda itu sebagai orang yang polos. Tapi ternyata ia lumayan busuk juga. Bulu-bulu itu hanya tercampur dengan apel dagangan mereka, namun dengan kelihaiannya dalam mengambil hati orang lain, dia mengatakan jika bulu-bulu itu sangat spesial karena berbau apel. Kemampuan menipunya ternyata tidak dangkal, tapi ini sangat baik digunakan dalam berdangang.

"Baiklah... kita bisa makan enak sekarang." Indra tersenyum setuju dengan ajakan Ashura. Ketika melihat jumlah uang yang dihasilkan dalam perjalanan kali ini Indra sendiri juga merasa puas. Mereka duduk kembali di gerobak dan membiarkan satu-satunya kuda membawa mereka ke jalanan ramai kota yang baru disinggahi.

...

Ketika dua pemuda tampan memasuki kedai, perhatian wanita tidak dapat melewatkannya. Ashura sudah mulai memakan hidangan di depannya, dan hampir menaikkan kecepatan lahap menjadi luar biasa jika saja seorang wanita tidak menghampiri mereka.

"Tuan-tuan... sepertinya kalian bukan orang sini." Sapa wanita itu.

Ashura mendongak untuk bersikap sopan dengan wanita yang menyapa mereka. "Ya Nona. Kami pedagang yang baru singgah di kota ini."

Dari dekat, wanita ini memiliki tubuh yang lumayan dan wajah yang cantik ketika menggoda. "Araa~ kalian sangat beruntung karena berkunjung di saat yang tepat. Ada beberapa tempat yang indah ketika musim gugur disini. Aku bisa mengantarkan kalian untuk melihat-lihat." Senyumannya yang ramah juga terlihat menarik untuk lelaki normal.

Indra melirik. Jelas mengetahui bagaimana jalan pikiran wanita macam ini. Pelipisnya berkedut menyadari arah wanita itu mendekat kepada Ashura.

Ketika melihat kesan Indra dan Ashura, jelas Ashura tipe yang lebih mudah didekati, sementara Indra tampak dingin dan orang sulit memikirkan bagaimana menyesuaikan kalimat dengannya.

"Benarkah? Itu bagus. Aku juga ingin melihat keindahan kota ini." Tidak berpikir terlalu jauh, ketika wanita ini memberitahu tentang pemandangan musim gugur yang indah, Ashura pikir ia akan senang mengajak Indra. Jadi ia butuh informasi dari wanita ini.

Indra mematahkan sumpitnya. Ashura tidak mengusir wanita yang mengganggu acara makannya dan malah bersikap ramah. Apakah dia tertarik dengan wanita genit ini?

Wanita itu berani lebih mendekat dengan menumpukan tangan di atas meja, sengaja agar Ashura melihatnya lebih jelas. Tidak hanya tampan dan tinggi, Ashura juga orang yang ramah dan menyenangkan. Tentu saja dia akan memutuskan untuk mengincar pemuda yang satu ini. "Bagaimana jika setelah ini kita akan pergi?"

Masih dengan tersenyum, Ashura beralih menatap Indra untuk pendapatnya. Tapi ketika melihat partnernya itu, ia mulai sadar akan sesuatu. Terlebih setelah melihat Indra tidak melanjutkan makannya dan meletakkan dengan keras sumpitnya yang patah. "Err-" Pelipis Ashura mulai muncul keringat dingin. Walau wajahnya masih terlihat datar, dari tatapannya Ashura tahu jika Indra sedang mengawasinya. "Itu..." Ashura melirik antara Indra dengan wanita itu. Hawa pembunuhan semakin kuat kemudian, hingga membuat keringat Ashura bercucuran. Tapi karena percakapan sudah dimulai, ia harus mengakhirinya dengan sopan. "Boleh aku tahu dimana saja tempat yang bagus?"

"Aku selesai." Indra berdiri dan langsung berjalan untuk keluar dari kedai kemudian. Mengabaikan mereka berdua yang sedang pendekatan atau apalah. Indra tidak peduli.

Melihat Indra yang pergi begitu saja meninggalkan makan siang mereka, Ashura menjadi panik. Ia bangkit berdiri untuk menyusul partnernya tersebut. Tapi masih ada wanita itu yang mengernyit bingung dan menuntut jawaban padanya. "Maaf, aku tidak bisa pergi denganmu." Pemuda itupun langsung melejit meninggalkan si wanita yang terbengong sendirian.

"Tunggu! Indra-san!"

Indra tahu jika Ashura mengejarnya, tapi ia sengaja mengabaikannya.

"Indra-san, kenapa kamu pergi begitu saja. Makanannya belum habis." Karena Ashura termasuk orang yang hemat, ia merasa jika mubazir telah meninggalkan makan siangnya yang masih tersisa banyak.

Indra merasa malas menjawab Ashura. Ia hanya tetap berjalan hingga sampai di jalan pasar yang sedikit sepi di jam siang ini. Sementara Ashura yang mengikutinya dari belakang kebingungan karena tidak mendapat respon apapun. "Indra-san..." Indra seolah menganggapnya tidak ada, menoleh pun bahkan tidak. Karena terlalu lama diabaikan, Ashura pun menangkap pergelangan tangannya dan bertanya, "Apa kamu marah?"

Indra melirik wajah Ashura yang kelelahan, lalu pada pergelangan tangannya. Ia menarik tangannya lepas dari tangan Ashura. Tidak peduli bahkan jika melihat ekspresi pemuda tampan itu menjadi agak tersakiti.

"Kenapa kau mengikutiku? Bukankah kau ingin melihat pemandangan dengan wanita itu." Indra berusaha mengucapkannya dengan datar. Ia berbalik lagi dan berhenti di depan meja asesoris, mengalihkan matanya untuk melihat-lihat.

Ashura berpikir dan mulai mengerti jika kekasihnya itu tidak suka ia berbicara dengan seorang wanita. 'Apakah Indra cemburu?'. Tapi jika kekasihnya itu terus-terusan marah tiap ia berbicara dengan wanita, bukankah itu berlebihan. "Tidak. Aku tidak ingin pergi dengannya. Lagipula aku tidak mengenalnya." Jawab Ashura lugu.

Indra merasa Ashura hanya sok polos, membiarkan wanita mendekatinya. Tapi sebenarnya yang paling ia tidak mengerti adalah dirinya sendiri. Mengapa rasanya semengesalkan ini? Padahal mereka hanya mengobrol. Ia mulai sadar jika tingkahnya berlebihan. Ashura mengikutinya kesini dan terbukti tidak akan pergi dengan wanita itu. Tapi karena sudah terlanjur marah, ia tidak tahu bagaimana caranya untuk membatalkan sikap dinginnya pada kekasihnya itu.

"Ini berapa?" Pemuda cantik itu mengangkat tusuk konde dengan hiasan bunga mawar pada pemilik kios. Batangnya dari kayu tapi sudah dihaluskan dan diplitur, tapi dengan bunga mawar merah itu seperti hidup menyatu.

Ashura merasa ia benar-benar diabaikan karena Indra tidak mengatakan apapun lagi. "Aku hanya bertanya padanya, dimana tempat-tempat yang indah agar kita berdua bisa pergi bersama. Bukankah kamu agak berlebihan, Indra-san?"

'Berlebihan?' Mendengarkan kalimat itu keluar dari mulut Ashura membuat rasa kesal Indra kembali. "Jadi menurutmu begitu?" Pemuda cantik itu meliriknya sebentar sebelum mendengus.

Pemilik kios tidak terlalu memperhatikan interaksi mereka dan menjawab harga tusuk kondenya. Tapi Indra kehilangan ketertarikan dan menaruhnya kembali di meja. "Maaf, tidak jadi." Ucapnya dan melanjutkan berjalan pergi.

Ashura menyadari jika Indra semakin marah padanya. Lagi-lagi melihat punggungnya yang berjalan pergi, ia tidak tahan untuk menggaruk kepalanya. Kemudian melihat pemilik kios yang mengerjab melihatnya, Ashura mengeluarkan perak untuk membeli hiasan rambut itu.

...

Berjalan sepanjang hari mengelilingi kota tanpa kata dan tanpa mampir untuk singgah. Ashura hampir jongkok di tempat karena lelah. Bukan lelah karena berjalan, tapi lelah hati karena tidak tahu kapan kemarahan Indra akan mereda.

Melihat tangan Indra yang berayun ia ingin menggandengnya, tapi Ashura takut di tolak lagi, jadi ia hanya bisa mengikuti dari belakang agar Indra tidak tersesat. Jika pemuda itu hilang dari pandangannya, Ashura sendiri yang akan bingung harus mencari kemana di kota ini.

Indra dapat merasakan sakit di kakinya karena pegal. Ia tidak menyangka akan menghabiskan waktunya untuk menghukum Ashura dengan berjalan membelakanginya sepanjang hari. Ia yakin sudah di tepi kota, dan sinar matahari sudah berubah kekuningan. Indra sebenarnya menunggu bagaimana Ashura akan mengambil tindakan. Tapi pemuda itu hanya mengikutinya dari belakang, bahkan tidak lagi memanggilnya. Indra merasa ingin menangis. Kenapa pemuda itu tidak menariknya untuk berhenti berjalan? Jika seperti ini, mungkin mereka akan lanjut sampai malam tiba.

Semilir angin membawa daun berguguran di sepanjang jalan bertatanan pepohonan. Daun kekuningan, matahari kekuningan, langitpun berubah menjadi kuning. Dua orang sedang berjalan di latar kuning. Indra merasa kakinya hampir patah sehingga langkahnya semakin lambat, sementara Ashura mengikutinya dengan tenang. Pemuda dengan ikat kepala itu semakin berjalan semakin berpikir, jika mungkin Indra memang ingin jalan-jalan, terlebih setelah melihat pemandangan yang bagus ini.

"Disini juga cukup indah." Komentar pemuda itu.

Sementara Indra mengernyit sedih. 'Kau tidak peduli denganku. Kau hanya peduli dengan pemandangan.' Kepalanya sedikit menoleh ke samping untuk melirik pemuda di belakangnya itu. Naas, ia tidak melihat akar yang mencuat hingga tersandung ke depan.

Tubuhnya jatuh menuruni tanah miring yang ditutupi dedaunan. Tapi tidak ada rasa sakit, justru sebaliknya ia aman dipeluk dalam dekapan yang hangat. Mata onyksnya perlahan kembali terbuka, dan melihat pemuda tampan yang sedang memeluk tubuhnya. Tangan besar melingkupi belakang kepalanya untuk tidak membiarkannya terluka.

Indra merasa pipinya panas, ia merasa malu di saat seperti ini.

"Indra-san tidak apa-apa?" Tanya Ashura memastikan keadaan Indra di atas lapisan dedaunan.

"Aku tidak apa-apa, menyingkirlah!" Kalimatnya masih mempertahankan egonya. Tapi sebenarnya Indra sudah tidak marah, ia tinggal merasa malu. Benar-benar tidak keren seperti wanita PMS karena terus ngambek setengah hari, dan kemudian berakhir karena tersandung.

Ashura menyingkirkan daun yang menempel di rambut Indra, kemudian tersenyum menatap wajah cantik yang bersemu di depannya.

"Apa?" Tanya Indra.

Pemuda tampan itu mengotak-atik rambut Indra, dan ia bergumam sebelum meletakkan tusuk konde berhias mawar yang dibelinya di telinga Indra. "Ini sangat cocok dengan rambut Indra-san." Ashura tidak tahu cara menggulung rambut panjang, jadi dia hanya menelipkannya.

Indra meraih benda itu, dan benar jika itu hiasan yang tadi sempat ditanyakannya. Ternyata Ashura membelinya. Ia tidak tahu harus berekspresi apa, tapi kemarahannya sudah lenyap tanpa sisa dengan ini. "Terimakasih." Ucapnya.

"Sudah tidak marah lagi?" Pemuda tampan itu menunduk untuk menatap wajah kekasihnya.

Indra sedikit menoleh ke samping, wajah pemuda itu terlalu dekat. "Si-siapa yang marah?"

"Hahaha..."

Mata mantan Taiko itu kemudian melotot. "Kenapa kau tertawa?"

"Tidak. Hanya merasa... Indra-san sangat imut." Berjalan membelakangi sepanjang hari, dan dia bilang dia tidak marah. Bukankah itu lucu?

Wajah Indra memerah dan berusaha menekan rasa malunya dengan memukul dada Ashura. "Jangan panggil aku imut."

Melihat pemuda di depannya bertingkah seperti ini, Ashura menjadi berdebar karena gemas. Mantan Taiko ini menjadi menggemaskan dari hari ke hari, membuatnya semakin mencintainya. Ashura tidak dapat untuk tidak menciumnya sekarang juga. Tangannya menangkap bahu Indra dan mencium bibir lembut itu. Tidak cukup hanya dengan menyentuhnya, bibir Ashura mulai bergerak melumatnya.

"Emmph- Ashu-ra!" Indra tidak dapat menolak ketika pemuda kuat itu menjadi bersemangat. Sudah satu bulan semenjak mereka menjadi kekasih resmi. Ciuman sudah sering mereka lakukan, tapi waktu demi waktu Indra merasa jika keterampilan pemuda ini menjadi semakin baik, Ashura menjadi sangat pandai dalam berciuman. Pemuda itu memasukkan lidahnya ke dalam mulut yang lain, mengaduk rongga mulut itu hingga sang penerima merasa lemas dan panas.

Ciuman terasa begitu menyenangkan. "Mn-engh.. hahh.." Ashura suka memakan mulut Indra yang manis, ia tidak akan bosan bahkan jika harus melakukannya seharian.

"Indra-san." Bibir basahnya berpindah menelusuri sisi wajah Indra. Mata lembab itu memandangnya sayu dengan pipi memerah. Bibirnya yang bengkak dan basah membuat keseluruhan wajahnya terlihat erotis. Bahkan di tengah kecupannya Ashura harus meneguk air liurnya karena pemandangan itu. Berbanding dengan sikap biasanya, disaat seperti ini dia seolah akan membiarkan Ashura melakukan apapun padanya.

Dengan terus menatap wajah itu, tangan Ashura mulai bergerak menyelinap ke dalam baju Indra seraya membukanya dengan pasti.

"Ashura! Jangan..." Indra memegang bahu Ashura ketika pemuda itu semakin turun, memegangi pinggang Indra yang telanjang sambil mengecupi dadanya.

"Indra-san... boleh aku makan? Aku lapar..." Ucap pemuda itu di tangah kegiatannya mengigiti daging Indra.

Indra ingat jika mereka pergi sebelum seleasi makan siang tadi. "Akh-!" Ia bergetar ketika dagingnya digigiti. Itu pasti akan meninggalkan bekas padanya. Tangannya menjambak kepala di atas tubuhnya itu, berusaha menghentikannya. "Aku bukan makanan! Ahh~ hentikan Ashura..."

Ashura tidak dapat berhenti, ketika naluri kelaparannya sudah bangkit seperti ini ia akan menjadi binatang yang hanya ingin makan. Ia tidak bisa menghentikan dirinya dari menghisap dan menggiti tubuh putih Indra yang panas, daging pemuda cantik ini terasa lembut dan kenyal, ia tidak bisa menelannya, tapi hal itu semakin membuatnya ketagihan, seolah rasa lapar yang tak terpuaskan.

Indra hampir mengerang karena nikmat. Walau pikirannya terus berkata tidak, rasanya menyenangkan ketika tubuhnya digigiti. Ashura semakin bergerak ke bawah. dan dia sudah sampai untuk mengigit penis Indra.

"Aaaahhh~!" Pemuda cantik itu mendongak terkejut karena efek gigitannya. Tidak sampai ngilu, itu hanya meninggalkan getaran menyenangkan di tubuhnya.

Ashura meremas bokong Indra yang terangkat. Ia menghisap penis putih yang mulai kemarahan itu di dalam mulutnya. Seolah ia ingin membuat penis itu mengeluarkan sesuatu untuk membasahi tenggorokannya yang kering.

Tindakan Ashura benar-benar gila, membuat Indra tidak tahan untuk mengeluarkan erangannya. "Ashu-ra... ahnn-ah ki-ta ada di luar. Hahh..." Ia mengernyit tertahan. Penisnya sudah sangat keras di dalam mulut panas Ashura yang menghisapnya tanpa ampun. Jika terus seperti ini Indra tidak bisa mengingatkannya. Indra berusaha mengambil nafas sebelum melanjutkan kalimatnya. "ba-gaimana jika ada yang lewat?" Ucapnya dengan susah payah.

"Sudah petang. Tidak akan ada lagi yang lewat di pinggir kota sepi." Jawab Ashura seadanya. Ia mengangkat lipatan lutut Indra dan mulai menjilat belahan pantat putih itu. Ia tidak pernah melihat sesuatu yang lembut dan mulus jika buka milik pemuda cantik ini.

Senja sudah tenggelam di belahan bumi yang lain. Tapi masih meninggalkan langit merah di sudut sana. Bulan dan bintang juga sudah terlihat, memberikan dua insan itu penerangan.

Indra menggenggam dedaunan di sampingnya. Tangannya menggenggam dan menutup, seperti mulutnya yang mendesah setiap jari Ashura menekan prostatnya. Mereka melakukannya di alam terbuka, dalam hidupnya Indra tidak menyangka suatu saat ia akan bercinta dengan seorang laki-laki tampan di alam terbuka.

"Ashura...! Aku sudah tidak tahan lagi... ahh- cepat masukkan." Pinta pemuda berambut panjang itu, merasa sudah tidak sabar untuk kenikmatan yang lebih intens.

"Baik sayang..."

Indra masih sempat bergidik ketika Ashura berbisik di telinganya. Pemuda sopan ini sudah berubah, dia menjadi sangat nakal hingga menindihnya di tempat seperti ini, dan sudah berani memanggilnya dengan menggoda.

Memperlihatkan tubuhnya yang dibangun dengan baik, Ashura sudah membuka pakaiannya, memijat penis kerasnya sedikit sambil diposisikan ke arah pintu masuknya.

Indra merengkuh leher Ashura yang menunduk. Memejamkan mata menanti Ashura masuk ke dalam dirinya. Pintu masuknya di terobos, dan Indra dapat merasakan jalan benda besar itu mendesak lebih dalam. "Ahhh-engh!"

Ashura mengecup air mata yeng merembes di sudut mata Indra yang terpejam. "Indra-san, aku mencintaimu." Kalimat cinta di tengah bercinta, sunggung bumbu yang manis.

Indra tahu bagaimana pemuda ini mencintainya, Ashura sudah cukup membuktikannya. Ia mengangguk sambil memeluk kepala di depannya, menikmati penis Ashura bergerak di dalam dirinya, memanja prostatnya yang sudah haus ingin ditekan.

"Indra-san... ahh~hah, kamu sangat ketat- memijatku." Gumam pemuda itu di telinganya. Rasanya sangat nyaman di dalam tubuh Indra, hangat dan lembut memanja penisnya.

"Ja-ngan bicara! Ungh~ ahh-Ashu-rha... hah- lebih keras" Indra semakin meminta lebih. Ia ingin disodok lebih kuat. Ia tahu pemuda ini biasanya lebih liar dari ini, ini masih tergolong lembut.

"Lebih cepat?" Pemuda itu mengangguk. "Hah- yeah." Tangannya menumpu di kedua sisi wajah erotis yang menatapnya pasrah. Ia membenahi pinggulnya, dan mulai mendorong dengan kuat ke dalam diri Indra.

"Aaahhh~" Pandangan Indra sedikit memutih. Ia mendapatkan kenikmatan intens itu, dan kakinya semakin melebar agar Ashura dapat lebih dalam memukulnya. "Hah-ennh! Auh!" semakin dalam semakin nikmat.

"Hahh..." Ashura mengamati bagaimana wajah Indra yang penuh kenikmatan di bawahnya. Wajah yang sebenarnya berwarna merah mamantul dengan cahaya putih dari rembulan, keringat dan air liur berkilat dengan indah menghiasinya.

"Cantik... hahh~ kenapa kamu sangat cantik?" Tanya Ashura di saat sepeti ini.

Indra mengernyit. "Berhenti memuji... ahh cepatlah!" Pintanya kemudian tidak sabaran.

"Apanya yang cepat Indra-san?" Ashura sengaja berlama-lama menggodanya. Melihat wajah tidak berdaya di bawahnya sangat menyenangkan.

Indra menggerakkan tangannya meraih bokong Ashura dan menekan mereka. "Sodok penismu lebih cepat dan lebih kuat!" Perintahnya. Ia tidak lagi memperdulikan rasa malu. Kenikmatan mengalahkan segalanya.

Ashura menyeringai. Tidak hanya dirinya yang berubah, sang Taiko yang pemalu ini pun menjadi penggoda ketika saatnya bercinta.

Ashura menyingkirkan tangan Indra, kemudian mengangkat paha pemuda itu. Ia menarik penisnya, lalu menarik tubuh Indra di saat bersamaan ketika kembali masuk ke dalam.

"Ahhk- kuh-Ahh!" Teriakannya semakin intens, diiringi suara benturan bokonya dengan selangkangan ashura. "Ahhh" ia ingin datang. Penisnya yang keras meneteskan precum di atas perutnya, dan semakin banjir setiap kali prostatnya ditumbuk tanpa ampun. "Hah- Ashura!"

"Indra-ahh! Nnh!" Tubuh pemuda besar itu penuh dengan keringat. Punggungnya yang kokoh berkilat di bawah cahaya bulan ketika bekerja keras mencapai klimaks.

Di dalam desahan, Indra menatap sosok di atasnya. Ashura yang memiliki latar langit berbintang di belakangnya. Benar-benar pemandangan yang indah. Walau wajah tampan dan tubuh berototnya tidak terlihat jelas karena membelakangi cahaya bulan, karena sosoknya sudah tertanam di pikiran dan hatinya, Indra dapat melihatnya secara penuh. Benar-benar luar biasa. Mendorong perasaannya untuk segera datang semakin di ujung. "AAHHH~ ASHU-ra!"

Tubuh yang berbaring alas dedaunan itu bergetar dan bergetar. Penisnya memuntahkan semen yang banyak beberapa kali, membasahi tubuhnya dan memercik ke tubuh Ashura. Melihat Indra datang Ashura juga merasakan kenikmatan yang luar biasa. Ia membenamkan tubuhnya dalam-dalama dan segera mengisi tubuh Indra dengan cairan panasnya. "Indra- Akh-Ah!"

Kedua insan mengalami surga di dunia yang indah. Tidak perduli apa mereka sangat bahagia saat ini.

Ashura tersenyum, berbaring lemas dengan memeluk Indra.

Indra meliriknya, kemudian berkata. "Ashura, kau semakin tidak tahu malu.

"Heheh." Pemuda berambut pendek itu menyengir, dan si pemuda berambut panjang menyentil hidung.

"Aww~ sakit Indra-san!" Keluhnya sambil menggosok hidungnya.

"Lalu bagaimana sekarang? Apakah kita akan tidur disini?" Tanya Indra.

"Tidak bisa. Kamu bisa sakit nanti."

Pemuda tampan itu segera membenahi pakaian mereka, dan membantu Indra untuk bangit. Tapi karena pemuda itu meringis tidak nyaman, Ashura merasa bersalah dan segera mengangkatnya ala bridal style.

"Uh~ kau!"

"Akan lebih cepat sampai kepenginapan jika begini." Ashura menghentikan Indra dari memprotes. Tapi ia tahu sebenarnya Indra tidak merasa keberatan di gendong ala putri seperti ini.

Sementara Ashura berjalan, Indra meringkuk di dada pria itu. Sambil memegang tusuk konde mawar hadiah Ashura hari ini. Ia bersyukur atas perjalanan yang menyenangkan. Ini lebih dari pada apa yang ia impikan, dan Indra berharap mereka akan selalu bersama hingga tua.

~The End~