Chapter 3 : Medical Research Laboratory
Pagi ini sektar pukul enam. Suara dua helikopter terdengar jelas di atas rumah sakit Konoha City. Pemandangan di bawah mereka selama mengudara sungguh miris. Zombie berkeliaran bebas dan menggigiti binatang –seperti anjing untuk makanan mereka karena tak ada lagi manusia yang masih hidup.
Salah satu dari dua helikopter itu mendarat di area parkir khusus. Ada sekitar lima orang yang turun dari sana. Tiga anggota Alpha Team, satu anggota FBI, dan sisanya agent spesial DSO.
Sang ketua Alpha Team berseru sebelum meninggalkan mereka, "Jangan sampai gagal!"
"Hn. Pasti, jangan meragukanku," balas Sasuke. Sangat kontras dengan jawaban anggota Alpha Team yang selalu menurut dan menghormati ketua. Ya, mungkin kalian akan berfikir Sasuke terlalu percaya diri, tapi dia memang profesional, hampir tak pernah gagal dalam misinya –sebab itulah pemuda itu menjadi agent spesial.
Tak lama kemudian dua helikopter itu tinggal landas dan pergi kembali ke base camp. Tinggalah lima orang yang akan menjalani misi. Mereka segera masuk di pintu utama rumah sakit yang sepi. Bahkan sampai langkah kaki mereka menggema.
Tap, tap, tap.
Salah satu anggota Alpha Team memimpin di depan, sedangkan sisanya paling belakang. Mereka harus melindungi dua orang penting yang ada di misi tersebut –Sasuke dan Sakura. Merekalah yang harus memegang misi, menemukan chip memori penelitian ilegal Madara.
Sakura merasa khawatir saat dirinya mendengar sesuatu dibalik salah satu pintu yang terletak di paling ujung koridor. Pintu besar itu terbuka secara paksa –sampai daun pintunya terpental jauh. Semua orang berkesiap, mengangkat senjata mereka.
BUKK.
Di sana seorang anggota –yang sepertinya Alpha Team itu terpelanting jauh setelah pintu terbuka. Umur pemuda itu berkisar 25 tahun, memiliki rambut merah, dan muka babyface. Pakaiannya merupakan seragam Alpha Team dengan tambahan syal bercorak kotak-kotak sebagai ciri khasnya. Dia memakai senjata anti-material rifle.
Ciri dari senjata anti-material rifle ini dikatakan mampu menembus semua musuh dengan konsep seperti sniper. Fungsi lainnya adalah nightscope (keker) membuat objek menonjol dengan latar belakang menjadi gelap.
Anggota Alpha Team itu sepertinya membutuhkan bantuan karena di depannya sudah berdiri salah satu makhluk bioteror yang biasa disebut BOW. Makhluk besar itu seperti siput yang memiliki cangkang yang sangat keras dengan tubuh yang dilumuri oleh lendir berwarna hitam. Mempunyai empat mata sekaligus yang bisa memanjang, kadang kelopaknya terbuka dan menampakkan mata seorang manusia dengan warna yang menonjol –jingga kekuning-kuningan.
"Sasori-senpai!" teriak salah satu anggota Alpha Team yang berada di sisi Sasuke dan Sakura. Mereka semua langsung berlari menghampiri pemuda bernama Sasori tersebut. Sakura sempat kaget mendengar nama pemuda itu.
"Eh? Niichan?!" seru Sakura melihat kakaknya yang sibuk menghadapi BOW. Sasori tak mengiraukannya dan mulai menyahut, "Cepat bantu aku!"
DRRRTTT...
Bunyi riffle menggema di lorong rumah sakit. Semua sibuk menembaki siput itu. Sedangkan Sakura terdiam melihat kakaknya, kaget kenapa dia juga ada di sini. Sasori balas melirik Sakura. Dia menatap Sakura ketus.
"Hei bantu! Jangan diam saja!" perintahnya. Sakura pun membalas dengan gelagapan, "A-aku tak punya peluru."
"Hah... ya sudah, kita cari bersama. Alpha Team, aku serahkan padamu!" perintah pemuda itu lagi. Kemudian Sakura memimpin di depan –membuka setiap ruangan di rumah sakit. Sasori mengikutinya di belakang.
Akhirnya mereka berdua menemukan ruangan berisi box dari kayu yang sangat banyak –siap untuk dijamah. Sakura menendangi satu-persatu box itu dibantu oleh Sasori. Beberapa isi dari box itu adalah pack peluru dengan warna abu-abu, bahkan tak cocok digunakan untuk semua jenis senjata Sakura.
"Itu khusus senjata milikku," jelas Sasori pendek. Kemudian pemuda itu menyambar peluru dari tangan Sakura dan mulai mengisi anti-material rifle-nya dengan gerakan yang sangat cepat. Membuat Sakura terkagum melihatnya.
Setelah gadis itu mengisi semua senjata miliknya, Sasori berjalan cepat meninggalkan Sakura, cuek dan terlihat arogan. Kontras sekali dengan sifat aslinya di dunia nyata. Tapi, Sakura memang banyak tahu tentang kakaknya itu –dia akan bersikap dingin pada orang yang belum dikenalnya.
"Tunggu Sasori-niichan!" Sakura berjalan cepat menyusul Sasori. Pemuda itu menyahut, "Apa aku mengenalmu? Jangan panggil aku kakak."
Benar kan, batin Sakura. Dia menghela nafas panjang sambil merogoh kantung celananya.
"Aku Haruno Sakura, anggota FBI yang bekerjasama dengan Alpha Team dan DSO dalam menjalankan misi tentang bioterorisme," ucap Sakura sambil menunjukkan identitasnya di dompet berbahan kulit.
"Oh! Kau Sakura? Aku tak menyangka kau masih muda sekali! Aku Akasuna Sasori, senior di Alpha Team," balasnya. Sasori tersenyum dan menjabat tangan Sakura erat. Sakura mengeriyit heran mendengar marga kakaknya yang berubah –Akasuna. Tapi ya sudahlah...
"Ahaha... baiklah, sebaiknya kita kembali membantu Sasuke dan lainnya," kata Sakura diawali dengan tawa canggung, Sasori memang tempramental seperti dirinya –cepat merubah mood dan suasana dalam kurun waktu satu detik.
Sakura kembali berjalan memimpin dengan Sasori di belakangnya. Ketika mereka sampai di tempat BOW, semua anggota Alpha Team tewas, hanya menyisakan Sasuke seorang. Sakura mulai menembaki siput itu dengan sniper namun dicegah oleh Sasuke.
"Berhenti! Itu percuma," ucap Sasuke singkat. Kemudian pemuda itu menjelaskan bagaimana cara mengalahkan BOW tersebut. Mereka harus menunggu sampai kelopak mata siput itu terbuka, tapi keempat mata itu takkan terbuka secara bersamaan. Jadi mereka harus cepat menghancurkan semua matanya dan retakan kecil akan muncul di cangkang BOW.
"Kalau begitu caranya, peluru kita akan habis," balas Sasori, jika hanya retakan kecil akan memakan waktu lama untuk hancur sebelum mereka kehabisan peluru. Dan parahnya BOW itu juga takkan tinggal diam. Mata-matanya terus menyerang –menyodok atau melempar benda dan orang-orang yang menghalanginya.
Tiba-tiba Sasori mendapatkan ide. Dia mengajak Sasuke dan Sakura untuk menggiring BOW kearah tempat parkir. Tanpa ba-bi-bu lagi mereka bertiga berlari sambil menghindari serangan BOW yang terus mengikuti. Sampai akhirnya mereka di tempat parkir. Di sana sudah ada mobil Sasori dengan dua set gatling gun. Gatling gun adalah senjata yang memiliki batasan waktu atau biasa disebut over heat, namun bisa digunakan lagi tanpa khawatir kehabisan peluru.
Sasori mulai mengambil posisi sebagai sopir, Sasuke dan Sakura segera menyiapakan diri mereka dengan gatling gun.
DRRRTTT...
Mereka berdua mulai menembaki mata BOW sambil menghindari serangannya. Mobil itu berjalan dengan kecepatan sedang di sekitar area parkir. Sampai pada akhirnya cangkang siput itu hampir pecah. Untuk saat ini, matanya lebih sulit untuk ditembak karena membuka-menutup secara teratur namun cepat, membuat Sasuke dan Sakura kewalahan.
SETT-BRAKK.
Dengan cepat siput itu menyerang mereka dengan matanya –menghantam mobil sampai remuk dan meledak. Namun mereka bertiga masih hidup karena sempat melompat dari mobil. Kali ini Sakura terluka, dia terbatuk dan mengeluarkan darah di sudut bibirnya, tak sanggup berdiri.
BOW itu lagi-lagi menyerang. Serangannya tertuju kearah Sakura yang sedang lengah. Sakura tak tahu apa kelanjutannya, yang jelas dia akan segera mati.
Mati di dunia ini sama dengan mati di dunia nyata.
DUK-SRAKK.
Mata Sakura semakin mengabur. Suliet seseorang mendorong dirinya dan berhasil menghindari serangan BOW itu. Kemudian Sakura berusaha terus bertahan –menahan matanya agar tidak menutup. Orang yang berhasil menolongnya itu menyeret tubuhnya sambil menembaki BOW.
Sasuke hanya bisa menggunakan riffle saat BOW itu mendekati, dia pun juga melemah, tak bisa menggendong tubuh Sakura yang berada di pangkuannya, posisi mereka setengah berbaring dengan kaki Sasuke yang terluka.
"Bertahanlah, Sakura..." lirih Sasuke sambil terus menembaki BOW menggunakan skill Wild Shot.
Saat BOW kembali menyerang lagi, Sasori tiba-tiba muncul –melompat di depan mereka yang dilambatkan dengan gerakan slow motion, dia menembaki mata siput tersebut. Senjata andalannya anti-material rifle benar-benar menolong keadaan, ditambah kemampuan fokus dan kecepatan Sasori yang hebat itu.
DUM
Tembakan terakhir menimbulkan efek besar pada cangkang BOW yang menjadi pecah berkeping-keping. Siput tersebut meleleh seperti es dan akhirnya menyisakan manusia yang sekarat di dalamnya. Ternyata dia adalah korban dari Madara yang dijadikan BOW.
Pria itu berjarak sekitar lima meter dari mereka bertiga. Sakura membelalakan matanya melihat siapa pria itu. Kizashi Haruno!
"A-ayah..!" panggil Sakura sesaat sebelum dia menutup matanya –tak sadarkan diri.
"Sakura!" seru Sasuke kemudian menepuk-nepuk pipi Sakura yang pingsan.
Sasori mendekati pria itu, sepertinya dia ingin angkat bicara. Setelah cukup dekat dengannya, pemuda berumur 25 tahun itu berjongkok dengan satu lutut menyentuh aspal area parkir.
"Katakan apa yang kau ketahui!" perintah Sasori tegas. Pria itu menjawab dengan terbata-bata karena kematian yang mendekat.
"Khh... pa-pasti kau anggota –akhh, Alpha Team yang terkenal itu, Akasuna Sasori," pria itu menjawab kemudian tertawa sambil menahan sakit.
"Jangan berbasa-basi denganku."
"Arghhh!" Kizashi menggerang karena sakitnya yang luar biasa. Pakaian ilmuwannya pun lusuh dan tubuhnya dibalut lendir berwarna hitam hasil dari mutasinya.
"Se-semua ada di ruangan rahasia lantai 7..." Kizashi menggerang kesakitan lagi sesaat sebelum dia mati.
-SKK-
Hari sudah menginjak malam. Burung-burung hantu bersuara dengan nada teratur. Langit yang tak mendung memperlihatkan bintang berkelap-kelip. Rumah sakit terbesar di Konoha City mempunyai tujuh lantai. Dari lantai ke empat sampai enam adalah ruang perawatan pasien. Di salah satu ruangan lantai enam itulah dua orang pemuda dan satu gadis beristirahat disana.
Posisi membahayakan tentunya untuk Sakura, apalagi Sasori bukan kakaknya di dunia ini, sedangkan Sasuke baru dikenalnya beberapa hari. Namun mereka terlihat sangat santai dengan keadaan begini.
Gadis bermarga Haruno itu sudah siuman beberapa jam yang lalu dan dia sudah diberi pertolongan pertama, tubuhnya sudah membaik malam ini. Sasuke sibuk membalutkan kakinya dengan perban, kemudian dia menyemprotkan first aid spray di sekujur tubuhnya. Sedangkan Sasori sedang mengecek senjata kesayangannya.
"Kurasa kalian sudah membaik. Aku akan pergi sekarang," ucap Sasori tiba-tiba. Sakura bangkit dari duduknya di kasur. Menghampiri dan memegang tangan Sasori yang sudah bersiap pergi.
Sasori terdiam tanpa membalikkan tubuhnya. Sakura memohon, "Jangan pergi, Niichan..."
Sasori menoleh kebelakang, "Aku ada misi lain disini. Jadi harus pergi, maaf."
Setelah berkata demikian, Sasori melepas genggaman Sakura dan meninggalkan mereka. Gadis berambut pink itu tersenyum miris dan berguman pelan, "Jaga dirimu Sasori-niichan."
"Kau suka padanya?" tanya Sasuke angkat bicara.
"Aku sayang dia. Karena Sasori adalah kakakku!" seru Sakura. Sasuke memejamkan matanya dan tersenyum meremehkan.
"Hn. Ingatanmu masih–"
"Tidak!" Sakura menggeleng seolah mengetahui hal apa yang akan dikatakan Sasuke selanjutnya. Gadis itu kembali berseru, "Sekarang hanya dia satu-satunya orang yang kupunya di dunia ini! Ibuku menjadi zombie, Ayahku diubah menjadi monster! Sasuke... hiks."
Melihat Sakura yang menangis itupun membuat Sasuke tak tega melihatnya, merasa kasihan dan juga... entahlah, hanya saja dia ingin melindungi gadis itu dari keterpurukannya, agar dia memperlihatkan senyum manis itu lagi. Dengan sekali gerakan, pemuda itu merengkuh Sakura ke dalam pelukannya. Menenangkan gadis itu.
Hangat...
-SKK-
Malam ini semakin larut. Sekitar pukul setengah 12 malam. Salah satu bangunan di Konoha –rumah sakit memiliki sebuah laborat di lantai paling atas. Hanya sedikit saja orang yang tau dan tentunya mereka adalah anak buah dari Madara.
Dua insan berbeda itu melintasi lorong lantai tujuh dengan hati-hati. Lumayan banyak zombie yang ada disini, mereka semua adalah ilmuwan yang melakukan praktek di laboratorium, kadang mereka menemukan emas di dalam kopor atau uang hasil membunuh Gigas dan Lingua. Sasuke memang sudah mengetahui ruangan ini dari Sasori sebelum Sakura siuman.
Karena perbekalan mereka menipis, mereka pun menemui merchant dengan kostum yang sama namun rambutnya bewarna biru dan dia adalah wanita bernama Konan. Konan itupun berkata, "Welcome!"
Wanita itu kemudian merogoh sakunya dan mengeluarkan alat seperti yang dilakukan Kakuzu –merchant lainnya. Sinar hologram itu muncul dengan menu yang sama. Mereka pun menjual emas yang didapat, membeli beberapa first aid spray, dan Sakura membeli skill "Zombie Hunter".
Zombie Hunter adalah skill yang dapat digunakan untuk mengalahkan zombie atau makhluk lainnya kalau pemakainya sedang dikepung. Jadi sekali tendang atau meninju, pemakainya dapat mengalahkan beberapa zombie sekaligus, bahkan skill ini memungkinkan pemakainya melawan zombie tanpa senjata. Tentu saja skill ini memiliki kelemahan, yaitu lebih cepat lelah jika terlalu sering memakainya.
Akhirnya mereka mengakhiri perjual-belian itu dan melanjutkan perjalanan mereka.
Kedua insan FBI dan DSO memasuki sebuah koridor yang lain setelah mereka menemukan key card di salah satu ruangan. Sakura menggesekkan kunci itu ke sisi kiri pintu. Seketika pintu terbuka secara otomatis. Baru beberapa langkah memasuki koridor itu, tiba-tiba dari ujung koridor muncul sinar laser merah mendekati mereka.
"Kita harus hati-hati!" ucap Sakura dibalas anggukan Sasuke. Mereka pun berlari mendekati laser itu. Ketika jarak cukup dekat, secara bersamaan mereka melakukan sliding, mengambil celah yang ada di bagian bawahnya.
SRETT
"Wah.. Sasuke, tadi itu benar-benar–"
"Jangan lengah."
Sakura mengerucutkan bibirnya kesal mendengar balasan Sasuke, dan saat itulah laser kembali muncul dari belakang dengan pola yang berbeda –lebih rumit, ada dua tahap, laser pola pertama celah di atas dan yang selanjutnya celah berada di bawah. Mereka melakukan gerakan yang sama lagi –salto kebelakang. Jarak antara laser pertama dan kedua tidak cukup renggang sehingga membuat mereka hampir saja terkena sinarnya. Nyaris.
Di ujung lorong itu ada sebuah pintu dengan sisi kanan kirinya terdapat tabung berbahan kaca yang bersinar. Laser ini akan terus muncul jika tidak dipecahkan. Mereka pun segera berlari mendekati tabung. Di belakang mereka sudah ada pola yang sangat rumit –berpola kotak-kotak kecil, tak ada celah yang cukup –bahkan kalau bisa hanya tangan mereka saja yang selamat.
Parahnya laser itu juga cukup cepat mendekati mereka. Sakura berlari sekuat tenaga menyusul Sasuke yang ada di depan. Sasuke pun mengandeng tangannya seolah memberi semangat pada Sakura. Pemuda itu tersenyum tipis lalu berkata, "Hn, kau bisa."
Jarak laser itu sudah mencapai setengah meter.
PRANG
Dengan tendangan yang bersamaan, tabung itupun pecah dan laser yang ada di belakang mereka mati seketika. Hampir saja, padahal jarak mereka hanya menyisahkan beberapa centi. Jika terkena laser itu, mereka akan mati. Keberuntungan masih memihak mereka.
Sakura menghela nafas lega. Pintu di depan mereka pun terbuka secara otomatis lagi. Kali ini bukan koridor namun sebuah ruangan dengan banyak sekali monitor dan alat-alat entah apa namanya itu.
Mereka berdua mencari-cari dimana chip memori itu berada. Selama hampir 30 menit mencari, mereka tak menemukan benda yang dimaksud, namun Sakura malah menemukan sebuah kaset. Kemudian mereka menyetelnya di salah satu monitor ruangan.
Isinya tentang sebuah petunjuk bahwa Madara berada di Ame City sekarang bersama dengan chip yang dibawanya. Dia sudah meninggalkan Konoha City tak lama sebelum menginjeksi salah satu bawahannya –Kizashi Haruno menjadi BOW. Mengetahui itu Sasuke menggeram kesal.
"Ck, sial!"
To Be Continue
*BOW : Bio Organic Weapon
*Merchant : pedagang
*Lingua : monster dengan lidah silinder yang panjang, tubuh tak berkulit
*Gigas : monster raksasa seperti orang obesitas.
Author's Note :
Nee... Coba tebak Sasori jadi siapa? Piers Nivans! (yang liat RE 6 pasti tau XD) sekarang udah keliatan kan Akatsuki perannya apa? Pedagang #hohoho, dan mereka cuma dapet 1 dialog. #lol
Gomen ne Sora telat update *ojigi* ini terjadi karena Sora kehabisan pulsa modem T_T #gaknanya. Makasih buat semuanya yang sudah review maupun baca fanfic di chap kemarin dan chap ini! Hontou ni arigatou!
By the way, bagaimana untuk chap ini? Write down on review box!
Jaa!
Next chapter : Ame City
