Hope you like this fiction :)
Dua minggu setelah Jongin menemui Sehun di toko ice cream akhirnya hari-hari yang ditunggu pun tiba. Kencan pertama Sehun dan Jongin. Kenapa harus lama-lama menunggu sampa dua minggu hanya untuk berkencan? Well, ini bukan hanya sekedar kencan untuk mereka. Mereka akan menikah setelah ini, jadi mereka harus mengenal satu sama lain. Menikah juga bukan hanya masalah menyatukan dua hati tapi dua keluarga. Jongin harus mengetahui latar belakang Sehun begitu pun sebaliknya.
Setelah diskusi yang cukup rumit tentang akan berkencan dimana dan kapan waktunya. Akhirnya dipilihlah hari sabtu yang cerah ini untuk kencan mereka. Tidak mengganggu kuliah Sehun maupun jam kerja Jongin. Untuk waktu kencan Jongin mengusulkan agar seperti pasangan normal lainnya yang melakukan kencannya seharian. Seharian disini benar-benar dari bangun tidur sampai mau tidur lagi malamnya.
Jadi disinilah Jongin, di depan pintu tempat tinggal Sehun. Memakai pakaian lengkapnya untuk olahraga, celana training abu dan kaus putih polos. Mereka berencana memulai kencan mereka dengan olahraga. Well, Jongin kan pembalap, jadi calon suaminya pun harus terbiasa dengan olahraga.
Pintu tempat tinggal Sehun terbuka menampilkan Sehun dengan wajah polosnya, Sehun memakai celana training hitam dan juga kaos putih polos yang hampir mirip dengan punya Jongin.
"Selamat pagi Tuan Kim." Sehun membungkukkan badannya, menyapa Jongin.
Jongin mengernyit tidak suka, "Kau bisa memanggilku Jongin saja atau hyung mungkin, tolong jangan terlalu formal begitu. Kau kan calon," sadar atau tidak pipi Jongin sedikit memerah saat mengatakannya, "suamiku. Aku juga tidak akan memanggilmu cotton candy lagi sekarang."
Kalau Jongin cuma sedikit memerah, Sehun sudah memerah sampai ke telinganya.
Jongin berdehem untuk menghilangkan kegugupannya. Ini bukan pengalaman pertamanya berkencan, tapi ini pengalaman pertamanya berkencan dengan lelaki, wajarlah kalau dia gugup. "Jadi kau siap kalau kita berangkat sekarang?" Jongin bertanya.
"Ah tentu." Sehun bergegas mengunci pintu tempat tinggalnya, "Taman akan semakin ramai jika semakin siang." Sehun berkata sambil mensejajarkan langkahnya dengan Jongin.
"Kau tidak suka keramaian?" Jongin bertanya lagi.
"Kadang orang lain suka menatapku aneh karena kulitku yang seperti albino atau karena badanku yang terlalu kurus, itu membuatku tidak nyaman." Sehun menjilat bibirnya gugup.
Jongin tersenyum mendengar jawaban Sehun dan mengambil tangan Sehun untuk digenggamnya, Sehun tentu saja terkejut dengan apa yang dlakukan Jongin, tapi dia berusaha terlihat biasa saja, dia sudah bertekad memantaskan diri untuk Jongin. "Kalau begitu kau harus lebih terbiasa menjadi pusat perhatian, bukan karena penampilanmu, tapi karena kau adalah calon suamiku." Sadar atau tidak perkataan Jongin membuat jantung Sehun berdetak sangat cepat dan membuat Sehun merasa seperti ada kupu-kupu yang terbang di perutnya.
"Hyung," panggil Sehun pelan. Jongin menoleh pada Sehun pertanda dia mendengarkan apa yang akan Sehun katakan. "kok seperti ada kupu-kupu terbang di perutku ya setelah hyung berkata begitu?" Sehun mengatakannya dengan muka yang benar-benar polos membuat Jongin membelalakan matanya tidak percaya karena kepolosan Sehun.
Jongin yang sudah sangat gemas pun akhirnya memeluk Sehun dan bergumam, "Kenapa kau lucu sekali sih?"
Benar apa yang Sehun katakan, taman sudah ramai saat mereka sampai. Jongin membawa motornya sangat lambat tadi karena menikmati pelukan Sehun di pinggangnya. Jadilah mereka kesiangan sampai taman, karena jarak taman dan tempat tinggal Sehun pun lumayan jauh.
Setelah Sehun turun dari motor dan memberikan helmnya pada Jongin, Jongin langsung menarik Sehun mendekat dan memakaikan topi pada Sehun, "Ini untuk melindungimu dari sinar matahari." Ujarnya, terlihat Sehun ingin protes, tapi Jongin memotongnya, "Aku tidak mau kulitmu terbakar Sehunna." Yang sebenarnya itu hanya alasan saja, Jongin mau melindungi Sehun kalau-kalau ada wartawan ataupun masyarakat yang mengenalinya nanti.
"Jadi kita mau berolahraga apa hyung?" Sehun bertanya karena lapangan basket, sepak bola dan lainnya penuh.
"Jogging saja dulu. Siapa tahu setelah beberapa putaran kita bisa main basket atau sepak bola. Kau lebih suka yang mana?" Jongin dan Sehun memasuki track jogging di taman itu dan mulai berlari.
Sehun terlihat berusaha mengatur nafasnya saat akan menjawab pertanyaan Jongin, "Aku tidak begitu mahir ," Sehun mengambil nafasnya, "olahraga hyung." Ambil nafas lagi, "Hari libur biasanya aku lebih memilih tidur," ambil nafas lagi, "atau bekerja." Belum ada seratus meter mereka berlari Sehun terlihat kepayahan mengatur nafasnya.
Jongin terkekeh geli melihat Sehun yang susah mengatur nafasnya. Dia menghentikan larinya dan menarik Sehun menepi agar Sehun bisa beristirahat. "Kau ini benar-benar lucu. Harusnya kau bilang kalau tidak biasa berlari, kita kan bisa memilih olahraga lain."
Sehun mengerucutkan bibirnya, seperti yang sering dilakukan Baehyun saat merajuk, "Aku kan berusaha menjadi calon suami yang baik hyung."
Jongin menghentikan tawanya, "Baiklah, maafkan hyung ya. Jadi sekarang kita mau berolahraga apa lagi?" Jongin bertanya sambil mengedarkan pandangannya ke sekitar taman untuk mencari olahraga apa lagi yang bisa mereka lakukan.
"Terserah hyung saja, aku bingung harus memilih yang mana." Sehun berujar pasrah.
Jongin yang melihat ada sebuah tempat penyewaan sepeda yang tidak jauh dari mereka pun berpikir bahwa bersepeda sepertinya tidak buruk, "Kalau begitu kita bersepeda saja ya?" Jongin meminta persetujuan Sehun.
Sehun agak ragu untuk menjawab, "Aku tidak bisa naik sepeda hyung." Meledaklah tawa Jongin yang sedari tadi ditahannya.
Mereka tetap bersepeda. Dengan Sehun yang dibonceng Jongin. Sehun duduk bagian depan karena itu sepeda buat satu orang, mereka saja yang memaksakan itu bisa digunakan untuk dua orang. Jongin menumpukkan dagunya di pundak Sehun, sementara Sehun memegang tangan Jongin agar tidak jatuh. Yang tadinya mereka tidak ingin menarik perhatian jadi malah membuat semua orang yang dilewati memperhatikan mereka. Dua lelaki dewasa berboncengan sepeda.
"Hyung, apa kita langsung ke sirkuit saja? Aku mulai tidak nyaman diperhatikan oleh orang-orang itu." Sehun berkata sambil menurunkan topinya agar lebih menutup wajahnya.
Jongin memperhatikan jam yang melingkar di tangannya, "Baiklah, tapi jangan tutupi wajahmu begitu. Aku kan jadi tidak bisa melihat wajah manismu." Jongin menggoda Sehun.
"Hyung! Berhentilah membuat kupu-kupu bertebangan di perutkuuuu." Sehun merengek.
Mereka sampai di sirkuit lebih awal dari jadwal Jongin latihan. Mereka memasukkan latihan Jongin ke daftar kencan mereka karena Sehun yang meminta, Sehun sih bilangnya dia tidak ingin mengganggu satu pun kegiatan Jongin. Seperti berlatih ini. Padahal Jongin tidak keberatan kalau sehari saja tidak berlatih, apa lagi tidak berlatih karena meluangkan waktunya untuk Sehun.
Belum waktunya Jongin untuk berlatih. Ini masih pukul sepuluh, jadwal Jongin masih setengah jam lagi. Sebenarnya bisa saja Jongin berlatih sekarang. Tapi dia masih ingin mengobrol dengan Sehun.
"Bukankah membosankan menemaniku berlatih?" Jongin bertanya. Saat ini mereka sedang duduk di pit, tempat Jongin mempersiapkan motornya.
Sehun menggelengkan kepalanya, "Ini menyenangkan, sungguh! Kau keren hyung saat mengendarai motor, lebih keren dari pada di televisi." Sehun bercerita penuh antusias.
Entah sudah berapa kali Jongin tertawa bahagia hari ini karena Sehun. "Kalau begitu kau harus janji untuk datang ke pertandinganku selanjutnya ya." Jongin mengacungkan jari kelingkingnya.
Sehun mengangguk semangat dan menautkan jari kelingkingnya dengan Jongin, "Aku berjanji." Jongin mengusak rambut Sehun dan berdiri. "Aku berlatih dulu ya."
"Sebentar hyung." Sehun ikut berdiri, memejamkan matanya dan memegang kedua sisi wajah Jongin, "Tuhanku lindungilah Jongin hyung selalu," Sehun mendoakan Jongin seperti yang biasa di lakukan Baekhyun padanya. Sementara Jongin sudah tidak bisa memperhatikan apa yang diucapkan Sehun selanjutnya sejak pertama Sehun mengecup dahinya.
Setelah mandi dan makan siang Jongin membelikan pakaian semi formal untuk dipakai Sehun. Agenda kencan mereka setelah ini adalah agenda yang dipilih Jongin. Jongin mengajak Sehun ke sebuah pameran fotografi. Jongin tahu Sehun sangat menyukai fotografi dari Baekhyun.
Pameran fotografi ini punya salah satu rekan Jongin, jadi dia bisa mendapatkan tiket masuknya tanpa harus mengantri dulu seperti yang lainnya dan Sehun tidak suka hal yang seperti itu.
"Kita seharusnya mengantri juga seperti yang lain hyung." Sehun lagi-lagi mengerucutkan bibirnya sebal.
"Oh ayolah jangan merajuk begitu, kau benar-benar membuatku gemas Sehunna." Jongin berkata gemas lalu mencubit hidung Sehun. "Ayo kita lihat-lihat fotonya disini. Kau bisa mengambil banyak pelajaran mengenai tekhnik memotret dari pameran ini. Fotografernya langsung yang akan mengajarkanmu."
Ekspresi Sehun berubah, dia kembali ceria. Seolah dia lupa apa yang membuatnya sebal pada Jongin tadi. Diam-diam Jongin menghela nafas lega karena Sehun mudah sekali dialihkan perhatiannya.
Setelah puas berkeliling di pameran fotografi tadi Jongin dan Sehun memutuskan untuk belanja di supermarket. Malam ini mereka akan makan malam dengan keluarga Jongin. Dan Jongin mau Sehun yang memasak. Jongin ingin tahu kemampuan masak Sehun sekaligus Jongin ingin ibunya tahu kehebatan calon menantunya. Semoga saja waktu wawancara itu Sehun tidak berbohong saat dia mengatakan bisa memasak.
"Hyung ingin aku memasak apa?" Sehun bertanya sambil melihat-lihat apa yang kira-kira akan dibelinya.
"Rekor masakanmu yang paling enak apa? Kau harus membuat calon mertuamu terkesan dengan masakanmu ya." Jongin menekankan pada kata calon mertua.
Sehun terlihat berpikir, "Kira-kira mereka suka makanan apa hyung?" Sehun masih belum mendapat ide untuk makanan yang akan dimasak.
"Ibuku suka sekali spaghetti, kalau ayahku pemakan segalanya. Dia bukan orang yang suka memilih-milih makanan."
"Kalau hyung suka makan apa?" Jongin tersenyum, dia kira Sehun akan lupa menanyakan kesukaannya.
"Aku suka ayam." Jongin menjawab.
"Ayamnya diapakan?" Sehun bertanya lagi.
"Walaupun cuma digoreng saja asalkan itu ayam aku akan makan dengan lahap."
Sehun bergumam baiklah dan mulai berjalan untuk mencari bahan-bahan yang akan dimasaknya.
"Apa hyung punya ini?" Sehun menunjukkan sambal kehadapan Jongin, "Aku membutuhkannya nanti."
"Aku punya sambal, tapi merknya berbeda. Beli saja itu kalau memang kau butuhkan." Jongin berkata lagi.
"Namanya tetap sambal walaupun merknya berbeda, kau harus lebih hemat hyung." Sehun berkata sambil mengembalikan kembali sambal yang tadi dipegangnya.
"Baiklah Tuan Kim." Jongin kembali menggoda Sehun.
Sehun yang terkejut pun cepat-cepat menempelkan telunjuk di depan bibirnya, "Sssh hyung, kalau ada yang dengar bagaimana?" Dia berbicara dengan suara yang terdengar seperti bisikkan membuat Jongin tertawa melihat tingkahnya.
"Ya ampun Sehunna, kau benar-benar mengagumkan." Sehun berbisik lebih kepada dirinya saat dia memperhatikan Sehun memilih-milih bahan yang lainnya.
Mereka sampai di apartment Jongin pukul lima sore setelah selesai berbelanja. Jongin sedang membawa belanjaan mereka ke dapur sedangkan Sehun kembali terpesona oleh apa yang dimiliki Kim Jongin. Apartment yang besar, ada home theater di ruang tengahnya dengan sofa yang sangat besar, console game yang sebelumnya hanya Sehun lihat di televisi, dan lukisan-lukisan yang Sehun ingatkan pada dirinya untuk tidak menanyakan berapa harganya.
Sehun melihat beberapa foto yang dipajang Jongin. Ada foto keluarga Jongin, dari foto tersebut sepertinya usia Jongin masih belasan saat itu. Disamping itu ada foto Jongin dengan seorang model terkenal. Sehun mengambil bingkai foto itu, di foto itu terlihat Jongin yang sedang memeluk model tadi dari belakang dengan tawa yang sangat lebar. Terlihat sekali Jongin bahagia di foto itu.
"Kau mau mandi atau memasak dulu?" Jongin membuat Sehun terkaget sehingga bingkai foto yang dipegangnya jatuh. Untungnya lantai apartment Jongin dilapisi karpet sehingga bingkainya tidak pecah.
"Maafkan aku. Aku sudah lancang melihat-lihat." Sehun berkata sambil menunduk untuk mengambil foto yang tadi dijatuhkannya.
Jongin memegang tangan Sehun, membuat Sehun menatap kearahnya. "Foto itu sudah lama ingin kubuang. Tapi sepertinya bibi yang membantuku bersih-bersih lupa untuk membuangnya." Jongin mengambil bingkai foto yang ada di tangan Sehun, "Jadi kau ingin mandi dulu atau memasak dulu hm?"
"Memasak dulu." Sehun menjawab dengan berbisik karena takut dipandangi oleh Jongin secara intens seperti itu.
Jongin membuang asal bingkai foto yang dipegangnya dan memeluk Sehun, mengecup puncak kepala Sehun sambil menggumamkan maafnya berkali-kali.
Sehun sudah selesai mandi. Jongin menemaninya memasak tadi jadi dia sudah tidak setakut sebelumnya. Yang sekarang menguasai perasaannya adalah gugup. Ini pertama kalinya dia bertemu dengan orang tua Jongin. Rasa gugupnya melebihi saat pertama wawancara dengan Jongin dulu.
Sehun kembali melihat pantulannya di cermin, entah sudah keberapa kalinya. Jongin mempersilahkannya mandi di kamar mandi pribadinya karena di kamar mandi tamu Jongin bilang airnya tidak mengalir. Jadi sekarang dia sedang berkaca di meja rias Jongin, di kamar Jongin. Kamar Jongin berbeda sekali dengan bagian lain apartment, kamar Jongin lebih berantakan. Jongin bilang hanya bagian ini yang tidak boleh disentuh siapapun, termasuk bibi yang membantunya bersih-bersih, well, sekarang disinilah Sehun, bagian dari Jongin yang tidak boleh disentuh siapapun.
Sehun menarik dan menghembuskan nafasnya berkali-kali. Dia ingat Baekhyun menyarankan itu kalau dia gugup. Lagi-lagi Baekhyun berjasa untuknya. Baekhyun meminjamkan kemeja warna merah muda yang senada dengan warna rambutnya sekarang. Sehun benar-benar berhutang banyak pada Baekhyun.
Terdengar suara ketukan dari pintu kamar Jongin diikuti dengan masuknya Jongin.
"Orang tuaku akan sampai sebentar lagi." Jongin berkata sambil mendekat kearah Sehun.
Sehun tersenyum dan berdiri, "Bagaimana menurutmu penampilanku hyung?" Sehun bertanya dengan antusias dan keceriannya.
"Kau sangat manis Sehunna." Jongin berkata dengan berbisik, semakin mendekat kearah Sehun. Sehun tentu saja gugup. Dia bisa merasakan tatapan Jongin yang mengarah hanya kepadanya, Sehun sudah bisa merasakan nafas Jongin menerpa mukanya. Jadi Sehun menahan bahu Jongin, "Baguslah. Aku harus menghangatkan makanannya dulu hyung." Sehun berlari keluar kamar Jongin meninggalkan Jongin yang memejamkan matanya, yang tadi itu hampir saja, bisiknya.
"Mana calon menantu Ibu Jonginie?" Itu yang ditanyakan ibunya begitu Jongin membuka pintu apartmentnya. Bahkan Jongin belum sempat mengucapkan salam.
"Masuklah dulu Bu, dia sedang menyiapkan makan malam kita." Jongin mempersilahkan kedua orang tuanya masuk yang langsung dihadiahi ibunya cubitan di tangan.
"Dia itu calon suamimu, kenapa malah kau suruh menyiapkan makan malam?" Jongin tidak berani membalas, dia kan anak baik. Sedangan ayahnya hanya tertawa melihat kelakuan istri dan anaknya.
"Selamat malam." Sehun datang dari arah dapur untuk menyapa calon mertuanya. Ayah dan ibu Jongin langsung terdiam. Jadi Jongin memutuskan untuk memperkenalkan Sehun.
"Ini Sehun Yah, Bu. Dia calon menantu kalian."
Ibu Jongin mendekat lalu mendorong Jongin ke samping, dia memegang pipi Sehun, "Ya ampun manis sekali. Semoga nasib baik selalu menyertaimu karena telah memilih anak kami." Ibu Jongin membawa Sehun langsung ke meja makan sambil memuji Sehun manis, cantik dan lain sebagainya. Sementara ayah Jongin hanya diam mengikuti di belakang mereka berdua. Jongin berdoa dalam hati semoga sikap diam ayahnya tidak berarti buruk.
Saat Jongin masuk ke ruang makan Sehun dan kedua orang tuanya sudah duduk di tempat mereka. Sehun berhadapan dengan ibu Jongin, Jongin mengambil tempat kosong di sebelah Sehun sehingga dia kini berhadapan dengan ayahnya.
Ibu Jongin menelan suapan pertamanya, "Kau benar-benar pandai memasak Sehunna. Kau harus sering-sering berkunjung ke rumah ya. Biar nanti kita memasak bersama. Masakanmu ini benar-benar enak."
Jongin menelan ayam goreng yang diberi bumbu asam manis oleh Sehun, ibunya benar. Masakan Sehun benar-benar enak.
"Terima kasih Nyonya," omongan Sehun dipotong.
"Panggil aku Ibu seperti Jongin memanggilku Ibu, kau akan menjadi anakku juga setelah menikah dengan Jongin." Ibu Jongin berkata ceria.
"Ibu." Sehun berbisik. Dia tidak pernah memanggil orang lain dengan sebutan itu. Dia tidak tahu bagaimana sosok ibunya. Jongin yang mengerti pun mengelus pelan tangan Sehun membuat Sehun menoleh kearahnya. Jongin memberikan senyumannya yang seolah berkata semua akan baik-baik saja, jadi Sehun kembali melanjutkan makannya.
"Kapan kau lulus kuliah Sehun-ah?" Kali ini ayah Jongin yang bertanya.
Setelah menelan makanan yang ada dimulutnya Sehun menjawab, "Ini baru tahun keduaku. Rencananya semester depan aku akan mulai menulis skripsiku sambil menyelesaikan kelas yang harus ku ambil."
"Satu tahun lagi cukup?" Ayah Jongin bertanya lagi.
"Lebih dari cukup Tuan," Ibu Jongin sudah akan menyela saat Sehun sadar, "Ayah maksudku. Aku merencanakan semuanya selesai dalam enam bulan."
"Masakanmu enak." Ayah Jongin memujinya. Membuat Jongin diam-diam menghembuskan nafas lega.
"Terima kasih Yah." Sehun membalas.
Ibu Jongin mengusulkan untuk movie marathon malam ini. Jadi sekarang Sehun dan ibu Jongin sedang menyiapkan popcorn untuk melengkapi acara menonton mereka. Semua sudah mengganti baju mereka dengan piyama. Sehun memakai piyama Jongin, karena Jongin hanya memiliki dua warna piyama yaitu hitam dan putih jadilah Sehun memakai piyama yang hitam sedangkan Jongin memakai yang putih. Tidak usah ditanya bagaimana hebohnya Ibu Jongin saat melihat mereka keluar kamar mengenakan piyama itu. Sehun sempat berpikir, Baekhyun pasti akan sangat cocok dengan ibu Jongin.
Ayah Jongin dan Jongin sedang di ruang tengah sambil menunggu popcornnya siap.
"Kapan kau akan menikahinya?" Ayahnya bertanya.
"Aku akan menunggunya lulus kuliah dulu Yah." Jongin menjawab sambil memilih film apa yang akan ditonton.
"Tidak mau secepatnya?" Ayahnya bertanya heran.
"Aku tidak mau menikahi mahasiswa, nanti perhatiannya akan terbagi antara aku dan ujiannya. Itu menyebalkan."
Ayahnya tertawa, "Kau memilih dengan benar nak, jagalah dia. Aku tidak sabar menunggunya menjadi menantuku." Ayah Jongin berkata dengan senyum jahil di wajahnya. Jongin hanya bergumam untuk membalas candaan ayahnya.
"Popcorn siap." Ibunya berkata sambil menaruh popcorn di atas meja dan duduk disamping suaminya. Sehun menyusul dibelakang dengan membawa nampan berisi empat gelas susu. Menaruhnya di meja dan menghampiri Jongin yang sedang memilih film.
"Mau film yang mana?" Jongin bertanya.
Sehun melihat-lihat dan menunjuk satu film The Proposal, "Sepertinya yang ini lucu." Gumam Sehun. Akhirnya Jongin memutar film yang dipilih Sehun.
Sehun dan Jongin duduk di sebelah kedua orang tua Jongin. Sofa Jongin memang cukup besar dan merupakan sofa yang bisa diubah menjadi tempat tidur dengan menarik bagian bawahnya.
Film sudah berjalan dua puluh menit, Jongin mulai mengantuk. Dia tidak menyukai film romance comedy begini, dia lebih suka action, thriller atau horror, tapi ibunya mengusulkan untuk menonton yang romantis saja malam ini. Sekali lagi, Jongin itu anak baik, jadi dia menurut saja.
Sehun yang melihat Jongin sudah mulai mengantuk pun mengambilkan susu yang tadi dibuat untuk Jongin dan memberikannya pada Jongin.
Jongin mengernyitkan dahinya heran, "Ibu bilang hyung dan ayah akan bermimpi buruk kalau tidak minum susu dulu." Katanya berbisik, takut mengganggu ayah dan ibu Jongin yang sedang asik menonton sambil sesekali tertawa. Jongin hanya mengangguk dan menghabiskan susunya.
Setelah menaruh gelasnya yang sudah kosong, Jongin kembali menyamankan duduknya. Kali ini sambil memeluk Sehun dari samping karena dilihatnya Sehun juga sudah mulai mengantuk, sepertinya Sehun kelelahan.
"Sehunna," Jongin memanggil Sehun pelan membuat Sehun menatapnya. Jarak mereka benar-benar sangat dekat saat ini. "terima kasih sudah mau menjadi calon suamiku." Jongin berkata nyaris berbisik sambil berusaha mencapai bibir Sehun, sedikit lagi sampai dia merasa cubitan di perutnya. Membuatnya kaget dan langsung melihat ke arah ibunya yang berada di sebelah kiri. Ibunya pura-pura tetap menonton film seperti tidak terjadi apa-apa. Membuat Jongin mendengus sebal.
Sebalnya hilang begitu merasakan kecupan di pipi kanannya, "Aku yang berterima kasih karena hyung sudah memilihku menjadi calon suami hyung." Kata Sehun lalu menyembunyikan wajahnya di leher Jongin. Sepertinya Sehun malu.
Sementara Jongin, ini bukan mimpi kan? Sehun mencium pipiku? Dia bukan menciumku karena sedang mendoakanku kan? Batinnya.
How?
Do you get the feeling? Duh Sehun too sweet, I can't handle his sweetness.
Hope you like it :)
