Title : Menghitung Hujan

Cast
- Do Kyungsoo [Girl]
- Kim Jongin [Boy]
- Kris Wu [Boy]
- Xi Luhan [Girl]
- Oh Sehun [Boy]

Other Cast
- Byun Baekhyun [Girl]
- Kim Joonmyeon [Boy]

Genre
- Romance
- Drama
- Sad

THIS IS GENDERSWITCH

THIS IS REMAKE SANTHY AGATHA'S NOVEL

DLDR

DON'T BE SIDERS


Jika cinta itu sama dengan hujan
Maka kaulah tetes air yang mengalir itu
Menerpa tubuhku, Membasahi hatiku
Membuatku mampu bermimpi,
Bahwa mungkin akan ada 'bahagia selamanya" untuk kau dan aku...

"Aku tidak bisa datang, maafkan aku Lu." Jongin mengeraskan hatinya. Luhan harus belajar kuat tanpanya.

Kalau setiap Luhan lemah dan Jongin datang, Luhan akan terus bergantung kepadanya, hatinya akan semakin sakit dan semakin menderita.

Jongin menyayangi Luhan.. Hanya itu.. Pertunangan mereka bertahun-tahun lamanya, persahabatan mereka dari kecil hanya menyisakan satu hal di dada Jongin : rasa sayang.

Debar itu sudah tidak ada lagi untuk Luhan. Jantung itu sudah tidak lagi mengharapkan Luhan di sampingnya.

Suara isak Luhan mengalun perlahan, isak perempuan yang patah hati.

"Setega itukah kau padaku, Jongin? Aku bagaikan sampah bagimu sekarang..?"

"Aku hanya ingin kau kuat, Lu."

"Kuat?" Luhan tertawa di sela isak tangisnya, "Dulu aku kuat, karena aku harus menopangmu. Kau sakit, dan aku berjuang supaya kuat, karena salah satu dari kita harus kuat untuk mendukung yang lain." Suara Luhan terdengar penuh kesakitan, "Lalu kau menghancurkanku."

Jongin memejamkan mata, merasakan kesakitan memenuhi badannya. Luhan memang benar... tetapi dia bisa apa?

"Maafkan aku Luhannie.."

"Tidak." Luhan bersikeras, "Aku tidak akan memaafkanmu Jongin.. Bertahun kuhabiskan hanya untuk mendampingimu. Karena aku mencintaimu. Tetapi kau membuangku begitu saja.. Hanya karena jantung sial itu."

"Kau boleh membenciku semaumu. Aku pantas menerimanya. Kalau dengan membenciku kau bisa sembuh dan melangkah ke dalam kebahagiaan baru, aku rela kau benci." gumam Jongin pelan.

Hening. Luhan termenung di seberang sana. Lalu ada helaan napas di sela isak tangisnya.

"Seharusnya waktu itu kau bunuh saja aku."

Telepon pun ditutup. Meninggalkan Jongin yang termenung di tengah kegelapan kamarnya.


Mereka sedang duduk di pantai yang mereka kunjungi waktu liburan masa lalu, di pasir tanpa alas. Menghadap ombak di bawah langit jingga yang siap menghantarkan matahari masuk ke peraduannya.

"Tidak ada yang namanya bahagia selamanya." Kris bergumam sambil tersenyum lembut, melirik novel cinta yang sedang dibaca oleh Kyungsoo.

Kyungsoo mendongak dari novel itu. Cahaya makin temaram, membuat huruf demi huruf makin berbayang, dia menyerah dan menutup novelnya.

"Wae?"

"Karena hidup terus berputar, manusia yang bercinta harus menghadapinya. Mereka bisa bahagia karena cinta, tetapi terkadang menangis juga karenanya, begitulah hidup, begitulah cinta." Kris menatap Kyungsoo dengan mata teduhnya, "Dan karena ada kematian. Suatu saat manusia harus siap menghadapi kematian, dipisahkan satu sama lainnya."

Kyungsoo merenungkan kata-kata Kris.. "Kau tahu kenapa aku menyukai novel-novel percintaan?"

"Karena mereka semua selalu berakhir hidup bahagia selamanya?"

"Bukan." Kyungsoo menggeleng.. "Karena novel percintaan itu selalu berakhir di saat mereka paling bahagia. Seakan hidup mereka berhenti di sana, setelah tulisan 'the end', di titik para tokohnya paling bahagia."

Kris tertawa, "Kau ingin seperti novel-novel itu? berakhir di titik paling bahagia?"

"Saat ini aku bahagia." Kyungsoo menatap Kris dan tersenyum penuh cinta, "Tapi aku belum ingin ini berakhir... masih ada saat-saat panjang di depan kita, dan aku ingin menikmatinya."

"Meskipun nanti kadangkala ada tangis berganti tawa dan sebaliknya?" Kris bertanya.

"Itu cukup berharga untuk dilalui kalau dilewatkan bersamamu."

Kris tersenyum mendengar jawaban Kyungsoo. Matahari makin lelap di peraduannya, beristirahat barang sejenak di ujung sana, menyembunyikan sinarnya. Gelap sudah membayang, membuat tampilan Kris bagaikan siluet gelap yang merenung menatap bayang cakrawala yang mulai menghilang.

"Kalau begitu musuh kita hanyalah kematian." gumamnya kemudian, "Seandainya bisa aku ingin mati sebelum dirimu, supaya aku tidak perlu mengalami kesakitan karena kehilanganmu."


Kyungsoo terbangun. Membuka matanya yang seperti biasanya, penuh air mata. Kata-kata Kris itu membuatnya ingin menangis. Kris egois... dia memang meninggalkan Kyungsoo lebih dahulu dan membiarkan Kyungsoo mengalami kesakitan karena kehilangannya.


"Luhan sakit." sang ibu menelpon keesokan paginya, nada suaranya sedih, membuat Jongin mengernyit sesak,

"Sakit apa eomma?"

Ibu nya menghela napas, "Sejak kau tinggalkan, dia menderita Jongin-ah, dia tak mau makan... dia hanya menangis didalam kamarnya, kondisi tubuhnya menurun. Semalam dia dibawa ke rumah sakit."

"Apakah kondisinya parah?"

"Sangat." suara ibunya bergetar, "Eomma menengoknya, Jongin. Dia begitu kurus, dia begitu sedih. Hanxi bahkan memohon kepada ku, sambil menangis agar eomma bisa membujukmu datang. Kau tahu betapa sedihnya eonma? Hanxi itu sahabat eomma Jongin.. dan Luhannie... dia sudah seperti anak eomma sendiri."

Jongin merenung, rasa bersalah dan bingung berkecamuk di benaknya. Teringat semalam dia menolak Luhan yang meminta perhatiannya.

"Lalu aku harus bagaimana eomma?"

"Pulanglah Jongin-ah. Eomma mohon. Demi masa-masa yang telah Luhan relakan demi mendampingimu di kala kau sakit."

Kata-kata sang eomma menohok benaknya. Membuat Jongin semakin merasa tak berdaya.

"Aku tidak bisa, eomma." Jongin mengerang.

"Wae?"

"Eomma sudah tahu jawabannya."

"Karena perempuan bernama Kyungsoo itu? yang dipanggil oleh jantungmu?" Suara ibunya menajam. "Apakah jantungmu itu membuatmu menjadi begitu egoisnya sehingga tidak mempunyai empati sama sekali?"

"Eomma! bukan begitu. Aku hanya tidak ingin membuat Luhan semakin lemah dan terus berharap kepadaku.. kalau aku datang, sama saja aku memberikan harapan baru kepadanya."

"Yang diinginkan Luhan hanya kehadiranmu di saat dia sakit." Suara ibunya mencela. "Dan kau bisa melakukannya. Eomma harap kau berpikir dan mengingat masa-masa dulu, dimana Luhan selalu setia mendampingimu."

Jongin menghela napas panjang. Merasa sesak oleh rasa bersalah yang mendalam..


Seperti biasa, Jongin menunggunya di kedai kopi itu. Senyumnya mengembang begitu melihat Kyungsoo,

"Kau basah." Jongin menatap rambut Kyungsoo yang memercik butiran air berkilauan, "Kenapa tadi tidak mau kujemput?"

"Karena kau harus memutar jauh kalau menjemputku." Kyungsoo tersenyum dan duduk di depan Jongin, "Lagipula aku hanya perlu naik bus satu kali untuk tiba di sini."

"Hmm" Jongin mengedipkan mata kepada Kyungsoo, "Jadi apa kabarmu hari ini?"

Kyungsoo mengangsurkan sebuah novel dari tasnya, "Buku pesananku baru sampai semalam." Kyungsoo menunjukkan buku dengan latar sampul berwarna putih itu kepada Jongin, "Aku membacanya sampai pagi, dan aku senang."

Jongin melirik novel yang ditunjukkan Kyungsoo dan tersenyum, "Novel percintaan lagi?"

Kyungsoo mengangguk bersemangat, "Kisah perempuan tak berdaya yang melawan lelaki berkuasa, dan kemudian dipersatukan oleh cinta." Mata Kyungsoo berbinar, membuat Jongin tergelak geli.

"Dasar kalian perempuan." gumam Jongin masih tergelak, "Tidak adakah yang dipikirkan perempuan selain romantisme cinta?"

"Tentu saja ada." Jongin mengedipkan matanya, "Kami juga memikirkan kehidupan nyata, tetapi kadang kami para perempuan merasa sangat bahagia bisa menenggelamkan diri dalam kisah percintaan yang menyentuh hati."

"Karena happy ending?"

"Salah satunya karena itu." Kyungsoo tersenyum, "Membaca kisah yang berakhir bahagia bagi tokoh-tokoh di dalamnya, membuat kami percaya bahwa ada ujung yang bahagia untuk kami para perempuan suatu saat nanti."

Pelayan datang membawa menu pesanan mereka yang biasa. Kopi yang panas dengan aroma yang harum, sangat cocok dengan aroma hujan di kala deras, membuat hati hangat di suasana yang dingin.

Jongin menyesap kopinya, lalu menatap Kyungsoo serius, "Jadi kau percaya dengan akhir bahagia selamanya?"

"Itu hanya ada di dongeng-dongeng." Kyungsoo menjawab, "Tetapi aku percaya bahwa setiap perempuan pasti akan menemukan kebahagiaannya masing-masing."

"Tetapi tidak ada yang bisa bahagia selamanya, Karena hidup terus berputar, manusia yang bercinta harus menghadapinya. Mereka bisa bahagia karena cinta, tetapi terkadang menangis juga karenanya, begitulah hidup, begitulah cinta." Jongin menatap Kyungsoo sendu, "Dan karena ada kematian. Suatu saat manusia harus siap menghadapi kematian, dipisahkan satu sama lainnya."

Kata-kata itu membuat Kyungsoo tertegun dan membeku. Hening.

Jongin mengernyitkan keningnya, "Kenapa Soo? Apa.. kata-kataku menyakitimu..?'

Kata-kata itu, sama persis dengan kata-kata Kris, Kyungsoo membatin, lalu menggelengkan kepalanya dan tersenyum, "Tidak. tidak ada apa-apa." Kyungsoo tersenyum sedih, "Hanya saja aku pernah mendengar kata-kata yang tepat seperti itu sebelumnya."

Jongin tersenyum pahit, "Kris?"

Kyungsoo menganggukkan kepalanya.

Jongin langsung mengalihkan pandangannya, menjaga supaya kepahitannya tidak terbaca oleh Kyungsoo. Perasaannya berkecamuk. Jikalau nanti Kyungsoo mencintainya, apakah perempuan itu akan mencintai dirinya seutuhnya, ataukah dia akan mencintai jantung yang saat ini berdetak di rongga dadanya?


"Kyungsoo-ya.." sang ibu memanggil dari luar kamar, membuat Kyungsoo yang sedang tenggelam di dalam novelnya menolehkan kepalanya.

"Ne eomma?" ditatapnya sang ibu yang berdiri di ambang pintu.

"Ada telepon untukmu, di ruang makan."

Kyungsoo mengernyit. Siapa yang meneleponnya ke telepon rumah? Teman-temannya biasanya akan menelepon langsung ke ponselnya. Dengan ingin tahu dia beranjak dari ranjang, dan melangkah ke ruang makan.

Diangkatnya gagang telepon yang terbuka di meja itu, "Yeoboseyo?"

Suara perempuan setengah baya yang lembut terdengar di sana.

"Kyungsoo?" Perempuan itu bertanya, lalu bergumam hati-hati, "Kyungsoo, maafkan aku.. aku Jongin eomma, bisakah kita bertemu? Saya mohon bantuan Kyungsoo untuk meluluhkan hati Jongin."

"Meluluhkan hati Jongin?" Kyungsoo mengernyit bingung. Telepon dari ibu Jongin ini sungguh tidak disangkanya.

"Iya Kyungsoo, bolehkah kita atur waktu untuk bertemu, tapi saya mohon jangan sampai Jongin tahu, saya akan menjelaskan semuanya."

Kyungsoo berdehem, bingung, "Kalau boleh saya tahu... ini tentang apa ya?"

Suara di sana agak ragu, tetapi lalu berkata. "Tunangan Jongin sedang sakit keras. Dan Jongin tidak mau pulang untuk menjenguknya. Saya pikir... ini semua disebabkan oleh kau, Kyungsoo."

Dunia Kyungsoo langsung bergetar keras di bawah kakinya. Membuat napasnya terasa sesak dan menyakitkan.


TBC


Hello Hello..

Long time no see ya semua, semoga para readers semua pd msh inget sm ff ini hehe

Maaf bgt udh lama ga update ff ini, selain sibuk sekolah aku jg lg nontonin video exo di youtube + download"in dvd tel wkwk.. mungkin efek blm move on dari tanggal 27 Feb kmrn kali yak wkwk, finally aku ngeliat kaisoo moment dpn mata /ga ada yg nanya/

Dan aku update ff ini 2 chapter sekaligus karena ada janji sama salah satu temen aku, ka fikha.. aku udh update lho ya hahaha sesuai janji kemarin kan?

Terakhir makasih bgt buat yang udah review fav follow ff menghitung hujan karya ka santhy agatha ini.. maaf kalau update nya lamaaaaaaaa banget yaaa aku harap kalian bisa suka sama 2 chapter yang aku update ini.

Annyeong~~ *bow*