*still mind to read and give your coment or like? ^^

.

.

.

Butterfly #3

Malam mulai larut saat terdengar suara ketukan pintu. Bian Baixian berjalan dengan cepat menyusuri halaman menuju pintu depan dan sedikit menggerutu, karena siapa orang bodoh yang bertamu di jam seperti ini. Ketika pintu kayu yang tinggi itu terbuka Baixian melihat sosok seorang pria asing dalam balutan setelan jas yang rapi berdiri di depannya, tampan dan nampak sedikit gugup.

Sang pria asing, Suho, membungkukkan sedikit kepalanya dan mencoba menyapa dalam bahasa mandarin yang ia tahu. Sementara Suho sedang mencoba mencari kata-kata yang mendadak menghilang di ujung lidahnya, Baixian hanya memandang pria bersurai pirang itu dengan pandangan penasaran.

"Um...Zhang Yixing?" akhirnya Suho hanya berhasil mengucapkan nama sang diva yang sedang dicarinya. Namun itu cukup untuk membuat lelaki manis bertubuh mungil itu mengerti.

Baixian mengucapkan sesuatu dalam bahasa mandarin yang tidak dimengerti oleh Suho, sebelum kemudian membuka lebih lebar pintu kayu yang tinggi itu dan mempersilahkan sang tamu masuk. Setelah menutup kembali pintu kayu yang tinggi itu, Baixian berjalan dengan cepat menyusuri halaman menuju rumah. Suho mengikuti dibelakangnya seraya mengedarkan pandangannya dengan takjub. Halaman itu cukup luas dan nampak asri dengan bunga-bunga yang cantik. Bangunan rumah besar khas Cina yang terbuat dari kayu itu berdiri dengan kokoh dan berhiaskan interior yang indah. Benar-benar berbeda dengan rumah-rumah di Perancis.

Sosok Baixian telah menghilang ke dalam rumah ketika Suho melangkahkan kakinya masuk melewati pintu. Sekali lagi Suho mengedarkan pandangannya dengan takjub. Dua buah kaligrafi Cina menghiasi kedua sisi pintu masuk, dan beberapa kaligrafi lainnya menempel di dinding. Guci dan vas cantik menghiasi sudut-sudut rumah. Dan cahaya dari lampion di atas kepalanya mengantarkan kehangatan dalam rumah ini. Perhatian Suho tertarik pada sebuah meja yang berisikan altar untuk berdoa lengkap dengan dupa, dan sebuah foto hitam-putih seorang pria paruh baya bertubuh gemuk sedang duduk di sebuah kursi. Pakaian cheongsam yang dipakai pria paruh baya itu nampak cukup mewah, dan wajah bulatnya nampak datar.

"Itu adalah ayahku," suara lembut Yixing membuat Suho yang sedang mengamati foto hitam putih itu terlonjak kaget.

Suho berbalik dan melihat Yixing berdiri tidak jauh darinya. Rambut hitam panjangnya terikat rapi di belakang punggungnya, dan seperti biasa pakaian cheongsam laki-laki berwarna putih membalut tubuh rampingnya. Yixing memainkan jemarinya dan nampak sedikit malu. Saat Suho menghampirinya, Yixing menghindar.

"Sangat baik bahwa dia sudah tidak hidup lagi untuk melihat revolusi," ujar Yixing pelan seraya berjalan menuju meja altar. Ia memantik korek api dan membakar dupa. "Mereka pasti akan membuatnya berlutut di atas pecahan kaca. Bukan berarti dia tidak pantas menerima hukuman seperti itu."

Ia berhenti sejenak, sebelum kemudian melanjutkan dengan nada sedih yang samar, "...tapi dia adalah ayahku. Aku akan benci melihat hal itu terjadi."

Di belakangnya, Suho hanya diam. Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana kainnya dan mendengarkan Yixing dengan penuh perhatian. Setelah berdoa sejenak untuk mendiang sang ayah, Yixing mempersilahkan Suho duduk. Tak lama Baixian datang membawa nampan berisi dua cangkir kecil dan sepoci teh hangat. Laki-laki mungil itu berlutut perlahan meletakkan nampan yang dibawanya di atas meja berkaki pendek dengan sopan, namun dengan mata yang terus menatap Suho penuh selidik. Di dalam kepalanya sedang bertanya-tanya, siapa gerangan pria asing yang nampak dekat dengan tuannya ini. Karena jarang sekali ada tamu asing yang datang berkunjung ke rumah, terlebih di larut malam seperti ini.

"Pergi dan beristirahatlah, Baixian. Biar aku yang menuangkan teh untuk tamuku," Yixing berkata pada Baixian dalam bahasa mandarin. Baixian pun menurut dan beranjak pergi dengan mata yang tak pernah berhenti menatap Suho.

Suho yang duduk dengan tenang di sofa tidak menyadari tatapan penuh selidik dari Baixian, bahkan hingga laki-laki mungil itu menghilang dibalik pintu. Matanya terlalu sibuk memandangi Yixing sejak tadi, mengagumi sang diva yang sedang berlutut di samping meja. Yixing menahan napasnya sejenak dan menundukkan pandangannya, berusaha menghindari mata cokelat Suho yang terus menatapnya dengan lembut. Mata cokelat yang mengantarkan gelenyar nyaman yang samar pada dirinya. Kedatangan Suho yang tak terduga ini mengejutkan Yixing, namun juga membuatnya merasa sedikit senang. Siapa sangka bahwa pria tampan keturunan Perancis-Korea itu berani mengunjungi rumahnya di larut malam, menemuinya secepat ini.

"Ada unsur bahaya dari kehadiranmu," ujar Yixing seraya memainkan pegangan poci teh dengan jemarinya, masih berusaha menghindari pandangan Suho. "Kau harusnya tahu itu."

"Itu bukan urusanku," sahut Suho tidak peduli, masih tidak bisa mengalihkan pandangannya dari sang diva lokal.

Yixing menarik jemarinya dari pegangan poci teh dan mengangkat kepalanya memandang Suho. "Itu bukan urusanku juga," katanya, lalu berhenti sejenak dan kembali menundukkan pandangannya ke bawah. "Yah, mungkin. Aku sedikit takut dengan skandal."

"Memangnya skandal apa yang kita lakukan?" Suho bertanya dengan santai.

Yixing mengangkat kepalanya dan melirik Suho selama beberapa detik. Lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain. Nada malu terselip samar dalam suaranya saat menjawab, "Aku menghiburmu di ruang tamuku."

"Di tempatku berasal itu tidak akan ditafsirkan sebagai—"

"Kau berasal dari Perancis," Yixing memotong dengan cepat. Ia menoleh memandang Suho dengan serius. "Perancis adalah sebuah negara yang hidup dalam era modern. Mungkin bahkan lebih modern dari yang lain. Sedangkan Cina adalah negara yang jiwanya berakar sejak 2000 tahun lalu."

Yixing terdiam sejenak, mengalihkan perhatiannya pada poci teh di depannya. Lalu dengan gerakan yang anggun ia mengangkat poci teh dan menuangkannya ke sebuah cangkir. "Apa yang aku lakukan, bahkan menuangkan teh untukmu sekarang," lanjutnya. "...itu memiliki implikasi."

Meletakkan kembali poci teh dengan hati-hati, Yixing mengangkat cangkir teh tersebut. Dengan kedua tangannya ia memberikan cangkir teh tersebut pada Suho, kepalanya menunduk dengan sopan. Suho pun menyambut cangkir teh tersebut dengan kedua tangannya, dan menahan kedua tangan Yixing dengan lembut. Sentuhan lembut itu membuat Yixing terkejut. Seraya mengalihkan pandangannya ke arah lain, Yixing menarik tangannya dengan gugup. Suho mencoba menangkap tangan Yixing kembali, namun sang diva telah berdiri dengan cepat.

Yixing beranjak menjauh. "Kumohon, pergilah," pintanya seraya memunggungi Suho.

Suho meletakkan cangkir tehnya kembali ke atas meja. Ia ikut berdiri dan menghampiri Yixing dengan langkah perlahan. Yixing menahan napasnya saat merasakan tangan Suho menyentuh bahunya, meremasnya dengan lembut.

"Kumohon," Yixing mengendikkan bahunya, mencoba menyingkirkan tangan hangat Suho. "Monsieur (tuan) Francis..."

Dengan jantung yang terasa berdentum cepat dan rasa gugup yang tiba-tiba membuncah, Yixing membalik tubuhnya. Ia memberanikan dirinya mencoba menatap Suho, Namun semenit kemudian ia memaksa matanya untuk memandang ke arah lain. Tak tahan dengan rayuan lembut yang terpancar dari mata cokelat Suho. Tangan kanan Suho mengusap bahu Yixing dengan gerakan perlahan, sementara tangan lainnya meraih pinggang sang diva dan menariknya semakin mendekat. Yixing masih memalingkan wajahnya ketika Suho membelai helai rambutnya, ia masih terdiam dengan bingung ketika jemari-jemari itu menelusuri pipinya dengan lembut—seolah dirinya adalah sebuah vas yang berharga.

Sebagai masyarakat Cina yang memegang budaya dan norma dengan kuat, membiarkan seorang pria asing masuk ke rumah dan merayunya termasuk sebuah pelanggaran. Yixing sangat tahu itu. Namun saat Suho menarik wajahnya ke depan dan kedua tangannya meraih leher Yixing dengan lembut, sang diva tahu bahwa pelanggaran menjadi hal terakhir dalam kepalanya.

"Aku tidak pernah mengundang seorang pria ke rumahku sebelumnya," Yixing berujar pelan dan menutup matanya, membiarkan wajah tampan Suho perlahan semakin mendekat. "Tindakanku selanjutnya pasti membuat kulitku terasa terbakar."

Suho tidak berkomentar dan menutup matanya. Bibirnya menyapu lembut wajah Yixing, mencari-cari. Hingga akhirnya bibirnya dan bibir Yixing saling bertemu di satu titik. Yixing masih terdiam saat bibir Suho memagutnya dengan lembut, terus mencoba meminta perhatiannya. Namun di menit selanjutnya ia akhirnya menyerah dan membalas ciuman itu. Suho pun semakin memperdalam ciuman mereka.

Saat ciuman itu berakhir Yixing membuka matanya dan mengatur napasnya sejenak, berusaha menarik kesadarannya kembali. "Kumohon, pergi sekarang," pintanya lagi.

"Jika aku pergi sekarang," Suho membuka matanya dan mengusap sisi wajah Yixing dengan ibu jarinya, penuh kelembutan. "...jaminan apa yang akan kau miliki bahwa aku akan kembali?"

Yixing terdiam selama beberapa detik, sebelum kemudian berujar dengan kesal, "Kau kejam."

Menghempaskan kedua tangan Suho dari wajahnya, Yixing beranjak pergi meninggalkan ruangan dengan langkah cepat. Suho hanya diam, membiarkan. Pria bersurai pirang itu lebih memilih untuk menyentuh bibirnya dan meraba kembali jejak hangat yang masih begitu terasa di sana. Lalu ia pun tersenyum senang.

*SuLay*

Tiga minggu telah berlalu, tetapi insiden ciuman itu masih tak terlupakan. Bayangan sang diva pun terkadang kerap bermain dalam pikirannya meski Suho berusaha keras mengabaikannya. Malam setelah kunjungannya ke rumah Yixing dan insiden ciuman itu, Suho dan Catherine bertengkar. Catherine yang curiga dan Suho yang mencoba mengelak. Namun pada akhirnya kejujuran terpaksa terungkap. Suho mengakui ketertarikannya pada orang lain—tanpa menyebut nama Yixing—insiden ciuman dan hampir berselingkuh. Hal itu membuat Catherine sedih. Wanita cantik itu mengurung diri di kamar dan mengabaikan Suho selama hampir seminggu. Setelah berpikir cukup lama, Suho meminta maaf pada sang istri dan memutuskan untuk menyelamatkan pernikahannya. Karena itu Suho menahan dirinya untuk tidak bertemu dengan Yixing lagi dan memilih menenggelamkan dirinya dalam pekerjaan.

Suho sedang sibuk menghitung pembukuan saat Catherine mengetuk pintu ruangannya dan muncul dalam balutan gaun hitam yang cantik. "Sayang, haruskah kita melewati pesta Friches malam ini?" tanya Catherine.

Suho mengangkat kepalanya menatap sang istri. Ia mengerjap sejenak, baru menyadari bahwa hari telah berubah malam dan teringat ada sebuah undangan pesta yang harus dihadirinya bersama Catherine. "Ah, tunggu sebentar," jawab Suho kemudian.

Suho membereskan mejanya dengan cepat, meraih jasnya yang tersampir di kursi dan memakainya seraya berjalan menghampiri Catherine. Catherine merapikan jas Suho sejenak dan tersenyum saat sang suami menciumnya dengan lembut. Lalu dengan tangan yang merangkul pinggang Catherine, mereka beranjak pergi meninggalkan gedung kedutaan Perancis yang telah sepi. Hanya nampak beberapa penjaga berseragam hijau dan bertubuh lebih kecil yang bertugas di sekitar gedung.

*SuLay*

Pesta itu sangat ramai, penuh dengan karyawan dan para petinggi kedutaan Perancis. Friches, salah seorang petinggi di kedutaan Perancis menyulap rumah dinasnya yang besar menjadi sebuah tempat pesta yang elegan dan indah. Pakaian yang bagus, makanan yang lezat dan wine yang memabukkan berkumpul dalam satu tempat. Catherine telah menghilang dalam keramaian setelah lima menit mereka menginjakkan kaki di pintu masuk. Suho pun memilih untuk mengisi piringnya dengan beberapa makanan dan mengambil segelas wine. Seraya membawa piring dan gelasnya, Suho berjalan pelan diantara keramaian tamu pesta. Kepalanya menoleh ke segala arah, mencari kursi kosong. Namun hanya tersisa satu kursi kosong di sebuah meja yang telah terisi oleh tiga orang paling menyebalkan menurut Suho.

Michael Angelo, Donald dan Kai. Tiga serangkai yang selalu menunjukkan ketidaksukaan mereka pada Suho secara terang-terangan. Entah kenapa. Mungkin karena Suho terlalu pintar dan termasuk dalam kandidat calon wakil konsul selanjutnya. Suho tidak pernah mempermasalahkan ketidaksukaan tiga serangkai itu padanya, dan karena kursi kosong hanya tersisa di meja mereka maka ia pun tidak ada pilihan lain. Berharap saja tiga serangkai itu tidak membuat masalah untuknya malam ini.

Saat Suho tiba di meja mereka, nampak tiga serangkai itu sedang mengagumi Irene yang berdiri tidak terlalu jauh dari meja mereka, sedang asyik berbicara dengan sang pemilik pesta. Dalam balutan gaun yang elegan dan riasan yang cantik, sang janda yang sulit didapatkan itu nampak paling mencuri perhatian dalam pesta.

"Jangan buang waktumu memikirkan Irene Frau," ujar Kai serius dengan mata yang tak bisa teralih dari sosok cantik Irene. "Wanita itu dibuat seperti kota terlarang. Semua orang bisa melihat, tapi tidak ada yang bisa masuk."

Michael Angelo dan Donald hanya tertawa setuju. Suho duduk di antara mereka, lalu ikut tertawa kecil tanpa mengerti apa yang sedang mereka tertawakan. Melihat kehadiran Suho tawa itu seketika terhenti. Michael Angelo dan Donald mematikan rokok mereka di dalam asbak kayu, Kai menenggak habis minumannya. Lalu tiba-tiba tiga serangkai itu berdiri dan hendak beranjak pergi. Seolah kehadiran Suho tidak mereka harapkan.

"Maaf, apakah aku mengganggu sesuatu?" tanya Suho tidak mengerti, seraya mengelap garpunya dengan serbet.

Ketiga orang itu hanya diam dan saling pandang, mencari persetujuan. Kai menghela napas sesaat, sebelum kemudian kembali duduk di kursinya. Dua orang lainnya mengikuti aksi Kai. Donald memutar kursinya ke belakang sebelum beranjak duduk. Lalu tiga serangkai itu hanya diam dan memandang Suho dengan ekspresi tidak suka. Suho pun ikut diam, meletakkan serbet diatas pahanya dan mulai memakan makanannya, mencoba mengabaikan suasana canggung di atas meja.

"Dengar," Donald akhirnya bersuara, membuat Suho mengangkat kepala dan memandangnya. "Kami harus mengatakan, bahwa kami sama sekali tidak senang dengan caramu mengirimkan kembali biaya kami untuk dokumentasi lebih lanjut."

"Oh," Suho mengerjap sejenak, memandang ketiga serangkai yang masih tidak berhenti mengirimkan aura tidak bersahabat padanya. Lalu mengangguk kecil dengan sikap tidak peduli dan melanjutkan acara makannya. "Yah, aku menyesal mendengarnya. Karena aku menemukan dua items lagi yang dipertanyakan malam ini."

"Adakah sesuatu yang ingin kau coba buktikan?" tanya Kai dengan datar.

"Ini bukan tentang mencoba membuktikan apapun, aku hanya melakukan pekerjaanku," jawab Suho. Ia memandang sejenak tiga serangkai yang hanya diam, memandangnya dengan tatapan tidak percaya. "Maksudku, jika kalian...benar-benar berpikir kalian bisa lolos dengan sikap ketidaksopanan kalian selamanya...yah, kalian salah."

Kai nampak tersinggung dengan ucapan Suho. Raut wajahnya berubah masam. Matanya menatap Suho dengan tajam, dan suaranya terasa dingin saat berkata, "Kau, dengarkan aku. Kau bukan siapa-siapa. Kau lebih buruk dari siapapun. Kau hanyalah seorang akuntan. Jika kau tidak berhati-hati...kami akan mematahkan semua pensilmu menjadi dua."

Michael Angelo yang sejak tadi tidak bersuara kini tertawa keras dan Donald merasa puas melihat ekspresi tidak nyaman Suho. Wajah serius Kai dan ancamannya membuat Suho akhirnya memutuskan untuk pindah tempat. Suho menarik serbet dari pahanya dan mulai mengangkat piring serta gelasnya. Namun saat ia hendak berdiri, tanpa sengaja garpunya terjatuh ke lantai dengan suara berdenting yang cukup nyaring. Mengabaikan garpunya di lantai, Suho meletakkan kembali piring dan serbetnya di atas meja. Lalu menghela napas dengan pelan sejenak. Selera makannya mendadak hilang. Kai menyeringai saat pria bersurai pirang itu beranjak pergi sambil membawa gelas minumannya, dengan langkah yang terburu-buru.

Suho melangkah dengan cepat diantara keramaian tamu pesta. Mood-nya memburuk karena ulah Kai dan dua temannya, membuatnya malas berhenti sejenak untuk sekedar beramah-tamah dan bergabung dengan tamu lainnya. Ia lebih memilih untuk mencari istrinya dan mengajaknya pulang, mungkin. Setelah pencarian yang cukup lama, akhirnya ia menemukan Catherine di ruangan lain. Catherine nampak asyik mengobrol dengan Richard, membicarakan tentang perjalanan mereka ke negara lain. Obrolan mereka terhenti sejenak saat menyadari kehadiran Suho. Catherine menoleh dan tersenyum, memberikan kecupan singkat di pipi Suho saat sang suami melingkarkan lengan di pinggangnya. Suho hanya tersenyum, lalu menoleh menyapa Richard yang dibalas sapa dengan ramah oleh pria bertubuh tinggi itu.

Melihat obrolan Catherine dan Richard yang kembali berlanjut dengan serius, Suho membatalkan keinginannya untuk mengajak sang istri pulang. Suho pun hanya diam dan memilih untuk menikmati minumannya. Mata cokelat Suho mulai mengedar ke sekitarnya. Pesta ini ramai dan meriah, istri dan sahabatnya berada disisinya saat ini, namun entah kenapa ia justru merasa kesepian. Lalu sebuah kerinduan tiba-tiba terasa menggelitik dadanya.

Ah, ia merindukannya. Sang diva yang sedang berusaha ia abaikan selama tiga minggu ini. Dan seperti malam-malam sebelumnya, Suho hanya bisa menelan kerinduannya. Ia harus menahan dirinya untuk tidak mengunjungi Yixing lagi, demi sang istri dan pernikahan mereka.

*SuLay*

Waktu terasa berjalan lambat bagi Suho. Usahanya untuk mengabaikan Yixing kian hari terasa kian berat. Terlebih ketika Yixing terus mengirim surat ke tempat kerja Suho, hampir setiap minggu. Surat-surat itu tidak pernah panjang, namun berisi kalimat-kalimat yang mencerminkan kerinduan dengan jelas. Ditulis dengan tulisan yang rapi, bahasa Perancis yang sempurna dan selalu diakhiri dengan sebuah cap merah yang khas.

Letupan kerinduan yang selama ini selalu berusaha Suho telan terasa kian menggelitik dadanya setiap kali membaca surat dari Yixing dengan sembunyi-sembunyi. Setidaknya ia merasa cukup senang karena bukan hanya dirinya yang merasa rindu. Seperti halnya ia yang selalu berusaha menahan kerinduannya pada Yixing, ia pun juga menahan dirinya untuk membalas surat-surat itu. Dan pada akhirnya ia selalu menyimpan surat-surat itu di tempat teraman. Ia mungkin sedang berusaha mengabaikan Yixing, tetapi ia tidak bisa membuang surat-surat itu.

.

.

.

Apakah kita bertengkar? Aku tidak tahu.

Apakah opera tidak lagi menarik bagimu?

Datanglah kembali.

Penontonku merindukan sang setan putih di antara mereka.

Z. Y

.

.

.

Sudah enam minggu sejak terakhir kita bertemu,

dan aku belum mendengar kabar darimu.

Terkadang, aku membencimu.

Terkadang, aku membenci diriku sendiri.

Tapi selalu, aku sepertinya merindukanmu.

Z. Y

.

.

.

Kekasaranmu tidak bisa dipercaya.

Jangan repot-repot menghubungiku.

Aku akan menyuruhmu pergi ketika kau mengetuk pintu rumahku.

Z. Y

.

.

.

Hari ini Suho kembali menerima surat dari Yixing saat ia tiba di ruangan kerjanya. Surat terakhir dari Yixing yang begitu menyita perhatiannya, bahkan ia mengabaikan Richard yang mengajaknya bicara soal pekerjaan. Ia meletakkan selembar surat itu di atas meja kerjanya dan hanya termenung menatapnya. Surat singkat itu membuat pertahanannya runtuh seketika, melupakan tentang janji untuk menjaga pernikahannya sekali lagi. Kini, yang ada di dalam pikirannya hanyalah...

...ia ingin bertemu kembali dengan sang diva, secepatnya.

.

.

.

Aku kehabisan kata-kata.

Aku tidak bisa bersembunyi di balik martabat lebih lama lagi.

Apa lagi yang kau inginkan?

Aku telah memberimu rasa maluku.

Z. Y

.

.

.

Tbc