Remake dari novel U! by Donna Rosamayna.

FF ini menggunakan alur yang sama dengan novel aslinya, jadi jika ada kesamaan cerita adalah hal yang wajar. Akan ada beberapa plot dan setting yang akan disesuaikan dengan konsep boy X boy :)

Main cast: TaeKook / VKook

Team .Uke. Jungkook, Jin, Yoongi, Hoseok

Other cast: All BTS member & other Idol (random)

Rating T

boy X boy, Yaoi

Romance, Drama, Fluff

Warning. bahasa sangat tidak baku, typo bertebaran.

DON'T LIKE DON'T READ


Chapter 3

JUNGKOOK POV

Aku menarik Papa masuk lift, meninggalkan Sunghee Ahjumma dan Tae Hyung yang terbengong-bengong di luar sana.

"ADDDUU... DUUUH. Appaaa... sakit," aku menjerit ketika Papa dengan teganya menjewer kupingku.

"Kamu apa-apaan sih, Jungkook? Malu, kan. Masa kamu menarik-narik Appa di depan umum kayak begitu. Kamu kan sudah besar, Kook ah. Sudah kelas dua SMA loh..." protes Papa padaku.

Ah, Appa. Kalau sudah kelas dua SMA kenapa aku dijewer seperti anak TK begini?

"Lagian sih..."

"Lagian apa?" potong Papa.

"Appa juga belum sempat ngomong sama Ahjussi yang tadi ngobrol sama kamu itu..."

Aku langsung mendelik.

"Appa. Kok Ahjussi sih? Itu namanya Tae Hyung," ralatku cepat.

Eh. Kok aku sempat-sempatnya ngebelain cowok itu? Aku juga tadi memanggil dia Ahjussi.

"Ya, okelah. Tae Hyung. Tapi dia ada perlu apa?" tanya Papa lagi.

"Mana Jungkook tahu. Katanya sih bukan lagi minta sumbangan. Tanya sendiri saja sana," jawabku.

Papa menghela napas, lalu menurunkan intonasi suaranya.

"Gimana Appa bisa nanya kalau kamu narik-narik Appa kayak begitu tadi. Lagi pula..."

"Lagi pula apa?" gantian aku yang sewot.

"Lagi pula, si Sunghee itu manggil Appa kan?"

Gantian Papa yang mendelik sekarang.

"Bukan 'Sunghee itu'. Dia Sunghee Ahjumma. Kamu harus sopan sama orang yang sudah tua dong, Jungkook."

Aku otomatis pasang tampang super cemberut. Kok Papa malah belain si Sunghee Ahjumma itu sih? Bete. Papa melihat ke arahku, jelas banget dia tahu aku marah.

Papa hendak mengelus kepalaku, tapi HP-nya berbunyi saat lift tiba di lantai dasar. Hasilnya, Papa mengangkat HP, kepalaku dicuekin. Aku makin bete.

"Oh, iya... iya. Maaf ya tadi..."

Papa ngobrol di telepon, entah dengan siapa.

"Iya, saya sama Jungkook mau makan. Jungkook kamu mau makan apa?" tanya Papa sambil menatapku.

"Makan batu," ujarku kesal.

Makan apa? Biasanya Papa tidak perlu tanya. Papa kan tahu aku suka banget makan seafood di restoran sebelah kantornya itu.

"Oh, tidak. Tidak apa-apa. Kami mau makan di restoran seafood sebelah kantor ini. Oh, boleh. Kita bareng saja."

Papa menutup telepon, dia senyam-senyum menatapku.

"Appa yakin kepiting itu jauh lebih enak dari batu, Kook. Kita makan di restoran seafood saja ya?" ujarnya sambil merangkul lalu mengacak-acak rambutku.

Aku mendongak, memasang tampang cemberut. Papa tersenyum sambil mencubit hidungku. Mau tidak mau, aku ikut tersenyum dan akhirnya memeluk lengan Papa. Kami berdua berjalan menuju restoran seafood kesayanganku.

.

.

.

"Kepiting dua, udang rebus dua porsi, kerang darah dua porsi juga. Minumnya jus alpukat dan air putih," ujarku pede kepada pelayan restoran.

Dia mengangguk-angguk, mencatat, lalu pergi meninggalkanku. Eh? Kok dia pergi? Aku kan belum selesai.

"CHOGIYO, AHJUSSI. TUNGGU!" teriakku.

Orang-orang di sekitar kami menengok semua. Papa memberiku kode supaya jangan berisik. Pelayan itu kembali.

"Kenapa, Tuan? Ada yang kurang?" Tanyanya ramah.

Nah, satu lagi kelebihan restoran ini. Semua pelayannya ramah banget. Tidak peduli aku cuma anak SMA. Soalnya yang dateng kan orang kantoran semua.

"Ada yang kurang gimana?" Gerutuku.

"Appa-ku belum memesan, langsung ditinggal."

Pelayan itu mengerutkan dahi lalu meneliti menu pesananku tadi.

"Bukannya sudah semua? Kepiting dua, udang rebus dan kerang juga dua. Minumnya jus alpukat dan air putih, kan?"

"Itu semua pesananku, Ahjussi. Appa belum."

Pelayan itu kontan bengong. Orang-orang di sekitar kami ketawa cekikikan. Papa cengar-cengir di sampingku.

"Maklum saja. Anak saya kelaparan."

Pelayan itu menggaruk-garuk kepala lalu kembali mengeluarkan pensilnya.

"Tuan mau pesen apa?"

"Samakan seperti anak saya," ujar Papa.

"Tambahkan japchae untuk sayurnya, terus minumnya jus semangka dan air jeruk."

Pelayan itu membelalakkan mata. Takjub campur heran. Gila. Anak-beranak selera makannya kayak kuli begini. Tapi yang membelalakkan mata tidak cuma pelayan itu saja kok. Aku juga.

"Appa mesannya kok banyak banget sih?" Tanyaku heran.

Ini kayak bukan Papa saja. Papa juga doyan seafood sih, tapi tidak segila aku. Dan Papa biasanya memesan ikan bakar, bukannya udang atau kepiting. Satu lagi yang membuat kebingunganku bertambah, Papa tidak pernah memesan jus semangka sebelumnya.

"Appa juga ngundang orang lain makan bareng kita di sini, Kook," ujar Papa.

Aku langsung lemas mendengar penjelasan Papa. Ugh, Papa payah. Aku kan pengin berdua sama Papa saja hari ini. Aku bahkan belum sempat memamerkan nilai ulangan matematikaku.

"Appa... kita berdua saja dong," pintaku dengan sangat memelas.

"Jangan manja begitu dong, Jungkook. Appa kan sepenuhnya bareng-bareng sama kamu kalau sudah nyampe di rumah."

Papa berusaha memberikan pengertian padaku. Hhhh... aku menghela napas jengkel. Memangnya kenapa? Masa aku tidak boleh berduaan dengan papaku sendiri?

"Hmmm... kamu manja banget sama Appamu kayaknya? Umma-mu tidak cemburu tuh?"

Deg!

Aku langsung terdiam. Kenapa justru kata-kata cowok itu yang terngiang-ngiang di kepalaku? Pertanyaan tentang Mama yang sebenarnya tidak ingin kujawab.

Umma. Ya, Mama. Dua belas tahun telah berlalu. Sejak saat itu aku kehilangan sosok untuk kupanggil Mama.

Masih sangat jelas dalam ingatanku bagaimana wajah Papa saat aku bilang aku ingin beli pesawat untuk pergi mengunjungi Mama di surga.

Dua belas tahun yang lalu...

Papa menatapku dengan pandangan paling sedih yang pernah aku lihat. Aku tahu Papa hampir menangis. Aku langsung naik ke pangkuannya dan memeluk Papa.

"Appa... Appa tenang saja. Aku tidak pergi sendirian. Appa pasti kuajak. Kita bareng-bareng ke sana ya Appa."

Papa langsung memelukku erat. Perlahan kurasakan cairan hangat menyentuh pundakku. Papa menangis.

Sayangnya, saat itu aku terlalu polos dan bodoh untuk mengetahui kenapa Papa menangis. Dan karena tidak mau capek-capek mikir, aku ikutan nangis juga. Akhirnya Papa sibuk menenangkanku, dan kami pergi ke bank keesokan harinya untuk menabungkan uangku. Dan sepulang dari bank, Papa mengajakku makan es krim.

Dengan berlalunya waktu, sedikit demi sedikit aku mulai memahami arti kepergian Mama ke surga. Aku sadar, naik pesawat luar angkasa sekalipun aku tidak bakal bisa menemui Mama lagi. Kecuali kalau pesawat yang kunaiki itu meledak. Aku juga mengerti apa arti tanda salib di pusara Mama yang bertuliskan Rest In Peace.

Ya, Mama meninggal karena kanker rahim yang dideritanya. Mama pergi meninggalkanku dan Papa untuk selama-lamanya. Dia pergi dalam tidur tenangnya. Dan melalui penjelasan guru agamaku, aku tahu Mama sekarang duduk bersama-sama Tuhan di surga sana.

Namun butuh waktu lebih lama lagi untuk menyembuhkan luka di hatiku. Bagaimana aku harus berulang kali menahan rasa iri melihat teman-temanku selalu diantar-jemput mamanya ke sekolah. Bagaimana aku harus ditarik Papa ketika aku juga ingin dielus rambutnya oleh wanita yang sedang mengelus rambut anaknya dengan penuh kasih sayang di depan mataku. Bagaimana aku dengan ganas langsung menerjang teman sekelasku, karena dia dengan sombongnya memamerkan bekal buatan mamanya di hadapanku.

Hm, aku paling ingat yang terakhir. Aku ingin mencakar temanku itu dengan sepenuh hati. Hasilnya, dia menangis meraung-raung dan Songsaeng-nim dengan senang hati langsung menghukumku. Ia memberiku tugas super kejam. Aku harus menulis, AKU TIDAK AKAN BERTENGKAR LAGI DENGAN TEMANKU sebanyak dua puluh lembar bolak-balik di buku.

Aku mengerjakan tugas ini sambil menangis di rumah. Papa sibuk menghiburku dan bilang,

"Ssaem tidak bermaksud jahat, Sayang..."

Dalam sedu sedanku, aku memeluk Papa.

"Youngjae bukan temanku. Aku tidak mau disuruh berjanji sebanyak ini..."

"Kook ah..."

Aku tersentak. Tangan Papa dengan lembut mengelus kepalaku. Aku tersadar dari lamunan dan menatap Papa. Papa juga menatapku dengan wajah penuh kesabarannya itu.

Aku menghela napas. Harus kuakui kata-kata Papa ada benarnya. Aku selalu memonopoli Papa selama ini.

"Maaf ya, Appa," ujarku lirih.

Papa tersenyum menatapku.

"Maaf apa nih? Kok tiba-tiba? Jangan-jangan nilai ulangan matematika kamu dapat jelek ya?"

Heh. Ulangan Matematika? Aku langsung mendelik senang menatap Papa. Inilah saatnya. Aku langsung merogoh isi tasku dan mengeluarkan selembar kertas. Kusodorkan kertas itu tepat di hadapan muka Papa, supaya Papa bisa melihat angka 100 itu dengan sejelas-jelasnya. Aku menurunkan kertas itu dan kulihat Papa tersenyum lebar.

"Kamu mau minta apa?" tanya Papa langsung tanpa basa-basi.

Yes! Ini dia yang aku tunggu-tunggu. Kesempatan itu datang. Dan saat aku hendak menjawab, datanglah seseorang ke meja kami...

"Maaf terlambat."

Saat itu juga, hilanglah semua mood baikku hari ini. Lenyap jugalah semua kata-kata di mulutku. Dan yang paling parah, nafsu makanku juga langsung ikut lenyap entah ke mana.

"Halo, Jungkook," ujar orang itu ramah.

Demi sopan santun, aku memaksakan senyuman. Padahal aku ingin sekali melemparkan kaus olahraga-ku ke mukanya.

"Wah, kebetulan Sunghee Ahjumma datang," ujar Papa dengan senyum terkembang.

Sunghee Ahjumma duduk di sebelahku dan dengan sok manis mengajakku ngobrol, dia juga memuji nilai ulangan matematika-ku Aku cuma bisa nyengir bego mendengar komentarnya. Apa dia tidak sadar aku bête berat?

Huh. Ngapain juga dia ikutan duduk di sini?

Saat makanan datang, aku sudah benar-benar tidak nafsu makan lagi. Kepiting saus dihadapanku tiba-tiba berubah jadi kayak batu. Daripada duduk di sini sama Sunghee Ahjumma mendingan aku makan batu benaran.

"Jungkook, kamu mau cemberut sampai kapan? Kok kepitingnya didiemin? Kamu kan doyan banget kepiting?" Tanya Papa dengan lembut padaku.

Aku melengos dan tetap cemberut. Tidak mau tahu. Kali ini aku benar-benar mengibarkan bendera perang sama Papa.

"Saya mau permisi ke toilet dulu ya." Sunghee Ahjumma bangkit dengan sopan lalu melenggang menjauh.

"Jungkook." Papa memanggilku.

Aku mendongak, Papa menatapku dengan pandangan bingung.

"Kamu kenapa sih, Kook?"

"Jungkook tidak suka ada Sunghee Ahjumma," ujarku cepat.

"Dia kan cuma ikut makan dengan kita. Kenapa sih? Lagi pula, dia baik banget sama kamu kok."

Aku hanya diam. Itulah Papa. Suka bego. Bayangin, Papa jadi baik banget sama Sunghee Ahjumma gara-gara Sunghee Ahjumma baik sama aku. Ya... jelas saja dia baik sama aku, dia kan mau mengambil hati Papa lewat aku. Maaf saja. Aku tidak bakal tertipu.

Seperempat jam berlalu...

Cacing-cacing di perutku sudah berteriak dengan suara bulat. "LAPAAAAR."

Oke, aku ralat kata-kataku tadi. Tadi aku bilang nafsu makanku hilang karena lihat Sunghee Ahjumma. Tapi karena lihat Papa makan dengan lahapnya, otomatis selera makanku kembali dengan sukses. Namun demi gengsi dan kehormatanku, aku menahan diri untuk tidak menyentuh kepitingku.

Sunghee Ahjumma kembali dari kamar mandi. Samar, tercium bau parfumnya yang enak dan lembut.

Hm, pasti dia tadi menyemprotkan parfum banyak-banyak di kamar mandi. Genit banget.

"Maaf ya lama," ujar Sunghee Ahjumma sopan.

Dia memang selalu sopan.

"Oh, tidak apa-apa. Pasti tadi Sunghee Ahjumma bingung, mau nyemprotin parfumnya sepuluh atau dua puluh kali kan?" sindirku kejam.

Papa langsung memelototi aku. Aku sok cuek. Herannya, Sunghee Ahjumma justru terbelalak lalu tertawa.

"Kok kamu tahu? Kamu lihat ya tadi?"

Aku bengong. Ajaib. Dia mengakuinya. Sunghee Ahjumma langsung bicara lagi.

"Tadi ada orang yang muntah di kamar mandi, Sajang-nim. Waaah, suasana langsung kacau. Mungkin orang itu kebanyakan makan kepiting atau apalah. Nah, otomatis jadi agak bau amis. Cleaning service sudah ngelap muntahnya, tapi samar-samar masih kecium. Kasihan kan orang lain yang datang ke toilet, mereka jadi males masuk. Ya sudah, saya semprotkan parfum saja ke sekeliling ruangan. Orang yang muntah juga saya semprot, soalnya bajunya kan juga kena sedikit tadi. Kasihan kalau sampai teman duduknya meremehkan dia."

Oh. Aku terbelalak. Alangkah mulianya Sunghee Ahjumma. Menyemprotkan parfum Elizabeth Arden di sekeliling ruangan kamar mandi? Alasan macam apa itu? Bohong banget. Pintar juga dia mengarang alasan sepanjang itu. Bisa nangis si Elizabeth Arden kalau tahu parfumnya disemprotin kayak nyemprot obat nyamuk.

Namun efek samping kata-kata Sunghee Ahjumma ternyata cukup hebat, Papa langsung menatap Sunghee Ahjumma dengan pandangan penuh kekaguman.

"Kamu baik sekali," puji Papa.

Aku mendengus pelan.

"Aku mau ke toilet," ujarku cepat sambil bangkit dari kursi.

Aku ingin membuktikan kata-kata Sunghee Ahjumma tadi. Dia mungkin bisa bohongin Papa, tapi jangan coba-coba membohongi aku. Sialnya, aku bergerak terlalu cepat dan...

GUBRAAK!

Aku bertabrakan dengan seseorang yang sedang melangkah melintasi meja kami. Aku terjatuh. Sialan. Apa tidak tahu aku lagi buru-buru? Aku mendonhak dan langsung menyemburkan makian. Dan aku benar-benar tidak mempercayai penglihatanku...

Cowok sinis tadi... alias TAE HYUNG?

.

.

.

TAEHYUNG POV

Untuk kesekian kalinya, aku bengong lagi hari ini. Subjek yang bikin aku bengong pun sama. Tak lain dan tak bukan, anak SMA slebor itu. JUNGKOOK.

Bayangkan, tidak ada hujan tidak ada angina, tiba-tiba dengan seenaknya dia nyeruduk aku kayak banteng.

"Hati-hati dong," desisnya kesal.

Yeee. Kok jadi dia yang nyolot? Jelas-jelas dia yang barusan nabrak aku. Anak SMA zaman sekarang memang suka tidak sadar diri. Masih kecil tapi sudah berani kurang sajar sama orang yang lebih dewasa. Jungkook mendongak, kami berpandangan.

"Eh? Tae Hyunggg?" jeritnya spontan.

Serentak orang-orang di sekitar menengok. Aku jadi terbiasa dengan pemandangan seperti ini. Kalau berada di sekitar Jungkook, siap-siap jadi seleb. Bakal dilihatin orang terus. Suasana dijamin jauh dari sepi kalau ada di dekat dia.

"Kamu kalau jalan pelan-pelan dong," ujarku sambil mengulurkan tangan pada Jungkook.

Berniat baik untuk membantunya berdiri. Tapi cowok SMA satu ini memang tengil. Dia nyuekin tangan aku yang sudah terjulur di depannya. Dia malah bangun sendiri, lalu menepuk-nepuk celananya.

"Tae Hyung tidak apa-apa?" tanya Jungkook sambil memerhatikan aku dari atas sampai bawah.

"Tidak sakit kan?"

Loh? Setelah nyuekin tangan aku, dia sekarang malah nanyain aku? Jelas-jelas dia yang jatuh. Anak ini mungkin satu spesies sama panda di Cina sana, perlu dilestarikan.

"Tidak apa-apa kok," ujarku ramah.

"Kamu kok buru-buru sih? Mau ke mana?"

"Omo!" Jungkook berteriak sambil menepuk dahinya keras-keras.

"Tuh kan jadi lupa. Sudah dulu ya, Hyung. Mau ke toilet nih. Daaah..."

Jungkook tanpa ba-bi-bu langsung ngeloyor pergi. Aku kembali berbengong ria. Makhluk macam apa yang bisa lupa kalau mau ke toilet?

"Jadi ini Tae Hyung yang disebut-sebut Jungkook tadi?" tanya papa Jungkook ke arahku.

Aku menatap beliau dan tersenyum ramah. Tapi papa Jungkook langsung tersentak lihat orang yang berdiri di sebelah aku,

"Oh. Selamat siang, Kim Sajang."

Papa tersenyum penuh wibawa ke papa Jungkook. Aku cuma bisa mendengus pelan melihatnya. Ya, begitulah gaya bos-bos perkantoran. Agak gila hormat.

"Makan siang rame-rama ya, Jeon Sajang?" Tanya Papa.

"Iya, Kim Sajang. Kim Sajang juga silakan bergabung."

Aku terbelalak. Dalam sekejab mereka berdua langsung larut dalam obrolan seputar pekerjaan kantor. Kebetulan sekretaris kantor itu juga ada, lengkaplah sudah. Rapat hari ini berlanjut di restoran seafood. Biasanya pembicaraan tentang pekerjaan mampu menyita perhatianku.

Teman-teman saja sampai ngasih aku julukan workhaholic. Ya, sama kayak kata pepatah, buah apel tidak jatuh jauh-jauh dai pohonnya. Aku jadi gila kerja karena Papa juga gila kerja. Kami memang butuh pekerjaan buat menghilangkan pikiran-pikiran yang berseliweran di kepala. Bedanya, aku masih ingat bahwa jam lima sore itu jam pulang kantor. Sedangkan Papa, kalau tidak diteleponin, tidak bakal ingat dia masih punya rumah.

Tapi, hari ini entah kenapa, aku jadi agak-agak alergi. Jadi daripada aku bergabung dengan mereka mending aku ke tempat lain deh. Tapi ke mana ya enaknya? Hm, toiletnya mana sih?

.

.

.

Cuma butuh tiga menit buat aku di toilet cowok. Tapi setelah itu aku bingung sendiri. Mau ngapain? Begabung dengan tiga orang yang lagi membahas fluktuasi, jatuh tempo, kenaikan saham, dan sebagainya jelas bukan hal yang aku inginkan hari ini.

KRIEEK!

Aku lihat pintu toilet wanita terbuka dan Jungkook keluar. Aku bingung kok cowok itu keluar dari toilet cewek, tapi dia dengan begonya malah tidak melihat aku. Dia lagi bersungut-sungut.

"Ternyata emang wangi..."

Aku refleks menarik tangannya. Jungkook terkejut.

"Eh, Tae Hyung, kenapa?"

"Eh. Apanya yang wangi?" tanyaku belepotan.

Aduh. Ada apa dengan aku hari ini sih? Masak salting di depan anak SMA?

"Parfumnya ternyata jadi wangi. Elizabeth Arden sih... orang muntah sudah tidak ada yang disemprot benar-benar seluruh ruangan kali..." Jungkook nyerocos tidak jelas.

Hah? Apa? Dia ngomong apa barusan? Parfum Elizabeth Arden bikin orang muntah? Masa sih?

Ah bodo amat deh. Aku kembali memandang Jungkook dengan antusias.

"Eh, Jungkook. Kita keluar saja yuk. Appa kamu lagi sibuk ngobrol sama Aboeji-ku tuh. Bisa lama," usulku tiba-tiba.

Jungkook menjulurkan kepala, mengintip ke meja tempat papa kami yang sudah duduk bareng. Dia pun kelihatan langsung alergi datang ke situ. Dan karena tidak punya pilihan lain, Jungkook pun mengangguk.

.

.

.

Aku dan Jungkook akhirnya makan berdua di warung yang menjual jajjangmyeon dekat situ. Aku dengan sukses menghabiskan dua mangkok jajjangmyeon, satu porsi tangsuyuk, dan tiga fishcake. Aku melirik Jungkook yang duduk di sebelahku. Dia juga makan dengan lahap. Kayaknya dia benar-benar kelaparan. Kasihan juga aku melihat dia. Jangan-jangan dia tadi belum sempat makan apa-apa di restoran.

"Kamu mau tambah?" tanyaku.

"Mau." Jungkook menjawab dengan pede.

Aku kontan pengin ngakak. Cowok satu ini memang jauh dari jaim. Biasanya kalau aku makan bareng orang yang baru dikenal, aku bakal menyaksikan mereka yang makan ala dinasti kerajaan yang lagi diet. Pelan dan dikit. Tapi cowok di samping aku ini jelas beda. Dia dengan cueknya makan saja tuh. Padahal badannya kecil, tapi makanan sebegitu banyak lenyap semua di mulutnya. Mungkin usus dia sampai jari kaki.

Tidak sampai menit ketiga puluh, Jungkook sudah menandaskan mangkok ketiganya. Dia tersenyum puas. Mau tidak mau aku jadi ketawa melihat gayanya.

Sementara Jungkook mengelap mulut dengan tisu, aku mengeluarkan dompet dari saku celana. Ya, sebagai cowok yang lebih tua tentu aku harus membayar makanannya dong.

"Berapa Ahjumma?"

"Tujuh belas ribu won," jawab penjual itu.

Dengan gaya, aku mengeluarkan selembar uang seratus ribu won dari dompet. Penjual itu geleng-geleng kepala.

"Maaf, Tuan. Tidak ada kembaliannya. Pakai uang kecil saja."

Aku kontan bengong. Mampus. Aku coba buka dompet aku lagi. Tidak ada. Isinya cuma uang seratus ribuan. Aku merogoh saku kameja. Cuma ada selembar uang lima ribu won. Aku rogoh saku celana. Kosong. Aku mulai panik. Duh, mereka nerima kartu kredit tidak, ya?

Dan tanpa aku sangka-sangka, Jungkook menyodorkan selembar uang dua puluh ribu won miliknya ke penjual itu.

"Pakai ini saja," ujarnya.

GUBRAK!

Bumi telan aku sekarang juga. Gila! Aku dibayarin sama anak SMA. Mau ditaruh di mana mukaku?

"Jangan, Jungkook. Biar saya saja yang bayar," potongku.

"Ahjummanya tidak punya kembalian tau Hyung. Siang-siang begini dia kan emang baru buka,"

Jungkook membela diri.

"Jangan dong. Biar saya saja," cegah aku lagi.

"Sudah. Pakai uang Jungkook saja," ujar Jungkook ngotot sambil menyodorkan uang itu lagi ke penjualnya.

Penjual itu hendak meraih uang Jungkook, tapi aku langsung menepis tangannya.

"Heh, Ahjumma, niat jualan tidak sih? Masa tidak punya kembalian?" tanyaku sewot.

Jungkook menoleh kepadaku, pandangannya tampak tidak suka.

"Tae Hyung ngotot banget sih," ujarnya.

"Kamu juga ngotot. Kan sudah saya bilang, saya saja yang bayar," balas aku sewot.

Ahjumma penjual itu kontan bengong, menyaksikan aku dan Jungkook berebut bayar.

"Jungkook saja kenapa sih!" jeritnya kesal.

"Eh, kamu kok teriak-teriak sih? Tidak malu apa?" kataku ikutan kesal.

Orang-orang di sekitar situ jadi pada menengok.

"Lagian, Tae Hyung ngotot banget sih. Makanya, kalau cuma ke warung, jangan pakai uang seratus ribuan," sindirnya.

SREEEPS!

Mukaku langsung merah. Ni anak nyolot banget sih.

"Eh. Denger ya. Buat saya sih tidak usah dikembaliin juga tidak apa-apa," ujarku sombong.

"Ambil nih, Ahjuma. Kembaliannya ambil saja semua," ujarku lagi sambil menyerahkan uang seratus ribu won tadi ke penjual itu.

Penjual itu terang saja tidak menolak rezeki nomplok di depan matanya. Mungkin ini yang namanya pepatah "mendapat durian runtuh". Tapi aku tidak peduli deh sama si Ahjumma itu, aku lebih memilih memandang Jungkook dengan pandangan puas dan penuh kemenangan.

Jungkook mendelik sebal ke arahku dan detik berikutnya dia langsung bangkit dari kursinya dan berjalan pergi. Ya, ngambek dia. Mati deh aku. Kalau dia sampai ngadu ke papanya kan gawat.

"Eh. Jungkook ah... Jungkook... Tunggu doong."

Sialnya. Jungkook jalan terus, tidak mau nengok. Orang-orang di situ cengengesan ngeliatin aku dan Jungkook.

Gila. Hari ini aku apes banget sih. Sudah kehilangan delapan puluh tiga ribu won, dijudesin sama anak SMA satu ini, eh diketawain orang-orang lagi. Aku berhasil mendahului langkah Jungkook dan menahannya tepat di depan pintu restoran seafood tadi.

"Jungkook ah. Kamu jangan marah dong."

Jungkook mendongak. Aku langsung memamerkan senyuman kotak mautku. Ya Tuhan. Semoga kali ini berhasil. Dan...

Aduh! Jungkook dengan sangat niat menginjak kaki aku lalu melangkah masuk ke restoran.

.

.

.

Siang sudah berganti malam...

Sekarang aku lagi duduk melamun sendirian di beranda kamar bersama laptop kesayanganku. Di meja, HP-ku meraung-raung untuk kesepuluh kalinya malam ini. Tapi aku malas banget mengangkatnya. Aku tahu, yang menelepon pasti Hoseok.

Oh ya, akhirnya aku benar-benar lupa membalas SMS Hoseok tadi siang, tapi hebatnya, Hoseok ternyata pantang ditolak. Dengan semangat juang yang tinggi, dia tetep ngotot mengajakku ikut.

Heran. Padahal dengan tampang kecenya itu, dia bisa dengan udah menunjuk cowok untuk menemani dia ke sana. Jangankan disuruh nemenin, nyopirin doang saja rela kok. Jangankan satu orang, satu kompi tentara juga langsung pada datang, begitu dia ngeluarin komando.

Kalau saat ini aku adalah diri aku yang tadi siang baru masuk ke kantor itu, aku pasti tidak bakal meratap sendirian di beranda kayak orang bego begini. Mending aku ke Seoul Fun Bar bareng Hoseok. Jalan bareng sama dia lumayan nyenengin lah, minimal aku bakal ditatap dengan pandangan iri cowok-cowok di situ. Belum lagi tatapan cowok-cowok yang mengagumiku dan yang pasti, sirik abis sama Hoseok.

Tapi aku yang sekarang adalah Taehyung yang otaknya baru terlindas truk. Taehyung yang katanya cerdas sudah hilang entah ke mana. Diganti dengan Taehyung yang kayaknya sebentar lagi bakalan diseret ke Rumah Sakit Jiwa terdekat.

Pokoknya dalam hitungan delapan jam terakhir, aku berubah total jadi orang super geblek. Dan penyebabnya... Hm, malu aku nyebutinnya…

Oke, si Jungkook itu.

Sumpah. Ini bukan aku. Taehyung yang biasanya tidak pernah peduli sama cowok ngambek. Boro-boro ngambek, cowok-cowok yang mati-matian pasang tampang senyum di depanku saja sering kucuekin.

Nah, sekarang? For the first time in my life, aku benar-benar kayak orang gila nguber cowok ngambek. Bayangkan, walau kakiku sudah hilang rasa kayak baru diamputasi gara-gara diinjak sama Jungkook, tapi aku tetap nekat nguber dia yang berusaha masuk ke pintu kaca itu.

.

.

.

Pelayan penjaga pintu yang bilang, "Selamat datang." menatap bingung ke arah aku dan Jungkook.

"Jungkook aduduuh... Jungkook ah tunggu dong. Saya cuma bercanda tadi..."

Aku kembali berhasil menggenggam tangannya. Jungkook nengok lagi.

"Eh, Hyung kurang ya kalau diinjek cuma sekali? Mau lagi?" tanyanya galak.

Gawat, man. Dia benar-benar marah.

"Jangan dong, Jungkook. Kan sakit," ujarku dengan intonasi selembut mungkin.

Kalau aku balas nyolot, yang ada kakiku bisa gepeng diinjak sekali lagi. Jungkook tetap cemberut. Aku pegang tangannya.

"Mianhae, Jungkook ah," kataku dengan nada memelas.

Sumpah, ini bukan akting. Aku benar-benar memohon maaf sama cowok ini. Oh, Tuhanku. Kenapa aku jadi mellow banget kayak begini sih? Temenku, Namjoon, bisa melongo dan ketawa berguling-guling kalau melihatku kayak begini.

"Jungkook."

Deg!

Aku tersentak kaget. Aku cepat-cepat menarik tanganku yang tadi lagi memegang Jungkook. Jungkook juga kaget. Aku lihat papa Jungkook melambai-lambai ke arah kami. Mereka sudah selesai makan rupanya. Sebelum aku sempat ngomong apa-apa, Jungkook langsung ngeloyor pergi nyamperin papanya. Punahlah sudah satu-satunya kesempatan aku untuk minta maaf sama cowok itu.

"Kamu ke mana saja sih, Sayang? Appa bingung nyariin kamu." Papa Jungkook langsung mengacak-acak rambutnya dengan penuh kasih sayang.

"Makan jajjang di pinggir jalan," ujar Jungkook cuek.

"Hah!" Terdengar erangan ngeri.

Aku sampai melongo melihat sekretaris Papanya yang tiba-tiba menjerit.

"Duh. Kamu makan di mana, Jungkook? Steril tidak tempatnya? Bahaya, kan. Kamu tidak takut sakit perut?" ujar cewek modis itu dengan nada cemas dan khawatir yang-menurutku-terlalu berlebihan.

Jungkook yang ditanya bebegitu diam saja. Kelihatan banget dia tidak suka dinasihatin cewek itu. Kalau boleh kurang ajar, aku pasti langsung mendengus. Sekarang aku mengerti kenapa Jungkook sebel setengah mati sama cewek itu. Sok steril banget sih. Memangnya kalau di pinggir jalan, makanannya tidak dimasak dulu sama penjualnya?

Melihat kata-katanya tidak ditanggapi, sekretaris itu langsung memutar otak mencari kata-kata lain.

"Tapi tidak apa-apa sekali-sekali tidak masalah," ujarnya sok bijak.

Aku lihat si Jungkook nyengir super-maksa. Aku mati-matian menahan tawa.

"Oke."

Papaku menepuk tangannya.

"Kalau begitu kami permisi dulu."

Papaku menyalami Papa Jungkook, lalu tersenyum pada Jungkook.

"Kapan-kapan main ke sini lagi ya, Jungkook."

"Iya, Ahjussi," ujar Jungkook penuh semangat.

Papaku berjalan ke arah pintu keluar, memberi kode supaya aku mengikutinya. Aku benar-benar serba salah saat itu. Masih ada keinginan di benakku untuk mencoba ngomong sekali lagi sama Jungkook.

Tapi HP Jungkook berbunyi. Damn. Sekali lagi, hilanglah kesempatanku. Jungkook langsung sibuk merogoh-rogoh tas dan bicara dengan orang yang menelepon. Siapa pun yang menelepon Jungkook, dia kena sumpah serapah dariku saat ini.

Akhirnya dengan langkah seratus persen malas, aku mengekor di belakang Papa. Dari sudut mata, aku masih sempat melirik Jungkook, tapi dia sudah terlalu sibuk ngobrol di HP-nya.

.

.

.

BLASSSH.

Lamunanku lenyap seketika. Aku kembali tersadar bahwa aku masih duduk termangu tidak jelas di beranda kamarku, memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang berputar-putar liar di kepalaku.

Aku cepat-cepat menggetok-getok kepala aku kencang-kencang. Kenapa juga aku jadi pusing-pusing mikir? Aku sendiri tidak yakin sekarang Jungkook masih ingat aku atau tidak. Tapi satu hal pasti, sekarang aku menyesal banget kenapa bisa lupa minta nomor HP si Jungkook itu.

Bego banget kamu Kim Taehyung.

Habis biasanya aku tidak perlu repot-repot minta. Semua cowok yang kenalan sama aku pasti langsung dengan antusias nyodorin nomor HP-nya tanpa ku minta lebih dulu.

Kembali lagi nada dering 'Eyes, Nose, Lip' mengalun di kamarku. Aku akhirnya menyeret kaki dengan malas menuju HP-ku yang lagi bergetar-getar dan melantunkan lagu Taeyang itu.

Eh aku bengong menatap HP. Masih si Hoseok juga? Itu orang kebal banget sih. Tiba-tiba mata aku mendelik, daripada aku gila di sini, mendingan aku ikut ke pesta.

"Halo," ujarku.

Hoseok langsung nyerocos panjang di ujung telepon. Aku tidak tahu deh dia ngomong apa.

"Ya sudah. Aku ke sana deh. Kamu di mana? Biar aku jemput," ujarku lagi.

Tidak perlu lagi deh aku basa-basi minta maaf karena teleponnya daritadi tidak diangkat. Dan Hoseok memang tidak ambil pusing. Begitu dia dengar aku setuju ikut, Hoseok kembali menyerocos dengan nada penuh semangat.

"Begitu dong, Tae. Thank you, ya. Aku tunggu kamu di rumah loh. Byeee!" itu kata-kata terakhir Hoseok di telepon yang berhasil aku tangkap.

Aku mematikan laptop dan langsung ganti kemeja, nyemprotin parfum, trus ngambil kunci mobil. Aku berlari menuruni tangga dan berpapasan dengan Shin Ahjumma.

"Ahjumma, aku pergi dulu ya," pamitku ramah.

"Mau ke mana malam-malam begini Tuan muda?" ujar Shin Ahjumma.

"Ke tempat temen, Ahjumma," jawabku dengan sopan.

Untuk makhluk yang satu ini aku emang super sopan. Gimana tidak? Shin Ahjumma-lah yang merawat aku dari bayi. Mandiin, nina bookin, nyuapin, makein baju, ngelonin, pokoknya semuanya deh. Dia orang kedua yang aku sayang di rumah ini setelah Mama. Papa nomor tiga.

"Tidak pamit dulu sama Nyonya?"

Aku mengangguk. Aku berjalan ke kamar Mama dan perlahan membuka pintu. Aku lihat Mama sudah tidur. Sendiri. Lagi-lagi Papa menyibukkan diri di kantor, sehingga Mama kembali sendirian di rumah hari ini. Aku cuma bisa menghela napas superberat. Sudah tidak terhitung berapa ribu malam yang Mama lewatkan sendirian tanpa Papa. Aku menutup pintu, tidak tega mengganggu tidur Mama.

Aku tidak sanggup menatap dia, kalau dia bangun dan bertanya, "Abeoji kamu sudah pulang, Tae?". Karena mau tidak mau, aku harus menjawab pertanyaan itu dengan jawaban yang dia tidak pengin denger.

Dan satu lagi... tentang...

Ah Forget it.

Aku kembali berpapasan dengan Shin Ahjumma di depan pintu.

"Eomeoni sudah tidur, Ahjumma. Nanti kalau Abeoji dan Eomeoni nanyain, bilang saja aku pergi ke acara temen," ujarku pelan sambil menghela napas.

Ya, ini cuma pesan basa-basi saja. Soalnya aku juga tidak yakin mereka bakal nanyain. Mama kan sudah tidur, paling besok pagi dia baru bangun. Sedangkan Papa lagi lembur, semoga saja dia tidak pulang pagi seperti biasanya.

Shin Ahjumma cuma mengangguk patuh. Tapi aku tahu, dia pasti bisa ngerasain apa yang aku rasain saat ini.

"Oh ya, aku bawa kunci kok, jadi Ahjumma tidur saja, tidak usah nungguin aku." ujarku lagi sambil menatap sosok tua yang bijaksana ini.

Shin Ahjumma mengangguk.

"Hati-hati ya, Tuan muda."

Aku tersenyum dan melambaikan tangan. Aku berjalan ke luar rumah dan masuk ke mobil. Aku memacu mobil dengan cepat. Sekilas aku melirik jam di dasbor. Sudah jam sepuluh malam. Tiba-tiba aku jadi melamun. Jungkook sudah tidur belum ya jam begini?

Eh aku jadi tersentak sendiri. Gila kali ya aku. Sudah disindir, dimaki, diinjak, masih sempat-sempatnya mikirin dia sudah tidur atau belum. Sadar dong, Taehyung. Kamu lagi mau jalan sama cowok super kece, ngapain pula mikirin anak SMA yang tidak tahu cara bertutur kata yang baik, dan jauh dari sopan santun?

Aku menyetel CD, tak lama terdengar suara Usher dengan lagu Yeah-nya. Yup. Ini jauh lebih baik. Aku mengencangkan volume dan mulai menghentak-hentakkan kepala mengikuti alunan musik.

VW Beetle-ku melaju menembus hiruk-pikuk malam di Seoul City.


-TBC-