Sōrumeito

By

Kirana_shu

(salam kenal semuanya, Ini adalah FF-ku yang ke terserah deh, mohon bantuan dari semuanya)

Desclaimer :

Naruto Masashi Kishimoto

Pairing :

HinaSasu

Warning : OC, OOC, gaje, rumit, and gak jamin update cepat #plak.…. #Hehe.. gomen..ne…

Ya, ini fanfic yang bisa saya persembahkan bwt reader semua… Gomen… tidak memuaskan dan malah tambah gaje…

Happy Reading

Aku tidak tahu itu suara apa? Namun hatiku benar-benar gelisah.

"Ibu…" gumamku pelan.

Segera saja aku membuka pintu gerbang dan langsung berlari menuju rumahku.

"Ibuuu…" aku berteriak sekencang-kencangnya tatkala melihat ibuku tengah duduk meringkuk. Kulihat tiga orang lelaki berpakaian hitam –yang kurasa mereka adalah kaki tangan seseorang- tengah berdiri dihadapan ibuku.

"Heh, apa yang kalian lakukan hah?" bentakku pada tiga lelaki itu, mataku berkilat menatap mereka, karena emosi benar-benar telah menguasaiku. Tidak masalah bagiku jika aku yang harus menderita bahkan dipukul sekalipun, namun aku takkan pernah membiarkan ibuku tersiksa seperti ini. Tidak akan pernah…

"katakana pada ibumu, agar tidak datang lagi ke Byakugan Corporation," ucap seorang lelaki berbaju hitam yang berada ditengah, mungkin dia ketuanya….

"Apa maksudmu?" tanyaku yang masih geram.

"Turuti saja, atau kami aka lebih keras dari ini," ancamnya. Benar-benar menyebalakn…namun apa yang bisa kuperbuat, aku…lemah.

Mereka pun pergi dengan tamapng yang angkuh…Damn it, sungguh sial…haha…aku yak peduli lagi akan peraturan sopan santun. Aku hanya ingin memaki…

Lagi pula siapa? Atau apa itu Byakugan Corporation? Sebuah perusahaan? Atau mapia…?

Aku pun menuntun ibuku masuk kedalam rumah, rumah sederhana dengan halaman luas. Segera kurebahkan ibuku diranjang, raut wajahnya masih menampakan ketakutan…ibu kembali meringkuk sembari menekuk lututnya dan memeluknya erat. Matanya pun mengosong… entah sejak kapan, ibu terkadang akan bersikap seperti orang trauma yang berlebihan… dan aku benci ini… aku ingin melihatmu selalu normal ibu… aku ingin itu… egoiskah aku? Karena bahkan aku tidak tahu penyebab semua yang terjadi padamu ini…

Setelah aku menghibur ibuku dengan sedikit pelukan, aku beranjak memasuki kamarku yang didominasi warna bulan pucat. Kulemparkan tasku keatas kasur dengan sembarang. Aku pun melangkahkan kakiku dengan rasa yanga hampa, baru saja aku merasa bahagia, mengapa semuanya tetap saja ujung-ujungnya aku akan menangis. Orang selalu bilang bahwa setelah tertawa nantinya kau akan menanngis, namun aku tidak tertawa… aku hanya berbahagia apa itu salah? Aku… ya, sepertinya aku harus … ya, aku akui itu sama. Tertawa, bahagia itu..sama.

Kubuka jendela kamarku, dimana terpampang sebuah benda bulat beraksen pucat yang tergantung di langit…bulan. Bulan yang sendirian tanpa bintang satupun didekatnya, hanya sendiri dan… terbayangi oleh kabut hitam…

Apakah bulan itu sama denganku? Samakah…? Sendirian dan selalu berada dibelakang… hingga tak seorang pun bisa melihatku…

Angin malam nan dingin bersemilir menusuk pori-pori kulitku dengan ganas. Namun aku tak peduli, hatiku yang sakit terukit dalam bola mataku yang kian meredup…rasanya kosong…hampa…

Sungguh aku lelah… Tuhan, aku benar-benar lelah….

.

.

"Hinata…" suara seseorang yang semu, mungkin karena tersamarkan angin mengalihkan perhatianku.

Tampak seorang lelaki berobsidian sama seperti langit malam ini, hitam... dia menatapku. Aku memandangnya kosong tanpa ekspresi, namun entah aku yang salah lihat… atau memang kenyataan… aku melihat ia tersenyum sembari menggumamkan sebuah kata yang terdengar pelan namun terasa sangat… membuatku aneh.

Aku merasa seakan kekuatanku kembali. Bagai aku yang terbelenggu dalam kegelapan, dan ia datang menarik tangnku dengan lembut hingga aku mampu melihat cahaya walau… samar.

"Turunlah…" ucapnya lembut namun mengandung sejuta unsur magis kekuatan untukku.

Tanpa basa-basi lagi aku pun turun dari balkon rumahku. Kulangkahkan kakiku untuk menghampirinya yang tengah duduk di gazebo samping rumahku itu. Ia menepuk-nepukan tangannya pada tempatt kosong disampingnya, tanda bahwa ia menyuruhku untuk duduk disana.

Dengan pandangan yang masih tetap sama, aku mendekatinya dan mendudukan diri disana.

PLUuukk…

Aku merasakan sebuah tangan menyentuh kepalaku dan mengelus rambut indigoku perlahan.

Deg…

Rasa ini, aku… aku… apakah aku pernah merasakannya. Hal ini, sama ketika…

Kapan?

Tanpa kusadari, aliran sungai yang berasal dari airmataku telah tercipta dipipiku.

"Menangislah, kalau itu membuatmu tenang," ucapnya. "Namun berjanjilah, besok kau tidak akn menagis lagi… aku disini," lanjutnya masih mengelus helaian indigoku.

"Aa..ariga..hto…S-Sasu..ke…" ucapku yang masih menangis tersedu-sedu, namun tidak menimbulkan suara hanya badanku saja yang sedikit bergetar.

Lama kami berada dalam posisi seperti ini, lebih tepatnya karena aku yang menangis terlalu lama.

"Kau sudah selesai?" tanyanya lembut, tangannya masih tetap mengelus rambutku.

"Hm," aku menganggukan kepalaku sembari menghapus jejak airmataku menggunakan punggung tanganku.

Grep…

"A-apa ini?" tanyaku kaget karena Sasuke tiba-tiba menjulurkan tangannya ke leherku.

Aku pun menggenggam perlahan sebuah liontin berbentuk bintang dengan aksen biru. Aku bertaruh jikalau harga liontin ini sangatlah mahal…

"Selamat ulang tahun, Hime…" ucap Sasuke sembari memberikan senyum terbaiknya padaku. "Maaf, aku terlambat mengucapkannya…" jedanya. "Namun aku ingin memberikanmu kenangan terindah bersamaku…"

"…" aku hanya memiringkan kepalaku tanda tak mengerti.

"Lihatlah…!" ia mengacungkan telunjuknya kelangit dan aku mengikuti arah jari telunjuknya yang menunjuk sebuah binatang yang paling terang.

"Nama bintang yang paling terang itu adalah Canopus, namun aku lebih suka menyebutnya Alpha Carinae…" ucapnya. "Bintang Alpha Carinae memilki penampakan paling terang pada 28/29 Desember…". Lanjutnya. "Jadi aku ingin kau melihat bintang itu juga sama sepertiku…"

"Terima- kasih…" ucapku merasa sangat bahagia walau-

"Maaf juga, karena waktu tidak sesuai dengan yang telah aku rencana-"

Shuutt… aku menempelkan jari telunjukku dibibirku sendiri, sebagai tanda aku ingin bicara… "Ini adalah waktu yang indah… terima kasih…"

"Kau tahu arti liontin itu?" ia bertanya padaku sembari menatap liontin yang kini bertengger di dadaku.

"Apa?" tanyaku antusias.

"Liontin itu terbuat dari batu Turquoise," ucapnya. " Batu yang melambangkan kesuksesan, kebahagiaan, ketegaran, kesabaran dan keberuntungan," Lajutnya smbari menatap Alpha Carinae.

"Benarkah?" tnyaku sembari menatap objek yang sama dengan Sasuke.

"Hn, batu ini juga bisa digunakan untuk menenangkan pikiran dan melindungi penggunanya dari bahaya," ia menoleh padaku dan aku pun juga begitu.

"Kuharap kau selalu menjadi Hime-ku yang sepertia arti liontin itu…" ia tersenyyum penuh harap padaku.

Namun entah mengapa, aku justru merasa khawatir… aku tidak tahu mengapa…

*Monday…*

Hari ini hari yang menurutku sangat melelahkan, itu karena hati ini hari Senin dimana waktu pelajaran sekolah ditambah.

Aku mengedarkan pandanganku kesekitar kelasku, padahal bel tanda masuk telah berbunyi namun kenapa Sasuke belum juga datang. Apakah mungkin ia sakit? Atu ia ada acara menddak?

"Perhatian semuanya!" Intruksi seorang guru yang ku ketahui bernama Kurenai-sensei. "Tadi aku dapat kabar dari kepala sekolah bahwa… Uchiha Sasuke mohon undr diri dari KHS ini," lajutnya.

Semua siswa saling berckap-cakap tidak percaya, dan aku… aku hanya menatap kosong kearah whiteboard. Apakh aku tadi salah mendengar? Atau aku bermimpi karena tertidur dikelas, tapi aku bahkan masih sadar sampai sekarang. Lalu…

"Hah, baiklah… Hyuuga-san. Kau sekelompok dengan Temari dan Matsuri…" ucapnya benar-benar to the poin. "Hyuuga…Hyuuga-san…"

"H-hai, Kurenai-sensei," ucapku yang masih setengah sadar.

#FlashTime#

Bel tanda pulang pun berbunyi,aku dengan segera merapikan peralatan sekolahku dan berlari secepat yang aku bisa untuk sampai diruangan kepala sekolah.

Tok tok tok, aku dengan tergesa-gesa mengetuk pintu ruangan kepala sekolah. Dapat ku dengar si empunya mengumpat dari dalam ruangan tersebut. Setelah aku mendengar instrupsi 'masuk' aku pun membuka knop pintu ruangan trsebut.

"Tsunade-sama… tolong jawab pertanyaan saya…" ucapku to the point.

"Hah, ternyata kau Hyuuga-san. "Ya, baiklah. Ada apa kau sangat-"

"Kenapa Sasuke pindah?" aku menyelanya.

"Ya, ampun ternyata cuma-"

"Kenapa pindah seenaknya?"

"Dia-"

"Kenapa tiba-tiba? Bukankah dia baru saja masuk kesini…"

"HYUgaa…! Jangan seenaknya memotong pembicaraanku," bentak Tsunade-sama yang kesal padaku.

"Go-gomen…aku hanya…"

"Ya, ya..ya… itu urusanmu," ucapnya. "Aku sebenarnya tidak terlalu tahu mengapa. Namun yang aku tahu hanyalah… ia harus pergi keluar negeri karena perintah ayahnya…" Tsunade memberi jeda sedikit. "Bahkan aku pun tidak tahu kemana keluar negerinya…"

"Y-ya, sayamengerti Tsunade-sama. Saya mohon undur diri, maaf telah merepotkan…" aku pun melangkahkan kakiku lemas.

"Hinata…"

Aku pun membalikkan pandanganku menatap Tsunade-sama.

"Apa kau menyukainya…ah tidak, kau mencintainya?" tanyanya padaku..

Aku pun terdiam dan hanya menatap lantai yang kini menjadi tempat pijakan kakiku.

"aku tidak tahu… namun, aku ingin selalu bersamanya…" ucapku tanpa mengalihkan tatapanku. "Apa seperti ini namanya cinta?" aku menatap bola mata wanita paruh baya tersebut.

"Kau yang tahu bukan?" dia menatapku. "Coba kau tanya cermin hatimu tentang cinta dan takdir yang kau percayai" ucapnya sembari tersenyum penuh arti padaku.

Aku pun berlalu meninggalkan wanita paruh baya itu kembali dalam kesendirinnya dalam ruangan kerjanya.

Drret…drett… handphone dalam saku rok-ku berbunyi. Aku pun mengangkatnya tanpa berpikir.

"Moshi-moshi…" ucapku.

"Benarkah ini dengan keluarga Hyuuga Mioko?" tanya seseorang dari seberang telepon sana.

"Ya. Ia ibu saya, memang ada apa? Dan Anda siapa?" tanyaku terasa sangat gelisah.

"Saya Yamato dari kepolisian Konoha, ingin memberitahukan bahwa ibu anda telah tertabrak dua jam yang lalu di kawasan 'Hi Area' ucapnya.

"A-apa?" i-i…ibu….

.

.

.

Replay for riview:

N :

Kira : Hehe… aku gak tau aku sasushiper apa bukan, soalnya kadanga ku juga gak suka sama sasuke apalagi pas dia malah milih ngehancurin konoha… tapi aku tetep aja suka sama sasuke, soalnya aku suka orang yang dingin & cuek..

Sasu : Jangan sampai loe kaya Sakura yang cinta mati denganku…

Kira : #Hoek… oh iya thank bwt sarannya… baca & riview terus ya,,

Mamoka : terima kasih sudah riview… baca & riview terus ya…

Aiza-chan Kim: Terima kasih udah riview… haha… iya itu maksudnya 'menggoyangkan sedikit bahunya Hinata'…

Sasu : maklumin aja… ni author emanga kadang suka lupa kata-kata apa yang ingin dia ungkapkan. Ngomong aja dia kadang berbelit-belit gara-gara lupa satu kata…

Kira : #Sweetdrop tingkat akut … baru kali ini liat Sasu ngomong panajang x lebar x tinggi… V jgn bongkar rahasia juga dong! #sewot. Terus baca & riview ya…

sasuhina-caem :Oh getoo… gak apa kok. Terima kasih udah mau baca terus… rivie juga ya…

Saruwatari Yumi : Salam kenal juga…Halah… author yang satu ini emang masih sangat berantakan,,, hehe… thank untuk sarannya… rivie & baca terus ya…