Author: hani yuya
Judul : sakura's and team adventure
Rate : T
Pairing: sasusaku, naruhina, shikatema, saiino, nejiten, gaara,uchiha itachi, sasori.
Genre :Fantasi,Adventure,Au,Ah,Romance,Friendship.
Warning: seperti biasa cerita ini jauh dr kata sempurna,Typo bertebaran di mana-mana don't like don't read.
.
.
.
.
.
Tap Tap Tap
Hari menjelang siang. Namun sejak tadi pagi entah sudah berapa jam mereka melangkahkan kakinya di tengah hutan. Hanya terlihat pepohonan yang menjulang tinggi disisi kanan dan kiri. Sakura berjalan di samping Sasuke, sedangkan Naruto dan Hinata berjalan di belakangnya. Keringat membasahi wajah mereka. Rasa lelahpun terpancar dari wajah Naruto. Namun mereka semua tak bisa beristirahat jika sang pemimpin Uchiha Sasuke tidak memberi komando untuk istirahat.
Sakura yang berjalan disamping Sasuke, sesekali manik Emeraldnya melirik pemuda raven itu. Ia teringat sikap Sasuke yang berbeda dari biasanya tadi pagi. Sakura masih ingat jelas saat Sasuke menempelkan keningnya di jidat lebarnya saat dia baru bangun tidur tadi pagi. Semburat merah tipis tergores diwajahnya saat membayangkan moment indahnya tadi pagi. Tangannya menutup kedua matanya yang ikut memanas dan kepalanya digeleng-gelengkan guna berusaha menghilangkan bayangan Sasuke dari pikirannya. Sasuke yang sekilas melirik Sakura dari sudut matanya. Ikut menyipitkan mata melihat tingkah laku sakura yang aneh. Lalu menghela nafas panjang. Sedangkan Naruto dan Hinata hanya tertawa kecil melihatnya. Namun tiba-tiba...
Bruuk
Sakura terjatuh dengan tak elitnya. Dia terjatuh terselengkat akar pohon yang terbentang lurus di bawah kainya. Ini semua gara-gara dia tak memperhatikan jalan didepannya.
"Ittaiiiii " ringisnya. seraya memegang dengkulnya yang terbentur tanah.
"Hahahahaa... uupphhhh" Naruto tertawa terbahak-bahak. Namun mulutnya berhasil dibekap oleh tangan Hinata.
"Tch Bodoh " Sasuke mendecih. Dan langsung membantu Sakura berdiri "Kuharap kau lebih berhati-hati" wajahnya memerah dan hanya menganggukkan kepalanya.
Lalu Saku sosok kecil itu hanya menepuk jidatnya saat melihat tingkah bodoh Sakura. Kemudian dia terbang melihat pemandangan disekelilingnya. Tiba-tiba sebuah senyuman terlukis di wajahnya saat melihat pemandangan yang tak jauh didepannya. Saku langsung berbalik terbang mendekati Sakura dan duduk dipundaknya.
"Sakura... tidak jauh lagi kita akan sampai di Desa Tsuchi. Mungkin sekitar 20 km dari sini. Sebaiknya kita bergegas" ucapnya seraya mengedarkan jari telunjuknya ke depan. Semuanya hanya mengangguk mengerti dan langsung melanjutkan perjalanan.
.
.
-000-
.
.
Setelah berjalan selama satu jam akhirnya mereka sampai di desa Tsuchi. Namun mereka heran kenapa keadaan di desa ini sepi sekali. Sakura mengedarkan pandangnya sekeliling jalan yang ia lalui. Berjejer beberapa rumah gubuk di samping kanannya dan hamparan bunga dan kebun di samping kirinya. Tidak ada tanda-tanda kehidupan di sini.
"Hei Teme apakah kau tak merasa aneh dengan keadaan Desa ini?" tanya Naruto tiba-tiba."Sejak tadi kita tidak menemukan seorangpun disini" pandangannyapun meneliti sekeliling.
"Hn" jawabnya singkat. Tapi cukup untuk membuat Naruto paham apa yang dimaksud Sasuke. Sedangkan Hinata dan Sakura hanya diam menyimak pembicaraan Sasuke dan Naruto.
Tiba-tiba cahaya coklat terpancar dari kalung yang digunakan Sakura. Kali ini kalungnya terangkat seolah menunjukkan keberadaan letak kepingan jiwa yang mereka cari.
"Wah... bercahaya lagi. Lihat reaksi kalung ini, seperti jarum kompas petunjuk arah. Apa yang harus kulakukan Saku?" tanya Sakura pada sosok kecil itu.
Saku mengangguk mengerti"Kita ikuti kemana arah kalungmu bergerak" jawabnya. Lalu mereka semua berjalan mengikuti arah yang ditunjukkan kalung Sakura.
.
.
-000-.
.
.
Kini terlihat hamparan tanah kosong yang sangat luas. Cahaya coklat kalung Sakura pun menghilang membuat langkah Sakura terhenti. Manik emeraldnya menyipit, Sakura melihat sesuatu di depan sana. Betapa terkejutnya dia saat melihat seorang wanita berambut blonde panjang dikuncir satu dan seorang pemuda berambut hitam klimis sedang dikepung oleh sepuluh, ah bukan sepertinya lebih banyak lagi manusia atau bukan dia tak tau. Karena jarak pandangnya yang cukup jauh beberapa meter dari tempatnya berdiri.
Sakura tak dapat membedakan apakah didepan sana, mereka orang yang sudah mati atau orang yang senasib dengannya. Namun entah kenapa firasatnya mengatakan kalau gadis blonde dan pemuda berambut klimis itu salah satu temannya.
"Nee... Sasuke-kun kita harus menolong wanita dan pria yang sedang dikepung itu" ucapnya menatap Sasuke.
Sasuke mengernyit. Sebelah alisnya terangkat"Hn. Untuk apa kita menolongnya?" jawabnya cuek.
"Entahlah. Firasatku berkata kalau kita harus menolong mereka berdua"
Sasuke hanya diam mendengar penuturan Sakura.
"Ayolah Teme ada benarnya juga kata Sakura-chan. Sebaiknya kita menolong mereka. Firasatku pun mengatakan kalau mereka mirip seseorang yang kita kenal, ttebayo" ucap Naruto seraya menepuk pundak sahabatnya itu.
"Tidak... mencari kepingan jiwa lebih penting daripada menolong mereka. Itu akan membuang waktuku secara percuma" jawabnya sinis.
"Tck. Kau benar-benar tak punya hati ttebayo " Naruto mendelik sebal Sasuke."Biar aku saja yang pergi menolongnya sendiri" lanjutnya. Lalu berlari ke arah kedua sosok yang tak dikenalnya itu.
"Naruto-kun berhati-hatilah" teriak Hinata khawatir. Naruto hanya melambaikan tangan kanannya tanpa menoleh.
Sasuke masih tak bergeming dari tempatnya.
"Haaa..." Sakura hanya mendesah panjang kecewa dengan sikap cuek Sasuke.' Tak kusangka dia benar-benar berhati dingin' batinnya. "Jika kau tak mau biar aku saja yang membantu Naruto" lanjutnya. Lalu dia melangkah pergi. Namun langkahnya terhenti saat tangannya ditarik Sasuke.
"Bodoh... kau cari mati. He. Sakura!" ucapnya kesal.
Sakura menepis tangan Sasuke. Karena rasa kesal terhadap sikap Sasuke, dia jadi berani menatap tajam manik Onyx Sasuke dengan manik Emeraldnya"Aku bukan orang yang berhati dingin sepertimu Sasuke-kun, yang hanya bisa berdiam diri saat seseorang membutuhkan pertolongan" jawabnya masih menatap Onyx Sasuke.
Ctak... dahi Sasuke mengkerut matanya berkilat marah mendengar sindiran Sakura. Greep... ditariknya lagi pergelangan tangan Sakura. Kali ini lebih erat memegangnya. Sampai Sakura meringis kesakitan.
Onyxnya memandang tajam emerald Sakura "Sekali lagi kau bicara kubungkam mulutmu" ucapnya. Jantung Sakura berdetak kencang seakan ingin copot dibuatnya.'Seraammm' batinnya menjerit takut. Keberanian yang muncul tiba-tiba hilang sekejab. Buru-buru Sakura menganggukkan kepalanya. Lalu Sasuke melepas genggamannya dari pergelangan tangan Sakura.
Sreeetttt
Dikeluarkan pedang miliknya dari sarungnya. "Peganglah" ucapnya seraya memberikan pedangnya pada Sakura. Sakura mengernyit. "Tck... cepat peganglah, pakailah pedang ini untuk melindungi dirimu saat aku tak berada disisimu" Sasuke menarik telapak tangan Sakura dan memindahkan pedangnya ke telapak tangannya dengan paksa.
"Eh...?" Sakura memiringkan kepalanya bingung. Dia masih tak mengerti.
Sasuke menghela nafas panjang "Bodoh... Saku kuharap kau bisa menjaganya sebentar selama aku tak ada" perintahnya pada sosok kecil di bahu Sakura. Saku hanya mengangguk mengerti. Sedetik kemudian Sasuke berlari menyusul Naruto membantu dua sosok tak dikenalnya.
"Heeeee...!" manik emeraldnya membulat, mulutnya menganga saat melihat Sasuke berlari dengan tangan kosong menyusul Naruto.'Bodoh...! kenapa dia malah memberikan pedangnya padaku' gumamnya pelan yang tak sengaja didengar Hinata.
"Karena dia menghawatirkanmu Sakura-chan" ucap hinata.
"Maksudmu?" Sakura masih belum mengerti.
Hinata tersenyum."Di dunia ini kita tidak bisa memastikan kapan musuh akan datang menyerang secara tiba-tiba. Sedangkan kau dan aku tidak terlalu bisa berkelahi. Kurasa wajar jika Sasuke mencemaskan keadaanmu saat tak berada disampingnya" jelasnya. Sakura masih mencerna penjelasan Hinata.
.1
.2
.3
"Heeeeee!" teriaknya kencang.
Bluussssh
Wajahnya langsung merah padam.
"Intinya dia takut terjadi sesuatu padamu jika dia meninggalkanmu sendirian. Tck... kenapa otak cerdasmu tidak berfungsi disini sich, padahal Hinata pun menyadarinya" ucap Saku frustasi.
'Masa sich? Jadi dia mencemaskanku? ini sulit kupercaya. Orang sedingin Sasuke mencemaskan diriku?' Sakura membatin. Pandangannya tertuju pada Sasuke yang sedang berlari di depan matanya.'Aku sudah keterlaluan, bagaimana iniiii... apalagi dia pergi tanpa pedangnya. Apakah dia akan baik-baik saja?huwaaaa... kalau terjadi sesuatu padanya aku akan sangat merasa bersalah' jeritnya dalam hati. Sakura menjambak rambutnya frustasi.
Sasuke kini berlari sejajar di samping Naruto.
"Hehehe. Aku tau pasti kau akan datang Teme" ucap Naruto seraya menoleh ke arah Sasuke dengan cengiran rubah di wajahnya.
"Hn. Perhatikan langkahmu Dobe. Kuharap kau tidak membuatku susah nanti" ucapnya tanpa menoleh sedikitpun.
Naruto menyipitkan matanya. Kini manik shappirenya kembali menatap kedepan "Apa kau lupa kemampuan bertarungku Teme? kupastikan kalau aku pun tak butuh bantuanmu" jawabnya yakin dengan seringai diwajahnya.
"Hn... kita harus bisa menyelesaikan ini dengan cepat" ucapnya. Lalu menambah kecepatan berlarinya.
"Yeah" jawabnya semangat. Naruto pun menambahkan kecepatannya.
Akhirnya mereka sampai di hadapan segerombol sosok yang mereka anggap musuh itu. Ya. Menyerang 2 orang dengan beramai-ramai itu sudah membuktikan kalau 2 sosok yang terpojok itu bukanlah musuh mereka.
Melihat salah satu sosok yang bergerombol itu menyerangnya, Naruto langsung mengeluarkan pedang miliknya dari sarungnya. Naruto menajamkan tatapannya terhadap sosok dihadapannya. Yang benar saja, ternyata sosok mereka semua mayat hidup kecuali 2 sosok yang ingin mereka tolong. Tanpa pikir panjang Naruto menebas siapa saja yang menghalangi jalannya. Dengan lincahnya dia menghindari perlawanan dari lawannya.
Sedangkan Sasuke sendiri dengan gesit melompat menghindari panah yang melesat di depannya. Dia pun tak kalah lincah menghindari lawannya yang tiba-tiba menghunuskan pedang kearahnya.
Lalu Saat salah satu musuhnya mengarahkan pedang dari arah belakang, dengan lincahnya Sasuke menahan pergelangan tangannya lalu dipelintirnya. Akhirnya pedang musuhnya pun jatuh diatas tanah.
Bruukk
Sasuke lalu membanting tubuh musuhnya sampai menghantam tanah dengan keras. Dengan gerakan cepat dia mengambil pedang musuhnya dan langsung menghunuskan pedang tepat dibagian dadanya.
Wuusshhh
Seonggok mayat hidup yang ditikam pedang oleh Sasuke tadi berubah menjadi butiran debu yang kini terbang dibawa angin. Kini Sasuke menebas satu persatu mayat hidup itu dengan pedang yang berada ditangannya. Sedangkan 2 sosok yang dilindunginya hanya diam membatu melihat dua pemuda yang menolongnya. Satu persatu mayat hidup itu mati dan menjadi debu. Dan beberapa menit kemudian tak tersisa lagi. Naruto kembali menyarungkan pedangnya. Lalu sebuah suara menginterupsi mereka...
"Naruto... Sasuke" panggil gadis blonde yang diselamatkan oleh mereka. Karena sejak awal mereka serius bertarung melawan musuhnya sampai tak menyadari kalau 2 sosok yang dilindunginya ternyata mengenal mereka berdua. Sasuke dan Naruto langsung menoleh ke arah sumber suara.
Keduanya terbelalak tak percaya dengan apa yang dilihatnya"Ino...! Sai...! ternyata itu kalian?" ucap Naruto seraya mendekati keduanya. "Hei kenapa kalian bisa berada di sini?" ucapnya bingung. Ini membuat Naruto tak habis pikir. Setelah Sasuke. Sekarang teman dekat lainnya yang ia temui disini. Dia heran kenapa bisa kebetulan begini?.
"Akhhh... seharusnya aku yang berkata demikian padamu Naruto" cerca sang gadis blonde.
"Setahuku kalian sedang mengikuti lomba antar sekolah di Osaka bukan?" tanya Sasuke tiba-tiba.
"Ya. Kau benar Sasuke" ucap Sai dengan senyum diwajahnya. Dia memang selalu tersenyum.
"Lalu kenapa kalian bisa berada disini. ttebayo?" Naruto melipat kedua tangan di dadanya dan memiringkan kepalanya.
"Itu... "
"Ino dan Sai mengalami kecelakaan saat bus yang mereka tumpangi terperosok ke dalam jurang dengan ketinggian 25m sekitar 5 hari yang lalu di dunia nyata. Ada empat orang yang selamat termasuk mereka berdua" Sosok kecil itu tiba-tiba berada di tengah-tengah mereka dan seenaknya menyela perkataan Ino.
Sakura dan Hinatapun berlari menghampiri Sasuke dan Naruto. Kini mereka berdua berdiri tepat dihadapan semuanya. Sebuah gambar terpapar jelas di udara. Semuanya terbelalak tak percaya saat 2 sosok lainnya terekam di sana.
Cairan bening menetes di kelopak lavender milik Hinata "Neji nii" ucapnya lirih. Naruto langsung memeluk Hinata yang kini menangisi kakaknya Neji yang berada di dalam bis yang sama dengan Ino dan Sai tumpangi.
"Jadi kalian juga satu bis dengan Tenten dan Neji?" tanya Naruto.
"Ya" ucap Ino sendu.
"Bagaimana keadaan mereka saat ini?" lanjut Naruto dengan nada panik.
"Entahlah. Saat kami membuka mata. Kami berdua sudah berada disini" jawab Sai.
Tangan Naruto mengepal menahan perasaan sedih yang menghinggapi hatinya. Melihat kakak dari kekasihnya dan juga teman dekatnya yang belum jelas nasibnya saat ini.
"Ehem... mereka berdua masih hidup" Saku menginterupsi obrolan mereka. Otomatis semua mata tertuju padanya. "Sama seperti Ino dan Sai. mereka berdua kini terdampar di dunia bayangan dalam keadaan kritis di dunia nyata. Tapi mereka tidak berada di desa ini. Mungkin di desa lainnya. Kita semua pun akan bertemu dengannya kelak. Karena mereka berdua salah satu teman seperjalanan kita" ucapnya seraya menjelaskan.
"Hei... kau tidak berkata bohong kan Saku-chibi" Naruto menyipitkan mata curiga pada sosok kecil itu.
"Tck... aku tau segalanya tentang dunia ini melebihi siapapun. Jangan pernah meremehkan kemampuanku. Dan jangan menambahkan 'chibi' di akhir namaku" jari telunjuknya diarahkan ke depan wajah naruto dengan tatapan marah. Naruto,Hinata,Sasuke,Sai dan Ino mereka semua bernafas lega mendengar penuturan Saku. Setidaknya masih ada harapan
Clinggg
Kalung Sakurapun bercahaya kembali. Begitu pula kalung milik Ino. Pandangan Ino langsung tertuju pada Sakura."Kau si pemegang kunci?" ucapnya terkejut.
Sebuah kristal berwarna coklat muncul dari kalung yang dipakai Ino. Dan langsung tertanam di kalung yang dipakai Sakura. Kini bulatan kecil yang berada di bandul sayap sebelah kanan yang sebelumnya berwarna putih kini berubah warna menjadi coklat.
"Uwaaahh... Ino ternyata kau memiliki kepingan jiwa ttebayo" Naruto langsung memeluk Ino saking senangnya. Namun deathglare dari Sai membuat Naruto bergidik ngeri dan melepaskan pelukannya.
"Anoo... bagaimana bisa kau memiliki kepingan jiwa?" tanya Sakura penasaran.
"Entahlah, saat kami berada di sini kepingan jiwa itu sudah berada dikalungku. Kau tau, itu yang membuat kami susah. Bayangkan saat hari pertama sampai hari ini, selama 40 hari kami terus dikejar2 oleh para mayat hidup itu" Ino mendengus kesal.
"Saku bisa jelaskan pada kami. kenapa Ino bisa memiliki kepingan jiwa?" tanya Sakura pada sosok kecil.
"Siapapun bisa memilikinya Sakura chan. Tak terkecuali orang yang sudah mati dan menjadi mayat hidup disini" ucap sosok kecil yang mengambang di udara itu."Satu keping jiwa telah kita dapatkan. Sebaiknya kita lanjutkan perjalanan mencari keping jiwa selanjutnya" lanjutnya .
Sakura menatap Sai dan Ino "Karena tujuan kita sama kalian berdua ikutlah dengan kami" ucapnya.
"Ah. terimakasih forehead?" ucap Ino pada Sakura.
Tanda segi empat tercetak di dahi Sakura "Tck. Namaku Haruno Sakura. Bukan forehead. Dasar pig" balas Sakura.
Kini giliran Ino yang kesal"Pig kau bilang?" Emerald dan Shappire saling menatap. Aura gelap terlihat dikeduanya.
"Sudahlah cantik jangan buat masalah dengan si jelek" ucap Sai menengahi gadisnya.
Namun emosi Sakura semaki bertambah meluap"Siapa yang kau bilang jelek hah! Dasar muka pucat" ucap Sakura dengan nada tinggi. Wajahnya memerah menahan marah. Sedangkan Sai tidak membalas ucapan Sakura. Hanya senyum palsu menghiasi wajahnya. Naruto tertawa kaku melihat kedua temannya itu adu mulut dengan Sakura. Sedangkan Sasuke dengan muka datarnya menghela nafas panjang.
"Tck. berhenti berkelahi. Kita lanjutkan perjalanan" ucapnya menengahi. Pandangan teralihkan pada Sakura"Hei...Kembalikan pedangku" ucapnya seraya mengulurkan tangannya.
Sakura langsung mengalihkan pandangannya pada tangan kanannya yang masih memegang pedang pemberian Sasuke."Ini" ucapnya seraya mengembalikan pedangnya."Percuma kau memberikan pedangmu padaku. Toh, aku tidak bisa menggunakannya. Dan... terimakasih" ucapnya malu-malu.
Sekilas Sasuke menatap gadis bersurai pink dengan senyuman tipis di wajahnya ."Hn... kalau begitu mulai besok kau harus belajar menggunakan pedang" ucapnya singkat dengan wajah yang kembali datar."Dan aku sendiri yang akan mengajarimu" lanjutnya seraya memasukkan kembali pedang kesarungnya.
Manik Emerald Sakura membulat"Heee!" teriaknya kaget.
"Aku tidak menerima penolakan!. Ini semua demi kebaikanmu. Kau harus bisa melindungi dirimu sendiri. Dan Itu semua akan membatu untuk mengurangi bebanku" ucapnya datar.
"Tapi Sasuke kun, aku sama sekali tak pintar berkelahi. Jadi kurasa tak perlu repot mengajari- ku" ucapnya tersendat karena Sasuke menatapnya tajam. Sakura menelan ludahnya.
"Hn. tidak ada seorangpun yang boleh menolak perintahku. Sakura" Onyxnya memandang intens manik Emeraldnya.
"Ba-baiklah" keringat dingin memenuhi wajahnya. Lalu akhirnya dia menyerah dan mengikuti kemauan Sasuke.
"Hn" seringai kemenangan menghiasi wajah Sasuke. Memang tidak ada yang bisa menolak kemauan Uchiha.
Ino dan Sai mengernyit karena melihat tingkah laku Sasuke yang menurutnya 'Aneh'. Mereka berdua kenal betul siapa Sasuke. Dia tipe orang yang tidak mau bersusah payah ikut campur dalam masalah orang. Apalagi terlibat langsung dalam hal yang merepotkan.
'Hanya demi gadis bersurai pink itu. Dia mau direpotkan. Sasuke jangan bilang kau menyukainya? Wah... ini menarik! Seorang Uchiha Sasuke tertarik pada seorang gadis' batin Ino. Lalu terkekeh pelan.
.
.
-000-
.
.
Brr brrrr brrrr
Air hujan mengguyur Desa Ame ini setiap harinya. Awan hitam selalu menyelimuti langit diatasnya. Tidak ada sosok Matahari yang bersinar terang dipagi hari, Karena rinai hujan tak pernah berhenti jatuh dari langit yang gelap. Hanya ada kilatan petir dan suara gledek yang bergemuruh di sekitar Desa Ame.
Seorang pemuda berambut nanas berjalanan di tengah hujan menggunakan mantel hujannya. Ditangan kanannya menenteng sebuah kantung plastik yang di dalamnya terdapat tumbuh-tumbuhan segar. Langkahnya tiba-tiba terhenti saat melihat seekor kucing menggigil kedinginan di tengah derasnya hujan. Lalu dipungutnya kucing kecil ke dalam pelukannya. Dia mendongakkan kepalanya ke langit yang kini gelap gulita. Tetesan rinai hujan jatuh menetes mengenai wajahnya.
"Sampai kapan aku akan terus disini?. Apakah aku tak akan pernah bisa melihat langit biru lagi" gumamnya lirih.
"Shikamaru. Kenapa kau malah diam di tengah hujan? Aku sudah lama menunggumu tau. Ayo cepat kita pulang kerumah" seorang wanita blonde. terdapat banyak kunciran dirambutnya menghampiri pemuda bernama Shikamaru itu dan menarik tangannya.
"Tck. Mendokusai " jawabnya malas.
Langkah Temari terhenti tiba-tiba ."Nee Shika Kuharap si pemegang kunci segera datang" gumamnya pelan.
Tangan Shikamaru terangkat memegang dagu sang gadis dan menatap matanya"Ya. aku juga berharap demikian" Cup. Dikecup bibir manis gadisnya. Mereka berdua berciuman di tengah derasnya hujan. Mereka hanya bisa menunggu kedatangan si pemegamg kunci. Dan membawa mereka melihat langit biru yang sudah lama tak dilihatnya. Serta membawa mereka kembali kedunianya.
.
.
.
TBC
Terimakasih yang udah R&R ..buat ranggagian67 terimakasih atas sarannya dan untuk pertanyaanmu akan terjawab di chap depan . minna aku minta kritik dan saran lagi ya. ARIGATOU
