Title : Beautiful Life

Cast : DBSK, dll.

Pair : Yunjae, dll

Genre : Humor, drama, romance

Disclaimer : These charactersare not mine, they belong to themselves. But this story is mine.

Warning : Yaoi, typos, dll. DON't LIKE DON't READ

CHAPTER 3

SECOND DAY

JUNG MANSION

Seperti pagi-pagi sebelumnya, kegiatan keluarga Jung pagi ini tidak jauh berbeda. Setiap pagi, terutama di hari biasa yang bukan hari libur atau weekend seperti sekarang ini, seluruh kegiatan akan berpusat di meja makan dan dapur. Dapat kita lihat sang kepala keluarga Jung yang dengan santainya duduk di meja makan membaca koran dengan sesekali meminum kopinya sambil menunggu sang istri tercinta menyelesaikan masakannya.

Di sebelahnya terlihat si bungsu keluarga Jung yang sedang bermain PSPnya sambil sesekali mencomot cemilannya. Cemilan? Sebelum sarapan? Oke, salahkan saja eommanya yang memasak terlalu lama, padahal sejak 18 tahun yang lalu, tepatnya sejak si bungsu Jung tersebut lahir, eommanya seharusnya tahu bila kebutuhan pangan untuknya berbeda dengan yang lain. Bila sepuluh menit saja perutnya tidak diisi makanan, maka perutnya akan berteriak-teriak kelaparan, sedangkan sekarang sudah lima belas menit dia menunggu masakan eommanya yang tak kunjung selesai.

"Makanan sudah siap, ayo sarapan. Gege, simpan koran itu dan kau Minnie, simpan mainanmu tersebut atau eomma akan membuangnya," suara sang nyonya rumah, atau biasa dipanggil nyonya Jung Heechul itu pada suami dan anak bungsunya. Sepertinya keluarga tersebut sudah terbiasa dengan gaya berbicara sang ratu di rumah tersebut yang selalu disertai ancaman yang tidak main-main. Daripada menambah masalah dengan membuat sang Cinderella murka, maka dengan cepat Hangeng melipat korannya dan Changmin memasukkan PSP kesayangannya ke dalam tas sekolahnya.

Setelah itu, mereka bertiga memulai sarapan. Bertiga? Tunggu, bukankah anggota keluarga Jung terdiri dari empat orang? Kemana si sulung keluarga Jung?

"Maaf, aku terlambat. Aku bangun kesiangan," tiba-tiba sebuah suara menginterupsi ketenangan tiga orang yang sedang melangsungkan sarapan tadi. Mendengar suara tersebut refleks ketiga orang tersebut menoleh ke asal suara dan sangat terkejut. Bagaimana tidak terkejut, jika penampilan sang anak sulung yang biasanya berwibawa, keren, tampan dunia akhirat, dan selalu sempurna dalam berpenampilan terlihat sangat berantakan. Rambut yang biasanya selalu di tata rapi kini terlihat masih basah dan berantakan, dari yang terpasang miring, kerah kemeja kusut, dan jangan lupakan jas yang warnanya tidak sesuai dengan celana bahan yang sekarang ini sedang dipakai Yunho.

Merasa mendapat tatapan yang kurang enak dari ketiga orang yang sudah duduk terlebih dahulu di kursi makan, Yunho yang entah memang sedang tidak connect atau apa hanya bisa mengucapkan kata "Wae?," dengan tampang polosnya. Hei, tidak tahukan kau, Yunho jika tampangmu saat itu lebih tepat dikatakan bodoh daripada polos.

Heechul yang mendapat tatapan polos nan bodoh dari putra sulungnya tersebut hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Biasanya sang nyonya rumah sangat anti jika ada orang termasuk dirinya sendiri meninggalkan meja makan sebelum selesai, namun melihat kondisi putra sulungnya yang cukup mengenaskan tersebut, Heechul membuat pengecualian. Heechul pun beranjak dari tempat duduknya dan naik ke lantai dua dimana kamar Yunho berada. Yunho hanya memperhatikan eommanya naik dengan masih memasang tampang bodohnya tersebut.

"Ada apa dengan eomma?" tanya Yunho pada dua orang yang masih memandangnya dengan tatapan tidak enak. Mendapat pertanyaan seperti itu, Hangeng dan Changmin hanya memberikan tatapan kasihan pada Yunho dan kemudian melanjutkan sarapannya tanpa menjawab pertanyaan Yunho sepatah katapun.

Merasa tidak mendapat jawaban dari kedua orang yang ditanya, Yunho hanya mengendikkan bahunya dan mulai memakan sarapannya. Yunho lantas mengambil sesendok nasi dan memasukkannya ke dalam mulutnya dan mengunyahnya. Baru saja makanan tersebut akan menyentuh kerongkongannya, tiba-tiba saja namja bermata musang tersebut merasakan seseorang melempar sesuatu tepat ke kepalanya sehingga membuatnya kaget sampai tersedak.

"Uhuk uhuk si uhuk siapa yang uhuk me uhuk lempar uhuk uhuk jas uhuk uhuk ini?" Yunho terbatuk-batuk sambil berusaha menyingkirkan benda yang berada di kepalanya yang ternyata sebuah jas tersebut. Jengkel, tentu saja. Siapa yang tidak jengkel jika acara makannya diganggu dengan tingkah menyebalkan seperti itu. Namun, kejengkelan tersebut hilang saat Yunho menemukan pelaku pelemparan yang tidak lain tidak bukan adalah eommanya sendiri.

"Wae? Ada yang salah?" tanya Heechul dengan nada sadisnya ketika mendapati Yunho hampir membentaknya. Yunho yang mendengar itu hanya menelan ludahnya gugup, berusaha menelan kembali kata-kata sumpah serapah yang hampir keluar dari mulutnya. Ya, satu-satunya yang Yunho takuti di rumah itu adalah eommanya sendiri yang menurutnya seperti penyihir jahat berkedok manusia. Entahlah kadang Yunho, dan juga Changmin tentu saja merasa heran, mengapa appanya yang kalem dan cenderung pendiam tersebut bisa dan mau saja menikahi penyihir jahat berkedok manusia ini. Bahkan kadang duo putra keluarga Jung tersebut berpikir bahwa mungkin saja eommanya memaksa appanya untuk menikahinya, mungkin sambil mengancam menggunakan benda-benda tajam seperti pisau dapur atau benda-benda mengerikan lainnya yang hanya ada di dalam imajinasi anak kecil yang habis saja menonton film bergenre thriller.

"Eomma, bisakah memberikan jas ini padaku secara baik-baik? Lagipula untuk apa eomma repot-repot mengambilkan jas lagi? Aku sudah menyiapkan jasku sendiri," protes Yunho dengan nada yang dibuat selembut dan sedikit manja berharap eommanya tersebut tidak akan marah padanya, namun harapan kadang selalu berbeda dengan kenyataan. Kenyataannya, pertanyaan Yunho tersebut malah mengakibatkan munculnya empat tanda siku di kepala Heechul. Yunho yang menyadari itu langsung menelan ludahnya gugup.

"Ya, sudah untung eomma mau repot-repot mengambilkan jas itu untukmu. Lihat saja penampilanmu sekarang. Kau tidak ada bedanya dengan beruang-beruang liar di hutan," jawab Heechul yang dengan sadisnya menyamakan anak sulungnya dengan beruang-beruang liar yang hidup di hutan yang tidak terawat seperti seperti beruang yang hidup di kebun binatang.

Mendengar itu, Yunho langsung melihat dirinya sendiri dan baru menyadari arti tatapan aneh dari Hangeng, Changmin, dan Heechul saat pertama kali melihatnya pagi ini. Jujur saja, Yunho mengakui bahwa dirinya memang sangat berantakan. Wajar saja, pikir Yunho jika dirinya berpenampilan seperti itu pagi ini karena dia yang biasanya membutuhkan waktu kurang lebih dua jam untuk bersiap-siap, hari ini dia hanya melakukan semua rutinitas tersebut dalam sepuluh menit.

Yunho menghela napasnya perlahan. Pikirannya kembali melayang ke kejadian kemarin yang membuat moodnya benar-benar hancur. Bertemu dengan namja cantik yang menurut Yunho adalah namja jadi-jadian, tagihan credit cardnya yang melonjak drastis karena dipakai oleh Changmin, ditambah stres karena calon istri yang harus dicarinya tersebut. Sebagai pelampiasannya, setelah pulang dari kantor, Yunho langsung memainkan seluruh kaset game berkelahi yang ada di playstation tiganya. Dan tanpa sadar dia memainkan game tersebut sampai jam empat subuh, bahkan joystick yang digunakan Yunho dengan brutal tersebut sudah harus disimpan di gudang atau dijual ke pedagang barang rongsokan karena sudah tidak dapat dipakai lagi.

Selagi melamun akan nasibnya tersebut, Heechul medekati Yunho dan membantu Yunho merapikan dari, kemeja, dan juga rambut Yunho. Ya, sebagai satu-satunya yeoja, ah maksudnya sebagai satu-satunya namja berstatus uke di rumah itu, sudah menjadi kewajiban Heechul untuk menghandle pekerjaan-pekerjaan seperti itu. Setelah semua selesai, Heechul dan semuanya kembali menlanjutkan sarapan yang sempat tertunda hanya karena kehadiran Jung Yunho. Suasana sarapan berlangsung tenang ketika tiba-tiba suara Heechul menginterupsi kegiatan mereka semua.

"Yunho-ah, besok hari sabtu, kantor libur, dan eomma minta kau mengosongkan waktu di malam hari," titah Heechul dengan nada mutlak.

"Wae? Memangnya ada apa, eomma?" tanya Yunho sambil memandang eommanya dengan tatapan bingung. Tidak biasanya eommanya memintanya mengosongkan waktu kecuali memang untuk keperluan yang penting dan mendesak.

"Besok kita akan ada pertemuan dengan keluarga calon istrimu," jawab Heechul santai, namun malah membuat Yunho membulatkan matanya. Astaga, bagaimana bisa dia sampai lupa mengenai perjanjian itu? Dan hari ini adalah hari kedua. Demi seluruh makanan yang sudah masuk ke perut Changmin. Yunho benar-benar merutuki dirinya sendiri yang bodoh karena dengan gampangnya menyanggupi taruhan dengan orangtuannya itu. Mencari calon istri dalam tiga hari? Heck, bahkan mendaki gunung Everest masih seratus kali lebih mudah dibandingkan hal itu, pikir Yunho.

"Eomma, eomma dan appa benar-benar serius mengenai hal ini?" tanya Yunho frustasi. Dirinya sungguh berharap dengan sangat bahwa ini adalah mimpi dan suatu saat dia akan terbangun dan setelah itu, dia berjanji tidak akan bertingkah macam-macam yang bisa membuat eommanya murka.

"Tentu saja," jawab Heechul, sekali lagi dengan nada santainya. Yunho tidak tahu saja bahwa memang tujuan orangtuanya adalah menjodohkan dia. Mencari calon istri dalam tiga hari hanya akal-akalan Hangeng dan Heechul untuk mengelabuhi Yunho. Memang merupakan hal yang sangat mustahil, dan Hangeng maupun Heechul sangat tahu bahwa dengan karakter Yunho yang playboy, hal itu akan menjadi sangat mustahil.

Yunho menghela napasnya dan memilih diam. Selera makannya mendadak hilang. Dia sudah tidak sanggup berkata-kata lagi untuk memperjuangkan nasibnya, lagipula siapa yang bisa membantah sang ratu yang memiliki prinsip semua kata-katanya adalah mutlak. Seketika suasana menjadi hening kembali, namun kita semua dapat melihat senyum, ah tidak lebih tepatnya seringai kemenangan tercetak jelas di bibir Heechul. Selesai makan, Hangeng membuka suaranya.

"Yunho-ah, kau tidak lupa kan jika nanti siang ada pertemuan penting dengan Tuan Chen?" Bukan apa-apa, melihat penampilan Yunho hari ini, Hangeng menjadi sangsi jika Yunho sudah mempersiapkan semuanya dengan baik. Padahal pertemuan siang ini akan menjadi pertemuan penting untuk merintis usaha mereka di negeri Cina. Namun, sepertinya kesangsian Hangeng ini tidak berlaku lagi, walaupun terkesan serampangan dalam masalah pasangan, namun untuk urusan pekerjaan, namja tampan bermata musang ini tidak pernah main-main. Dia hanya tidak ingin menjatuhkan perusahaan yang sudah susah payah dibangun oleh appanya sejak masih muda dulu.

"Ne appa. Aku sudah menyiapkan semuanya. Tuan Chen sudah setuju dengan desain hotel yang kukirim minggu lalu dan setelah itu dia langsung meminta rencana anggaran biaya beserta rencana kerja dan syarat yang diperlukan. Semuanya sudah diselesaikan oleh Yoochun dan Yonghwa beserta timnya," jawab Yunho serius. Sangat berbeda dengan imejnya ketika berhadapan dengan Heechul tadi.

"Hm, baguslah. Appa harap kau bisa memenangkan tender ini. Ini akan mejadi peluang bagi perusahaan kita untuk melebarkan sayap ke Cina," jawab Hangeng puas.

"Ne appa. Aku akan berusaha dengan baik," jawab Yunho. Dia tahu appanya dari dulu sangat ingin mengembangkan usahanya di tanah kelahirannya tersebut. Namun, entah bagaimana ceritanya sehingga appanya malah merintis usahanya di Korea, mungkin karena appanya menikahi eommanya. Ya, Jung Corporation merupakan perusahaan di bidang design and build. Singkatnya, perusahaan ini merupakan sebuah perusahaan yang bergerak di bidang perencanaan dan pelaksanaan bangunan.

Tunggu, sepertinya dari tadi kita tidak mendengar suara si bungsu keluarga Jung. Ah, tentu saja. Saat ini namja denga mismatch eyes itu dengan bercinta dengan kekasih tercintanya yang tidak lain adalah makanan. Jika sudah berkutat dengan makanan, si bungsu yang mewarisi sifat evil eommanya dengan sangat baik itu tidak akan peduli dengan sekelilingnya.

Selesai makan, mereka semua segera bersiap-siap melakukan aktivitas mereka. Hangeng dan Yunho pergi ke kantor dengan mobil yang terpisah, semua itu tentu saja agar Yunho lebih leluasa untuk pergi kemana pun setelah pulang kantor. Lagipula Yunho lebih senang mengemudikan sendiri mobil audi hitamnya tersebut, berbeda dengan Hangeng yang lebih senang diantar oleh supir.

Sedangkan Changmin juga telah bersiap berangkat ke sekolahnya dengan mobil Audi yang sama dengan miliki Yunho namun berbeda warna itu. Sebenarnya saat Changmin berusia tujuh belas tahun, Hangeng sudah membelikan mobil sebagai hadiah ulang tahun untuk Changmin. Namun, karena tidak terima jika mobil Hyungnya lebih mewah, maka Changmin merengek pada Heechul untuk membelikan mobil yang minimal sama dengan milik Yunho, dan berakhirlah dengan taruhan yang dimenangkan telak oleh Changmin.

Entahlah kenapa keluarga ini sangat suka bertaruh, namun isi taruhan Heechul dengan Changmin saat itu adalah, jika Changmin berhasil mendapatkan nilai sempurna dalam seluruh mata pelajarannya, maka Heechul akan mengabulkan keinginan Changmin tersebut. Salahkan Heechul yang melupakan kejeniusan anak bungsunya tersebut. Pada dasarnya Changmin memang sudah jenius, hanya dengan belajar sedikit lebih serius, maka nilai sempurna bukanlah hal yang terlalu sulit untuk didapatkan.

BALLOON KINDEGARTEN

Di sebuah taman kanak-kanak, terlihatlah seorang namja cantik sedang berbincang-bincang atau lebih tepatnya menasihati seorang anak kecil yang cukup tampan.

"Moonbin-ah, nanti pulang sekolah, hyung yang akan menjemput Moobin, bukan appa. Jadi jika hyung belum datang, Moonbin tunggu sebentar, ne? Hyung baru saja menemukan restoran baru, jadi nanti siang kita makan di sana saja, otte?" tanya sang namja cantik pada anak kecil tersebut.

"Ne, Binnie akan menunggu Jae noona. Tapi noona jangan telat lama-lama, ne?" Jawab anak kecil tersebut sambil mengangguk-anggukkan kepalanya lucu.

"Aish, sudah hyung bilang jangan panggil 'noona'. Panggil hyung, ne?" kata Jaejoong.

"Ani,"

"Aish, ya sudahlah, terserah kau saja. Hyung bisa terlambat jika harus berdebat denganmu. Hyung akan usahakan tidak terlambat, karena itu Moobin ingat pesan hyung, ne? Jangan kemana-mana sebelum hyung menjemput. Arraseo?" kata Jaejoong lagi.

"Ne, noona," jawab Moonbin.

"Anak pintar. Jja, masuklah," kata Jaejoong lagi. Setelah memastikan Moonbin masuk ke dalam sekolahnya, namja cantik kita yang ternyata adalah Kim Jaejoong ini langsung berjalan menuju ke halte bus. Beruntung saat itu bertepatan dengan datangnya bus, sehingga Jaejoong tidak harus menunggu lama, dan bisa segera berangkat ke kampusnya.

JUNG CORPORATION

Begitu sampai di kantornya, Yunho langsung memeriksa ulang semua keperluan yang diperlukan untuk meeting dengan kliennya nanti siang. Yunho langsung memanggil Yoochun dan juga Yonghwa untuk memastikan lagi bahwa semuanya sudah siap.

Yonghwa atau lebih tepatnya Jung Yonghwa adalah sepupu Yunho. Yonghwa adalah anak dari adik laki-laki Hangeng. Sebenarnya, Yonghwa lebih tertarik untuk menjadi musisi. Namun, karena larangan orangtuanya, akhirnya Yonghwa memutuskan untuk bekerja dengan Yunho saja, toh dari kecil dia dan Yunho memang cukup dekat walaupun jarang bertemu. Walaupun demikian, Yonghwa masih bermain musik dan menciptakan beberapa lagu dengan anggota bandnya. Hal ini dilakukannya sebagai pekerjaan sampingannya saja, walaupun lebih menjurus ke arah menyalurkan hobi.

Sebagai orang yang bertanggung jawab penuh atas proyek hotel yang mungkin sebentar lagi akan ada di tangan mereka, Yunho memeriksa semuanya dengan sangat teliti. Yunho benar-benar beruntung memiliki orang-orang kepercayaan yang benar-benar dapat bekerja dengan baik. Yoochun dan Yonghwa memang tidak bisa diremehkan kemampuannya dan Yunho sangat bersyukur akan hal itu. Dengan ini, Yunho benar-benar yakin dia akan memenangkan tender besar tersebut.

"Bagus, aku sangat salut dengan kerja kalian. Aku yakin kita akan memenangkan tender tersebut," kata Yunho dengan wajah sumringah.

"Tentu saja, Yun. Kau bisa mempercayai kami," jawab Yoochun.

"Ngomong-ngomong, Hyung, jam berapa kita akan bertemu dengan Tuan Chen?" kali ini Yonghwa yang angkat bicara.

"Nanti jam setengah satu siang. Tuan Chen sekalian mengajak kita untuk makan bersama sambil menjelaskan proyek tersebut. Entahlah, aku merasa dari awal Tuan Chen tertarik dengan desain yang kubuat. Kuharap rencana anggaran biaya yang kita buat ini dapat meyakinkannya," jawab Yunho.

"Kuharap juga begitu, Hyung. Dimana kita akan bertemu dengan Tuan Chen?" tanya Yonghwa lagi.

"Di Min Jiang Restaurant. Jja, sebaiknya kalian bersiap-siap dan kita berangkat sekarang. Ini sudah pukul setengah dua belas," kata Yunho.

"Ne Hyung/Yunho," jawab Yonghwa dan Yoochun bersamaan.

SUNKYUNKWAN UNIVERSITY

Kim Jaejoong, namja cantik ini baru saja menyelesaikan kegiatannya hari ini. Sebetulnya, hari ini Jaejoong tidak ada kuliah, hanya saja dosen pembimbingnya menyuruhnya untuk asistensi mengenai desainnya hari ini karena mulai besok dosen tersebut harus pergi ke Jepang selama seminggu untuk urusan pekerjaannya. Karena itu, hari ini dia bisa pulang lebih awal dan menjemput Moonbin. Kebetulan saja, appa Moonbin sedang tidak bisa menjemput karena hari ini beliau harus menemui klien penting.

Segera saja Jaejoong melangkahkan kakinya menuju ke gerbang universitas, namun tiba-tiba saja sebuah suara menginterupsinya.

"Jaejoong-ah," mendengar itu, kontan saja Jaejoong menolehkan kepalanya ke arah suara. Betapa terkejutnya dia ketika mendapati ternyata Jeong Hoon, orang yang diam-diam ditaksirnyalah yang memanggilnya.

"Jeong Hoon hyung? Waeyo?" kata Jaejoong sambil menetralisir rasa gugupnya.

"Ah ani. Kau sudah akan pulang? Bagaimana kalau kita makan siang bersama? Dengan Junsu juga," kata Jeong Hoon.

Jujur saja, Jaejoong sangat ingin menerima ajakan Jeong Hoon saat ini, namun dia ingat saat ini dia masih harus menjemput Moonbin. Karena itu, dengan sangat terpaksa dia harus menolak ajakan Jeong Hoon.

"Mian Hyung, aku hari ini harus menjemput Moonbin," jawab Jaejoong.

"Moonbin? Ah, anak laki-laki yang sering dititipkan padamu itu ya?" tanya Jeong Hoon.

"Ne Hyung,"

"Ah, aku mengerti, kalau begitu lain kali saja. Salam untuk Moonbin kalau begitu," kata Jeong Hoon sambil tersenyum.

"Ne Hyung, akan kusampaikan," jawab Jaejoong sambil balas tersenyum.

Dengan menahan rasa kecewanya, akhirnya Jaejoong berjalan menuju halte bus. Namja cantik tersebut duduk sambil menunggu bus yang akan mengantarkannya ke sekolah Moonbin. Tidak lama kemudian, bus yang ditunggu pun tiba, dan Jaejoong langsung naik ke bus tersebut.

BALLOON KiNDEGARTEN

Seorang bocah kecil yang tampan saat ini sedang menunggu di depan gerbang sekolahnya dengan wajah yang ditekuk. Terlihat jelas, wajahnya terlihat sangat bosan. Namun, bila dipikir kembali, tentu saja bocah itu bosan, pasalnya sudah hampir lima belas menit dia menunggu 'noona'nya yang katanya akan menjemputnya, namun sang 'noona' tidak kunjung terlihat oleh retina matanya.

"Moonbin-ah, maaf hyung terlambat. Tadi hyung ada urusan sedikit," mendengar suara itu, wajah si bocah tampan yang tadi ditekuk berubah menjadi wajah sumringah.

"Jae noona," panggil bocah tampan tadi pada 'noona'nya yang sudah datang menjemputnya.

"Ne, mian karena hyung terlambat. Kajja, kita makan siang, kau pasti sudah lapar," ajak Jaejoong.

"Ne noona. Kajja," jawab Moonbin.

MIN JIANG RESTAURANT

"Huan ying kuai le (selamat datang)," sapa pelayan yang ada yang ada di retaurant tersebut ketika mendapati seorang namja dan seorang anak kecil masuk ke restoran mereka. Restoran ini memang baru saja dibuka, dan Jaejoong sangat ingin mencoba makanannya atas rekomendasi dari Seungri, temannya di kampus.

Setelah masuk, Jaejoong langsung mengajak Moonbin duduk di tempat yang disediakan. Suasana restoran tersebut cukup ramai mengingat ini adalah jam makan siang. Sebelum membuka buku menu, Jaejoong sempat memperhatikan interior di dalam restoran ini. Restoran ini didominasi oleh warna merah, di beberapa tempat dihiasi dengan sekat-sekat kayu berlubang yang berisi ukiran-ukiran yang bernuansa oriental, sementara rumah lampunya didesain menyerupai lampion-lampion yang sering digunakan saat perayaan tahun baru. Tidak mau berlama-lama lagi, Jaejoong segera memesan makan untuk dirinya sendiri dan untuk Moonbin. Sambil menunggu pesanan datang, Jaejoong dan Moonbin berbincang-bincang.

"Noona, besok noona datang kan?" tanya Moonbin yang malah membuat Jaejoong mengerutkan keningnya.

"Datang? Datang kemana?" tanya Jaejoong balik dan hal itu malah membuat Moonbin mengerucutkan bibirnya.

"Noona lupa? Besok sekolah Binnie akan mengadakan pertunjukkan seni di Bolero Hotel," jawab Moonbin. Kemudian mendadak Jaejoong ingat bahwa sebulan yang lalu dia berjanji pada Moonbin akan menonton pertunjukkan seni sekolahnya karena Moonbin akan menyanyi di acara tersebut.

"Ne, hyung janji. Besok hyung akan pergi bersama dengan eomma Moonbin karena appa Moonbin sepertinya tidak bisa datang," jawab Jaejoong yang juga ingat bahwa dia akan datang bersama dengan eomma Moonbin. Sebenarnya, Jaejoong kasihan dengan Moonbin yang sering ditinggal orangtuanya seperti itu. Namun, apa boleh buat, mereka juga harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan Moonbin. Lagipula jika malam hari, selelah apapun orangtua Moonbin, mereka selalu ada untuk Moonbin walau hanya sekedar menemani Moonbin mengerjakan pekerjaan rumahnya, makan malam bersama, dan menemani Moonbin tidur. Setidaknya itu lebih baik daripada tidak sama sekali.

"Ne, noona harus datang. Pokoknya Binnie akan marah jika noona tidak datang," kata Moonbin mengancam Jaejoong yang malah membuat Jaejoong terkekeh.

"Arraseo, hyung pasti datang," jawab Jaejoong sambil mengacak-acak rambut Moonbin dengan gemas.

"Ya! Noona! Jangan acak-acak rambut Binnie, nanti Binnie jadi jelek," marah Moonbin yang malah membuat Jaejoong tertawa makin keras. Pasalnya, Moonbin bukannya terlihat menyeramkan namun malah terlihat menggemaskan di mata Jaejoong.

"Noona, Binnie mau ke toilet sebentar," kata Moonbin tiba-tiba.

"Kalau begitu, ayo hyung antar," kata Jaejoong.

"Tidak usah, noona di sini saja. Binnie bisa sendiri. Binnie kan sudah besar," jawab Moonbin sok dewasa.

"Tapi bagaimana jika nanti kau tersesat?" Tanya Jaejoong. Bukan melebih-lebihkan, hanya saja restoran tersebut memang cukup luas dan Jaejoong takut jika nanti Moonbin lupa jalan kembali ke mejanya.

"Noona, Binnie bukan anak kecil. Tidak usah khawatir. Noona tunggu saja makanan kita datang," kata Moonbin sambil beranjak dari tempat duduknya. Akhirnya Jaejoong memutuskan untuk mengalah. Toh, jika nanti Moonbin tersesat dia bisa minta tolong pada pelayan untuk mencari Moonbin.

Setelah menyelesaikan urusannya di toilet, Moonbin menuju wastafel untuk mencuci tangannya. Tentu saja dia menuju wastafel yang khusus untuk anak-anak mengingat tingginya yang belum mencukupi untuk menggunakan wastafel orang dewasa. Saat sedang mencuci tangannya dengan bersih, tanpa sengaja Moonbin mendengar percakapan dua orang namja dewasa. Moonbin mengamati dua orang tersebut. Cara berpenampilan kedua orang tersebut sama seperti orang-orang kaya yang ada di dalam drama yang sering ditonton oleh eommanya. Akhirnya, Moonbin memilih diam dan mendengarkan orang tersebut berbicara.

"Ya! Bagaimana ini, Chun?" tanya seorang namja bermata musang pada temannya.

"Aku juga tidak tahu, Yun. Aku baru saja akan menelepon ZhouMi. Ah, tersambung, tunggu sebentar, Yun. Yoboseo?"

Dua orang yang sedang berbincang tersebut tidak lain tidak bukan adalah Jung Yunho dan Park Yoochun. Saat ini mereka sedang bertemu dengan klien mereka yang bernama Tuan Chen tadi. Namun karena Yunho terlalu semangat, Yunho lupa jika kliennya tersebut adalah orang Cina yang kurang pandai berbahasa Korea dan Inggris. Sementara diantara dirinya, Yoochun, dan Yonghwa tidak ada yang bisa berbahasa Mandarin. Saat menyadari hal tersebut, Yunho dan Yoochun langsung permisi menuju ke toilet meninggalkan Yonghwa sendirian bersama Tuan Chen.

Penasaran mengapa Yonghwa ditinggal? Tentu saja alasan utama adalah karena tidak sopan meninggalkan klien sendiri. Selain itu adalah karena Yonghwa adalah maknae. Prinsip Yunho dan Yoochun adalah seorang maknae harus dikorbankan dalam situasi mendesak seperti ini. Sekarang ini Yunho sedang menunggu Yoochun yang sedang menghubungi Zhoumi, karyawan perusahaan Jung Corporation yang berasal dari Cina dan sedang menangani proyek lain. Dalam hati Yunho berdoa, semoga saja Zhoumi sedang tidak ada perkerjaan dan bisa datang secepatnya ke sini dan membantu Yunho.

"Yun, saat ini Zhoumi sedang berada di Jeju untuk memantau proyek Eternal Apartment. Bagaimana ini?" Tanya Yoochun frustasi. Pasalnya satu-satunya orang yang diharapkan malah sedang berada di luar pulau. Yunho yang mendengar itu langsung patah semangat, sambil berdoa dalam hati semoga ada keajaiban.

"Hah, matilah kita. Bagaimana ini?" tanya Yunho patah semangat.

"Bagaimana kalau kita mencari orang di restoran ini saja? Kau tahu, ini adalah restoran Cina, siapa tahu saja salah seorang pelayan atau tamu bisa berbahasa Mandarin dengan baik," kata Yoochun memberi ide. Belum sempat Yunho menjawab, suara anak kecil terdengar menginterupsinya.

"Hyungdeul," panggil anak tersebut yang ternyata adalah Moonbin.

"Ne?" hanya Yoochun yang menanggapi ucapan Moonbin tadi. Sementara Yunho bersikap cuek pada anak itu, dia berpikir bahwa anak itu paling hanya ingin minta tolong sesuatu. Namun, kalimat Moonbin berikutnya membuat Yunho mulai memperhatikan bocah asing tersebut.

"Hyungdeul perlu seseorang yang bisa bicara bahasa Mandarin?" tanya Moonbin.

"Ne, apa kau bisa?" tanya Yunho asal, berharap bocah asing ini bisa berbahasa Mandarin. Namun, sesaat kemudian dia merutuki kebodohannya. Bocah sekecil ini, seandainya dia bisa bahasa Mandarinpun dia tidak akan mengerti istilah-istilah rumit yang kemungkinan besar tidak dimengerti oleh anak ekcil seusianya.

"Tidak," jawab Moonbin dengan polos. Yunho dan Yoochun yang mendengar itu langsung sweatdrop dan merasa ingin membenturkan kepalanya ke wastafel di toilet tersebut. Jika anak itu tidak bisa berbahasa Mandarin dengan baik, kenapa dia harus tanya dan mencampuri urusan orang lain.

"Tapi sepertinya noonaku bisa," lanjut Moonbin. Oke, kata-kata Moonbin tersebut langsung membuatnya mendapat perhatian seratus persen dari duo namja tampan itu.

"Benarkah? Noonamu bisa?" tanya Yoochun memastikan.

"Sepertinya. Noona sering membantu Moonbin mengerjakan PR Bahasa Mandarin dan Bahasa Jepang Moonbin," kata Moonbin. Taman Kanak-Kanak tempat Moonbin belajar merupakan sekolah elit bertaraf internasional, wajar saja jika murid-muridnya diajari tiga bahasa sekaligus, yaitu Bahasa Mandarin, Bahasa Jepang, dan Bahasa Inggris.

"Benarkah? Lalu dimana noonamu sekarang?" tanya Yunho. Satu-satunya harapan Yunho saat ini hanyalah seorang bocah kecil asing ini. Semoga saja bocah ini bisa membawa keberuntungan untuknya, harap Yunho dalam hati.

"Noona sedang menunggu makanan di luar," jawab Moonbin.

"Bisa kau antar hyungdeul ke tempat noonamu?" kali ini Yoochun yang bertanya dan dibalas oleh anggukan Moonbin. Setelah itu, Moonbin mengantarkan kedua namja asing tadi ke tempat Jaejoong.

"Noona," panggil Moonbin yang membuat Jaejoong menoleh ke arahnya.

"Ah, kau sudah selesai? Kenapa lama sekali?"

"Noona, tadi di toilet Binnie bertemu dengan hyungdeul," kata Moonbin mengacuhkan pertanyaan Jaejoong.

"Hyungdeul? Siapa?" tanya Jaejoong lagi, berpikir bahwa mungkin Moonbin bertemu dengan kerabatnya atau bagaimana.

"Annyeong," suara Yunho kemudian menginterupsi perbincangan antara anak kecil dan 'noona'nya tersebut. Mendengar itu, Jaejoong kemudian menoleh ke asal suara. Dirinya terbelalak melihat orang tersebut, begitupun dengan Yunho yang sangat terkejut melihat ternyata 'noona' yang dimaksud Moonbin adalah namja yang memiliki andil besar dalam rusaknya mood seorang Jung Yunho kemarin.

"KAU," Kata Yunho dan Jaejoong bersamaan sambil menunjuk ke arah masing-masing lawannya. Yoochun yang melihat hal itu berusaha menengahi. Saat ini sudah sangat mendesak, jika Yunho terbawa emosinya karena bertemu dengan namja cantik yang kemarin sudah membuat mood sahabatnya hancur kemarin, matilah dia. Dapat dipastikan proyek ini gagal total.

Oleh karena itu, sebelum Yunho dan Jaejoong sempat membuka mulutnya lagi, Yoochun langsung menginterupsinya.

"Ah, permisi. Maaf aku hanya ingin bertanya, tapi apakah kau bisa berbahasa Mandarin?" tanya Yoochun pada Jaejoong. Mendengar pertanyaan tersebut, Jaejoong hanya memandang Yoochun dengan tatapan bingung.

"Ne, aku bisa sedikit," jawab Jaejoong dengan ragu-ragu pada akhirnya.

"Kalau begitu, bisakah ikut kami sebentar?" tanya Yoochun.

"Kemana?" tanya Jaejoong yang masih bingung.

"Aku tidak bisa menjelaskannya sekarang karena keterbatasan waktu, tapi intinya bisakah kau menjadi translator kami, sebentar saja?" kata Yoochun dengan pandangan memohon.

"Tapi," baru saja Jaejoong akan menolak, tapi tangannya langsung saja ditarik oleh Yunho menuju meja mereka, dimana Tuan Chen dan Yonghwa sedang menunggu. Mendengar suara Yoochun langsung membuat Yunho sadar akan tujuannya semula dan berusaha mengesampingkan perasaan pribadinya.

Melihat Yunho dan Yoochun kembali dari kejauhan, Yonghwa tersenyum lega. Pasalnya, Tuan Chen sudah memasang muka bosannya. Mungkin terlambat semenit saja bisa dipastika Yunho akan kehilangan proyek tersebut dan membuat appanya kecewa. Melihat itu, Yunho yang masih berjalan sambil menarik Jaejoong langsung berkata pada Jaejoong.

"Aku sebenarnya masih marah atas kejadian kemarin dan aku tahu kau pun juga masih jengkel denganku. Aku tidak peduli setelah ini kau mau berbuat apa padaku, aku akan menerima semuanya asal kau tidak membunuhku. Karena itu, aku mohon padamu untuk sekali ini, bantu aku menjadi penerjemah demi proyek yang menentukan kelangsungan hidup dan mati appaku," kata Yunho melebih-lebihkan, berharap Jaejoong akan sedikit mengerti.

"Arraseo, akan kulakukan sebisaku. Tapi bisakah kau lepaskan tanganmu, Tuan Pemarah? Aku bisa jalan sendiri," kata Jaejoong.

Mendengar panggilan itu, mendadak muncul empat tanda siku di pelipis Yunho, namun Yunho berusaha mengontrol dirinya. Dilepaskannya tangan Jaejoong setelah sampai di mejanya dan memberi isyarat pada Jaejoong untuk segera berbicara pada Tuan Chen.

"Ni hao, xiansheng. Wo jiao Kim Jaejoong. Wo shi (Permisi Tuan, saya Kim Jaejoong, saya adalah)," baru sempat mengatakan hal tersebut, Jaejoong teringat sesuatu.

"Hei, siapa namamu?" Bisik Jaejoong pada Yunho dengan cepat. Dan langsung dijawab dengan cepat juga oleh Yunho.

"Ah, duibuqi xiansheng, wo shi Jung Yunho de fanyizhe. Hen kaixin jian nin. Duibuqi, wo wan le (Ah, maaf Tuan, saya adalah penerjemah untuk Jung Yunho. Senang bertemu dengan anda. Maaf saya terlambat)," lanjut Jaejoong lagi.

"Meiquanxi. Wo jiao Chen Yi Ru. Qing zuo ba (Tidak masalah. Saya Chen Yi Ru. Silakan duduk)," balas Tuan Chen sambil tersenyum.

"Hao, xie xie ni (Baik, terima kasih)," jawab Jaejoong yang kemudian duduk. Melihat Jaejoong duduk, Yunho, Yoochun dan Yonghwa juga ikut duduk setidaknya mereka bisa sedikit bernapas lega. Sementara Moonbin juga ikut dibawa Yoochun menuju meja mereka dan saat ini sedang duduk di sebelah Yoochun sambil memakan ice cream yang tadi sudah dipesannya.

Selama setengah jam lebih Jaejoong menjadi penerjemah antara Yunho dan Tuan Chen. Ada beberapa istilah yang memang tidak dimengerti oleh Jaejoong, namun sejauh ini meeting tersebut cukup sukses. Setelah Tuan Chen pulang, Yunho, Yoochun dan Yonghwa menghela napasnya, lega karena hampir saja mereka kehilangan proyek besar ini karena alasan konyol. Sekarang tinggal menunggu persetujuan saja dari Tuan Chen dan Jung Corporation sukses mendapatkan proyek besar tersebut.

"Dengar, em Kim jaejoong-ssi. Aku benar-benar berterimakasih padamu. Sesuai janjiku tadi, kau boleh melakukan apapun padaku atau meminta apapun padaku, asal kau tidak membunuhku. Bukan apa-apa, tapi aku 99% yakin akan mendapatkan proyek besar ini, jadi tidak lucu jika kau membunuhku sekarang," kata Yunho membuka pembicaraan.

Mendengar itu, Jaejoong menatap Yunho tajam dan kemudian berkata, "Sayangnya, satu-satunya keinginanku adalah membunuhmu, Tuan Jung. Tapi karena kau pengecut, jadi aku hanya akan meminta satu hal,"

Oke, Yunho sudah cukup bersabar menghadapi namja yang menurutnya namja jadi-jadian ini. Dia merasa sudah cukup menahan diri setelah sebelumnya disebut 'Tuan Pemarah" dan sekarang namja menyebalkan ini menyebutnya 'pengecut'. Oke, Yunho ingin sekali mencincang pemuda di depannya ini dengan pisau steka serta garpu yang tersedia di mejanya. Namun, sekali lagi Yunho mengingatkan dirinya jika baru saja namja menyebalkan ini menyelamatkan perusahaannya.

"Oke, cepat katakan apa maumu?" tanya Yunho dengan nada yang dibuat setenang mungkin. Padahal dalam hati dia sedang mengeluarkan sumpah serapah pada namja yang menyebalkan ini.

"Sederhana. Jika kau tidak sengaja bertemu denganku dimanapun, jangan pernah mencoba manyapaku atau berlagak sok kenal di hadapanku, termasuk dalam kondisi mendesak dan satu-satunya orang yang bisa menolongmu adalah aku, seperti tadi," jawab Jaejoong dengan kesal. Jujur saja, dia masih sangat kesal dengan pemuda di hadapannya ini karena kejadian kemarin yang mengharuskannya meminjam uang pada Jeong Hoon. Memang saat itu, Jeong Hoon hanya berinisiatif menolongnya, tapi Jaejoong merasa hal tersebut sudah merusak citranya di depan orang yang disukainya tersebut.

"Arasseo, dan aku berharap, peraturan itu berlaku juga untukmu," kata Yunho menyetujui sambil mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.

"Arasseo, jadi perjanjian ini deal?" tanya Jaejoong sambil membalas uluran tangan Yunho.

"Deal," jawab Yunho. Setelah itu, Jaejoong dan Yunho melepaskan tangan masing-masing.

"Moonbin-ah, kau sudah lapar? Ayo kita segera makan. Gara-gara ahjussi jelek ini kita jadi kelaparan," setelah berjabat tangan dengan Yunho, Jaejoong langsung mengajak Moonbin yang masih duduk manis di sebelah Yoochun dan Yonghwa kembali ke mejanya.

Oke, baru saja Yunho berjanji mengabaikan Jaejoong, namun hal itu sepertinya tidak bisa berlaku sekarang setelah mendengar julukan baru yang dilontarkan Jaejoong untuknya, apalagi kalau bukan kata 'ahjussi jelek' yang baru saja diucapkan oleh Jaejoong pada Moonbin.

"Ya, namja jadi-jadian. Kau bilang aku apa?" tanya Yunho setengah berteriak. Namun teriakan Yunho tersebut hanya dianggap angin lewat oleh Jaejoong yang langsung menggandeng Moonbin untuk kembali ke mejanya. Sementara itu, Yoochun dan Yonghwa yang dari tadi menyaksikan kejadian itu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dan melanjutkan makan siang mereka.

TO BE CONTINUED

TWITTER : Kei_1091

Holaaaa.

Bosen? Tapi ini sesuai janji saya di chapter kemarin, chapter ini udah saya panjangin tiga kali lipat dari chapter kemarin.

Di chap ini banyak clue-clue buat chapter-chapter berikutnya. Cuma sepertinya belum bisa ditebak. Hehe. Adakah yang udah bisa nebak? Hehehe.

Maaf sepertinya saya belum bisa janji update cepet, tapi akan diusahakan. Saya juga mohon maaf, chapter ini tanpa editing karena baru selesai tadi jam tiga pagi, jadi typo(s) bertebaran.

Review, please? Hehe.

Q : Yunjae momentnya kapan?

A : Chapter depan, menurut rencana bakal ada Yunjae momentnya, tapi masih sedikit. Tapi prediksinya mulai chapter depan, di tiap chapter Yunjae momentnya bakal ada makin banyak. Tunggu aja. Hehehe.

SPECIAL THANKS TO :

Kyuhyuk07 – ichigo song – irengiovanny – jirania – Ido Kimberly.G – desi2121 – saltybear – CheftyClouds – J-twice – jenny – guest – vic89 – marcia rena