"Nona!"

Sakura berhenti berlari kecil saat seseorang memanggilnya. Oh ayolah, hanya ada Sakura di tempat ini (jalanan), jadi bukan salahnya bila ia mengira panggilan 'Nona' itu untuknya.

Wanita merah muda itu membalik tubuhnya. Di sana, di hadapannya, sebuah Ferarri hitam terparkir manis. Seorang pria berpakaian formal memakai kecamata hitam dan kemeja putih dipadu setelan Jas hitam, keluar dari dalam mobil.

Pria itu berjalan mendekati Sakura lalu membungkuk sopan dan tersenyum ramah. "Tuan muda menunggu anda di rumah. Mari."

Sakura menatap pria di hadapannya waspada, kakinya perlahan melangkah mundur menjauhi pria yang tak dikenalnya itu. "Tuan muda? Aku bahkan tidak mengenalmu." Nada suaranya datar dan terkesan sinis.

Pria tampan berambut hitam yang diikat asal kebelakang itu membuka kacamata hitamnya. Ia tersenyum. "Namikaze- sama meminta Nona kembali ke rumah. Beliau memerintahkan saya untuk menjemput Nona. Mari, Nona." Tangannya terulur hendak meraih tangan Sakura namun gagal karena Sakura lebih dulu menarik tangannya.

Wanita merah muda itu memeluk mapnya, menatap pria itu dengan tatapan sama seperti beberapa menit lalu. "Kau, suruhan Namikaze- sama?" Tanyanya meyakinkan dengan tatapan menyelidik, ia tidak boleh percaya pada orang asing. Pria itu menggangguk mengiyakan. Samar-samar Sakura menghela napas lega. Setidaknya ia tidak perlu bertemu dengan pria itu, ia bisa menitipkan map ini pada orang suruhan Bosnya. Sakura belum bisa bertatap muka dengan Naruto, ia takut hilang kendali dan memeluk Naruto seperti waktu itu.

"Boleh aku minta tolong?" Tanya Sakura tiba-tiba setelah diam cukup lama. Satu alis pria itu naik, tampak bingung dengan pertanyaan Sakura. Dengan jarak yang cukup jauh Sakura mengulurkan map di tangannya pada pria di depannya. "Tolong berikan ini padanya."

Pria itu tampak berpikir sesaat kemudian ia menghela napas. Sepertinya ia terpaksa harus melakukannya dengan sedikit paksaan, ia tidak mau ambil resiko, Tuan muda'nya bisa memecatnya kalau ia gagal membawa wanita ini. "Tentu Nona." Ucapnya seraya tersenyum. Dengan pelan namun pasti ia berjalan mendekati Sakura.

Sakura menarik napas dalam lalu mengeluarkannya perlahan. Dengan kaku ia mengulurkan mapnya pada pria itu. Kedua matanya membulat saat tiba-tiba pria itu menarik tangannya lalu memelintirnya ke belakang. Sakura memberontak dan berteriak, ia tidak bisa bergerak, pria itu mengunci kedua tangan. "Lepas! Apa yang kau lakukan!?" Wanita itu menggerakkan tubuhnya liar berusaha melepas cekalan tangan pria itu. Sakura panik. Seharusnya dari awal ia tidak percaya pada pria asing ini.

"Maaf, aku terpaksa." Gumam pria itu pelan di tengkuk Sakura. Sakura masih terus berusaha melepaskan diri dengan cara yang sama, menggerak-gerakkan tangan yang dicekal pria asing itu.

Iruka, nama pria berambut hitam diikat asal itu, membawa paksa Sakura mendekati mobil. Pria bertubuh tinggi tegap itu membuka pintu belakang lalu memaksa Sakura masuk ke dalam.

.

.

.

.

.

Naruto © Masashi Kishimoto. Sejelek dan senistanya fic ini tolong jangan benci Pair/Chara di dalamnya.

.

.

.

.

.

.

.

...

Dari sepuluh menit yang lalu Sakura tidak henti-hentinya menggedor pintu ganda di depannya, wanita berambut merah muda itu terus berteriak meminta pada siapa saja untuk membuka pintunya. "Buka pintunya! Siapapun tolong buka pintunya!" Sakura bersandar lemas pada daun pintu, kedua tangannya meremas rambutnya kuat, ia menangis ketakutan. Di mana ini? Ini hampir sama dengan kejadian beberapa tahun yang lalu, saat di mana ia di sekap oleh segerombolan pemuda bermotor (gang motor) di gudang tempat penyimpanan hasil panen di desa terpencil untuk memancing Naruto dan berniat memukuli pemuda itu beramai-ramai.

.

.

.

Di sebuah kamar kecil sempit bercahaya minim seorang pemuda menggeram marah pada seseorang di sebrang telepon. "Berengsek! Apa yang kau inginkan dariku?! Dia tidak tahu apa-apa jangan libatkan dia dalam masalah kita bajingan! Sialan kau Yahiko!" Dia melempar ponsel layar kuningnya ke tempat tidur dan bergegas mencari jaket yang tergantung di belakang pintu. Dengan cepat ia berlari keluar kamar.

Mencari pemukul baseball di tempat penyimpanan barang tak terpakai Naruto kemudian berlari mendekati motor Yamaha RX - King tua milik paman Jiraya setelah menemukan benda yang dia cari.

Jiraya dan Tsunade yang mendengar dengung motor tua mereka keluar dari dalam rumah. "Mau ke mana Naruto? Ini sudah malam. Kau juga harus ingat, kau harus diam di rumah dan istirahat Naruto."

Naruto menatap mereka sekilas dan menggas motor. "Aku tahu paman. Tapi ini penting." Motor Naruto melaju dengan cepat dan menukik tajam saat berpapasan dengan Karin yang baru pulang bekerja.

Karin memarkir motornya dan menatap Jiraya serta Tsunade berganti. "Mau kemana dia?" Ia bertanya sembari melepas helemnya.

Tsunade menggeleng, wajahnya tampak cemas. "Kami tidak tahu. Tapi sebelum pergi Naruto marah-marah pada seseorang lewat ponselnya. Bibi cemas Karin. Bibi mencemaskannya. Kau tahukan? Kondisinya dalam keadaan buruk akhir-akhir ini." Jelas Tsunade dengan raut wajah hampir menangis.

Mendengar penjelasan Tsunade Karin jadi ikut cemas. Bagaimana kalau terjadi sesuatu? Pikirnya sembari mengigit bibir bawahnya.

Jiraya meminta kunci motor Karin dan mulai menghidupkan mesin motornya. "Aku akan menyusulnya."

Setelah Jiraya pergi cepat-cepat Karin masuk ke dalam rumah meninggalkan Tsunade yang berdiri mematung menatap suaminya yang pergi menyusul Naruto.

Karin mengacak kamarnya, mencari apapun yang bisa ia jadikan petunjuk kemana perginya Naruto. Setelah mencari di setiap sudut kamar akhirnya ia menemukan ponsel layar kuning Naruto yang terbelah dua di bawah tempat tidur. Dengan tergesa Karin memasang ponsel itu dan menghidupkannya. Ia mengecek panggilan masuk serta panggilan keluar. Karin menutup mulutnya terkejut saat melihat siapa yang baru-baru ini menelfon Naruto, Yahiko, pemuda ketua gang motor si pengedar narkoba. Yang Karin tahu hubungan Yahiko dan Naruto tidak begitu baik, Yahiko membenci Naruto karena Naruto membuatnya masuk bui selama dua tahun, dan ia baru keluar bui belum lama ini. Apa Yahiko berniat membalas dendam? Dengan cepat dan terburu-buru Karin menghubungi Kiba, salah satu teman berandal Naruto. Karin menjelaskan semua yang ia tahu dan meminta tolong pada Kiba dan teman-temannya untuk mencari Naruto. Kiba tampak marah dan menyumpahi serta mengumpati Yahiko dan segera mematikan sambungan telepon.

Naruto memarkir asal motornya dan berjalan cepat mendekati segerombolan pemuda dengan berbagai alat pemukul dan benda tajam di tangan masing-masing. Wajah sangar dan seringai mereka tidak membuatnya takut atau berubah pikiran. Sejak awal ia tahu ini semua jebakan Yahiko untuknya, tapi siapa peduli. Naruto abaikan pemuda pemuda bertampang sangar yang kini mengelilinya dan terus berjalan menerobos mereka yang menghalangi jalannya.

Seorang pria dengan balok kayu ditenteng di bahu, karena dia jauh lebih tua dari Naruto, menghadang jalan Naruto dan mendorong dada bidangnya. Naruto mendengus dan menepis kasar tangan kotor pria itu, tatapannya tajam menatap mereka semua yang menghalangi jalannya.

Pria di belakang Naruto mendecih melihat sikap sok jagoan pemuda yang memakai topi bahan wol itu. Ia membuang rokoknya kemudian mengeluarkan pisau lipat dari dalam jaket kulit yang ia pakai dan mengarah pisau itu ke pungung Naruto, tapi sayang gerakkannya terbaca oleh Naruto. Dengan mudah Naruto menahan tangan pria itu dan membanting tubuh besarnya dalam satu kali gerak. Teman-teman pria itu tidak terima, mereka berteriak marah dan menyerang Naruto bersama-sama.

Naruto merampas pisau kecil pria itu dan melawan mereka satu persatu, tentu ia harus lebih berhati-hati, para pemuda berengsek itu menggunakan senjata tajam yang dapat menghilangkan nyawa dalam hitungan detik.

Pertarungan dimulai.

Empat pria merangsek maju secara bersamaan, mereka berteriak layaknya sedang berperang. Namun, Naruto tak gentar. Dengan wajahnya yang santai, ia maju menghadapi salah seorang dari mereka yang berlari ke arahnya.

Tanpa diduga, Naruto segera mengunci gerakan sang pria yang ia hampiri dan menarik tubuhnya untuk dijadikan tameng. Naruto berhasil menahan laju ketiga pria yang lain. Ia menyusul serangannya dengan memberikan tendangan ke kemaluan salah satu dari mereka -pria itupun tersungkur tak berdaya.

Posisi sedikit dirasa aman, kini saatnya Naruto melepaskan tamengnya. Ia meninju pelipis orang yang menghalangi jalan dan akan memukulnya hingga pingsan dalam sekejap mata. Beberapa dari pria-pria itu lari seperti seorang pengecut. Naruto memungut pemukul basball terbuat dari besi milik salah satu dari mereka dan terus maju membuat mereka bergerak mundur dan lari, sama seperti beberapa pria sebelumnya. Kini tersisa dua lagi, keadaan menjadi semakin mudah. Naruto menyeringai samar.

Kedua penjahat yang tersisa tampaknya ragu-ragu untuk menyerang melihat beberapa temannya dapat dengan mudah dirubuhkan dan berlari ketakutan. Mereka mengukur jarak dari Naruto dan mengambil kuda-kuda untuk melakukan serangan yang lebih efektif.

Terjadi pertarungan sengit antara kedua begundal dengan Naruto. Kedua pria begundal itu tampak beringas, mereka menebaskan pedang pendek dan alat pemukul mereka berkali-kali tanpa istirahat.

Sayangnya, serangan mereka dapat dibaca oleh Naruto dengan mudah. Berulang kali mereka menebaskan pedang dan pemukul, berulang kali pula Naruto menangkis dan menghindari serangan mereka. Ia memang petarung profesional, tapi sialnya mereka licik. Di saat Naruto lengah pria yang tadi lari kembali dan memukul dengan sangat keras kepala Naruto dari belakang.

"Arghh!" Naruto memekik, mereka memukul titik lemahnya. Dengan pandangan sedikit buram dengan gerak cepat Naruto memukul kedua pria di depannya bergantian sampai mereka jatuh tersungkur kemudian menginjak perut mereka dan memukul kepalanya dengan tongkat besi.

Naruto melayangkan tongkat besi pada pria yang memukulnya dari belakang, kepalanya berdenyut seperti ingin pecah, darah mengalir di leher belakangnya dan merembes membasahi topi bahan wol yang ia pakai. Pria itu menangkis pukulannya, tongkat besi mereka beradu. Naruto menendang perut pria itu sampai jatuh menabrak dinding kayu kusam gudang kemudian tanpa ampun memukul kepala pria itu dengan tongkat besi berkali-kali. "Akh!" Pria itu terkapar, kepalanya jauh lebih mengenaskan dari kepala Naruto, pecah dengan darah segar mengaliri sebagian besar wajahnya.

Naruto mendobrak pintu kayu gudang.

Brak!

Kedua matanya membulat, tubuhnya melemas melihat pemandangan berengsek di dalam.

Sakura di bawah tindihan tubuh setengah telanjang Yahiko Pain menatap sedih dan sayu. Kepalanya menggeleng memberi isyarat pada Naruto untuk pergi meninggalkannya dan jangan menolongnya, ingin mengatakan padanya jangan hiraukan dirinya, ia baik-baik saja. Wajah gadis itu basah oleh air mata dan rambutnya basah oleh keringat. Dalam diamnya ia mengisak.

Pinggul Yahiko Pain bergerak di atas tubuh Sakura, pria berperinci itu mendesah keenakan dan menggeram nikmat, kedua lengan berototnya bertumpu di kedua sisi bahu gadis itu yang gemetar. Bibir pria itu terluka sementara kening Sakura membiru, pipi gadis itu juga membiru serta ada bercak darah di sudut bibirnya yang membengkak. Wanitanya terlihat kacau dan menyedihkan.

Naruto menggeram dan berjalan cepat mendekati Yahiko yang tengah menyetubuhi kekasihnya. "Berengsek!" Makinya murka. Diam-diam Yahiko Pain menyeringai, dengan sengaja dia mendesah lebih keras. "Akkh... kau sempit dan basah." Semakin cepat gerakkan pinggul lelaki itu dan semakin Naruto dekat, semakin keras Sakura menangis dan mengisak. 'Tidak! Jangan Naruto! Jangan kemari!' Mohonnya dalam hati.

Naruto menarik kerah belakang Yahiko Pain, melepas paksa penyatuan lelaki itu dengan Sakura, lalu membanting tubuhnya ke lantai. Gerakkannya sedikit melambat, bantingannya tidak sekeras beberapa waktu lalu, tubuhnya semakin melemas seiring sakit di kepalanya yang semakin mejadi.

Yahiko Pain menyeringai di bawah tindihan Naruto, pukulan-pukulan pemuda memakai topi bahan wol itu tidak melunturkan seringainya. "Kau tahu? Dia lebih enak dari seorang pelacur di tempat b*rdir," seringainya melebar melihat Naruto semakin menggeram.

"Bangsat!" Naruto memukul wajahnya. Pain tertawa. Dalam satu kali gerak ia membalik keadaan, menindih tubuh Naruto. Seringai mengerikan terukir di bibirnya yang terluka karena ulah Sakura, gadis itu mengadu bibirnya dengan kening gadis itu, satu tangannya menahan kepalan tangan Naruto.

Naruto terengah mendapat pukulan dari Pain, lelaki berperinci itu memukul wajahnya, pandangannya semakin memburam. Samar-samar ia melihat Sakura menangis mengkhawatirkannya di sudut gudang. Naruto tersenyum saat tatapannya bertemu pandang dengan Sakura. Dan pemuda itu memekik saat Pain mengadu kepala dengan keningnya.

Pain tahu Naruto menderita Tumor pada Fosa Posterior, ia tahu pemuda botak itu akan melakukan operasi dua hari lagi, ia tahu Naruto sekarat, ia tahu titik lemah Naruto di kepala botaknya. Tangan Pain merambat di kepala Naruto mencari luka akibat pukulan anak buahnya. Pain menemukannya. Pain menemukan luka itu. Seringainya melebar, dia menekan kuat luka di kepala Naruto dengan jari-jarinya. "Arghhh!" Naruto memekik. Pemuda itu berusaha melawan. Dengan sisa-sisa kesadarannya ia mencekik leher Pain.

Melihatnya Sakura semakin cemas, melihat darah di kepala Naruto membuatnya linglung. Sakura bingung harus melakukan apa. Gadis berseragam SMA itu mengambil pemukul dan berjalan mendekati Pain yang tengah menganiyaya Naruto.

"Kau sudah tamat Naruto! Kau bukan tandinganku! Kau akan mati!" Pain tertawa disela kalimatnya.

Bugh!

Sakura memukul leher belakang Pain kuat membuat Pain menjerit sakit dan langsung menamparnya sampai tersungkur. "Sakura- chan," panggil Naruto lemah. Pain memukul wajah Naruto lalu meninggalkannya setelah pemuda itu kehilangan setengah kesadarannya.

Ia mendekati Sakura kemudian mencengkram kuat dagu gadis itu, "setelah aku selesai dengannya kau akan mendapat giliranmu, sayang ..." Sakura berusaha menampar pipi Pain tapi lelaki itu menahan tangannya kemudian mendorong tubuh lemah gadis itu sampai tersungkur.

Pain bersiul keras. Tak lama kemudian orang-orangnya yang tadi berlari seperti seorang pengecut masuk dalam gudang. Mereka membawa pemukul basball, balok kayu dan berbagai macam alat pemukul lainnya. Beberapa di antara mereka ada yang sedang merekok lalu membuang rokok dan menyeringai saat melihat Naruto tergeletak setengah sadar. Beramai-ramai mereka mendekati Naruto.

Kedua mata Sakura membulat. "Tidak! Jangan! Aku mohon jangan!" Gadis itu berusaha berdiri. Dengan langkah terseret-seret ia mendekati Naruto yang kini dipukuli beramai-ramai. "JANGAN! JANGAN PUKUL DIA! JANGAN PUKUL DIA! DIA BISA MATI!" Berusaha menolongpun percuma, salah satu dari mereka memegangi tubuhnya sembari menciuminya. Sakura menangis, memohon pada mereka untuk berhenti. Sekuat tenaga ia menendang kemaluan pria yang mencumbunya, tidak peduli pada pria yang menjambak rambutnya marah gadis itu berusaha mendekati Naruto.

Dengan susah payah ia berhasil menggapai tubuh lemah berumuran darah itu, memeluknya erat, melindungi kepala pemuda yang dicintai dengan tubuhnya, menjadikan tubuhnya sebagai tameng. Dia menangis bukan karena kepalanya berdarah karena pukulan orang-orang itu, bukan pula karena punggungnya dipukuli, tapi karena orang dalam pelukkannya tidak bernapas, dada pemuda itu tidak bergerak naik turun sedikit pun. Sakura mengisak sendu. Dipeluknya tubuh Naruto semakin erat.

Di luar gudang terdengar dengungan ramai suara motor dan suara riuh umpatan orang-orang. Tak lama kemudian orang-orang dengan senjata dan alat pemukul di tangan masing-masing masuk. Orang-orang yang memukuli Naruto dan Sakura berusaha kabur, ada juga yang berusaha melawan. Mereka saling mencari lawan masing-masing, satu lawan satu, saling memukul, menendang, menampar dan adu tonjokan.

Dalam pelukkan Sakura, Naruto terbatuk, darah segar keluar dari mulutnya. Sakura melepaskan pelukkan, menatap Naruto penuh harap dan linangan air mata. Gadis itu tersenyum saat jemari berumuran darah pemuda itu mengusap aliran darah di pipinya, "kau berdarah ..." kata Naruto lirih, hampir tak terdengar. Bahkan di saat seperti ini pun, Naruto masih mengkhawatirkan, di saat pemuda itu sendiri sedang sekarat.

Sakura menggeleng, "aku tidak apa-apa," kemudian menangis melihat kepala Naruto dilumuri darah hitam pekat, darah kental.

Sedikit tersenyum tangan Naruto yang mengelus pipi Sakura kemudian jatuh. Bibirnya sedikit terbuka, matanya terbuka lemah namun kosong, dadanya benar-benar berhenti bergerak.

Sakura menjerit histeris, gadis itu menangis ketakutan. Berulang kali ia menekan dada Naruto namun tidak ada hasilnya. Tangannya menepuk pelan pipi pemuda itu, hasilnya sama saja. Ia memberi Naruto napas buatan berulang kali sampai napasnya sendiri pun menipis. Tapi hasilnya sama saja! Sama saja! Memeluknya, menjatuhkan kepalanya di dada pemuda itu dan menangis, hanya itu yang bisa ia lakukan saat ini.

Di saat semua orang sibuk berkelahi Jiraya berlari mendekati Naruto dan Sakura. Dan pria paruh baya itu hanya bisa menatap sedih keduanya. Mengusap pipinya sesaat, ia duduk di samping tubuh Sakura, "Sakura ..."

.

.

.

.

.

Sakura mengedip saat sebuah pintu, yang awalnya ia kira jendela besar, terbuka pelan otomatis. Pikirannya masih melayang pada masa lalunya yang kelam, bayangan canda tawa Naruto setia melayang dalam angannya yang indah, seperti seorang idiot. Wanita berambut merah muda itu berdiri di tengah pintu. Ia berjalan melewati ubin, tidak ia hiraukan tanaman bunga di sisi kanan-kiri ubin yang dipijaknya, matanya menatap lurus ke depan di mana ada seorang pria berpakaian kasual berdiri di gazebo tengah menghidupkan api di sebatang lilin merah.

Ia mengedip, menilik dengan seksama pria yang kini berdiri tepat di depannya dan menilai dengan jeli senyum pria itu.

Namikaze Naruto menarik kursi untuk tamunya, "duduklah," tidak ada respon berarti. Pria itu mencoba kembali tersenyum. "Maaf karena membuatmu takut. Aku tidak bermaksud seperti itu,"

Dan dia tersadar, pria ini bukan pria yang sama. Dia bukan pria miliknya. "Di mana pintu keluarnya?" Matanya menjelajah, mencari pintu yang membawanya keluar dari tempat ini. Tidak ada pintu. Ia sedang berada di atas, entah lantai berapa.

Tak lama kemudian seorang maid datang mendorong meja berisi makanan. Sakura memperhatikan maid itu, mencari tahu dari mana ia muncul. Matanya mengikuti kemana maid itu pergi kemudian mengikutinya. Di kiri paling pojok ada pintu, dan ia yakin itu pintu yang membawanya keluar dari tempat ini.

Naruto menahan tangan Sakura ketika wanita itu mau masuk lift. "Kau tidak bisa pergi begitu saja,"

Tbc ...

.

.

.

.

.

ur admirer

Z-san? Mungkin maksudnya walkie talkie? ;) Aku selalu tunggu kelanjutannya. Ini nggak sama tapi aku pernah baca komik yang ceritanya sejenis dengan ini. Bukan koizora sih dan di komik itu si cowok meninggal karena kecelakaan bukan karena sakit. Endingnya si cewek akhirnya sadar sama perasaannya sama cowok yg mirip pacarnya dulu dan mereka bersatu. Tapi ya udah sampe situ aja endingnya, aku kurang puas sih, masih pengen tau lanjutan hubungan mereka haha

Komik itu hampir sama-sama cerita ini? Tapi jujur loh Z bukan pecinta komik jadi gak tau apa-apa tentang komik, taunya cuma Naruto doang, dan cerita ini emang terinspirasi dari Koizora. Inspirasi sama playgiet itu beda ya, playgiet itu mengambil cerita orang semisalnya Z buat fic Koizora yang sama dengan aslinya, nah itu Z playgiet. Kalo inspirasi itu ketika kita melihat sesuatu kemudian kita mendapat suatu ide, itu inspirasi (mungkin). Seperti fic ini, Z dapet ide fic ini setelah nonton Koizora, fic ini jalan ceritanya jauh beda sama koizora kalo Koizora itu mengisahkan dua remaja yang masih duduk di bangku high yang saling suka kemudian si cwo mati karena sakit. Kalo fic ini tentang bos yang suka sama bawahannya tapi sayang bawahannya itu cuma mau setia sama satu cwo dan berusaha menolak pesona sang bos. Itu aja si... :) Ah iya Z salah tulis. Harusnya walkie talkie ya, haha...

firdaus minato

mana lemonx kok chpater pendek banget worx tambah dong senpaiii

Lemonnya nanti kalo Sakura sama Naruto udah jadian. Wordnya sudah di tambah 1k :).

Nakako Anko

こんにちは, Kimaru-san. Yosh! Akhirnya update juga. Lama sekali update-nya, Kimaru-san :)). Kasihannya Sakura-san. Jadi...apa hubungan Naruto-san dengan almarhum kekasihnya? Kuharap ini...horror? Hahaha. Lanjut terus. Updatenya jangan lama-lama.

Horror bukan ya? Wkwk... nanti di chap depan ketahuan. Semoga kali ini gak kelamaan ya updatenya :).

HikariChan93, agisummimura, usukechan, Rhaf Leonard Da Silva-sama, intanmalusen, Charllotte-chan, irmha adellia 7, mii-chanchan2, NenSaku, Quans0n, Guest, Nakako Anko, Kang Delis, Akihiko Fujiwara, Guest, ns, Kei Deiken, kiutemy, zeedezly clalucindtha, guestty, Red devils, Guest, palvection, dindachan06, 21, Awim Saluja, OhhunnyEKA.

Thanks for review... :)