Disclaimer : Naruto belongs to Masashi Kishimoto.
Warning : AU, OOC, miss type(s), alur lambat macam koneksi modem diakhir bulan (?)
A/N : Anggap aja Hanabi adalah bocah dengan intelektual tinggi, namun sisi anak-anaknya tetap ada dan tidak berubah.
.
.
.
.
.
Asimo Likes Sweeties
Chapter 3 : Bargain and Deal
.
.
Hinata berlari kecil menuju dapur. Jemarinya menyusup, menarik helaian rambut panjangnya untuk diikat satu. Ketika ia melirik jam dinding, tangannya semakin gesit memasukkan tempura dan onigiri ke dalam kotak bekalnya. Lalu ia memakai sepatunya dengan tergesa, dan mengunci jendela serta pintu kamarnya.
Sejenak ia memperhatikan bayangannya di cermin, merapikan kerah kemejanya yang terlipat, kaus kakinya yang turun sebelah, dan detail lainnya. Seolah menertawakan dirinya sendiri, Hinata tersenyum simpul ketika melihat wajahnya yang semakin pucat, ia memutuskan untuk memulas bibirnya dengan lipbalm agar terlihat segar.
Tak lama setelahnya, Hinata keluar dan mengunci pagar rumah, lalu mulai berjalan.
Hinata akan sibuk hari ini.
.
.
Malam merangkak naik, memberi ruang terbaik bagi angin untuk berdansa dengan daun-daun kering. Jiwa-jiwa lelah sudah menyerahkan diri pada bunga tidur tak tertebak. Di bawah sorot sinar bulan, semuanya tampak sunyi dan damai.
Berbanding terbalik dengan pemuda bersurai merah dengan jaket hitam tebalnya.
Mastermindchip Arion X7 itu Hanabi simpan di dalam kotak Kristal pentagon, diselipkan di celah kain beludru tebal berwarna biru. Jika kau berpikir kotak itu bekas tempat cincin pertunangan, maka kau salah. Gaara pernah melihatnya sebagai tempat menyimpan pemicu bom. Percuma saja jika Gaara menerjang Hanabi dan merenggut kotak itu darinya. Kotak itu solid, berkode, dan sebuah kebetulan yang menyebalkan karena Gaara tidak tahu pola kode kotak itu.
Entah darimana bocah ini memilikinya.
"Bagaimana menurutmu?" tanya Hanabi.
"Cunning."
"Oh, tentu saja. Lagipula, Gaara, sejak kapan orang-orang sepertimu—seperti kita, punya tangan yang benar-benar 'bersih'?" ujar Hanabi sarkastik sambil menghirup sup krim-nya lagi.
"Apa yang akan kau lakukan dengan benda itu?" tanya Gaara.
"Apapun itu, yang pasti kau akan menyesalinya."
"Sebutkan."
"Apa pedulimu?"
"Sebutkan saja."
"Aku akan menjualnya," ujar Hanabi.
"Kepada?"
"Siapapun!"
"Contohnya?"
"Teroris."
Gaara menoleh menatap Hanabi, ia sedikit heran dengan jalan pikiran bocah ini, "Kau berniat mengulang kejadian Hiroshima-Nagasaki? Ekstrim."
"Eh? Tentu saja tidak! Oke, tidak jadi aku jual. Umm…Seseorang dari pemerintahan akan membayar mahal untuk ini."
" Nyx, berhentilah bermain-main."
"Kau masih berpikir aku main-main?" Hanabi melipat kedua tangannya di atas meja dan menatap Gaara yang kini duduk berhadapan dengannya, "Jika kau bersedia mendengarkan aku, maka aku tidak akan banyak menyita waktumu yang berharga itu." Hanabi menekankan intonasinya saat menyebutkan kata 'berharga'.
Gaara menatap mata Hanabi. "Go ahead."
"Ulang kembali perintahku waktu itu. Dengan cara yang benar dan waktu yang sesuai, baru aku kembalikan benda ini padamu."
"Aku harap kau mengerti. Aku harus mengirimkan chip ini kembali ke Jerman."
"Harapanmu terkabul, Sabaku," Hanabi tersenyum manis, "Aku mengerti, tapi aku tidak peduli. Itu urusanmu. Jika kau ingin benda ini kembali, lakukan dulu hal tadi. Jika kau tidak bisa bekerja sama, maka kapan saja aku bisa menghancurkannya."
"Coba saja." Gaara mencibir dengan wajah datar.
"Kau tidak percaya? Aku punya tutorial penghancuran chip ini di laptopku. Aku dapatkan dari komputer Professor Queron sendiri."
"Kau benar-benar menjadi cracker rupanya."
"Tidak! Aku hacker, bukan cracker."
"Sure you right," ujar Gaara sarkastis
"Kau meng-hack komputer mendiang Professor Queron dan mencuri datanya untuk kepentingan pribadimu. Tidakkah itu menunjukkan bahwa kau adalah seorang cracker? Semakin kotor saja nama LulzSec karena ulahmu," lanjutnya.
"Mungkin pandanganku selama ini benar; Anonymous lebih ber-etika. Ya, silakan gunakan data yang kau dapatkan itu sesukamu. Bagaimanapun itu hak dirimu, Kather Nyx." Habis-habisan Gaara memancing Hanabi agar chip-nya aman—menjauhkannya dari kemungkinan dihancurkan.
Hanabi terlihat tidak senang. Ia berpaling beberapa saat sebelum memasang wajah congkaknya kembali. Ia bangkit berdiri dan melipat tangannya di depan dada. "Tapi hanya sekali ini saja aku akan berbaik hati. Negosiasi. Apa tawaranmu?"
Gaara duduk, mengambil tempat di depan Hanabi. Ia menatap matanya lekat-lekat.
"Menonton Premier League langsung di setiap match. Akomodasi, uang saku, tiket pesawat, visa, hotel, guide, passport bahkan tiket untuk pendampingmu selama disana semuanya terjamin. Kau juga bisa melihat mereka berlatih."
Hanabi memperhatikan kertas persegi panjang itu sejenak, lalu ia terbahak, "Aku bahkan bisa mendapatkan izin tinggal bersama Sir Alex jika aku mau. Menikmati fasilitas klub dan mengikutinya kemanapun."
Gaara masih menatapnya datar saat mengeluarkan penawaran lain dari saku mantelnya. "Seorang klien pernah memberikanku ini, Fashion trip ke Roma dan Milan," Gaara mengacungkan tiket merah berhologram perak, "13% saham Microsoft" selanjutnya ia mengacungkan amplop biru, "Dan ini voucher 27 pasang sepatu Christian Louboutin," Ia menunjuk sol merah berukiran 'voucher' berwarna emas dengan tanda tangan Louboutin.
"Apa kau bercanda? Itu sampah." Hanabi mengerutkan kening.
"Deacon S? Atau Ares 35?"
Hanabi sempat tertarik mendengar nama dua robot rancangan Gaara. Dan Ares 35 adalah salah satu robot ofensif terbaik di kelas robot pengintai. Secepat ia tertarik, secepat itu pula ia mendelik dan menolak. "Kaleng bekas dengan kabel mengelupas? Itu tidak berguna. Gaara. Semuanya tidak menarik sedikitpun."
"Tarik kembali kata-katamu."
Hanabi memiringkan sedikit kepalanya saat sudut bibir Gaara melengkung (sangaaat) sedikit.
Gaara mengeluarkan sesuatu dari balik saku mantelnya; map berwarna kuning cerah dengan tulisan; 'LET'S JUMP WITH US ON THE JUMP WORLD!'
Mata Hanabi membulat sempurna. Napasnya tercekat saat membaca sebaris judul di map tersebut.
'Checkmate' batin Gaara. "Ah ya, aku hampir lupa. Hanya untuk berjaga-jaga jika nanti ayahmu tidak memberikian izin. Ini official" Gaara mengeluarkan tab, menyalakannya dan menunjukkan sebuah video.
"Halo, apa kabar?" Seorang lelaki dengan rambur coklat tersenyum.
"Kami mengundangmu untuk hadir dan bersenang-senang bersama kami di JUMP WORLD!" Lelaki lainnya berseru sambil melompat.
"Kami harap kau datang, karena kami sudah menyiapkan semuanya! Aku yakin JUMP WORLD akan sangat menyenangkan!" Kali ini lelaki dengan rambut sewarna hazelnut muncul sambil mengatupkan tangan di depan dadanya.
"Kami berencana menyanyikan semua lagu di album baru kami, dan tentu saja akan ada banyak kejutan disana~" Sekarang, lelaki dengan suara melengking yang berbicara.
"Kehadiranmu akan sangat berarti untuk kami. Onegaishimasu!" Mereka mengangkat banner bertuliskan 'PLEASE COME'
Sejenak Hanabi hanya menganga. Ketika ia mendapatkan lagi suaranya yang sempat menghilang, akhirnya ia bersuara. "I-Ini… Hikaru, Yamada, Chinen, bahkan Yuuto… Ba-bagaimana…. Bagaimana kau mendapatkannya?!"
"Berikan padaku!"
"Tidak secepat itu, Nona." Gaara menarik map tersebut saat tangan Hanabi mencoba meraihnya.
"Berikan!" seru Hanabi.
"Mungkin nanti."
"Gaaraaa!"
Jika saja Gaara mampu menggerakkan otot wajahnya dengan lebih baik, mungkin sekarang ini ia sudah tertawa puas layaknya karakter antagonis dalam opera sabun yang biasa ditonton Temari.
"Kenapa? Ini juga tidak menarik bagimu, eh? Sayang sekali." Gaara menyindir.
"Aku bahkan pernah desperate karena orang-orang keren itu! Aku sangat ingin hadir di konser Hey!Say!Jump!, tapi ayahku tidak pernah mengizinkan aku pergi. Sekarang kau datang membawa hadiah undian paket; photobook, album dan tiket private concert mereka di Osaka, satu-satunya konser yang ayahku izinkan untuk aku tonton karena beliau tahu aku tidak mungkin menang! Aku tidak bisa memanipulasi undian tersebut karena itu diundi secara manual oleh member. Kau mempermainkan emosiku! Kau jahat sekali!" Hanabi mulai meracau. Ini adalah salah satu impian besarnya sebagai remaja. Melebihi keinginannya memencet tombol 'launch' pada nuklir di bawah tanah Israel.
Dada Hanabi naik turun dan matanya mulai berair. Rupanya ia benar-benar emosi.
"Apa kau tidak salah bicara? Siapa yang telah mempermainkan siapa? Kalau kau tidak mau, akan kuberikan pada seorang klien di Argentina. Ia memberikan penawaran menarik untuk paket ini."
Hanabi diam menunduk dengan bibirnya yang mengerucut.
"Tapi kau juga harus menepati kesepakatan."
"Asal hasil negosiasi memuaskan."
"Harus, Gaara! Kalau kau tidak menepati perjanjian, akan aku telan chip ini! Aku makan chipnya sekarang juga supaya chip ini lumer di perutku bersama supkrim yang aku makan tadi!"
Sempat sweatdrop Gaara mendengarnya.
'Insane'
"Kau mendapatkan kembali chipmu setelah aku mendapatkan paket itu."
Gaara kembali meragukan Hanabi setelah melihat mata Hanabi yang tidak fokus ketika tadi berbicara. Hanabi juga sempat menggigit bibirnya.
"Apakah kau memindahkan data-data di chip itu?"
"Umm… ya… untuk berjaga-jaga saja, jika hal seperti ini terjadi," jawab Hanabi santai.
Nah, kan. Dugaannya benar.
"Baiklah, maka tiket yang kau dapatkan juga sepertinya hanya sepotong saja."
"Tapi kau sudah janji!"
"Lihat siapa yang bicara," ujar Gaara sarkastik.
Sejenak udara tidak nyaman menggantung diantara detak-detak jarum jam. Mengisi kekosongan pada pukul dua malam. Hanabi kehilangan selera makannya dan membiarkan sup krimnya dingin. Kakinya berayun bosan—kesal tepatnya. Ia menopang pipinya dengan satu tangan. Membuat bibirnya bertekuk aneh.
Ketika Gaara memandangnya, ia seolah melihat Hinata kecil, hanya saja dalam versi ekstrovert, bermulut tajam, dan tempramen.
"Kalau kau mau data-data di chip ini kembali. Lakukan satu perintahku."
Gaara semakin dekat dengan ambang kekesalannya.
"Sampai aku kembali, setiap hari Senin, Kamis, Sabtu, belikan obat untuk Hinata di apotek di pertigaan dan simpan saja di depan rumahku. Sederhana, kan? Tidak susah, aku yakin."
"Kau bisa minta petugas apotik yang mengantar kemari."
"Mereka tidak melayani pesan antar, geeks. Apotek disana itu, adalah tempat terdekat untuk membeli obat. Hinata itu pelupa, bisa saja dia sekarat karena kehabisan obat ketika aku tidak di rumah. Bayangkan, Gaara! Dan jika itu terjadi, semua itu salahmu!"
"Lucu sekali."
"Berikan paket itu dan lakukan perintah sederhanaku, maka chip dan data kembali padamu. Harga mati."
Gaara sebenarnya bisa saja mematahkan leher bocah ini dan pergi. Tapi tidak ia lakukan. Gaara masih membutuhkan kecerdasannya untuk dijadikan partner bekerja, terlebih Nyx itu perempuan.
"Oke, kutambahkan tutorial untuk mendesktruksi chip gila itu. Siapa tahu kau membutuhkannya. How does it sounds?"
Tidak ada waktu lagi. Tidak ada.
Satu hembusan napas, dan Gaara akhirnya berkata, "Right, deal"
Hanabi menarik tangan kanan Gaara dan menggoyangkannya ke kanan-kiri. Mungkin maksudnya adalah berjabat tangan.
"Tunggu sebentar." Hanabi menyalakan laptopnya, mengeluarkan chip itu dari kotak kristal dengan beberapa tahapan rumit; menaik turunkan dengan kemiringan tertentu, memasukkan kode dengan mengetuk kotak itu beberapa kali, dan setelahnya Gaara tidak mau tahu karena ia tidak tertarik.
"Kemana kakakmu?"Pertanyaan itu meluncur begitu saja setelah menyadari sedari tadi mereka berbicara dengan suara cukup keras—bahkan beberapa kali Hanabi berteriak.
"Hinata? Atau Neji? Apa pedulimu? Hahahaha," Hanabi tertawa mendengar pertanyaan aneh Gaara. "Hinata check up ke rumah sakit dengan ayahku. Neji studi banding ke Skandinavia."
"Oh."
"Nah sebagai tanda janjimu. Aku akan mengambil fotomu. Kau harus berpose seperti ini." Hanabi mengacungkan jari tengah dan jari telunjuknya membentuk huruf 'V' sambil tersenyum lebar.
"Tidak tanda tangan saja? Lebih simple."
Gaara benci difoto.
"Baiklah….Padahal akan imut sekali si panda gila ini," gumam Hanabi.
Hanabi mengetik beberapa kalimat dan dia mengulurkan trackpen ke arah Gaara menyuruhnya menandatangani surat digital tersebut.
"Ne, mana paketku?"
"Mana chip-ku? Robotku juga." Gaara membalikkan pertanyaan Hanabi.
Hanabi memasukkan chip yang sudah dipulihkan datanya ke dalam robot Ironhide milik Gaara. Disaat yang sama, Gaara menyelipkan tiket ke dalam photobook dan album.
Secara bersamaan keduanya menukarkan barang sesuai perjanjian.
"Senang menjadi partnermu."
"Terserah."
"Hey, geeks. Ini resep obat Hinata. Kau tinggal tunjukkan kartu ini untuk membayar. Nah, jika kau lupa, identitasmu akan aku sebar."
"Sudah kubilang, dengan menyebar identitasku, justru kaulah yang pertama kali diincar."
Gaara memasukkan Ironhide ke dalam tas pinjaman Hanabi.
"Tapi aku tidak percaya."
Gaara mengancingkan mantelnya sampai ke leher, lalu memakai kembali helmnya dan melangkah pergi.
"Jangan membuat orang di jalanan mati, geeks. Suaramu saat sengau itu mengerikan." Hacker dengan piyama bergambar Domo-kun itu melambai ke arah Gaara.
Ya, Gaara sudah tidak peduli lagi. Ia menaiki motornya yang stang-nya hampir terasa beku ketika Gaara menggenggamnya. Udara semakin dingin saja. Tiba-tiba saja ponselnya bergetar dan berkedip-kedip tanda panggilan masuk.
Oh, rupanya Dewi Fortuna mulai membenci Gaara.
.
.
"Kyaaa! Aku merindukanmu Hinataa!" jerit Ino heboh sambil berlari menghambur memeluk Hinata.
"Bagaimana kabarmu Ino-chan?" Hinata melangkah menuju kursinya.
"Aku? Baik-baik saja. Apalagi Gaara semakin rajin masuk sekolah. Dan apa kau tahu? Dia mengambil banyak kelas yang sama denganku! Menyenangkan bukan!"
Kelas yang Hinata ambil sama dengan kelas yang Ino ambil.
Jam pelajarannya juga sama.
Itu artinya Hinata akan sering bertemu dengan Gaara.
Pipi ino bersemu merah ketika asyik berceloteh tentang apa-apa saja yang terjadi selama dua hari Hinata tidak masuk sekolah—apalagi ketika bercerita oh-betapa-keren-Gaara.
Pipi Hinata juga meranum. Tapi bedanya, wajah Hinata memerah dengan disertai keringat dingin. Dan ia merasa perutnya diaduk-aduk saat Ino menceritakan Gaara yang terampil membedah tikus dan katak di laboratorium biologi.
"Bayangkan Hinata, Gaara menyayat mengikuti alur serat kulit katak itu. Dia melakukannya dengan sangat rapi. Bahkan Orochimaru-sensei berkomentar seperti ini," Ino mulai berdiri, berpura-pura menjadi Orochimaru, "'Kau Gaara, apa kau pernah menjadi asisten ahli otopsi? Mungkin bagus jika kau melanjutkan studi ke kedokteran'."
"Orochimaru-sensei….guru biologi? Bukankah guru biologi kita itu Shizune-sensei?"
"Oh iya, aku lupa memberitahumu. Shizune-sensei dirawat di rumah sakit," jelas Ino.
"Hee? Sakit apa?"
"Tidak tahu. Tapi, menurut rumor yang beredar, beliau diserang dan terluka. Jadi, harus dirawat sampai pulih," kata Ino.
Hinata mengangguk-angguk. "Semoga beliau cepat sembuh ya."
Tiba-tiba, kelas dan koridor menjadi hening. Ino pun mematung di tempatnya. Hinata melihat beberapa siswa perempuan di koridor mendekap mulut sambil membelalakan mata. Hal seperti itu pernah dilihat Hinata sebelumnya, saat Hanabi melihat Hey!Say!Jump! di televisi.
Langkah kaki adalah satu-satunya suara yang ditangkap telinganya, selain suara derit engsel pintu kelas.
Semakin lama, langkah itu terdengar semakin jelas dalam tempo yang lambat, lalu derit pintu kelas pun berhenti terdengar—seseorang menahan pintu tersebut, lalu berhenti melangkah.
Dan selama beberapa saat Hinata tidak mendengar apapun. Bahkan kini dia merasakan suhu udara turun drastis.
Di ambang pintu, berdiri Gaara dengan mata setengah terpejam dan rambut berantakan. Ia mengenakan masker abu-abu dan jaket denim berwarna biru tua.
Oh, hebat. Hari pertama, jam pertama, dengan Gaara berada satu ruangan dengan Hinata. Mungkin lebih baik Hinata berlama-lama sakit di rumah kalau tau begini.
Terdengar berlebihan mungkin, tapi hey ini Hinata. Hi-na-ta. Hinata si penakut. Apa yang kau harapkan darinya? Berharap Hinata berjalan ke depan sambil memainkan ujung rambut lalu berdiri dengan posisi provokatif sambil mengerling ke arah Gaara? Gila.
Jadi Hinata tetap menjadi Hinata. Ia diam, menunduk, berdoa.
Gaara duduk di tempatnya, lalu merebahkan kepala di atas meja. Hinata sempat mencuri pandang ke arahnya, sekadar memastikan Gaara tidak sedang menatapnya dengan tatapan psikopat atau sejenisnya. Rupanya mata Gaara terpejam.
"Hatchii!" Seisi kelas terlonjak kaget. Sebagian dari mereka menoleh ke arah sumber suara; Gaara. Yang menjadi pusat perhatian menegakan tubuhnya dengan malas, mengucek matanya lalu memegangi kepalanya yang terasa seperti dibentur-benturkan ke tembok.
"Gaara sakit?"
"Itu tadi yang bersin Sabaku-san?"
"Heee! Kawaii~ Dia terlihat seperti uke sekarang!"
"Sayang sekali dia pakai masker. Padahal mungkin saja pipinya merah."
Kawaii? Mana ada hantu kawaii? Pikir Hinata.
.
.
To be Continued
.
.
A/N: Semoga bisa apdet cepet ya, sayanya. /bow/ Komentar, kritik, saran selalu terbuka lebar. Saya tunggu sekali loh! XD Sampai jumpa di chapter selanjutnya~
