"Permainan semakin menarik, siapa yang akan tumbang?"
Kim Heechul
Lee Donghae
Kim Kibum
Cho Kyuhyun
And others member of Super Junior
Warning : Typo(s) , OOC , etc
The Truth :::::
Dihadapkan dengan dua pilihan membuat Donghae bertindak gegabah. Antara keluarga atau sahabat-sahabatnya, Donghae tak tahu harus berbuat apa. Yang diinginkannya hanya satu, permasalahan yang timbul akibat salah paham ini akan segera berakhir sehingga sahabat-sahabatnya tak akan terluka kembali. Namun di sisi lain, Donghae juga ingin membuat hubungannya dengan salah seorang hyung dan salah seorang dongsaengnya membaik seperti sedia kala. Donghae ingin semua berakhir, hingga dirinya tak lagi dibebani dosa yang sebenarnya bukanlah buah dari kesalahannya.
Dengan emosi yang agak kacau. Donghae memutuskan untuk menemui kelompok itu. Mengetahui ketua kelompok tersebut saat ini sedang sekolah, maka ia akan terlebih dahulu menemui anggota lainnya, atau lebih kasarnya ia menyebutnya anak buah. Setelah menempuh perjalanan yang lumayan jauh, kini Donghae sampai di sebuah bangunan tua yang dimana di depan bangunan tersebut terdapat papan nama bertuliskan "The Black" , yang bertengger indah di sebelah logo yang menunjukkan identitas "The Black" itu sendiri.
Keadaan dari posisi Donghae saat ini lumayan aman dan terlihat sepi, menurut Donghae. Jelas saja, ini masihlah siang. Donghae mengasumsikan mungkin mereka saat ini tengah bersantai di dalam sana sambil bermain kartu, persis seperti apa yang selalu ia dan sahabat-sahabat dalam kelompoknya lakukan jika sedang senggang. Setelah bisikan entah dari siapa tepat melantun di salah satu telinga Donghae, Donghae akhirnya kini mulai melangkah mendekati pintu bangunan tersebut.
'Tak akan terjadi apa-apa Donghae'
Ribuan kali kalimat tersebut Donghae lantunkan untuk memberi keberanian pada dirinya sendiri.
Kini salah satu tangan Donghae sudah ada di atas knop pintu tersebut; menggegamnya. Donghae hanya perlu memutar knop itu dan masuk ke dalam. Namun belum sempat Donghae memutar knop pintu itu, tiba-tiba saja knop pintu tersebut berputar dengan sendirinya. Sudah sangat jelas jika seseorang yang ada di dalam sana hendak keluar saat ini. Donghae yang merasa gugup dan keberaniannya berjatuhan di atas tanah kemudian menguap terbawa angin tersebut hanya bisa mengurungkan niatnya, maka dengan segera dirinya berlari untuk bersembunyi. Ia memutuskan untuk bersembunyi di balik dinding sebelah kanan bangunan "The Black" dan terdapat satu bangunan lain yang terletak di sisi kirinya yang Donghae tak tahu bangunan apa itu.
"Kau sudah dengar?"
"Apa?"
"Kita boleh memukul Siwon dan yang lainnya, asalkan jangan kepada satu namja itu."
Di balik dinding tersebut samar-samar Donghae mendengar percakapan antara 2 orang anggota "The Black" yang tengah berbincang di depan pintu.
"Siapa maksudmu?"
"Namja yang sok jagoan menolong Siwon beberapa bulan lalu dan membuat Siwon keluar dari kelompok kita dengan mudahnya. Ketua bilang, kita tak boleh terlalu menyakitinya."
Donghae lebih menajamkan pendengarannya untuk mendengar percakapan 2 namja tersebut.
"Tsk, ada apa ini sebenarnya? Kenapa Ketua kita melindungi namja itu yang jelas-jelas telah menolong orang macam Siwon?"
"Entahlah, dia hanya memerintahkan seperti itu."
"Hmm, lagipula namja yang sok jagoan itu terlalu naif."
"Kau benar, dia hanya belum tahu seperti apa Choi Siwon itu sebenarnya. Harusnya dia bersyukur karena waktu itu kita akan menghabisi Choi Siwon. Tapi… dengan seenaknya dia datang dan membawa pergi Choi Siwon."
"Biarlah. Kita lihat saja nanti apa yang terjdi pada namja itu setelah tindakannya menolong Choi Siwon. Sudahlah, lebih baik kita pergi membeli 1 atau 2 cangkir minuman."
"Hmm"
GLUP
Seketika tenggorokan Donghae terasa kering. Dengan susah payah Donghae menelan ludahnya.
'Apa yang mereka maksud?'
The Truth :::::
Bunyi gemericik berbagai suara kini terdengar, pasalnya 5 namja saat ini tengah saling bahu membahu membersihkan sisa dari acara kecil mereka beberapa saat lalu. Walaupun tak ada satupun dari mereka yang berkesempatan mengenyam bangku pendidikan; terkecuali Sungmin dan Donghae, mereka semua masih mengetahui tata krama dan nilai-nilai kekeluargaan. Pula tak ada satupun dari mereka yang mempunyai ikatan darah, namun mereka sudah menganggap satu dengan yang lainnya sebagai saudara kandung, terlebih karena mereka memiliki persamaan nasib. Tak mempunyai orang tua atau bahkan ada yang masih memiliki orang tua namun tak pernah diperdulikan.
Leeteuk kini bergabung dengan yang lainnya, kemudian ia turut andil dalam tugas bersih-bersih itu.
"Donghae kemana hyung?"
Seorang namja berkulit putih seperti susu yang diketahui bernama Lee Hyukjae tersebut bertanya kepada namja berdimple satu –Leeteuk- yang kini berada di sampingnya, tengah ikut membantu mencuci piring.
"Molla, dia hanya bilang ingin keluar."
Hyukjae hanya ber-oh ria mendengar jawaban Leeteuk.
"Ponsel Donghae tidak aktif."
Sungmin menimpali karena tak sengaja dirinya mencuri dengar pembicaraan antara Hyukjae dan Leeteuk.
"Mungkin dia lupa men-charge ponselnya, kau tau sendiri kan betapa cerobohnya Donghae."
Seorang namja gembul akhirnya ikut nimbrung dalam pembicaraan itu. Leeteuk, Hyukjae, dan Sungmin hanya mengangguk tanda setuju dengan perkataan Sindong. Karena benar adanya jika Donghae adalah pribadi yang ceroboh.
"Aku akan mencarinya."
Suara Siwon mengintrupsi 5 namja lainnya yang ada disana termasuk Yesung yang baru saja datang entah dari mana dan kemudian bergabung dengan yang lainnya.
"Tak usah Siwon-ah."
Leeteuk segera meletakkan sebuah piring yang tengah dicucinya dan pergi menghadang kepergian Siwon yang berniat ingin mencari Donghae.
"Lihat lukamu." Leeteuk mengingatkan.
Siwon dengan refleks menyentuh bagian mukanya yang terdapat luka yang masih sangat baru tersebut.
"Sudah tak apa hyung."
Ia tersenyum lembut kepada namja yang paling tua yang ada di kelompoknya dan sudah dianggapnya sebagai hyungnya sendiri.
Menghela nafas. Itu yang Leeteuk lakukan kemudian dirinya membalikkan badan untuk pergi ke tempatnya semula, melanjutkan tugasnya mencuci piring.
"Jangan pergi, kau juga sama cerobohnya seperti Donghae."
The Truth :::::
Bel pulang sekolah tengah melengking keras, merambat ke seluruh penjuru sekolah. Setelah itu nampak siswa-siswi SMA Chungjin yang berhamburan keluar kelas bermaksud ingin pulang ke rumah masing-masing. Di antara banyaknya siswa-siswi yang berlalu lalang tersebut, nampaklah seorang Kim Kyuhyun dengan wajah bingung bercampur kesalnya. Ia menengok ke kanan dan ke kiri mencoba mencari seseorang.
"Kemana sih dia? Katanya aku tidak boleh terlalu lama. Tapi nyatanya dia sendiri yang sangat lama."
Kyuhyun menggerutu kesal seorang diri, mulutnya terus melontarkan beragam sumpah serapahnya kepada Kim Kibum. Kyuhyun pun kembali mengedarkan pandangannya ke setiap penjuru mata angin.
"Kau kenapa disini?"
"Waaa…" Teriak Kyuhyun.
Kyuhyun terkejut mendengar seruan seseorang dari balik punggungnya. Jika dipikir secara logika, tak mungkin bisa ada orang disana, terlebih Kyuhyun saat ini tengah berdiri di depan sebuah gudang kosong yang selalu dikunci yang terletak dekat dengan kelas Kibum. Dan setelah ia menengok ternyata itu adalah Kibum.
"Kau mengejutkanku."
Kyuhyun mengurut dadanya akibat shock ringannya barusan, ia pandangi kemudian saudaranya itu dari ujung kaki sampai ujung kepala.
"Apa kau hantu Kim?" Tanya Kyuhyun disertai tatapan mengintimidasinya.
Sedangkan Kibum tak membalasnya, ia hanya memutar bola matanya malas.
"Sejak kapan kau berada di belakangku eoh? Aku dari tadi melihat ke setiap penjuru dan tak melihatmu mendekat kemari. Apa jangan-jangan kau mempunyai kemampuan teleportasi seperti di film-film?"
"Berhenti mengatakan omong kosong Kyu. Aku sudah bilang untuk menungguku di parkiran sekolah, tapi kenapa kau malah menunggu disini?"
Kibum menatap malas adiknya tersebut yang mempunyai hobi menonton film-film fantasy hingga terkadang membuat ucapannya tak masuk di akal.
"Itu.. hanya saja… tak apa. Terserahku ingin menunggu dimana." Jawab Kyuhyun.
"Jangan bilang kau takut dengan gerombolannya Ryeowokkie yang selalu meminta pajak di parkiran saat pulang sekolah."
Kibum bersmirk ria setelah mengeluarkan perkataan itu dan kini terlihat muka Kyuhyun yang nampak pucat.
"Tidak, untuk apa aku takut hn? Sudahlah ayo kita pulang."
The Truth :::::
"Kau masih marah?"
"Soal?"
"Pertanyaanku tadi pagi."
Suara kyuhyun kian lirih terdengar, bahkan suara jeritan jangkrik pun lebih nyaring dari suara Kyuhyun barusan. Mau tak mau membuat Kibum menghentikan langkahnya dan menatap adiknya tersebut yang berada di belakangnya.
"Sejak kapan aku bisa marah padamu?" Kibum balik bertanya.
"Huh?"
"Sudahlah lupakan"
Kibum melanjutkan langkahnya kembali dan dengan refleks Kyuhyun mengikutinya di belakang. –karena Kyuhyun tak mau tertinggal-
"Ah!"
Kibum menghentikan langkahnya kembali membuat Kyuhyun yang tengah memikirkan sesuatu dan tak memperhatikan jalannya dengan benar hampir saja menabrak punggung Kibum.
"Kenapa?" Kyuhyun bertanya.
"Aku harus pergi, aku ada janji. Kau pulang sendiri saja. Atau kalau takut, biar aku telpon –"
"Tak usah" Kyuhyun memotong ucapan Kibum, ia tau apa kelanjutan omongan Kibum.
"Aku bukan anak kecil, kalian tak usah terlalu mengkhawatirkan aku." Sungut Kyuhyun kesal.
"Baiklah."
Seperti biasa, sebelum dirinya berpisah dengan Kyuhyun, ia akan selalu menepuk salah satu bahu Kyuhyun.
"Berhati-hatilah dan …"
Kibum menggapai salah satu lengan Kyuhyun dan menyelipkan sesuatu di telapak tangannya.
"Berikan ini padanya."
Dan setelah itu Kibum pun berlari menjauh dari hadapan Kyuhyun.
Setelah sosok Kibum sudah tak terlihat, Kyuhyun kini membuka telapak tangannya yang tengah menggenggam benda pemberian Kibum. Ia tersenyum kemudian setelah melihat benda tersebut.
"Tsk, katanya kau tidak perduli. Tapi kau membelikan ini khusus untuknya. Dasar pembohong besar."
Kyuhyun genggam erat benda tersebut, hingga dirinya memutuskan untuk melanjutkan langkahnya menuju rumah.
'Terima kasih, kau masih perduli dengan Donghae hyung. Kibum"
The Truth :::::
Dentuman musik kini mengalun dengan sangat keras. Berteriak memekikkan telinga setiap orang yang ada disana. Terdapat puluhan orang yang ada disana, tepat menari mengikuti irama diatas sebuah lantai dansa. Tak ada satupun yang merasa terganggu dengan musik yang sangat keras tersebut, mungkin mereka sudah terbiasa.
"Ini fotonya bos."
Seorang pria berbalut setelan hitam datang menghampiri seorang lelaki lain yang nampak sudah berumur namun masih terlihat gagah. Sang lelaki itu kemudian menaruh seputung rokok yang tengah dihisapnya di atas sebuah asbak. Jemarinya kemudian meraih selembar foto pemberian sang anak buah yang kini masih tetap berdiri di hadapannya menunggu perintah.
"Ternyata benar"
Dari balik frame kacamata hitamnya, lelaki tersebut mengeluarkan tatapan yang sangat sulit diartikan. Tak lupa bibirnya menyunggingkan sebuah smirk yang mengerikan.
"Awasi terus anak ini"
Ia memberi perintah yang dengan segera diberi anggukan patuh oleh sang anak buah. Tanpa diberi perintah, sang anak buah kini berlalu dari hadapan lelaki yang ia panggil 'bos'.
'Sangat menarik'
The Truth :::::
Sepasang kaki itu kini tiba di sebuah bangunan tua tempat anggotanya berada. Bersyukurlah ia dianugerahi kaki yang lumayan panjang, hingga tak butuh waktu lama kini dirinya sudah sampai di tempat tujuan.
Dengan langkah besar seorang Kim Kibum melangkah mendekati bangunan tua tersebut, ia raih knop pintu yang ada. Memutarnya kemudian masuk ke dalamnya. Ia tak menyadari jika sedari tadi terdapat seorang namja yang mengawasinya.
"Ketua"
Seruan "ketua" segera ia dapat setelah Kibum sampai di dalam bangunan tua itu yang ternyata adalah bangunan "The Black."
"Apa tak ada kabar dari Siwon?"
Kibum pergi ke sebuah tempat duduk yang sudah disediakan khusus untuknya, tepat berada di antara anggota "The Black" yang lain.
"Tidak ada. Tidak ditemukan pergerakan yang berarti dari dia Ketua." Jawab salah satu diantara anggota lainnya.
"Baiklah, tapi kalian harus terus mengawasi Siwon. Dia sangat mencurigakan."
Kibum memberikan perintah kepada anggota "The Black" yang lain, yang dengan segera disahuti dengan jawaban 'Siap'.
BRAK
Pintu bangunan "The Black" terpelanting cukup keras namun tak sampai membuatnya patah. Pintu itu kini terbuka dengan lebar akibat tendangan kasar dari seseorang. Dan kini sang pelaku tengah berdiri di dekat pintu seolah menantang kepada Kibum dan para anggota "The Black".
'Shit' Satu umpatan Kibum lontarkan, namun tak sampai keluar dari bibir sintalnya.
"Ada apa kau kemari?" Kibum menghampiri sosok itu sedangkan anggota lain diam di tempat karena tidak diberi perintah untuk bergerak menyerang sosok itu.
"Kau….."
Sosok itu berucap di hadapan Kibum, postur tubuhnya yang lebih pendek dari Kibum membuatnya sulit terlihat mengerikan di mata Kibum.
"Berhenti mengganggu Choi Siwon, Kibummie"
"Tsk."
Kibum mengejek sosok yang lebih pendek darinya itu, yang kini dengan soknya memasang wajah garangnya namun tak cukup mampu membuat Kibum takut. Malahan terlihat sangat konyol di mata seorang Kim Kibum.
"Apa yang kau tahu? Kim Donghae"
The Truth :::::
Matahari kini menyingsing di ufuk barat, langit tengah dihiasi warna orange kecoklatan yang sangat indah. Burung-burung nampak terbang beriringan kembali ke rumahnya. Tak jauh dari sana, tepatnya di sebuah bangunan megah bergaya Eropa. Seorang wanita paruh baya tengah memandang burung-burung yang beterbangan tersebut di atas kursi rodanya. Melalui sebuah jendela yang ada di kamarnya. Dari tatapan matanya sarat akan sebuah kerinduan yang mendalam. Parasnya yang nampak ayu terlebih ketika biasan cahaya matahari menyinarinya mampu membuatnya terlihat seperti seorang malaikat. Cukup lumayan banyak goresan keriput di parasnya. Namun tetap tak mengurangi kadar kecantikannya. Masih setia wanita itu menatap burung-burung yang nampak senang karena sudah waktunya untuk kembali ke rumah.
"Aku juga ingin pulang."
Bibir tipis wanita tersebut terbuka dan melantunkan sebuah kalimat. Entah apa maksud dari kalimat itu, hingga,
"Nyonya, sudah waktunya makan."
The Truth :::::
Kini malam sudah tiba, saatnya orang-orang yang sudah seharian penuh bekerja membanting tulang untuk istirahat dan kembali ke rumah. Tak terkecuali dengan Kim Heechul.
"Aku pulang."
Heechul memberi salam sesaat dirinya menginjakkan kaki di kediamannya.
"Hyung, apa kau membelinya huh?"
Belum sempat Heechul melepas sepatunya, namun dengan tiba-tiba sang adik terkecilnya datang menyambutnya. Bukan sambutan dengan kata-kata 'Kau sudah pulang hyung, sini biar aku bawakan tas kerjamu' atau 'Kau sudah bekerja keras untuk keluarga kita hyung, mau aku buatkan sesuatu yang hangat?'. Bukan, bukan 2 buah kalimat tersebut. Melainkan kalimat lain yang semakin membuat Heechul lelah.
"Hmm" Heechul terlalu malas untuk membalas pertanyaan Kyuhyun, kemudian ia meyodorkan sekantong plastik yang berisikan kaset game-game terbaru yang sudah dipesan sang adik sebelumnya.
Kyuhyun meraihnya dan dengan segera membawanya ke kamar tidurnya. Ingin mencoba satu per satu.
"Tsk, dia lupa mengucapkan kata terima kasih eoh?" Heechul berdecih dengan kesalnya.
Namun tiba-tiba sebuah kepala menyembul dari lantai atas. Yang ternyata adalah Kyuhyun yang kini menatap ke bawah ke arah hyungnya.
"Terima kasih hyung, saranghae."
Kyuhyun berteriak dari atas sana kemudian dirinya berlalu kembali ke kamar.
Heechul tersenyum kemudian. Kini dirinya melangkah ke arah ruang keluarga dan melepaskan dasi serta jas yang tengah melekat di tubuhnya. Ia rebahkan sejenak tubuhnya di atas sofa.
"Kau sudah pulang Chullie"
Suara lembut sang ibu masuk ke gendang telinga Heechul, membuatnya dengan segera membuka kedua matanya yang tadi sempat terpejam. Kemudian ia merubah posisinya menjadi duduk.
"Tak apa rebahan saja. Oh ya, mau eomma siapkan air hangat hn?"
Nyonya Kim duduk di sebelah putra sulungnya dan memijat beberapa bagian tubuh putranya tersebut.
"Tak usah eomma, aku mandi pakai air biasa saja. Eomma istirahat saja eoh? Wajahmu terlihat semakin tua."
Nyonya Kim terkikik geli dengan ucapan Heechul, dirinya sudah terbiasa dengan perkataan pedas sang anak. Namun ia bangga akan hal itu, bangga akan pribadi Heechul yang selalu meluapkan segala apa yang di pikirkannya dengan jujur.
"Baiklah."
Sang eomma mengusak rambut Heechul pelan dan beranjak berdiri.
"Jangan lupa untuk mengunci pintu rumah jika Donghae dan Kibum sudah pulang."
"Hmm"
Dan Nyonya Kim kini melangkah menuju kamar tidurnya.
The Truth :::::
Tok
Tok
Kyuhyun terbangun dari tidurnya saat didengarnya suara ketukan di pintu kamarnya, ia melihat jam dindingnya sejenak sebelum ia menyibakkan selimut dan mulai beranjak menghampiri pintu dengan gontai.
Ceklek
Sosok laki-laki dengan senyuman manisnya Kyuhyun dapat saat ia sudah membuka pintu. Kyuhyun membuka lebar kedua matanya kemudian saat mengetahui siapa gerangan orang yang telah menggangu tidurnya.
"Donghae hyung"
Kyuhyun memanggilnya. Sosok yang ia khawatirkan semenjak pagi tadi, terlebih hari ini sosok itu tak didapatinya di sekolah karena membolos.
"Aku boleh masuk?"
Donghae tetap tersenyum ke arah Kyuhyun, Kyuhyun yang sadar pun segera menggeser tubuhnya untuk membiarkan Donghae masuk ke kamarnya.
"Kamarmu sangat rapi ya"
Donghae kini duduk di atas ranjang Kyuhyun sembari mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kamar Kyuhyun.
"Apa kau punya game baru? Bagaimana jika kita bermain?"
Donghae kembali mengajak Kyuhyun berbicara namun Kyuhyun hanya diam di tempatnya tanpa memberikan respon. Donghae yang heran pun segera menghampiri Kyuhyun yang berdiri di dekat pintu. Ia letakkan sebelah lengannya kemudian di salah satu bahu Kyuhyun.
"Lupakan." Kyuhyun menepis lengan Donghae yang ada di bahunya.
Donghae yang kaget dengan sikap Kyuhyun hanya membiarkannya saja.
"Kau jahat Donghae, bahkan untuk dirimu sendiri"
Kyuhyun menatap sengit hyungnya tersebut dan menyerukan namanya tanpa embel-embel 'hyung'.
"Maksudmu?"
"Kemana saja kau seharian ini? Pergi keluyuran dengan keadaan wajah seperti itu. Dan dengan berani membolos sekolah."
Kyuhyun menatap hyungnya tersebut yang nampak bingung harus menjawab apa.
"Apa kau terlibat dalam sebuah geng? Geng motor atau geng judi?"
"Mana mungkin" bantah Donghae cepat. Ia tak suka dicurigai seperti itu. Masuk dalam sebuah geng? Oh ayolah, bahkan Donghae tak bisa mengendarai motor ataupun minum-minum seperti itu. Mana mungkin dirinya terlibat dalam sebuah geng motor ataupun geng judi yang identik dengan wanita dan alkohol. Sungguh Donghae bukan tipe anak seperti itu.
"Lalu geng apa hn? Lukamu sudah cukup menjelaskan semuanya hyung, kalau kau terlibat dalam sebuah geng."
"Tidak Kyu." Lagi-lagi Donghae membantah dengan sangat keras. Harus digaris bawahi, Donghae benci sekumpulan orang-orang yang suka bikin onar yang selalu disebut geng tersebut. Dan juga Donghae tidak punya geng sama sekali, hanya sebuah kelompok kecil yang ia punya. Kelompok yang Donghae namai 'Kelompok Pembela Kebenaran' . Tsk, terdengar kekanakan kan sebutan itu?
"Aku menyayangimu hyung, tolong jangan anggap aku orang asing, kau bisa menceritakan semua keluh kesahmu kepadaku. Apa kau lupa kalau aku ini adikmu hn?" ucap Kyuhyun.
"Tidak kyu" ucap Donghae lirih.
"Hyung"
Iris hitam Donghae kini menatap Kyuhyun yang tengah memanggilnya.
"Apa?"
Manik Donghae menatap setiap gerik tubuh Kyuhyun. Bahkan Kyuhyun yang kini merogoh saku piyamanya mencoba mengambil sesuatu, Donghae memperhatikannya.
"Mendekatlah."
Kyuhyun menarik salah satu lengan Donghae dan menarik wajah Donghae mendekat ke arahnya, kemudian Kyuhyun tempelkan sesuatu tepat di atas luka yang terdapat di sebelah bawah mata kanan Donghae.
"Kau tak seharusnya membiarkan wajah tampanmu dihiasi oleh luka macam begini."
Kyuhyun selesai memasang sebuah plester di salah satu luka Donghae yang paling parah.
"Kau harus berhati-hati terhadap luka, sekecil apapun itu. Apalagi jika itu dekat dengan organ tubuh yang rawan, seperti mata"
"Hmm, terima kasih."
The Truth :::::
Donghae kini menatap langit-langit kamarnya, ia sudah sampai di kamarnya sendiri dan tengah merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Ucapan Kyuhyun tadi masih terngiang jelas di telinganya.
'Kau tak seharusnya berterima kasih padaku hyung, sebenarnya itu pemberian Kibum.'
Donghae tersenyum geli membayangkan jika plester itu benar pemberian dari Kibum. Ayolah, Donghae cukup pintar untuk mengartikan setiap sikap Kibum selama ini padanya, terlebih atas ucapan Kibum tadi siang di bangunan "The Black".
'Kau cepatlah pergi. Kau lupa aku ketua di kelompok ini? Kau mau aku menyuruh anak buahku untuk memukulimu seperti yang kita lakukan terhadap Siwon? Jadi menyingkirlah, Donghae'
"Aish"
Donghae mengacak rambutnya kasar mengingat kembali kata-kata menyakitkan dari Kibum tadi siang.
"Apa tak cukup dengan sikapmu yang dingin selama ini? Apa harus kau berbicara seperti itu Kim Kibum?"
Donghae pejamkan matanya kemudian, ia sudah tak mau ambil pusing masalah plester itu. Tentang ucapan Kyuhyun yang jujur atau tidak soal plester pemberian Kibum, Donghae sudah tak perduli. Ia lelah dan ingin tidur.
'Eomma…..'
The Truth :::::
"Rencana berjalan lancar"
"…"
"Dia tidak mencurigaiku sama sekali"
"…"
"Apa? Membunuhnya?"
- TBC -
Haloha, untuk chapter 4 sampai sini aja ya. Saya sudah tak tahu harus menulis apa lagi.
Yang udah nunggu fict ini makasih banget, saya terharu loh #Plak. Sepertinya beberapa chapter lagi fict ini akan END. Kalau mau nunggu silakan.
Oke, see you di chapter 5 semua… maaf ya updatenya lama.
RnR ?
