Baekhyun berjalan dengan cepat menyusuri halaman belakang gedung SM. Setelah memastikan mobil Van yang membawa EXO keluar dengan aman meninggalkan gedung. Dirinya sendiri tak mengira jika dirinya mampu melakukan misi gila yang Kyungsoo bebankan padanya. Awal dirinya yang menolak mentah-mentah rencana Kyungsoo sampai berhasil melakukan tugasnya tanpa kendala yang berarti.

Baekhyun sadar dengan apa yang dia dan teman-temannya lakukan ini. Mereka semua telah bermain-main dengan aset sebuah perusahaan. Dirinya yakin jadwal yang sudah di atur untuk 1 minggu kedepan akan tercancel seluruhnya karena member EXO telah menghilang. Baekhyun sendiri tak ingin pusing-pusing memikirkan berapa kerugian perusahaan mereka. Berdoa saja jika masalahnya tidak akan seserius yang terbayang oleh dirinya sejak awal.

Baekhyun berhenti melangkahkan kakinya di ujung pertigaan jalan di sekitar gedung SM. Mata sipitnya mengeksplor lingkungan sekitarnya hanya untuk mencari mobil teman gila yang mendukung permainan yang Kyungsoo ciptakan. Matanya beralih melirik jam tangan yang ia gunakan, dirinya sudah tepat waktu yang ia perhitungkan. Tapi mobil yang ia cari tidak ada di tempat seharusnya. Baekhyun mendengus kesal. tiba tiba sebuah mobil mewah berhenti tepat di depannya. Baekhyun menatap mobil titu dengan tajam. Kaca hitam mobil tersebut bergerak turun dan menampilkan sosok pengemudi mobil mewah tersebut.

''hai,, Baek. Apa sudah lama menunggu'' sapanya dengan memamerkan senyum cantiknya.

''satu detik saja kau terlambat, akan ku pastikan mobil mewahmu ini akan menjadi buronan polisi'' acam Baekhyun lengkap dengan mimic mengancam.

''eii, kau pikir ancamanmu mempan denganku, sudahlah cepat masuk. Sebelum kita ketinggalan kapal''

Baekhyun mendengus lagi dengan keras. Ingatkan dirinya untuk berhenti menghela nafas keras jika dirinya terlalu sering melakukannya. Baekhyun meraih ganggang pintu mobil mewah tersebut dan mendudukan dirinya di kursi belakang.

'' are you ready, guys'' ujar Luhan yang kini memacu mobilnya dengan kecepatan sedang membelah jalanan kota seoul yang cukup padat di jam-jam seperti ini.

.

.

.

.

.

Manager EXO kini berjalan mondar-mandir di ruang ganti yang EXO gunakan tadi. Tangannya sembari memainkan ponselnya dan menempelkannya di telinga. Lagi-lagi suara operator menyapa gendang telinganya. Membuatnya semakin geram. Semua ponsel member EXO tidak dapat di hubungi. Sedangkan staff lainnya belum memberinya kabar yang lebih lanjut selain kata. ' mereka masih tidak dapat kita temukan'. Mata nya kini melirik jam dinding yang tergantung di atas pintu. Beberapa menit lagi mereka harus terbang menuju pulau jeju untuk melakuakn fansign. Dan sekarang mereka menghilang. Ingin rasanya dirinya tenggelam di dasar sungan Han. Kalau bisa sungai kebanggan korea itu tidak memiliki dasar.

Kali ini dirinya menghela nafas dengan kasar. Memilih duduk di salah satu kursi yang terdapat di ruangan tersebut, memijit pelipisnya yang sedari tadi mendadak menjadi berat. Kalau sampai besok dirinya belum bisa menemukan member EXO akan di pastikan karirnya juga terncam putus sampai disini. Apa mereka diculik? Apa mereka memang melarikan diri? Apa mereka….?. berbagai pertanyaan masih bersarang di tempurung otaknya, semakin menekannya dan membuat dirinya didera rasa pusing yang hebat.

Matanya tak sengaja menemukan secarik kertas yang berada di depan meja rias di bawah tumpukan botol-botol hairspray. Dirinya bangkit berdiri dan mengambil kertas tersebut. matanya mengamati tulisan yang tercetak rapi di atas kertas putih tersebut. dalam hitungan detik dirinya meremas-remas kertas tersebut dan meraih ponselnya yang tergeletak di meja.

''hallo, maaf saya harus membatalkan acara fansign sekarang karena ada bebrapa hal yang tak memungkinkan member EXO datang. Kita bisa mengatur jadwal ulang tanggalnya.''

''…''

'' iya, saya minta maaf sebesar-besarnya. Jika ada kerugian perusahaan akan menggatinya''

''….''

''masalah fans, saya akan terbang kesana dan menjelaskan pada mereka tentang alasan kenapa member EXO tidak bisa datang''

''…..''

''ah, baiklah. Terima kasih. Saya akan terbang kesana setelah meneyelesaikan beberapa urusan disini''

''…..''

'' ne.. terima kasih. Senang bekerja sama dengan anda'' ujar sang manager.

Manager tersebut menghela nafas keras. Dan beranjak keluar dari ruangan tersebut. menyusuri lorong dan menunggu lift yang masih bergerak naik menuju lantai dimana dia berada.

Ting ..

Pintu lift terbuka dan terdapat beberapa staff SM yang berada di dalam lift tersebut. saling menebar senyum. Kemudian tangannya menekan tombol lift 8. Yang di bawah angka tersebut bertuliskan – CEO Room - .

To : manager hyung

'' manager hyung, miane. Aku dan yang lainnya akan pergi ke suatu tempat, dan jangan mengkhawatirkan kita. Aku akan menjamin kita akan baik-baik saja. DAN TOLONG JANGAN MENCARI KAMI''

From : Suho

.

.

.

.

.

.

Van hitam tersebut kini telah terparkir di pelabuhan. Sembari menunggu antrian kendaraan yang akan di angkut ke dalam kapal tersebut. satu sosok penumpang di balik kemudi keluar dari Van tersebut setelah memastikan keadaan penumpang di dalam Van tersebut masih dalam keadaan tidur. Berjalan ke depan Van dan belakang kemudian berkutat dengan plat nomor palsu yang ia gunakan guna melepasnya agar tidak mudah terlacak berjaga-jaga seandainya manager EXO melapor ke polisi atau menyuruh anak buah mereka mencari Van yang ditumpangi member EXO. setelah yakin pekerjaannya telah beres, Yixing melepas alat penyamarannya dan berjalan masuk kedalam kapal yang sudah menepi di pelabuhan 5 menit yang lalu.

Sosok laki-laki muda keluar dari kabin kapal. Tersenyum saat melihat temannya menghampirinya.

''apa kalian sudah siap'' tanya Ken. Laki-laki yang diberi tugas untuk menyiapkan kapal yang akan membawa mereka menyebrangi teluk yang memisahkan seoul dan pulau jeju.

''eoh, semuanya sudah siap. Kita hanya harus menunggu Luhan dan yang lainnya tiba. Sepertinya 5 menit lagi mereka akan sampai'' jawab Yixing sembari melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.

Ken mengagguk mengerti '' baiklah, aku ada di dalam. kapal akan berangkat 10 menit lagi. Jika ada sesuatu yang kalian butuhkan hubungi saja aku''

''tentu. Dan ingat jangan sampai ada yang tau tentang rencana kita. ''

''tenanglah semuanya aman'' jawab Ken penuh keyakinan.

Yixing tersenyum dan melangkah kembali ke dalam Van kemudian bersiap-siap membawa Van tersebut ke dalam kapal.

Xiumin yang datang dari sudut kanan mobil, membuka pintu dan menghempaskan tubuhnya di alat penyamarannya dan memasukkannya ke dalam tas yang ia bawa.

''kau dari mana?'' tanya Yixing sambil lalu.

Xiumin melirik Yixing sekilas '' mencari kamar mandi umum dekat sini''

Yixing mengguk samar dan menatap pemandangan diluar kaca mobil dengan tatapan kosong, Yixing merasakan sebuah firasat entah itu baik atau tidak. '' Xiumin'ah apa kau menaruh keyakinan penuh rencana gila ini akan berhasil dan tidak menimbulkan masalah'' ujarnya sembari melirik member EXO yang masih terlelap akibat pengruh obat bius.

''entah kenapa, di rencana kali ini aku menruh kepercayaan yang sangat besar, dan aku rasa kita akan berhasil, apa ada sesuatu yang mengusik pikiranmu?'' ujar Xiumin penuh semangat, kemudian menatap Yixing dengan tatan penuh curiga.

Yixing menghela nafas berat '' tidak, hanya saja aku berfikir tentang apa yang di katakan Baekhyun, tentang bagaimana fans mereka. Dan aku takut….!''

''takut kenapa?'' tanya Xiumin menatap Yixing lekat-lekat

'persahabatan kita akan hancur' lanjut Yixing dalam hati. Sembari melirik kembali kebelakang, entah kenapa firasatnya mengatakan jika salah satu diantara mereka berlima akan berselisih paham. Dan Yixing merasakan sesuatu yang besar akan terjadi di antara mereka berlima.

Yixing tersenyum samar '' entahlah, aku merasa akan ada masalah yang besar menanti diantara kita berlima'' gumamnya pelan, yang hanya mampu di dengar oleh udara yang mengelilingi mereka. sembari melirik sosok laki-laki jangkung yang sedang terlelap di jok belakang. Yixing merasa sosok itulah akar dari permasalahannya nanti di antara mereka berlima. Firasat apa ini? Yixing menggeleng lemah mencoba mengusir firasat buruk yang tiba-tiba menghampirinya.

''heee, ania. Sudah lupakan'' lanjut Yixing menmpilkan senyum dan lesung pipinya yang cantik. Mencoba mengalihkan topic pembicaraan dan mengusir firasat buruk yang sedang melanda dirinya.

Xiumin yang menatap sahabatnya dengan tajam tersenyum penuh kehangatan ''hei, sejak kapan kau akan goyah dengan hal seperti itu, seperti bukan dirimu saja'' Xiumin tau jika sahabatnya ini mencoba menghalau firasat buruk yang sedang melanda sahabatnya ini. Dan yang bisa dirinya lakukan hanya membantu memberinya semangat untuk tetap melanjutkan rencana ini.

Di antara mereka hanya Yixing yang memiliki firasat yang cukup tajam. Ibarat seorang cenayan yang dapat melihat kejadian apa yang akan terjadi di masa depan. Dan yang mengetahui kelebihan Yixing hanya Xiumin yang dimana menurut dirinya mulut Xiumin lah yang paling aman di antara ketiga sahabatnya yang lain.

Yixing lagi-lagi menatap Xiumin dengan sorot mata penuh kekhawatiran.

Xiumin menatap Yixing dengan sorot mata kelembutan, saat menangkap sorot mata Yixing '' aku tau kau memiliki firasat yang kuat, kita hanya bisa berharap apapun masalahnya nanti yang akan terjadi. Kita harus percaya satu sama lain''

Yixing hanya mampu tersenyum lembut pada Xiumin '' benar, kita harus percaya satu sama lain, apapun yang terjadi.''semangatnya .

.

.

.

.

.

Sebuah mobil mewah masuk di area pelabuhan. Berhenti menepi tepat di sebelah van hitam. Luhan keluar dari dalam mobilnya dan melangkah menuju bagasi belakang mobilnya. Mengambil sebuah tas jinjing yang isinya dapat membantu rencana mereka. Luhan kini berjalan mendekati van hitam yang terparkir tepat di samping kanan mobilnya.

''Xiumin'a gunakan benda yang berada di dalam tas ini ketika kalian telah berhasil menyebrang dan saat telah sampai di sekitar rumah penduduk pertama yang kalian lihat'' ujar Luhan sembari menyerahkan tas jinjing yang ia bawa pada Xiumin.

Xiumin menatap Luhan penuh tanya '' apa ini?

'' isi dalam tas ini membantu kalian membawa mereka berlima kedalam vila yang sudah Kyungsoo siapkan disana '' ujar Luhan santai sembari ekor matanya melirik lima pemuda yang masih tidur terlelap.

Xiumin menganggukan kepala samar dan melirik jam tangan yang melingkar manis di tangannya 5 menit lagi kapal akan berangkat '' oh, baiklah aku mengerti. Sekarang aku akan masuk ke dek kapal terlebih dahulu. Kalian persiapkan apa yang kalian butuhkan di sana nanti'' ujar Xiumin dan menolehkan kepalanya kepada Yixing yang memegang kendali kemudi '' Yixing'a kajja''

Yixing mengangguk mantap dan mulai menyalakan mesin '' sampai jumpa Luhan, dan semoga misi terakhir kalian berhasil'' Yixing mencoba memberi semangat dengan mengangkat kepalan tangannya ke udara.

'' faighting''

Luhan tersenyum menatap kedua sahabantnya dan mengangguk dengan mantap. Luhan masih setia berdiri di tempatnya dan Melihat van tersebut mulai memasuki dek kapal dan mencari posisi parkir yang pas. Kini ekor matanya melirik jam tangan yang melingkar di tangannya tidak ada waktu lagi, dirinya harus bergegas.

.

.

.

.

.

Baekhyun bergerak gelisah di dalm mobil Luhan, berkali-kali melihat jam yang berada di bagian interior mobil mewah sahabatnya ini.

'' demi tuhan Kyungsoo apa yang sedang Luhan lakukan berdiri disana?'' ujar Baekhyun dengan gusar. Sembari menatap Luhan dengan tatapan membunuhnya.

Kyungsoo hanya memasang wajah datarnya sembari mengotak-atik tablet yang sedari ia pegang. '' sudah ku katakan kau ganti baju di dalm mobil saja, kita tidak punya cukup waktu untuk mencari toilet umum terlebih dahulu'' ujar Kyungsoo cuek.

''heol, disini?'' Baekhyun memasang wajah konyolnya '' tidak akan!'' putus Baekhyun final.

''kenapa? Kaca mobil Luhan gelap Baek tidak aka nada yang bisa melihatmu'' kyungsoo langsung memutar kepalanya 90 derajat menghadap Baekhyun.

Baekhyun menatap Kyungsoo dengan tatapan menuduh.

'' sial, jangan berfikiran aku akan melihat'' gerutu Kyungsoo saat sadar dengan tatapan Baekhyun.

Baekhyun mengangkat bahunya cuek '' mungkin saja itu terjadi''

'' dih, ada yang lebih bagus untuk dilihat di sini Baek''

''salah satunya itu aku yang sedang ganti baju''

'' mati sana! Aku tak sudi melihat bentuk tubuhmu sekalipun, sial!'' balas Kyungsoo sakartis dan memegang knop pintu mobil, beranjak keluar dari mobil dan sedikit membanting pintu mobil mewah Luhan, meninggalkan Baekhyun sendiri di dalam mobil.

Kyungsoo keluar dari mobil dan bersandar di pintunya, tangannya bersedekap di depan dada sembari menggerutu pelan. Luhan yang melihat tingkah Kyungsoo sontak terkekeh renyah.

'' hei, kau kenapa Kyung?'' tanya Luhan tepat saat berdiri di hadapan Kyungsoo

''jangan bertanya! Aku sedang kesal'' gerutunya lengkap dengan wajah cemberutnya

''baiklah, tapi dimana Baekhyun? Apa dia pergi ketoilet, kita tidak akan punya wak….' Kata-kata Luhan terputus saat jemari Kyungsoo bergerak mengetuk-ngetuk kaca belakang mobil mewah Luhan.

Luhan yang menerima clue yang di berikan Kyungsoo, mengangguk tanda mengerti jika Baekhyun ternyata di dalam mobilnya. Luhan mengamati raut wajah Kyungsoo yang masih cemberut dan otak cerdasnya mencoba menghubungkannya dengan Baekhyun yang ternyata berada di dalam mobilnya.

Mata rusa Luhan memicing curiga menatap Kyungsoo'' hei, apa kalian sedang bertengkar?''

'' tidak'' jawab Kyungsoo singkat padat dan jelas

'' lalu? Jika tidak bertengkar kenapa kau keluar mobil dan memasang wajah cemberutmu itu''

Kyungsoo menghembuskan nafasnya kesal '' aku keluar karena Baekhyun menganggap diriku akan mengintip dia sedang ganti baju, kau tau temanmu itu sungguh konyol, bahkan tidak ada yang pantas untuk di banggakan di depanku atas tubuhnya, benar kan Lu?'' jelas Kyungsoo panjang lebar sarat akan mencari dukungan pada Luhan. Kasarannya Kyungsoo sedang menghasut Luhan.

Luhan hanya terkekeh mendengarnya dan tiba-tiba pintu mobil belakang terbuka menampilkan sosok yang menjadi bahan pembicaraan Kyungsoo dan Luhan.

'' hei, aku mendengar semua percakapan kalian dan terutama kau Kyungsoo!'' protes Baekhyun tepat saat dirinya telah mengganti pakaiannya yang akan berguna disana nanti, setidaknya itu kata Kyungsoo. Baekhyun sendiri bingung kenapa dirinya harus berganti pakaian, dirinya hendak bertanya tapi urung karena Kyungsoo lebih dulu memberinya kalimat 'jangan banyak bertanya untuk apa', di awal percakapan mereka tadi saat perjalanan menuju pelabuhan. Dan itu sukses membuat Baekhyun kesal, meski rasa kesalnya hanya beberapa saat saja dan setelah itu smeuanya kembali ke normal.

Luhan mengamati penampilan Baekhyun dan berdecak kagum. Lihatlah sosok yang tadi berpenampilan casual kini telah berubah menjadi sosok gadis yang sangat cantik luar biasa. Dengan dres putih selutut, dengan bordiran bungan warna pink perpaduan blue di sekitar ujung dresnya, dengan punggung terbuka sampai sepertiga punggungnya, menampilkan punggung putih mulus yang Baekhyun miliki, rambutnya yang di cempol rapi menyisahkan beberapa helai rambut di dekat telinganya, sapuan lipstick peache tipis menghiasai bibir tipisnya. Dan highills berhak 7cm menghiasi kakinya.

''wow, siapa ini?'' decak Luhan kagum.

''sebenarnya aku ingin sekali bertanya kenapa hanya aku yang disuruh berganti baju'' akhirnya Baekhyun mengungkapkan protesnya dan menatap kedua sahabatnya ini dengan bergantian.

Kyungsoo yang tadi sedang kesal kini ternyum bangga melihat penampilan sahabatnya ini. Rasa kesalnya tadi menguap entah kemana. Kyungsoo sendiri tak menampik jika Baekhyun sangat cantik dengan gaun itu. Bukan tanpa alasan dirinya menyuruh Baekhyun mengganti pakainnya. Karena dirinya sudah menyiapkan segala sesuatunya dengan detail dan matang.

''kau akan mengerti nanti saat kita tiba di tempat tujuan'' jelas Kyungsoo singkat

''apa kalian akan menjadikanku umpan nanti'' ujar Baekhyun curiga. Bukan apa-apa hanya saja firasatnya mengatakan sesuatu akan terjadi dan itu akan buruk bagi dirinya.

''iya, umpan ikan hiu nanti di tengah laut'' canda Kyungsoo sambil lalu dan memutuskan masuk kedalm mobil. Baekhyun cemberut berat. Dirinya yang bertanya serius malah di anggap bercanda oleh Kyungsoo. Sedangkan Luhan hanya tertawa melihat tingkah kedua sahabatnya ini.

'' jangan tertawa Luhan'' protes Baekhyun kesal. dirinya semakin kesal saat melihat Luhan tertawa dengan kencang. Luhan sontak diam dan berusaha mengontrol tawanya yang masih jelas terdengar oleh Baekhyun.

'' bukan begitu Baek, aku jujur jika mengatakan sekarang kau sangat cantik. Hanya saja apa yang di katakan Kyungsoo mungkin ada benarnya juga'' ujar Luhan di sela-sela menahan tawa.

'' kau menyebalkan'' Baekhyun melirik Luhan sewot. Dan memutuskan kembali masuk kedalam mobil tanpa berkata apapun pada Luhan yang masih tertawa sembari memegangi perutnya. Kaca jendela mobil terbuka. '' sampai kapan kau akan tertawa Luhan, sebentar lagi kapalnya akan berangkat'' seru Kyungsoo dari dalam mobil.

Suara peringatan dari kapal terdengar, membuat Luhan mau tidak mau menghentikan tawanya dan berjalan memutari mobil untuk duduk di balik kemudi. Dan membawa mobilnya masuk kedalam dek kapal.

.

.

.

.

.

.

Suasana ruangan rapat tersebut menjadi tegang dalam hitungan beberapa detik tepat saat manager mengungkapkan masalah yang sedang terjadi pada sang pemimpin perusahaan. Keputusan ini ia ambil karena dirinya sudah berada di batas kemampuannya untuk menyelesaikan masalah yang sedang ia hadapi. Sampai pagi ini dirinya masih belum bisa menemukan member EXO, ponsel mereka tidak bisa dihubungi dan keberadaan mereka sulit dilacak pasalnya mereka pergi tidak menggunakan van dari perusahaan dan mobil pribadi mereka. Dirinya juga sudah bertanya pada orang-orang terdekat member EXO dengan tidak mengundang kecurigaan tapi hasilnya nihil. Tidak ada yang tau mereka kemana. Staff yang bekerja waktu itu juga tidak ada yang tau. Mata sang manager melirik semua staff yang bertugas hari ini dengan pandangan gelisah. Bukannya apa-apa mereka bisa saja kehilangan pekerjaan detik ini juga jika sang pemimpin memutuskan hal tersebut, karena menganggap mereka tidak bisa bekerja dengan baik.

Ekor matanya melirik sang pemimpin yang masih duduk terdiam dengan ekspresi wajah yang sulit untuk di artikan. Setiap gerak sang pemimpin menjadi perhatian besar bagi seluruh karyawan yang sedang berada diruang rapat kini.

'' bagaimana dengan smeua jadwal yang sudah disusun, managernim'' tanya sang pemimpin tenang tapi akan sarat intimidasi.

'' semuanya sudah saya atur ulang sanjangnim'' jelas sang manager.

'' baiklah kalau begitu. Untuk kalian semua saya harap media tidak dapat mecium masalah ini. Buat klarifikasi jika member EXO akan menunda promosi albumnya sampai batas waktu yang tidak ditentukan karena masalah kesehatan member EXO. aku tau jika reaksi media diluar sana akan heboh, yang perlu kita lakukan hanya diam. Aku tidak akan melapor masalah ini kepolisi karena bisa bisa mempengaruhi harga saham perusahaan dan reputasi member EXO sendiri. Masalah fans mereka aku tau kau bisa ku andalkan manger Kim'' ujar sang pemimpin sembari melirik manager EXO yang duduk di sebelah meneger mengangguk mengerti.

''aku sudah membentuk tim untuk mencari keberadaan member EXO, kalian harus bekerja sama dengan manager Kim, temukan pelakunya dan bawa mereka ke hadapanku. Nanti aku yang akan mengambil keputusan hal apa yang akan mereka terima. jadi sisanya yang kalian lakukan hanya bertugas seperti biasa. Ajak salah satu traine kita untuk pergi kerumah sakit. Samarkan mereka, buat mereka seperti cirri-ciri member EXO. apa kalian mengerti'' lanjut sang pemimpin.

Semua staff yang mengikuti rapat dadakan kali ini mengangguk kompak. dan bangkit berdiri secara serentak. Baru satu langkah kaki mereka beranjak dari kursi duduk mereka suara tegas dan mengintimidasi membuat langkah mereka terhenti dengan raut wajah cemas.

''ingat jika kalian tidak berhasil melaksanakan tugas yang sudah aku berikan, dengan berat hati karir kalian aku jamin akan berhenti saat itu juga dan dimanapun kalian berada tak ada satupun perusahaan yang mau merekurut kalian'' ujarnya tegas tak terbantahkan membuat seluruh staff yang merasa mengemban tugas tadi seolah mengalami mimpi buruk yang tiada akhir.

'' ne sanjangnim'' seru mereka kompak dan membungkuk hormat, lalu pergi meninggalkan ruang rapat. Setidaknya mereka harus melalui hari-hari berat mereka mulai detik ini.

Terdengar helaan suara nafas berat yang membuat sang manager Kim yang sedari tadi diam menatap sang pemimpin perusahan itu takut-takut. Bagaimanapun juga dirinyalah yang bertanggung jawab atas semua member EXO lakukan.

''kenapa kau masih ada disini'' serunya dingin sembari memijit pelipisnya pelan.

''eh, ini saya mau pergi sanjangnim'' ujar manager Kim gugup.

''pergilah, temukan mereka bagaimanapun caranya''

''ne, sanjangnim'' manager Kim menjawab dengan mantap dan membungkuk hormat. Sebelum mood pemimpinnya ini kembali buruk, lebih baik dirinya pergi dari ruangan ini menjauh dari singa jantan yang suwaktu-waktu akan mengamuk. Setidaknya itulah pemikiran konyol manager Kim saat ini. Saat langkahnya hendak mencapai pintu, langkahnya terhenti saat mendengar suara pemimpin perusahaan.

'' ingat keluargamu manager Kim''

Tangan manager Kim yang berada di sampingnya terkepal kuat. dirinya tau apa arti dari kata-kata pemimpinnya tersebut. bukan hal baru jika pemimpinnya ini kadang terkenal kejam dalam menyelesaikan masalah ataupun urusan bisnis. Jika ia gagal dalam menemukan member EXO bukan hanya karirnya melainkan keluarganya juga dalam maslah. Dan jelas seluruh anggota member EXO juga akan terkena imbasnya. Bagaimanapun juga dirinya tak bisa membiarkan mereka menerima hukuman yang akan di berikan oleh pemimpin perusahaan, baginya semua member EXO sudah ia anggap seperti adik laki-lakinya.

''ne sanjangnim'' ujar manager Kim lalu melangkah pergi meninggalkan ruangan tersebut tanpa menoleh sedikitpun pada sosok laki-laki paru baya yang sedang duduk menatap punggungnya dengan tatapan tajam..

.

.

.

.

.

jika manager Kim membingungkan member EXO sedang berada di mana. Maka sosok laki-laki yang paling tinggi di antara mereka berlima juga mengalami hal yang sama tetapi dalam konteks yang berbeda. Chanyeol berkali-kali mengerjapkan mata besarnya, mencoba merekam desain ruangan yang sedang ia tempati bersama rekan-rekannya. Mengingat-ingat tempat macam apa yang sedang ia tempati sekarang ini. Tapi sekeras apapun dirinya mengingat tetap tak menemukan jawaban yang ia cari. Yang ia ingat hanya dirinya bersama yang lain akan pergi ke jeju untuk melangsungkan acara fanmeet yang harus mereka penuhi. Apa sekarang dirinya sudah sampai di jeju, lebih tepatnya di sebuah hotel yang sudah di siapkan oleh pihak penyelenggara. Tapi tidak mungkin, jika ini hotel pasti mereka semua tidak akan berada di kamar yang sama.

Chanyeol meregoh saku mantelnya, guna mencari ponsel pintarnya. Tapi nihil. Dirinya mencoba merogoh seluruh kantong yang terdapat di mantel tebalnya tapi hasilnya tetap sama. Ponsel pintarnya tidak ia temukan padahal seingatnya ponselnya ia masukkan di saku mantelnya. 'apa jatuh di Van' pikir Chanyeol.

Chanyeol mengedarkan pandangannya sekali lagi ke seluruh ruangan yang cukup besar tersebut. satu ranjang king size beserta dua buah nakas di sisi kanan kiri ranjang di tengah-tengah ruangan. Dengan satu set kursi tamu, terdapat dua ruangan pula yang agak menjorok kedalam dan di lapisi pintu berwarna coklat dan drak grey. Chanyeol bangkit dari duduknya dan mencoba membangunkan rekan-rekannya yang masih tidur. Entah kenapa perasaannya menjadi tidak enak. Dirinya merasa asing dengan suasana saat ini.

Chanyeol berjalan di sisi kanan, dimana sang leader terduduk masih setia dengan keadaan tidurnya. '' hyung, ireona'' ujar Chanyeol sembari menggoyangkan lengan Suho.

'' hyung''cobanya sekali lagi dengan guncangan sedikit keras di bahu suho.

Suho mulai terusik. ''eoh Chanyeol'ah, wae?'' ujarnya serak bangun tidur, Sedikit menggeliat untuk sekedar merilekskan tubuhnya yang terasa remuk semua. Suho mengerjapkan matanya berulang kali, mencoba mengakrabkan dengan suasana kamar yang ia tempati. Seperti yang di alami Chanyeol saat pertama kali membuka matanya. Tatapan heran tersirat di mata Suho.

''Hyung kau tau kita ini dimana'' tanya Chanyeol tanpa basa-basi saat melihat Suho membuka matanya.

Suho menggeleng pelan '' apa kita sudah sampai di jeju? Kenapa manager Hyung tak membangunkan kita?'' Suho bertanya balik dan sukses membuat perasaan Chanyeol semakin tak enak.

''apa Hyung tidak mengingat bagaimana ceritanya kita sampai bisa berada disini''

'' tidak, Chan. Aku hanya ingt kita terakhir masuk Van dan ….'' Ujar Suho terputus saat dirasa kepalanya mendadak berdenyut sakit. Sembari memegangi kepalanya suho menggeleng pelan sekali lagi '' aku tidak ingat apa-apa, kecuali saat kau membangunkanku. Dan sekarang kepalaku pusing sekali ''

Chanyeol menghembuskan nafasnya kasar. '' aku merasa aneh disini Hyung, pinjam ponselmu? Coba hubungi manager Hyung'' ujarnya sembari menjulurkan tangan kanannya kea rah Suho.

Suho merogoh saku jaketnya. Seketika raut wajahnya berubah heran. Ia mencoba merogoh saku jaketnya sekali lagi dan ponselnya tidak ia temukan. Chanyeol yang melihat tingkah Suho, mengerti dengan apa yang terjadi.

'' apa ponselmu tidak ada''

'' oeh, kau benar Chan. Seingatku ponselku aku letakkan di saku jaket tapi kenapa tidak ada'' keluh Suho yang masih mencoba mencari ponselnya di setiap saku jaket yang ia kenakan sembari menatap Chanyeol yang kini mulai terlihat gusar.

'' Chanyeol, waeire?''

Chanyeol tak memperdulikan pertanyaan Suho. kini Obsidiannya menatap kearah candela yang terlapisi gorden berwarna drak grey berlapis kain putih tipis yang terletak di sudut kamar tersebut. kakinya melangkah dengan cepat.

Sreeettt

Satu sentakan kasar membuat gorden tersebut menyibak dengan sempurna. Menampilkan pemandangan khas pedesaan yang sangat asri. Hamparan tanaman hijau terbentang luas di balik jendela tersebut. jalan yang tak di alpisi aspal terbentang sekitar 2km. rumah-rumah penduduk juga tersebar dengan tidak merata. Jarak rumah satu dengan yang satunya terpaut 100-300 meter. kerutan di dahi Chanyeol kini tercetak jelas. ''diamana ini'' jeritanya dalam hati. Pasalnya, rumah yang ia tempati ini sepertinya terletak paling jauh di antara rumah penduduk.

''Hyung, sepertinya sesuatu telah terjadi pada kita''

.

.

.

.

.

.

Baekhyun masih menatap Kyungsoo dengan tajam. Dirinya masih tidak menerima tugas yang baru saja ia lakukan. Dengan mendekapkan kedua tangannya di depan dadanya Baekhyun bangkit berdiri dari posisinya duduknya sedari tadi.

'' tidak bisa'' ujarnya mantab.

Yixing yang sedari tadi hanya melihat dan mendengar kini menghembuskan nafasnya jengah. Perdebatan ini tidak akan berakhir jika masing-masing kubu tidak mau mengalah.

'' sudahlah Baek, hanya kau yang ahli dalam acting seperti tadi. Lagian semuanya sudah terjadi kenapa masih diributkan'' ujar Yixing kalem, yang sukses dapat lirikan tajam Baekhyun.

''setuju'' suara Kyungsoo menyaut dengan cepat dengan ekspresi datarnya tanpa sedikitpun menatap Baekhyun yang kini tengah meliriknya berkali-kali tajamnya seolah mampu mencabik-cabik tubuh Kyungsoo.

''tapi tidak menjadikanku umpan untuk alasan kalian menyembunyikan member EXO, aku sudah curiga sejak awal kenapa hanya aku saja yang disuruh berganti pakaian, perasaanku memang tidak pernah meleset''

Mereka bertiga sedang duduk bersantai di ruang tamu. Baekhyun, Kyungsoo dan Yixing mengistirakan tubuh mereka. Setibanya mereka di pelabuhan yang dituju. Yixing dan Xiumin membawa Vannya menuju sebuah desa yang akan menjadi tempat mereka menginap untuk satu minggu kedepan. Dengan mobil Luhan yang memimpin jalan di depan. Semua member EXO masih dalam keadaan tidur dan lengkap dengan alat penyamarannya yang sudah di siapkan oleh Yixing dan Xiumin waktu mereka masih di dalam kapal.

Saat memasuki desa yang dituju memang kedua mobil yang berplat nomor dari kota Seoul menjadi sorotan. Pasalnya mayoritas penduduk disini masih minim dan sebuah kendaraan yang seperti mereka bawa jelas sangat mencolok, karena pada dasarnya aktivitas masyarakat disini menggunkan sepeda untuk pergi kesuatu tempat. Dan saat Kyungsoo keluar untuk bertanya kepada masyarakat setempat tentang rumah yang akan ia sewa, Baekhyunlah yang menjadi alasan Kyungsoo. Dengan alasan rumah itu akan di jadikan tempat pemotretan artis dari seoul. Jelas sejak awal Baekhyun yang tidak mengerti alasan Kyungsoo menyuruhnya mengganti pakaian membuatnya tidak bisa protes saat itu juga, dan membuatnya uring-uringan sepanjang perjalanan menuju rumah yang akan mereka sewa.

''bukankah itu bagus Baek, kau akan dikenal sebagai artis ya setidaknya hanya disini'' saut Xiumin sambil lalu. Sosok Xiumin yang tiba-tiba muncul di antara mereka membuat Baekhyun semakin kesal saja, pasalnya disini tidak ada yang membelanya sama sekali.

Baekhyun mendengus sebal '' iya setidaknya disini, tapi setiba di Seoul aku lah orang yang pertama kali akan di tangkap oleh polisi dan di teror oleh EXO- L seumur hidup''

'sepertinya kau merupakan salah satu korban drama, Baek'' Luhan tiba-tiba juga muncul entah dari mana kedatangannya dan membuat Kyungsoo sedikit tertawa samar dan membuat Baekhyun mendelik ke arahya.

''apa yang sedang kau tertawakan Kyungsoo'ah'' ujar Baekhyun dingin. Kyungsoo yang tak sadar jika diperhatikan Baekhyun sontak menghentikan tawanya

''Baek, aku tau semua ketakutanmu itu. Kau fikir kita juga tidak takut dengan konsekuensi itu. Yang kita butuhkan hanya saling kerjasama dan melakukan semuanya secara rapi. Jika kau begini terus, selalu protes dengan cara yang kita lakukan, aku jamin semuanya tidak akan berjalan dengan lancar, percayalah. Kita sudah sejauh ini Baek. Pengaruh ayahku masih bisa di buat jaminan'' kekeh Luhan ''kau tau cara terampuh untuk menghindar dari masalah yang kau takutkan itu?'' Luhan berujar dengan santai sambil menaik turunkan alisnya di sepan sahabat-sahabatnya ini.

Ke empat gadis yang memiliki surai warna rambut berbeda itu dibuat mengernyit heran detik itu juga. ''apa maksud mu Luhan, dengan kata-katamu ''menghindar dari masalah' '' Xiumin akhirnya berbicara mewakili isi pikaran sahabat-sahabatnya.

Luhan menyeringai, tak menghiraukan pertanyaan Xiumin dan berbalik melangkah menjauhi sahabat-sahabatnya yang masih terdiam dan menatap punggung Luhan dengan alis saling bertaut.

''apa kalian tidak mau melihat lima pria tampan yang berhasil kalian culik di atas, sepertinya mereka sudah sadar dari pengaruh obat biusnya'' sambung Luhan lagi.

Kyungsoo pertama yang bangkit berdiri dan di ikuti Xiumin dan juga Yixing '' kajja'' ujarnya secara bersamaan. sedangkan Baekhyun hanya mendengus sebal melihat tingkah sahabat-sahabatnya yang memang menyebalkan dan dengan terpakasa mengikuti langkah sahabat-sahabatnya. Memang benar sampai detik ini dirinyalah yang masih tidak sejalan dengan sahabat-sahabatnya. Tapi kenyataan yang paling menyebalkan untuknya adalah dirinya tidak bisa menolak semua tugas yang di bebankan padanya dan dengan berat hati harus ia lakukan, dan anehnya berhasil sampai sejauh ini. Dirinya juga tak menyalahkan kata-kata Luhan jika pengaruh ayahnya masih bisa di buat jaminan. Oh, ayolah mana ada Negara yang mau menghukum anak seorang Mentri keamanan Militer di Cina jika tidak ingin memicu konflik antar Negara. Meskipun kali ini perbuatannya bisa dikata sudah di lampau batas toleransi yang menyerempet dengan tindakan Kriminal, tapi percayalah jika pihak polisi tak akan mau menyentuh seujung rambut Luhan sekalipun. Oh, apa terdengar meyakinkan jika keamanan mereka berlima sudah terjamin. Kita lihat saja nanti.

.

.

.

.

.

.

Manager Kim memakirkan mobilnya di sebuah pemukiman padat penduduk. Sekali lagi dirinya mengeksplor keadaan di sekitarnya dari balik kemidu, hanya sekedar meyakinkan dirinya jika tidak salah tempat .

Manager Kim turun dari mobil dan mengedarkan pandangannya ke sudut jalan yang tertulis nama jalan yang sedang ia kunjungin sekarang. Tangannya merogoh saku jaketnya dan meraih secarik kertas yang tertulis sebuah alamat dimana merupakan alasan kenapa dirinya jauh-jauh pergi dari Seoul untuk mencari alamat yang di berikan oleh rekannya yang katanya dapat membantunya untuk menemukan dimana keberadaan orang yang ia cari-cari. Tentu saja dirinya tidak bilang jika orang yang ia cari adalah member EXO karena dirinya masih sayang dengan keluarganya juga seolah kata-kata sanjangnim-nya bagai mantra di otaknya.

Manager Kim menghembuskan nafasnya kasar dengan raut wajah gusar '' awas saja kalian jika aku temukan'' gumamnya pada diri sendiri dan melangkah pergi.

.

.

.

.

.

Suho bangkit berdiri saat mendengar ucapan Chanyeol '' apa maksudmu Chan?''

'' sesuatu sedang terjadi pada kita''

'' memang kita sekarang berada dimana''

''molla, Hyung''

Suho melirik pemandangan yang cantik di balik punggung tegap Chanyeol yang masih setia berdiri di depan jendela. Dirinya kini sepenuhnya paham apa yang kini sedang terjadi pada Grubnya. Ya, seseorang mungkin telah menculik mereka. Oh katakanlah itu hal konyol yang hinggap di otak cerdas Suho. tapi sekeras apa ia berfikir sedari tadi dan merangkai potongan-potongan kejadian yang terakhir ia ingat dengan kondisinya sekarang, semuanya menuju ke arah satu kata 'penculikan'.

''jangan bilang kita sedang di,….?'' Kalimat Suho menggantung, seolah masih tidak mempercayai hal tersebut.

''apapun yang ada dipikaranmu Hyung, mungkin itu benar'' timpal Chanyeol dan berbalik menatap Suho dengan raut wajah Khawatir.

''lebih baik kita bangunkan mereka'' Suho mengalihkan tatapannya ke arah dongsaengnya yang masih terlelap.

''ireona, Sehun'ah'' ujar Suho sembari menggoyangkan lengan Sehun sang magnae mereka. Pergerakan tampak dari sosok laki-laki berkulit pucat tersebut dan menggosok matanya pelan. Seolah masih ada benda tak kasat mata yang menggelayuti kelopak matanya hingga enggan membuka.

''wae?, Suho Hyung'' balasnya dengan suara Khas bangun tidur.

''bangunlah dulu kemudian kita bicara'' sambung Chanyeol dan berjalan mendekat ke arah Kai untuk membangunkannya. Sehun bangkit dari tidurnya yang menyender sofa sedari tadi dan mencoba meregangkan ototnya yang terasa kaku akibat posisi tidurnya yang tak nyaman. Agaknya masih tidak memahami keadaan sekitar dan masalah yang menyelimuti mereka.

''wae Hyung? Apa kita sudah sampai'' ujar Kai saat hazel berwarna coklat madu tersebut menangkap bayangan Cahnyeol yang kini berdiri di depannya. Dan beralih untuk membangunkan Chen yang kini mulai terusik tidurnya karena suara-suara yang menerpa indra pendengarnya.

Melihat Chen yang kini mulai membuka matanya, membuat Chaneyol urung membangunkannya dan menunggu teman selinenya itu sadar sepenuhnya.

'' Hyung kita dimana?'' satu pertanyaan terlontar dari bibir Sehun. Dan di ikuti kernyitan dahi Chen yang mendengarnya. Suho dan Chanyeol hanya menatap Sehun dalam diam tak berniat menjawabnya.

''apa maksudmu Sehun?'' Chen kini malah balik bertanya pada Sehun yang memang masih tidak mengerti dengan keadaan sekitarnya.

''aku tidak tau, makanya aku bertanya pada Suho dan Chanyeol Hyung''

Kai yang baru sadar sepenuhnya dari tidurnya kini bangkit berdiri dan berjalan kearah jendela yang telah terbuka gordennya '' sepertinya kita mendapat masalah''

Chen ikut bangkit berdiri dan berjalan menghampiri Kai. sedangkan Chanyeol dan Suho hanya diam membiarkan teman-temannya ini menerka-nerka apa yang sednag terjadi dengan mereka.

Sehun mendengus kesal '' ayolah Hyung jelaskan pada kami'' rajuknya. Tapi hanya keterdiaman yang ia dapat.

'' chanyeol'ah, apa kita sedang tidak berada di tempat yang semestinya kita datangi?'' Chen akhirnya mampu melontarkan satu pertanyaan yang akan memnjawab rasa penasarannya. Karena tidak mungkin acara fanmeeting yang di adakan oleh perusahaan terletak di tempat jauh dari pemukiman seperti ini.

Chanyeol yang mendengar pertanyaan yang ditujukan padanya mengangguk mantap. Dan sukses membuat Sehun membulatkan matanya yang sipit tersebut saat melihat maksud dari Chanyeol menganggukkan kepalanya.

'' jangan bilang kita ….?'' Sehun diam seketika saat satu kata terlintas di otaknya.

''seolma…?'' Kai berujar pelan, yang menyadari apa yang sedang terjadi dan masih menatap pemandangan di luar jendela yang menampilkan rumah penduduk yang tidak begitu padat.

''kalian duduklah terlebih dahulu, kita bicarakan ini dengan tenang'' pinta Suho sembari menatap rekan satu Grubnya tersebut satu-persatu.

.

.

.

.

.

.

Manager Kim manatap bangunan kecil di depannya kini. Dan sekali lagi melihat secarik kertas yang ia genggam sedari tadi. '' apa benar ini rumahnya'' gumamnya ragu dan kembali melihat plat alamat yang tertempel di didinding rumah tersebut . ''Saerim-17'' .

Dengan ragu-ragu manager Kim mengetuk pintu tersebut. 3 kali ketukan terdengar suara derap langkah dari dalam.

'' chakamman'' jeritnya dari dalam. suara khas laki-laki dewasa terdengar.

Manager Kim manatap daun pintu itu terbuka dengan perasaan tidak sabar. Karena beberapa hari kedepan waktu sangat berharga bagi kelangsungan hidupnya dan orang-orang yang mempunyai hubungan darah dengannya.

Ckleeekkk

Daun pintu tersebut terbuka dan menampilkan sosok laki-laki dewasa yang berpenampilan berantakan menatapnya dengan heran. '' nuguseyo?'' ujarnya.

''ah, perkenalkan aku Kim Jonghyun teman dari Lee Seukjoo apa kau mengenalnya?'' jawab Manager Kim.

'' ah, Seukjoo seunbae. Ne aku mengenalnya, apa kau datang bersamanya?'' ujar Laki-laki tersebut sembari melirik ke arah balik punggung manager Kim untuk mencari keberadaan Sunbaenya tersebut.

Manager Kim yang menyadari sikap laki-laki di depannya ini hanya tersenyum masam '' hehe, ania. Aku datang kesini sendiri. Dia hanya emnitipkan salam padaku untukmu katanya ' sekali-kali datanglah ke apartemennya'.

''ah, jadi begitu'' nada kecewa jelas terdengar dari jawaban laki-laki tersebut.

'' apa benar kau yang bernama Song Minho?''

''ah, ne kau benar. Sebenarnya ada kepentingan apa kau datang kemari''

'' bolehkan aku masuk kedalam dan menjelaskannya''

Minho pun tersenyum dan menggeser tubuhnya ke samping, guna memberikan jalan untuk Manager Kim masuk dan menjelaskan tujuannya datang kerumahnya.

.

.

.

.

.

Derap langkah kaki dan suara-suara samar wanita terdengar dari Luar dan sontak mengalihkan perhatian lima pria tampan yang sedang duduk bersama denagn wajah frustasinya. Sehun bangkit berdiri dan berjalan mendekat kearah pintu yang menghubungkannya dengan dunia di luar. Belum sempat dirinya meraih ganggang pintu tersebut. tiba-tiba terdengar suara kunci di putar dan ganggang pintu itu bergerak kebawah, otomatis pintu tersebut tertarik kedepan dan menampilkan sosok wanita mungil bersurai madu dengan penampilan yang casual yang tak mampu melunturkan kecantikannya. Dan membuat lima mata pria tampang yang berada di dalam ruangan tersebut sontak membulatkan matanya secara bersamaan.

Luhan berjalan paling depan dan di ikuti Xiumin, Kyungsoo dan Yixing sedangkan Baekhyun masih berada di tangga terbawah. Luhan yang melihatnya menghembuskan nafasnya pelan. '' mari kita biarkan Baekhyun sebentar dan memastikan lima pria tampan yang menjadi tawanan kita kali ini'' ujar Luhan santai tepat saat berdiri di depan pintu kamar yang ia gunakan untuk mengurung member EXO dan di angguki oleh ketiga sahabatnya tersebut.

Luhan memasukkan kunci yang ia bawa sedari tadi. Setelah yakin pintu di depannya ini sudah tidak lagi terkunci. Luhan meraih ganggang pintu tersebut dan menariknya. Tepat saat itu ekor matanya menangkap sosok Sehun yang berdiri di depan pintu dengan wajah Syok saat melihatnya.

''eoh, kalian sudah bangun ternyata'' ujar Luhan santai dan membuka pintunya semakin lebar agar Yixing, Xiumin dan Kyungsoo bisa masuk kemudian sedikit menutupnya sehingga menciptakan cela. Sekedar berjaga-jaga siapa tau tawanannya ini berniat kabur.

'' siapa kalian?'' satu pertanyaan terlontar dari Sehun lengkap dengan tatapan tajamnya. Agaknya diirnya berhasil menguasai rasa terkejutannya saat melihat wanita di depannya kini. Sedangkan yang lainnya masih menatap Luhan dan yang lainnya dengan tatapan bertanya-tanya.

Xiumin melirik gorden jendela yang kini telah tersingkap dari posisi awalnya. Sebuah seringaian hadir di bibir tipisnya. ''sepertinya tamu kita kali ini sudah mengetahui apa yang sedang menimpa mereka''

''dan dimana kita?'' Chen menyahut dengan cepat dan berjalan kearah Sehun.

'' oho, tenanglah'' sahut Luhan

Kyungsoo yang sedari tadi hanya berdiri di belakang Xiumin dan Luhan, tersenyum samar dan maju selangkah berdiri di samping Xiumin sembari mendekap kedua tangannya di atas dadanya.''geurae, eothokke eonni?'' ujarnya dengan nada manja.

''ya, sepertinya tugas sang artis Byun Baekhyun yang akan menjelaskan semuanya'' celetuk Yixing saat menangkap sosok Baekhyun dari ekor matanya di balik pintu.

Empat wanita tersebut mengangguk kompak '' setuju'' sambil melirik pintu di belakang mereka.

Kelima pria tampan yang berada di depan mereka mengeryit heran. 'apa-apa'an lagi ini'' gumam Chanyeol dalam hati dan bangkit berdiri, berjalan mendekat ke arah sehun. Baru beberapa langkah ia berjalan. Tiba-tiba pintu di belakang Luhan dan yang lainnya terbuka, menampilkan sosok wanita mungil lainnya yang sangat familiar di pandangan Chanyeol dan yang lainnya.

'' apa yang harus aku jelaskan, kenapa lagi-lagi aku yang kalian jadikan umpan'' ujar Baekhyun ketus saat samar-samar dari luar namanya di sebut-sebut.

''kau?''

'' Noona?'' ujar Sehun dan Kai secara bersamaan.

'' Kim Yura-shi''

.

.

.

.

.

.

''ini akan sedikit memekan waktu Hyung''

'' Ok tidak masalah, asal kau bisa melacak mobil itu pergi ke mana''

'' baiklah, tunggu sebentar disini''

Song Minho seorang mahasiswa jurusan Hukum di salah satu Universitas Seoul dan memiliki kerja sampingan yang dapat membantu menemukan member EXO melalui mobil yang mencurigakan keluar dari gedung SM. Sebelumnya manager Kim di beri oleh staff SM sebuah video rekaman cctv dari pos penjaga keamanan. Di dalam video tersebut terdapat sebuah van hitam yang di curigai membawa member EXO pergi. setelah dilakukan penyelidikan ternyata Van tersebut memang bukan milik perusahaan karena staff yang memebawa Van setiap harinya tak pernah merasa membawa member EXO pergi di tanggal yang sama saat member EXO menghilang. Meski memiliki plat nomor sama manager Kim yakin jika itu merupakan plat nomor palsu, dimana pelaku mencoba mengelabuhi petugas keamanan yang berjaga di pintu gerbang SM. Dan beruntunglah manager Kim ada manusia hebat seperti Minho yang dapat membantunya menemukan Van tersebut.

Sekitar 30 menit telah berlalu dan manager Kim kini di dera rasa bosan yang amat sangat. Tiba-tiba ponselnya bergetar dan menampilkan nama Suho. tanpa pikir panjang dirinya menggeser ikon hijau yang terpampang di ponsel pintarnya.

''yaakkk, Suho'ah neol jugule!'' teriaknya detik itu juga.

''isshh, jangan berteriak Hyung'' sahut Suho dari seberang telepon.

'' kalian dimana, bodoh''

'' kami berada di tempat yang aman, percayalah'' jelas Suho dengan nada santai.

'' bagi kalian aman, bagiku hidupku tidak akan aman sebelum kalian kembali'' gerutu manager Kim dengan kesal.

'' he he he, miane Hyung. Kami terpaksa melakukan ini''

Manager Kim mendengus kesal '' jangan tertawa, apa kau tau situasi apa yang sedang aku hadapi karena kalian''

'' araseo, makanya dengarkan penjelasanku kali ini''

Manager Kim lagi-lagi menghembuskan nafas kasar sembari memijit pelipisnya yang mendadak pusing melihat tingkah anak asuhnya ini.'' Baiklah katakan''

Terdengar helaan nafas berat dari seberang telepon '' Hyung, tolong dengarkan aku baik-baik karena aku tidak akan mengulanginya''

'' ck, araseo cepat katakan'' protes manager Kim tak mau kalah.

'' seperti yang ku katakana tadi, kita berada di tempat aman. kita akan kembali dalam satu minggu kedepan, jadi aku mohon jangan mencari dan menghubungi kami lewat apapun. Masalah sanjangnim apa aku bisa mengandalkanmu Hyung, selebihnya nanti biar kami yang menyelesaikannya dengan sanjangnim.'' Jelas Suho singkat dan terkesan terburu-buru.

'' bodoh! Apa kau sudah lupa. Kau sudah menjelaskan tentang itu disurat yang kau tinggalkan di perusahaan'' timpal manager Kim dengan ketus.

'' surat?'' nada suara Suho terdengar heran dan membuat manager Kim mengerutkan dahinya heran.

'' aahhh.. surat itu. Ternyata kau sudah membacanya, syukurlah kalu begitu. Kupikir surat itu tak akan kau temukan Hyung'' sambung Suho lagi dnegan cepat sekedar menghapus kecurigaan yang akan tercipta.

''Suho'ah jujur padaku, sebenarnya apa yang sedang terjadi dan kalian berada dimana?''

''Hyung, maafkan aku, aku tidak dapat menjelaskan semuanya sekarang. Aku akan menutup telponnya dan kumohon ingat kata-kata ku tadi.''

Tuutttt…

Wajah manager Kim berubah kesal ' yaakk.. bocah sialan jangan menutup telponya'' protesnya kencang saat panggilan di putus secara sepihak. Manager kim menatap ponselnya dengan garang dan mencoba menghubungi nomer telpon Suho. tapi nihil, suara operator yang menyapa gendang telinganya menandakan jika ponselnya tidak aktif.

'' sialan, awas saja jika kalian kembali aku akan menguliti tubuh kalian'' geramnya sakartis sembari menatap ponselnya dengan berang seolah-olah ponsel tersebut menampilkan wajah member EXO.

'' ada apa Hyung'' tanya Minho saat melihat tingkah manager kim. Sepertinya Minho telah berhasil di amna posisi Van yang sedang ia cari.

''eoh, Minho'ah '' jawab manager Kim sedikit tersentak saat mendengar suara Minho secara mendadak. Mata manager Kim melirik kertas yang di pegang oleh Minho. '' apa kau berhasil menemukannya'' tanyanya lagi.

Minho mengangguk pelan '' ne, tapi Van tersebut berada sangat jauh dari kota Seoul'' terangnya sembari memberikan kertas tersebut pada manager Kim.

Manager Kim mengamati gambar pada kertas tersebut. lebih tepatnya mirip sebuah peta lokasi Van tersebut berada dimana. Dahi manager Kim berkerut '' dimana ini?''

'' Jeju''

Sontak mata manager Kim membulat mantap Minho'' apa!''

.

.

.

.

.

.

'' hyung kau menyukai Luhan?''

Yang di tanya hanya tersenyum mencurigakan '' sepertinya'' jawabnya santai.

.

.

'' tidak bisa kah kau melihat kebaikan Baekhyun padamu, tidak bisakah kau melihat sorot matanya yang sangat menyukaimu''

.

.

.

''jika dia menyukai Chanyeol dan lebih memilihnya aku akan mundur''

''kenapa kau tidak ingin memperjuangkannya?''

'' persahabatan kita lebih penting'' ujarnya tenang dan tersenyum dalam tangisnya yang tak ia sadari.

.

.

'' kau tak bisa serakah''

'' Sehun sudah mengalah melepas Baekhyun, kenapa kau tak bisa melepas salah satu dari mereka''

''karena aku mencintai mereka berdua''

Duuaakkk

Satu pukulan keras mendarat di rahang tampannya.

.

.

.

.

.TBC…

.

.

.

.

Annyeong … miane baru apdet sekarang. Aku benar-benar minta maaf buat reader sekalian yang menunggu FF ini apdet hehe. Kesibukan memang selalu menjadi faktor utama saya kenapa lama apdet ff ini. Mungkin ff ini masih banyak kekurangan di sana sini. Tapi mudah-mudahan sudah mampu membayar hutang saya.

o.k karena rencana apdet ff ini dari minggu lalu. Tapi saya tunda. Yaahhh. Buat kaisoo siper. Faighting percayalah dengan apa yang kalian percayai tentang OTP kalian. Jangan dipikirkan apa kata orang-orang tentang OTP kalian.

Sekian dari saya dan see you next chapter.

Terima kasih untuk semua reader yang sudah meluangkan waktunya sekedar memberi review tentang FF saya ini.

Untuk selanjutnya review juseyo ^^…..