.

.

"Namikaze Naruto, maju dan kerjakan soal di papan tulis!"

Naruto berdiri dengan cukup percaya diri, tidak sulit untuk menjawab soal-soal di akademi ninja. Itu menurutnya. Ia sudah memperhatikan dunia manusia selama beratus-ratus tahun lamanya. Pengetahuan nya atas dunia shinobi jelas tidak perlu diragukan lagi —berbeda dengan anak-anak lain yang sedang tercengang menatap betapa mudah nya ia menjawab semua soal di papan tulis.

Iruka yang melihat ketepatan jawaban Naruto tersenyum tipis, "Bagus sekali, Naruto." Naruto berbinar menatap gurunya itu. Satu-satunya penduduk desa —selain Minato, Kushina, dan Itachi— yang mampu tersenyum tulus padanya. Mengabaikan predikat jinchuuriki kyuubi yang disandangnya.

Ah, Naruto jadi teringat pada Itachi... Kira-kira sedang apa Itachi-nii sekarang ya?

.

.

.

Penghormatan terakhir kepada seluruh anggota klan Uchiha yang terbantai berlangsung dengan hening. Hanya petinggi-petinggi dan para pemimpin klan yang menghadiri acara tertutup tersebut. Pria dan wanita —yang rata-rata sudah berusia cukup lanjut— menundukkan kepala mereka, menunjukkan rasa hormat pada para anggota dari salah satu clan paling berpengaruh di Konoha.

Minato, sang Hokage, menangis dalam diam. Fugaku Uchiha sudah cukup lama menjadi sahabat dekatnya, sedangkan Mikoto Uchiha sudah sangat lama bersahabat dengan Kushina—istrinya. Kepergian mereka memberikan pukulan yang cukup keras bagi Minato, juga Kushina.

Satu per satu para pelayat mulai berjalan pergi untuk kembali ke kediaman mereka masing-masing. Hiruzen Sarutobi menepuk bahu Minato perlahan sambil tersenyum tipis. "Ini bukan salahmu, Minato..." Bisiknya perlahan sebelum pergi meninggalkan Minato dan Kushina yang berdiri berdampingan sambil menatap diam dua buah peti kayu yang terukir rapi di hadapan mereka.

"Kushi—" Minato kembali menutup mulutnya rapat saat kedua bola safirnya menangkap Kushina yang sedang terisak kecil dengan bahu yang bergetar. "Mikoto-chan..." Kushina bergumam lirih. Kedua mata rubby nya berkaca-kaca walau senyuman nampak pada bibirnya. Bukan senyuman tulus, hanya senyuman getir yang terkesan dipaksakan. "Mikoto-chan, Fugaku-kun... Kenapa harus secepat ini..."

Minato melingkarkan lengannya pada bahu Kushina dan menarik tubuh sang istri ke dalam dekapannya. Kain hitam yang membalut tubuhnya mulai terasa basah di bagian dada. Ia mengusap pelan puncak kepala Kushina, "Kushi-chan..." Tangis Kushina pun perlahan mereda. Minato mulai bertanya-tanya, apa suasana hati Kushina mulai membaik.

"Hei, durian..." Ya, suasana hati Kushina jelas sudah kembali. Lihatlah panggilan sayang nya itu.

"Apa, Kushi-chan?" Minato bertanya selembut mungkin sambil memperlihatkan senyuman tampannya —yang berhasil bikin author satu ini jatuh cinta.

"Aku mau menjaga Sasuke... Boleh?" Kushina menatap Minato yang nampak menimbang-nimbang sesuatu dalam pikirannya.

"Tentu saja."

.

.

.

All characters by Masashi Kishimoto

Pairing SasuFem!Naru

Slight ItaFem!Naru

Fantasy : Adventure : Romance

.

"Daughter of God"

Chap 4 : Step-Brother?

.

Warn: ooc ? Maybe , semi canon, fem!Naru.

.

.

Surai pirang sebahu milik si gadis kecil bergoyang pelan seiring dengan senandung riang yang saling bersahutan dengan langkah kecil kedua kaki pendeknya. "Kaa-chan?"

"Hm?"

"Kita akan mengunjungi siapa?" Sang anak bertanya polos dengan wajah penasarannya, membuat sang ibu sendiri gemas dengan wajah anaknya itu.

Kushina tersenyum manis, "Ingat Sasuke?" Pertanyaannya dibalas dengan anggukan kecil dari Naruto.

"Jadi kita mau mengunjungi Sasuke?" Naruto kembali memutar tubuhnya—melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti, saat mendapat anggukan dari ibunya.

.

.

.

Sasuke duduk sambil memegangi kepalanya yang terasa pening dan berdenyut perih. Mata onyx nya masih terlalu lelah untuk mengedarkan pandangannya. Pengaruh dari genjutsu Itachi, sang kakak, masih terasa.

"Hei, makan ini, biar cepet sembuh..."

Sasuke tersentak kaget. Matanya yang tadi masih merem-melek sekarang membola menatap gadis pirang yang seumuran dengannya. Gadis itu menyodorkan sepotong apel yang sudah dipotong kecil sambil tersenyum lebar menatapnya.

"Dare?" (Arti: Siapa?)

Gadis pirang itu—yang tidak lain tidak bukan adalah Naruto— menggembungkan pipinya kesal. "Hmp!" Lipat tangan di depan dada, lalu buang muka.

Sasuke menatap Naruto dengan aneh, ia cuma bertanya. Apa sekarang bertanya saja dilarang? Siapa gadis aneh ini? Tapi bukan Uchiha namanya kalau tidak tetap memasang wajah datar tanpa ekspresi berlebih.

"Hn. Arigatou." Acuh saja pada sikap Naruto, Sasuke langsung mengambil potongan apel pada piring yang ada di atas nakas, tepat di sebelah ranjangnya.

"Bagaimana bisa kamu tidak mengingatku?!" Naruto masih mempertahankan sikap kesal —baca : imut— nya itu.

"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" Sasuke menatap polos pada Naruto yang terlihat semakin kesal.

TWITCH!

"Kita ini satu akademi! Satu akademi! Ah, kamu ini menyebalkan sekali!" Naruto berdiri dari duduknya dan berjalan ke arah jendela—mengabaikan Sasuke yang nampak masih belum bisa mengingatnya. Mengarahkan pandangannya ke luar jendela, Naruto terdiam. Semilir angin menerpa kulit wajahnya yang manis (di sini Naruto tidak punya kumis kucing). Rambut pirang sebahunya yang terurai agak melayang tertiup angin musim gugur. Sinar matahari terbenam menambah kesan indah di pemandangan mata Sasuke. Tapi, bukan Uchiha kalau tidak tetap bersikap stoic. Ya kan?

"Memasang pose seperti itu tidak membuatmu tampak lebih cantik. Sedikit pun." Sasuke berujar dengan nada dingin plus datar plus menyebalkan.

Naruto memasang pose siap bertarung. "Jadi kamu mau berperang denganku, heh? Uchiha Sasuke?!"

"Hn. Sebenarnya ada apa kau ke sini? Kalau tidak ada hal penting, kau boleh pulang sekarang." Sasuke mengalihkan tatapannya dan memasukkan sepotong apel ke dalam mulutnya.

"APA KAMU BILA—"

"Apa bibi dan Naruto mengganggumu, Sasuke?" Kushina tiba-tiba muncul dari balik pintu dan duduk di kursi bekas jajahan bokong Naruto.

"Kushina-san?"

.

.

.

Sebuah pigura berisi foto keluarga berdiri tegak di antara pigura yang lain. Kaca pigura itu agak retak, tapi selama foto di dalamnya selamat, itu tidak jadi masalah baginya.

Iya, bagi pemuda yang saat ini sedang berdiri dalam diam bagai patung di dalam kuil. Wajahnya tanpa ekspresi, berbanding terbalik dengan hatinya yang sedang dilanda kekalutan yang luar biasa. Bulir air mata mulai mengalir turun dari pelupuk matanya. Air mata pertama yang keluar sejak kunai miliknya membunuh kedua orang tuanya sendiri. Ia telah membunuh kedua orang tuanya dengan tangannya.

"Jadi kau memilih untuk berpihak pada desa. Kalau begitu tidak apa-apa, lakukanlah."

"Maafkan aku, tou-san, kaa-san..."

"Kami sangat bangga dan akan selalu bangga memiliki anak sepertimu, Itachi."

Kalimat-kalimat terakhir kedua orang tuanya kembali terdengar di dalam kepala pemuda ini. Demi Desa Konoha. Ini semua demi desa. Ia terus meyakinkan dirinya bahwa apa yang ia lakukan ini adalah jalan terbaik. Ini jalan terbaik.

Teruslah ucapkan itu, Itachi...

Ini memang takdirmu...

Apa memang untuk meraih perdamaian diperlukan pengorbanan seperti ini?

Atau mungkin dia telah bertindak terlalu jauh?

Apa sebenarnya ada jalan lain?

Membunuh orang tuanya bukan satu-satunya jalan?

Itachi terlalu bingung.

Dia butuh seseorang saat ini.

.

.

.

"Pokoknya aku tidak mau!"

"Naru-chan..."

"Tidak! Tidak! Tidakk!"

"Naruto, dengarkan penjelasan tou-san dulu..."

"Sampai kapan pun Naru tidak mau jadi saudara Sasuke! Dia itu menyebalkan! Tou-chan dan kaa-chan tidak mengerti sama sekali!"

"Tapi, Naru-chan... Sasu—"

"Cukup!"

Naruto langsung berlari keluar dari rumah kediaman Namikaze tersebut. Sebenarnya menjadi saudara dari Sasuke bukan terlalu bermasalah baginya. Tapi, pertimbangan tentang satu hal yang membuatnya bersikeras menolak itu; Itachi.

Maksudnya—hei, aku dan Itachi-nii akan menikah suatu saat nanti. Lalu, jika Sasuke jadi saudaraku, Itachi-nii yang notabene kakaknya Sasuke bakal jadi kakakku. Hubungan satu keluarga itu dilarang kan?

Ya, kira-kira begitulah jalan pikiran Naruto.

Langkah kaki Naruto terhenti di depan sebuah taman bermain. Matanya menangkap seorang pemuda yang sedang berdiri menatapnya. Senyum lebar mengembang di wajahnya.

"Itachi-nii!"

.

.

.

"Anda memanggil saya?"

"Ya, aku ingin kau segera bereskan dia."

"Tapi, belakangan ini tidak ada celah untuk melakukan serangan secara sembunyi-sembunyi. Anda tahu tim kami tidak mungkin menang bila berhadapan dengan shinobi seperti Yondaime Hokage."

"Aku akan membukakan celah itu. Aku ingin kau melakukan itu dengan hati-hati. Ingat, ini misi rahasia."

"Saya mengerti."

"Baiklah, sekarang kau boleh pergi."

"Arigatou, Danzo-sama..."

.

.

.

Itachi mendengarkan Naruto sambil sesekali tersenyum kecil. Sifat ceria Naruto memang dapat merambat ke orang-orang di sekitarnya. Hawa malam hari tak mencekam seperti yang biasanya. Matahari kecil yang duduk berceloteh riang di atas ayunan benar-benar menghangatkan hati Itachi.

Naruto sedang bercerita tentang keputusan orang tuanya untuk mengangkat Sasuke menjadi anak mereka. Dan Naruto memberitahu Itachi kalau ia jelas-jelas menolak hal itu. Tentu saja tanpa mengatakan alasannya yang sesungguhnya. Kakinya berayun mengikuti gerakan maju mundur dari ayunan yang dinaikinya, sedangkan Itachi di sini hanya dapat berperan sebagai pendengar dan pendorong ayunan yang baik.

"Menurut Itachi-nii aku harus bagaimana?"

"Emmm, bagaimana ya? Aku berharap kamu mau menyetujui ide orang tuamu itu."

Naruto menoleh ke arah Itachi dengan tatapan tidak percaya. "Hah?"

Itachi tersenyum tipis. "Sasuke itu masih terlalu kecil untuk hidup sendiri, dia juga masih belum pintar menjaga diri. Aku ingin kamu ada saat dia membutuhkanmu. Menggantikan peranku sebagai kakaknya."

Naruto menunduk, keheningan menyelimuti keduanya. Hanya terdengar suara ayunan yang berdecit pelan dan suara jangkrik di semak-semak.

"Haah, kalau Itachi-nii yang meminta seperti itu... Baiklah..." Naruto menghela nafasnya pasrah. Mau tidak mau, ia harus mau. Ini demi Itachi-nii nya.

"Arigatou Naruto." Itachi tersenyum puas, setidaknya ia bisa tenang bila Sasuke bersama dengan Naruto.

"Jadi...kapan Itachi-nii akan pergi dari desa?"

"Malam ini."

"Aaa, souka..."

"Mungkin sebaiknya aku pergi sekarang, para anggota Anbu mungkin sudah mencium keberadaanku."

Naruto segera turun dari ayunannya dan berlari memeluk Itachi. "Jaga dirimu, Itachi-nii..."

"Kamu juga, Naruto..." Itachi mengelus pelan puncak kepala Naruto.

Naruto melepas pelukannya, "Ingat, jemput aku saat umurku 12 tahun!" Ia mengarahkan telunjuknya tepat di wajah Itachi. Itachi terkekeh pelan lalu mengangguk.

"Naru-chan!"

Naruto menolehkan kepalanya ke belakang, mendapati ibunya yang sedang berlari panik ke arahnya. Ia kembali memutar kepalanya untuk memastikan Itachi sudah tidak berdiri di sebelahnya. Tapi belum sempat menoleh, Kushina sudah memeluk erat tubuh Naruto.

"Kaa-chan...?"

"Iya, Naru-chan?"

"Aku mengerti sekarang. Sasuke boleh tinggal bersama kita, tapi aku tidak mau kaa-chan dan tou-chan mengangkatnya jadi anak."

Kushina tersenyum menatap Itachi yang berdiri di belakang Naruto, sambil terus memeluk Naruto. Itachi balas tersenyum kecil dan mengucapkan kata terima kasih tanpa suara sebelum melompat ke atas atap rumah —melesat pergi.

"Ha'i... Besok kita jemput Sasuke ya, Naru-chan?"

"Um!"

.

.

.

Sasuke menghela nafas perlahan sebelum membuka pintu rumah kediamannya. Barang-barang yang ada masih belum banyak berpindah dari terakhir kali ia berdiri di sini, saat dimana ia melihat kakaknya membunuh kedua orang tuanya —orang tua mereka.

Sebuah pigura foto yang berdiri tegak di antara benda-benda lain yang berantakan menarik perhatiannya. Diraihnya pigura itu kemudian tersenyum pahit.

"Aku bersumpah akan membunuhmu, aniki. Dengan tanganku sendiri."

.

.

.

Naruto terus menatap lekat pada Sasuke yang sedang tertidur pulas. Kedua bola mata safirnya tidak bisa lepas dari wajah Sasuke. Ia terus-terusan mengagumi ketampanan yang dimiliki si bungsu Uchiha.

"Tidak sia-sia aku datang sepagi ini ke rumah sakit." Ia bergumam pelan entah pada siapa.

Sasuke sedikit bergerak gelisah kemudian mulai membuka kelopak matanya. "Ngghh... Kamu lagi?"

Naruto tersenyum lebar. "Yo! Apa kamu merindukanku, Sasuke?"

"Dalam mimpimu, Naruto."

Naruto yang mendengarnya hanya mendengus kasar lalu membuang muka. "Menyebalkan!"

"Setidaknya aku mengingat namamu sekarang." Ujar Sasuke sambil meregangkan tubuhnya yang terasa kaku habis bangun tidur.

Naruto tetap tidak mau menatap Sasuke, dia masih kesal. Mengingat nama? Apa bagusnya itu?! HUMPH! Dan ia kembali mendengus kasar.

"Jadi, kamu mau apa ke sini?"

Naruto teringat sesuatu. Ia diminta Kushina untuk menjemput Sasuke —yang sudah boleh keluar dari rumah sakit hari ini.

"Ah, iya! Kaa-chan menyuruhku untuk menjemputmu~"

"Untuk apa?"

"Pulang! Tentu saja!"

Sasuke menatap Naruto yang tersenyum tulus padanya. "Pulang?"

"Iya. Pulang, bersamaku."

"Tapi, tou-san dan kaa-san kan sudah..."

"Tinggallah bersamaku."

Naruto tersenyum manis dan Sasuke bersemu merah. Sial, Sasuke manis sekali —pikir author.

.

.

.

Kushina meninggalkan kegiatan memasaknya ketika mendengar suara pintu terbuka. Senyumnya merekah kala melihat Naruto masuk ke rumah diikuti Sasuke yang melangkah dengan malu-malu.

"Okaeri, Naru-chan! Sasuke!"

"Tadaima, kaa-chan!"

"T-tadaima..."

Naruto menoleh ke arah Sasuke dan tersenyum kecil. "Anggap saja rumah sendiri." Sasuke mengangguk pelan menanggapi Naruto. Ini pertama kali bagi Sasuke berkunjung ke rumah orang lain. Jelas saja risih. Terlebih ketika ia mengetahui akan tinggal di rumah ini.

"Ohiya, kaa-chan, Sasuke bakal tidur di mana?"

"Di kamar Naru-chan dong~" jawab Kushina santai.

Sasuke yang masih polos sih biasa-biasa saja. Tapi, Naruto...

Blush...

Wajah Naruto merah padam sampai ke telinga.

"A-aaa... W-wakatta..."

.

.

.

Naruto tidak bisa tidur semalaman. Walaupun ia dan Sasuke tidur di kasur yang terpisah, tapi tetap saja. Ia satu kamar dengan laki-laki. Yang tidak memiliki hubungan darah dengannya.

"Aku sudah mengkhianati Itachi-nii..." Ia bergumam sedih sambil melanjutkan kegiatan mandinya dengan penuh penyesalan.

Selesai berpakaian, Naruto keluar dari kamar mandi dan menyisir rambutnya di depan cermin. Sasuke masih tertidur di kasurnya. Mungkin dia lelah, begitu pikir Naruto.

Pagi hari terasa begitu tenang. Kushina dan Minato pasti sudah pergi ke suatu tempat untuk melaksanakan tugas mereka sebagai bapak dan ibu hokage(?). Kurama juga sibuk belakangan ini. Sibuk tidur maksudnya.

"Ohayou..."

Naruto menoleh dan mendapati Sasuke sudah duduk sambil mengucek mata di tepi kasurnya.

"Ohayou, Sasuke! Cepat mandi, kita bisa terlambat ke akademi." Naruto tersenyum lebar dan Sasuke mengangguk.

.

.

.

Minato yang sedang serius pada pekerjaannya sedikit diusik dengan ketukan pada pintu ruangannya di kantor hokage.

"Masuk!"

Pintu terbuka disertai decitan pelan. Dan seorang pria bersama dua orang pengikutnya dari ANBU memasuki ruangan itu.

"Ada apa Danzo?"

"Tidak ada, hanya ingin berkunjung sebentar."

.

.

.

TBC

.

.

.

Balasan Review :

Lanjut

Sudah dilanjut yaa!

Seneng liat 'keakraban' Naruto sama Kurama

Sebenarnya moci udah gemesh banget mau bikin pair KuraFemNaru *plak

Update kilat/halilintar lagi

Ung... Ini kilat? [Readers: GAAAAKKKKKKK! *marah marah sambil bawa obor plus golok*]

Kebanyakan ItaFemNaru nya

Gomenasai/.\ moci janji ke depannya SasuFemNaru bakal lebih ditonjolin kok.. Percayalah padakuh *pret

Apa Naru ntar jadi miss-nin trus masuk akatsuki?

Ayo polling, yang mau Naru masuk akatsuki angkat tangan (?)

Apa Shisui kasih sebelah matanya ke Itachi?

Rahasia :P *pret

Kenapa Naruto ga nyeritain secara rinci waktu diculik?

*senggol Naruto* Beb, ditanyain tuh~ [Naruto: Etto... Umm... Malu kak...(?)]

Apa Sasuke bakal bersikap kayak di canon?

Saksikan di chap depan! Bwahahahaha(?)

Apa Naruto tau akar pembantaian uchiha itu Danzo?

Kayaknya sih tau (?)

Apa bijuu dalam tubuh Naruto bakal diincar?

Pastinya dums~

Nanti pairnya apa? ItaFemNaru aja yaaa

Hmmm hmmm hmmm ItaFemNaru di sini cuma slight:((

Pair mutlak SasuFemNaru kanssss?

Iyaaaaahhhh

Kamu manusia apa sejenis alien?

Manusia kok:(

Jangan ganti jadi Naruko dong thor

Buat penyamaran doang kok:((

Kenapa Naruto tidak mencegah Itachi?

Ini sudah takdir *pfft

Di chap ini [Chap3] gaada Sasuke nya

Chap ini ada:3

Bagus tapi sayang banget dada Naruto rata

*liatin Naruto yang duduk merenung di pojokan*

Justru dibuatin anak lagi untuk nyiksa Minato

*liatin Minato yang ikutan duduk merenung bareng Naruto di pojokan*

Sasuke bakal ikut Itachi sama Naruto atau si oro pedo?

Orochimaru dong :3 (?)

Apa nanti ada Kaguya?

Ahahahahahaha ada gak yaaaa? ;3

Buat Kanzaki Yuki, cek PM ya :3

.

.

.

Huwaloooo~ ! Akhirnya setelah lebih dari 1 bulan, moci berhasil menyelesaikan chap ini x'D waktu terasa begitu cepat ya *apaansih

Moci minta maap yang segede-gedenya(?) atas segala keleletan update ini... Maklum lah, kan udah mulai belajar efektif... Ditambah lagi kegiatan-kegiatan osis yg bikin pulang sekolah langsung tepar di kasur :'

Yaaa semoga chap ini ga buruk-buruk amat deh x'D

Sampai jumpa chap depan~

.

.

So so so much love,

mochee duck.