Disclaimer : Naruto bukan milik saya! Kalau punya saya, mereka pasti jadi anak sekolahan. Jadi, Naruto punyanya mbah Masashi Kishimoto, tuh.
Naruto dan Dunia Avatar © Ru Unni Nisa
OC (selain Gina, Arashi, Fuyuki dan Gin adalah milik saya) © Readers yang sudah baik hati meminjamkan OC mereka
Warning : Sekuel dari 'Teman' ; AU, OOC, OC, Khayalan Tingkat Tinggi, Don't Like Don't Read
.
.
BAB III
Hari Membosankan?
Suara sendawa Naruto membuat teman – teman sekelasnya menyingkir bergerombol dengan ekspresi jijik tergambar di wajah mereka. Naruto menggaruk rambut belakangnya dengan malas, ia baru saja makan siang di Aula Besar, jadi apa salahnya bersendawa seperti itu? Ia mengeluh kesakitan ketika ia merasakan kakinya tercakar sesuatu. Melihat kebawah, menemukan kucing putih dengan cakarnya dan terlihat polos.
"Neko-chan!"
"Meong..." Neko-chan sedikit menggerakkan kepalanya kesamping dengan wajah tak bersalah. Naruto cemberut melihatnya.
"Tutup mulutmu, Naruto." Ia menengok menemukan Ino dengan Sakura dan Hinata yang terlihat jijik melihatnya. Well, mungkin Hinata lebih ke ekspresi malu dan tengah memainkan kedua telunjuk jari tangannya.
"Huh?" Tanyanya, polos.
Duk...
"Aduh..." Keluh Naruto, tangannya mengusap atas kepalanya yang terkena pukulan keras dari Sakura yang terlihat sulit dijabarkan.
"Mana sopan santunmu?! Bersendawa didepan para gadis, dasar bodoh.!" Dengan itu, Sakura segera menggaet teman perempuan sekelasnya. Seorang anak perempuan yang memiliki rambut merah darah dan diikat satu itu berada di belakang dan melirik Naruto dengan mata violet sinisnya.
"Bodoh." Bisikan itu hanya terdengar untuk Naruto. Naruto memerah mendengarnya. "Kamu jangan ikut – ikutan, Fuyuki!" Ia berusaha menahan malu ketika Masaki Fuyuki menjulurkan lidahnya, mengejek. Naruto bahkan dapat melihat Neko-chan ikut bergabung bersama murid perempuan, tengah menjulurkan lidah padanya saat digendong oleh Hinata.
Naruto menghela nafasnya, ia tidak akan pernah mengerti urusan perempuan. Andaikan Kuro ada disini.
"Perempuan memang merepotkan, kan?" Suara malas itu terdengar dari samping dan menemukan salah satu senironya yang sepertinya dari lahir selalu berekspresi malas. Ia kembali menghela nafasnya, memang merepotkan.
"Senpai, mau kemana?"
"Ke kelas." Jawaban singkat itu membuat Naruto mengangkat salah satu alisnya.
"Kelas apa, senpai?"
Ia dapat seniornya ini melirik padanya dengan malas. "Kamu ini sama merepotkannya dengan perempuan." Shikamaru-senpai – awalnya Naruto enggan memanggilnya senpai, ia adalah teman sekelasnya waktu di akademi ninja! – yang berada di Tingkat Akhir itu menghela nafasnya. "Kelas Iruka-sensei, Konseling."
Naruto mengangguk. Ia tidak memperdulikan senior teman sekalasnya itu menggumamkan kata khasnya 'merepotkan'. Naruto dapat mengerti hal itu, Tingkat Akhir adalah tingkat dimana muridnya harus menentukan karier yang mereka inginkan. Sejauh ini ia hanya tahu beberapa pekerjaan, Guru dibeberapa Akademi, dan jabatan di Kementrian Avatar.
"Nah, aku pergi dulu." Naruto menengok menemukan seniornya yang berbelok ke koridor lain. "Ah, sampai jumpa, senpai!" Ia dapat Shikamaru-senpai hanya mengangkat tangan kanannya sebagai balas salamnya. Ia dapat mengenali beberapa murid Tingkat Akhir.
Ada sepupu Gin – teman sekelasnya – yang bernama Sai. Sai-senpai selalu membuat darahnya naik. Mungkin karena wajah datar dan senyum palsu yang sudah menempel di wajah idola sekolah itu. Ia selalu mendengar mengenai Sai-senpai yang katanya adalah informan di Akademi yang paling update dan kebenarannya hampir 99% dapat dibuktikan.
Kemudian salah satu murid perempuan yang miliki rambut pirang yang diikat empat. Temari, kakak pertama dari Gaara. Ia sering tertarik dengan Sabaku bersaudara itu, ia tahu Kankurou – kakak kedua Gaara dan berada di Tingkat Menengah – selalu membawa entah-apa-namanya-yang diperban-penuh kemanapun dia pergi dipunggungnya. Kemudian Gaara, ia sering melihat Gaara membawa gentong berwarna pasir di punggungnya. Dan sekarang, Temari membawa kipas besar di punggungnya. Apa semua keluarga Sabaku selalu membawa hal berat macam itu?
Disebelah Temari-senpai, seorang murid laki – laki yang mengingatkannya dengan Hinata. Ia pernah mendengar dari Hinata, bahwa dirinya memiliki sepupu laki – laki dan ia dapat bertaruh, murid laki – laki itulah merupakan sepupu Hinata. Secara fisik tidak ada yang berbeda, pupil silver hampir tak terlihat, rambut gelap panjang – ia sempat menganggapnya perempuan! – dan kulit yang pucat. Yang berbeda hanyalah sikapnya, dimana Hinata akan malu dan sopan, sementara Hyuuga yang satu ini terlihat sombong dan arogan. Siapa yang tahu?
Dan sisanya ia tidak tahu lagi.
Naruto mengerutkan dahi, ada yang aneh dengan jumlah siswa. Sepertinya di Tingkat Akhir lebih banyak daripada Tingkat Menengah. Ia dapat menghitung dengan jari siapa saja murid Tingkat Menengah. Well, mungkin saat itu sangat sedikit anak berumur 15 tahun yang mendaftar di Akademi Avatar. Toh, ini bukan masalahnya-
"Naruto. Otakmu mengeluarkan asap."
Sekaligus mendengar hal itu, ia dapat merasakan adanya beban tambahan di atas kepalanya. Ia melirik keatas menemukan Neko-chan yang tengah berbaring malas dengan perutnya diatas kepalanya.
"Go-gomenasai, Naruto-kun!" Naruto melihat kedepannya dan berhadapan dengan Hinata yang terlihat gugup dan malu. Naruto berkedip, tidak mengerti maksud permintaan maaf teman sekelasnya itu. Ia melihat temannya itu membungkuk beberapa kali dan mengatakan, "Ma-maaf, Naruto-kun. A-aku tidak bi-bisa menjaga Neko-chan de-dengan baik. Tiba – tiba saja, dia melompat ke kepalamu dan aku tidak bisa menahannya. Go-gomenasai, Naruto-kun."
Naruto masih tidak tahu harus berbuat apa ketika ia melihat bagaimana Hinata kembali membungkuk malu dan takut. Tanpa sadar ia menggaruk belakang kepalanya dan tertawa gugup. "I-itu tidak apa – apa, Hinata-chan."
Hinata kembali menegakkan tubuhnya mendengar perkataan Naruto. Ia masih tidak percaya Naruto mengatakan hal tersebut. "T-ta-tapi-"
Tapi, Naruto sudah lebih dulu memotongnya. "Tidak apa – apa. Neko-chan memang sering seperti itu. Jangan terlalu dipikirkan. Jangan dipikirkan, okay!" Ia memberi Hinata sebuah jempol dan tersenyum lebar. Membuat Hinata memerah dan hampir pingsan, jika saja Sakura tidak menegur mereka.
"Oi! Hinata, Naruto! Kalau kalian tidak cepat, kita bisa terlambat ke kelas Kurenai-sensei?!" Teriak Sakura dari ujung koridor. Tanpa basa – basi lagi, ia dan Hinata segera berlari menuju kelas Kurenai-sensei, guru Sejarah Avatar.
Kelas Kurenai-sensei cukuplah unik, tidak ada apapun kecuali hanya tersedia kursi – kursi yang digunakan para murid untuk duduk didalam. Dibelakang kursi – kursi yang terjejer, terdapat sebuah kursi yang biasanya digunakan oleh Kurenai-sensei. Cat dalam kelas itu berwarna putih bersih. Dan saat Naruto pertama kali masuk kedalam kelas tersebut, ia mengira ini adalah gudang.
Kembali ke kelas, ia dapat melihat Kurenai-sensei yang mengenakan seragam khusus untuk pengajar, kemeja putih polos dengan adanya lambang di bagian kiri depannya dan biasanya dilengkapi dengan jas yang sesuai dengan keinginan pengajar. Untuk Kurenai-sensei, mengeanakan jas merah darah, sesuai dengan warna matanya. Kurenai-sensei terlihat sudah menunggu mereka dengan wajah stoic seperti biasa. Naruto penasaran apakah Kurenai-sensei bisa tersenyum.
Tahu mereka akan kena masalah apabila tak segera bergerak, Naruto duduk disebelah kanan Gaara dan sebelah kiri Sakura. Sementara Hinata dengan malu – malu dan meminta maaf karena keterlambatan mereka dan dibalas hanya anggukan singkat, segera duduk diantara Ino dan Fuyuki.
"Apa semua sudah masuk?"
"Ha'i, sensei!"
Tanpa melihat mereka dapat mereka merasakan guru Sejarah mereka mengangguk pelan. Dan dalam beberapa detik disekeliling mereka berubah, tak lagi dinding putih. Dinding bercampur warna hitam merah, memberikan kesan sedikit membingungkan.
Naruto menghela nafasnya, ketika ia mengelus pelan kepala Neko-chan. Ia tahu ini adalah ilusi. Cara mengajar Kurenai-sensei adalah memberikan gambaran kepada muridnya dalam pembelajaran sejarah. Untuk itu Kurenai-sensei harus mengeluarkan Avatarnya. Naruto belum pernah melihatnya, mungkin disembunyikan dibalik ilusinya sendiri. Naruto mengangkat bahu, ia tidak terlalu tertarik dengan hal itu.
"Adakah yang masih ingat pelajaran kemarin?" Pertanyaan datar itu membuat semua murid merinding dan diam – diam melirik satu sama lain.
Naruto menoleh dengan cepat ketika ia melihat Gin mengangkat tangannya. Gin memiliki kulit pucat dengan rambut hitam yang cukup panjang diikat yang menjadikannya seperti ekor kuda. Di atas telinga kanannya selalu ada pulpen berwarna putih yang kontras dengan rambut hitam. Di kantongnya pula akan ada sebuah catatan kecil yang menurut Gin, keduanya adalah hadiah dari Sai agar bisa menjadi seperti sepupunya itu. Dan Naruto tidak akan terkejut melihat Gin mengangkat tangannya untuk menjawab.
"Ya, Shirosake-kun?"
Mendengar nama keluarganya disebut. Gin segera berdiri dan maju di pertengahan mereka dan dengan wajah yang bangga, ia mulai menjawab, "Pelajaran dipertemuan kemarin adalah bagaimana pembangunan Akademi untuk Avatar pertama di Dunia yang diusul oleh Prima-sama."
Mereka dapat mendengar pengajar wanita berambut hitam digerai itu bergumam. "Apa kamu keberatan untuk membaginya, Shirosake-kun?" Semua murid tingkat awal itu dapat melihat bagaimana adanya keringat yang turun dari dahi Gin. Dalam diam Naruto mengeluh, bukankah temannya yang satu ini tahu bagaimana cara mengajar Kurenai-sensei sebagai informan? Dasar bodoh.
Berusaha menghilangkan gugupnya, ia tidak menyangka akan ditanya seperti itu. Menelan keras, ia berusaha berfikir dan berimajinasi. Sesuatu apa saja, apa saja untuk bisa keluar dan dapat kembali ke tempat duduknya. "Um... okay, saya –um– sempat membaca beberapa bab di Sejarah Avatar. Um- Akademi yang dibangun Prima-sama berada di suatu daerah yang namanya-" Gin mengutuk mulut besarnya, ia lupa nama daerah itu. Ia menggigit bibir bawahnya dan berusaha menghiraukan apa yang ia katakan barusan, "I-itu adalah daerah dimana Prima dibesarkan. Um... Ada banyak yang terjadi dan menurut rumor, setiap kelahiran Avatar yang lahir asli penduduk sana, mengatakan adanya kutukan."
Gin menemukan pengajarnya mengangkat sebelah alisnya, dalam hati ia menangis dan berharap dia akan baik – baik. Dari semua guru, hanya Kurenai-sensei yang paling menakutinya.
"Dua point saya tambahkan ke nilaimu." Mendengarnya, Gin hampir melocat pada teman – temannya. Dan sebelum ia melakukannya, suara Kurenai-sensei sudah lebih dulu membuatnya jatuh, "Tapi 3 point saya kurangi karena penjelasan yang salah."
Naruto dan beberapa teman sekelas lainnya menahan tawa ketika melihat bagaimana tubuh lemas Gin kembali ke tempat duduknya dengan menunduk. Amane Rin, saudara kembar perempuan dari kakaknya yang bernama Amane Ren, menunjukkan wajah yang kasihan dengan adanya pukulan yang cukup keras pada Gin. Naruto dan Gaara meringis mendengar suara pukulan di punggung itu, pasti sakit.
"Bagaimana denganmu, Uchiha-kun?"
Mendadak satu kelas itu terdiam, dan melirik pada satu tujuan yang berada di ujung tempat duduk bagian kiri, bersebelahan dengan Amane Ren yang juga bersebelahan dengan saudara kembarnya dan Gin, diikuti Gaara, Naruto, Sakura, Ino, Hinata dan Fuyuki.
Mendengar namanya disebut, mau tak mau Uchiha Sasuke berdiri ditempat yang sama seperti Gin sebelumnya. Dengan memasukkan kedua tangannya di masing – masing kantong seragam celana hitam murid, kemeja putih polos yang dikancing rapi begitu pula jaket hitam penanda Akademi Avatar dengan adanya sebuah pin yang menunjukkan kelas Tingkat Awal. Dibagian atas leher yang terbuka menunjukkan kesan tidak peduli dan Naruto yakin, ia hampir mendengar Sakura dan Ino menjerit tertahan melihat Sasuke.
"Akademi Latet adalah nama akademi yang dibangun oleh Prima-sama." Sasuke memulainya, dan Naruto mengerutkan dahi, entah mengapa tidak menyukai nada dari Sasuke. "Akademi tersebut berada di daerah Operat, daerah yang subur dan dikelilingi hutan lebat dan beberapa padang rumput yang setiap harinya dikaruniai sinar matahari yang cerah."
Naruto sedikit meringis pada rusuknya ketika merasakan tusukkan, menengok kesebelahnya dan menemukan Gaara yang menujuk sesuatu dengan dagunya dan melihat Sakura dan Ino yang terlihat terhanyut dengan apa dikatakan Sasuke. Ia merasakan keringat yang turun dari punggungnya, melihat bagaimana keduanya berada di mimpi siang bolong.
Naruto tidak tahu sudah berapa lama dia melamun ketika mendengar Kurenai-sensei mengatakan sesuatu, "Dua point tambahan Uchiha-kun." Dan dengan itu Sasuke kembali ke kursinya.
"Seperti yang dikatakan Uchiha-kun, kita akan memulai pelajarannya dengan sejarah pembangunan Akademi yang pertama di dunia."
Semua murid Tingkat Awal meluruskan pandangan mereka melihat bagaimana ilusi didepannya sudah berubah menjadi sebuah tanah rumput yang tidak jauh dari situ terdapat hutan yang cukup lebat. Diantara hutan – hutan itu terdapat sungai yang cukup besar untuk disebrangi namun cukup jernih dan mengalir pelan untuk menangkap ikan. Di balik hutan terlihat beberapa rumah penduduk dengan adanya beberapa anak – anak yang bermain.
"Itu adalah desa Kijing yang sebelumnya bernama Latet; yang artinya tersembunyi. Kalian dapat melihatnya sendiri, desa itu bagian dari daerah Operat. Cukup jauh dari daerah kita."
Murid Tingkat Awal terlihat tidak terlalu memperhatikan penjelasan dari Kurenai-sensei. Mereka masih melihat bagaimana anak – anak itu bermain ditengah sinar matahari terik, bersamaan dengan beberapa ibu – ibu yang terlihat sedang membersihkan rumah mereka. Namun, hal itu segera buyar ketika penglihatan itu kini beralih cukup cepat menuju dalam hutan yang tidak begitu jauh.
Disana, ada sebuah rumah kayu yang diluarnya terdapat berbagai ukiran yang terbuat dari kayu, batu ataupun logam. Berbagai bunga ataupun tanaman obat terlihat mengelilingi rumah itu. Dengan adanya tangga kecil, berguna sebagai jembatan menuju teras ketika dibawahnya terdapat aliran kecil air yang berisi ikan – ikan hias yang tengah senang berenang kesana dan kemari. Diteras tersebut terdapat beberapa kursi dan meja dan didepan pintu berbagai macam gantungan yang terbuat dari kerang berwarna – warni.
"Waw, aku memang pernah mendengarnya dari shisou-sama." Suara Gin yang berbisik kagum memenuhi telinga teman sekelasnya. Tanpa adanya kesepakatan bersama, memutar bola mata mereka, mengetahui siapa shisou dari Gin, siapa lagi kalau bukan senior akhir dengan senyum palsu, Sai-senpai. "I-itu benar – benar mengagumkan."
Naruto mau tak mau setuju dengan Gin, begitu juga teman sekelasnya. Melihat sendiri dengan melihat bersama – sama. Ia memang sudah sering melihat bagaimana rumah Prima di ingatan yang ia terima, tapi ia harus akui, ia tidak akan pernah bosan melihat rumah dan desainnya. Mungkin, itu adalah rumah idaman bagi siapapun termasuk dirinya.
Kembali pada ilusi yang menunjukkan gambaran rumah Prima, ia dapat melihat bagaimana kian lama rumah itu menjadi sedikit besar dan mulai ramai dengan adanya beberapa orang yang datang. Dan diatas atapnya dibuat tulisan besar, 'Akademi Latet'. Ilusi itu membuat perenovasian rumah menjadi Akademi itu menjadi sangat cepat. Menghasilkan sebuah bangunan besar yang terlihat tua yang terlihat dari bebatuan. Pepohonan masih mengelilingi, hanya semakin luas dan menghasilkan tanah lapang yang cukup untuk berlatih atau lebih.
Naruto berkedip, ia baru saja melihat sebuah kilasan. Tidak tahu dan penasaran, ia menajamkan matanya dan tetap tidak menemukan apapun. Bahkan, ketika penggambaran itu menjadi semakin besar dan menjauh dari Akademi Latet, ia tahu Akademi itu menghilang.
"Kurenai-sensei, Bagaimana bisa Akademi-nya menghilang?" Sakura menanyakannya sedikit gugup dan takut. Apa ilusi Kurenai-sensei salah?
"Itu tidak menghilang. Di balik Akademi terdapat benteng transparan yang dapat menghilangkan penglihatan terhadap Akademi." Suara Fuyuki terlihat tenang dalam menjawab. "Sepertinya dibuat oleh pengguna Elemen Pikiran dengan level yang cukup tinggi."
"Ta-tapi, aku tidak tahu ada teknik yang bisa menyembunyikan benda seperti itu." Ino berusaha berpendapat.
Gaara memutar bola matanya. "Kamu lupa itu adalah rumah Prima-sama. Rumah yang sekarang menjadi Akademi, pasti ada keterkaitannya dengan apa yang dilakukan Prima-sama."
Sasuke yang tadi mendengarkan dengan mata tertutup, ikut menambahkan, "Mungkin itu adalah salah satu teknik yang hanya dimiliki Pengguna Avatar Platinumer? Prima-sama seorang Platinumer, bukan? Jadi, Prima-sama mungkin melakukannya untuk menyembunyikan Akademi itu."
"Eh, memangnya untuk apa disembunyikan?" Tanya Ren.
"Hum... Mungkin untuk melindungi dari sesuatu, seperti serangan? Tapi, siapa yang akan menyerang Prima-sama, aku tidak pernah tahu saat itu ada perang." Gin berusaha menggali ingatan yang pernah ia baca dari buku.
Saat itulah semuanya diam, dengan berbeda alasan tentunya. Ketika Kurenai-sensei hanya membiarkan para muridnya untuk menemukan apa yang mereka cari, sedangkan Fuyuki hanya melirik pada salah satu temannya yang terlihat tak peduli. Sementara yang lainnya, berusaha menemukan sesuatu yang dapat membantu mereka untuk menjawab.
Naruto merinding, ia merasakan semua bulu di leher belakangnya berdiri dan keringat mulai menetes ketika ia merasakan seseorang menatapnya penuh. Melirik dengan pasti, ia dapat menemukan Fuyuki yang menatapnya tajam dan penuh intimadasi. Seolah memaksanya untuk melakukan sesuatu. Menghela nafas, ia berusaha berfikir mengenai kata apa yang tepat untuk digunakannya.
"Mungkin benteng itu sama seperti di Lapangan Pertandingan Latihan?" [3] Naruto sedikit tersentak ketika ia merasakan semua pandangan mengarah padanya, ia berusaha menyembunyikannya. "Er... Kalian tahu, di pagar ada pembatas transparan untuk melindungi penonton?" Ia melihat beberapa temannya mengangguk, entah mengerti atau tidak.
Merasa cukup dan mendekati, Kurenai-sensei segera berdiri dan melangkah kedepan muridnya. Dengan dilatar belakangi Akademi Latet yang sekarang terlihat dan sebuah kilasan ikut memenuhi layar tersebut. "Bagus, argumentasi yang menarik. Satu point masing – masing untuk Masaki Fuyuki, Uchiha Sasuke dan Uzumaki Naruto."
Naruto berkedip, dia mendapat nilai tambahan? Mungkin ia sudah bermimpi.
"Seperti apa yang kalian lihat, kilasan ini adalah benteng tak terlihat yang dibuat oleh Prima-sama. Teknik yang sama seperti yang dikatakan Uzumaki-kun, pagar pembatas Lapangan – pemikiran yang sederhana namun cerdik," Naruto bersumpah ia melihat Fuyuki menyeringai padanya diam – diam.
"Itu adalah teknik yang menggunakan Elemen Pikiran dengan Level tertinggi, 99. Teknik yang digunakan Prima-sama pada Akademi Latet berguna untuk menyembunyikan Akademi tersebut, Akademi itu hanya bisa ditemukan bagi seorang Avu, pengguna Avatar. Penduduk biasa? Tidak akan pernah." Ketika Kurenai-sensei menyelesaikan kalimatnya, Naruto merasa hidungnya bergerak sedikit keatas. "Sementara untuk pagar pembatas, hanya digunakan sebagai pelindung tanpa perlu menyembunyikan. Teknik di pagar pembatas itu dibuat dengan Level yang lebih rendah, namun tentunya lebih tinggi dari level pemilik Gold. Adakah yang tahu siapa pembangun pagar Lapangan?"
Hinata mengangkat tangannya, tanpa sadar. Dan ketika diperbolehkan menjawab, ia menjawabnya dengan menunduk malu – malu. "Ya-yang membangun pagar pembatas di Lapangan Latihan a-adalah Platinumer sebelum Namikaze Minato-sama. Sarutobi Hiruzen-sama, sekaligus pendiri Akademi Avatar."
"Satu point." Kurenai-sensei mengangguk pada Hinata. "Jadi, kenapa kalian tidak segera mencatatnya?" Kurenai-sensei dapat mendengar musik yang mengalun dari keluhan murid – muridnya terhadap perintahnya. Oh, betapa senangnya dia menjadi seorang guru.
.
~NARUTO DAN DUNIA AVATAR~
.
Suasana di Aula Besar cukup gaduh, dengan adanya tiga meja bundar di tengahnya dan sebuah meja panjang didepan Aula Besar. Tiga meja besar itu dikelilingi pula dengan masing – masing kursi yang sama melingkar tanpa terputus. Beberapa piring dengan makanan dan minuman sudah tersaji diatas meja masing – masing. Dan setiap murid akan duduk sesuai dengan tingkatnya.
Di meja bundar bagian tengah. Murid – murid dari Tingkat Menengah terlihat bosan menunggu kapan mereka akan memulai makan malam mereka. Akamichi Choji terlihat berusaha mengendap – endap untuk mengambil makanan dari mejanya dan hanya mendapat pukulan dari teman sekelasnya, Gina. "Hormati Tsunade-sama, Choji-kun." Desisnya yang hanya membuat Choji menciut secara tiba – tiba. Lee dengan semangat api dimatanya berteriak penuh, "GINA! KAMU PENUH DENGAN HORMAT MASA MUDA!" dan "DIAM, LEE! Kamu membuat telingaku sakit!" dan Arashi hanya meringis mensyukuri dirinya duduk cukup jauh dari Lee.
Sementara di meja bundar lain yang sebelah kiri, dengan murid yang terlihat lebih banyak, Tingkat Akhir. Sama berisiknya juga, ada yang masih tidur, mencatat sesuatu, bergosip seperti biasa, ataupun belajar – sok rajin – yang langsung diambil paksa oleh Temari. "Ini waktunya makan malam, kenapa kamu tidak bisa tunggu, sih?!" Temari menghela nafasnya ketika ia menutup buku tersebut dan dengan senang hati, ia memukulkannya ke kepalanya teman sekelasnya yang malas dan tengah tertidur ini. "Apa, perempuan?" Shikamaru menanyakannya dengan setengah hati ketika ia hanya membuka mata kirinya dengan malas dan kembali mendapat pukulan dilengannya. "Makan malam sudah mau mulai, kenapa kamu tidak bisa buka mata sebentar, hah?" Sementara Shikamaru hanya menggumamkan kata khasnya dengan malas.
"Tenang saja, Temari-san. Aku kira akan ada pengumuman sebentar." Suara tenang nan tak emosi melerai perkelahian singkat mereka. Shikamaru melirik kesebelahnya dan menemukan teman sekelasnya yang penuh dengan senyum palsu. "Pengumuman apa?" Tanya Temari penasaran. Sai mengeluarkan senyum palsunya yang membuat Temari merinding. "Kamu lupa bayarannya, Temari-san." Temari mencibirnya dan kembali mengobrol dengan teman sekelasnya yang lain. Sementara Shikamaru kembali pada tidur singkatnya.
Disebrang meja tersebut, terdapat satu meja yang berisi murid Tingkat Awal, dengan suasana yang sama seperti meja yang lainnya. Sasuke terlihat tengah membaca buku, dengan menahan teriakan kecil dari histerisnya Sakura dan Ino melihat bagaimana keren pangeran mereka, Hinata tengah mengobrol sesuatu dengan Rin yang membuat mereka memerah dan melirik salah satu dari teman sekelas mereka, saudara kembar dari Rin – Ren – mendiskusikan sesuatu ketika Gin tengah menulis dibuku kecilnya, Fuyuki, Naruto dan Gaara tengah beragumentasi mengenai Neko-chan yang tidur dipangkuan Naruto.
"Dia kucing dengan temper yang menyebalkan." Sindir Fuyuki ketika ia melirik tajam pada Neko-chan yang mengabaikannya.
"Aku rasa dia cukup manis." Komentar dari Gaara membuat mereka membeku. Fuyuki dengan tidak elitnya membuka mulutnya terkejut, sementara Naruto merasakan keringat dingin turun dari lehernya.
Manis? pikirnya, Neko-chan manis? Naruto menggelengkan kepalanya ketika mendengar dari temannya ini. "Kamu hanya belum tahu saja, Gaara. Aku bertaruh, kamu pasti akan menarik kembali perkataannya mengenai, manis?"
Gaara tersenyum kecil mendengarnya. Tak benar – benar mengerti apa yang sebenarnya dikatakan Naruto.
"Lupakan kucing sok manis, ini." Fuyuki masih menatap tajam pada Neko-chan yang terlihat menyeringai dalam tidurnya. "Dimana Kuro?" Ia menanyakannya dengan gerakan melihat ke bawah kanan dan kiri.
Naruto mengangkat bahunya, "Tak tahu, kamu tahu, kan, dia sering menghilang."
Fuyuki mengangguk pelan tanpa membalas. Menguap pelan, ia sudah lapar dan tidak sabar untuk segera tidur. "Hei, besok ke Pasar Akhir Pekan?" Tawar Fuyuki, ia sudah penat dengan pelajaran. Minggu lalu dia tidak ikut ketika ia melihat pertandingan Gina dan hari minggunya dia terpaksa mengerjakan semua tugas yang ia abaikan.
"Pasar Akhir Pekan?" Tanya Naruto memastikan, ia ber-hum pelan sesaat sebelum akhirnya menoleh pada Gaara yang terlihat masih menganggumi manisnya Neko-chan. Dan Naruto merasa dirinya harus menjauhkan Gaara dari Neko-chan, atau Gaara akan menjadi sadis seperti Neko-chan. "Hei, Gaara. Besok pertandingan siapa?"
"Hum?" Gaara menoleh pada kedua temannya dan segera menjawab, "Oh, Hanami Rei dengan Yuuki Fujioka keduanya dari Tingkat Akhir." Ia mengangkat bahunya. "Tidak ada yang aku kenal."
"Oh, oke!" Naruto mengangguk dan memberikan senyum jempol pada Fuyuki yang mengalihkan pandangan tanpa sebab. "Kamu ingin ikut, Gaara?" Dan teman berambut merahnya itu hanya mengangguk, kembali mengagumi Neko-chan. Dan ketika Naruto akan memindahkan Neko-chan dari penglihatan Gaara, ia baru saja sadar ketika suasana Aula Besar menjadi sunyi. Ia dan teman – temannya melihat kedepan dan menemukan kepala sekolah mereka, Senju Tsunade berdiri ditengah meja staff akademi.
.
Senju Tsunade bukanlah orang yang suka dengan anak – anak. Ia selama ini hidup dengan hobby miliknya, judi. Ia dan juniornya, Shizune telah keliling dunia untuk menantang judi, meskipun akhirnya kalah dan hidup dengan dikejar hutang – hutangnya. Tapi itu adalah hidupnya, dulu.
Sekarang dia menjadi kepala sekolah di Akademi yang penuh dengan anak – anak nakal dan berisik. Dengan mendapat amanah dari kepala sekolah sebelumnya yang juga pendiri dari Akademi sekaligus Pengguna Avatar Platinum, Sarutobi Hiruzen. Pak tua sialan, itulah yang ada dipikirannya ketika ia harus dilantik dan kemudian menjadi Anggota Elite Kementrian Avatar bersama dengan Orochimaru, guru Ramuan Kimia.
Ia menghela nafasnya, di setiap pertemuan Anggota Elite Kementrian Avatar, dia dan lainnya disibukkan dengan pencarian Pengguna Avatar Platinum selanjutnya, setelah pengguna sebelumnya meninggal secara tiba – tiba. Jasadnya tidak pernah ditemukan, begitu pula dengan sebelumnya, tubuh Sarutobi Hiruzen dan Namikaze Minato seakan hilang dan lenyap. Tidak penah ada yang menemukannya. Emosinya memuncak ketika ia kembali mengingat kedua orang yang sangat dekat dengannya, yang satu adalah gurunya dan yang lainnya adalah muridnya. Dia hidup di TIGA masa pergantian Avatar Platinum. Terlalu banyak yang ia lihat.
"-NUH DENGAN HORMAT MASA MUDA!"
Dahi Tsunade berkedut mendengar teriakan yang membuat kepalanya sakit. Ia tidak perlu menengok untuk mengetahui siapa itu, ia dapat merasakan semangat api membara dari salah satu rekan kerjanya yang sebagai guru olahraga, Maito Guy. Mengambil nafas yang dalam, ia melihat sekeliling dan menemukan semua guru dan staff sudah berkumpul. Kembali mengambil nafas yang dalam, berusaha menenangkan diri menghadapi bocah – bocah yang merepotkannya.
Ia berdiri dan melihat bagaimana satu persatu semua murid mendapat perhatiannya. Ini adalah caranya menghadapi keributan di Aula Besar, berdiri tenang dan menunggu sambil menenangkan dirinya, melihat murid mulai diam.
Dengan sedikit menambah ekspresi masam yang tak pura – pura, ia mulai mengatakan sesuatu, "Tahun ini kita akan kembali mengadakan Turnamen Umbra Cup. Turnamen ini dimulai dari tahun lalu, begitu juga tahun sekarang. Turnamen diadakan dengan tujuan mempererat persahabatan antar Akademi," Ia sekarang melihat beberapa murid Tingkat Menengah dan Akhir mencibir dibalik nafas mereka. "Turnamen yang diikuti oleh Akademi Avatar, Akademi Latet, Akademi Pure dan Akademi Umbra." Kembali ia dapat melihat murid di tingkat yang tinggi saling berpandangan bingung. "Turnamen ini hanya diikuti oleh Tingkat Awal dan akan dilaksanakan minggu depan dan diawasi oleh Ibiki-sensei."
Berakhirnya dengan itu, suasana Aula Besar terbagi menjadi dua bagian, hening dan ribut. Kedua murid di Tingkat Menengah dan Akhir terlihat diam dan tak berusaha memecah keheningan yang mereka buat. Tapi, hal itu berbalik dengan di meja Tingkat Awal yang terihat kebingungan dan shock terhadap pengumaman yang mereka dengar.
Gin terlihat hampir menangis dan marah pada dirinya sendiri karena dirinya sama sekali tidak mengetahui informasi apapun sebelum ini. Dan mengutuk dirinya yang lalai ketika mendapat petunjuk dari Sai mengenai adanya berita besar diminggu ini, dan dirinya tidak mendapat apapun. Sangat mengecewakan.
Amane Ren berusaha menenangkan Gin, ia melihat ke adik kembar perempuannya yang terlihat berusaha menenangkan diri dan terlihat siap untuk mengikuti Turnamen tersebut. Sementara dirinya sendiri, menyakinkan dalam hati bahwa dirinya akan berusaha semaksimal mungkin dan dapat melindungi adik kembarnya.
Ketika semua murid tengah sibuk membicarakan hal itu. Fuyuki melirik pada Naruto yang terlihat tidak nyaman. 'Naruto, kamu tahu sesuatu?' Fuyuki berusaha keras untuk dapat berkomunikasi dengan Naruto dalam pikiran.
'Ha-ah'
Fuyuki mengangkat salah satu alisnya. Tidak terlalu yakin dengan jawaban Naruto. Tapi, dari nadanya Fuyuki dapat menebak Naruto mengiyakannya. 'Lalu, ada apa? Jangan bilang kamu tidak siap?' Fuyuki tahu dirinya adalah orang yang garing. Tapi, itu adalah dirinya. Ia dapat melihat bagaimana Naruto menggelengkan kepalanya pelan, seolah menolak dengan apa ditanyakan Fuyuki.
'Tidak. Hanya saja, melihat mereka begitu antusias-' Berhenti sebentar, Fuyuki dapat melihat teman sekelasnya ini mengerutkan dahi. 'Um, dengar. Kamu ingat dengan Sasori-senpai dan Deidara-senpai?'
Fuyuki mengangguk meskipun ia tahu itu tidak perlu, 'Keduanya alumni Akademi Avatar yang sekarang bekerja sebagai penyebar informasi dan pekerjaan, kan? Yang menolongmu di Pasar Akhir Pekan, kan?'
Naruto mengangguk dan mengelus bulu halus Neko-chan yang terlihat senang dimanjakan, 'Well, minggu kemarin aku bertemu mereka. Aku menanyakan kenapa mereka disini dan Sasori-senpai mengatakan mereka yang mengurus Turnamen ini. Dan- mengatakan hal yang sama seperti kepala sekolah, dan dia juga memberitahuku bahwa kita akan dikeluarkan ketika kita gagal.'
Terdapat sunyi panjang setelah itu. Fuyuki tidak yakin harus membalas apa, sementara Naruto mengira Fuyuki tidak akan menjawab. Mereka hanya diam mendengar teman sekelasnya dan semua yang ada di Aula Besar mulai memakan makanan mereka. Mereka pasti terlalu fokus terhadap hal itu.
"Dikeluarkan?" Bisik Fuyuki ketika ia melihat makanan didepannya. Bisikannya hanya bisa didengar oleh Naruto yang sama bereaksi dengannya. Entah bagaimana Fuyuki merasa tak lagi lapar, perutnya terasa penuh dan sekarang bergerak menuju kerongkongannya. Menggunakan telapak tangannya untuk menahan kepalanya yang terasa berputar. "Oh, aku benar – benar merasa mual." Bisiknya lirih.
Naruto menatap prihatin pada teman masa kecilnya ini. Menatap kebawah dan berbisik pelan pada Neko-chan, "Tolong ya, Neko-chan." Naruto segera memindahkan kucingnya itu dipangkuan Fuyuki yang terlihat lemas.
"Tahan aku, anak nakal." Bisik Neko-chan pada Fuyuki. Ia memanjat dan segera bergelung diatas pangkuan Fuyuki. Fuyuki dalam diam memeluk erat Neko-chan namun tidak sampai melukainya. Dan dia dapat merasakan energi yang mengalir dan perutnya sudah tak lagi mual. "Ini benar – benar bodoh." Fuyuki berbisik terhadap Turnamen yang akan mereka hadapi.
"Hei, Naruto." Naruto segera menengokkan kepalanya dan menemukan Gaara yanng terlihat menatap Fuyuki penasaran. "Ada apa dengan Masaki?"
Naruto mengedip, kemudian tertawa gugup dan menggaruk belakang kepalanya. "Er... Kamu tahu, mungkin sakit perut. Tahu kan, anak perempuan yang moodnya suka berganti – ganti." Naruto berusaha mencari alasan.
Gaara terlihat tersesat beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk pelan, tak tahu mengerti atau tidak. "Oh, Temari juga sering seperti itu." Gumamnya.
Naruto menggigit bibirnya untuk menahan tawa ketika hal itu beralih menjadi tersentak menahan teriakan sakitnya ketika ia merasakan sesuatu menginjak kakinya dengan kejam. "Eeh... ya, mungkin seperti itu." Naruto membenarkan perkataan Gaara. Dan sekarang kakinya terasa dibor oleh kaki yang lain. Sangat menyakitkan. Bibirnya bergetar menahan tangis kesakitan. Dan kemudian dia merasakan bulu kuduknya merinding ketika ia mendengar sesuatu yang berbahaya diotaknya.
'Awas kamu' Naruto menelan ketika ia mendengar desis berbahaya dan terdengar sangat membenci. Oh, Prima tolonglah dirinya, mohonnya.
...
Pagi yang cerah seperti biasanya. Para pedagang berusaha menjajakan dagangan mereka. Beberapa penjual makanan mempunyai beberapa karung berisi sayuran yang mereka simpan, pedagang pakaian tengah serius beragumen mengenai tawaran harga kepada pembeli ibu – ibu mereka, dan beberapa diantaranya pedagang aksesoris yang tengah mengukir sesuatu.
"Hei, bukankah ini bagus?" Tanya Fuyuki ketika ia berhenti disalah satu pedagang perhiasaan mainan. Ia berjongkok dan mengambil sebuah gelang kebelakang dan hanya menemukan Naruto dengan Kuro. "Mana Gaara dan kucing sialan itu?"
Naruto terlihat sedikit bingung menjelaskan. "Er... Gaara..."
Jawaban kecil itu cukup membuat Fuyuki mengerti. Ia segera menarik Naruto agar ikut berjongkok disampingnya. Dalam dirinya bertanya - tanya bagaimana bisa Gaara menyukai kucing sialan yang selalu tidur itu.
"Apa yang kamu cari, Fuyuki?" Tanya Naruto ketika ia melihat – lihat mainan yang dijajakan. Ia menemukan sebuah gantungan berbentuk telapak kaki kucing dengan batuan kecil hitam memenuhinya. "Kuro, kamu suka ini?" Ia menunjukkannya pada kucing hitam yang sekarang tengah menggelayut manja di kakinya.
Kuro mengengong setuju.
"Kamu mau membeli itu?"
Naruto mengangguk semangat dan menengok pada si penjual, "Paman, apa yang ini ada sepasangnya?"
Paman dengan wajah tidak bersahabat itu mengeluh pelan mengenai nasibnya yang malang menjadi penjual mainan konyol dengan anak – anak konyol yang membelinya. Hidupnya memang konyol. Namun, paman itu tetap mencari apa yang diinginkan Naruto.
Fuyuki melirik pada Naruto yang terlihat ingin mempertanyakan ketidakramahan paman itu.
"Nah." Dengan sodoran yang memaksa, paman itu memberikan gantungan kaki kucing lain yang sama dengan adanya batu kecil bening sebagai pengganti batu kecil hitam. Sempurna, batin Naruto ketika ia melihat sepasang gantungan itu. Dan sekarang ia hanya perlu membeli sesuatu yang dapat ia ikat di leher Kuro dan Neko-chan.
"Berapa harganya, paman?" Tanya Naruto tanpa melihat, ia terlalu terpesona dengan apa yang ia peroleh. Dan tidak mengetahui seringai gelap paman penjual.
"200 Tunai."
"APAA?!" Naruto berteriak terkejut. Tidak menyangka harganya bisa sampai ke langit seperti itu. Ia tidak mungkin menghabiskan sebanyak itu hanya untuk hal seperti ini. "Kamu gila paman." Naruto mengeluarkannya sedikit kasar.
Paman itu mengangkat bahu tidak peduli. Ketika ia berusaha mengambil kembali gantungan di tangan Naruto, sayangnya Naruto sudah lebih dulu menjauhkannya. Dengan sindiran penuh di wajahnya, paman itu berkata, "200 Tunai, atau kembalikan."
Naruto menggerutu sendiri mendengarnya. Ini hanya gantungan kecil, harganya mungkin hanya 20 Tunai, tidak mungkin mencapai 200 Tunai! Tapi, ia benar – benar sangat menginginkan mainan ini. Paman ini penipu sialan. Namun, belum sempat Naruto mengatakan sesuatu. Fuyuki sudah lebih dulu menyela.
"200 Tunai? Aku kira paman buta dengan angka. 200 Tunai cukup untuk membeli sebuah pedang dengan kualitas rendah. Dan paman ingin menyetarakannya dengan gantungan murahan seperti ini? Sepertinya paman ingin bertemu dengan Tsunade-sama untuk mendapat pelajaran mengenai angka dan hitung menghi-"
"OK! 150 Tun-"
"Apa paman pernah mendengar nama Konan? Itu loh salah satu Direksi Menteri di Kementrian Avatar sebagai Kapten Kepengurusan Pendidikan. Bagaimana bisa seorang pedagang ingin membodohi salah satu murid di Akademinya dulu."
"100 Tuna-"
"5 Tunai." Naruto menatap Fuyuki sudah gila.
"60."
"5 Tunai." Fuyuki menunjukkan 5 jarinya.
"50 Tunai, harga pas."
"5 Tunai."
"OK! 10 Tunai, tidak bisa ditawar lagi."
"10 Tunai dengan ini." Fuyuki menunjukkan sebuah tempat berbentuk telur yang bisa dibuka untuk menyimpan sesuatu. Telur itu memiliki motif rotasi dengan warna nila. Hal itu mengingatkan Naruto terhadap sesuatu terhadap elemen pikiran.
"Apa? Gadis ini pasti benar – benar ingin membuatku bangkrut." Perkataan paman penjual itu membuat Naruto kembali melihat pada telur itu dan menebak – nebak harga yang menurutnya sepadan, mungkin sekitar 50 Tunai keatas.
Namun, Fuyuki seolah tidak terlalu ambil hati terhadap paman itu, ia hanya mengangkat bahu dan kembali menajamkan matanya. "10 Tunai dengan ini atau tidak sama sekali."
Paman itu terlihat sudah menyerah dan dengan kasar melemparkan sebuah kain yang digunakan untuk membersihkan mainan disampingnya. "Baik! 10 Tunai dengan itu!" Nada kasarnya itu mengundang perhatian dari beberapa pedagang sekitar yang mendengarnya dan segera menegur paman penjual.
"Deal!" Fuyuki beseru senang dan Naruto mendapat perasaan bahwa dirinya yang harus membayar semua kekacauan ini.
Ketika ia memberikan uang itu, paman pedagang menerimanya dengan tidak sopan dan merebutnya. "Dan jangan pernah kesini lagi!"
Naruto segera membawa Kuro dan Fuyuki menjauh dari pedagang yang sepertinya sudah tidak lagi memiliki kesabaran. Dan dalam perjalanan itu, ia dapat mendengar paman pedagang itu menggerutu sedikit keras, "Sialan, hari sial. Dibodohi dua anak nakal." Naruto mengangkat bahu. Dia sama sekali tidak merasa sakit hati, ketika yang sebenarnya yang membodohi paman itu adalah Fuyuki sendiri.
Ketika cukup jauh, ia membeli dua tali pengikat yang kemudian gantungan itu dimasukan ke tali tersebut, menjadikannya sebuah kalung. Ia mengikatkan gantungan dengan batu kecil bening dileher Kuro, ketika ia berencana yang satunya diberikan pada Neko-chan ketika Gaara berkumpul kembali.
Ia menengok pada Fuyuki yang terlihat memperhatikan telur yang ia dapatkan dengan sediki trik. "Kebiasaanmu menawar harga dengan harga mati semakin meningkat, Fuyuki."
Fuyuki menengok dengan senyum sombongnya. Mengibaskan rambut merahnya kebelakang, meskipun rambutnya sudah diikat satu seperti Ino dan kemudian meniup poninya yang memang menutupi kening. "Tentu saja,"
Naruto memutar bola matanya, bosan. "Bagaimana bisa kamu menghadapi paman menyebalkan sepert itu dengan tenangnya?"
Fuyuki menyeringai sedikit dan mengangkat bahu. "Biar saja, masa gantungan seperti itu dengan harga selangit?"
Naruto mencibir, "Kamu yang aneh. Paman itu memang sudah menurunkan harga, tapi ditambah dengan telur itu? Aku kira apa yang paman bilang kamu itu gila adalah benar."
Fuyuki menjulurkan lidahnya, tidak peduli. Ia menunjukkan telur itu dihadapan Naruto. "Kamu lihat ini, Naruto?" Ia dapat melihat Naruto berusaha menahan memutar bola matanya. Ia menyeringai, "Lihat baik – baik."
Naruto mengangkat sebelah alisnya dan mengambil telur tersebut. Telur itu sangat pas untuk digenggam dan bagaimana motif rotasi itu timbul, membuatnya ingin terus menelusuri garis rotasi itu dengan jarinya. Ia berusaha membuka telur itu, namun sayangnya tidak bisa.
"Kamu lihat ini," Fuyuki menunjuk pada sebuah titik yang terlihat seperti satu – satunya titik yang paling timbut diantara yang lain. Dan saat itu juga, Naruto tahu itu adalah sebuah kunci untuk membuka telur tersebut. Fuyuki mengambil telur itu dan menekan kunci dengan ibu jarinya. Dan secara tiba – tiba telur itu membuka dan menunjukkan di dalamnya kosong.
Naruto mengerutkan dahi, bagaimana bisa-
Belum sempat Naruto menyelesaikan pertanyaan di pikirannya, Fuyuki sudah lebih dulu menunjukkan bagian bawah luar telur itu, dimana terdapat penyangga agar telur itu dapat berdiri dan tidak berguling. Naruto menemukan sebuah ukiran dengan adanya sebuah bola – Naruto asumsikan adalah dunia – dan adanya rotasi diantaranya, lagi.
Naruto menggaruk belakang kepalanya, matanya menatap kelangit berusaha mengingat sesuatu. "Sepertinya pernah aku lihat, tapi dimana, ya?"
"Klan Misaki."
"He?"
Kuro menghela nafasnya, dan kembali memperhatikan telur yang digenggam Fuyuki. "Kamu pernah melihatnya di desa kita dulu. Di rumah Fuyuki, dipintunya terdapat simbol klan, bukan?"
"Hooo..." Naruto mengangguk mengingatnya. "Jadi itu milik klanmu?" Tanya Naruto.
"Ya," Fuyuki tetap memperhatikan telur itu seolah ia akan menemukan pecahan misteri yang ia buat sendiri. "Ukiran ini asli. Paman sialan itu pasti mendapatkannya dari perampok orang tuaku." Fuyuki menggumam pelan, mengingat orang tuanya yang memang sudah meninggal sejak ia kecil.
Naruto kembali mengangguk, tidak tahu pasti ingin menjawab apa. Tak salah jika Fuyuki menginginkan barang milik klannya apapun biaya yang harus ia keluarkan. Naruto mencibir dibalik nafasnya, sebenarnya dia yang membayar. Well, setidaknya ia mendapatkan barang yang ia inginkan tidak sampai 200 Tunai!
Beban disamping Naruto membuat keduanya menengok menemukan Gaara yang tengah memanjakan Neko-chan. Naruto seketika memucat, namun kemudian mengangkat bahunya. Ia dapat melihat bagaimana Neko-chan terlihat senang dimanjakan seperti itu, namun ia tahu ada nada bosan saat Neko-chan mengengong pelan.
"Apa yang kamu dapatkan, Gaara?" Tanya Naruto penasaran ketika ia menyadari Gaara dan Neko-chan sudah menghilang lebih lama dibanding mereka. Ia kemudian menyadari adanya sebuah bola yang membuat Neko-chan terlihat seperti kucing normal.
"Hanya bola itu. Aku sempat memberinya sebuah baju yang membuatnya semakin manis. Tapi sepertinya dia tidak terlalu nyaman." Gaara menjawabnya tanpa mengalihkan perhatiannya pada Neko-chan yang kini memainkan bola disamping kaki mereka.
Naruto menelan ludahnya ketika ia membayangkan bagaimana Neko-chan menolak semua apa yang diberikan Gaara, tak heran ia dapat melihat adanya luka cakaran di wajah maupun lengan Gaara.
Fuyuki memutar bola matanya dan menatap sinis pada kucing putih dibawahnya. "Tentu saja, kucing menyebalkan ini terlalu terhormat diberikan pakaian manis." Nada sarkatis itu membuat Naruto merinding.
Sebelum Neko-chan dapat menyerang Fuyuki, Naruto sudah lebih dulu menangkapnya dan membuatnya duduk dipangkuannya, ketika Kuro melompat untuk mengambil alih mainan yang sekarang diabaikan. "Nah Neko-chan, aku punya hadiah untukmu." Namun, rupanya Neko-chan tidak menyerah semudah itu, ia akan kabur jika saja Gaara tidak membantu Naruto menahan Neko-chan untuk dipasangkan sebuah kalung. Hinaan Fuyuki yang terus ditujukan pada Neko-chan sama sekali tidak membantu.
Ketika ketiga remaja itu tengah sibuk, mereka segera dikejutkan dengan adanya suara ribut dari belakang mereka. Saling melirik hingga akhirnya mereka membuat kesepakatan tanpa suara dan diam – diam mengendap kebelakang.
Tempat mereka adalah salah satu sudut dari Pasar Akhir Pekan. Mereka duduk disalah satu bangku yang tersedia di sebuah lapangan bola yang sepi dan disebelah lapangan bola itu adalah hutan. Dan mereka tahu, hutan itu hanyalah penghalang jalan lain. Jalan besar itu sangat sepi dan mereka tidak begitu yakin siapa yang berada disana.
Bersembunyi diantara pohon – pohon. Tanpa sadar rahang mereka jatuh ketika melihat beberapa orang – terlihat seperti murid – tengah berkelahi – mungkin lebih tepatnya menghajar – beberapa murid. Dan itu terlihat brutal meskipun tanpa adanya Avatar yang keluar.
~oOo~
A/N :
Holla! Saya kembali.
Saya minta maaf atas keterlambatan ini. Akhir – akhir ini saya merasa tidak mampu untuk melanjutkan, bukan hanya fic ini, tapi semua fic. Apa ini tanda – tanda Writer Block?
Well, tapi saya selalu berusaha agar bisa menyelesaikannya, meskipun harus mencari-cari inspirasi.
Tapi, saya berharap kalian dapat meninggalkan jejak kalian. Saya kangen dengan kritik kalian mengenai fic saya. Tapi jangan berlebihan saya harap. Saya menunggu review kalian. OKAY!
Ru Unni Nisa
Sign Out
Jaa ne~
