Rated: T
Genre: Romance, Hurt/Comfort
Vocaloid © Yamaha Corp and Crypton Future Media.
Pair: Len x Rin
Warning: typo, EYD yang buruk, ide pasaran dll
By © Go Minami Asuka Bi
RnR Please...
"Allen."
Rillian perlahan masuk ke dalam kamar cukup besar milik tunangannya yang kini tengah merapihkan baju perang miliknya. Merasa terpanggil, Allen berbalik menatap Rillian yang masih terus berdiri di depan pintu seraya menatapnya sendu. Pemuda itu menghela nafas melihat gadisnya bersedih terus, padahal ia akan pergi jadi setidaknya dia ingin melihat senyuman dari wajah Rillian untuk menghantarnya pergi berperang lalu kembali di sambut dengan senyuman saat ia kembali, bukan kesedihan seperti ini yang seakan mengatakan dia takkan kembali lagi.
"Ada apa?" tanya Allen seraya tersenyum. Rillian berjalan mendekat ke arah Allen lalu berhenti tepat beberapa centi di hadapan pemuda itu. "Hmm?" gumam Allen dengan bingung saat sebuah sapu tangan yang terlipat rapih kini sudah berpindah tangan padanya.
"Aku ingin kau memakainya saat berperang." Kata Rillian.
Allen membuka sapu tangan tersebut hingga memperlihatkan isi di dalamnya yang ternyata adalah sebuah cicin dengan berlian berbentuk daun momiji di atasnya. Pemuda itu terkejut dengan apa yang ia dapat karna cicin itu adalah permberiannya dulu saat melamar gadis di hadapannya ini. Mengapa ia memberikannya kembali? Apa ia ingin memutuskan pertunangan ini? Pertanyaan demi pertanyaan kini terlintas dalam benak Allen namun tak ada satu pun yang positif.
Seakan mengetahui apa yang di katakan Allen,Rillian segera menyanggah hal negatif di otak pemuda itu. "Aku tidak bermaksud menolakmu atau memutuskan pertunangan ini." Kata Rillian.
"Lalu apa penjelasanmu untuk cincin ini?"
Rillian menghela nafas sejenak sebelum melanjutkan perkataannya. "Aku ingin kau memakainya saat perang untuk mengingatkan bahwa aku berada disini menunggumu." Lanjut Rillian seraya tersenyum menatap Allen.
Melihat perasaan Rillian itu membuat Allen tersenyum, setidaknya gadisnya ini memiliki cara untuk membuatnya bersemangat selain senyuman kepergian yang ia pikirkan tadi. Allen mengambil kedua tangan Rillian lalu menggenggamnya erat seraya menatapnya dengan pandangan serius.
"Aku akan memenangkan pertempuran ini dan kembali untukmu."
.
"Aku akan memenangkan pertempuran ini dan kembali untukmu."
Hembusan angin kini memainkan rambut blonde pony tail seorang pemuda yang kini tengah berdiri di atap sekolah seraya menatap kalung dengan sebuah cicin bertahtakan sebuah berlian berbentuk daun momiji di atasnya.
"Maaf..."
.
.
.
Tak.. tak.. tak.. tak...
Jari mungil Rin kini menari di atas keyboard komputer di sekolahnya yang ia gunakan sekarang. Rasa penasaran dengan perkataan dua orang kemarin benar- benar mengganggunya, jika benar perkataan mereka maka ada sedikitnya blog- blog yang menyajikan tentang reinkarnasi dan masalah atau janji masa lalu. Matanya terus memperhatikan satu persatu kata yang tertera pada sebuah blog.
"Tak ada."
Rin menyenderkan tubuhnya pada kepala kursi di belakangnya dengan tatapan lelah. Padahal dia sudah menyusuri blog sejak dini hari hingga ia bolos kelas hanya untuk mencari kebenaran namun tak ada satu pun blog yang menjelaskan perkataan Luki kemarin.
"Apa itu hanya gumaman bodoh orang mabuk?" tanya Rin pada dirinya sendiri.
Tapi, jika ia menyerah disini maka dia takkan tau kebenarannya, lagi pula jika perkataan Len adalah sebuah kebohongan, bagaimana bisa ia mengetahui segala mimpi yang mengusiknya beberapa minggu ini. Pasti ada penjelasan di balik semua ini dan ia harus mencari tau kebenarannya. Rin kembali menegakkan tubuhnya dan mulai mencari dari awal dengan kata kunci yang berbeda hingga sebuah blog menarik perhatiannya.
Tak.. Tak.. Tak.. Tak.. Klik! Klik!
"I- Ini."
Mata Rin bergerak dengan cepat membaca salah satu blog indie yang ia temukan. Tak ada satu kata pun terlewat dari penglihatannya bahkan cerita yang entah benar atau tidaknya dalam blog tersebut benar- benar membuat perhatiannya tak bisa lepas dari sana bahkan ia mulai percaya dengan adanya reinkarnasi.
"Tidak mungkin." Rin terdiam saat membaca kata- kata dari blog tersebut. "Dia Harus memberikan penjelasan tentang ini!" Rin berdiri dan pergi meninggalkan komputer yang masih menyala dan menampilkan apa yang ia baca.
'Para pembuat perjanjian akan hidup tanpa beban setelah ia melepas perjanjiannya namun, jika orang yang di sebut pembuat perjanjian itu tidak melepaskan janjinya maka ia akan mati di tanggal, dan bulan yang sama saat ia meninggal pada masa lalu.'
.
.
.
Len begitu terkejut dengan kehadiran Rin yang tiba- tiba datang dan menariknya keluar kelas. Padahal kemarin gadis itu seperti tak ingin berbicara lagi dengannya namun sekarang malah menariknya keluar kelas. Rin berhenti dan melepaskan tangan Len saat mereka sampai di atap sekolah lalu berbalik dan menatap pemuda di hadapannya dengan pandangan yang sarat akan penjelasan.
"Apa benar kita bereinkarnasi?"
Len terdiam sebentar sebelum menjawab. "Iya."
"Apa aku si pembuat perjanjian?"
"Iya."
"Apa benar aku akan mati di hari yang sama saat kematianku dulu jika tidak melepas janji itu?"
"Iya... Tunggu! Bagaimana kau tau soal itu?" Len cukup terkejut dengan perkataan Rin karna seingat dia, ia tak mengatakan apapun soal kematian pada gadis itu.
Dengan cepat Rin mencengkram pundak Len di hadapannya dengan kencang lalu menatapnya serius. "Kapan? Kapan hari kematianku?" tanya Rin seraya menatap Len dengan serius.
"Tunggu sebentar!" Len melepaskan cengkraman di pundaknya itu dengan kesal. "Aku tidak tahu kapan kematianmu karna aku mati lebih dulu dari padamu jadi hentikan menaruh cakarmu pada tubuhku! Lagi pula bagaimana kau mendapatkan infomasi tentang reinkarnasi ini?" Jawab Len dengan kesal. Sejujurnya Len merasa gadis di hadapannya ini memiliki gen kucing garong sepertinya.
Perkataan Len tadi membuat Rin terdiam tak percaya. Oh ayolah, siapa sih yang mau hari kematiannya sudah di bisa di tebak dan lagi kau lupa kapan itu terjadi, begitu juga Rin. Sebentar, di blog tadi mengatakan jika kita bisa melepas perjanjian itu maka beban selama ini akan hilang dan kemungkinan kematian juga akan berkurang, berarti dia hanya harus melepas perjanjiannya tapi apa isi perjanjiannya? Rin menatap Len dengan wajah serius.
"Apa isinya?!"
"Hah?"
"Katakan apa isi perjanjiannya? Aku tak mau mati sia- sia hanya karna perjanjian konyol dari masa lalu!"
Len menghela nafas mendengar pertanyaan Rin, bukannya dia tak ingin mengatakannya tapi ada sesuatu yang perlu gadis itu tau. "Perjanjiannya hanya di ingat oleh si pembuat janji."
"Tunggu. Perjanjiannya hanya di ingat oleh si pembuat janji? Jangan bercanda, aku bahkan tak ingat apa pun di tambah mimpi itu sangat tidak jelas. Bagaimana aku tau perjanjiannya?" Tanya Rin.
"Aku tidak bercanda." Jawab Len tegas. "Maaf, aku tak bisa membantumu tapi cepat lepaskanlah perjanjian ini sebelum kau mati." Sambungnya sebelum ia pergi meninggalkan Rin sendirian di atap.
Bruk!
Rin jatuh tersimpuh mendengar perkataan Len saat tadi. Setelah sekian lama ia membenci Luki, akhirnya ia mengerti mengapa pria itu menjadi sosok seperti sekarang. Saat semua tekanan akan kematian menghampirimu tapi kau tak bisa mencegahnya karna sesuatu hal dan karna presepsi kematian itu juga yang membuat hidupmu hancur. Sekarang gadis itu mengerti bagaimana rasa frustasi Luki selama ini.
"AAARRRGGGHHH!"
TBC
Yey! Akhirnya chapter ini slesai.. Jujur saja, aku hampir frustasi dengan ff ini... Habis aneh banget critanya tapi akhirnya slesai. Aku harap bisa memuaskan.
Judulnya aku ganti karna lama kelamaan jadi gag masuk sama crita .. jadi aku ubah dech :*. Gomennasai
Aku mau membuat sebuah crita lagi, mungkin critanya agak meanstream karna tentang penyamaran di sekolah cowok, tapi aku akan ku bungkus dalam crita misteri dan kekerasan. Aku harap kalian suka nanti .
Sekali lagi Trima kasih bagi yang Review, dan maaf tidak ku balas. Alasannya karna sibuk buanget. Ok sekian cuap- cuapnya.. sampai jumpa di Chapie depan.
Salam hangat,
Go Minami Asuka Bi
