Orange Origami
By: Sazeharu Reito
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Genre: Romance/ Comedy
Warning: Banyak Typo, Diksi payah, AU dll
.
.
Chapter 4: A Chance
Mentari telah terbit dan burung-burung kembali berkicau menambah indahnya pagi pada hari ini. Hari ini adalah hari yang biasa dimana Pein kembali menjadi pegawai kedai Naruto. Sementara itu, Pein tidak tau bahwa Hidan ternyata masih hidup dan hari ini Hidan berencana untuk mengunjungi Konan.
"Pagi yang indah" Hinata membuka pintu kedai sambil menghirup udara segar. Lalu ia membalik tanda tutup didepan pintu menjadi tanda buka.
"Pagi yang indah ini harus kulewati bersama bocah rubah di rumahnya yang seadanya" keluh Pein setengah menyindir.
Naruto melayangkan deathglare "Kalo tidak suka silahkan keluar"
"Apa? Aku tadi sedang membuat puisi, tidak ada maksud menghinamu" kata Pein dengan wajah datar.
'Puisi macam apa itu?' Naruto sweatdrop.
"Pein-san, sampai berapa lama kau akan tinggal disini?" tanya Hinata.
"Kau ingin mengusirku kan? Huaaa!" Pein nangis lebay.
"Hinata kan cuma bertanya" Naruto kembali sweatdrop.
Pein menatap Naruto dengan wajah kesal lalu ia mencengkram kerah baju Naruto "Kau tidak mengerti, itu adalah cara halus untuk mengusir seseorang" Pein kembali menangis "Aku pernah melihatnya ditv"
"Eee.." Hinata dan Naruto pun sweatdrop.
Pein menghentikan tangisannya "Ehem..Aku akan tinggal selama waktu yang tidak ditentukan jadi aku akan tinggal disini selama aku mau"
'Kau pikir ini rumah nenek moyangmu' batin Naruto.
"Terserah kau saja Pein-san" Hinata tersenyum kecil.
"Dan sebagai balasannya aku akan membiarkan Naruto membersihkan kakiku" kata Pein dengan senyuman terukir diwajahnya.
"Memangnya kau siapa!" Naruto menghajar Pein sampai terpental.
Pein mengelap darah diujung bibirnya "Kau hebat juga"
Tiba-tiba sesosok hewan muncul dari dapur rumah Naruto. Hewan itu berbentuk rubah berwarna jingga. Yang aneh dari rubah itu adalah dia mempunyai 9 ekor.
"Binatang apa itu!?" teriak Pein histeris.
Naruto mengangkat hewan itu "Ini Kurama, dia peliharaan kami" Kurama menatap Pein dengan tatapan penuh kebencian.
Pein melihat seksama wajah Kurama "Bagaimana pun juga ia tampak seperti siluman bagiku, lihatlah matanya hmm..dia seperti ingin membunuhku"
Hinata memperhatikan wajah Kurama. Kurama dengan cepat merubah tatapan matanya "Dia tampak seperti biasanya"
Pein menunjuk Kurama "Dia! Dia licik! Tadi dia mengerikan" Pein memicingkan matanya "Aku akan terus mengawasimu jadi waspadalah" Kurama tersenyum licik.
'Kenapa jadi begini?' Naruto sweatdrop untuk kesekian kalinya.
"Aku mau pergi dulu" kata Pein "Aku ada janji"
"Pergi kemana?" tanya Hinata.
Pein menunjukkan 2 buah tiket "Ta-ma-n ber-ma-in" Naruto membaca apa yang tertera dikertas lecek itu.
"Oke aku pergi dulu dan jangan pernah tinggalkan rubah itu sendirian, aku punya firasat buruk dengan rubah itu" Pein melenggang pergi.
Sementara itu...
Hidan tampak tiduran "Sepi juga kalo tidak ada teman, Kakuzu juga sudah mati" Hidan tampaknya merindukan sahabat seperjuangannya, si ganteng bercadar Kakuzu *author muntah*.
"Permisi tuan" Sai berdiri disamping Hidan yang masih tiduran "Kapan kita mulai bergerak?"
"Nanti sajalah, cuacanya sedang panas" Hidan memang tampak kegerahan "Lagi pula mereka tidak akan bisa lari"
"Lalu sekarang apa yang harus kita lakukan?" tanya Sai.
"Ya terserah kamu, pergi sana! Aku mau istirahat"
Sai berjalan hendak pergi tapi tiba-tiba "Hei!" panggil Hidan.
"Iya tuan"
"Ambilah peta dimeja itu" Hidan menunjuk meja yang tak jauh dari tempat ia berbaring "Carilah sebuah mayat disana lalu bawa ke desa Sunagakure, akan ada orang suruhanku disana, dia akan membantumu"
Dirumah Konan...
Tok..Tok..Tok..
"Ada orang tidak ya? Hoi!" teriak Pein.
Pintu pun terbuka "Pein, sedang apa kau kesini?"
"Aku mau mengajak jalan-jalan, aku tidak sengaja menemukan tiket jadi.." Pein cengengesan.
Konan tersenyum "Baiklah, ayo!"
Mereka pun pergi ketaman bermain Konoha Land. Taman bermain ini dibuat khusus oleh tukang kayu bernama Tazuna dan Inari dari desa sahabat Konoha. Mereka membuatnya sebagai balas jasa karena Konoha telah membantu mereka menyelamatkan desa dari serangan musuh. Setelah beberapa menit berjalan, Pein dan Konan sampai ke Konoha Land. Banyak sekali permainan yang kelihatannya sangat seru seperti roller coaster dsb.
"Kita akan main apa?" tanya Konan.
"Main apa ya? Hmm.." Sebenarnya Pein tidak tau apa yang harus dilakukan setelah mengajak Konan. Lagi pula, tidak tau permainan zaman modern.
Konan sepertinya dapat membaca kebingungan dari wajah Pein "Kita kesana saja!" Konan menarik tangan Pein.
Sementara itu...
"Kita kesini untuk apa?" tanya Shino yang juga ikut menjalankan perintah dari Hidan berkat ajakan Sai.
"Kita harus mencari tabung aneh" Sai melihat ke peta yang diberikan oleh Pein. Di peta itu sudah ditandai sebuah tempat "Disini tempatnya" Mereka berdua berhenti disebuah gua. Saat mereka memasukinya, mereka berdua terkejut.
"I-Ini kan?"
"Ya, ini adalah yang tuan inginkan" Sai melangkah kedepan dan mengambil mayat yang dimaksud "Sekarang kita ke Sunagakure"
Kembali ke Konoha Land...
"Capek sekali" Konan duduk disalah satu kursi sambil mengelap keringatnya dengan tisu.
"Tunggu sebentar" Pein pergi kesuatu tempat dan tak lama kemudian kembali dengan 2 buah eskrim ditangannya "Ini makanlah" Pein memberikan satu pada Konan.
"Terima kasih" Konan menerima eskrim itu lalu menjilatnya. Sementara Pein juga makan disamping Konan.
"Kenapa kau mengajakku?" tanya Konan.
Pein yang sedang memakan eskrim dengan hikmat dan penuh penghayatan langsung tersedak "Uhuk..uhuk..Etto karena kau satu-satunya orang yang kukenal"
"Naruto?"
"Bocah rubah itu kan harus menjaga kedai lagi pula lebih baik dia dirumah karena dia harus menjaga rubahnya, dilihat dari tatapannya rubah itu berbahaya" kata Pein tiba-tiba gaje.
Konan tertawa kecil "Kau sangat lucu"
"Be-Benarkah? Haha..di dalam organisasiku yang dulu memang kau yang paling lucu" kata Pein *jduak sejak kapan lu lucu XD*.
Beberapa orang berjubah hitam tampak mengamati Konan dan Pein dengan seksama "Eskrim itu sepertinya enak" kata salah satu dari mereka. Ia mempunyai gaya rambut yang aneh dan mempunyai alis yang sangat tebal.
"Tetap fokus bodoh" gerutu orang disampingnya. Ia mempunyai rambut jabrik hitam dan 2 buah tato segitiga merah dikedua pipinya"Kita ditugaskan untuk membunuh mereka dan kita tidak boleh gagal"
"Iya iya, aku tau"
Waktu berlalu dengan cepat. Setengah dari matahari telah tenggelam menandakan hari sudah hampir malam "Sudah malam, sebaiknya kita pulang" ajak Konan. Ia beranjak dari tempat duduk lalu berjalan pulang diikuti Pein. Melihat Pein mengikutinya, Konan menoleh "Kau tidak pulang?"
"Aku akan mengantarmu pulang lagi pula kita satu arah" kata Pein tersenyum.
Mereka pun berjalan bersama. Mereka tak merasakan bahwa kedua orang anggota jubah hitam telah mengikuti mereka. Saat Pein dan Konan memasuki gang sempit, kedua orang itu pun muncul.
"Wah wah wah" Lelaki bertato itu tersenyum "Kalian mesra sekali"
"Hei Kiba, kita disini untuk melaksanakan misi bukan untuk memuji mereka" Pemuda beralis tebal itu telah bersiap bertarung.
"Diam Lee! Itu tadi hanya basa-basi, kau pernah menonton film ya? Setiap kali orang jahat muncul maka mereka biasa mengatakan itu" gerutu lelaki bernama Kiba tersebut.
"Siapa kalian?" tanya Konan.
"Kami adalah anggota jubah hitam dan kami ditugaskan untuk membunuh kalian" kata Lee. Dan saat itu juga, Lee melesat kedepan hendak menghajar Konan. Tapi..
GREPP..!
Kepalan tangan Lee yang hampir menyentuh wajah Konan ditahan oleh Pein "Jangan kau sentuh dia"
Kiba yang sedari tadi menonton kini ikut ambil bagian. Dia menghajar Pein hingga terpental "Arrghh..!" Pein meringis kesakitan. Kiba tersenyum puas 'Sial, andai saja kekuatanku bisa kugunakan' batin Pein kesal.
Konan hanya bisa melihat Pein yang terkapar. Kini Lee merogoh sakunya, dia mengeluarkan pisau "Sekarang kalian berdua pasti mati" Lee menggerakkan tangannya kedepan hendak menusuk Konan.
"RHOARR..!" Lee yang belum sempat menusuk Konan terpental kebelakang. Rubah milik Naruto yaitu Kurama tiba-tiba datang menolong.
"A-Apa itu?" Lee yang terkejut mundur beberapa langkah.
"Aku juga tidak tau, mungkin rubah" kata Kiba.
"Kurama!" Terdengar suara yang tidak asing. Naruto datang ketempat Pein berada dan terkejut dengan apa yang dilihatnya "Pe-Pein!?" Naruto melihat Lee memegang pisau "Kalian! Kurama serang mereka!" Kurama melesat dengan kecepatan penuh, tubuhnya tampak lebih besar dari sebelumnya.
Kiba terpental akibat serangan Kurama "Kita mundur" Lee dan Kiba pun pergi.
Mata Pein perlahan mulai terbuka. Ia pingsan saat menerima pukulan dari Kiba "Di-Dimana aku?" Pein terlihat terbaring ditempat tidur.
"Ini dikedai" jawab Naruto.
"Konan? Bagaimana?"
"Dia baik-baik saja, Kurama mengantarnya kerumah" kata Naruto. Disamping Naruto, Kurama mengangguk-ngangguk.
"Arigatou Kurama, ternyata kau baik" Pein tersenyum kearah Kurama. Kurama hanya sweatdrop 'Memangnya siapa yang butuh pujianmu' batin Kurama.
"Siapa mereka itu?" tanya Hinata yang sedari disana tetapi hanya diam saja.
Pein menggeleng "Aku tidak tau"
Sementara itu...
"Maafkan kami tuan" Lee dan Kiba tampak telah kembali kemarkas jubah hitam.
"Tidak apa-apa, aku juga tidak menyangka bahwa Kyuubi ada disana" Hidan tampak berpikir keras tapi tak lama kemudian ia tersenyum "Tak apa, dia pasti bisa membunuh Pein"
"Dia?" Lee kebingungan.
Kiba menyengol badan Lee dengan sikunya lalu ia berbisik pada Lee "Jangan campuri urusannya, lagi pula dengan begini kita bebas dari tugas" Kiba tersenyum.
Sementara itu, Sai dan Shino kini telah sampai di Sunagakure. Seorang lelaki paruh baya datang menghampiri mereka. Ia mengambil karung berisi mayat yang dibawa Sai dan Shino lalu pergi. Sai dan Shino mengikuti orang itu.
To be Continued...
A/N:
Akhirnya bisa update ^^ Hmm..Aku akan menjawab review dari Lisa (maaf kalo salah nama). Aku tidak bisa menghidupkan kembali Kakuzu karena dia memang udah bener" mati. Berbeda dengan Hidan yg hanya terkubur. Memang sih menurutku akan lebih lucu tapi walaupun fic ini AU, fic ini tetap agak nyambung dengan cerita aslinya (soal kematian anggota akatsuki).
Pein: Trus siapa mayat itu?
Nanti pasti akan terungkap di next chapter ^^
Kurama: Baiklah sampai jumpa *melambaikan tangan pada reader*
