CHAPTER 4
Main pairing: Namjin
Side pairing: Yoonmin, Taekook,
Rate: T-M
Typos is all mine, ketidakjelasan is also mine.
.
.
.
.
.
.
Bisa dikatakan Namjoon bukanlah orang yang paling beruntung di dunia. Kedua orang tuanya meninggal akibat kecelakaan mobil ketika dia masih 18 Tahun dan Paman dan Bibinya pun tidak mau merawatnya karena mereka sendiri masih memiliki 4 anak yang harus diurus, Namjoon merasa kesal karena saat orang tuanya masih hidup, mereka telah dibantu oleh orang tuanya namun inikah balasan yang mereka berikan? Karena itu dia terpaksa tinggal di rumah yatim piatu, namun hidup dirumah tersebut adalah mimpi buruk, anak-anak hanya diberi makan sekali sehari dan mereka harus menurut apa yang dikatakan oleh induk semang mereka apabila tidak mereka akan dihukum, disanalah dia bertemu dengan Min Yoongi, anak lelaki yang setahun lebih tua darinya.
Mereka menjadi dekat karena mereka sering membangkang induk semang mereka dan mendapat hukuman. Yoongi, seperti Namjoon, sudah muak tinggal dirumah itu selama 2 tahun. Namjoon begidik ngeri, 2 tahun? Baru beberapa hari saja Namjoon sudah tidak tahan, bagaimana dia bisa bertahan 2 tahun? Apakah itukah alasannya Yoongi sangat kurus dan kulitnya terlampau pucat? Apa dia juga tidak boleh keluar?Mereka pun sepakat untuk melarikan diri bersama dari tempat itu di malam hari, mencari tempat baru dimanapun asal tidak di rumah tersebut.
Mereka pun melarikan diri, membawa beberapa persediaan makanan seperti beberapa roti yang ternyata melimpah di dapur rumah yatim piatu itu dan beberapa selimut. Dan disanalah mereka mulai hidup dijalan
Mereka sedang menyusuri jalan pada malam hari ketika mereka terlepas dari rumah yatim piatu tersebut, Dia melihat seorang lelaki paruh baya, tubuhnya sedikit gendut dan dia memakai kacamata tebal. rambutnya sudah hampir putih namun dia memakai pakaian yang sangat rapi dan mewah. Jas nya terlihat mahal dan dia melihat kantong belakangnya yang tebal menandakan dompetnya penuh terisi uang di sampingnya berdiri dua orang menggunakan jas hitam pekat, mereka terlihat menakutkan, apakah dia orang penting?. Yoongi menyikutnya dari samping "Hey, dia kelihatannya orang penting" Yoongi berujar, Namjoon mengangguk "Kau pikir dia memiliki banyak uang?" Yoongi bertanya lagi dan Namjoon mengangguk, dia dan Yoongi ternyata sepemikiran "Bagaimana kalau kita mengambil sedikit uangnya dia tak akan tahu kan?" Namjoon mengangguk kembali sebelum berhenti "Apa? Mengambil uangnya sedikit? Apa maksudmu Hyung?" Yoongi mendengus "Dia pasti punya banyak uang Namjoon-ah, jika kita mengambil uang di dompetnya 'it wont hurt him, right?" Yoongi menyeringai, Namjoon menggeleng cepat.
"Hyung kau gila, kita bisa terkena masalah-" "Ayolah Namjoon, pikirkan apa yang bisa kita beli dengan uang itu nanti, kita bisa makan, dan untung-untung mungkin kita bisa menyewa tempat untuk menginap!" Yoongi menepuk pundaknya. Namjoon memikirkannya sejenak "Kau dorong aku dengan keras hingga mereka terhuyung, setelah itu akan ku ambil dompetnya dan jatuhkan dengan cepat setelah mengambil uangnya, buat seperti kecelakaan, kau siap?" Yoongi menyeringai "Ayo"
Mereka pun beraksi, dengan kencang Yoongi mendorong badannya hingga ketiga orang itu focus padanya, dia melingkarkan tangannya di pria itu, mengambil dompetnya, dengan cekatan mengambil uangnya kemudian menjatuhkan dompetnya "Oh! Maaf tuan! Aku tidak sengaja!" dengan cepat tangannya dia bawa kebelakang dan memasukkan nya ke saku belakangnya "Hey! Dasar bocah! Hati-hati-" salah satu pria besar yang berdiri itu berteriak "Sudahlah tidak apa-apa lagipula dia tidak sengaja" pria tua itu berkata membetulkan pakaiannya, Yoongi datang dan wajah nya dibuat sekhawatir mungkin "Ah! Tuan maafkan aku, aku dan adikku sedang bermain-main, aku seharusnya tidak mendorongnya terlalu keras" Yoongi hanya tertunduk "Ayo! Kita pergi, maafkan kami tuan" mereka membungkuk sekali lagi dan berjalan santai agar mereka tidak curiga. Setelah dirasa jauh, Mereka lari dan tertawa "Oh aku tidak tahu bahwa itu akan berhasil" Namjoon tersenyum puas, mengambil beberapa lembar won dari sakunya "Wow, kita bisa makan enak malam ini! Tapi hanya di kedai saja, kita harus menghemat semua ini" Yoongi mengangguk "Sepertinya tidak cukup untuk menyewa tempat, tapi kita bisa tidur di tempat lain." Namjoon mengangguk. Mereka menemukan kedai kecil di pinggir jalan dan memutuskan untuk mengisi perut mereka dan menyimpan roti yang mereka ambil untuk hari esok.
"Tapi, hyung" Namjoon berujar ketika mereka meninggalkan kedai "Bagaimana jika orang tua itu mencari kita?" mereka sedang berjalan mencari tempat untuk tidur semalam. Yoongi menggendikkan bahu "Kita hadapi, dan aku rasa tidak mungkin mereka akan menemukan kita, jika mereka ingin mencari, seharusnya mereka sudah disini" tepat setelah Yoongi mengakatakan itu, sebuah mobil limousine berwarna hitam berhenti disamping mereka, mereka terhenti sejenak dan melihat mobil itu dengan seksama sebelum pintu mobil depan terbuka, dan dua orang berpakaian hitam persis seperti yang mereka lihat tadi dan Namjoon ketakutan, ternyata benar dia mencari mereka! Sialan! Mereka pun lari, namun belum sempat mereka menjauh, kedua orang tersebut telah menangkap mereka dan membawa mereka kedalam mobil itu.
Mereka meronta namun tidak digubris. Mereka memasukkan Namjoon dan Yoongi kedalam limousine mewah tersebut dan mereka terdiam ketika dihadapan mereka duduk pria tua yang mereka curi uang nya "Ah halo! Akhirnya aku menemukan kalian" Pria tua itu tersenyum "Namaku Bang Si Hyuk, kalian?" Namjoon dan Yoongi saling berpandangan "Ki-Kim Namjoon" "Min Yoongi" dia mengangguk "Kau tahu, kalian sangat hebat, aku bahkan tidak menyadari uangku telah diambil oleh berandalan seperti kalian" Si Hyuk berujar, namun tidak terbesit amarah di ucapannya "Tuan, kami tahu apa yang kami lakukan salah, kami akan mengembalikkan uang yang kami curi, kami akan bekerja untuk anda untuk membayar uang yang sudah kami pakai, tapi tolong jangan laporkan kami ke polisi atau bawa kami ke polisi" Namjoon menunduk, Yoongi menatap Namjoon dan dia mengikutinya
"Aku mohon tuan, jika kau bersikeras membawa kami ke polisi, laporkan saja saya, adikku tidak ada sangkut pautnya disini, akulah yang menyuruhnya" Mendengar itu Namjoon terhenyak "Hyung! Jangan bodoh!-" "Kalian saudara? Tetapi mengapa berbeda marga?" Pertanyaan itu membuat Namjoon terdiam sejenak "Kami bukan saudara kandung tetapi saya sudah menganggap dia sebagai adik saya sendiri" Jawaban Yoongi membuat Namjoon menatap Yoongi dengan lekat, mereka baru saja bertemu beberapa hari, tetapi Yoongi sudah rela melakukan ini untuknya? "Tuan, kami mohon-" belum sempat Namjoon menyelesaikan perkataannya, Si Hyuk mengangkat tangannya "Tenanglah, melaporkan kalian ke polisi sama saja dengan melakukan bunuh diri" lelaki itu terkekeh.
"Apakah orang tua kalian tahu kalian berkeliaran di jalan malam-malam?" Namjoon dan Yoongi menggeleng "Kami sudah tidak memiliki orang tua, tuan" Si Hyuk mengangguk "Lalu kalian tinggal dimana?" Mereka melihat satu dengan yang lain "Kami…melarikan diri dari rumah yatim piatu" Si Hyuk mengangguk "Baik, kalau begitu kita membuat kesepakatan" Si Hyuk meraih gelas champagne yang ada dimeja kecil disampingnya, Namjoon melirik dan melihat ada mini fridge di dalam limousine ini, apa semua orang kaya memang selalu ekstra? Si Hyuk meneguk champagne nya "Aku memaafkan kalian jika kalian mau bekerja untukku" Si Hyuk menyenderkan punggungnya pada kursi limousine "Kalian tidak perlu memberikan uang itu kembali padaku, ambilah, tetapi kalian harus bekerja untukku." Si Hyuk menaruh kembali gelas itu di meja kecil di sampingnya "Dan ada syarat lain, jangan berkata sepatah katapun pada siapapun tentang hal ini, karena jika kalian membocorkan ini, aku tidak akan segan-segan mengakhiri kalian" Yang membuat Namjoon begidik bukanlah kata-kata yang keluar dari mulutnya, tetapi senyuman yang diberikan saat dia mengucapkannya. Namjoon dan Yoongi mengangguk pasrah "Bagus! Oh dan kalian harus dating pukul 8 tepat setiap hari dan jangan terlambat okay?" Mereka mengangguk lagi, dan Si Hyuk tersenyum puas
Ketika mereka tiba di kediaman Si Hyuk, mereka mengerti mengapa mereka tidak boleh berkata apapun, ternyata Si Hyuk adalah seorang leader geng, mereka menjual senjata api. Kebanyakan geng dia tahu menjual obat terlarang, tetapi dia tidak mempertanyakannya. Pekerjaan mereka hanya mengemasi senjata sebelum dikirimkan ke daerah-daerah kekuasaan mereka, pekerjaan yang cukup mudah, tetapi untuk seorang remaja yang belum pernah sama sekali melihat senjata, tentu saja menjadi sesuatu yang menakutkan untuknya.
Sudah hampir enam bulan mereka bekerja ditempat itu, mereka diberi tempat tinggal, kehidupan mereka terasa lebih baik disana daripada di rumah yatim piatu. Namjoon belajar banyak mengenai senjata api dan dia mulai mencari-cari masing-masing kerusakan yang dapat dihasilkan dari masing masing type senjata. Dia tengah mengemasi beberapa selongsong peluru dan membawanya ke gudang penyimpanan ketika dia mendengar beberapa orang sedang berbicara "Penjualan kita menurun dan daerah kekuasaan kita semakin sempit" Dia mendengar seseorang dengan suara tidak familiar berujar "Aku tahu, kita sudah mencoba mengambil Busan kembali tetapi clan Choi sangat pintar, mereka sudah menerka gerak kita dan membajak pengiriman kita" itu suara Si Hyuk "Lalu apa yang harus kita lakukan boss?" Namjoon terhenti sejenak, mendengarkan mereka dari luar "Aku tahu kau diluar, nak" suara Si Hyuk membuat Namjoon sedikit melompat. Perlahan Namjoon mengintip kedalam dan melihat ada dua orang didalam, dia tidak pernah melihatnya sebelumnya sepertinya dia berumur 30-an "Namjoon, kemarilah nak" perlahan Namjoon masuk "Seijin keluarlah, kita akan bicara nanti" Pria yang dipanggil Seijin itu mengangguk "Baik, selamat siang boss" Seijin berdiri dari tempatnya bersila dan keluar melewati Namjoon, melirik dirinya sejenak "Duduklah" Namjoon menurut dan duduk di depan Si Hyuk.
"Saat awal aku melihatmu aku tahu ada sesuatu yang berbeda darimu" Si Hyuk memulai, tangannya dia sandarkan di meja "Kau bukan anak berandal sembarangan, dan kau bahkan berhasil mengecohku dengan trik murahan" Si Hyuk mendengus geli dan terkekeh perlahan "Jika saja anakku masih hidup, dia akan seumuran denganmu" Namjoon menatap pria didepannya "Apa yang terjadi pada anak anda?" Si Hyuk menatap nanar meja didepannya "Meninggal didalam kandungan bersama dengan ibunya" Si Hyuk mendesah kemudian berdecak "Mari tinggalkan masa lalu ne? bagaimana menurutmu?".
Namjoon memiringkan kepalanya kesamping "Menurut saya?" Si Hyuk mengangguk "Ya, menurutmu, kau sudah mendengar apa yang aku dan Seijin bicarakan kan?" Namjoon menelan ludah dan mengangguk "Lalu, bagaimana?" Namjoon terdiam sebelum dia mulai berbicara "Apakah anda memiliki peta, boss?" Semenjak dia bekerja, Si Hyuk memaksa nya untuk memanggil boss, tuan membuatnya terlalu tua, ujarnya "Ah! Ya, ini" Si Hyuk mengambil peta Korea Selatan yang memang dia tadi gunakan saat berdiskusi dengan Seijin Namjoon membukanya perlahan dan menatap peta itu "Menurut saya, sebaiknya anda relakan Busan, buat clan Choi terkecoh setelah anda melebarkan sayap, akan lebih mudah mengambil Busan. Lebih baik anda mulai bergerak di daerah yang lain, seperti Gwangju." Dia menunjuk ke peta daerah Gwangju "Kemudian ambil rute disini, yang saya dengar daerah sini tidak banyak dilewati orang dan tidak banyak orang tahu. Kemudian, anda mungkin bisa mengganti beberapa shotgun dengan riffle, kita tidak memiliki banyak riffle, juga pistol 0.9mm saya yakin sudah banyak yang menyuplai boss, dan pertimbangkan mengambil Ak-47, serta lebih baik sediakan peredam karena saya yakin banyak orang yang membutuhkan peredam juga" Namjoon mendongak, melihat Si Hyuk yang terdiam melihatnya. Si Hyuk tertawa membuat dahi Namjoon mengerut "Lakukanlah, aku percaya padamu."
Namjoon mendelik mendengar nya "Apa? Tapi boss, saya-" Si Hyuk mengangkat tangannya, menandakan Namjoon untuk berhenti " .padamu." Si Hyuk menekankan kata-katanya "Dan mulai sekarang, kau adalah tangan kananku." Namjoon terperangah, dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan "Ba-baik boss." Si Hyuk tersenyum puas "Bagus, pergilah selesaikan kerjamu dan beritahukan ini di pertemuan berikutnya" Namjoon mengangguk, dia berdiri dan menyelesaikan pekerjaannya.
"Apa? Kau dijadikan tangan kanannya?" Yoongi melihatnya dengan tidak percaya saat Namjoon menceritakannya apa yang baru saja terjadi, Namjoon mengangguk "Aku-aku tidak tahu harus melakukan apa hyung" Yoongi menepuk pundaknya "Kau tahu bila kita melakukan satu kesalahan, aku yakin kita akan lenyap. Lakukan apa yang dia inginkan kita tidak bisa mengambil resiko Namjoon-ah"
Entah memang dia bernasib sial atau dia pembawa sial atau dia beruntung, keesokan harinya ketika mereka menapakkan kaki, rumah utama clan Bang sudah porak poranda. Tubuh berserakan dimana-mana, bau darah dan asap menjadi satu membuat perut Namjoon dan Yoongi merasa mual "Apa-apa yang terjadi?" Namjoon melihat sekeliling mereka, rumah utama sudah hampir hancur, mata Yoongi terbelalak, tubuhnya bergetar "Aku-aku tidak tahu, cari yang lain! Cari mereka yang masih hidup!" Namjoon berteriak, dan Yoongi mengangguk. Namjoon menyusuri seluruh rumah namun dia tidak menemukan satu orangpun yang masih hidup. Dia hampir putus asa dan berlari kegudang "Na-Namjoon" Dia mendengar suara lirih memanggil namanya. Matanya menyapu sekelilingnya mencoba mencari asal suara tersebut, matanya tertuju pada tubuh yang tergeletak di lantai kayu rumah tersebut "Boss!" Namjoon berlari kearahnya dan berlutut.
"Apa-apa yang terjadi?!" Dia bertanya, Namjoon dapat melihat darah mengucur deras dari dalam pakaiannya yang sekarang sudah basah dan penuh dengan darah, dia mendapat 4 luka tembakan, oh apa dia akan hidup? "Clan Choi keparat ternyata telah berhasil menyusup" Nafas Si Hyuk terengah-engah "Mereka menyerang pada keadaan sedang gelap dan tidak banyak orang disini" Si Hyuk terbatuk, mengeluarkan darah dari mulutnya "Hanya beberapa anggota berhasil selamat, termasuk kau, nak" tangan Si Hyuk meraih kerah baju Namjoon, membuat kaos putihnya terkena darah, namun dia tidak peduli "Aku ingin-kau yang melanjutkan legasiku. Aku percaya padamu, kuserah-egh- kuserahkan semua ini untukmu, nak." Mata Si Hyuk perlahan menutup, dan tangan yang berada di kerah Namjoon terjatuh disamping tubuh Si Hyuk. Namjoon terdiam, tubuhnya masih berlutut disamping tubuh Si Hyuk yang sudah tidak bernyawa.
Namjoon merasakan ada seseorang dibelakangnya, dia memutar dan melihat Yoongi berdiri dibelakangnya "Ada beberapa yang selamat Namjoon" Yoongi menarik Namjoon berdiri perlahan "Mereka sekarang berada di gudang, satu-satunya area yang utuh." Yoongi diam sejenak "Dan mereka menunggu perintah darimu karena boss memberikan kuasanya ketanganmu" mendengar itu Namjoon mendongak menatap Yoongi "Antar aku kesana" Ujarnya dengan nada sedikit keras, dan sekarang leader dari Clan Bang adalah Kim Namjoon, seorang remaja berumur 17 tahun, terdengar konyol, memang. Semua clan diberbagai daerah mentertawakannya, namun ketika mereka bertemu dengannya, tidak ada yang berani untuk menolak tawarannya.
"Kau melamun lagi, babe" Seokjin mengalungkan tangannya di leher Namjoon dari belakang, Namjoon terhenyak, dia saat ini tengah duduk di kursi menunggu kekasihnya untuk bersiap untuk acara pembukaan club barunya di gangnam "Tidak, sayang. Hanya berfikir" Namjoon mengelak "Kau sudah siap?" Namjoon bertanya, Seokjin melepaskan tangannya dari leher Namjoon kemudian dia berjalan kehadapannya "Tada! Bagaimana?" Seokjin berputar, memperlihatkan pakaiannya, dia mengenakkan baju button down warna putih dengan kerah merah dihiasi manik-manik dan celana kain hitam ketat yang memeluk kaki jenjangnya "Apapun yang kau kenakan terlihat luar biasa, Jin, namun aku lebih senang melihat mu tidak mengenakkan apapun" Seokjin berhenti sejenak, rona merah sudah bertengger di pipinya "Kita sudah melakukannya tadi Namjoon, apa kau belum puas?" Namjoon tertawa, dia berdiri, berjalan kearah Seokjin dan melingkarkan lengannya di pinggang Seokjin "Aku tidak akan pernah puas apabila bersamamu, Seokjin ku, sayang"
Seokjin memutar bola matanya namun pipinya masih merona merah "Ayolah kita berangkat, ini pembukaan club mu dan kau tidak boleh terlambat" Namjoon tertawa, melepaskan pelukannya dan mengecup bibir tebal Seokjin sekilas "Ayo berangkat"
Saat mereka tiba diclub, lautan manusia sudah memenuhi luar club tersebut. Apabila melihatnya dari luar club tersebut seperti museum, salahkan Namjoon dan kecintaannya akan seni, bahkan di apartemen mereka terdapat beberapa lukisan mahal yang dia beli dari lelang.
"Selamat malam boss" salah satu anak buat Namjoon yang ditugaskan menjadi bouncer menyapanya, membukakan pintu untuknya sementara masih banyak orang mengantri dibelakangnya "Yejin" Namjoon mengangguk menaruh tangannya dipinggang Seokjin dan memimpin mereka masuk. Didalam banyak orang yang sudah duduk, maupun berdansa mengikuti alunan music yang dimainkan diclub tersebut "Welcome, to the House Of Cards" Namjoon merentangkan tangannya. Dalam daripada club tersebut pun bisa dibilang antic, hanya ada beberapa penerangan saja dan membuat suasana club malam mewah itu lebih mysterius dan terdapat sofa dan kursi yang dominan merah, membuat Seokjin bertanya-tanya apakah ini club untuk vampire? Karena dalamnya persis seperti tempat vampire yang sering dia lihat di film, namun tidak mengurangi keindahan club ini "Wow, impressive" Namjoon mendengus "Tentu, aku ambil andil langsung sayang dalam pembangunan club ini" mereka melewati tubuh-tubuh yang tengah berdansa satu dengan yang lain, Namjoon mendekap Seokjin dekat, dia melihat beberapa orang sedang menatap mereka lekat, mungkin karena warna rambut Seokjin yang mencolok.
Mereka naik ke lantai atas, yang hanya terdapat satu ruang besar, ruang VVIP, dengan dekorasi yang sekali lagi, antik, disana terdapat banyak patung, serta lukisan, sehingga ruangan yang besar itu terlihat penuh. Ketika mereka tiba, mereka sudah disuguhi dengan pemandangan seorang lelaki berambut pirang dan seorang lelaki berambut coklat tengah asik melumat bibir masing-masing disofa yang berada ditengah ruang besar tersebut, meja pendek yang berada didepan sofa sudah terdapat dua gelas alcohol, mereka terdiam, menunggu mereka untuk menyadari akan adanya orang disitu tetapi ternyata tidak, mereka sama sekali tidak terhenti bahkan lelaki yang berambut pirang tersebut menyelusupkan tangannya kedalam kemeja lelaki berambut coklat itu "Ehem" Seokjin mendehem, membuat kedua orang yang tadi tengah bercumbu tersebut melepaskan bibir mereka.
"Hyung! Boss!" Ujar lelaki berambut pirang tersebut dan tersenyum kearahnya dengan senyum khasnya "Maaf, kami sedikit terbawa..uh suasana hehe" Lelaki berambut coklat disampingnya hanya terdiam, warna merah perlahan menjalar hingga lehernya "Taehyung, ingatlah, Jungkook baru saja berumur 20 dan dia masih anak baru jangan kau nodai, dasar anak muda jaman sekarang" Namjoon berdecak kesal, Seokjin menatap kekasihnya tersebut dahinya berkerut "Kau bicara seolah-olah umurmu sudah menginjak 40, Joon-ah." Seokjin terkekeh, menghempaskan dirinya di sofa yang kosong. Namjoon mengikutinya dan duduk disampingya, Namjoon menarik Seokjin kepangkuannya "Jika memang aku sudah berumur 40, apakah kau akan masih mencintaiku?" Seokjin mengetuk dagunya, wajahnya berpura-pura memikirkan jawabannya "Hhhmmm, tergantung. Jika kau membelikanku barang-barang mahal, mungkin aku aku bisa mempertimbangkannya" Namjoon mendengus "Apakah aku hanya kau anggap sebagai sugar daddy mu saja?" Seokjin tertawa "Mhhm, dan kau adalah sugar daddy tertampan," Seokjin mencium pipi Namjoon "Ewwww kalian sungguh menjijikan" semua kepala tertuju kearah pintu dan mendapati Lelaki berambut orange menatap mereka dengan wajah jijik "Bilang saja jika iri, Hoseok" Namjoon menyeringai, dan Hoseok menggeleng "Oh ya mana Yoongi hyung?" Hoseok duduk disamping Taehyung "Dia bilang dia terlambat, sedang mengurus gudang" Taehyung menjawab dan mendekap Jungkook erat.
"Sayang, ambilkan minum untukku?" Namjoon menatap Seokjin, tangannya meremas pinggang Seokjin dengan lembut, tatapannya memberikan tanda untuk meninggalkan mereka sendiri sebentar, karena Namjoon tidak suka melibatkan Seokjin dalam masalah-masalah yang menyangkut pekerjaan illegal nya, Seokjin hanya mengangguk, dia sudah hafal betul sifat kekasihnya itu "Kau ingin minum apa?" Seokjin bertanya melepaskan diri dari pelukan Namjoon, dan Namjoon menyeringai "Red Headed Slut" Hoseok dan Jungkook tertawa sementara Taehyung mendengus "More like Pink Headed-" "Selesaikan itu dan kau akan ku lempar dari lantai dua ini Kim Taehyung" Seokjin berjalan keluar dan memukul belakang kepala Taehyung membuat lelaki itu meringis kesakitan "Jujur, aku lebih takut padanya daripada kau, boss" Namjoon hanya tersenyum.
Seokjin turun kearah bar, namun dia tidak menemukan bartender, dia menunggu dan kemudian seorang lelaki kecil, mengenakan seragam bartender, keluar dari belakang, membawa beberapa botol dari belakang dan tidak menatap kostumernya "Ah hallo!, maaf dan selamat datang di House Of Cards, ada-" "Jimin?" bartender itu mendongak, mendengar suara yang familiar, matanya terbelalak "Jin hyung?".
Hallo! Kyukubi disini, maaf sebelumnya kalo updatenya bakalan random juga makasih untuk semua yang udah setia ngikutin cerita ini dan ngereview cerita ini *nangis haru* and yes, apa yang dipakek Seokjin itu baju yang dia pakek di Blood, Sweat and Tears, dan untuk tempat klubnya, bisa dibayangin sendiri kayak gimana, hehe and please, don't be a silent reader! Kritik dan saran sangat-sangat diterima lho!
.
.
.
.
an.2794: Hallo! Thank you, glad you like it ^^
dewiaisyah: Aaaaahh hallo! Makasih udah sering review bikin tambah semangat!
cluekey6800: Karena memang hyosang cucok dijadiin pihak ketiga (?) , saya aja juga jadi sewot nulisnya :'
kim joungwook: Awwwww makasih udah sempetin buat baca! Mereka kan suami istri kudu mesra donk hahahaha
KatYasha: Saya aja yang nulis baper :')
The Beauty Sider:Enggak kok! Enggak ganggu sama sekali, terimakasih untuk saran dan kritik nya! Memang aku sengaja buat cepet karena rencana ga akan bikin banyak chapter, jadi aku selipin flashback, karena takut nanti malah terbengkalai sekali lagi thank you so much! Dan lain kali bakal lebih teliti, semoga chap ini bisa memperbaiki hahahaha
gneiss02 : Halo thank you so much for the review! Dan memang banyak yang ngira kayak gitu tapi eh ternyata hahahaha, semoga nggak ngecewain
