MASASHI KISHIMOTO
"Tidurlah, aku tahu kau lelah Hime" bisik Sasuke. Setelah mengecup kening Hinata dan meraih selimut untuk menyelimuti tubuh mereka berdua, Sasuke juga langsung menyusul Hinata tidur dan masuk ke alam mimpi. Kedua tangannya memeluk erat Hinata, dan senyuman terbentuk jelas dari bibir Uchiha tampan itu. Dia, benar-benar merasa bahagia.
.
.
That's Devil But I Love Him
.
.
Sasuke membuka matanya, mengucek perlahan dan mengerjap-ngerjapkannya. Ditolehkan kepalanya ke arah Hinata yang masih tertidur dengan pulas, bibir Uchiha bungsu itu melengkung membentuk senyuman. Dia semakin mendekap tubuh polos Hinata dengan erat, kulit putih mereka yang saling bersentuhan menimbulkan sensasi menyenangkan tersendiri bagi diri Sasuke. Sasuke sudah menuduri banyak wanita, tapi baru pertama kalinya Sasuke merasakan hal yang berbeda saat bersetubuh dengan Hinata.
"Kau milikku" bisik Sasuke pelan. Dibelainya helaian rambut biru tua Hinata yang selembut sutra. Sasuke terkekeh pelan, dia baru menyadari kalau rambut Hinata serupa dengan rambut ibu nya.
"Nnnggg" Hinata mulai terbangun dari mimpi indahnya, pandangannya yang samar mulai terlihat jelas. Mata amethyst nya beradu pandangnya dengan mata onyx Sasuke, dan seketika wajah Hinata mulai matang.
"S-Sasuke-kun" tangannya kembali dengan reflek menepuk pipi Sasuke dengan cukup kencang.
"Kenapa memukulku lagi?" Sasuke merapatkan tubuhnya ke tubuh Hinata.
"A-aku kaget melihat t-tatapanmu" wajah Hinata semakin memerah. Tak lama kemudian kening Hinata mengerut, dia merasakan ada sesuatu yang aneh dengan tubuhnya. Dengan menghiraukan senyuman gaje dari Sasuke, Hinata mengintip kedalam selimut dan dia langsung berteriak.
"Kyaaaaaaaaaa!"
"kenapa berteriak hah?" Sasuke menutup kedua telinganya, teriakan Hinata benar-benar membuat telinga terasa sakit.
"D-dimana pakaianku? K-kau kemanakan p-pakaianku S-Sasuke-kun?"
"Disana" Sasuke melirik sepintas ke arah sofa, disana tergeletak seragam sekolah miliknya dan milik Hinata.
"K-kau memperkosaku" Hinata merapatkan selimut tebal untuk menutupi tubuhnya yang telanjang.
"Kau menikmatinya, jadi aku tidak memperkosamu" Sasuke mengedipkan sebelah matanya ke arah Hinata disertai senyuman menggoda ala Sasuke. Hinata pun kembali menepuk pipi Sasuke dan memasang wajah cemberut.
"Kalau kau memukulku lagi maka aku akan mencium mu Hinata" kali ini pukulan Hinata terasa lumayan sakit, Sasuke mengusap-ngusap pipi putihnya yang mulai memerah. Hinata menghiraukan perkataan Sasuke, dia langsung membalikkan tubuhnya dengan posisi miring. Sasuke yang merasa dibelakangi oleh Hinata pun tidak tinggal diam, tangan kekarnya menarik pinggang Hinata dan kembali memeluk nya dengan erat, satu kaki Sasuke juga ikut menindih paha kecil Hinata.
"Mulai sekarang kau adalah kekasihku, milikku, dan tidak akan pernah jauh-jauh dariku" bisik Sasuke ditelinga Hinata.
"K-kau benar-benar menyukaiku?" Hinata merasa begitu nyaman berada dipelukan Sasuke.
"Hn" Sasuke semakin mengeratkan pelukannya.
"Sudah hampir malam, ayo pakai bajumu, aku antar pulang" lanjut Sasuke.
.
.
That's Devil But I Love Him
.
.
"Darimana saja kau Hinata?" Neji sudah berdiri didepan pintu. Hinata melangkahkah kakinya dengan gemetar, Sasuke juga masih berdiri disampingnya.
"Siapa kau?" manik amethyst Neji menatap tajam ke arah Sasuke, sedangkan Sasuke hanya menatap Neji dengan tatapan datar.
"Maaf jika mengantarkan Hinata terlalu petang, kami tadi belajar bersama" jelas Sasuke. Neji masih memandang Sasuke dengan pandangan curiga.
"N-Niisan sudahlah j-jangan seperti itu" Hinata merasa tidak nyaman melihat kelakuan dua pria dihadapannya ini.
"Pulang sana!" usir Neji, dia langsung berlenggang masuk kedalam rumah.
"Itu kakakmu? Ck, benar-benar menyeramkan layaknya Sadako" ejek Sasuke.
"Sasuke-kun, kau tidak boleh mengejeknya" Hinata menyentuh ujung rambut hitam Sasuke.
"Aku sudah menuliskan nomor telepon ku diponselmu, jangan lupa menghubungiku nanti. Aku pamit pulang dulu ya" dikecupnya dengan lembut kening Hinata. Sasuke melangkah keluar dari rumah bergaya tradisional Jepang tersebut, sepintas menoleh ke belakang dan mendapati Hinata yang masih tersenyum ke arahnya. Dengan wajah yang dihiasi dengan senyuman, Sasuke menyalakan mesin mobilnya. Menginjak pedal gas dan melesat pergi dari rumah Hinata. Sasuke tidak menyangka jika dia akan menjalin hubungan dengan seorang gadis lugu, padalah dia sendiri adalah seseorang yang berengsek. Dan Hinata sendiri tidak pernah berpikir jika dia akan menjadi seorang kekasih dari driver handal dan kaya raya seperti Sasuke.
.
.
That's Devil But I Love Him
.
.
"Kau pergi darimana Teme? Pain baru saja pergi" teriak Naruto dari bawah kolong mobil Porsche 918 Spyder.
"Untuk apa dia kemari?" tanya Sasuke seraya melemparkan jaket biru yang dia kenakan dan melemparnya ke sembarang tempat.
"Lusa, jam 10malam, sebesar U$95.000" Shikamaru menjelaskan kedatangan Pain. Pria pecinta tindik itu datang ke garasi Devil Drift untuk menantang Sasuke di trek balap. Sasuke menganguk mengerti, dia pun akan menyanggupi tantangan dari Pain.
"Gadis yang tadi itu siapa? Apa dia kekasihmu?" Kiba bertanya dengan nada menggoda, matanya pun ikut berkedip-kedip.
"Wooo~ Aku tidak menyangka kau akan punya pacar Teme" Naruto ikut-ikutan menggoda Sasuke.
"Diamlah atau akan ku hajar kalian" Sasuke masih berusaha fokus menatap layar laptop nya.
"Sepertinya aku melihat banyak tanda merah dileher gadis itu" Sai yang baru datang entah darimana ikut bergabung untuk menggoda sepupunya. Sasuke menghela napas panjang, dia berusaha untuk tetap tidak peduli pada teman-teman nya yang terus menggodanya.
.
.
That's Devil But I Love Him
.
.
"Apa?!" Sakura dan Ino berteriak secara bersamaan. Mereka sangat terkejut mendengar pengakuan Hinata.
"K-kalian terlalu berisik" Hinata berusaha menyembunyikan rona merah dipipinya setelah menceritakan bahwa dia dan Sasuke sudah menjadi sepasang kekasih baru.
""kau hebat Hinata! Padahal kalian baru saja kenal" puji Ino.
"Tidak sia-sia kami mengajakmu ke trek balap kemarin" lanjutnya.
"Padahal aku menyukai Sasuke-kun" Sakura tertunduk lemas. Gadis Haruno itu sedikit kecewa, hatinya sedikit mengalami keretakkan.
"M-maafkan aku S-Sakura-chan" Hinata mengenggam tangan Sakura.
"Ah tidak apa-apa Hinata-chan. Lagipula aku hanya sekedar mengagumi ketampanan Sasuke saja, tidak lebih~ Masih banyak pria lain yang menjadi kesukaan ku. Hahahaha" Sakura tertawa lepas, Hinata pun ikut senang melihat Sakura tertawa.
"Sekali lagi selamat ya atas hubungan kalian"
.
.
That's Devil But I Love Him
.
.
Sasuke terus memasang wajah badmood nya karena sang kekasih tak kunjung datang. Sesekali mata onyx nya memandang layar ponsel untuk mengejek jam, sudah 20menit juga tidak datang ketempatnya.
"Arghhhh! seharusnya aku menjemputnya tadi" Sasuke mengacak-acak rambutnya. Hinata melarang keras agar Sasuke tidak menjemputnya, ya seharusnya Uchiha tampan itu tidak mendengarkan perkataan kekasihnya. Tiba-tiba alat pendengaran Sasuke menangkap suatu pembicaraan dari bawah, dengan segera dia langsung berdiri dibalkon dan melihat apa yang sedang terjadi.
"Wah kau ini manis sekali ya" Kiba menggandeng tangan Hinata untuk masuk kedalam.
"Kau lebih cocok jadi pacarku Hinata" Naruto mengeluarkan cengiran lebar khas nya, dia berjalan mundur dengan menghadap Hinata.
"Berhati-hatilah dengan Sasuke, dia adalah penjahat kelamin, tidak cocok dengan gadis baik sepertimu" tangan Sai merangkul pundak Hinata.
"Berengsekkkkk! Jangan sentuh Hinata-ku! Menjauhlahhh~! Sasuke berteriak kencang dan segera turun ke lantai bawah. Matanya serasa panas melihat kekasih nya dikerubuti teman-teman nya yang bodoh dan idiot.
'Berani-berani nya mereka merayu Hinata' Sasuke menaham geram marahnya.
"Sini" Sasuke menarik tangan Hinata agar menjauh dari teman-temannya.
"Kau terlalu berlebihan Sasuke" Kiba menepuk pelan pundak Sasuke, dan Sasuke membalasnya dengan menepuk kencang pundak Kiba. Sontak, Kiba langsung meringis bombay.
"Aku sudah memperingatkanmu Hinata, berhati-hatilah" Sai berbisik ditelinga Hinata.
"Terkutuklah kau Sai!" Sasuke berteriak dan hanya dianggap angin lalu oleh Sai, pemuda bertangan seni itu langsung berlenggang pergi.
"Kau berisik Teme!" Naruto menutup kedua telinga.
"S-Sasuke-kun" Hinata terkekeh pelan melihat tingkah Sasuke.
"Kenapa lama sekali datangnya? aku pikir kau tidak akan datang" Sasuke menggandeng tangan Hinata untuk duduk di kursi mini bar yang terletak disudut garasi.
"A-aku harus p-piket dulu, aku juga k-kurang hapal j-jalan kemari" Hinata memainkan dua jari telunjuk didepan dadanya. Sasuke tersenyum, dia merasa gemas melihat kepolosan Hinata.
"Nanti malam aku ada pertandingan, aku ingin kau menonton nya Hime" Sasuke mengusap pipi chubby Hinata.
"A-aku tidak a-akan bisa S-Sasuke-kun" Hinata mulai nampak bersedih.
"Kenapa? Apa kau tidak suka?"
"Niisan tidak akan memperbolehkanku" Hinata pun membalas usapan di pipi Sasuke.
"Aku akan membujuknya" Sasuke berpikir, dia harus bisa meluluhkan hati calon kakak ipar nya.
"A-aku tidak yakin Sasuke-kun" Hinata sangat tahu bagaimana sikap kakak nya. Neji tidak akan memperbolehkan dia pergi malam hari, kalaupun boleh itu hanya sekitar jam 7 sampai jam 10 malam.
"Tidak ada salahnya jika kita mencoba" Sasuke tersenyum dan mengedipkan sebelah mata kanan nya.
'Blush'
Entah kenapa wajah Hinata selalu merona setiap melihat Sasuke mengedipkan sebelah matanya, jantungnya juga jadi berdegup tidak karuan.
"Kenapa pipi tembem mu memerah?" Sasuke bertanya dengan nada menggoda.
"A-aku t-tidak-... Eh k-kau bilang pipiku tembem S-Sasuke-kun?" Hinata menepuk-nepuk pipinya.
"Iya, pipimu sangat tembem dan berwarna merah. But i like it" dengan satu tarikan, Sasuke langsung meraih pinggang Hinata.
'Cup'
Bibir mereka bertabrakan satu sama lain. Sasuke pun juga langsung melumat bibir ranum Hinata, menghisap dan mengemut nya dengan lembut. Hinata sendiri tidak berontak, dia hanya terus diam dan membiarkan Sasuke yang melakukannya- karena Hinata masih belum paham caranya berciuman. Lidah Sasuke mulai menjilati bibir Hinata, dan dengan gerakan pelan memasuki rongga mulut sang kekasihnya. Rona merah semakin terlihat jelas dipipi Hinata ketika merasakan lidah Sasuke yang menari-nari didalam mulutnya. Saliva dari masing-masing mulut mulai mengalir keluar. Sasuke menarik lidahnya keluar, menyudahi ciumannya untuk memandang sejenak wajah Hinata.
"Duduk dipangkuanku" Sasuke menuntun Hinata agar duduk diatas paha nya, Hinata pun hanya menurut. Tangan Sasuke juga menari tubuh Hinata agar lebih merapat padanya, sontak dada Hinata yang menonjol pun tertekan oleh dada bidang Sasuke.
"S-Sasuke-kun" Hinata sedikit merasa risih saat wajah Sasuke bersembunyi dileher putihnya, Hinata takut teman-teman Sasuke ada yang melihat mereka.
"A-aku takut ada yang m-melihat kita"
"Biarkan saja, aku tidak peduli" sesekali Sasuke menyesap dalam-dalam aroma tubuh Hinata yang membuatnya ketagihan, hidung mancung nya dia gesek-gesekkan pada kulit leher Hinata.
"S-Sasuke-kun" Hinata bergidik geli karena ulah Sasuke.
"Aku mengantuk Hime, dan aku mau tidur" mata Sasuke mulai terpejam, Sasuke benar-benar suka berada diposisi seperti ini. Hinata hanya diam, mata amethyst nya terus memperhatikan setip inci kulit wajah Sasuke.
'Dia benar-benar imut jika sedang tertidur' pikir Hinata, tangannya mengulur untuk mengusap pipi Sasuke, sesekali juga mencubit hidung mancung milik Sasuke.
"Aku tak pernah berpikir sedikitpun kalau Kami-Sama akan mengirimkan seorang pria seperti mu kedalam kehidupanku, Sasuke-kun" gumam Hinata.
.
.
That's Devil But I Love Him
.
.
"Harus berani! Harus berani! Harus berani! Aku harus berani menghadapi hantu Sadako itu!" Sasuke terus menyemangati dirinya sendiri untuk menghadapi Neji- calon kakak ipar nya. Mobil Lamborghini Huracan telah terparkir dengan rapi didepan rumah bergaya kental tradisional Jepang, pintu terbuka otomatis, emuda berjaket hitam dan bercelana pendek putih keluar dari mobil dengan gaya keren nya. Melangkah dengan pasti kedepan pintu berwarna coklat. Ditariknya napas dalam-dalam, lalu ditekan nya bel yang tertera disamping pintu.
'Tetttt'
Tak lama kemudian, keluarlah sesosok pria yang menyerupai Hinata.
"Mau apa kau kemari?" tanya Neji ketus.
"Bertemu Hinata" sahut Sasuke dingin. Kedua mata kontras mereka saling menatap dengan tatapan tidak suka.
"Hinata tidak ad-..."
"S-Sasuke-kun, kau sudah datang" tiba-tiba Hinata muncul dibelakang Neji.
Skakmat! Neji hanya menghela napas lalu berlenggang masuk meninggalkan Sasuke dan Hinata.
"Ci, dasar tidak punya sopan santun sekali kakak mu. Bukannya menyuruh calon adik ipar nya untuk masuk, tapi dia malah mengatakan kalau kau sedang tidak ada" Sasuke menekuk wajahnya, dia benar-benar sebal berhadapan dengan Neji.
"M-maafkan Niisan, dia memang seperti itu. Masuklah Sasuke-kun" Hinata mempersilahkan Sasuke masuk kedalam rumahnya. Mata Sasuke terus memperhatikan tata letak perabot rumah Hinata, semuanya begitu indah dipandang.
"K-kau mau minum apa S-Sasuke-kun?" tanya Hinata setelah Sasuke duduk manis disofa yang berada diruang tamu.
"Tidak perlu repot-repot, aku kemari kan untuk mengajakmu keluar Hime" Sasuke memandang ke arah Hinata, Sasuke dapat melihat kegelisahan dimata gadisnya itu.
"A-aku akan m-memanggil niisan dulu" Hinata berlalu meninggalkan Sasuke. Sasuke terus memperhatikan keadaan sekitar, dia melihat bingkai foto yang terpajang dimeja kecil disampingnya. Diraih nya bingkai foto tersebut, tak lama kemudian senyuman tersungging dibibir Sasuke. Itu adalah foto Hinata bersama Neji dan Hanabi yang sedang berpose lucu didepan pohon momiji, Hinata yang kala itu sedang menggunakan gaun selutut berwarna coklat terlihat begitu sangat cantik.
"Ada apa kau ingin menemuiku?" suara Neji langsung membuyarkan lamunan Sasuke, dia kembali meletakkan bingkai foto tersebut.
"Aku ingin meminta ijin padamu untuk mengajak Hinata keluar" kali ini nada Sasuke terdengar sedikit hangat, tentu saja Sasuke harus melembut agar mendapat ijin dari Neji.
"Mau kemana?" Neji tetap saja berbicara dengan ketus. Sedangkan Hinata sendiri merasa sangat takut, jantungnya berdegup kencang, dia takut jika Neji tidak mengijinkannya.
"Aku ingin mengajak nya makan malam" Sasuke berbohong. Tentu saja Sasuke tidak akan mengatakan bahwa dirinya meminta restu untuk mengajak Hinata menonton pertandingan balap liar nya.
"Baiklah, akan ku ijinkan sampai jam 10 malam" Neji melipat kedua tangan didepan dadanya.
"Acara makan malam nya baru dimulai jam 10" ucap Sasuke, jantungnya benar-benar bergejolak.
"Apa?! Tentu saja tidak akan ku ijinkan" mata amethyst Neji seketika langsung melotot.
"Aku mohon padamu Neji-nii" kata Sasuke.
"K-kau memanggilku apa?" Neji langsung melongo mendengar ucapan Sasuke.
"Kau adalah calon kakak ipar ku. Ijinkanlah aku mengajak Hinata keluar, aku akan menjaganya, aku berjanji" tatapan Sasuke benar-benar memperlihatkan keseriusan.
"Tidak!" Neji membuang muka ke arah lain.
"Aku akan menjaga Hinata, aku menyayanginya. Tidakkah kau terlalu mengekangmu adikmu? dia kan sudah dewasa" Sasuke masih belum mau menyerah. Neji melirik ke arah Hinata yang terus menunduk, Neji mulai memikirkan perkataan Sasuke.
"Hahhhh~ berjanjilah kau akan menjaganya, dan aku tidak ingin jika Hinata pulang sampai jam 12 malam. Jika itu terjadi, kau akan merasakan akibatnya" Neji menepuk pundak Sasuke, kemudian berjalan menghampiri Hinata.
"Kalau dia macam-macam, katakan padaku, dan aku akan membunuhnya" bisik Neji ditelinga Hinata, Hinata yang mendengarnya hanya tersenyum- dia merasa senang karena telah di ijinkan. Neji segera pergi kembali masuk ke kamarnya.
"A-aku aakn g-ganti pakaian dulu S-Sasuke-kun" Hinata tersenyum senang, dan direspon anggukan oleh Sasuke.
"Akhirnya di ijinkan juga, dia benar-benar mengerikan seperti Sadako" Sasuke menyandarkan tubuhnya ke dinding, kepalanya langsung penat setelah berhadapan dengan Neji.
.
.
.
.
TBC
RnR
Maaf harus TBC, belum dapat inspirasi soalnya^^
Sumimasen
