Disclaimer: Kuroko no Basuke is belong to Tadatoshi Fujimaki

Main Cast: Akashi Seijuro and Kuroko Tetsuya

Warning: Au, ooc, konsep yang (mungkin) sudah umum

Akira Scarlet present: Seiyuu of The Year

Chapter 4: Festival and Trouble

"Sudah kuduga kau pasti bisa melakukannya. Jadi kau sudah tahu siapa saja orangnya?"

"Mari kita lihat," Reo membaca dengan cermat kertas yang berada di tangannya. "Sebenarnya tidak ada yang dendam padamu sih Sei-chan. Ada dua orang yang kutaruh perhatian paling besar. Dan sepertinya kedua orang itu hanya rivalmu saja."

"Begitu. Jadi siapa kedua orang itu?"

"Pertama, Kagami Taiga. Ia merupakan seorang seiyuu sama sepertimu. Sebelum kau terjun ke dunia seiyuu, ia menempati posisi teratas dalam seiyuu favorit."

"Taiga…ya," Akashi tampak berpikir.

"Kedua, Hanamiya Makoto. Sejujurnya aku lebih percaya kalau dia yang melakukannya. Kabarnya keluarganya dan keluargamu berselisih. Aku tidak tahu alasannya, tapi yang kutahu perselisihan itu bukan sekedar perselisihan biasa."

"Perselisihan? Mengapa aku tidak tahu soal itu.."

"Ah ya Sei-chan, minggu depan aku akan berkunjung ke kotamu! Aku bahkan akan menginap di rumahmu. Kau tidak keberatan kan?"

"Asal kau tidak membuat keributan disini. Baiklah teleponnya kututup."

Setelah memutuskan sambungan telepon, Akashi menghela napas. "Hanamiya Makoto? Lebih baik kucari tahu siapa dia sebenarnya."

.

.

Pagi hari itu sangat cerah. Matahari bersinar terik. Dan hari itu adalah hari festival sekolah diadakan.

"Tetsuya, bagaimana dengan keadaan festival saat ini?" tanya Akashi. Kuroko segera berjalan menuju kaca jendela, melihat keadaan festival di bawah sana.

"Cukup ramai Akashi-kun. Juga tidak ada kerusuhan apapun."

"Baiklah," Akashi mengangkat tumpukan kardus yang berisi peralatan untuk mendekorasi. "Kita masih harus membereskan aula. Sudah beberapa hari tapi masih saja belum selesai. Apa akan ada yang membantu?"

"Beberapa murid sudah kuminta untuk datang," Kuroko menatap kardus yang dibawa oleh Akashi. "Apa perlu kubantu Akashi-kun?"

"Tidak perlu Tetsuya. Apa menurutmu aku tidak kuat membawanya?"

"Bukan begitu Akashi-kun. Aku hanya ingin membantu," jawab Kuroko. Ia melirik ke arah satu-satunya kardus yang tersisa di ruangan itu. "Yah aku membawa yang itu saja."

"Kau benar-benar ingin sekali mengangkat kardus ya," ujar Akashi saat melihat Kuroko berusaha mengangkat kardus tersebut. "Padahal kardus itu yang paling berat, sampai aku sendiri tadinya ingin meminta bantuan yang lain untuk membawanya. Tapi kalau kau memaksa ingin membawa ya.."

Akashi menghela napas, lalu tersenyum kecil. Ia memperhatikan Kuroko yang masih berusaha mengangkat kardus tersebut.

"Tetsuya, tukar kardus denganku," ujar Akashi akhirnya.

"Eh?"

"Tukar kardusnya," ulang Akashi. "Lebih baik kau membawa yang ini."

"Tapi kardus ini berat sekali."

"Tenang saja."

"Baiklah," Kuroko bertukar kardus dengan Akashi. Tentu kardus milik Akashi jauh lebih ringan.

"Akashi-kun, kita ke aula sekarang?" tanya Kuroko.

"Kau duluan saja Tetsuya. Aku akan menyusul."

"Tapi-"

"Kubilang pergi duluan, sekarang," terdapat penekanan dalam suara Akashi. Dan Kuroko tidak berani untuk membantah. Ia segera pergi menuju aula.

"Nah sekarang," Akashi menatap kardus tersebut, lalu mengambil handphone miliknya. Ia menghubungi Murasakibara.

"Ada apa kau menelponku di saat seperti ini Aka-chin?" suara malas Murasakibara terdengar.

"Atsushi, aku minta kau ke gudang sekarang juga. Bantu aku membawakan kardus ke aula."

"Mengapa harus aku Aka-chin?"

"Datang saja dan lakukan atau snack-mu kusita selama sebulan."

Terdengar gerutuan dan gumaman tidak setuju dari pihak seberang. Namun akhirnya Murasakibara berkata, "Baiklah Aka-chin. Tapi kau harus berjanji akan membelikanku makanan yang ada di booth dua belas. Kelihatannya lezat sekali."

"Ya ya baiklah. Sekarang cepat kesini."

Untunglah Murasakibara adalah orang yang menepati janji – atau mungkin karena ancaman yang diberikan Akashi terlalu menakutkan baginya. Tidak lama kemudian Murasakibara sampai ke gudang dimana Akashi berada.

"Bagus Atsushi. Snack-mu tidak akan kusita. Sekarang bawakan kardus ini."

Murasakibara dengan mudah mengangkat kardus tersebut. Terima kasih pada ukuran tubuhnya. Mereka berdua berjalan menuju aula.

"Atsushi, kau sudah memiliki pasangan untuk pesta dansa nanti malam?" tanya Akashi. Tidak ada maksud tertentu.

"Aku belum memiliki pasangan Aka-chin. Lagipula aku akan tidak akan mengikuti pesta nanti malam. Lebih baik aku pergi ke café langgananku."

"Café langganan?" tanya Akashi. Mereka berjalan menaiki tangga.

"Kau tahu Aka-chin. Pemiliknya bernama Himuro Tatsuya. Dan dia baik sekali padaku."

Kau mau kesana hanya karena dia baik? Pikir Akashi.

"Kalau Aka-chin aku yakin sudah memiliki pasangan."

Akashi menghentikan langkahnya. "Apa maksudmu Atsushi?"

"Aka-chin sama terkenalnya dengan Kise-chin. Pasti banyak yang mengajak Aka-chin," jawab Murasakibara santai.

Akashi jadi teringat para perempuan yang mengajaknya ke pesta dansa kemarin ini. Semuanya mengganggu, pikir Akashi. Ia kembali berjalan, mensejajarkan langkahnya dengan langkah Murasakibara. "Jadi Ryouta sudah memiliki pasangan?"

"Aku tidak tahu. Yang jelas Mine-chin selalu menarik Kise-chin menjauh dari kerumunan para gadis."

Memangnya Daiki siapanya Ryouta? Akashi berpikir. Lagipula sejak kapan Daiki jadi seperti itu? Masa sih dia telah melenceng dan menyukai Ryouta?

Yah aku sendiri juga sudah melenceng sih, tiba-tiba kalimat tersebut melintas di pikiran Akashi. Akashi menggelengkan kepalanya. Benarkah dirinya sudah melenceng?

"Aka-chin, kita sudah sampai."

Ucapan Murasakibara membuyarkan pikiran Akashi. Akashi menatap seisi aula, tapi tidak menemukan tanda-tanda si pemuda baby blue. "Kemana Tetsuya?"

"Kardusnya kutaruh disini ya," Murasakibara menaruh kardus tersebut di sisi aula. "Aku mau pergi ke kantin dulu."

"Baiklah, terima kasih."

Tepat setelah Murasakibara pergi, Kuroko datang membawa setumpuk karton. Ia menatap Akashi, "Akashi-kun? Kau dapat membawa kardus itu?"

"Sudah kubilang tadi. Sekarang bisa kita menyelesaikan dekorasinya?"

"Ah iya Akashi-kun," ujar Kuroko. Ia mengeluarkan pita dari kardus yang dibawanya, lalu memasangnya. "Ngomong-ngomong Akashi-kun, kau sudah punya pasangan untuk nanti malam?"

"Belum. Kau sendiri?"

"Itu…aku belum memutuskan," jawab Kuroko tampak berpikir. "Tapi aku tidak menyukai pesta dansa. Apa aku boleh bolos sekali ini saja?"

Tanpa Kuroko sadari, Akashi tersenyum mendengar perkataan Kuroko. "Tetsuya, kau tahu hari ini hari apa?"

"Hari..Sabtu Akashi-kun?" jawab Kuroko bingung. "Memangnya kenapa?"

"Bukan apa-apa. Kalau kau tidak ingin mengikuti pesta dansa, maka kau tidak perlu pergi," ujar Akashi.

"Benarkah?"

"Tapi sebagai gantinya, aku mau kau-" Akashi membisikkan sesuatu pada Kuroko.

"Eh?" ujar Kuroko bingung.

.

.

Sabtu malam, pukul lima sore, lapangan dekat sekolah.

Kuroko tampak berdiri di sana dengan wajah datar. Wajahnya memang datar, tapi pikirannya dipenuhi sejuta tanda tanya. Memang ia yang mengatakan kalau ia tidak ingin mengikuti pesta dansa, dan Akashi membantunya- tapi Akashi mau apa menyuruhnya datang kesini?

Kuroko kembali teringat perkataan Akashi tadi pagi, "Tapi sebagai gantinya, aku mau kau datang ke lapangan dekat sekolah pukul enam sore. Apa yang akan kita lakukan selanjutnya, kau hanya perlu menjalaninya."

"Akashi-kun kira-kira merencanakan apa ya?" tanya Kuroko pada dirinya sendiri. Tidak lama setelah ia mengatakan hal itu, Akashi datang menghampirinya.

"Maaf, kau sudah menunggu lama Tetsuya?" tanya Akashi. Kuroko tidak membalas, ia menatap Akashi. Pemuda crimson itu memakai kaus merah dengan jaket hitam yang dipadu dengan jeans biru tua. Tampaknya Akashi memang berniat membuat Kuroko tidak mengikuti pesta dansa.

"Akashi-kun, sebenarnya kita mau pergi kemana?" Kuroko bersuara. Dilihatnya Akashi malah berjalan menuju mobil miliknya.

"Sudahlah, kau naik saja Tetsuya. Kau bilang tidak ingin mengikuti pesta dansa bukan? Karena itu aku akan mengajakmu ke suatu tempat sebagai pengganti pesta dansa."

Kuroko menaikkan sebelah alisnya, tampak bingung. Tapi diturutinya juga perintah Akashi. Kuroko masuk ke dalam mobil milik Akashi – yang kali ini Akashi sendiri yang mengendarainya. Lalu tak lama mobil tersebut sudah berada di jalanan Tokyo.

Suasana di dalam mobil tersebut terasa sangat hening. Kuroko yang tidak berani bertanya apapun hanya diam sembari melihat jendela. Sementara Akashi sedang menyetir.

Dan suara handphone berbunyi.

Akashi melihat nama penelpon yang terpampang di layar handphone nya. Ia tidak menjawab panggilan telepon tersebut.

"Siapa itu Akashi-kun?" tanya Kuroko. Ia tidak sempat melihat siapa penelpon tadi.

"Nijimura-senpai. Ia sudah menelpon hingga dua puluh kali. Sepertinya ia akan memarahi kita habis-habisan setelah ini."

"Salah kita sendiri kabur mengikuti pesta dansa," ujar Kuroko. "Apalagi kau merupakan ketua Osis."

"Dan kau wakilnya," balas Akashi. "Yah mudah-mudahan saja Nijimura-senpai tidak menghukum kita. Kau tahu betapa kejamnya ia saat memberi hukuman," Akashi tertawa di akhir kalimat.

Kuroko tersenyum, "Akashi-kun benar. Eh kita sudah sampai?"

Akashi mengangguk. Ia keluar dari mobil, diikuti Kuroko.

"Akashi-kun ini hanya jembatan biasa. Kau yakin tidak salah tempat?" tanya Kuroko bingung. Entah mengapa hari ini Akashi membuatnya bingung setiap saat.

"Ini tempatnya. Aku tidak salah. Kau masih tidak menyadarinya?"

Kuroko menggeleng.

"Aku tanya sekali lagi, hari ini hari apa?"

"Hari Sabtu…" Kuroko berjalan menuju tepi jembatan tersebut, lalu menatap ke bawah. Tiba-tiba ia menyadari sesuatu. Pandangannya beralih pada Akashi. "Tunggu dulu. Akashi-kun, hari ini hari-"

"Hari dimana Festival Kembang Api Sumidagawa dilaksanakan. Dan dari sini kita dapat melihat ribuan kembang api dengan jelas tanpa harus berdesakan dengan orang lain," jawab Akashi. "Semoga kau lebih senang melihatnya daripada mengikuti pesta dansa."

"Akashi-kun," Kuroko tidak tahu apa yang harus ia katakan lagi, selain memanggil nama Akashi. Kuroko benar-benar tidak menyangka. Akashi telah menyiapkan semua ini untuknya. Apa Akashi mengetahui kalau Kuroko memang tidak mau mengikuti pesta dansa?

Melihat Kuroko yang terdiam, Akashi hanya tersenyum. "Nikmati saja Tetsuya, bahkan jika kau tidak menyukainya. Festival ini hanya sekali dalam setahun."

"Terima kasih," dua kata tersebut akhirnya dapat terucapkan oleh Kuroko.

"Tidak perlu berterima kasih padaku. Nah lihat, kembang api pertama sudah diluncurkan."

Kuroko melihat ke arah yang ditunjuk Akashi. Sebuah kembang api merah menyala tampak menghiasi langit malam. Kemudian kembang api lain dengan berbagai warna mulai menyusul, membuat langit malam ini terasa indah.

Tidak butuh waktu lama bagi Kuroko untuk mulai menikmati festival kembang api tersebut. Ia tidak pernah mengikuti festival apapun, karena ia sendiri tidak menyukainya. Namun kali ini berbeda. Ia…ia sangat menikmatinya.

Terlebih dengan kehadiran pemuda crimson di sampingnya.

Kuroko merasa malam ini adalah malam terindah dalam hidupnya.

.

Akashi dan Kuroko sedang menikmati kembang api dari tepi jembatan tersebut saat mereka mendengar ada mobil yang berhenti beberapa meter dari tempat mereka berdiri.

"Biasanya jembatan ini sepi, jarang ada yang melewati jembatan ini," ujar Akashi.

"Kira-kira siapa ya Akashi-kun? Bukan orang jahat kan?" Kuroko tampak khawatir. Ia berdiri di belakang Akashi.

Pintu mobil tersebut dibuka, dan suara familier menyambut keduanya.

"Tuh kan sudah mulai. Kubilang juga kau harus cepat!"

"Aduh sakit Aominecchi, jangan tarik rambutku. Lagipula tadi aku hanya ingin menikmati pesta dansa! Apa salahku?"

"Kau terlalu lama. Sudah kubilang kalau tahun ini kau tidak akan mengikuti pesta dansa."

Akashi dan Kuroko bertukar pandang. Keduanya berpikiran sama. Apa yang mereka berdua lakukan disini?

Aomine yang tengah menarik rambut Kise menatap Akashi dan Kuroko. "Akashi, Tetsu, apa yang kalian lakukan disini?"

"Iya betul. Jangan-jangan kalian kencan?" sambung Kise. Aomine menarik rambut Kise lagi. Kise mengaduh.

"Tidak, kami tidak kencan Kise-kun. Kami hanya tidak ingin mengikuti pesta dansa."

"Lalu kalian sendiri?" tanya Akashi. "Datang dengan pertengkaran seperti anak kecil. Mau apa kalian datang kesini?"

"Memangnya jembatan ini milikmu?" balas Aomine. "Aku hanya mengajak Kise melihat kembang api. Itu saja."

"Kau memaksa, bukan mengajak," komentar Kise.

"Ya ya terserah kau saja. Jadi kita disini sama-sama menghindari pesta dansa?"

Kuroko dan Akashi mengangguk. Sementara Kise menggeleng, "Aku tidak menghindari pesta dansa. Aominecchi yang memaksaku datang kesini."

"Sudahlah Kise-kun, sebaiknya kau menikmati kembang api saja," ujar Kuroko. Mau tak mau Kise menurut. Toh dia tidak bisa kembali ke sekolah lagi. Bisa sih, tapi dengan apa? Aomine tidak akan meminjamkan mobilnya, terlebih Akashi.

Sama halnya dengan Kuroko, Kise perlahan menikmati festival tersebut. Entah bagaimana hal tersebut bisa terjadi. Yang pasti, sekarang mereka berempat berdiri di tepi jembatan, menikmati setiap kembang api yang diluncurkan.

Setelah malam mulai larut, Akashi mengajak Kuroko untuk kembali. Kuroko hanya mengangguk. Mereka berdua kembali ke mobil, meninggalkan Kise dan Aomine yang tampaknya juga akan segera kembali.

.

.

Rutinitas sekolah tampak berjalan seperti biasa pada hari Senin. Tidak ada hal yang istimewa pagi itu, kecuali omelan Nijimura yang menghiasi pagi hari tersebut.

"Kalian kemana saja sih hari Sabtu lalu?!"

Akashi dan Kuroko berpandangan.

"Kalian tahu kan kalian adalah ketua dan wakil Osis. Mengapa kalian tidak menjadi contoh yang baik? Bolos saat perayaan penting sekolah," Nijimura kembali meneruskan omelannya.

"Tapi pesta dansa bukan perayaan penting, Nijimura-senpai," ujar Kuroko polos.

"Oh jadi begitu menurutmu Kuroko? Pesta dansa bukan perayaan penting?! Itu tradisi Kuroko! Tradisi! Kau yang anak baru tahu apa soal tradisi?!"

"Salah bicara," ujar Kuroko pelan. Untung Nijimura tidak mendengarnya.

"Lalu kau Akashi! Kau itu ketua Osis, seharusnya kau menjadi contoh! Aku sudah menelponmu berkali-kali! Mengapa tidak kau angkat?!"

"Maaf Nijimura-senpai, handphone-ku mati saat itu," jawab Akashi.

Nijimura menghela napas frustasi. Karena kedua junior di hadapannya ini tidak ikut pesta dansa, segala hal yang seharusnya dikerjakan mereka berdua harus dikerjakannya. Hanya karena ia merupakan sekretaris Osis.

"Ya sudahlah, aku lelah berbicara dengan kalian. Sana pergi," Nijimura mengibaskan tangannya.

Akashi dan Kuroko sesegera mungkin keluar dari ruangan tersebut.

"Sudah kubilang kita akan dimarahi," ujar Akashi saat mereka berjalan menuju kelas.

"Mau bagaimana lagi Akashi-kun," balas Kuroko. Entah mengapa semenjak malam itu, Kuroko merasa berbeda saat berada di dekat Akashi.

"Oh ya Tetsuya. Katanya di kelas kita akan ada murid baru."

"Siapa?"

"Entahlah. Lebih baik kau tanya Ryouta si raja gosip."

Saat mereka sampai di kelas, tampak seorang pemuda bersurai merah dengan tubuh tinggi sedang berdiri di depan kelas. Pemuda itu dengan lantang berkata, "Selamat pagi semuanya. Namaku Kagami Taiga. Mulai hari ini aku akan menjadi murid di kelas kalian."

"Kagami-kun?" ujar Kuroko.

"Kagami Taiga..apa yang dia lakukan disini?" Akashi sama terkejutnya dengan Kuroko.

Kagami menatap Akashi dan Kuroko yang berada di depan pintu. "Yo, lama tidak berjumpa denganmu Kuroko. Dan kau Akashi Seijuro?"

"Ya aku Akashi Seijuro," Akashi memasang tampang dingin. Yang berada di hadapannya adalah seiyuu senior yang berhasil dikalahkannya. "Apa maumu?"

"Sensei bilang kalau Akashi Seijuro yang akan mengajarkanku tata tertib disini. Karena itu mohon bantuannya."

Akashi menatap Kagami bingung. "Serius?" gumam Akashi. Kagami Taiga, salah satu dari tersangka sniper yang mengincarnya tempo hari memintanya mengajarkan tata tertib sekolah?

Tapi ia memang tidak terlihat memancarkan aura permusuhan, pikir Akashi. Mungkin memang Hanamiya Makoto pelakunya. Kalau Reo tidak salah orang.

.

.

"Kemarin hal aneh yang menyangkut homo. Sekarang pertunangan? Memangnya apa sih yang ada di kepala ayah?"

"Jangan salah sangka Akashi. Ayah sudah merencanakan pertunangan ini sejak bertahun-tahun yang lalu. Kau akan bertunangan dengan putri dari pemilik perusahaan Mitsuo, Akari Mitsuo."

"Tunggu dulu. Aku tidak mau ditunangkan dengan seseorang yang tidak aku kenal. Aku akan memilih tunanganku sendiri!"

"Ini perintah Akashi! Kau tidak dapat membantah!" Ayahnya memberikan Akashi sebuah foto seorang gadis dengan rambut ungu sepunggung. Akashi menerimanya dengan terpaksa.

Sama seperti sebelumnya, Akashi keluar dari ruangan ayahnya sebelum percakapan mereka selesai. Diluar, Akashi menatap foto gadis tersebut, sebelum ia merobeknya dan membuangnya ke tempat sampah.

"Aku sudah memiliki orang yang kusuka, dan aku akan memilih tunanganku sendiri."

.

.

"Kau sudah dengar? Katanya Akashi sudah memiliki tunangan."

"Hee benarkah? Aku penasaran secantik apa tunangannya."

Kuroko mendengar perkataan para gadis yang berjalan melewatinya, dan entah mengapa ia merasa sedih mendengarnya.

Memangnya kenapa kalau Akashi-kun sudah memiliki tunangan? Mengapa aku merasa sedih…dan cemburu? Berbagai pikiran terlintas di otaknya.

"Kau tidak apa-apa Tetsuya? Kau tampak pucat," Akashi menatap Kuroko khawatir. Kuroko terkejut melihat Akashi yang berada di sampingnya.

"Akashi-kun tidak perlu khawatir padaku. Nanti tunanganmu marah," dalam hatinya, Kuroko menyesal telah berkata demikian. Namun apa boleh buat, kata-kata tersebut keluar begitu saja.

"Apa maksudmu Tetsuya? Darimana kau tahu tentang hal itu?"

"Semua orang sudah tahu Akashi-kun. Sekarang permisi," Kuroko berjalan keluar kelas, meninggalkan Akashi yang kebingungan melihatnya.

"Mengapa jadi seperti ini," keluh Akashi. Sudah banyak masalah yang dihadapinya. Dan sekarang ditambah Kuroko yang tampak memusuhinya.

Rasanya baru sekarang ini hidup Akashi menjadi sebegitu susahnya.


To be continued


Thanks to Eru Arasu, Inukai Horu, Kujo Kasuza, Crimxson, Kureha Sei yang sudah mem-favorite. Juga kepada AkemiMizuki, Eru Arasu, Kureha Sei yang sudah mem-follow. Dan kepada semuanya yang telah mereview.

See you next chapter!