Title : We Are Family, aren't we?
Scriptwriter : sapi68
Main Cast: Lee Hyun Woo (actor) Lee Donghae (Suju)
Sandara Park (2ne1) Nam Ji Hyun (aktris)
Support cast : Your imaginations
Genre : Family, Brothership, Friendship, Romance
Duration:
Rating : R12
Summary
Anak laki-laki itu memang mengagumkan
-Nam Ji hyun di Pagi hari
Aku rasa, gossip tentang sunbae sebagai Pria idaman benar adanya…
-Nam Ji hyun di sore hari
Lee Hyun woo POV
"Apa dia tidak apa-apa?"
"Tadi nampaknya dia sangat sedih begitu tahu aku harus pergi"
Hal-hal itulah yang mengganggu fikiranku semenjak tadi. Meskipun badanku berada di ruang TIK sekolah tidak dapat kupungkiri aku terus memikirkanya.
Aku? Sebenarnya, hal yang kukerjakan dengan sepenuh-penuhnya konsentrasi semenjak pagi tadi adalah makalah yang akan kami ikut sertakan dalam lomba. Aku sengaja mengerjakanya sendiri agar Jihyun tidak sibuk memikirkanya. Aku tidak mau ia lelah, gadis itu kalau sudah keasikan bisa lupa pada hal lain, bahkan makan.
Deadline lombanya nanti malam, jadi mau tak mau aku harus selesai sekarang juga. Untung saja panitia lomba minta semua data dikirin online, bayangkan kalau menggunakan POS bisa gagal rencana kami ikut lomba hehe.
Apa aku harus ke ruang ekskul? Mungkin ia masih disana. Pikirku
Begitu aku lihat, tidak ada siapa-siapa. Bahkan pintunya juga terkunci. Aneh, pikirku. Hei, tapi ada gitar? Dan biola disana?, mungkinkah ini yang membuatnya mencariku? Aku harus mencari jihyun. Mana mungkin aku membuatnya kecewa. Tidak, tidak lagi.
Aku mencarinya, begitu aku mau telphon, eh HPku mati. Oh ya, memang dari kemarin belum aku charge. Ah bodohnya aku. Aku coba cari ke kelasnya, di lantai 2. Tapi dia juga tidak ada… dengan lunglai aku berjalan pulang. Saat dikoridor, aku lihat ke gerbang sekolah.
Dia disana.
Bersama, hyung?
Benarkah?
Mungkin seharusnya aku tidak melihat ini.
Donghae POV
"Ji hyun, Nam jihyun" Aku membaca nametag di seragam gadis yang sedang memainkan biola.
Kenapa suara biolanya terdengar sangat menyayat? Apa dia sedang sedih pikirku.
Tiba-tiba gadis itu membuka matanya, dan seketika berhenti. Aku aga kecewa, padahal aku kesini ingin mendengarkan permainan biolanya, kenapa dia berhenti?
"s.. sunbaenim" katanya dengan sopan.
Manis juga, pikirku.
"Hai nona, cantik sekali kau dan permainanmu. Ji hyun. Nam Jihyun "
Jawabku sambil sekilas melihat daftar anggota ekskul sains beserta data kelas dan data diri di papan pengumuman tepat dibelakang tubuh jihyun.
"siswi kelas 1C kan?"
Sambil tersenyum aku melangkah masuk kedalam ruangan. Apa dia takut padaku? Kenapa dia terus memandang sepatuku? Jangan-jangan dia ingin sepatuku? *eh. Dia hanya diam, apa tebakanku benar? Ah ia, alu ingat, aku kesini untuk mengajak pemain biola ini bergabung.
"kamu mau mengiringi aku bermain dalam sebuah pertunjukkan?" tanyanku
"Aku… aku sangat tersanjung dengan ajakanmu." Jawabnya terdengar ragu
Sambil masih mendekat, aku hanya menunggunya melanjutkan kata-kata. Berharap dia yakin pada kalimat berikutnya.
" Tapi … sunbae, aku hanya bisa jika temanku juga bergabung. Boleh kah?"
Yes, pikirku.
"Tentu. Datanglah esok sore keruang Audit. Kamu seharusnya bermain musik ditempat yang baik " kataku sambil tersenyum. Akhirnya, kali ini aku tersenyum padanya. Bukan pada ubun-ubun kepalanya.
Bukannya membalas senyuman manisku, dia malah melihatku dengan mata bulatnya. Apa dia memelototiku? Aku rasa bukan, mungkin dia gugup. Karena sewaktu hendak memasukkan biola ke kotaknya dia malah menyenggol biola.
Tanganku yang memang lebih panjang secara reflex langsung menangkap biola itu. Fiuh, untung saja. Pikirku.
"ah, Pabo-ya" katanya sambil menunduk
"Kamu lucu sekali" Kataku dengan tulus sambil tidak bisa menahan tawa.
"Sunbaenim"
Akhirnya dia mengangkat lagi kepalanya.
"Kau mau pulang? Mau kubawakan biolamu?" tawarku sungguh-sungguh.
"Tidak sunbae, biola ini biar diletakkan disini saja."
"Ia, ayo pulang. Biar kuantar."
Dia manis sekali, tak kusangka setelah kegugupan itu berlalu dia ternyata gadis yang cerdas dan humoris. Sambil berjalan menuju halte, kami saling membanggakan musisi favorit kami, dia yang menggumi Mozart dan sejenisnya dan aku yang lebih suka music modern, ah dia bilang dia juga suka shinee, Taemin namanya kalau aku tidak salah. Seleranya mengingatkanku pada seseorang.
Kebetulan aku juga memang sudah ingin pulang, meski menunggu di halte yang sama, ternyata ia memiliki arah yang berlawanan denganku.
"Sayang sekali, padahal dia teman perjalanan yang menyenangkan" kataku sambil tersenyum melihatnya menaiki bis yang beberapa saat lalu sampai.
Nam Jihyun POV
"Sampai jumpa besok, sunbaenim" Pamitku
Aku tidak menyangka, ternyata seniorku yang satu itu tidak segarang kelihatnya. Dia juga baik hati, tidak seperti yang selama ini kupikirkan. Aku jadi merasa bersalah. Ah ia, ngomong2 soal rasa bersalah, aku harus menghubunginya segera.
Keesokan harinya, di sekolah.
Hyun Woo POV
Aku berangkat pagi hari ini. Bahkan aku berhasil memecahkan rekorku, pagi ini aku jadi siswa pertama yang sampai dikelas, atau mungkin di sekolah? Entahlah.
Rasanya tidak enak bertemunya dirumah, aku marah, cemburu lebih tepatnya. Eits, cemburu? Kenapa aku harus cemburu? Ah, sudahlah, lebih baik aku membaca berita daripada memikirkan hal tidak penting seperti ini.
Aku tidak tahu sudah berapa lama, tapi tiba2 kurasakan bahuku di tepuk. Saat aku melihat kebelakang
"Yak! Ji hyun apa yang kau lakukan dengan pipiku yang tidak berdosa? Berani-beraninya kau mengotorinya dengan telunjuk mu!" semburku
"Hei kenapa jadi cerewet gini sih?" jawabnya, masih dengan senyum jailnya.
Apa ini perasaanku saja? Aku melihatnya lebih ceria hari ini.
"OIa, maksud mu tadi malem apa sih?" tanyaku mencoba berfikir hal lain.
"Pokoknya jangan lupa! Pulang sekolah nanti. Okey?" jawabnya sambil dia kembali ke kelasnya
Sandara POV
"Kemana sih penyelamat kita, Donghae?"
"kau bilang dia penyelamat kita. Sudah berapa lama kita tunggu. Mereka belum ada juga" lanjut keluhanku
"sabar…" jawab donghae sambil asik memainkan piano.
Hah, dia itu manusia bukan sih? Sudah tampan, murah senyum, baik hati pula? Pikirku liar
Tidak berapa lama, kulihat pintu auditorium terbuka. Seorang gadis diikuti seorang pria masuk. Apa mungkin mereka, pikirku. Setelah dilihat lama-lama, aku yakin itu adalah hyun woo. Si anak genius itu.
"Donghae, kamu yakin?" tanyaku
Bukannya menjawab, dia masih saja asik dengan pianonya. Sampai gadis itu berdiri tepat dihadapanku dan berkata
"S.. sunbaenim aku disini. Perkenalkan ini teman yang aku ceritakan kemarin" kata gadis bernama Jihyun setelah memperkenalkan dirinya padaku.
"Halo, ka Dara. Aku Lee hyun woo murid kelas 1 a" lanjut bocah itu dengan manisnya.
Tiba-tiba saja donghae berhenti bermain dan berdiri. Tatapanya terasa asing. Tatapanya pada bocah-bocah dihadapanku ini sulit untuk diartikan.
"Apa ini akan berhasil?" pikirku
