The Golden Fox
Disclaimer:
Saya tidak memiliki hak kepemilikan atas Naruto, High School DxD, Dog Days, InuYasha, dan anime atau manga lainnya.
Chapter 4
Amarah Seorang Kakak Perempuan
Tes!
Suara tetesan air yang jatuh menimpa sesuatu.
Di suatu tempat yang gelap dan berair, terdapat sosok seorang anak berusia 13 tahun yang terbaring tidak sadarkan diri.
Tes!
Anak itu pun membuka kedua matanya dengan lebar. Satu pertanyaan muncul di benaknya.
'Di mana… aku…?'
Naruto tidak tahu di mana dia saat ini, Yang terakhir kali diingatnya adalah dia sedang berjalan bersama Yukikaze menuju ke rumah mereka. Dan secara tiba-tiba, seseorang datang membawa beberapa bawahannya dan menghadang mereka berdua.
Mereka bertarung dan kemudian orang itu menusuknya di perut dengan tangan kosong.
'Benar juga. Aku… sudah mati…'
Perlahan kedua matanya menutup. Naruto sudah pasrah dengan nasibnya dan siap untuk meninggalkan dunia.
Tes!
"Yang benar saja! Mana mungkin aku menyerah semudah itu!" Naruto berteriak dan langsung berdiri dari posisi berbaringnya.
Matanya memperhatikan sekelilingnya dan mendapati dirinya berada di tempat gelap. Di bawah kakinya adalah lantai yang penuh dengan genangan air dan pada dinding tempat itu tertempel beberapa pipa. Sebuah penjara raksasa terletak tepat di hadapan Naruto.
Ya, tidak salah lagi. Saat ini dia berada dalam alam pikirannya sendiri.
"Memalukan sekali. Jinchūriki-ku dikalahkan dengan mudah oleh seorang yōkai liar" ucap seekor rubah raksasa berekor sembilan yang ada di dalam penjara raksasa. Dia adalah Kyūbi, bijū yang tersegel dalam tubuh Naruto.
"Berisik! Jika bertemu lagi, aku akan mengalahkannya!"
Kyūbi hanya menatap Naruto dengan pandangan yang berkata 'kau menyedihkan'. Tapi Naruto tidak cukup pintar untuk menyadari pandangan itu.
"Dan kau rubah sialan! Kenapa kau tidak membantuku?!" tanya Naruto seraya mengacungkan jarinya kepada Kyūbi.
"Manusia bodoh sepertimu tidak berhak mendapatkan bantuanku. Aku bosan harus memberimu chakra-ku setiap kali kau terpojok. Kau terlalu lemah!"
Naruto menggertakkan giginya. Dia ingin menyangkal perkataan itu, tapi tetap saja Kyūbi mengatakan yang sebenarnya.
"Aku harus cepat bangun, lalu akan kuhajar si brengsek itu!" ucap Naruto.
Kyūbi hanya menggeram. Rubah itu sangat membenci sifat sok kuat dari jinchūriki-nya sendiri. "Kau bodoh. Apa kau sudah lupa apa yang terjadi padamu?"
"Huh?" Naruto hanya memberinya wajah bodohnya yang kebingungan.
"Kau benar-benar bodoh. Kau harusnya tahu, kau itu sudah mati"
Naruto dibuat bungkam dan kemudian memproses apa yang dikatakan olehnya. Beberapa saat kemudian, otaknya yang lamban akhirnya mengerti apa yang telah terjadi.
"Eeehhhhh?!" Naruto histeris saat mendengar fakta bahwa dia sudah mati. "T-Tunggu dulu, itu tidak mungkin! Itu tidak mungkin! Aku masih hidup, dattebayō!"
"Dia menusukmu tepat di perut dan kau kehilangan kesadaranmu. Tidak lama setelah itu, kau kehilangan terlalu banyak darah. Buruknya lagi tidak ada yang menemukanmu, jadi kematian sendiri yang mendatangimu"
"T-Tidak mungkin!" Naruto masih menolak fakta tersebut. "L-Lalu kenapa aku masih ada di sini?!"
"Aku sudah bosan memanggilmu bodoh. Saat ini kau berada pada titik di antara hidup dan mati. Masih belum pasti apakah kau masih bisa selamat atau kau akan kehilangan nyawamu"
"Aku masih bisa selamat?!"
"Ya... tapi kemungkinan kau akan mati masih lebih tinggi"
Naruto bertambah panik setelah mendengarnya. Kyūbi hanya memberinya tatapan malas dan melanjutkan tidur.
Naruto marah ketika dia melihat apa yang dilakukan oleh rubah itu. "Oi! Apa kau tidak peduli? Kita akan mati!" serunya kepada Kyūbi,
Kyūbi mendengus dan menolak untuk mengangkat kepalanya. "Kau memang benar, jika kau mati aku juga akan mati. Tapi kami bijū bukanlah makhluk hidup sepenuhnya, kami hanyalah sebuah kesadaran yang tercipta murni dari chakra. Walaupun kami mati, chakra kami akan terisi kembali dalam waktu yang lama dan setelah itu, kami akan bangkit kembali"
"Aku tidak terlalu mengerti…" ucap Naruto seraya memasang pose berpikirnya. "Jadi, intinya kalian akan bangkit walaupun kalian mati. Kekuatan yang mengerikan!"
"Paling tidak kau memahaminya sedikit"
"Oh ya! Kenapa kau memanggil dirimu bijū? Bukankah kau itu yōkai?"
"Jangan samakan kami dengan mereka! Walaupun bijū dan yōkai berasal dari sumber yang sama, cara penciptaannya berbeda"
"Kupikir kalian itu sama" Naruto menggaruk-garuk belakang kepalanya yang tidak gatal. "Tapi lupakan itu! Aku tidak boleh mati di sini, aku harus kembali dan menyelamatkan Yukki-chan!"
"Hmm? Bahkan di ambang kematian sekalipun kau tetap ingin menyelamatkannya. Aku tidak pernah mengerti mengapa kau sangat peduli pada gadis itu. Kalian bahkan baru bertemu tidak lebih dari dua minggu yang lalu"
"Itu tidak penting! Aku tidak punya waktu berbicara seperti ini, aku harus mencari cara untuk kembali!" ucap Naruto dengan gelisah.
Kyūbi menatap Naruto lewat satu matanya yang terbuka. Rubah itu ingin mengabaikannya saat ini, dia tidak peduli apa yang akan terjadi pada Naruto. Lagipula dia mati, dia akan bangkit kembali dalam waktu beberapa tahun. Dan Naruto akan tetap mati, jadi saat itu juga Kyūbi akan mendapatkan kebebasannya kembali.
Entah mengapa rubah itu tidak pernah memikirkan ide ini sebelumnya. Mungkin karena dia tidak ingin melakukan tindakan bunuh diri hanya untuk hidup kembali. Kyūbi adalah makhluk yang egois dan dia menolak melakukan hal bodoh seperti itu.
Tapi tiba-tiba dia mendapatkan sebuah ide yang bagus.
"Hei, bocah" panggil Kyūbi.
Naruto tidak memperdulikannya dan tetap panik seraya memikirkan cara untuk kembali dari kematian. Itu membuat Kyūbi menjadi kesal, tapi Kyūbi adalah makhluk yang sabar juga.
"Bocah, aku memanggilmu. Apa kau mendengarku?"
Naruto mengabaikannya lagi. Kyūbi menggertakkan giginya dan bersuara lebih keras.
"Monyet sialan, kau mendengarku atau tidak?!"
Naruto masih mengabaikannya. Orang-orang mungkin akan berpikir dia tuli, tapi memang sudah menjadi sifat Naruto untuk mengabaikan sekitarnya di saat panik. Dengan marah, Kyūbi mengeluarkan auman besar yang mampu membuat genangan air di bawah mereka bergelombang.
"Groaarrrr!"
Naruto terkejut karena auman itu dan dia menutup kedua telinganya. "Oi, kau ingin membuatku tuli?!"
"Aku melakukan itu karena kupikir kau sudah tuli, bodoh! Tidak bisakah kau berhenti panik dan mendengarkanku untuk sekali saja?" geram Kyūbi.
"Sudah kubilang aku tidak punya waktu bicara denganmu. Aku harus-"
"Dengarkan aku dulu, manusia! Jika kau berani menyelaku, aku akan memakanmu sekarang juga!"
Teriakan Kyūbi membuat Naruto membungkam mulutnya. Keringat turun dari pelipisnya dan dia menjadi takut karena ancaman dari bijū berukuran raksasa itu.
"Bagus, sekarang kita bisa berbicara. Aku akan membantumu"
"Huh? Apa maksudmu?"
"Kau mendengarku dengan jelas, kan? Aku akan membantumu, tapi untuk kali ini saja"
Naruto benar-benar terkejut sekaligus bingung. Dia bertanya-tanya mengapa Kyūbi mau membantunya. Walaupun sebenarnya dia tidak pernah menyadari bahwa Kyūbi telah banyak membantunya dalam beberapa masalah sebelumnya.
"Ini sederhana saja dan aku yakin otakmu yang kapasitasnya sekecil kenari itu dapat memahaminya. Aku akan menggunakan semua chakra-ku untuk membangkitkanmu, tapi akan ada beberapa perubahan khusus sebagai gantinya"
"Kau dapat membangkitkanku?!" seru Naruto dengan penuh harapan. Tapi dia segera menyadari kata-kata terakhir Kyūbi. "Tunggu dulu! Apa maksudmu perubahan?"
Kyūbi menyeringai. Melihat seringaian itu, Naruto meneguk ludahnya sendiri. Dia dapat merasakan firasat buruk dari apa yang akan dilakukan Kyūbi. Saat itu, dia tidak pernah tahu bahwa hidupnya akan berubah selamanya.
Kembali ke beberapa menit yang lalu. Setelah meninggalkan tubuh Naruto yang tidak bernyawa di jalanan desa Shimogakure, Kōga membawa pergi Yukikaze secara paksa diikuti oleh para bawahannya.
Pusaran angin yang mengelilingi Kōga dan Yukikaze menghilang, dan mereka berdua berhenti di luar gerbang desa.
"Lepaskan aku, Kōga!"
Yukikaze mencoba melepaskan dirinya dari genggaman pria itu. Tapi Kōga adalah seorang yōkai Okami yang diberkahi kekuatan fisik di atas rata-rata. Yukikaze yang masih berusia 12 tahun tentu saja tidak sebanding dengannya.
"Tenanglah, Yukikaze! Jika kau terus memberontak, aku akan kesulitan membawamu di tengah badai salju"
"Biar begitu saja! Aku lebih memilih mati daripada menjadi istrimu!"
Kōga menggertakkan giginya. Genggamannya pada Yukikaze semakin erat dan dia mendekatkan wajahnya pada wajah gadis itu.
"Mengapa kau tidak ingin menjadi istriku? Apa kekuranganku sehingga kau tidak menginginkannya?!"
"Kau mesum, tidak tahu malu, dan brengsek! Kau juga telah… membunuh temanku!"
"Cih, aku mengerti. Kau menyukai manusia itu, kan? Biar kukatakan kepadamu, manusia itu tidak sebanding denganku! Dia itu lemah dan bodoh. Apa yang dimilikinya tapi tidak dimiliki olehku?!"
"Naruto adalah orang yang baik dan hebat. Kau tidak sama sepertinya! Kau brengsek, tidak tahu malu, mesum, dan pedopil!"
Kōga menggertakkan giginya. Dia tidak senang jika ada seseorang yang dikatakan lebih baik darinya, apalagi jika orang itu adalah manusia.
"Yukikaze… kau akan menjadi istriku dan tidak akan ada yang dapat menghentikan itu. Jadi sebaiknya kau menyerah dan biarkan aku membawamu dengan tenang!"
Gadis kecil itu sama sekali tidak ingin mendengarnya dan terus mencoba untuk melepaskan diri. Tapi Kōga mengeratkan genggamannya dan menyeretnya dengan paksa. Bawahan-bawahan Kōga hanya menatap mereka dengan gugup.
Akhirnya Kōga kehilangan kesabarannya dan mengangkat Yukikaze ke bahunya. Dia berniat untuk segera meninggalkan Shimo. Tapi sepertinya itu hanya akan menjadi niatnya saja.
Di depannya saat ini adalah sosok Yasaka yang berdiri menghalangi jalan mereka.
"O-Onee-chan!" Yukikaze berseru dengan gembira.
Yasaka menatap Kōga dengan dingin. "Kau pikir akan kaubawa ke mana adikku, Kōga…?"
Kōga dan para bawahannya merinding. Bukan hanya karena udara dingin di Negara Beku, tapi juga karena tatapan dan suara Yasaka yang sangat menakutkan.
Kōga mencoba memberanikan diri dan menyeringai. "Bukankah sudah jelas? Aku akan membawa Yukikaze dan menikahinya"
Muncul ekspresi jijik di wajah Yasaka. Api biru tercipta di tangan kanannya. "Aku tidak akan mengampuni orang yang berani menyentuh adikku!" ucap Yasaka seraya melemparkan api biru ke arah musuh-musuhnya.
Api biru yang tadinya kecil menyebar dan menyerang mereka semua. Kōga melompat menjauh sambil membawa Yukikaze di bahunya. Beberapa yōkai berhasil menghindar juga namun sisanya tidak beruntung dan terbakar oleh api itu.
"Serang dia!" perintah Kōga pada bawahannya.
"T-Tapi-" salah seorang yōkai ingin membuat alasan untuk menolak namun Kōga memotongnya dengan tatapan tajam.
"Lakukan atau kubunuh kalian dengan tanganku sendiri" ancam Kōga.
Bawahan-bawahan Kōga menurutinya dan maju dengan tujuan menyerang Yasaka.
"Apakah kalian masih belum belajar dari pertarungan kita sebelumnya?" tanya Yasaka seraya menembakkan beberapa bola api biru yang mengenai tiga yōkai Okami. Yang lainnya berhasil menghindar dan terus maju.
Yasaka melemparkan api biru ke permukaan salju dan menciptakan dinding api yang melindunginya. Semua yōkai berhenti tepat di depan dinding itu. Dinding api itu menyebar dan menciptakan lingkaran yang mengelilingi mereka semua.
Saat itu juga, Yasaka masuk ke dalam lingkaran api dan menyerang mereka satu per satu. Para yōkai itu kesulitan bertarung melawan Yasaka karena suhu api biru yang sangat tinggi dan juga penghilatan mereka dibatasi kobarannya.
Di luar lingkaran api, masih ada beberapa yōkai yang tersisa. Kōga memanfaatkan kesempatan ini untuk melarikan diri.
"Onee-chan!" Yukikaze berseru kepada sang kakak yang masih sibuk bertarung di dalam lingkaran api.
Yasaka langsung melompat keluar dan melesat untuk mengejar Kōga. Namun yōkai yang lainnya menghalanginya.
"Menyingkirlah dariku!"
Yasaka melompati mereka dan lanjut mengejar sasarannya. Kōga melirik ke belakang dan mendecih tidak suka. Ketika Yasaka melemparkan bola api biru lainnya, Kōga menghindarinya dengan melompat ke samping kemudian mereka berdua saling berhadapan.
"Sudah cukup, Kōga. Jadilah anjing yang baik dan kembalikan adikku!" ucap Yasaka dengan nada memerintah.
"Apa kau pikir aku akan mendengarkanmu?" tanya Kōga. "Aku belum kalah, kau tahu"
"Aku hanya membutuhkan satu serangan untuk mengalahkanmu"
Aura biru mulai keluar dari tubuh Yasaka. Kōga dan bawahannya yang tersisa menjadi teringat oleh kemarahannya saat terakhir kali mereka bertemu.
Pada awalnya, Kōga menjadi cemas karena aura biru milik Yasaka. Namun kemudian dia mendapatkan suatu ide dan tersenyum licik.
"Hei, apa yang kaulakukan?!" teriak Yukikaze ketika Kōga mengangkat tubuhnya ke depan sebagai penghalang antara dirinya dan Yasaka.
Tanpa diduga oleh Yasaka, Kōga menjadikan Yukikaze sebagai perisainya.
"Apakah kau akan menyerang adikmu sendiri, Yasaka?" tanya Kōga dengan senyuman liciknya.
Yasaka menyipitkan matanya dan menatap Kōga dengan tajam. 'Dia mungkin seorang bajingan, tapi dia tidak akan menjadikan Yukki sebagai korban. Bagaimanapun juga, pria ini tergila-gila kepadanya. Atau mungkinkah dia memang tahu aku tidak akan menyerang adikku?' pikir Yasaka.
"Brengsek, kau tidak tahu diri!" seru Yukikaze sambil meronta-ronta di genggaman Kōga.
"Tenang saja, Yukikaze. Dia tidak akan menyerangmu, aku dapat menjamin itu" bisik Kōga di dekat telinga gadis itu.
"Aku tahu itu, bodoh! Tentu saja Onee-chan tidak akan menyerangku!" balas Yukikaze.
Tiba-tiba aura biru di sekitar Yasaka membesar sehingga membuat suhu dingin desa Shimo berubah menjadi panas. Yang lainnya bahkan tidak percaya suhu di wilayah bersalju ini dapat berubah dengan cepat.
"Yukki…" entah mengapa panggilan lembut dari Yasaka membuat Yukikaze merasa merinding.
"Err… O-Onee-chan?" tanya Yukikaze dengan gugup.
"Kau sudah terbiasa menerima hukumanku, kan?" tanya balik Yasaka.
Dengan otaknya yang pintar, Yukikaze menyadari apa yang ingin dilakukan kakak perempuannya. Api biru muncul di kedua tangan Yasaka dan perlahan membesar.
"T-Tunggu dulu-"
Tanpa mendengarkan kata-kata dari Yukikaze, Yasaka melemparkan api biru dalam jumlah besar yang kemudian berubah bentuk menjadi seekor naga.
'Perempuan ini sudah gila!' teriak Kōga dalam hatinya.
Mengutamakan Yukikaze, Kōga melemparkan gadis itu jauh dari jangkauan naga api. Karena dia tahu tidak bisa menghindarinya, Kōga memutuskan untuk diam di tempatnya.
'Kena kau!' Yasaka merasa puas ketika api biru menelan musuhnya.
Tiba-tiba api biru yang menelan Kōga memudar dan terlihat beberapa ledakan listrik kecil di sekitar Kōga. Kōga tersenyum puas ketika dia melihat keterkejutan di raut wajah Yasaka.
Di tangan kanan pria itu, terdapat lima kuku berupa cakar terpasang di kelima jarinya dan masing-masing kuku cakar itu terhubung pada sebuah gelang besi oleh rantai. Gelang besi itu terpasang erat di tangannya.
"Yasaka, biar kutunjukkan padamu pusaka milik suku yōkai ōkami. Namanya adalah Goraishi (Lima Jari Petir)"
"Aku pernah mendengar bahwa yōkai ōkami memiliki sebuah pusaka, tapi aku tidak pernah menyangka itu adalah senjata rahasia kalian. Dari namanya, kutebak benda itu dapat memanipulasi petir"
"Bukannya memanipulasi, cakar ini hanya dapat menembakkan petir saja" ucap Kōga dengan penuh kebanggaan.
Yasaka sweatdrop saat mendengarnya. 'Seharusnya kau tidak mengatakan kekurangan senjata rahasia-mu, bodoh'
Kemudian Kōga mengulurkan tangannya ke arah Yasaka dan menyeringai. "Sekarang aku akan mengalahkanmu"
'Biasanya itu adalah apa yang dikatakan tokoh antagonis saat dia mengeluarkan kartu as-nya, lalu dia akan berakhir dengan kekalahan' batin Yasaka lagi.
Tembakan petir keluar dari cakar milik Kōga dan mengarah dengan cepat menuju Yasaka. Yasaka segera menciptakan bola api besar yang ditembakkannya untuk menghancurkan tembakan petir itu. Tapi dia terkejut sekali lagi karena tembakan petir menembus bola api dan terus melaju menujunya.
Yasaka melompat ke samping secepatnya dan dia hampir tidak berhasil menghindari tembakan dari Kōga.
"Kekuatan cakar ini lebih besar dari api biru milikmu!" ucap Kōga seraya berlari dengan kecepatan tinggi menuju Yasaka. Selagi berlari, dia menembakkan petir lainnya berulangkali.
Yasaka mulai berlari dari kejaran Kōga sambil terus menghindari tembakan-tembakannya. Tapi sayangnya Kōga yang merupakan ōkami memiliki kecepatan yang lebih tinggi darinya.
Melihat Kōga sudah mendekatinya, Yasaka berhenti dan kemudian melemparkan api biru ke arahnya. Kōga juga berhenti dan melenyapkan api biru itu dengan cara mengayunkan Goraishi.
"Sudah kubilang kekuatan cakar ini lebih besar dari api biru milikmu. Kau tidak bisa melakukan apapun kecuali lari atau disambar oleh petir dari cakar ini!"
"Kalau begitu…" aura biru muncul kembali di sekitar Yasaka dan perlahan membesar. Aura biru itupun berubah menjadi api yang membara. "Aku hanya perlu menggunakan api dengan jumlah yang lebih besar!"
Kobaran api itu terlalu besar sehingga menghasilkan uap panas karena menguapya salju di sekitar mereka.
"Seika Mekakyū"
Api biru menyembur secara meluas dalam jumlah besar. Kōga memasang kuda-kudanya dan berniat untuk mengayunkan Goraishi.
'Sial. Aku tidak bisa menghadapi intensitas api sebesar ini!' batin Kōga sebelum api itu menelannya.
Yasaka menghapus keringat yang bercucuran dari pelipisnya. Dia berkeringat bukan hanya karena lelah, tapi juga karena panas api birunya tadi. Sulit dipercaya seseorang dapat berkeringat di wilayah bersalju seperti Negara Beku.
Ketika api biru memudar, Yasaka yakin Kōga telah kalah. Keyakinannya terbukti benar saat dia melihat Kōga yang terbaring di dengan luka bakar di sekujur tubuhnya dan pakaiannya terkoyak-koyak. Salju tempatnya terbaring berubah menjadi hitam karena terbakar.
Kōga masih sadarkan diri dan Goraishi tampak baik-baik saja.
'Tidak kusangka dia dapat selamat dan masih sadar setelah menerima semburan api sebesar itu. Bahkan pusaka itu tidak terpengaruh oleh seranganku. Paling tidak, dia tidak dapat melakukan apapun sekarang'
"Onee-chan!"
Yasaka mengalihkan pandangannya kepada Yukikaze yang berlari menuju ke arahnya.
"Yukki!" kakak beradik itu saling berpelukan dengan erat. "Apa kau baik-baik saja? Dia tidak melakukan sesuatu yang aneh padamu, kan?"
"Aku baik-baik saja!" jawab Yukikaze dengan air mata keluar dari kedua matanya. "Tapi Naruto… Onee-chan, Naruto… dia, hiks… dia…"
"Aku tahu. Aku berjanji akan menyelamatkannya" ucap Yasaka dengan lembut. Meski begitu, Yukikaze masih tetap menangis di dalam pelukan kakaknya.
Di lain sisi, semua bawahan Kōga yang tersisa berkumpul di sekitarnya.
"Kōga-sama, b-bertahanlah! Kami akan menyembuhkanmu secepat mungkin!"
Kōga meringis kesakitan dan menghilangkan Goraishi dari tangannya. Dia menatap yōkai yang baru saja berbicara kepadanya. "A-Ambil… buku itu… buka… h-halaman 43"
Yōkai itu segera mengeluarkan sebuah buku. Buku itu berwarna hitam dan tampak kusut. Ada sebuah simbol berupa sembilan tomoe berwarna merah.
Yasaka tertegun ketika dia melihat buku itu.
'Kitab Mikaboshi!'
Bawahan Kōga membuka halaman yang dikatakan dan kemudian menaruh buku itu di samping Kōga. Kōga menggigit jari tangannya yang sulit digerakkan, kemudian dia menggoreskan darah itu pada sebuah simbol yang ada di halaman buku itu.
Kemudian Kōga mulai menggumamkan beberapa kata dengan bahasa yang asing. Yasaka melesat maju untuk menghentikannya, namun dia telah dihalangi oleh semua bawahan Kōga.
"Kuchiyose: Mitsukubi"
Tanah di sekitar mereka bergetar membuat semua orang waspada. Yasaka menyipitkan matanya pada Kōga yang tersenyum penuh kemenangan.
Poof!
Kepulan asap yang sangat besar dan tebal memenuhi tempat itu. Ketika kepulan asap itu menghilang, terlihat sosok makhluk berukuran raksasa. Makhluk itu adalah seekor serigala.
Mitsukubi adalah yōkai ōkami berkepala tiga yang berukuran sebesar gedung. Masing-masing kepalanya memiliki dua mata bersklera kuning dan pupil vertikal. Dia memiliki tiga ekor dan keempat kakinya dikelilingi api biru.
Mitsukubi menggeram dan menatap sekitarnya seperti predator.
"Groarrr!"
Auman keras darinya membuat semua bawahan Kōga dan Yukikaze menjadi gugup. Sementara Yasaka menatap waspada kepadanya.
Ketiga kepala dari yōkai tersebut menyemburkan api dalam jumlah besar ke arah semua orang. Yasaka langsung mengambil inisiatif untuk menghalau semburan api itu dengan api biru yang membentuk dinding.
Mitsukubi tampaknya geram karena menyadari serangannya dihalau dinding api milik Yasaka. Menetapkan gadis itu sebagai mangsanya, Mitsukubi berlari menuju ke arahnya. Yasaka langsung menciptakan bola api biru besar dan melemparkannya ke arah Mitsukubi.
"Seikakyū"
Serigala itu berlari menembus bola api biru milik Yasaka. Yasaka tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya, namun dia segera sadar dan memilih untuk melompat ke samping untuk menghindarinya.
Setelah serangannya meleset, Mitsukubi berhenti dan berbalik lalu kaki depannya menembakkan api biru ke arah Yasaka. Yasaka menangkisnya dengan api biru miliknya sendiri. Namun dia tidak mengantisipasi bahwa Mitsukubi akan menyemburkan api lagi dari mulut pada ketiga kepalanya.
Yasaka mencoba membentuk dinding api lagi untuk menghalau semburan dari Mitsukubi. Selagi Yasaka menahannya, Mitsukubi berlari ke arahnya dan kali ini serigala raksasa itu berhasil menendang tubuh Yasaka dengan salah satu kakinya.
Yasaka mencoba bangkit dengan susah payah. Dia sudah kelelahan dari pertarungannya dengan bawahan-bawahan Kōga dan Kōga sendiri sebelumnya. Tidak mungkin dia dapat menang melawan yōkai sekuat ini.
"Yukki!"
"Y-Ya?"
"Pergilah dari sini!"
"Apa? T-Tidak akan! Aku tidak akan meninggalkanmu sendirian di sini, onee-chan!"
"Tidak ada pilihan lain. Paling tidak kau harus selamat dari sini terlebih dahulu!"
"T-Tapi…"
Di saat Yasaka masih berbicara kepada Yukikaze, Mitsukubi melancarkan sebuah tembakan api biru dari kakinya. Yasaka segera melompat ke samping untuk menghindarinya. Namun karena tubuhnya yang kelelahan, dia jatuh berlutut di permukaan salju dan nafasnya terengah-engah.
Mitsukubi menggeram dan maju perlahan ke arah Yasaka. Serigala itupun menyemburkan api ke arah mangsanya.
Blarrrr!
Kobaran api itu menelan Yasaka. Namun tiba-tiba sesuatu terjadi. Muncul api biru yang perlahan menelan habis api milik Mitsukubi.
Saat itu juga, Yasaka dapat melihat Yukikaze yang berdiri di depannya dengan aura biru menyelimuti tubuhnya. "Yukki, kau…"
Yukikaze memberi kakaknya sebuah cengiran lebar. "Onee-chan, aku berhasil mengendalikannya! Api biru ini berhasil kugunakan!"
Yasaka pun tersenyum senang melihatnya. Namun dia berubah menjadi panik ketika Mitsukubi mengaum keras.
"Groarrrr!"
Serigala itu berusaha memakan Yukikaze. Yukikaze segera membentuk api biru untuk mengelilinginya.
Mitsukubi pun marah dan menghentakan kaki depannya ke arah Yukikaze. Gadis rubah itu melompat mundur lalu melemparkan bola api biru. Bola api itu mengenai salah satu kepala Mitsukubi namun serigala itu tampak tidak terpengaruh sedikitpun, dan hanya membuatnya bertambah marah.
Kaki Mitsukubi menendang Yukikaze lalu melemparkan api biru dari kaki yang lain. Yukikaze mendarat di atas permukaan salju setelah ditendang sehingga dia tidak dapat menghindari api biru dari Mitsukubi.
Mitsukubi mendekatinya lalu menginjak tubuhnya dengan salah satu kaki. Yukikaze kesakitan dan sulit bernafas ketika dia diinjak seperti itu, apalagi ada api biru yang mengelilingi kaki Mitsukubi.
Setelah itu selesai menginjak Yukikaze sampai gadis itu tidak berdaya, Mitsukubi mendekatkan ketiga kepalanya kepada Yukikaze dan membuka lebar mulutnya.
"Yukki!" Yasaka menciptakan api biru di kedua tangannya dan berniat mengalihkan pandangan Mitsukubi. Walaupun serangannya berhasil melukai kulit Mitsukubi, itu tidak membuat serigala itu mengalihkan pandangannya.
Api mulai terkumpul di ketiga mulut milik Mitsukubi dan siap untuk disemburkan. Kali ini Yukikaze tidak akan bisa melindungi dirinya sendiri.
Yasaka dengan tergesa-gesa berlari menuju ke arah mereka. Pada saat itulah, Mitsukubi mulai menyemburkan apinya.
"Tidak!"
Buagh!
Yasaka berhenti berlari. Situasi menjadi hening dan semua orang menatap apa yang terjadi dengan syok. Yukikaze juga tampak syok namun perlahan-lahan kedua matanya meneteskan air mata.
"Maafkan aku, Yukki-chan. Tapi jangan khawatir! Aku akan menyelamatkanmu dan Yasaka-neechan!"
Di depannya adalah sosok Naruto yang baru saja menyerang salah satu kepala Mitsukubi dengan sebuah Rasengan. Mitsukubi terpukul mundur dan meringis kesakitan karena kepalanya baru saja diserang dengan telak.
"Naruto!" seru Yukikaze dengan penuh kebahagiaan.
Tapi ada yang berbeda dari Naruto. Yukikaze tidak tahu apakah karena dia sudah sangat kelalahan sehingga berhalusinasi atau ini semacam kejahilan yang dilakukan temannya itu. Dia bisa melihat dua telinga rubah di atas kepala Naruto dan sebuah ekor rubah melambai-lambai di belakangnya. Telinga dan ekor itu berbulu emas.
"Naruto, telinga dan ekor itu…"
Naruto menatap ke belakang dan menyengir lebar kepada Yukikaze.
"Kau mungkin tidak akan mempercayai ini, tapi sekarang aku sudah menjadi sama sepertimu!"
Tidak salah lagi. Uzumaki Naruto telah berubah menjadi seorang yōkai kitsune.
To Be Continue
Chapter 4 selesai!
Horeee, akhirnya saya bisa meng-update fic ini! Saya merasa sangat lega bisa update chapter yang baru. Padalah saya sudah menyampaikan bahwa fic ini akan di-update paling lama satu atau dua minggu. Jadi, mohon maaf karena ini sudah satu bulan lebih.
Apakah kalian terkejut karena saya mengubah Naruto menjadi yōkai? Mungkin tidak semuanya. Mungkin ada yang sudah menebaknya setelah melihat judul fic ini atau karena alasan yang lain.
Saya mendapatkan reviews tentang Naruto yang dianggap lemah. Kalau harus jujur, saya sendiri kurang menyukai Naruto yang sebelum latihan bersama Jiraiya.
Ada juga yang mengatakan Naruto itu seharusnya kuat karena bisa melawan Kaguya dengan Kage Bunshin. Biar saya tekankan bahwa Naruto bisa melawan Kaguya karena dia sudah berpengalaman dan banyak latihan, berbeda dengan Naruto yang sekarang masih belum mendapatkan satupun latihan dengan benar (Kakashi hanya mengajarkan latihan berjalan di pohon, Jiraiya mengajarkan latihan berjalan di atas air, Kuchiyose, dan Rasengan).
Lalu seingat saya, Kaguya sama sekali tidak kepayahan melawan Naruto. Zetsu Hitam mengatakan Kaguya menjadi kelelahan karena menggunakan teknik Amenominaka dan Yomotsu Hiraska berulangkali untuk berpindah dimensi.
Alasan lain Naruto bisa kalah dengan mudah karena dia baru saja latihan keras bersama Yukikaze dan menjadi sangat lelah. Ditambah lagi, dia menghadapi bawahan-bawahan Kōga sebelum menghadapi Kōga yang merupakan yōkai ōkami. Ōkami adalah ras yang memiliki fisik di atas rata-rata, kecepatan melebihi ras lain termasuk kitsune, indera yang tajam, dan insting yang sangat besar yang bahkan diakui Yasaka di chapter 2.
Lalu ada beberapa reviewers yang mengira Naruto di sini adalah Naruto setelah perang dunia shinobi. Jawabannya adalah TIDAK. Naruto di sini adalah Naruto saat berusia 13 tahun di mana seharusnya dia sudah berlatih bersama Jiraiya di luar Konoha. Tapi di fic ini, Yasaka dan Yukikaze menemukan Naruto duluan.
Ada lagi yang bertanya apakah akan ada perang. Saya telah merencanakan terjadinya perang nanti, tapi berbeda jauh dengan yang ada di canon.
Terakhir adalah masalah words. Seperti yang pernah saya sampaikan, saya tidak akan terlalu fokus pada fic ini. Jadi bukan hanya waktu update, tapi words juga tidak akan banyak seperti fic yang satunya.
Saya berterimakasih karena readers telah meluangkan waktu membaca fic ini dan mohon maaf sebesar-besarnya jika ada kekurangan dari fic ini.
Sekian dari saya.
See you later. Arigatō!
