Brakh!
Suara geseran pintu yang keras membuat perhatian semua orang menuju dirinya. Lucy Heartfilia muncul di depan pintu, dengan mata tajam, nafas terengah, dilengkapi dengan keringat yang sudah mengucur di pelipisnya. Iris karamelnya mendelik kearah guru yang sedang mengajar. Seorang pria paruh baya meletakkan kapur di atas meja, mata emasnya menatap Lucy dengan pandangan menantang, sedangkan Lucy juga memandangnya tanpa sopan santun yang seharusnya diberikan oleh siswa kepadanya.
Tanpa peduli pada si sensei tua itu, Lucy berjalan dengan tenang menuju bangkunya. Namun hatinya masih bergejolak hebat.
"Berhenti."
Suara berat yang sudah amat dikenalnya itu terdengar, Lucy Heartfilia berbalik.
"Jelaskan, Miss Heartfilia."
"Jelaskan apa, Laxus-sensei?"
Entah mengapa semua murid disana sudah merasakan aura mengerikan yang dikeluarkan oleh guru super galak itu. Oh coba lihatlah, di dahinya saja sudah ada urat-urat yang berdenyut. "Kau terlambat 30 menit di kelasku. Bisa kau jelaskan itu padaku, Miss Heartfilia?"
"Tidak ada yang perlu dijelaskan," Lucy tersenyum, tapi sayang itu senyuman sinis, "Saya terlambat, semua orang tau itu. Dan biarkan saya duduk di bangku saya sekarang, sensei."
"Aku tak akan membiarkanmu sebelum kau menjelaskannya."
Pagi ini begitu cerah, bunga Sakura berguguran di lapangan Fairy Academy, burung-burung bernyanyi dengan riang sambil memutari gedung sekolah tersebut, tapi entahlah... di kelas 11-1 itu auranya begitu berbeda. Auranya begitu berat, sampai-sampai siswa siswi disana rasanya ingin mual.
Karena duo blonde ini saling bertatapan, menantang satu sama lain.
"Keluar."
Lucy mengacuhkannya, ia segera berbalik dan berjalan menuju bangkunya lagi. Berniat mengambil buku dan mendengarkan ocehan guru itu.
"Apa kau tuli, Miss Heartfilia?"
Langkah Lucy terhenti. Ia berbalik sambil tersenyum malas, "Terserah,"
Hampir semua murid kelas 11-1 memandangnya tak suka, bahkan ada yang saling berbisik sambil mendelik kearahnya. Tapi Lucy tak memerdulikan itu semua, ia segera berjalan keluar kelas, mengacuhkan Levy yang memanggilnya.
"Ssst, coba lihatlah, dia berani sekali melawan Laxus-sensei!"
"Heh, dia si Heartfilia itu? Katanya keluarga terhormat, tapi menghormati guru saja tidak bisa? Benar-benar cewek menyebalkan!"
"Cewek malang, tapi dia pantas mendapatkannya!"
"Huh, sok jagoan. Padahal hanya cewek tak tau diri saja, dasar..."
Semua olokan yang sengaja dibesar-besarkan itu terdengar jelas di telinga Lucy. Gadis itu membuka pintu, berjalan keluar kelas dan menutup pintu itu dengan bantingan. Membuat Erza, Juvia, dan Levy mengernyitkan alis.
Ada apa dengan sahabat mereka itu?
.
.
.
.
.
.
.
Fairy Tail by Hiro Mashima
Always by stillewolfie
Rated T
[ Natsu Dragneel and Lucy Heartfilia ]
Genre: Romance/Friendship
Warn: sengaja dibuat OOC, AU, typos, etc.
.
.
.
CHAPTER IV. Similarities and Differences
.
.
.
"Agh.. sakiiit..."
Tampak Natsu Dragneel sedang tidur terlentang, angin semilir menerbangkan helaian merah mudanya, namun wajahnya meringis kesakitan. Oh ya, kalau kalian melihat dari dekat, tampak ada sebuah bekas tamparan di sebelah pipi kirinya, dan ada sedikit luka di pipi kanannya.
Otak kosongnya mencoba mengingat kejadian beberapa menit yang lalu. Dimana ia menyatakan perasaannya kepada gadis berambut pirang dengan senyuman yang menurutnya menjijikkan, dan sedetik kemudian ia mendapatkan sebuah tamparan keras dari gadis itu. Belum lagi tinjunya yang cukup keras itu mengenai perutnya, sehingga Natsu terpental beberapa meter. Belum puas, si gadis pirang itu menduduki tubuhnya dan memukulnya keras-keras di area pipi dan kepala.
'Baka baka baka! Natsu no baka!'
Itulah yang dikatakannya, namun hinaan itu terus diingat oleh si lelaki berambut merah muda. Senyum lebarnya terpampang di wajahnya.
Meskipun Lucy Heartfilia langsung meninggalkan dirinya dalam keadaan mengenaskan, namun Natsu Dragneel tak dapat menghilangkan kebahagiaan yang meluap dalam dirinya.
Telinganya tidak salah. Ia mendengar langsung kalau Lucy telah memanggilnya dengan nama depan, bukan nama belakang.
Satu fakta lagi terungkap, Lucy Heartfilia adalah gadis yang menarik.
Natsu semakin melebarkan senyumnya.
~oOo~
"Tidak Laxus-sensei, tidak si bodoh itu... semua pria menyebalkan!"
Lucy Heartfilia berjalan dengan hentakan keras menuju halaman belakang sekolah. Ia malas berdiri di depan pintu kelasnya, menurutnya ia akan tampak sangat bodoh jika berdiri diam disitu. Gadis itu terkadang menggembungkan pipinya, menggeram, berdecak, mendecih, dan hal lainnya asal ia bisa menenangkan hatinya yang kini bergejolak.
Memang Lucy merasa bersalah pada Laxus-sensei tadi, sebenci-bencinya Lucy pada seorang guru, gadis itu tak mungkin akan menantangnya seperti tadi. Dia masih punya rasa sopan, dan gadis itu akan berniat meminta maaf setelah KBM selesai nanti.
Lucy duduk di bangku panjang. Ia mencoba menghela nafas dalam, mendinginkan kepalanya yang pusing serta hatinya yang gelisah. Setelah merasa tenang, gadis itu menatap langit. Memandang langit musim semi yang biru dan begitu cerah, membuat bibir itu melengkung keatas.
'Tapi aku sungguh jatuh hati padamu, Lucy Heartfilia.'
Wajah Lucy tiba-tiba memerah dengan alasan tak jelas, gadis itu menggeram kesal saat menyadari jantungnya berdegup kencang. Entahlah, hanya dengan perkataan itu membuat semua bagian tubuh Lucy terasa panas, termasuk wajahnya.
'A-Apa-apaan kau?'
Natsu tersenyum lebar, 'Kau mau jadi pacarku, kan?'
Bibir itu megerucut, meski rona merah itu tak lepas dari wajahnya.
'A-Ampun, Luce! Jangan marah-marah begitu!'
'Semua salahmu, Dragneel! Kenapa kau berkata seperti itu? Apa kau minta kubunuh, hah!?'
'Aduh! Luce, sak—LUCE!'
'Terima ini, ini dan ini! dasar bocah mesum!'
'A-Aku tidak-'
Tendangan, injakan, tamparan. Semua penyiksaan mengerikan itu dilakukan oleh Lucy kepada Natsu, yang hanya bisa pasrah sebagai korban hajaran dari Lucy Heartfilia. Dan tanpa meminta maaf, Lucy langsung pergi meninggalkan Natsu yang terkapar dengan wajah yang tidak berbentuk.
Sebaiknya Lucy meminta maaf juga pada Natsu.
Gadis itu menggelengkan kepala.
Mungkin tidak usah.
Lucy menghela nafas, dan mengeluarkan perlahan. Ia mencoba untuk menetralkan emosinya yang tiba-tiba naik. Rambutnya yang diikat satu jatuh secara alami di bahunya, serta poninya yang panjang menutupi sebagian matanya, yang kini memandang tanah rerumputan halaman dengan tatapan kosong.
'Baka baka baka! Natsu no baka!'
Dia... keceplosan.
Lucy memijat keningnya. Sepertinya orang itu sudah berpikir macam-macam ketika dirinya memanggil namanya dengan nama depan.
Hh... benar-benar menyebalkan.
.
.
.
.
.
.
.
"Lu-chan, ada masalah?"
Lucy dan teman-temannya sedang berjalan di lorong sekolah. Semua murid disana tak henti-hentinya melihat Lucy dengan pandangan menyebalkan, mereka berbisik sambil terkekeh, kemudian melemparkan pandangan meremehkan pada gadis si rambut pirang.
Tapi sayangnya Lucy mengacuhkannya.
"Dia cantik, tapi pembangkang. Haha!"
Grep!
"Bisa kau katakan lagi, Sawada-san?" Erza Scarlet berjalan menuju adik kelas mereka di kelas 10. Gadis itu memandangnya dengan tatapan membunuh, mengancam bocah itu supaya menutup mulutnya. "Bisa kau ulangi lagi, hm?"
Bocah yang dipanggil Sawada itu meringis saat Erza mencengkram tangannya, kemudian sedikit memelintirnya hingga adik kelas mereka itu berteriak. Erza menyeringai kejam, "Kalau kau mengatakannya lagi, kujamin tangan ini akan patah dalam sekejab, Sawada-san."
Sawada mengangguk, Erza segera melepaskan tangannya secara paksa.
Lucy menengok kearah Erza, yang sedang menatap tajam para segerombolan siswi di depan mereka, "Sudahlah, percuma kau lakukan itu, Erza."
Erza hanya diam saja, gadis berambut scarlet itu memimpin jalan mereka. Lucy yang tidak digubris pun hanya menghela nafas, sedangkan dua teman dibelakangnya saling tersenyum manis.
Sambil berjalan, semua siswa siswi Fairy Academy mendelik kearah mereka, menatapnya dengan emosi yang berbeda. Ada yang menyeringai, terkekeh, dan pandangan mengejek. Lucy yang merasa diperhatikan pun mencoba untuk menahan emosi. Gadis itu tak tau harus dilakukan jika tertangkap keadaan seperti ini.
Yang hanya bisa dia lakukan hanyalah diam, dan membiarkan hinaan cacian itu terlontar dari bibir mereka.
"Ne, Erza, kita mau kemana?" tanya Levy.
"Kita ke atap," ucap Erza seadannya.
Eh?
Langkah Lucy terhenti.
"Lucy-san, ada apa?" Juvia memberhentikan langkahnya, begitu juga dengan Levy dan Erza di depan mereka. Gadis itu menatap Erza dengan alis menekuk, "Apa maksudmu ke atap?"
"Makan siang," kata Erza, sambil mengangkat kotak bekalnya yang sedari tadi ada di tangannya, "Memang kenapa, Lucy?"
"Kenapa tidak di taman saja, seperti biasa?"
Erza terdiam, tiba-tiba pipinya memerah hebat. Dan hal itu membuat Lucy semakin curiga.
"Aha!" Levy memecahkan ketegangan diantara mereka, "Pasti pingin ketemu Jellal ya~?" Levy tertawa, ia menepuk bahu Erza yang semakin menegang, "Kenapa tidak jujur sih, Erza?"
"A-Aku.. sebenarnya, uhm.."
"Ah," tiba-tiba Juvia tersentak, 'Kalau Erza-san ingin bertemu dengan Jellal-san... berarti Gray-sama juga ada!?'
"Erza-san, Juvia ikut denganmu!" Juvia berkata dengan antusias, "Juvia tidak sabar untuk bertemu dengan Gray-sama!"
Mulai deh, fansgirling-nya...
"Kalau begitu kalian saja, aku malas kesana," kata Lucy, gadis itu sudah siap berbalik dan berjalan keluar gedung jika saja Levy tak menarik lengannya. "Ayolah, Lu-chan, kan kalau ramai makin seru!"
Juvia mengangguk cepat, "Juvia setuju dengan perkataan Levy-san!"
Lucy meringis.
Bukannya tidak mau atau apa, tadi masalahnya kalau mereka bergabung dengan geng Jellal, pasti dia akan bertemu dengan bocah itu lagi kan? Si Natsu Dragneel tak tau malu itu!? Lucy menggelengkan kepala, sambil mengibaskan kedua tangannya, ia berkata, "Kalian saja, aku diluar saja, tak apa kok.."
"Ayolah Lucy," Erza menepuk bahu Lucy dengan keras, "Ini juga bertujuan untuk mempererat hubunganmu dengan Natsu."
A-A-A-APA? sejak kapan mereka berhubungan!?
"Aku tidak mengerti," ia menepis tangan Erza kasar, "Apa maksudmu?"
Levy angkat bicara, "Kami semua tau kok kalau kau menyukai Natsu, Lu-chan!"
JEGER!
Bagaikan diserang petir di siang bolong, Lucy dapat merasakan ada hantaman tak kasat mata menghantam tubuhnya. Gadis itu tak bergerak, tubuhnya kaku, iris coklat itu melebar, mulutnya sedikit terbuka.
"Jadi, mau ya?" Levy menarik Lucy dengan paksa. Gadis pirang itu tak berkutik saat langkahnya terseret dipaksa oleh Levy. Ia diam tak berkutik, tubuhnya terlalu syok saat mendengar perkataan asing yang barusan dikatakan oleh Erza tadi.
~oOo~
"Kenapa kau mengundang mereka sih, Jellal? kita kan tidak bisa bersantai kalau begitu!"
"Oh ayolah Gray, aku tau kau senang kalau Juvia datang kemari."
"Ha? T-Tidak! siapa yang senang kalau gadis aneh itu datang? Bikin repot saja!"
"Fakta mengatakan lain di hati, lain di mulut. Jadi lebih baik kau diam dan tunggu mereka datang, baka."
"Kau mengatakan itu karena Levy ada bersama mereka kan, buruk rupa!?"
"Siapa yang kau bilang buruk rupa heh, pangeran boxer!?"
Jellal pun kembali menghela nafas saat Gajeel dan Gray kembali bertengkar.
Mata hitamnya menengok kearah Natsu, yang masih berdiam diri dan duduk disampingnya dengan manis. Pria bertato itu semakin tersenyum saat menyadari mata onyx itu tak lepas dari ambang pintu.
Pria itu pun terkekeh. Ia tidak menyangka orang seperti Natsu Dragneel bisa mengenal apa artinya cinta.
Ckrek..
Nah, itu mereka datang.
"Konbawa, minna!" Levy memasuki area atap, disusul oleh Juvia, kemudian Erza dan terakhir...
"Lucy-san, ayo masuk!"
Tak lama, gadis berambut pirang berjalan memasuki atap sekolah. Sepertinya mood Lucy tidak bagus, gadis itu melipat kedua tangannya di dada, wajahnya memandang para pria di depan mereka dengan pandangan tidak suka.
"Luce!" Natsu tersenyum lebar, Lucy menggeram, "Ayo, duduk sini!" Natsu menepuk lantai disebelahnya dengan suka cita.
"Jangan harap aku akan duduk disampingmu lagi, Dragneel." kata Lucy dengan dingin.
Dan senyuman Natsu semakin melebar, "Jangan begitu, ah!" laki-laki itu berdiri, lalu berjalan dan menarik lengan Lucy dengan paksa.
"H-Hei, lepaskan aku!" Lucy berteriak, ia mencoba menarik tangannya lagi, "Lepaskan aku, Dragneel!"
Hukum alam itu berlaku, dan salah satu hukum yang berkata laki-laki lebih kuat dibandingkan wanita itu berlaku. Sehingga sekarang Lucy sudah duduk disamping Natsu dengan wajah merengut, alisnya menekuk ke bawah, melirik Natsu yang sudah membuka bungkusan kue yang kemudian diolesi oleh saus tabasco yang cukup banyak.
"Mau?" Natsu menawarkan.
Lucy menatapnya dongkol, "Tidak."
Semua orang disana menatap dua insan itu sambil tersenyum. Entahlah, menurut mereka semua Lucy dan Natsu itu sudah ditakdirkan untuk bersama.
Haha. konyol..
Mereka memakan bento mereka masing-masing. Namun mereka terkadang tertawa-kecuali Lucy-melihat wajah Gray yang memerah akibat suapan Juvia yang tiba-tiba.
"Bagaimana? enak kan?"
"Uhm.." Gray mengunyah, wajahnya semakin memerah saat melihat mata biru itu semakin menatap lembut dirinya, "Y-Ya, lumayan."
Masing-masing pasangan saling mengobrol dan tertawa. Hanya Lucy dan Natsu yang sedang diam. Pria berambut merah muda itu tak terlalu memperhatikan teman-temannya yang sedang bercanda tawa di depannya, ia masih sibuk menikmati roti yang ada di tangannya. Sedangkan Lucy, gadis itu menatap mereka semua datar, dengan tatapan yang sulit diartikan.
'Tapi aku sungguh jatuh hati padamu, Lucy Heartfilia.'
'Kau mau jadi pacarku kan?'
Blush!
Tubuh Lucy menegang, pelipisnya sudah dihiasi oleh keringat dingin yang cukup banyak. Ia menunduk, mencoba untuk menyembunyikan rona merahnya yang muncul di kedua pipinya. Gadis itu menarik nafas dalam, kemudian mengeluarkannya perlahan.
Kenapa... perkataan itu sangat berefek untuknya?
Natsu—yang sedari tadi memperhatikan—menaikkan alis saat melihat gadis disampingnya menundukkan wajah sambil bergerak gelisah. Dan Natsu begitu yakin ia ada melihat dua rona merah yang terhias di kedua pipinya.
Pria itu menaikkan ujung bibirnya, atau bisa dibilang... seringai khas Natsu Dragneel.
Tanpa aba-aba, Natsu segera merangkul Lucy, sehingga gadis itu memekik dan menatap kaget dirinya. Lucy berdecak tak suka, "Apa maumu, Dragneel?"
Natsu-tanpa melunturkan cengirannya-menyentuh pipi Lucy yang merona, dan membuat Lucy terkejut bukan main, "Jangan malu begitu, bilang saja kalau kau menyukaiku, Luce!"
Aura hitam seketika keluar dari tubuh Lucy. Gadis pirang itu menatap tak percaya pria yang ada dihadapannya.
Berani sekali orang ini menyentuh pipinya!?
"Uhh, Natsu, lebih baik kau jangan lakukan itu..." Levy, yang sedari tadi mengobrol dengan Gajeel, dapat merasakan hawa membunuh yang berapi-api dari tubuh Lucy. Sebagai sahabatnya, ia tau seluk-beluk Lucy yang terpendam. "Ja-Jangan merangkulnya seperti itu..."
"He? Memang kenapa, Levy?" bukannya menuruti, Natsu malah mengeratkan rangkulannya pada Lucy, membuat gadis itu semakin mengeluarkan aura mengancam, yang sangat disadari oleh kedua gadis di depannya. "Ano, Natsu-san..." Juvia menggumam, namun ia urungkan.
"Lepaskan tanganmu."
Gulp. Juvia dan Levy menelan ludahnya. Mereka sudah tidak mau mencampuri urusan ini. Sudahlah, biar Natsu yang terkena imbasnya.
"Ha—kena-"
"Kubilang.. lepaskan."
Natsu menaikkan alis, bibirnya melengkung kebawah, kemudian ia menggeleng keras. "Kau kenapa sih, Luce? Kau ane-"
Buakh!
Erza tersenyum, Levy dan Juvia menghela nafas. Sedangkan ketiga pria disamping mereka terpana melihat salah satu teman mereka terpental ke udara.
"Luceee, kau kasar sekali~" Natsu terduduk, ia mengelus pipi dan punggungnya. "Kenapa kau hobi banget memukulku, sih!?"
Lucy memandangnya dengan tatapan bengis ditambah dengan senyum kesinisan yang amat sangat mengerikan. Bahkan lebih menakutkan daripada Erza! Perempuan pirang itu berdiri, menepuk pantatnya sebentar, kemudian beranjak pergi-meninggalkan teman-temannya serta preman-preman tak jelas itu disana.
Tanpa menghiraukan Natsu, tentunya.
"O-Oi, Luce!" Natsu berdiri dan berlari menuju Lucy yang sudah membuka pintu atap-
Blam!
"ADUH!" dan Natsu mencium pintu atap yang keras dengan manis.
~oOo~
Lucy menuruni tangga dengan tatapan datar, kemudian menatap lorong di depannya. Oh ya, saat ini dia sedang sendirian. Teman-temannya sedang berkencan di atap, bagi dirinya yang jones pun tidak terlalu mengurusi hal itu. Gadis itu mengarahkan dirinya ke perpustakaan, dimana letak tempat itu berada di lantai yang sama dengan lantai yang sedang ia pijak.
Tanpa menghiraukan tatapan aneh dari sang penjaga perpus, Lucy segera berjalan menuju rak-rak tinggi yang ada disana. Gadis itu mengelilingi, memutar, dan terkadang mengambil sebuah buku tebal dan dibaca secara singkat. Iris karamlenya dengan cepat membaca dan meneliti apa yang ia lihat saat itu.
Gadis itu kemudian berjalan ke rak tak terpakai, dimana rak itu berisi buku-buku tua yang sudah tidak digunakan lagi. Di tangan kirinya sudah ada dua buku tebal yang menjadi objeknya sekarang, dan pemikirannya mengatakan gadis itu harus memilih buku hiburan sebagai cuci matanya nanti.
Lucy menggeser bangku perpustakaan yang paling pojok, kemudian duduk disana dan membuka lembaran demi lembaran di salah satu buku tebal tersebut. Gadis itu pun mencoba menghela nafas, kemudian membuka halaman pertama dan mulai membacanya dengan teliti.
Strategi Kebut Semalam FISIKA SMA.
A. Besaran dan Satuan.
Wajah Lucy mulai serius, ia memahami setiap deret kata yang sudah tertempel di buku tersebut.
1. Besaran Pokok
Besaran yang satuannya telah ditentukan terlebih dahulu. Sedangkan dimensi merupakan cara menunjukkan bagaimana suatu besaran tersusun dari besaran-besaran pokok.
Gadis keturunan Heartfilia itu mulai membaca dan memahami satu tabel yang disediakan di bawah penjelasan tadi. Lucy membacanya dengan seksama.
2. Besaran Turunan
Besaran yang satuannya diturunkan dari besaran pokok. Contoh; percepatan satuannya a, gaya satuannya F, momentum satuannya p, energi/usaha satuannya dapat dibagi-bagi, yaitu; Ek, Ep, Em, dan W. Sedangkan daya adalah P.
Lucy mengangguk-ngangguk, ia bahkan tak sadar sudah ada seseorang yang menggeser bangku di depannya. Matanya terlalu fokus pada buku fisika di depannya.
3. Vektor
Vektor adalah besaran yang memiliki nilai dar arah, contoh; gaya, kecepatan, perpindahan, dan momentum.
Penggambaran Vektor;
Jika b adalah negatif, maka a sama dengan minus b...
Lucy mengernyit. Ia dapat merasakan hawa lain di sekitarnya.
Jika b adalah titik lurus, maka c sama dengan a tambah b...
Oke, instingnya yang tajam mulai mencium sesuatu yang ganjil.
a tambah b tambah c, maka akan dihasilkan rumus a tambah b, hmm...
Tangannya bergetar, wajahnya mengernyit. Kalau auranya perpus seperti ini dia jadi tidak bisa konsentrasi kan!?
Jika berbanding terbalik dengan segitiga sama sisi, maka c sama dengan a minus b...
Lucy mengadahkan kepala, ia terkejut bukan main saat mengetahui dan sadar kala Natsu sudah ada di depannya, bertopang dagu dan tersenyum lebar.
"Kau hebat ya, tahan dengan buku itu dalam waktu 20 menit."
Lucy mendengus, ia menekuni bukunya lagi sebelum berkata, "Aku bukan pemalas sepertimu."
Natsu mengangguk, ia tak terlalu peduli dengan cacian itu. Pria itu terdiam, Natsu menopang wajahnya dengan tangannya, iris onyx itu tak henti-hentinya memandang Lucy yang sedang membaca dengan raut wajah serius. Wajah pria itu memancarkan kehangatan.
Syukurlah kau baik-baik saja...
Meskipun Lucy sering menghajarnya, tapi pukulan itu memiliki arti yang berarti bagi Natsu. Menurut buku yang ia baca, seorang wanita tidak akan mengungkapkan perasaannya secara terang-terangan, mereka akan melakukan sesuatu yang tidak disangka oleh para pria yang mereka suka. Dan menurut Natsu, Lucy juga termasuk wanita dalam kategori tersebut.
Pria itu mencermati gadis di depannya dengan seksama. Dimulai dari rambut, wajah, kulit, mata hingga postur tubuh. Menurut Natsu, Lucy memiliki body aduhai yang sangat di impikan oleh para perempuan diluar sana. Otaknya juga cerdas, daya tangkapnya juga bagus. Rambut pirangnya tidak terlalu panjang, tapi tidak terlalu pendek juga, hmm.. pas deh untuk ukuran gadis seperti Lucy. Terus matanya. Yap, di mata Natsu, iris coklat itu adalah sebuah batu terindah yang pernah dilihat olehnya.
Natsu tersenyum, wajahnya merona tipis.
Wajah gadis itu... jujur, Lucy itu cantik, semuanya mengakui itu. Sampai-sampai Natsu dibuat jatuh cinta pada pandangan pertama.
Ia semakin tersenyum.
Gadis berambut pirang itu menaikkan wajahnya, kepalanya ia merengkan sedikit dengan alis terangkat. Lucy mengamati Natsu yang sedang menatapnya dengan senyam-senyum tak jelas, dilengkapi oleh rona tipis yang jarang sekali ia perlihatkan. Gadis itu memijit keningnya, orang di depannya benar-benar sulit ditebak.
Diam-diam, tanpa sadar Lucy mengamati Natsu yang melamun. Gadis itu mencermati pria berambut merah muda di depannya. Tanpa disadarinya, gadis itu jadi ikut-ikutan melamun.
Rambut Natsu Dragneel itu merah muda, jarang sekali orang-orang memiliki warna ini di rambut, apalagi pria. Namun gadis itu menyetujui kalau rambut norak itu sangat pas untuknya. Si Natsu Dragneel dengan rambut mencolok membuatnya terkenal di seantero sekolah, apalagi reputasinya sebagai berandalan, membuatnya semakin dikenal oleh banyak orang diluar sana. Postur tubuhnya bagus, pria itu tinggi, berisi, dan tidak akan pernah gemuk meski sudah berpuluh-puluh kali ia memakan makanan berlemak. Natsu itu bodoh, pria itu sangat lemot di bidang IPA maupun IPS, hanya di bidang olahraga saja ia sangat ahli dan menunjukkan dirinya yang sesungguhnya. Well, itu wajar saja karena pelajaran yang satu itu tidak memakai otak. Lalu, wajah Natsu Dragneel... itu cukup tampan. Oh ayolah, meskipun matanya sipit, tapi rahangnya yang tegas serta bibirnya yang tak pernah melunturkan senyuman itu membuatnya semakin keren!
"L-Luce, kenapa memandangiku seperti itu?"
Lucy tersentak, wajahnya dibuat sekesal mungkin meski terdapat rona merah di kedua pipinya, "Siapa yang melihatmu? Dasar narsis."
Natsu menyeringai, kemudian ia menekan hidung Lucy dan memencetnya, pria itu tertawa, "Kau itu tak mau jujur ya, Luce~!"
"Hei, lepas!" Lucy memegang lengan Natsu dengan kedua tangannya, mencoba melepaskan tangan Natsu yang jail memencet-mencet hidungnya, "J-Jangan, Dragneel!"
Mereka tiba-tiba terdiam. Natsu mengerjapkan matanya, Lucy mengernyitkan alisnya. Mereka saling bertatapan, dan tiba-tiba wajah Natsu memelas, bak kucing belum dikasih makan oleh majikannya. Wajahnya dibuat semakin lesu (pura-pura), membuat Lucy mendesah jijik, "Luce, bisa kau menghentikan segala formalitas itu? Lama-lama aku jengah tau!"
"Formalitas?" tanya Lucy dengan suara lucu, karena hidungnya masih ditekan-tekan oleh Natsu, "Apa maksudmu, Dragneel?"
Natsu tertawa gemas, ia semakin mengeratkan pencetannya di hidungnya Lucy, membuat gadis itu berteriak kencang dan memukul lengannya, "Hei, lepas! Aku jadi tak bisa bernafas!"
"Biar saja," Natsu tersenyum jail saat Lucy memelototinya, "Aku akan melepaskannya kalau kau berhenti memanggilku dengan nama margaku."
Lucy menggeram. Dalam hati, ingin rasanya ia meninju muka Natsu sekarang juga! Tapi karena mereka berdua sedang ada di perpustakaan, membuat Lucy mengurungkan niatnya dan membuang jauh-jauh dendamnya itu. Yah, daripada terkena detensi kan?
"Ne, Luce.. mau ya?" Natsu mengeluarkan puppy-eyes no jutsu-nya, pria itu mengerjap-ngerjapkan matanya agar Lucy terkena pesonanya, "Yaa~?"
"TIDAK." suara itu memang aneh, namun begitu ditekan oleh Lucy, "Memang kau siapa, huh? Aku tidak sudi memanggilmu dengan nama depan!"
Wajah Natsu merengut kesal, "Jadi ini balasanmu ya, padahal aku sudah capek-capek merawatmu kemarin. Tapi kau malah memarahiku begitu!"
"Aku tidak menyuruhmu untuk merawatku, baka!" kata Lucy dengan teriakan tertahan.
"Tapi kan rasanya nggak enak kalau kau memanggilku seperti itu, kita kan sudah dekat!"
"Aku tidak pernah menganggapmu dekat denganku, Dragneel! Lebih baik cepat lepaskan ini atau aku akan meninjumu sekarang juga!"
Natsu menggeram tertahan, dan itu membuat Lucy semakin berteriak karena Natsu mengecangkan pencetannya, "Kenapa kau selalu menolakku sih, apa salahku!?"
"K-Kau tidak ada salah apa-apa padaku!"
"Terus kenapa kau tidak mau memanggilku dengan nama asli!?"
"Karena aku rasa itu tidak penting!"
"Miss. Heartfilia, Mr. Dragneel! Bisa tidak kalian mengecilkan suara kalian yang menggelegar itu?" suara galak sang penjaga perpus menghentikan pergulatan mereka, cepat-cepat Lucy berdiri dan meminta maaf pada penjaga itu, sedangkan Natsu menatapnya dengan perasaan dongkol. "M-Maafkan kami, Mizuki-sensei!"
"Huh," wanita itu menaikkan kacamatanya, "Kalau mau berdebat, lebih baik jangan disini." katanya sambil berlalu pergi.
Natsu mendengus melihat kepergian guru mereka yang satu itu. Entahlah, Natsu membenci semua guru disini kecuali Happy-sensei yang mengajari di kelas 10. "Dasar nenek-nenek tua." gumamnya.
Lucy pun mendudukkan dirinya lagi, dan ia dapat bernafas lega saat pegangan Natsu sudah terlepas dari hidungnya. "Kau ini mau bikin aku mati ya?"
"Salahmu tidak menuruti permintaanku." kata Natsu kesal.
"Memang siapa kau sampai-sampai aku harus menuruti perintahmu?"
"Setidaknya beri aku alasan kenapa kau tidak memanggilku seperti yang lain," Natsu menopang wajahnya dengan tangan, ia memandang Lucy dengan tatapan serius.
Mulut Lucy sedikit terbuka, namun matanya menatap Natsu dengan sama seriusnya. Gadis itu menghela nafas, mencoba menetralkan jantungnya yang lagi-lagi berdetak kencang.
"... Sebenarnya," Lucy berdehem. Entahlah, ia dapat merasakan wajahnya memanas lagi, "Aku tidak peduli aku memanggilmu apa. Yang jelas nama pemiliknya adalah kau, Natsu Dragneel yang bodoh."
"Heh?" Natsu memiringkan wajah, tampak tak mengerti.
Lucy menepuk jidatnya, "Dengar," Lucy menunjuk Natsu dengan jari telunjuknya, "Aku tidak peduli aku memanggilmu apa. Karena yang kupanggil adalah kau, kau.. Natsu Dragneel, pria yang bodoh, keras kepala, berambut merah muda yang selalu mengikuti kemana pun aku pergi."
"Natsu Dragneel. Pria yang selalu menggodaku dan membuatku ingin cepat-cepat membunuhnya. Tapi pria itu juga yang selalu menemaniku setiap aku membutuhkan seseorang," di kalimat terakhir, wajah Natsu dan Lucy sama-sama memerah, "... J-Jadi, menurutku tidak masalah dengan nama. Karena itu adalah kau, Natsu Dragneel. Yang selalu ada setiap aku membutuhkan, yang selalu memaksakan kehendak, yang selalu membuatku marah jika dia membuat kesalahan."
Natsu terdiam. Mulutnya menganga.
"K-Kau mengerti kan?" Lucy meringis saat melihat ekspresi Natsu yang syok, "I-Itu hanya pendapatku saja. J-Jadi kesimpulannya, karena itu kau... Natsu Dragneel. Aku tidak memandang arti seseorang dari nama, tapi karena sifatnya yang sangat berpengaruh p-padaku. J-Jadi..."
"Kau menganggapku spesial, gitu ya?"
"Bu-Bukan!" Lucy memukul lengan Natsu, "Bukan itu maksudku!"
"Jadi apa?" tanya Natsu.
Lucy terdiam sesaat. Wajahnya sengaja ia tundukkan agar Natsu tak melihat wajahnya yang memalukan. Sedangkan Natsu, pria itu lagi salah tingkah, jadi wajar saja kalau saat ini ia mengalihkan pandangan sambil menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.
"Uhm, yah.." kata Natsu, ia menaikkan bahu sebentar. "Jadi itu alasannya ya?" kok jadi Natsu yang malu? "Kalau begitu sih... aku tidak keberatan kalau kau memanggilku Dragneel. C-Cuma.."
Lucy melirik Natsu, cuma apa?
"Aku ingin kau memanggilku, sebagai Natsu, bukan Dragneel." Natsu tersenyum kikuk, "Karena aku merasa kau bukan memanggilku... tapi ayahku."
Mata Lucy membulat.
"T-Tapi tak apa sih," Natsu terkekeh kecil, "Ini hanya nama, mungkin hanya aku yang berlebihan! Ya, kan.. eh, Luce?"
Lucy menatap Natsu dengan mata yang terkejut. Iris karamelnya menatap Natsu secara langsung.
Kenapa... Lucy jadi begitu bodoh?
Seharusnya ia tau, di dunia ini bukan hanya Natsu saja yang memiliki marga seperti itu. Seperti dirinya yang disandang dengan gelar terhormat sebagai Heartfilia Termuda. Ia kira Natsu itu berbeda, berbeda dalam hal seperti ini.
Tapi ia tidak menyangka kalau ternyata Natsu dan Lucy memiliki persamaan yang sama.
Natsu tidak suka dipanggil dengan nama belakang, karena ia merasa orang-orang melihat ayahnya, bukan dirinya. Sama seperti Lucy yang juga selalu diperlakukan seperti itu.
"M-Maafkan aku.." suara Lucy begitu menyesal, tanpa ia sadari, gadis itu mencicit, "Aku tidak bermaksud seperti itu."
Pasti menyakitkan kalau dianggap seperti itu, kan?
"Haha, sudahlah.." Natsu tertawa, namun tawanya seperti hambar di telinga Lucy, "Itu sudah terjadi. Jadi biarkan saja.. ya?"
Lucy tiba-tiba menggeleng cepat, Gadis itu mulai menegakkan tubuhnya, iris karamelnya menatap tajam iris onyx lelaki yang ada di depannya, Natsu pun menaikkan alis, "Kau kena-"
"Mulai hari ini, kau..." Lucy menunjuk pria itu tepat di batang hidungnya, "... adalah Natsu."
"E-E-Eeeh?" Natsu menaikkan kedua alisnya, bingung. "Maksudmu apa, sih? Ini aku memang Natsu!"
"Bukan, mulai saat ini aku akan memanggilmu Natsu, dan kau memanggilku Lucy." ucap Lucy datar.
Natsu pun mengerjap kaget, ia melongo tak percaya dengan perkataan Lucy barusan. Ada angin apa sampai-sampai Lucy begitu baik padanya siang ini? apa ada yang meracuni makanannya tadi pagi?
"Yah, terserahmu sajalah.." kata Natsu seadanya. Jujur saja, dia terlalu syok! "Terus, tadi pagi..."
"Hm?"
Natus menatap iris karamel Lucy. Dan tiba-tiba wajah Lucy memerah lagi ketika melihat pandangan Natsu tak lepas dari dirinya. Namun pandangan itu begitu sendu, seolah mengharapkan sesuatu.
"Jawabanmu... atas perasaanku.. apa, Luce?"
Bahu gadis itu menegang, tubuhnya kaku, matanya mengerjap kaget. Ia tidak menyangka akan ditagih secepat ini!
Ia masih ingat. Ya, jelas ingat. Dimana akibat itu masih terlintas di otaknya sehingga ia bisa berani menentang Laxus-sensei tadi pagi. Gadis meneguk ludahnya.
Jantungnya berdegup cepat.
"A-Aku..." Lucy menundukkan wajah, "Aku tak tau..."
"Jadi begitu," Natsu tersenyum, "Aku ngerti kok. Mungkin butuh lama untukmu supaya memikirkannya."
Lucy tersenyum kecil.
Gadis itu tersentak saat merasakan ada pergerakan orang di depannya. Lucy terkejut bukan main saat tangan Natsu menangkup kedua pipinya. Wajah Natsu begitu cepat, sampai-sampai membuat Lucy sulit akan bernafas.
Natsu semakin mendekatkan wajahnya kearah Lucy, sehingga gadis itu dapat menghirup udara yang sama dengan orang di depannya...
Cup..
Badan Lucy membeku.
Ciuman polos itu berhenti di pipi. Natsu menciumnya... Natsu menciumnya! Apa-apaan? Kenapa tubuhnya tak langsung bergerak? Kenapa dirinya diam saja!?
Kecupan singkat itu terlepas begitu saja. Natsu segera memundurkan tubuhnya dan berdiri tegap. Ia nyengir seperti biasa, "Akan kujemput kau nanti, jaa!"
Natsu berjalan keluar perpustakaan dengan perasaan berbunga-bunga. Dia mendapatkannya, ya! mendapatkannya! akhirnya setelah sekian lama ia menunggu... Natsu akhirnya diberi kesempatan untuk menciumnya!
Meskipun ciuman di pipi... tapi tak masalah, kan?
Sedangkan si gadis berambut pirang hanya melongo tak percaya. Tubuhnya terasa lemas sekarang, ingin rasanya ia berteriak kencang dan bertanya pada orang-orang apa yang sedang terjadi pada dirinya. Kenapa dia tidak mencegah... kenapa dia tidak mencegah Natsu tadi saat pria itu menciumnya!?
Bisa saja kan.. Lucy menampar, a-atau menendang pria itu sampai terlempar. Persetan dengan perpustakaan, t-t-tapi ini..
Lucy merasa kosong. Ia dapat merasakan raganya mulai keluar dari tubuhnya.
'Kami-sama..' Lucy menutupi wajahnya dengan kedua tangan, 'Apa yang terjadi padaku..?'
Dan ia semakin dibuat kaget ketika mengingat ucapan Natsu yang terakhir. Pria itu akan menjemputnya!?
Lucy berharap ia terbang sekarang juga.
.
.
TO BE CONTINUED
.
.
Haaii minna! Apa kabar nih? Baik dong! hahaha xD
Pasti semuanya pada kaget ya, kenapa aku update cepet? wkwk, ini cuma kuanggap sebagai perayaan kalau Jellal gak mati! JELLAL GAK MATI SODARA2! hiks hiks hiks. *ngelap ingus*
Hueee, kemaren tu saya udah kejeng-kejeng liat chap 368 yang di page terakhirnya.. dasar Zero sialan! berani banget sma mantan gue si Jellal! Eh, tapi sayangnya Jellal gak bisa liat lagi ya...? ./. ah, tpi gak papa ding! pokoknya aku seneng Jellal gak mati! buahahahha ahahhaa hahhaa :v
Siip. Thanks for all reviews minna! Aku sueneeeengg banget liat respon positif kalian. update cepet gini juga karna kalian loh! dan aku juga meminta maaf karena gak bisa bales satu-satu. uuhh.. maaf ya. :'(
tapi pokoknya makasih makasiiiihh banget yang udah read & review fict ini dari awal mpe sekarang, kudoakan kalian dapat jodoh yang cocok. :D #heh
.
.
Yak, bagi yang mengharapkan konflik, tenang-tenang semuanya. Konflik sudah disiapkan, tinggal nunggu keluar aja. karna aku pengen banget bikin Lucy galau karna perasaannya tu gak jelas ke Natsu. Baru deh, setelah mereka offical, bakal ada masalah yang muncul. ;) #wink
En seperti biasa, sorry buat typos. saya udah ngecek tadi, cuma saya gak tau ada yang salah atau sudah bener semua. maklum ya minna, mata saya terpleset. :) (?)
Terus kalo ada yang kepo tentang fict ini smpe chap berapa, kayaknya bakal belasan, tapi gak sampe puluhan. oke? :D
.
.
So, reviews minna? Thanks. :)
