Disclaimer: Masashi Kishimoto Warning: Canon, OOC, Typo, Alur Cepat, Sedikit Lime Maybe, Ending Chapter, dll Rated T semi M .

.
Heart of The Sand Chapter 4 "Body and Love"

.

Kankurou senyum-senyum sendiri melihat adiknya yang sedang membaca laporan di meja kerjanya "Jadi, kalian sudah melakukannya?" tanya Kankurou.

Perkembangannya bagus sekali, Hinata bisa membuat Gaara normal secepat ini. Kankurou tidak menceritakan kepada Gaara kalau dia meminta bantuan Hinata untuk membuat Gaara menjadi normal, hanya satu hal ini yang dirahasiakan oleh Kankurou dari Gaara.

Kankurou selalu menanyakan perkembangan pernikahan Gaara kepada Gaara sendiri ataupun Hinata. Kalau Hinata secara panjang lebar bercerita, Gaara sebaliknya. Dia hanya menjawab "Begitulah, dia melakukannya dengan baik." Pernah sekali Kankurou bertanya "Melakukannya dengan baik itu bagaimana?" Karena Kankurou tahu adiknya itu tidak akan menjawab panjang lebar. Makanya dia bertanya yang lebih spesifik "Mengerjakan pekerjaan rumah? Melayani di ranjang?" Kankurou terlalu frontal.

"Itu,...kami belum melakukannya." Gaara terlalu jujur pada Kankurou.

Waktu itu Kankurou memarahi Gaara, sampai kapan Gaara akan seperti itu. Kankurou tahu Gaara mencintai Naruto, apa tidak sedikitpun tertarik pada Hinata yang seorang wanita. Gaara hanya terdiam saja waktu itu.

Makanya Kankurou menanyakan perihal Gaara sudah berhubungan suami istri belum dengan Hinata karena apa yang dilihatnya di goa di dekat Desa Air. Kankurou sangat penasaran karena melihat posisi dan keadaan Gaara-Hinata saat itu.

Namun jawaban Gaara membuat Kankurou jadi sedikit kecewa "Tidak, aku hanya menyelamatkannya. Dia hampir mati kedinginan."

Kankurou mendesah kecewa, adiknya ini benar-benar!

Tapi ya sudahlah, yang penting setidaknya ada perkembangan antara hubungan mereka. Kankurou mengusap dadanya berulang-ulang dan berkata dalam hati "Sabar! Sabar!"

.

Hinata memakai handuk putih sampai sebatas dadanya dan handuk itu mencapai sebatas pertengahan pahanya. Hinata baru saja selesai mandi. Hinata teringat kejadian di Desa Air, dia yang menggigil kedinginan dan tidak sadarkan diri. Sejujurnya saat itu walaupun mata Hinata tidak mau terbuka karena kondisi tubuhnya, tapi dia merasakan saat Gaara membuka seluruh pakaiannya. Saat itu Hinata tidak mampu berkata-kata, dia begitu lemas. Kemudian Gaara memakaikan pakaian atasannya ke tubuh Hinata. Merasakan kehangatan Gaara saat memeluknya dan menggosok-gosok telapak tangan dan bahu Hinata.

Saat terbangun pada pagi hari, Hinata kira apa yang terjadi padanya adalah mimpi. Tapi saat melihat keadaan mereka di pagi hari, ternyata itu bukan mimpi. Aduh Hinata malu sekali rasanya, tapi dia berusaha untuk bersikap biasa-biasa saja. Walaupun saat kembali ke rumah, Hinata berterima kasih kepada Gaara karena telah menyelamatkannya dan direspon hanya dengan kata "Hn" saja.

Hinata menepuk-nepuk pipinya, untuk mengurangi rasa malu atas kejadian itu, baru dia menyadari kalau dia lupa membawa pakaian baru untuk dipakainya setelah mandi. Karena kamar mandinya menyatu dengan kamar, sementara di tempat tidur masih ada Gaara yang belum bangun dari tidurnya, Hinata berharap Gaara belum bangun. Jadi dia bisa keluar hanya dengan memakai handuk seperti ini.

Tapi harapan Hinata hanyalah tinggal harapan, karena saat dia keluar dari kamar mandi, Gaara sudah terduduk di tempat tidur mereka. Hinata terkejut, kenapa sih dia sudah bangun?

Hinata jadi mematung di tempat, tidak bergerak. Hinata sangat malu, dia tahu sebelumnya saat kejadian di goa itu Gaara sudah melihat tubuhnya, semuanya. Walaupun Gaara menyukai laki-laki, tapi tetap saja Hinata malu, walau bagaimanapun Gaara adalah laki-laki.

Gaara juga tidak melepaskan pandangannya dari tubuh Hinata, jadenya bergerak dari atas hingga ke bawah tubuh Hinata. Sekarang Hinata memakai handuk, tapi Gaara sudah melihat apa yang ada di balik handuk Hinata. Jujur, sekarang jantung Gaara berdebar begitu kencang.

Saat di goa, Gaara baru pertama kali melihat tubuh polos seorang perempuan yaitu Hinata. Sedikit merasa berdebar, hanya saja perasaan panik lebih mendominasi. Panik harus bertindak cepat untuk menyelamatkan Hinata. Tapi saat ini, mereka tidak dalam keadaan yang membuat panik seperti kejadian di goa. Lalu, Hinata juga tidak polos sepenuhnya tapi kenapa debaran jantung Gaara terasa lebih kencang.

Wajah Hinata memerah, dia malu ditatap seperti itu. Baru kali ini Gaara bertingkah seperti ini. Hinata mengalihkan keadaan ini dengan berkata "Gaara, mandilah! Aku akan menyiapkan sarapan."

Hinata melenggang pergi menuju lemari, padahal Hinata malu tapi dia berusaha menutupinya. Gaara hanya menanggapi "Hn" dan menuju kamar mandi.

Setelah Gaara menutup pintu kamar mandi, Hinata menarik napas lega. Ah ini memalukan sekali.

.

Walaupun sangat malu, Hinata tidak lupa memberikan kecupan kepada bibir Gaara di pagi hari. Namun hari ini ada yang berbeda, tengkuknya ditarik, Gaara yang menariknya. Kecupan itu tidak terlepas, karena Gaara yang justru memberikan beberapa kecupan kepada bibir Hinata. Lavender Hinata membulat, Gaara tidak pernah seperti ini sebelumnya. Bahkan sekarang melumat bibir Hinata berulang kali dengan lembut.

Hinata menutup matanya, bukankah ini sebuah kemajuan dari Gaara setidaknya membuktikan kalau dia mulai tertarik kepada perempuan. Hinata tidak boleh protes, cukup menikmatinya saja. Tidak lama setelah itu, Gaara melepaskan ciumannya.

"Aku berangkat" ucap Gaara.

Gaara bersikap seolah biasa saja seperti tidak ada yang terjadi meninggalkan Hinata yang mematung. Tapi Gaara berbalik dan berkata "Mau berangkat bersama?" dia bertanya kepada Hinata.

Pertanyaan itu membuat Hinata tersadar dari keterkejutannya, biasanya Gaara berangkat duluan. Hinata akan membereskan rumah dahulu, baru nanti berangkat kerja. "Tapi aku mau membereskan ini dulu. Tunggulah sebentar!" Hinata mulai bergerak membereskan bekas sarapan mereka. Ah bodohnya Hinata, kenapa dia menyuruh Gaara menunggunya. Gaara tidak suka membuang waktu.

Tapi Gaara menunggunya, dia duduk di meja makan. Hinata ingin berangkat ke Kantor Kage dengan Gaara.

Gaara menyadari sikapnya mulai aneh terhadap Hinata, istrinya itu tidak mondar-mandir di hadapannya tapi mondar-mandir di pikirannya.
Bahkan malam ini, Gaara menatap wajah Hinata yang tidur di sampingnya. Gaara ingin menyentuh wajah Hinata, namun ada sedikit keraguan. Takut tidur Hinata terganggu oleh gerakannya. Tapi sejurus kemudian, Gaara menyentuh pelan pipi Hinata dengan telunjuknya kemudian pindah ke hidung dan bibirnya. Gaara tersenyum tipis.

.

Hinata sudah bersiap tidur, saat Gaara baru saja keluar dari kamar mandi dengan pakaian santainya kaos hitam dan celana panjang hitam.

Gaara menghampiri tempat tidur dan mendudukkan dirinya. Hinata merasa aneh dengan sikap Gaara baru-baru ini, yaitu pada saat Gaara melumat bibirnya. Kemudian saat Gaara menatapnya intens saat Hinata hanya memakai handuk. Mungkinkah Gaara sudah tertarik pada wanita?

"Gaara?" Hinata memanggilnya pelan.

"Hn"

"Apa kau mulai tertarik pada wanita? Ehm secara fisik?" tanya Hinata penasaran.

Gaara menjawab datar "Tidak"

Hinata menatap Gaara curiga dan muncul rona merah di wajah Hinata "Ta, tapi ciuman waktu itu."

"Tidak" respon Gaara lagi.

Hinata pikir apa sikap Gaara baru-baru ini hanya mempermainkannya. Gaara adalah tipe orang yang selalu menunjukkan dengan tindakan, bukan dengan kata-kata. Jadi kemungkinan Gaara mempermainkannya, walaupun itu hanya kemungkinan.

"Kalau begitu, buktikan!" Hinata menantang Gaara, namun Gaara berkata "Apa maksudmu?"

Hinata butuh keberanian yang sangat besar untuk mengatakannya "Cium aku, lebih dari waktu itu."

Gaara tidak mengerti dengan jalan pikiran istrinya itu, "Untuk apa?"

Hinata tahu ini konyol "Kalau kau tidak tertarik kepada wanita, kau tidak akan terangsang karena ciuman itu." Hinata benar-benar frontal sekarang. Ternyata keberaniannya bukan hanya sebagai ninja tapi juga hal seperti ini.

"Tidurlah, hentikan omong kosong ini." ucap Gaara

Tapi tindakan Hinata selanjutnya membuat Gaara terdiam, Hinata menempelkan bibirnya pada bibir Gaara. Bukan ciuman cepat yang Hinata berikan seperti biasanya, tapi Hinata meniru apa yang Gaara lakukan sebelumnya. Mengecup bibir Gaara dan melumatnya perlahan. Ini benar-benar bukan karakter Hinata.

Lama-kelamaan, Gaara menggerakkan bibirnya dan berubah memimpin dalam ciuman itu. Bahkan ciuman mereka menjadi lebih dalam, Hinata mengalungkan tangannya ke leher Gaara. Gaara memeluk pinggang Hinata, sementara sebelah tangannya lagi menekan tengkuk Hinata untuk lebih memperdalam ciumannya.

Saat ciuman itu terlepas, napas mereka terengah. Hinata mencoba menatap Gaara "Benarkan, kau sudah tertarik kepada wanita?"
Gaara mendorong Hinata, membuat Hinata berbaring di bawahnya "Tidak" jawaban Gaara yang masih bersi kukuh mengelak. Namun sikapnya berbanding terbalik dengan perkataannya.

Dari awal Gaara terlalu gengsi untuk mengatakan bahwa dia mulai tertarik kepada Hinata. Napas Gaara memburu dan menatap intens kepada Hinata. Menciumnya kembali dan sekarang menggunakan lidahnya untuk ikut serta.

Sekalipun tindakan mereka sudah pada tahap Gaara mencium leher Hinata, tetap saat Hinata menanyakan pertanyaan yang sama, Gaara tetap menjawab "Tidak."

Malam itu Hinata membiarkan Gaara menyentuhnya, mengambil haknya. Gaara selalu menyangkal kalau dia sudah mulai tertarik kepada perempuan, saat melakukannya Gaara selalu berkata salahkan nafsunya.

Gaara menarik selimut lebih ke atas tubuh Hinata, memeluk Hinata. Hinata tersenyum "Aku benar kan?" dengan ekspresi wajah yang lelah. Gaara mengeratkan pelukannya "Hn, tidurlah!"

Tadinya Gaara takut kalau dalam kegiatan mereka, akan ada antara Gaara atau Hinata yang menyebut nama Naruto dalam desahan mereka. Nyatanya tidak sama sekali, nyatanya mereka hanya menyebut nama pasangannya. Pada akhirnya Gaara mengakui kalau dia memang sudah tertarik kepada perempuan. Bukan, lebih tepatnya perempuan bernama Hinata, istrinya.

.

Kankurou tidak habis pikir kenapa adiknya yang biasanya tepat waktu itu datang ke Kantor Kage, kini sudah telat 2 jam. Apa terjadi sesuatu?

Maka dari itu dia mendatangi rumah Gaara, namun saat diketuk pintunya dan dipanggil-panggil tetap tidak ada yang menyahut. Kemana Gaara dan adik iparnya itu?

Untung Kankurou punya kunci cadangan rumah Gaara, dia membuka pintu rumah Gaara. Memanggil-manggil Gaara dan Hinata, namun tidak ada jawaban. Sampai dia ada di depan pintu kamar Gaara dan Hinata.

Dia membuka pintu itu, "Gaara kau di dalam kan?"
Betapa terkejutnya Kankurou melihat keadaan adiknya. Ini seperti de zavu saat di goa, namun ini terlihat lebih dari itu. Pemandangan Gaara dan Hinata yang sepertinya bertubuh polos di balik selimut merah mereka.

Gaara terbangun dan melihat Kankurou di depan pintu yang sedang mematung. Hinata yang juga terbangun, sangat terkejut melihat Kankurou "Ka, Kakak Ipar" Hinata segera menutup selimut sampai ke kepalanya dan bersembunyi di balik punggung Gaara.

Aduh kenapa harus selalu seperti ini sih?

Desah Gaara dan Hinata di dalam hati mereka.

.

"Jadi, kalian sudah melakukannya?"

Pertanyaan yang sama yang diucapkan oleh Kankurou kepada Gaara. Gaara yang sedang memeriksa laporan, hanya mengangguk dan berkata "Hn".

Setidaknya Gaara selalu jujur pada Kankurou. Ah ini luar biasa, akhirnya adiknya itu normal.

"Jadi, semalam berapa ronde?" aduh tidak usah menanyakan hal seperti itu juga, tadinya Kankurou hanya berniat menggoda Gaara. "Dua" dan Gaara bahkan terlalu jujur. Kankurou menepuk dahinya, adiknya ini terkadang membuatnya frustasi karena sikap dan perkataannya yang terlalu frontal. Tidak bisa diajak bercanda.

Tapi yang penting, Gaara sudah menjadi normal. Kankurou harus berterima kasih kepada Hinata.

.

Saat Kankurou bertemu dengan Hinata di perpustakaan dan mengucapkan terima kasih karena telah membantunya membuat adiknya jatuh cinta.

Namun mereka tidak tahu kalau Gaara saat itu mendengarnya, Gaara yang akan mendatangi Hinata tapi justru mendengar hal itu.
Di rumah saat Gaara dan Hinata pulang kerja, Gaara menanyakan apa benar Kankurou meminta bantuan Hinata untuk membuatnya jatuh cinta kepada Hinata. Jadi, selama ini yang Hinata lakukan adalah permintaan kakaknya, bukan atas keinginan Hinata sendiri.

Hinata terkejut tapi dia kemudian mengangguk menjawab pertanyaan Gaara.

Gaara kecewa, sekarang saat perasaan itu mulai tumbuh tapi dihempaskan begitu saja.

Gaara berkata dalam hatinya, apa yang kau harapkan Gaara? Bukannya kau sudah tahu dari awal Hinata hanya menyukai Naruto?
"Lalu bagaimana sekarang?"

Hinata mengangkat wajahnya "Bagaimana perasaanmu padaku?" Gaara masih berharap.

Hinata bingung harus menjawab apa "A-aku, tidak tahu." Hinata menangis. Gaara melenggang pergi ke kamarnya, meninggalkan Hinata.
Gaara belum mendengar semuanya, tapi sudah pergi begitu saja. Hinata baru akan mengatakan kalau ya memang Hinata tidak tahu apa yang dia rasakan kepada Gaara. Hanya saja, sekarang dia sudah mulai terbiasa dengan Gaara, selalu mengingat Gaara, selalu khawatir kepada Gaara, dan selalu ingin bertemu dengannya.

.

Memang Hinata berhasil dalam sebulan bisa membuat Gaara tertarik padanya, bahkan mulai mencintainya. Tapi Gaara mendiamkannya setelah mengetahui fakta bahwa Hinata bukan atas keinginannya sendiri melakukan itu semua. Gaara marah dan kecewa. Karena mungkin saja perasaannya bertepuk sebelah tangan.

Gaara sudah cukup merasa tersiksa karena menjadi tidak normal dengan mencintai seorang laki-laki, tapi saat dia sudah menjadi normal dan mencintai istrinya, Hinata menghempaskannya.

Gaara sering pulang larut malam dan malam ini Hinata menunggunya, mereka perlu bicara. Saat Gaara pulang, dia melihat Hinata di ruang tengah. Gaara akan melenggang masuk kamar mandi tapi Hinata menahan dengan kata-katanya "Sebenarnya apa yang membuatmu marah?"

Gaara menutup jadenya berusaha menenangkan dirinya, dia mulai menjawab tanpa menoleh kepada Hinata "Kau mempermainkanku."
"Tapi,..." Hinata baru akan memberi penjelasan tapi Gaara menyela dan membalikkan badannya menghadap Hinata "Aku mencintaimu, Bodoh! Tapi kau ternyata hanya mempermainkanku."

Hinata hanya menunduk dan mulai terisak, Gaara tidak tahan dan dia segera berjalan pergi meninggalkan Hinata.
Tapi dia merasakan tubuhnya ditubruk secara tiba-tiba dan ada yang melingkarkan tangan di perutnya, pelakunya adalah Hinata.

"Dengarkan dulu,..." Hinata berusaha menjelaskan "awalnya aku hanya berniat membantumu menjadi normal. Tapi aku mulai selalu memikirkanmu, mengkhawatirkanmu, dan ingin selalu berada di dekatmu." Hinata mengeratkan pelukannya.

"Sungguh, aku tidak bohong. Percayalah. Aku tidak bermaksud mempermainkanmu."

Gaara melepaskan tangan Hinata yang memeluknya dan membalikkan badannya, menatap lavender Hinata yang basah akan air mata. "Benarkah? Itu artinya kau mencintaiku?" tanya Gaara datar namun syarat akan emosi.

Hinata mengangguk cepat.

Gaara memeluknya, akhirnya cintanya terbalas.

.

3 Bulan kemudian,...

Hinata menghampiri Gaara di kantornya, dia masih bekerja di Kantor Kage namun tugasnya berganti menjadi pengantar arsip dari perpustakaan, sejujurnya itu perintah Gaara agar Gaara lebih sering melihatnya.

Hinata mengantarkan arsip-arsip yang dipegangnya dan menaruhnya di meja Gaara.

"Aku dengar Naruto dan tim 7 akan ke Suna ya untuk misi?" tanya Hinata.

"Hn, kenapa?"

Hinata takut Gaara akan tergoda dan jatuh cinta lagi pada Naruto, Hinata takut perasaan Gaara akan berubah lagi. "Jangan terlalu dekat dengan Naruto!" Hinata menunjukkan rasa cemburunya. Bukankah mereka pasangan yang aneh, cemburu justru pada laki-laki.

"Kalau begitu kau juga jangan dekat-dekat dengannya!" Gaara diam-diam tersenyum tipis.

"Aku akan bersikap sewajarnya ko. Gaara, aku kan hanya,.." Hinata tersipu malu "mencintaimu." Gaara tersenyum tipis "Tapi mungkin aku akan tergoda oleh Naruto, dia manis." Gaara menggoda Hinata. Gaara jadi sering menggoda Hinata sekarang. Ini menyenangkan.

Hinata cemberut. "Gaara, kau lupa, aku sedang mengandung anakmu."
Anehnya Hinata selalu menganggap candaan Gaara adalah hal yang serius. Gaara tahu itu saat beberapa hari yang lalu Hinata pingsan dan Gaara khawatir setengah mati. Hinata selalu saja membuatnya khawatir, tapi kabar berikutnya yang mengatakan kalau Hinata sedang hamil dua bulan, Gaara sangat bahagia.

"Jangan coba-coba melakukan itu!" Hinata mulai tegas sekarang.

Gaara menarik lengan Hinata dan membuat Hinata jatuh terduduk di pangkuan Gaara, Gaara membisikkan sesuatu di telinga Hinata "Mana mungkin aku tergoda, kau jauh lebih manis darinya."

Hinata tersipu malu, kata-kata berikutnya yang Gaara bisikkan di telinganya membuat Hinata memeluknya "Aku mencintaimu" bisik Gaara.
Gaara membalas pelukan Hinata dan berkata dalam hati, 'Sejujurnya, aku berterima kasih kepadamu, Kankurou"

Kalau bukan karena Kankurou yang menginginkan Gaara menjadi normal dan meminta bantuan kepada Hinata, mungkin Gaara akan terus-terusan menjadi orang yang mencintai laki-laki.

.

THE END .

.
Oh iya Desa Air itu Kirigakure.
Terima kasih untuk semuanya yang udah baca fic ini, yang menyukai fic ini, yang review, fave dan follow, saran, dan kritiknya. .

RYU DAN