HUWAAAAA…. Gomen na karna fic ini baru publish setelah sebulan lamanya…
Bukan maksud saya menelantarkan fic ini, tapi saya memiliki beberapa alasan yang akan saya kasi tau setelah kalian membaca Chapter 4 ini.
Saya juga tersanjung karna ada orang dari Malaysia yang mereview fic yang masih punya kekurangan ini.
Daannn… sesuai permintaan, Chap 4 dan Chap 5 (nanti) ini adalah kejadian setahun lalu. Yey…
Fang : Cepatlah! Jangan lama-lama!
Hali : Hn. Berisik pula.
Oke, oke… mari kita balas review dulu sebelumnya…
.
Mahrani29
Iya, Gempanya pingsan. Itu sudah tuntutan di naskah. *tunjuk-tunjuk naskah*
Gempa : Oh yeah, sampai badanku pegel banget.
Yosh, nih dah lanjut. Makasih reviewnya, dan maaf nunggu lama..
.
Shikuro 00
Hahaha… jangan nangis dong~. Kata guru saya waktu SMK, kalo bingung pegangan, jadi gak jatoh, hahaha…
Ada apa ya~? Hihi… ada di chap ini kok. Iya, Gempa yang kena. Yup, Gempa memang tidak tahan dngin, dan Hali sebagai kakak yang baik meminjamkan jaketnya.
Hali : Padahal dia punya sendiri. Nyesel juga loh pinjemin dia. Sampe sobek lagi.
Ck, kau itu jahat banget, Hali. #disambar halilintar.
Taufan : Eh? Aku serem banget ya? Tapi tetap keren kan? *Narsis Mode ON*
Yup, saya memang senang buat Kuro-san bingung.
Hehehe… maaf ya, saya malah ngaret sebulan.
Thanks for review…
.
Ayunf3
Ahahaha… makasih atas pujiannya, saya jadi malu…
Taufan : Meski marah tetap Ganteng kan? (Author : kumat lagi Narsisnya… -_-)
Yosh, makasih atas semangatnya dan reviewnya, selamat menikmati chapter 4~
.
Airin 376
Makasih atas pujiannya. Umm… jawaban atas apa yang akan Hali lakukan pada Ejojo akan terjawab d Chapter 6 mendatang, yang sabar ya…
Sekarang masih penasaran nda? #Plaakkk… (Airin : belum juga baca)
Makasih reviewnya…
.
Vivi Ritsu
Huwaaa… maafkan kakak ya… kakak ngerasa bahasanya biasa aja, ternyata ada yang anggap berat banget.. maaf ya…T_T
Api : Hiiii~ Lebay… #ditendang
Makasih reviewnya…
.
Miyazawa Rie
Ahaha.. ya begitulah si Fang. Narsisnya gak ketulungan.. #dililit jari baying
Yup, memang masih bnyak kasus… soal sms itu… umm, nanti akan terjawab di chapter 5 : The Past - Part 2.
Osh, Ganbarimasu, sankyuu for review~
.
Thunderpearl
Yup, mengenai pembalasan dendam Ejojo. Hehehe… Hali kan memang serem kalo marah..
Hali : Apa kau cakap? *lempar pedang halilintar*
Gosonglah aku…
Hehehe… suka ya, makasih banget… nih dah lanjut, makasih reviewnya…
.
DesyNAP
Oohh~~ pastinya kasian bnget kalo dia sakit… hehehe…
Syukurlah, Desy-san tdk melihat kurang dari 5 typo yang saya dapatkan. Hehehe… makasih atas pujiannya…
Nah~ di chap inilah masa lalunya… maaf menunggu lama ya, dan makasih atas reviewnya…
.
AnggiAfi
Halu jugaa…
Ehehe… kepo ya? Yokey, nih dah lanjut… makasih telah review…
.
Furusawa Aika
Hehehe… ini lebih lama dari chap tiga loh, nangis cabe ya XD
Gempa : Aku masih hidup lah! Cuma pingsan doang… iks… mirisnya hidup..
Oii… itu trademarkku
Air : Sudahlah, kak Nayu, Cuma kata 'mirisnya hidup' doangkan?
Terserahlah…
Eih? Jangan bilang diri sendiri sableng dong… gak baik… yosh, makasih atas reviewnya… maaf menunggu lama.. nih dah lanjut…
.
Fajrin
Hehehe… makasih atas pujiannya, kritik dan sarannya. Saya sangat menghargai review anda. Dan yeah, maaf jika membosankan… hehehe… semoga chap ini tidak membosankan..
Api : ini membosankan banget, percaya kata-kata saya..
AAAPPIIII!
Ochobot : *di dorong Air* Aku kah? Yelah, makasih atas reviewnya…
.
Chatarina
Hehehe.. ngena ya? Alhamdulillah… *sujud syukur*
Hali : Lebay
Terserah gua dong… Eheheh… Jawabannya ada di chap ini dan chap depan, selamat menikmati~
Makasih atas reviewnya..
.
Tya
Ehehe… Updetnya kilat banget kan?
Adu du : Sebulan tuh LAMA!
Probe : Yelah! Lama banget tu!
Eheheh… gomenna ya, gk bisa kilat… makasih dah review…
.
Arsella
Yeah, Ejojolah penjahatnya… Wakakakak… kalau Arsela teliti, di chap satu ada Gopal loh, meski Cuma nama doang..
Gopal : Yelah tu, kejam sangat kau, kak Nayu… Lihat! Aku sampai di sangka yang jahat…
Oi.. tapi di sini kau ada kan? Tenanglah…
Eheheh… Kalau Ying memang tidak saya msukkan di Fic Problem ini… dia nnti ada porsinyalah… makasih atas reviewnya~
.
HaliChinose
Makasih atas pujiannya. Masih bingung ya? Bingung di mananya? Dendam Ejojo akan di bahas d Chap ini, selamat membaca… makasih reviewnya…
.
Edogawa Boboiboy
Hahaha… kalau mau tau, liat di Bio aja… makasih atas reviewnya…
.
Lily
Hehehe… makasi atas pujiannya Lily-san. Dari Malay ya, saya merasa tersanjung seseorang dari Negara asal Cartoon BoboiBoy mereview fanfic saya. Yosh, Ganbarimasu! Dan maaf ya, menunggu lama, dah Updet nih… Thanks for Review…
.
Ayya
Yang terjadi sama Gempa akan terjawab di chapter 5, untuk chapter 4 ini, awal-awal masalahnya… hehehe… maaf ya nda bisa Updet kilat :( makasih reviewnya…
Icynerdygirl
Memang tuh, jahat banget Ejojo n the genk. Maunya mereka berlima terjawab di chap 4 dan 5. Hehehe… Ada fansnya Adu du n Probe nih… cieee~~
Probe : Adu du, ada fans kita lah. Huwaa… kita memang baik di fic ini. Jadi, manusia pula tuh…
Adu du : Cih, bagus lah.. bawalah teman-teman kau yang fans sama aku, dengan begitu akan kujadikan kau anak buahku nanti. Muahahahaha….
ProbeNayu : Apalah kau nih? -_-'
Tenang saja, reviewnya sama sekali tidak menyinggung. Makasih ya sdh review…
.
Kakaknya Boboiboy
Ehehehe… makasih pujiannya… maaf ya Updetnya lama..
Yosh, salam kenal juga, makasih atas reviewnya…
.
Seriaryu Kairu Syin
Waalaikum salam…
Waow, the interesting people! Wihh… punya saudara kembar? Asyiknya.. saya aja Cuma punya saudara kembar imajinasi… wkwkwkw…
Yosh, nih dah lanjut… makasih ya atar review-nya…
.
Nasywa
Eih? Apanya yang berhenti, Nasywa? Kalo Chapter kemaren, memang harus berhenti di situlah… tapi, kalo ficnya… oh no! This Fanfic never Discontinue! Jadi tenang aja, akan tetap saya lanjutkan. Hehehe… yosh, trima kasih atas semangatnya n reviewnya…
.
Problem
.
Disclaimer is Animonsta, Problem is mine
.
Family – Hurt/Comfort – Friendship
.
Warning : Inspirasi Sibling Chaos by Dark Calamity Of Princess. AU, ELemental Siblings, Semi-Formal, Typo, OOC, Gaje, Humor Garing, Brother Complex, NO Pair dan NO sho-ai. Fanfic pertama di fandom BoBoiBoy. Human!Alien. Human!Robot. Little bit of Tragedy. Perkelahian dan Perkataan kasar.
DON'T LIKE?
DON'T READ
THIS FANFICTION!
Happy Reading!
Chapter 4 : The Past - Part 1
Pagi yang cerah. Burung-burung kecil saling bersahut-sahutan satu sama lain. Mengucapkan selamat pagi dengan kicauan-kicauannya. Juga menyanyikan lagu yang sangat merdu bagi pengguna jalan di kawasan perumahan ini.
Dari sebuah rumah, dapat kita lihat para penghuni keluar dan berjalan beriringan di jalan perumahan yang sepi ini. Bagaimana tidak sepi? Saat ini, jam masih menunjukkan pukul 6.33. Tidak biasanya pula penghuni rumah berlantai dua itu pergi sepagi ini. Tanpa kehebohan yang mengundang gelengan kepala para tetangga. Ini sesuatu yang langka sekali. Hal yang sangat langka dilakukan oleh si Boboiboy bersaudara. Begitulah para tetangga memanggil mereka.
"Entah aku harus senang atau malah takut dengan keajaiban ini."
Gumaman yang terdengar kalem juga pasrah itu memecahkan keheningan diantara Boboiboy bersaudara.
"Ahahaha… kak Gempa seharusnya senang dong. Hari ini, kita semua bangun pagi. Bahkan kak Halilin bangun sendiri, tanpa dibangunkan olehku dan kak Taufan. Tidak ada perkelahian antara kak Halilin dan kak Taufan. Air juga sudah masak lebih dulu dari kak Gempa. Terus…" Api terus berbicara panjang lebarnya dan dibalas antusias oleh Taufan.
Halilintar hanya mendengarkan tanpa berminat untuk komentar. Air sesekali tersenyum saat Taufan atau Api memandangnya seakan bertanya 'benarkan?'. Sedangkan Gempa, ia hanya menatap jalan di depan dengan pandangan kosong. Pikirannya melayang jauh ke angkasa.
Entah mengapa ia merasa sedikit curiga dengan keempat saudaranya ini. Jarang-jarang atau lebih tepat sangat-jarang-sekali, keempat saudaranya bertingkah seperti ini, kecuali...
"Gempa, nanti malam kita bakar-bakar yuk!"
… ada maunya.
'Sudah kuduga.' Batin Gempa sweatdrop.
"Yayaya… aku setuju! Ayo kita bakar-bakar!" seru Api girang.
"Kecilkan suaramu, kak Api. Orang-orang pada ngelihatin kita nih."
Air memang benar. Saat ini mereka sedang berjalan di trotoar. Dan seruan (baca : teriakan) Api mengundang perhatian para pejalan kaki dan orang-orang yang sedang membuka tokonya. Api yang sadar akan kelakuannya barusan hanya menyengir pada orang-orang yang menatapnya.
"Bodoh."
CTAK CTAK
Dua perempatan siku-siku bertengger di kepala Api. "Siapa yang –"
"Kalau kau tidak tenang, Gempa tidak akan menyetujui permintaan kita." Bisik Halilintar yang telah berada dekat dengan Api, tanpa mengalihkan pandangannya dari keadaan jalan yang mulai ramai.
"Grrrhh…" Api menggeram kesal. Mau tidak mau dia harus sabar, jika tidak ingin rencana yang ia dan ketiga saudaranya -minus Gempa- impikan gatot. Gagal Total.
Gempa yang sedikit mendengar kalimat 'membujuk' Halilintar kembali menghela nafas pelan. Ia berpikir, mungkin tidak ada salahnya malam ini mereka bakar-bakar ikan atau ayam, jika bisa daging pun tak masalah. Sudah lama juga mereka tidak melakukannya.
"Baiklah. Tidak ada salahnya juga. Kita bakar-bakar… umh, ayam saja ya?"
Taufan dan Api yang mendengarnya langsung tersenyum lebar dan mengangguk dengan semangat. Air hanya tersenyum lembut. Dalam hati dia juga sangat menginginkan hal ini. Halilintar? Kalian pasti tau. Wajahnya tetap cuek tapi, tercetak senyuman tipis diwajahnya.
"Tapi…"
Mendengar kata 'tapi' yang dilontarkan oleh Gempa, sontak mereka semua menatap Gempa tanpa menghentikan jalan menuju SMP Pulau Rintis yang berjarak 30 meter di depan mata.
Gempa tersenyum misterius saat melihat tatapan keempat saudaranya. "Fang dan Yaya akan ikut dalam acara kita."
Mendengar nama 'Fang' yang meluncur dengan sukses. Halilintar menggantikan senyuman tipisnya dengan raut wajah geram. Gempa cuek bebek aja saat merasakan aura yang menguar dari Halilintar. Air hanya tersenyum kaku. Taufan dan Api merinding lalu menjauh dari Halilintar.
'Kenapa si penggila kepopuleran itu harus ikutan juga?' Batin Halilintar sebal.
…
oOoOoOoOoOo
…
TENG~ TENG~ TENG~
"Baiklah anak-anak, sampai di sini pertemuan kita. Jangan lupa kumpulkan tugas yang saya berikan minggu depan!" Guru yang mengajar di kelas 7C itu pun langsung keluar setelah mengucapkan peringatan kepada para siswa-siswinya.
"YEY! Akhirnya istirahat juga! Api! Ocho! Ayo kita ke kantin! Lapar banget nih~ Habis tenagaku memikirkan pelajaran maut itu." Seru pemuda berbadan tambun dengan kulit coklat pada dua orang pemuda yang duduk di depan dan di sampingnya.
"Hah~, baiklah… aku juga lapar."
"Hehehe… maaf ya, hari ini aku makan bareng dengan kembaranku." Ucap Api dengan cengiran lebarnya. "Aku duluan ya~" seru Api kemudian sembari berlalu meninggalkan kedua temannya.
"Yalah tuh…" desah pemuda tambun itu kecewa.
"Oi, Gopal! Saudara itu lebih penting dari teman. Ingat itu!"
"Yalah… Yalah… ayo kita ke kantin!"
.
.
TAP!
TAP!
TAP!
Hentakan kaki yang kasar itu, menggema di koridor sepi ini. Api terus menghentakkan kakinya dengan kasar disertai dengan bibirnya yang terus mendumel ini dan itu.
"Huh! Sialan! Kenapa sih aku ditinggalkan? Mentang-mentang aku tidak sekelas dengan salah satu dari mereka, dengan seenaknya aku ditinggal. Keterlaluan banget deh!"
Api pun melanjutkan dumelannya itu hingga mencapai pintu yang menghubungkan dengan taman belakang sekolah yang sangat jarang dikunjungi oleh siswa-siswi SMP Pulau Rintis.
Api terus berjalan -kali ini tanpa menghentakkan kakinya- hingga sampai di sebuah pohon paling besar nan rindang yang berada di taman itu. Langsung saja ia menempatkan dirinya diantara Taufan dan Air tanpa berucap sepatah kata pun.
"Kenapa mukamu jelek gitu?" tanya Taufan usil sambil nunjuk wajah Api yang merengut sebal.
"Uhh… kak Taufan dan yang lainnya tega ninggalin aku. Dan… wajah tampanku ini kau bilang jelek, hah? Jengkelin banget deh!" Api berkata ketus.
"Wajahmu memang jelek."
"Kak Halilin~"
"Eih? Bukan salah kami. Kamu aja yang telat banget."
"Apanya yang telat? Jelas-jelas, pas guru matematika itu keluar, aku langsung ke kelas pergi ke kelas kak Taufan dan Air. Tapi, sampainya aku di sana kalian sudah pergi duluan. Aku ke kelasnya kak Halilin dan kak Gempa juga sama. Kalian ti- eh? Kak Gempa mana?" Seluruh luapan kekesalan Api yang berupa kata-kata, terhenti saat menyadari kalau Gempa tidak ada bersamanya dan saudaranya yang lain.
"Ke ruang OSIS." Jawab Halilintar singkat, padat, dan jelas, sambil bersandar pada batang pohon yang besar dengan mata yang terpejam.
"EEEHHH!?" pekik Api dengan kedua telapak tangan yang menempel di kedua pipinya. Layaknya seorang gadis yang terkejut melihat sang kekasih berpelukan dengan teman laki-lakinya.
BLETAK
"SHUT UP, BRAT!" Bentak Halilintar setelah memberikan hadiah manis di kepala Api.
"Ish… sakitlah kak Halilin~." Ringis Api dengan nada sing song saat mengucapkan nama Halilintar.
"Berhenti memanggil namaku dengan nada seperti itu!"
"Kak Halilin~~"
BLETAK
"Cih! Menjijikkan!" dumel Halilintar setelah memukul Api, lagi. Dan Api hanya mengaduh kesakitan.
"Ahahahaha… untungnya Gempa tidak ada di sini. Hahaha… Kalau ada, hihihi… pastinya acara bakar-bakar kita gagal. Hahahah…." Taufan berkata di sela-sela tawanya.
Air yang menonton kelakuan ketiga kakaknya lebih memperhatikan langit yang sangat cerah. Pemuda bernuansa biru muda ini, merasa hari ini sangat indah. Apalagi malam nanti, pasti sangat menyenangkan.
"Huwaaa… maaf aku telat!"
Seruan suara yang terdengar panik itu, menyapa indra pendengaran keempat pemuda identik di bawah pohon besar itu. Mereka menatap kembaran mereka yang tengah bertumpu pada kedua lututnya sembari menetralkan nafas yang memburu.
"Hah… hah… hah… maaf.. hah.."
"Sudahlah, Gempa. Ayo cepat duduk! Kita makan bekal buatan Air. Hihihi… aku sudah lapar~"
"Ya! Aku juga lapar, kak Gempa." Seru Api yang nampaknya sudah melupakan akan kekesalannya karna ditinggal. Gempa pun langsung duduk di samping Air dan mengambil bekalnya yang berada di sodorkan oleh Halilintar.
Mereka berlima pun makan dengan tenangnya. Sesekali, Taufan dan Api mengusili Halilintar yang masih berwajah datar saat memakan masakan Air. Menurut kedua kembar yang paling usil itu, masakan Air adalah masakan yang paling langka yang dapat di rasakan. Itu pun karna Air memang jarang masak. Dan seharusnya, kakak tertua mereka menikmatinya dengan wajah berbinar cerah. Bukannya menikmati dengan wajah datar ala kadarnya.
.
.
"Aduh! Oi, Ejojo! Apa maksudmu menarikku kayak gini?"
"Ada yang perlu kita bicarakan."
"Iya, iya… tapi, bisakah kau melepaskanku? Ini sakit sekali."
Ejojo terus menarik pemuda bersurai violet itu, tanpa memperdulikan rontaan dan kalimat memohon yang dikeluarkan pemuda yang seumuran dengannya.
"Buka pintunya!" perintah Ejojo pada salah satu anak buahnya yang mengikuti dari belakang.
Cklek
Pintu terbuka menampilkan pemandangan taman sekolah yang terawat sangat baik. Jalan setapak berada di antara rumput yang terpotong rapi. Kursi yang berada di bawah beberapa pohon rindang. Sayangnya, Ejojo dan anak buahnya, juga pemuda yang ditarik paksa itu tidak memperhatikan suasana taman yang damai ini. Juga tak menyadari hawa keberadaan manusia lainnya.
Ejojo berhenti. Anak buahnya pun ikut berhenti. Pemuda yang ditarik, terus meronta ingin dilepaskan dari cengkraman Ejojo.
"Kau tahu, Ejojo? Aku ini Ketua OSIS-mu! Ketua OSIS kalian juga! Kenapa kalian bertindak kasar seperti ini padaku?" Bentak pemuda itu berang. Cukup sudah segala perkataan baik juga permohonan yang ia ucapkan tadi.
Cukup!
Kesabarannya sudah nyaris lenyap. Sekarang, ia hanya ingin membentak atau mungkin adu kekerasan jika perlu.
"Heh? Kau berani membentakku, Probe?" Tanya Ejojo sarkartis disertai seringaian. Anak buahnya juga menyeringai namun tak selebar Ejojo.
Melihat Ejojo yang menyeringai diikuti anak buahnya, Probe merasa ia tak cukup kuat untuk adu pukul dengan lima orang sekaligus. Ia memang mengenal kelima orang yang tengah mengelilinginya. Tapi, ia tak cukup dekat dengan mereka. Probe berpikir, andaikan Adu du, sang sahabat, tidak meninggalkannya begitu saja di kelas, pasti ia tidak akan terjebak bersama wakilnya di OSIS juga anak buah wakilnya.
'Adu du, tolonglah aku!' Batinnya berharap.
"Kau mau memanggil Adu du, hmm? Kau mau dia menolongmu?"
Probe tersentak saat pikirannya terbaca oleh Ejojo. Pemuda bersurai violet ini tahu kalau ia tidak akan lolos semudah itu dari jeratan pemuda yang masih mencengkam pergelangannya. Ia juga tau mengenai rumor yang beredar selama setahun ini. Meski tidak dekat, ia dapat mengetahui bagaimana karakter seorang Ejojo, berdasarkan pengamatannya.
'Semoga ada seseorang yang menyelamatkanku.' Batin Probe berharap, lagi.
"Nampaknya… dia sudah pasrah nih, Bos."
"Hahaha… ternyata si Ketua OSIS kita pengecut ya."
"Heh! Harusnya Bos yang jadi ketua OSIS. Bukannya pengecut ini!"
"Benar."
"Ish… datar amat deh."
"Hn."
"KAMPRET! APA MA–"
"Sudahlah Bago go. Biarkan saja Jambul berkata sesukanya."
"Kau lebih membelanya daripada aku, Petai?"
"Bukan begitu maksudku. Akh… Tom! Jelaskan padanya!"
"Kenapa harus aku?"
Itulah percakapan yang dilakukan keempat anak buah Ejojo. Entahlah, author pun tak mengerti kenapa percakapan mereka agak melenceng.
"CUKUP!"
Satu kata yang diucapkan lantang oleh Ejojo, membuat keempat anak buahnya diam seketika.
Probe sendiri tersentak. Bukan karna suara lantang yang Ejojo lontarkan, tapi karna percakapan yang ia dengar dari anak buahnya Ejojo.
'Jadi, Ejojo benar-benar iri akan posisiku sebagai Ketua OSIS? Jadi, itu bukan hanya isu? Jadi, aku salah dong berprasangka baik dengannya? Jadi, apa yang harus kulakukan? Ejojo tidak akan melepaskan orang yang membuatnya iri. Itulah yang kuketahui. Aish… kenapa aku mengalami kesialan seperti ini?' Probe terus memikirkan segala hal yang ia ketahui mengenai Ejojo. Dan sekarang, pemuda bersurai violet itu, menganggap Ejojo adalah orang yang berbahaya. Entahlah, instingnya yang berkata seperti itu.
"Kau benar-benar pasrah rupanya, hmm?" Ejojo bertanya lagi dengan nada sinis yang sangat jelas terdengar. Pemuda bersurai merah bata itu, bersiap melancarkan tinjuan kearah Probe dengan tangan kanannya yang bebas. Namun, saat tinggal lima centi lagi, seruan seseorang terdengar di telinganya.
"KAK PROBE! KAK EJOJO! SEDANG APA KALIAN DI SANA?"
"Cih!" Ejojo berdecih. Ia tak suka acaranya diganggu. Dan sekarang, teriakan yang berasal dari pemuda bertopi terbaliklah yang mengacaukan acara pembukaannya.
Terdengar langkah-langkah kaki yang semakin mendekat kearah enam orang siswa kelas 8 ini. Lima pemuda identik telah berdiri di depan mereka, dan salah satunya tampak mengatur nafas karna lelah berlari.
"Hah… hah… aku tidak menyangka ternyata ada orang selain kami berlima di sini." Ucap Gempa dengan senyuman kalemnya, setelah berhasil menetralkan nafasnya yang memburu tadi.
"Mau apa kau ke sini?" Tanya Ejojo datar.
"Jadi dia kak Probe si ketos itu ya, kak Gempa?" Tanya Api, tanpa memperdulikan pertanyaan Ejojo.
"Ya. Dia kak Probe. Dan di depannya, kak Ejojo. Dia wakil di OSIS." Jawab Gempa riang sambil memperkenalkan Ejojo dengan kedua tangannya yang terlentang kearah Ejojo.
"Ooohhh… jadi dia toh, si waketos yang katanya menakutkan itu." Seru Taufan yang langsung mendekati dan menilik tubuh Ejojo dari dekat. Taufan sampai memicingkan kedua matanya. Kembar kedua ini masih terus meneliti apa yang menakutkan dari Ejojo.
Wajah? Biasa aja. Masih tampang bocah SMP meskipun tumbuh sedikit kumis.
Rambut? Memang sih, rambutnya yang bewarna merah marun itu seperti anak berandalan yang mengecat rambutnya sendiri seperti Probe. Tapi, itu memang rambut asli, berdasarkan yang ia dengar. Dan menurut Taufan, rambut itu tidak terlalu mengerikan. Malah terkesan keren. Diam-diam, Taufan pun berharap mempunyai rambut seperti itu.
Postur tubuh? Tubuhnya pun tidak ada yang membuat Taufan ketakutan. Bahkan, menurut Taufan lagi, tubuh Ejojo itu masih normal. Tidak seperti Halilintar yang sudah agak berotot.
Mata? Tatapan Ejojo memang tajam. Hampir menyamai Halilintar. Warnanya pun kuning keemasan. Entah itu asli atau hanya sebuah softlens. Tapi, bagi Taufan Halilintar lebih menakutkan dari Ejojo. Bahkan, desas-desus perilaku kejam Ejojo pun menurut Taufan, itu hanya cari sensasi saja. Tidak seperti Halilintar.
"Apa maksudmu menatapku dengan tatapan seperti itu?" Desis Ejojo geram. Ingin rasanya pemilik surai merah bata itu menghabisi junior bertopi miring di depannya ini.
"Umm… aku hanya penasaran..." Ejojo mengangkat alisnya mendengar ucapan menggantung itu. Saat Ejojo akan bertanya lagi, ia melihat pemuda bertopi kuning-jingga juga berdiri berdampingan dengan si bertopi miring. Tatapannya pun sama.
"Umm… kau benar kak Taufan. Aku juga penasaran. Bagian mana yang ditakuti dari kakak berambut merah ini?"
"Ya, kita sepemikiran, Api. Menurutku sih…" Taufan menggantungkan perkataannya sembari menegakkan tubuhnya dan berkacak pinggang. "… kak Hali lebih menakutkan dan mengerikkan." Imbuh Taufan dengan riangnya. Membuat Api mengangguk antusias. Gempa menenangkan Halilintar yang mulai tersulut emosinya. Air merutuki perkataan kakak keduanya yang berkata dengan lancarnya.
Ejojo yang sudah tidak tahan lagi ditatap dengan pandangan meremehkan -menurutnya- oleh Taufan dan Api, langsung mengambil ancang-ancang untuk memukul keduanya.
SYUUUTT
GREB GREB
"Grrhh…" Ejojo menggeram kesal. Bagaimana tidak? Tinggal 5 cm lagi tinjuannya sampai di masing-masing wajah kedua junior di depannya, salah satu juniornya -yang memiliki wajah serupa dengan dua orang di depannya-, langsung menggenggam erat kedua kepalan tangan Ejojo. Sangat erat, sampai-sampai Ejojo sendiri tidak sanggup menepis genggaman yang kokoh itu.
Ejojo menatap pemuda bertopi hitam-merah menyala di depannya. Ejojo menatap juniornya dengan pandangan yang tajam, begitu pula sebaliknya. Taufan dan Api yang terkejut dengan datangnya sang kakak tertua, spontan mundur menjauh. Entah mengapa, aura yang dikeluarkan sang Wakil Ketua OSIS juga sang kakak tertua, membuat dua kembar terusil ini merinding lebih dari biasanya.
Taufan yang akhirnya telah menyadari perkataan spontannya tadi menegak ludah paksa. 'Aduh, aku salah ngomong tadi. Kak Hali pasti marah.' Batinnya panik.
"CK! LEPASKAN TA–"
"Berani kau menyentuh seujung rambut adik-adikku…" Halilintar memotong bentakan Ejojo dengan nada suara yang dingin. Menyebabkan suhu yang seharusnya hangat karena sang mentari yang bersinar terang, menjadi dingin seketika. "…kau akan merasakan akibatnya." Imbuh Halilintar yang kembali menatap Ejojo dengan kilatan tajam di iris coklatnya.
Ejojo yang melihat tatapan itu seketika membeku. Kedua tangannya yang sedari tadi meronta berhenti bergerak. Mulutnya agak menganga. Matanya menyiratkan ketakutan. Tubuhnya pun bergetar tanpa ia sadari.
Keempat anak buah Ejojo yang sedari tadi hanya menonton, lebih tepatnya tak berani ikut campur dengan junior mereka yang satu ini. Terkejut bukan main melihat tubuh sang 'Bos' gemetaran di bawah tatapan Halilintar. Mereka ingin menyelamatkan sang Bos, tapi mereka juga tidak mau mendapatkan 'hadiah manis' yang biasa dibicarakan (baca : digosipkan) oleh siswa kelas satu dari Halilintar.
Air yang juga terus menonton merasa jengah. Menurutnya, kedua kakaknya yang usil itu juga salah, karna menggoda kakak kelas mereka yang terkenal dengan semua sikap tercelanya. Anehnya juga, kakak kelasnya itu bisa menjadi Wakil Ketua OSIS. Dan Air juga merasa kakak kelasnya itu pantas mendapatkan tatapan membunuh Halilintar.
'Beraninya adu otot, padahal kak Taufan dan kak Api hanya pake mulut.' Begitulah yang Air pikirkan.
Probe yang melihat langsung kelakuan saudara kembar Gempa berkeringat dingin. Hey! Meskipun dia Ketua OSIS, jika dihadapkan dengan sesuatu yang dapat berujung dengan perkelahian dia angkat tangan. Namun, segera ia tepiskan pikiran pengecut itu. Probe pun memikirkan apa yang harus ia lakukan jika nanti Ejojo akan mengibarkan bendera perang.
TENG~ TENG~ TENG~
"Sudah kak Halilintar, kak Ejojo. Bel sudah tanda istirahat selesai sudah bunyi. Ayo kita ke kelas! Hentikan pertengkaran kecil ini." Pinta Gempa dengan nada lembut.
Melihat sang kakak tertua tidak mau melepaskan cengkramannya, Gempa menghampiri Halilintar dan Ejojo. Ia pun menggenggam lembut kedua tangan Halilintar sembari melepaskan cengkraman yang sangat kuat itu.
Lepas.
Cengkraman Halilintar pada kedua tangan Ejojo lepas. Gempa yang prihatin melihat ekspresi ketakutan Ejojo menepuk pundak sang kakak kelas dengan senyum lembutnya yang menenangkan.
Ejojo yang sadar akan tepukan Gempa langsung menepis tangan itu. Ekspresi ketakutan yang terpancar berubah seketika menjadi ekspresi marah. Ejojo melihat Gempa yang masih tersenyum, membuat pemuda bersurai merah bata itu muak.
"HAJAR MEREKA!" Titah Ejojo pada anak buahnya.
Mendengar perintah sang Bos, keempat anak buat Ejojo itu bersiap untuk memulai perkelahian. Namun, sebelum sempat bergerak lebih, Probe langsung berdiri di antara kubu Ejojo dan kubu si kembar lima.
"APA MAUMU, PROBE?" Ejojo berseru berang. Ia pun mengarahkan tinjunya pada pemuda bersurai violet itu.
GREB
"Hentikan ini sekarang juga, Ejojo!" Nada datar nan tegas yang dikeluarkan Probe membuat semua yang berada di situ tersentak. Aura yang Probe keluarkan membuat keheningan tercipta. Ini dia! Aura yang sering diperbincangkan siswa-siswi tingat 8 dan 9. Aura wibawa sang Ketua OSIS.
"Ck!" Ejojo berdecak kesal lalu menarik paksa tangannya, lalu menjauh dari Probe dan kelima kembar diikuti anak buahnya. Ia tidak akan menang melawan aura Probe saat ini. Meski ia sangat yakin bisa membuat sang Ketua OSIS bertekuk lutut dihadapannya, nyatanya dia pun -notabene-nya Wakil Ketua OSIS- hanya siswa yang memiliki pangkat di bawah Ketua OSIS.
TAP
Ejojo menghentikan langkahnya lalu menolehkan kepalanya kebelakang. Iris kuning emasnya yang tajam, menatap kelima kembar Boboiboy, terutama Gempa dan Halilintar.
"Kalian akan mendapatkan pembalasan yang setimpal. Tunggulah itu!" Ucapan Ejojo terdengar dengan jelas di pendengaran Probe dan kelima kembar Boboiboy.
Wuusssshhh
Angin pun berhembus. Menyapu lembut semua objek yang dilaluinya, termasuk kesebalas pemuda yang hanya terdiam menikmati belaian lembut angin di pertengahan bulan Agustus. Tidak ada yang melakukan pergerakan. Mereka masih terdiam setelah pernyataan yang diucapkan Ejojo, ditambah hembusan angin yang seolah-olah mencoba untuk meredakan emosi yang kian memuncak.
Setelah angin telah berhembus normal, Ejojo dan keempat anak buahnya kembali melangkah. Meninggalkan keenam pemuda lainnya yang masih terdiam dengan berbagai macam ekspresi. Halilintar dengan ekspresi datar. Taufan dengan ekspresi bingung. Gempa dengan ekspresi lega. Api dengan ekspresi panik. Air dengan ekspresi tenang. Dan Probe dengan ekspresi kalut.
"Gi-gimana kalau ancamannya itu beneran?" Tanya Api panik.
"Tenanglah, kak Api. Kan ada kak Halilintar yang tidak akan membiarkan mereka menyentuh kita." Ujar Air tenang tanpa menyadari bahwa kalimatnya itu menyindir sang kakak tertua. Dan Halilintar hanya mendengus sebal mendengar penuturan adik bungsunya.
"Umm… aku sebenarnya bingung." Gumam Taufan dengan telunjuk dan ibu jari yang berada di dagu dan pandangan yang mengarah lurus ke tempat Ejojo dan anak buahnya pergi.
"Sudahlah, setidaknya sekarang kak Probe baik-baik saja. Benarkan?"
Mendengar nada lembut yang diucapkan Gempa, Probe langsung menatap juniornya yang baru sebulan bergabung di OSIS. Pernah terbesit di benak Probe, jika saja Gempa seangkatan dengannya, pasti pemuda bertopi terbalik itulah yang menjadi Ketua OSIS sekarang. Ia berpikir seperti itu setelah melihat bagaimana Gempa membawa dirinya selama menjadi anggota OSIS.
Probe pun mengangguk membenarkan perkataan Gempa. Perasaan kalutnya mengenai ancaman Ejojo sedikit tersingkirkan. Tapi, karna perkataan itu pula Probe menyadari sesuatu.
"Jadi, alasanmu menyapaku dan Probe, karna mengetahui niatannya untuk menghajarku?" Tanya Probe dengan penuh harap agar Gempa menjawab pertanyaannya.
"Hehehe…" Gempa hanya tertawa kaku sambil menggaruk pipinya. "Sebenarnya, itu alasan yang kedua. Alasan yang pertama, karna kami baru saja selesai makan siang." Jawab Gempa dengan senyumnya yang tipis namun, masih tersirat kelembutan di dalamnya.
Halilintar yang sedari tadi diam langsung menarik pergelangan tangan Gempa. Gempa yang tak siap akan tarikan Halilintar hampir saja jatuh, jika Halilintar tidak sigap menangkap tubuh sang adik.
Gempa langsung menyeimbangkan tubuhnya kembali dan menatap Halilintar. Gempa tau. Kakak tertuanya itu khawatir terhadapnya yang dengan beraninya menghentikan tindakan kekerasan yang akan Ejojo lakukan pada Probe. Tapi, Gempa bukanlah orang yang akan cuek melihat seseorang dalam bahaya.
"Maafkan aku."
Mendengar kalimat itu terlontar dengan nada penuh penyesalan, Halilintar tersenyum tipis. Sangat tipis. Taufan, Api, dan Air yang menyadari senyuman itu terkejut. Tapi, sedetik kemudian senyuman merekah di wajah ketiga kembaran Halilintar dan Gempa itu.
Probe yang sedari tadi menyaksikan interaksi antara saudara kembar itu, hanya tersenyum senang. Otak jeniusnya mengatakan, bahwa tindakan Halilintar yang menarik Gempa secara tiba-tiba itu, adalah bentuk kekesalan sekaligus kekhawatirannya. Dan Gempa yang menyadari itu, langsung meminta maaf kepada Halilintar.
"Nah~, gimana kalau kita masuk ke kelas sekarang? Kalian tahu? Ini sudah lewat 20 menit dari bel berakhirnya istirahat." Sahut Probe, lalu berjalan meninggalkan kelima kembar itu dengan senyum yang mengembang di wajahnya.
'Andaikan aku punya saudara.' Batinnya miris.
'Kalian akan mendapatkan pembalasan yang setimpal. Tunggulah itu!' Ancaman teman sekelasnya itu kembali terbayang di pikiran pemuda bersurai violet ini. senyuman yang mengembang tadi, tergantikan dengan raut wajah kalut.
'Ini gawat! Kalau lima kembaran itu dalam bahaya gara-gara aku. Apa yang harus kulakukan selanjutnya?' pikir Probe.
"Kak Probe! Kami duluan yaaa~" Seruan Gempa mengembalikan Probe dalam dunia nyata. Ternyata, ia melamun terlalu dalam hingga tak menyadari jika Gempa dan keempat kembarannya telah berlari jauh mendahuluinya. Probe pun hanya melambaikan tangannya pelan tiga detik sebelum tubuh Gempa menghilang di belokan menuju koridor kelas 7.
"Apa yang akan 'mereka' lakukan kali ini?" gumam Probe lesu dan berjalan menuju UKS. Ia berpikir untuk meninggalkan pelajaran kali ini dan akan memberikan alasan sakit. Ya… dia memang sakit. Sakit kepala karna terlalu memikirkan apa yang akan Ejojo dan bawahannya lakukan terhadap si kembar lima itu.
…
oOoOoOoOoOo
…
"Waahh… menyenangkannya~"
"Kecilkan suaramu, Yaya. Kau itu seorang gadis. Ingatlah itu!"
"Ukh… Gempa gak asik deh. Hei, Air! Bicaralah sesuatu. Jangan diam terus!"
"Baiklah."
Percakapan itulah yang terjadi dan terus berlanjut selama perjalanan pulang Gempa, Air dan Yaya, dari super market yang berjarak tidak lebih dari satu kilo meter. Ya, mereka bertiga bertugas untuk membeli bahan-bahan untuk acara bakar-bakar mereka. Sedangkan, Halilintar, Taufan, Api, dan Fang, bertugas untuk mempersiapkan segala peralatan yang akan digunakan nanti. Baik untuk membakar, makan, minum, dan sebagainya.
Sewaktu pulang sekolah, Yaya dan Fang yang pulang bersama si kembar lima, diajak Gempa untuk ikut acara bakar-bakar mereka. Ajakan itu pun disambut dengan penuh suka cita oleh Yaya, dan disambut dengan biasa oleh Fang. Meskipun Fang menyambutnya biasa saja, namun dalam hati ia sangat senang. Inginnya ia menyambut seantusias Yaya, sayangnya ada Halilintar yang membuatnya harus bersifat cool seperti biasa. Itulah gengsinya dengan sang Rival.
Dan dilakukanlah pembagian tugas yang menghasilkan keputusan di atas. (Author : *nunjuk-nunjuk paragraf pertama setelah kata 'Baiklah'*)
"Ini pasti akan menyenangkan." Air memecah keheningan dengan gumamannya.
Yaya yang mendengar gumaman Air, tersenyum dengan lebarnya. "Ya! Ini pasti akan sangat-sangat-sangat menyenangkan. Hahaha…" Seruan dan tawa Yaya hanya didengar beberapa pejalan kaki di area perumahan mereka. Gempa hanya menggeleng pasrah melihat Yaya yang tidak mendengarkan perkataannya. Tapi, tak dapat dipungkiri ia juga merasa acara ini akan sangat menyenangkan.
"Ah ya, apa kakak sudah lapor pengeluaran kita ini sama ayah dan ibu?"
"Sudah."
"Eh? Terus, apa yang paman dan bibi katakan?"
"Ayah sih tidak bilang hal lain, tapi Ibu malah bilang, 'Pakai saja. Kalau perlu beli daging dan beberapa cemilan juga minuman untukmu dan saudara-saudaramu juga Yaya dan Fang', begitu kata ibu. Makanya, tadi aku tambahkan daging dalam menu bakar ayam kita. Juga beberapa cemilan, kopi kaleng dan jus kaleng."
"Wah~ bibi baik banget. Baguslah! Aku pikir tadi kamu beli banyak tanpa perizinan dulu."
"Hey! Kau taukan aku tidak mungkin melakukan hal seperti itu." Kata Gempa kesal dan mempercepat laju jalannya.
"Eehhh? Kau marah Gempa?" pekik Yaya. "Air~ bagaimana ini~ kakakmu yang paling kalem dan baik hati itu marah~ tidaaaakkk~" ratap Yaya dengan nada sing song, sambil bersimpuh di pinggir jalan dengan wajah yang menengadah a la anime.
"Kau berlebihan, Yaya." Ucap Air sweatdrop melihat tingkah Yaya yang tidak pernah berubah jika Gempa kesal.
Gempa yang mendengar suara ratapan Yaya bagaikan gadis yang dianiaya, hanya memutar bola matanya bosan. Pemuda bertopi kebalik itu pun menghela nafas pasrah, lalu berbalik dan berjalan menuju Yaya.
"Hentikan sikap dramatisirmu itu! Cepat kita pulang!" Ajak Gempa dengan senyuman lembutnya dan langsung disambut riang oleh Yaya. Air hanya tersenyum melihat kakaknya yang memang tidak tahan dengan sikap Yaya yang terlalu dramatis.
"Yaya benar-benar tertular sifat berlebihannya kak Taufan." Gumam Air lirih.
Mereka pun kembali berjalan diselingi beberapa percakapan ringan mengenai keadaan kelas masing-masing hari ini, hingga sampai di rumah Boboiboy bersaudara.
"Assalamualaikum!"
Hening.
Tidak ada balasan sama sekali. Ketiga remaja itu saling memandang. Melepas sepatu masing-masing. Lalu, mereka berjalan bersama menuju dapur untuk meletakkan semua belanjaan yang mereka beli. Setelahnya, mereka berjalan menuju halaman belakang yang terdengar sangat ramai.
"Kak Hali~ kasikan ini ke ayah dong!"
"Hmm."
"Oii Fang! Bantuin aku masang nih terpal. Lebar banget tau!"
"Api sayang, ngomongnya yang baik dong."
Gempa dan Air hanya membelak melihat pemandangan di depannya. Pemandangan yang sangat jarang mereka lihat juga mereka rindukan. Yaya yang melihat pemandangan di depannya terkejut juga. Namun, tidak seperti Gempa dan Air yang membeku. Yaya langsung berlari menghampiri ibu si kembar lima dan mulai melakukan 'salam pertemuan a la perempuan', yaitu cipika-cipiki dan bergosip. Eits, yang digosipin bukan tentang tetangga. Tapi, tentang para Boboiboy dan Fang di sekolah.
"Gempa? Air? Ayo kesini nak! Ngapain berdiri di ambang pintu gitu." Sahut ayah si kembar lima sambil menenteng piring yang diberikan Halilintar.
"Kapan ayah dan ibu pulang?" Tanya Air yang berhasil mengendalikan keterkejutannya. Sembari berjalan menuju sang ayah, meninggalkan sang kakak ketiga yang masih berdiri di ambang pintu.
"Hehehe… habis dhuhur tadi kami sudah sampai di bandara. Maaf ya, tidak mengabari terlebih dahulu."
"Ah~ lagian ini juga sebagai kejutan buat kalian. Hihihi… awalnya ibu kira kalian berlima akan pulang bersama. Tapi, setelah melihat kiriman pesan dari Gempa, yah… sudahlah~ ayo kesini! Kita persiapkan semuanya untuk malam nanti."
Gempa yang mendengar suara lembut sang ibu yang mengalun melalui penjelasan itu, langsung berjalan menerjang sang ibu yang masih mendekap Air -setelah Air memeluk sang ayah, Air memeluk sang ibu-.
"Waaa… pelan-pelan dong sayang~" ucap ibu si kembar dengan lembut sembari memeluk kedua putranya yang terlambat pulang.
"Aish… kak Gempa dan Air jangan lama-lama dong~! Ayo cepat bantuin kita!" Protes Api yang baru selesai melebarkan terpal di atas rumput sebagai alas dibantu Fang.
"Bilang saja kalau kau iri, Api~." Goda Fang dan sukses mendapatkan pukulan telak di bahunya.
"Hehehe… tugasku dan Air di dapur loh~! Khikhikhi… benarkan Air?" Seru Gempa dengan berbinar.
"Yup! Ayo kita racik bumbu untuk membakar rumah!" Seru Air OOC dan itu membuat Yaya dan Fang agak merinding.
"Hahaha… kalian ada-ada saja. Yaya juga bantu bibi, Gempa, dan Air ya?"
"OKEEE!"
…
oOoOoOoOoOo
…
Cerah seperti biasanya. Ramai seperti biasanya. Berisik seperti biasanya. Mengganggu seperti biasanya. Suasana kelas 7A -yang ia tempati dengan Gempa dan Fang- tetap seperti biasanya. Tidak ada yang berubah. Meski begitu, Halilintar merasa hari ini ada yang berbeda. Entahlah. Ia pun tak mengerti.
Rasanya, baru kemarin dia berkumpul dengan keluarganya juga Yaya dan Fang, dalam acara 'bakar-bakar ayam dan daging'.
Rasanya baru kemarin dia tidur bersama ayahnya.
Rasanya baru kemarin mereka sekeluarga jalan-jalan ke taman bermain.
Rasanya baru kemarin dia mengeluarkan ekspresi yang sangat-sangat jarang terlihat.
Dan sekarang, ia harus dihadapkan dengan rutinitas belajarnya di sekolah. Ternyata seminggu lebih itu waktu yang cepat ya.
Halilintar POV
Kuraberareru koto nado
Ubawareru koto nado nai
Kimi wa kimi de ii
Saa waratte misete
Nani mo kangaezu to mo
Soko ni riyuu ga naku to mo
Sorekoso ga subarashii hajimari
Saa, yoake da
Itulah lirik lagu yang kudengar sekarang. Lagu dengan judul Black Night Town yang dinyanyikan Akihisa Kondo -kalau tidak salah-, salah satu penyanyi dari Jepang. Tidak aneh kan aku, yang notabene-nya lelaki yang dianggap 'Cool' sama penggemarku -setidaknya begitu yang mereka katakan-, menyukai lagu yang berasal dari negeri Sakura? Menurutku sih tidak aneh. Toh, lagunya enak di dengar.
Biasanya, aku mendengar lagu sambil tidur. Tapi, entahlah… aku… umm, merasa ada yang berbeda saja. Kusingkirkan pikiranku itu, dan mulai menikmati lagu yang lain. Lagian, sekarang tidak ada guru yang mengajar, karna sedang rapat.
"Stoic!"
Hmm? Apa aku dipanggil seseorang?
Aku menoleh saat merasa bangku sebelahku di duduki seseorang. Aku melepas earphone yang terpasang di telinga kananku saat melihat Fang duduk dengan wajah yang… entahlah, antara kesal dan…
… khawatir?
"Ada apa?" Tanyaku datar. Dan dia hanya mendengus kasar.
Hah~, ada apalagi dengan si penggila kepopuleran ini? Apa dia ingin menuntutku atas Fans-ku yang semakin bertambah selama sekolah di sini? Atau dia ingin meminta tips dariku untuk meningkatkan fans-nya? Mungkin saja. Dan jangan mengatakan kalau aku terlalu ke-GR-an. Itu hanya pikiranku saja.
"Mana Gempa?"
Aku mengernyit mendengar pertanyaan Fang. Seharusnya aku yang menanyakan itu, bukan? "Bukannya dia denganmu ke perpustakaan?"
"Memang. Tapi, dia balik duluan."
Pernyataan Fang, membuatku terdiam memikirkan kenapa Gempa tidak balik ke kelas seperti yang ia katakan pada Fang?
'Kalian akan mendapatkan pembalasan yang setimpal. Tunggulah itu!'
Tiba-tiba aku teringat perkataan orang itu. Kenapa malah kalimat itu yang terngiang di otakku? Arrgghh… aku berharap itu hanya gertakan. Ya! Itu hanya gertakan.
Tapi… apakah benar?
"Kenapa kau tidak balik bersamanya?" kataku agak meninggikan suara. Dapat kurasakan beberapa tatapan mata menuju padaku, tapi aku tidak peduli.
"Aku masih mencari buku yang kuperlukan. Dan jangan tiba-tiba menaikkan nada suaramu, Stoic!"
"Cih!"
Setelah berdecak, aku langsung menyingkirkan Fang dari Hadapanku dan berlari keluar kelas mencari Gempa. Aku tidak ingin mempercayai ancaman yang kuanggap sebagai gertakan itu, tapi aku merasa khawatir dengan Gempa. Aku juga tidak memperdulikan Fang yang terus menyerukan namaku. Intinya, sekarang, aku harus mencari Gempa.
Di mana pun.
Halilintar POV End
.
.
"Hah~, kenapa tidak dipulangkan saja kalau begini?" Desahan malas terdengar dari pemuda bertopi ke samping, yang sedang berjalan melalui koridor yang sepi.
"Dan kenapa juga aku berjalan sampai ke sini?" Desahnya kesal setelah menyadari kalau ia berada di koridor menuju taman belakang sekolah.
DUAGH
"Akh!"
Taufan yang baru tiga langkah menuju tempat asal ia datang tadi, menghentikan langkah saat mendengar benturan dan pekikan tertahan.
Taufan POV
Siapa yang memekik? Siapa yang terbentur? Apa ada yang berkelahi di lingkungan sekolah? Apa yang harus kulakukan kalau memang ada perkelahian? Ke ruang guru atau… menghentikan sendiri?
Banyak pertanyaan yang berseliweran di pikiranku. Karna banyaknya, sampai membuatku pusing tujuh keliling.
"Kali ini tidak akan ada yang mengganggu."
"Heh! Ternyata kau memang iri padaku."
"Kau mengejekku?"
"Kalau iya?"
"SIALAN!"
"Kecilkan suaramu, Bos."
"Bener tuh."
"Hihihi… hajar saja, Bos. Setujukan?"
"Terserahlah."
Itu… suara-suara itu? Kayak pernah kudengar. Tapi, di mana?
Aku mengacak kepalaku yang terbungkus topi kesayanganku kasar. Aku bingung. aku tidak bisa mengingat suara-suara yang agak familiar. Terserahlah, yang penting aku harus menolong orang yang tertindas -menurutku- itu.
Ya! Aku lah yang akan menjadi penyelamatnya. Khukhukhukhu…
Taufan POV
Cklek
Kiiittt~
Suara decitan pintu yang Taufan buka dengan perlahan, membuat orang-orang yang berada di balik pintu itu menunggu untuk melihat siapa yang mengganggu kegiatan mereka.
Brak
Pintu yang terbanting pelan, juga terdapatnya sosok Taufan membuat orang-orang itu sedikit terbelak, namun tidak lama.
"Eh? Ada orang ya?" Tanya Taufan sedikit memiringkan kepalanya dengan wajah innocent.
"Cih, pengganggu." Gumam sang Bos sambil menggeram.
'Taufan?'
"Dia…"
"Kembaran dari…
"Anak bertopi kebalik itu kan?"
"Hn."
"Eh? Kalian mengenalku?" Ucap Taufan mengernyitkan dahinya. Jujur saja, ia pun tak mengingat pernah bertemu di mana dengan orang-orang yang tampaknya mengenal Gempa. Umm, apa penyakit pelupanya sudah kelewatan ya?
"Taufan ini aku, Probe. Kau lupa?" Sahut siswa yang -disudutkan kelima siswa lainnya- ternyata Probe, Ketua OSIS SMP Pulau Rintis.
"Umm…" Taufan pun berpikir dengan pose a la detektif. "AH! Yayayaya… aku ingat! Kau kak Probe yang tempo hari mau dihajar sama kelima orang ini kan? Trus… umm, kau…" Taufan kembali mengingat-ngingat siswa bersurai merah bata yang ia tunjuk, hingga membuat orang yang ditunjuk menggeram marah.
"Cukup! Hentikan leluconmu ini, anak biru!" Bentak sang Bos sembari berlari hendak menerjang Taufan.
Sreeettt
Dugh
Brughh
"Akh! Sia– uhuk, uhuk– lan… kau!"
"BOS!"
Serempak mereka berempat membantu sang Bos untuk berdiri. Mereka berempat pun tidak menyangka pukulan sang Bos meleset, atau bisa dikatakan Taufan menghindar dengan cepat dan tubuh sang Bos yang condong ke depan dimanfaatkan Taufan, untuk menendang sang Bos hingga tersungkut ke lantai keramik di dalam koridor. Ingat, tadi Taufan masih berdiri di ambang pintu!
"Ahahahaha… baru tendangan biasa begitu kau sudah jatuh? Hahahaha… Bagaimana kalau kau mendapatkan tendangan khas karatenya kak Hali? Hahahaha… dan yeah, ini memang lelucon. Lelucon yang amat lucu. Khekhekhekhe…" Tawaan plus ejekan dari Taufan membuat Probe sedikit merinding. Jarang -hampir tidak- sekali dia bertemu dengan orang yang sering tertawa seperti Taufan. Dan sekarang? Orang itu ada di dekatnya.
"Kau tidak apa-apa, kak Probe?"
"Ya, aku baik-baik saja. Kau beneran tidak ingat mereka?"
"Umm…" Taufan kembali berfikir dan Probe sweatdrop melihat kepikunan sang junior.
"Cih! Sialan kau bocah biru!" Decih sang Bos yang telah berdiri utuh.
"AHA! AKU INGAT! KAU KAK EH KOJO KAN!?" Seru (baca : teriak) Taufan yang lebih keras dari sebelumnya, sambil menunjuk sang Bos. Dan panggilan panggilan taufan terhadap Ejojo membuat Probe membekap mulutnya sendiri.
"AKU EJOJO! BUKAN EH KOJO!" Teriak sang Bos yang ternyata Ejojo tak kalah keras. Wajahnya memerah saking marahnya. Lagian, nyambung ke mana juga namanya dengan salah satu bahasa daerah yang ia ketahui berada di Indonesia. Dia juga tidak 'Kojo' kok. (Author : Kojo itu artinya kuruskan? Kan?)
"Pfftt.. Hmmmppt.."
"Bos kita kurus ya, sampai dipanggil gitu?"
"Hmmmpp… mung–hihihi… mungkin saja."
"Hihihi… Aku gak tahan. Hmmptt.."
Ejojo menatap tajam keempat anak buahnya yang menahan tawa. Bahkan si Jambul yang kalem pun ketawa. Bagaimana tidak? Jarang-jarang mereka mendengar julukan seperti itu untuk si Bos.
"Ternyata memang suara kak Taufan ya?"
Suara kalem itu terdengar bersamaan dengan langkah kaki yang mendekat. Taufan mengalihkan pendangannya dari arah pintu yang menghubungkan ke koridor, ke belakang untuk melihat sang adik yang datang dengan menggendong seekor kucing kecil.
"Gempa!?"
.
.
Pemuda berjaket hitam dengan warna merah menyala yang menghiasi, bertumpu pada kedua lututnya dengan nafas terengah-engah. Ia telah mengelilingi sekolah untuk mencari sang kembaran yang sekelas dengannya. Bahkan, kedua kembarannya yang lain pun ia abaikan saat berpapasan entah di mana.
"Kak Halilin~"
Halilintar hanya menghela nafas pasrah, saat mendengar suara salah satu dari adik kembarnya. Ia sudah memperkirakan kalau kedua adik paling mudanya itu pasti menyusulnya. Jadi, ia tak perlu terkejut.
"Hah.. hah… kakak kenapah larih.. larih kayak gituh.. hah… sih?" Tanya Api dengan nafas yang terengah-engah. Air hanya mengangguk mengiyakan pertanyaan Api setelah Halilintar menatapnya.
"Aku sedang mencari Gempa." Jawab Halilintar setelah deru nafasnya kembali normal dengan nada khawatir yang tidak bisa disembunyikan.
"Lah? Memangnya kak Gempa ke mana?" Tanya Api dengan nada panik. Air hanya terdiam seperti memikirkan sesuatu.
"Kalau aku tau, tidak mungkin aku mengelilingi seluruh sekolah." Ucap Halilintar ketus.
"Taman belakang sekolah?"
Halilintar pun menepuk dahinya. Kenapa dia bisa lupa dengan tempat yang sering mereka berlima kunjungi di waktu makan siang? "Aku belum memeriksanya."
"Kau hebat Air! Kalau gitu, ayo kita ke sana! Lagian koridor ini juga mengarah ke sana bukan?" Ucap Api sembari berlari. Halilintar dan Air saling menatap lalu mengikuti Api dari belakang.
Saat Api berbelok…
Brughh
"Aduh!"
… ia menabrak sesuatu, tepatnya seseorang.
Api mendongak untuk melihat siapa yang menabrak -ditabrak- nya. "Ka-kau…"
Tap Tap Tap
Tap Tap Tap
"Kenapa kau berhen…ti...?" Suara Halilintar melemah seiring pelannya ia berlari, dan berhenti tepat tiga langkah di belakang Api. Begitu juga Air yang mengikuti.
"Kau…" geraman Halilintar
"Khe, tadi ketemu dua, sekarang ketemu tiga lainnya."
Halilintar menatap tajam iris emas milik siswa di depannya, yang tak lain ialah Ejojo. Jika bisa, Halilintar ingin sekali tatapan tajamnya dapat membuat pingsan Ejojo, atau jika perlu, membuatnya mati pun tak apa. Dengan begitu, ancaman yang kembar pertama ini anggap gertakan, tidak akan terwujud.
Tak kalah dengan Halilintar. Ejojo pun menatap tajam iris coklat yang nyaris tertutupi topi berwarna hitam-merah menyala itu. Ejojo merasa emosinya benar-benar ditahan hari ini. Bagaimana tidak? Tadi, dia belum selesai melampiaskan amarahnya pada Probe, teman kelasnya, sang Ketua OSIS, sekaligus orang yang ia anggap rival. Malah di ganggu sama Taufan yang muncul tiba-tiba.
Di saat ia akan melampiaskan amarahnya pada Taufan, si Gempa, kembaran Taufan yang kalem itu mengganggu, lagi. Inginnya ia melampiaskannya pada Gempa, tapi akan sangat tidak mungkin jika ada Taufan, yang berhasil menendangnya tadi. Lah sekarang? Kembaran mereka berdua yang paling menjengkelkan dari keempat kembaran lainnya -menurut Ejojo- muncul dihadapannya dan menatapnya tajam.
Tidak ada toleransi lagi.
Emosi Ejojo benar-benar sudah di puncak.
Tring~
Dan di saat ia ingin melampiaskannya sekarang, lagi, lagi dan lagi, harus ia tahan. Bukan. Bukannya Ejojo takut, tapi ia mempunyai ide yang lebih hebat dari pada sekedar menghajar ketiga kembar dihadapannya di koridor sekolah. Kalau ketahuan sama guru, gawat lagi urusannya. Dengan munculnya ide tiba-tiba itu, wajah Ejojo yang tadinya memerah karna emosi, sekarang tersen– bukan, lebih tepatnya menyeringai.
Keempat anak buahnya hanya diam di belakangnya. Tidak bertanya atau pun beranjak dari tempatnya. Yah, mereka hanya anak buah. Dan mereka harus membiarkan sang Bos yang bertindak sekarang. Jika pun sang Bos terancam, barulah mereka bergerak. Itulah pikiran mereka.
Sedangkan, Air dan Api yang sudah berdiri sejajar dengan Air di belakang Halilintar, hanya melihat tatapan tajam sang kakak tertua yang tidak mengendur sama sekali. Mereka berdua pun bersiaga jika terjadi perkelahian mendadak.
"Kita pergi!"
Dua kata yang mengandung perintah, Ejojo ucapkan dengan ekspresi wajah yang terganti menjadi datar. Ejojo melangkah dengan santai.
Mendekat dan semakin mendekati Halilintar yang masih dengan wajah datar juga tatapan tajam.
Tap
Berhenti. Ejojo berhenti tepat di samping Halilintar yang memiliki tinggi yang sama dengannya. Api yang melihatnya, hendak menerjang namun di tahan oleh Air.
"Akan ada waktu yang lebih baik untuk merealisasikan ucapanku. Dan itu akan datang secepatnya.
.
.
To be Continue
Nyiahahahahaha~
Gimana? Gimana? Ada yang sudah tau jawaban dari pertanyaan kalian? Umm… maaf ya jika tidak terlalu jelas. Hehehe… sebenarnya, ingin sekali saya gabung dengan yang 'The Past - Part 2'. Tapi sayangnya, sangat-sangat-sangat panjang. Makanya saya bagi dua.
Jika masih ada dari readers sekalian yang masih bingung. silahkan bertanya dalam review masing-masing. Chapter depan, akan saya jelaskan. Karna, masa lalunya akan berakhir di chap depan. Dan akan saya bongkar hal yang membuat kalian bingung dalam masa lalu ini.
Yah… saya kan juga masih newbie, jadi maaf deh jika masih banyak kesalahan. Lagian ini hanya imajinasi saya, yang terinspirasi dari fic Sibling Chaos.
Oh ya, mengenai alasan hingga saya terlambat hingga sebulan...
Yang pertama, saya jadi panitia Ujian Munaqosah (Ujian Skripsi) di kampus. Jadinya dari pagi hingga malam (jam 1 malam). Dan besoknya, saya tidur hingga siang. Hehehe…
Yang kedua, saya juga punya tanggungan fanfic di fandom sebelah. Dan saya juga harus mengerjakan kelanjutannya. Gitu deh…
Yang ketiga dan yang paling penting, tangan kiri saya sakitnya kumat. Jadinya, sulit diajak kerjasama untuk ngetik fanfic. Paling tidak 5 menit sekali saya harus berhenti selama lima menit juga. Kalau tidak begitu makin sakit. Yeah, kedua tangan saya memang sudah tidak bisa di ajak kerja yang berat-berat lagi. Meskipun ngetik itu termasuk ringan, jika sakitnya kumat gini deh, kerja jadi lelet. Bahkan, saya sampe pakai tangan satu doang buat ngetik. Hehehe…
Taufan : kebanyakan curhat deh…
Hali : Ck, hentikan hurhatan tidak bergunamu itu. Mana ada juga yang mau baca..
Hehehe… iya-iya deh… aku nurut aja kali ini.
Gempa : Yosh… sekian dari kak Nayu.
Api : Silahkan di tunggu chap selanjutnya.
Air : Maaf jika tidak sesuai harapan.
Yaya : Maaf juga jika semakin membosankan.
Fang : Akhir kata…
All : REVIEW please?
