"Bagaimana hari mu?" tanya Kris ketika ia menjemput Jongin di hotel sore itu.

"Biasa saja." Jawab Jongin berjalan mengikuti Kris turun ke Lobby.

"Kau bosan?" Jonging menggeleng, "Tidak. Disini menyenangkan tapi tidak ada yang istimewa jadi.. Ya biasa saja." Jelas Jongin segera tak mau kakak sulungnya merasa kecewa.

Kris menggidikkan bahu, "Besok mungkin Baekhyun bisa menemani mu." katanya.

"Apa? Tidak. Tidak perlu. Sungguh." tolak Jongin cepat. Ketika Kris menatapnya, Jongin segera mengalihkan pandangannya ke arah lain. Akan semakin merepotkan jika Kris mengetahui Jasper. "Aku ingin sendirian, Kris." gumam nya pelan.

"Baiklah." ucap Kris tanpa banyak berkomentar pada sikap aneh adiknya. "Tapi tetap saja. Kau selalu membuatku cemas."

Jongin memukul bahu Kris pelan, raut wajah nya berubah kesal. "Aku bukan anak kecil." rajuk nya. Kris tertawa pelan, mengusak rambut Jongin gemas.

"Terserah."

Jongin mendesah, "Tapi, terima kasih telah mengkhawatirkanku." Jongin menyunggingkan senyum tipis.

"Ya."

Kris menawarkan lengan kiri nya, menoleh pada Jongin dengan senyuman miring. "So, Princess. Let's go home?"

"Yeah." Jongin tertawa menerima lengan kakaknya. Dia memeluk lengan kakak sulungnya dengan raut geli.


"Aku akan membunuh iblis itu jika dia berani datang malam ini," Jongin menyeringai tertarik akan ucapan Baekhyun disampingnya. Terdengar menggelikan. Sungguh.

"Kau yakin?" Baekhyun mendelik, "Dia yang akan menghajarmu." Komentar Jongin menahan tawa akan raut kesal Baekhyun.

"Kau ini!" Jongin menghindar dari pukulan Baekhyun, dan bersembunyi dibelakang punggung Kris yang baru muncul dari balik dinding.

"Lain kali, biarkan aku saja yang menghajarnya." Goda Jongin mengundang dengusan Baekhyun serta kekehan geli Kris.

Krystal diam saja disudut bersama kedua orang tua nya yang hanya tersenyum geli. "Hal baiknya, Sehun takkan mungkin balas menyerangmu. Selamat. Kau bisa membunuhnya." Ucap gadis itu dengan nada muak, terang saja membuat Jongin saling melempar pandang pada Kakak sulungnya.

Kris tersenyum tipis. Menepuk kepala Jongin pelan, menggiring kedua adik nya yang lain duduk bersama.

Jongin sedikit bergidik. Bagaimana cara membunuh pangeran itu, Bahkan meskipun dipertemuan awal mereka Jongin membencinya, Dia takkan bisa membunuh iblis itu hanya karena harus menghabiskan sisa hidupnya bersama Sehun.

Akan berbeda cerita, jika pangeran itu berani melukai keluarganya. Jongin tidak akan berpikir dua kali untuk memastikan kematian Iblis itu ditangannya.

"Ayah, ibu, kurasa Pangeran Sehun, maksudku Louiz menyukai Kai." Ujar Kris membuka topik pembicaraan. Jongin melirik sebal Baekhyun yang justru mengangguk cepat akan ucapan Kris. "Pangeran itu belum tahu apa yang dihadapi nya." Baekhyun menyenggol siku Jongin bermaksud menyulut kekesalan adik bungsu nya.

Jongin berdecih, membuang muka kesamping.

Sang ayah, terkekeh kecil. "Yang penting, dia takkan menyakiti Kai." Jongin menatap ayah nya dengan pandangan 'Excuse me?'. Namun hanya ditanggapi senyuman geli kedua orang tua nya.

"Kubunuh dia, jika itu terjadi." Celetuk Krystal tiba-tiba, mengejutkan Jongin. Sebelum Jongin menengok, Kakak perempuannya itu sudah menghilang menyisakan asap transparan.

Jongin menatap kosong tempat yang tadinya diduduki krystal, "Dia baik-baik saja?" Tanya nya pada ibunya.

Ibu nya tersenyum lembut, "Ya, Dia hanya khawatir padamu."

Ucapan ibunya sontak membuat Jongin tertawa getir, "Krystal? Mengkhawatirkan ku?" dari awal kepulangannya, bahkan perempuan itu selalu tampak marah padanya. Bagaimana dia percaya jika yang diucapkan ibu nya adalah benar. Omong kosong. Dia tahu Krystal sangat marah akan kepergiannya dari kastil.

"Tentu dia khawatir. Sebelum kau datang, Krystal berusaha keras agar pernikahan mu dengan pangeran Louiz itu dibatalkan. Dia tidak dapat melakukan apapun untuk menyelamatkan mu. Dan maafkan ayah yang tidak bisa begitu saja mengorbankan nyawa para penyihir yang dipercayakan pada ayah. " Jelas ayah nya dengan wajah tertunduk, menatap genggaman erat tangannya dipangkuan.

Jongin termenung mendengarnya. Diam menatap ayah nya yang semakin menunduk.

"Mungkin menurutmu, kami tidak perduli. Tapi, Kai, jika ada yang peduli padamu melebihi hidupmu sendiri, itu adalah kami." Jongin menggigit bibirnya mendengar gumaman Kris.

"Kami selalu memastikan kau baik-baik saja di Eropa tanpa nenyentuh hidupmu. Dan untuk perjodohanmu dengan Sehun, Hingga detik ini kami masih berusaha mencari cara lain untuk bisa diganti dengan hal lain. Maaf. Maaf karena sejauh ini kami membuatmu merasa tidak nyaman berada diantara kami. Maaf, Kai." Ucap kakak sulungnya lagi seraya menunduk dalam menghembuskan nafas panjang.

Mendengar kakaknya berbicara, Jongin merasa menyesal tanpa dasar. Dia tanpa sengaja melihat Baekhyun memalingkan wajahnya, sementara ayah dan ibunya saling bertaut tangan dengan wajah yang juga tertunduk.

Jongin menahan airmata di kelopak matanya agar tidak terjatuh, Selama ini keluarga nya tahu ketidaknyamanannya berada disini. Mereka tahu kebenciannya akan darah penyihir di tubuhnya. Dan, mereka peduli. Mereka masih peduli dan hangat menerima nya kembali di rumah ini.

Jongin mendengus geli, menertawakan dirinya sendiri. Kenapa dia masih saja disini? Tapi sebenci apapun ia pada asal usulnya, sebenci apapun Jongin pada tempat ini, Akhirnya Jongin tetap saja memilih kembali kesini, dan melakukan hal gila seperti menikahi pangeran Iblis—Sehun, Si Louiz itu.

Namun Jongin hanya melakukan semua ini demi keluarganya. Selama ini Jongin hampir berusaha menghindari mereka, mengabaikan mereka. Dan dia menyesal. Sangat. Jongin sadar Keluarga nya adalah tujuan terakhirnya. Satu-satu nya tempat untuk berpulang.

Jongin mengusap pipinya yg basah, "Hyung, Aku memang membenci ini semua. Darahku, kastil ini, pulau ini tapi Jika bukan karena kalian. Aku sudah pasti takkan kembali. Aku—Ini demi kalian. M-maafkan aku." Dia menunduk, menutupi kedua matanya yang memerah. Menangis tidak akan bisa mengekspresikan penyesalan Jongin. Dia sudah berlaku egois. Ketika ia mendongak, Baekhyun dan ibunya telah berdiri memeluk tubuh kurusnya.

Ayahnya melempar senyum penuh kelegaan, Jongin menundukkan kepala nya memberi satu lagi hormat nya sebagai anak bungsu pada sang ayah. Di samping pintu, Jongin sempat melihat bayang rambut panjang Krsytal. Dia tersenyum samar.

'Well, done.'

Akhirnya.. dia pulang.


Jongin tau dia seharusnya tidak berada disini. Anggap saja dia sudah gila hingga kembali ke tempat ini, dan mendapati dirinya berdiri di pintu masuk taman. Diam-diam mencari sosok pria bernama jasper, yang baru dikenalnya beberapa minggu lalu.

Ketika berbalik, Jongin terlonjak ditempat menemukan Jasper telah berdiri didepannya dengan senyum tertahan.

"Mencariku?" Tanya pria itu dengan senyum lebar.

"Tidak." Jongin memalingkan muka sejenak, menghindari binar senang di mata Jasper. "Aku hanya—"

"Sudah kuduga kau akan kembali." Ucap Jasper penuh keyakinan, sedang Jongin menghela nafas. "Kau s-salah paham. Aku hanya ingin mengucap selamat tinggal." Jongin tertunduk, "Aku tidak ingin keluarga ku tahu tentang kau. Jasper, aku tidak bisa menemuimu lagi. Aku sudah bertunangan."

Jasper menatap Jongin dengan ekspresi tak terbaca, "Kau pikir aku akan menyerah?" Tanya nya heran. Jongin mengerutkan keningnya mendengar Jasper malah terkekeh akan perkataan nya.

"Jongin, Aku serius mengatakan jika aku jatuh hati padamu. Aku tidak sedang bercanda waktu itu. Aku akan melakukan apapun untuk kita bersama." Sambung pria itu seraya menyisir rambutnya kebelakang.

Jongin menganggap pria didepannya sudah kehilangan akal. Namun ia tidak mengelak bila dia pun melihat kesungguhan di mata Jasper. Jongin khawatir. Dia baru bertemu pria ini dan sudah merasa ketakutan akan keselamatan Jasper.

Dan Ini.. tidak normal.

"J-jangan bodoh, Jasper. Aku akan segera meni—"

"Apa kau mencintainya?" Sela Jasper bertanya dengan sorot tajam, lurus menatap sang bungsu Kim.

Jongin terdiam. Mencintainya? Mencintai pangeran iblis itu, Sehun? Bahkan sedikitpun, Jongin tidak tahu. Dia baru menyadari jika dirinya tidak mengetahui apapun tentang pangeran itu.

Jasper mengulas senyum tipis melihat keterdiaman Jongin, namun tidak menyembunyikan sorot kecewa di matanya. "Biar kutebak, Jawabannya adalah tidak." Ucapnya membuat Jongin tersadar dari lamunan.

Jongin tersentak, terkejut akan ucapan Jasper yang seakan mengetahui semuanya. ia memalingkan tatapannya menghindari seringai puas di bibir Jasper. "Aku harus pergi sekarang," katanya kemudian seraya berbalik.

"Ah!" Badan Jongin tertarik kebelakang, Jasper menarik lengannya. "Ketahuilah aku selalu menunggumu, aku..aku takkan melepaskanmu." Jongin menatap kedua mata Jasper yang memancarkan kesungguhan. Dia bisa melihat rahang Jasper menegas.

Sejenak ia membuang nafas berat. "Kalau begitu biar aku yang meninggalkanmu." Ucap Jongin tak kalah bersungguh. lelaki itu sadar ucapannya benar-benar jahat. Tapi dia juga tidak mungkin membiarkan nya.

Jongin menunduk menatap tangan Jasper yang menggenggam tangannya. Ia menghempaskan tangannya perlahan, melepas genggaman Jasper. "Maaf, tapi selamat tinggal." pamit Jongin tanpa menampilkan satupun ekspresi di wajahnya lalu berjalan keluar taman.

Jasper terdiam di tempatnya. Ia mengusap rambutnya dengan senyuman geli. Seketika kedua bola mata pria itu berubah warna, memandang punggung ringkih Jongin yang berjalan semakin jauh.

"Kau hanya tidak tahu.. " bisik nya pada angin.


Sepulang Jongin ke kastil. Ia melihat raut senang ibu nya di balik pintu. Tidak hanya dia, ketika kakaknya juga ayah nya pun sudah duduk rapi seperti telah bersiap menunggu kepulangannya.

Malam itu, semua tampaknya gembira menyambut saran Kris untuk piknik. Mereka setuju mengosongkan satu hari untuk ber-piknik bersama di pesisir pantai pinggiran pulau. Besok, seharian pula. melihat senyum semua orang, Jongin tidak tega menolak ide tersebut. Ia hanya mengangguk, berpura-pura semangat menyambut esok hari.

Krystal mendadak berdiri dan keluar ruangan dengan sepatu hak tinggi yang mengetuk kasar lantai. "Jika kau memang tidak ingin pergi, katakan saja. Tidak perlu bersikap seperti itu." Ucap wanita itu sebelum meninggalkan ruangan.

Baekhyun disampingnya, mengelus bahu nya pelan, dengan kekehan lucu berucap, "Sudahlah, Kita semua tahu dia memang seperti itu. Hei, Kai. Tersenyumlah." mendengarnya justru membuat Jongin menghela nafas berat.


Di pagi hari, semua terlihat sibuk berbenah. Jongin, ibu serta kakak perempuan-nya Krystal menyiapkan bekal sedangkan dua kakaknya yang lain dan ayah nya pergi menyiapkan keperluan lain.

Kesepakatan semalam membawa mereka untuk pergi ke pantai di sisi kastil. Tidak dekat tidak juga terlalu jauh. Hanya perlu melewati hutan yang kiranya jauh dari jangkauan manusia.

Sebenarnya kastil—tempat tinggal Jongin dan keluarga nya merupakan perbatasan antara manusia dan penyihir. Ada beberapa penyihir yang hidup berbaur dengan manusia, mereka adalah prajurit. Sedang pemukiman di balik kastil, ditinggali penyihir biasa.

"Jangan melamun." Jongin tersentak merasakan sikutan di lengannya. Shane atau Baekhyun terkekeh menerima tatapan kesal adiknya.

"Kita akan sampai." Suara lembut sang ibu mengalihkan pandangan Jongin ke kaca mobil.

Hamparan luas laut biru didepan mereka. Jongin berdecak kagum.

"Benarkah?!" Shane melonggokan tubuhnya kedepan, ke kursi pengemudi. "Wah!" decak nya tidak sabar.

"Bisa kah kau berhenti membuat keributan, idiot?" Jongin meneguk ludah begitu mendengar suara sinis Krystal yang ditujukan pada Shane.

Jongin bisa melihat kakaknya itu merengut lucu dan kembali duduk disampingnya. "Bisa kah kau berhenti membuat ku kesal, Penyihir?" balas Shane dongkol.

Krystal tertawa sinis, "kau pikir kau apa? Manusia biasa?"

Oh..

Jongin segera mengalihkan pandangannya kembali melihat ke samping—kaca mobil. Berpura-pura tidak mendengar mereka.

Suasana dalam mobil berubah seketika. Semua terdiam. Krystal melirik Jongin, sedikit merasa bersalah. Sedangkan Shane memutuskan untuk berpura-pura tidak terjadi apapun.


Jongin tertawa terbahak, melihat kedua kakaknya berlomba untuk terjun ke laut sementara Kris berteriak memperingati mereka agar tidak terlalu jauh bermain. Yah.. Mereka memang tua. Tapi tidak pernah terlalu tua untuk bermain.

Dilihatnya Baekhyun melompat tinggi dari batu karang tua, mungkin sekitar enam atau delapan meter.

Byurr

"Shit! Krystal!" umpat kakaknya karena pendaratannya yang kasar.

Krystal tiba-tiba muncul dan menendang air tepat didepan wajah Baek.

"HEI!" teriak Baekhyun berenang mengejar Krystal.

Jongin menutup kedua telinganya dengan tawa yang belum mereda. Ternyata benar perkataan Ibu nya, mungkin selama ini ia hanya salah mengira. Bukti nya kakak perempuan nya yang semula dingin terlihat ceria setiba mereka di pantai.

Ia menengok kebelakang, menghampiri Kris dan membantu nya mengelar tikar. "Tidak berenang,?" tanya Kris menyunggingkan senyum miring.

Jongin mengerucutkan bibir nya, "um.." Kris terkekeh, mengusak rambut Jongin asal. "Aku hanya bercanda."

Jongin mendorong bahu kakak sulungnya menjauh, itu membuat tubuh Kris terhuyung dan jatuh terduduk di atas pasir. Kedua nya tertawa pelan. Jongin mengulurkan tangannya, membantu Kris berdiri.

"Ayo kita bergabung," Jongin mengikuti arah dagu Kris. Dan tersenyum tipis. "Baiklah."

Kris menjentikkan jarinya, membuat Jongin melotot melihat kakak nya telah bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana renang. "Ish.." Desis Jongin tidak terima.

"Ups." Kris berlari mundur menghindari cubitan Jongin. "Hyung?!"

"Hei!"

Tiba-tiba Baekhyun memekik, menarik Krystal ketepi pantai menghampiri Jongin serta Kris. "Bagaimana jika kita berlomba?" tawar Baekhyun dengan kedua mata licik nya.

Krystal berdecih, "Yang kalah harus membersihkan kamar kita satu tahun."

Bibir Baekhyun terbuka lebar. "TIDAK. Apa-apaan kau. Tapi baiklah. Tidak masalah. Aku bisa—"

"Tanpa sihir." Sela Jongin, Kris dan Krystal bersamaan. Baekhyun menelan ludah, Memutar bola mata nya jengah. "Ok. Tentu saja. Terserah."

"Ibu! Ayah! Kalian jadi juri nya, ok?" teriakan nyaring Baekhyun membuat kedua pasang penyihir itu tersenyum dan menganggukkan kepalannya. "Bagus. Jadi, kita akan berenang hingga batu karang disana—"

"Yang mana?" tanya Jongin pura-pura tidak tahu. Baekhyun berdecak, menarik kepala Jongin mendekat lalu menunjuk batu karang besar tak jauh dari tepi pantai. Jongin tertawa, menganggukkan kepalanya. "Baiklah."

Baekhyun memasang senyum licik, tertawa dengan suara aneh mengundang senyum geli saudara dan saudari nya. Krystal menggelengkan kepala, "Ya tuhan, apa kau benar adik ku?" Keluh nya pelan sengaja tidak di hiraukan Baekhyun.

"—dan yang terakhir sampai adalah pecundang." Krystap dan Kris saling bertukar pandang kemudian secara bersamaan bergumam pendek mengerti. Sengaja membuat Baekhyun menjadi kesal.

Jongin tertawa melihat tingkah ketiga kakaknya. Wow, Krystal benar-benar menjadi pribadi yang berbeda.

Mereka berempat berbaris, Ibu dan Ayah mereka dibelakang siap memberikan aba-aba. "Satu.."

"Dua.."

"Tiga!"

"Waaaaa!"

Jongin berlari beriringan dengan Baekhyun dan saling mendorong. Secara bersamaan mereka lompat ke dalam air. Jongin langsung menyelam ke bawah dan berenang cepat ke tengah. Dilihatnya dari sudut mata, Jongin bisa merasakan Kris berenang sama cepat nya. Dibelakang mereka dia yakin Baekhyun sedang berkompetisi dengan Krystal.

Dalam keluarga mereka, Jongin merupakan perenang yang cepat. Namun dia tidak ingin meremehkan kakak sulungnya. Karena yang dia tahu kakak nya itu sangat kompetitif dan perfeksionis. Lagi pula belum pernah Jongin menemukan suatu hal yang tidak dapat dilakukannya.

Jongin mengerjapkan mata ketika menyadari batu karang itu dapat dicapai nya beberapa meter lagi. Tanpa berpikir ia mempercepat kaki nya, berenang menggapai karang.

Namun terdengar teriakan dari permukaan. Jongin mendengar ibu nya meneriakan nama nya lalu Baekhyun. "Kai!"

Jongin menahan diri untuk mencari tahu, dan bertekad untuk dapat menyetuh karang itu dahulu sebelum Kris. Hingga ia baru tersadar ia terlalu cepat berenang dan takkan cukup waktu untuk berhenti.

Ia akan menabrak karang. Dengan cepat Jongin menutup kedua mata nya.

"Hei?"

Tiba-tiba Jongin merasa seseorang menarik mundur tubuh nya cepat sebelum karang itu sempat menggoresnya. Jongin membuka mata nya dan terbelalak mengetahui dirinya berada dalam pelukan Kris. Ia tersenggal begitu juga kakaknya.

"Kau tidak apa?" Krystal menghampiri mereka dengan raut khawatir yang jarang Jongin lihat.

Jongin menatap kakak sulungnya yang kini memberi nya tatapan tajam. Namun ia tahu pria itu hanya mengkhawatirkannya. "Apa yang kulakukan jika Sehun tahu pengantin nya terluka? Kau mau aku dibunuhnya?" sentak Kris dengan nada tinggi.

Jongin berjengit bukan karena takut. Ia hanya tidak memikirkan jika mereka semua begitu khawatir.

Tak jauh Baekhyun tertawa pelan, rambut nya basah oleh air laut disisih nya ke belakang. Ia terlihat tampan dengan senyum tipis. "Tapi Kris kau terlambat beberapa detik untuk menyelamatkannya. Kai menjadi pemenangnya." ucap Baekhyun dengan nada ceria seperti biasa.

Jongin mengerjap, jantung nya benar-benar berdegub dengan cepat. Jika kakak nya tidak menyelamatkannya tadi apa yang akan terjadi pada nya? Kepala—Kepala nya.. Oh syukurlah dia baik-baik saja.

"Aku bisa saja menghancurkan karang itu dan lebih baik jika Kai tidak terluka. Astaga, Kai.. Kau baik-baik saja kan?" Suara serak Kris bergetar, membuat Jongin memeluk kakaknya itu agar berhenti mengkhawatirkanya.

"Ya, Terima kasih. Aku baik-baik saja." Ucap nya pelan lalu terdiam dengan dirinya masih memeluk Kris.

Mendadak, Jongin teringat pada penyelamat nya di hutan beberapa waktu lalu. Dengan perlahan ia menyentuh rambut kakak nya. "Kris, Kau yakin tidak pernah mengecat hitam rambut mu ?" tanya Jongin tiba-tiba.

Kris menurunkan Jongin, wajahnya mengerut menatapnya heran. "Tidak kurasa."

"Penyelamat nya waktu itu, memiliki kemiripan denganmu dari belakang." ujar Krystal menunjuk rambut Kris.

Waja Kris semakin terlihat heran. "Tapi aku di kantor seharian itu. Mungkin dia adalah penyihir yang tidak sengaja melintas." balas nya dengan sorot mata lurus.

Jongin mengerutkan keningnya, "untuk seorang penyihir biasa, dia terlalu kuat." ucap nya menyela, "apa itu suruhan ayah?"

Ketiga kakaknya menggeleng.

'Kurasa juga tidak' Batin Jongin seolah tahu itu tidak mungkin. Sedetik kemudian ia menggeleng mengusir pikiran-pikiran bodoh dari kepala nya. Jongin berusaha menarik senyum senyum.

"Omong-omong, Aku menang. Aku berhak meminta apapun." Kicau Jongin membuat Baekhyun meringis kesal.

"Lain kali jangan gunakan cara seperti itu dalam perlombaan. Itu curang."

"Eh? Tapi aku tidak—"

"Selamat Shane, Kau bisa mengurus kamar Kai setahun kedepan."

The hell...?!—Mulut Baekhyun terbuka lebar. Dia benar-benar lupa akan hal itu.

"HELL NO!"

Jongin menjulurkan lidahnya pada Baekhyun. Sengaja membuat lelaki itu menggeram kesal.

Yifan tertawa, meminta Krystal membantu nya melerai mereka. "Sudah-sudah.." Potong nya seraya menarik lengan Jongin menjauh dari Baekhyun.


Setelah makan siang, Jongin dan Baekhyun kembali menceburkan diri untuk berenang. Tapi berbeda dengan rencana awal Jongin yang hanya ingin berenang, tampaknya Baekhyun lebih memilih untuk menjahili adiknya.

Pria kurus itu berenang menyelinap kedalam air. Tanpa aba-aba dia menarik kaki Jongin kebawah air.

"Shane!" hal itu membuat Jongin gelagapan. Ia terbelalak melihat daun-daun mendadak mengelilingi nya. Baekhyun adalah Baekhyun. Kakak yang menyebalkan. Jongin membalasnya dengan menendang kakaknya keras dan kembali naik ke atas.

"Manusia daun disebelah sana." bahkan bagi Jongin, tawa Baekhyun terdengar menyebalkan. Dia pasti senang melihat Jongin muncul dengan rambut juga tubuh penuh dedaunan.

Ah, seriously. Jongin mendesis kesal kepadanya sebelum menutup mata, dan berkonsentrasi. Detik berikutnya Jongin terperangah mendengar jeritan kesal Baekhyun, ia segera berpaling dan terkejut menemukan kakak nya diserang oleh kawanan burung berbulu putih.

"Ups.."

Kris muncul di samping Baekhyun dan melenyapkan burung hasil sihir Jongin. Namun meskipun ia merasa bersalah, ia tidak bisa menahan tawa melihat Baekhyun mengumpat keras.

"Uh maaf. Aku tidak bermaksud untuk menyerangmu. Aku tadinya memikirkan bulu tapi .. Um.." jelas Jongin terbata sekaligus menyembunyikan senyumannya. Well.. Dia memang tidak sengaja.

Baekhyun berdecak, "Lain kali gunakan sihir mu lebih baik. Aku yakin saat kau membayangkan ikan remora, justru hiu yang akan muncul." dengus nya. Dia tampak sangat kesal.

Kris ikut terkekeh. "Seperti nya kau jarang menggunakan sihir, Tuan muda." canda nya membuat Jongin berdeham dengan wajah yang bersemu merah.

Jongin menggeleng. Ia berlari meninggalkan Kris dan mengejar Baekhyun yang berjalan menuju tepian. "S-shane, biar kubantu membersihkan diri mu" ujar nya ketika Baekhyun hendak menjauh.

Baekhyun memberikan adiknya pandangan ngeri, yang benar saja. Tapi sebelum ia sempat berbicara, Jongin sudah menutup kedua mata nya. Lekas Baekhyun menoleh ke sumber suara bergemuruh di belakangnya. Ia pun membulatkan mata.

"Ka—"

Zrasshh...

Jongin membuka mata nya perlahan, berjengit karena sadar dia telah melakukan kesalahan. Ia terkesiap melihat tubuh basah Baekhyun muncul dari debur ombak yang kini menabrak karang.

Baekhyun melirik nya kesal. Sementara semua orang terlihat sedang menertawakan mereka.

"Uh, maafkan aku." gumam Jongin pelan.

"Jangan khawatir, kau hanya belum terbiasa." tepukkan di bahu membuat Jongin berjengit. Ia menemukan kakak sulungnya tersenyum mengusak rambut milik nya.

Kris menarik lengan sang bungsu Jongin duduk bersama yang lain. Dia tertawa karena Baekhyun masih saja terlihat kesal.

"Berhentilah menggunakan aku.. Sebagai objek latihan mu." geram Baekhyun rendah dengan wajah memerah.

Jongin duduk mendekat pada ayah dan ibu nya. "Uh.. Aku tidak bermaksud melakukannya." ucapnya tulus, lalu disertai bisikan maaf pelan yang diragukan Jongin akan didengar Baekhyun.

Namun seperti nya Baekhyun sama sekali tidak memiliki pikiran untuk berkata hal yang baik-baik pada adik bungsu nya. Dengan wajah merengut Jongin mencibir nya. "Dia yang mulai kenapa dia yang marah sekarang?" mendengar cibiran Jongin. Sang ibu dan ayah hanya terkekeh pelan.

"Kau menghajarnya dan itu mengusik harga dirinya," didengar Jongin suara datar Krystal dari belakangnya.

"Jika Kris atau aku yang melakukannya dia sudah pasti akan membalas. Tapi karena itu kau, dia tidak bisa berbuat apa-apa." sambung Krystal mengejutkan Jongin karena kakak perempuannya itu berbicara tanpa sekalipun menaruh nada sinis disana.

Kris mengangguk membenarkan. Senyum lebar tidak pernah meninggalkan wajah tampan kakaknya hari ini. "Aku sebenarnya ingin mengerjai nya. Tapi aku tidak mau ibu kesal. Bagaimanapun dia yang termuda sebelum dirimu. Yah dia beruntung ibu masih melindunginya." ucapnya dengan nada menahan tawa.

"Aku mendengarmu, Kris!" teriak Baekhyun beberapa meter dari mereka. "Aku akan menghajarmu nanti. Hyung!"

"Aku juga mendengar itu, anak-anak!" kali ini sang ibu berteriak memperingati anak-anak nya agar menjaga kelakuan. Jelas saja empat bersaudara itu langsung terdiam.

Namun Jongin tertawa paling keras sendiri setelahnya.


Sore itu sebelum mereka berkemas pulang, Jongin melihat Krystal berjalan sendirian di tepi pantai. Baekhyun berbaring di atas pasir dan Kris tampak sibuk menelpon. Sementara dirinya bermain pasir. Ia membuat istana pasir. Jujur saja, Jongin merasa berasalah ketika Kris masih harus mengurus perusahaan meskipun mereka sedang berlibur.

Seakan merasakan seseorang sedang menatap nya, Kris menoleh kesamping— tersenyum menutup telepon nya lalu berjalan menghampiri adik nya.

"Tidak perlu merasa bersalah. Kau sama sekali tidak merepotkan." ucapnya seraya mengacak rambut Jongin.

"Maaf." gumam Jongin enggan untuk bersuara. Kris merangkul bahu adiknya, untuk mendekat padanya. "Hei. Kami juga butuh istirahat. Lil' brat." balas Kris tulus.

.

.

Beberapa menit sebelum mereka selesai berkemas, Jongin memutuskan untuk menghampiri Krystal dan berpikiran untuk membicarakan banyak hal. Dia tidak akan mendapat kesempatan lain untuk berbicara berdua.

Ini adalah ide dari Kris. Diantara saudara nya yang lain Jongin lebih dekat dengan Kris.

"Kebetulan sekali." Jongin tersentak berhenti melangkah ketika mendengar suara Krystal.

Mereka berdiri di atas batu karang, di depan mereka, Laut biru memancar sinar orange bias dari matahari yang kian akan tenggelam. Jongin menatap kakak nya yang kini melempar senyum samar. Dia berjalan perlahan mendekat.

"Uh, Aku mengganggumu?"

Krystal menggeleng, "Tidak."

Bibir Jongin terdiam membentuk garis tipis. Diam-diam merutuki sikap dingin Krystal. "A—"

"Aku ingin membicarakan sesuatu."

Ucapan Krystal membuat Jongin terpaku ditempat. Karang yang tadi nya lapang berubah menjadi sebuah rumah kayu dengan pantai di sekelilingnya. Jongin mengerjap, mengingat suatu hal.

Kenapa Krystal membawa Jongin ke Villa pribadi keluarga mereka?

"Kau ingat tempat ini?" Krystal berjalan tegap mendekat menggenggam tiang kayu pagar villa. Matanya jauh menerawang lautan berkilau di depan mereka.

"Ini rumah persinggahan ayah setiap dia ingin berlibur?" Jongin menjawab dengan suara menimbang-nimbang ingatan.

Krystal terkekeh pelan, membuat Jongin terkejut hingga melotot memperhatikan kakaknya. "Aku ingat saat kecil, kita berempat bermain disini. Melarikan diri dari rumah dengan berteleportasi."

"Oh," Jongin manarik senyum tipis, Matanya menyipit menahan gelak tawa mengingat masa kecil mereka. "Ya. Shane sangat nakal saat itu."

Krystal menggangguk.

Mereka terdiam sangat lama, Menatap langit jingga tertelan air laut. Jongin tidak bisa mengatakan hal apapun karena sejujurnya dia tidak pernah berbicara dengan Krystal selama— bertahun-tahun? Entahlah..

"Kai?" panggil Krystal tiba-tiba.

Jongin menegakkan tubuhnya ke arah Krytal. "Y-ya?"

"Kenapa saat itu kau pergi?"

Jongin meneguk ludah. Otaknya berhenti bekerja. Bahkan bibirnya hanya terbuka tanpa mengeluarkan kata-kata untuk menjawab pertanyaan Krystal. Jongin menghela nafas panjang.

"Dengar. Maksudku.. Aku tau kau sangat marah ketika tahu aku pergi dari rumah—"

"Kau melarikan diri." Koreksi Krystal membuat Jongin berjengit.

"Oh um. Aku hanya tidak mau menyakiti kalian dengan sikapku jika aku tetap tinggal."

Kepala Jongin semakin tertunduk ketika merasakan tatapan Krystal. "M-maafkan aku. Aku.. Aku tahu sikap dingin mu akhir-akhir ini disebabkan karena aku kembali ke rumah. J-jika memang kau tidak bisa menerimaku lagi, aku sudah menduga jika kau membenciku. T-tidak apa. Kuharap kau bisa bersabar. Aku akan pergi sebentar lagi. M-maksudku menikah." sambung Jongin panjang lebar. Lidahnya terasa kaku menyebut kata pernikahan. Apa..kenapa?

"Maaf.."

Krystal berbalik, tatapan yang semula dingin perlahan melembut. Tangan nya terulur menarik lengan Jongin mendekat. Dia menatap adiknya sangsi. "Apa yang kau katakan, Kai?" tanya wanita itu datar.

Jongin mengangkat wajahnya, membawa dirinya bertemu dengan manik tajam Krystal. Dia terdiam. Dia berpikir kakak perempuannya akan segera memarahinya.

"Bagaimana bisa kau berkata seperti itu? Apa aku pernah berkata seperti itu?!" Jongin kembali menunduk mendengar suara Krystal yang bergetar. Kedua mata Krystal memerah serta mulai berkaca.

"Bodoh!"

Jongin terhuyung kebelakang ketika Krystal hambur kepelukaannya. Pikiran Jongin seketika terasa kosong, dia melupakan segala nya dan mulai menerawang waktu. Kapan rasanya terakir kali mereka berpelukan?

"Bagaimana bisa kau berpikir seperti itu? Aku tidak pernah membencimu. Sebaliknya, aku sangat merasa bersalah padamu. Dikeluarga kita. Akulah satu-satu nya putri, tapi malah kau yang— Kai, Aku hanya marah dan kecewa pada diriku sendiri." Ucap Krystal mengejutkan Jongin. Segera Jongin mendorong pundak Krystal menjauh, memperhatikan sendiri wajah basah kakaknya oleh airmata.

Dia menangis.

"K-kenapa.."

"Aku adalah kakakmu. Tapi bahkan aku tidak bisa menjagamu atau melindungimu. Tapi tidak ada yang bisa kulakukan. Hingga—"

Jongin menggeleng, membungkam Krystal daru lanjutan perkataannya. Jongin tidak ingin mendengar satu katapun tentang pernikahannya lagi atau bahkan saat dimana Krystal akan mengungkit masa kecilnya yang harus tumbuh tanpa seorangpun teman. Dia dulu hidup sendirian, kesepian dan penuh kebencian.

"Krystal—"

"Apapun akan kulakukan, untuk bisa kita bertukar. Aku mau lakukan apapun agar kau tetap tinggal. Kau tidak perlu lagi menikah dengan Sehun. Kau—" Jongin menarik Krystal kembali kepelukannya sebelum kakaknya itu pecah dalam tangis.

"Kau tau aku akan baik-baik saja." sela Jongin. Dia menahan isalan di tenggorokannya. Dia adalah pria—apa apaan, kenapa dia menangis?

"Aku akan selalu baik-baik saja."

"Dasar lelaki bodoh."

Jongin tersenyum, mempererat pelukan mereka. "Aku merindukanmu, Krystal."

Krystal tertawa, memukul pundak adiknya untuk segera melepaskannya. Secara beriringan, mereka kembali ke tempat saudara mereka yang lain berkumpul. Melihat paras kakak perempuan nya membuat Jongin berdenyut nyeri dalam hati. Dia terus berandai, jika Pangeran Sehun itu harus memilih, tentu lah Jongin yakin Sehun akan memilih Krystal.

Pikiran itu membuat Jongin tersenyum tipis. Entah kenapa merasa janggal sendiri akan rasa sakit di dada nya.


Tak beberapa lama setelah mereka berjalan kembali ke pantai. Pandangan Jongin tertahan oleh sosok seseorang di balik pepohonan pinggir pantai. Sosok itu terlihat tidak asing, Jongin menghentikan langkahnya ketika terbayang salah seorang sosok di kepalanya.

Krystal ikut berhenti ketika menyadari Jongin tidak lagi mengikutinya. Dia berbalik menemukan Jongin dengan pandangan kosong berdiri linglung di tengah hamparan pasir. "Ada apa, Kai?"

"Oh!" Jongin segera menatap kakaknya, ia menggeleng cepat. Lalu menatap ke pepohonan memastikan sosok tadi. Hm? Kemana dia?

"Tidak ada. Aku hanya berpikir rumah kayu tadi sangat indah."

Diam-diam Jongin mendesah lega akan keberadaan Jasper yang tidak diketahui Krystal. Jongin sangat yakin itu tadi adalah Jasper. Rambut itu. Bahkan tinggi tubuh sosok itu. Tsk. Jongin akan menemui Jasper besok. Dia akan menghajarnya keras. Jasper benar-benar perlu diingatkan.

Krystal melempar senyum lebar, "kau masih memikirkan rumah lain yang kita lewat tadi itu?" tanya nya memecah lamunan Jongin.

"Ya, sedikit." ringis Jongin, membenarkan jika dirinya memang sedikit berkepikiran tentang rumah kayu lain yang tak jauh daru villa mereka. Rumah kayu besar tua yang indah, menyatu dengan hutan kecil di belakangnya nya serta lautan yang menghampar di pantai.

Namun Jongin menghentikan berbagai macam pikirannya. Melihat senyum sendu Krystal membuat Jongin bertanya-tanya, ada apa dengan rumah kayu itu? Karena sekali melihat, Jongin tau itu bukanlah rumah biasa.


To be continue...


Note :

Hi, ^^ maaf atas lama update nya. here you are.. selamat membaca