Sudah dua jam sejak Akashi pergi bersama GoM dan Kagami. Sampai saat ini belum ada kabar apapun dari mereka. Hal tersebut membuat Kuroko dan dua perempuan yang kini masih duduk di kantin asrama, duduk dengan tidak nyaman. Mereka benar-benar khawatir, karena sampai detik inipun belum ada yang menghubungi mereka apalagi menampakan batang hidungnya.

Kuroko berharap semuanya baik-baik saja. Dia merasa semua ini adalah salahnya.

Yuki menepuk pundak Kuroko pelan. Dia memahami perasaan pemuda itu. Dia sedikit menyesal karena telah memberitahukan tentang kejadian tempo lalu kepada Akashi. Namun dia juga tidak bisa tinggal diam saja.

"Kuroko-kun kau tenang saja. Mereka pasti akan baik-baik saja kok.'' Ucap Yuki.

"Ya semoga saja…"

.

.

.

.

.

Kuroko no Basuke By Fujimaki Tadatoshi

Pair: AkaKuroslight AoKise, MidoTaka dan MuraHimu

Other Chara:Kagami Taiga, Nash Gold dan kawan-kawan.

Rate: T

Genre: Drama, Friendship, Romance and gado-gado XD

Warning: OOC, Shounen-Ai, semoga tidak ada Typo.

Akashi Bokushi/Oreshi bisa berubah-ubah setiap waktu, namun mata tetap heterochome

OC: Kayano Yuki and Midorima Azura by Myself.

.

.

.

.

Akashi dan para pengikutnya masuk kantin asrama dengan keadaan yang sedikit berantakan. Rambut acak-acakan, baju yang lusuh, dan keringat membanjiri tubuh mereka. Bahkan kancing teratas baju yang dipakai Aomine telah raib entah kemana. Mereka berjalan dengan langkah yang tidak tenang, menimbulkan bunyi yang sangat berisik di koridor, menyebabkan semua orang menatap ke arah mereka.

Melihat hal tersebut para gadis dan Kuroko berdiri menyambut.

"Oh ya ampun! Apa yang terjadi dengan kalian?" seru Momoi.

Pemuda-pemuda itu kini telah duduk di kursi yang kosong. Kecuali Kise dan Kagami yang langsung telentang di lantai, tidak peduli dengan sekitar.

"Apa yang terjadi Akashi-kun?" Tanya Kuroko pada Akashi yang kini duduk di sampingnya. Meski wajahnya masih datar, namun nada bicaranya tersirat kekhawatiran.

"Tidak apa-apa Tetsuya, semuanya baik-baik saja." Jawab Akashi tersenyum lembut, dia senang karena pemuda di sampingnya megkhawatirkannya. Meskipun tidak diucapkan secara langsung, tapi Akashi bisa tahu lewat gerak-geriknya.

"Tidak ada apanya, kalian terlihat berantakan seperti itu. Apa kalian habis berkelahi?" tanya Yuki.

"Siapa yang bilang kami habis bertengkar-suu. Kami hanya menyelesaikannya dengan jalan damai ko." Kiselah yang menjawab. Dan karena itu dia mendapat tatapan tajam dari Akashi, membuatnya bergidik ngeri.

"Tenang saja, kami menyelesaikannya dengan jalan damai. Semuanya kini telah berakhir." Tegas Akashi.

"Jalan damai?" Tanya Azura, mendahului Kuroko yang hendak buka suara.

"Ya. Kami menantang mereka main basket-suu dan kalau mereka kalah mereka harus minta maaf pada kalian, dan kalau kami yang kalah kami harus melakukan apapun perintah mereka. Tadinya sih mereka tidak setuju-suu, bahkan ada insiden kecil."

"Insiden kecil apaan, mereka hampir memukulku bodoh! Lihat saja! Kancingku hilang satu. Kalau saja Akashi tidak menghalangi, aku pasti sudah memukul muka jelek mereka. Terutama yang berotot besar itu. Gerrr!" Aomine mengepalkan tangannya masih terbawa emosi.

Kuroko menatap Akashi, yang ditatap balik menatapnya. Akashi tersenyum pada Kuroko.

"Aku tahu, Tetsuya pasti tidak mau ada masalah yang semakin besarkan? Maka dari itu menatang mereka main basket adalah jalan keluar satu-satunya. Dan juga mereka adalah pemain basket juga."

"Lalu, hasilnya?' Tanya Momoi.

"Tentu saja kami menang, aku tidak mungkin kalah dengan preman seperti mereka!" jawab Kagami megepalkan tangan.

"Tampangmu juga seperti preman-nodayo." Komentar Midorima yang dari tadi diam meyimak.

"Urusai!" kesal Kagami.

"Syukurlah kalau begitu." Kuroko menghela nafas lega.

Akashi tiba-tiba berdiri, dia menepuk pucuk kepada Kuroko pelan. Lalu meninggalkan kantin tanpa sepatah katapun. Kuroko yang diperlakukan seperti itu menundukan kepala.

Deg, deg, deg

'Apa-apaan ini, kenapa jantungku tiba-tiba berdetak semakin cepat?'

"Syukurlah. Kalau begitu, kami pamit dulu. Takut ketahuan penjaga asrama, bisa gawat nantinya." Teriak Momoi lega. Para gadis mulai meninggalakan tempat, yang lain juga mulai bubar. Kembali ke kamar masing-masing.

.

.

.

.

.

Kamar no 114, kamar AkaKuro

Kuroko selalu meyakini bahwa dirinya straight, namun entah kenapa akhir-akhir ini dia merasa sangat aneh. Juga, perlakuan Akashi tadi siang membuatnya terus memikirkan keanehan yang dia rasakan selama ini. Dia terus bergerak gelisah dalam tidurnya. Membuat Akashi yang tidur di sampingnya risih juga.

"Tetsuya, mau sampai kapan kau berguling-guling seperti cacing kepanasan seperti itu! Cepat tidur!" perintah Akashi

"Aku tidak bisa tidur kalau Akashi-kun masih tidur disini." Jawab Kuroko

"Kau mengusirku Tetsuya?"

"Begitulah." Ucap Kuroko innocent.

"Hemm, bagaimana kalau kita melakukan sesuatu yang menarik. Supaya kau bisa cepat tidur, Tetsuya?" Kuroko membalikan badan menghadap Akashi.

"Apa itu Akashi-kun?" Tanya Kuroko penasaran, dengan tampang polosnya.

Akashi membisikan sesuatu ke telinga Kuroko.

"Akashi-kun mesum!" teriak Kuroko tepat di depan muka Akashi. Mukanya benar-benar merah padam.

"Makannya cepat tidur!" perintah Akashi lagi, dia tersenyum geli dengan reaksi Kuroko.

Dengan cepat Kuroko membalikan badannya kembali, tidur membelakangi Akashi sambil terus menyumpahi Akashi.

"Akashi-kun menyebalkan!" gumaman Kuroko masih bisa di dengar oleh Akashi.

"Terimakasih, aku juga mencintaimu."

"Dasar gila!"

"Aku gila karena Tetsuya."

"Tolong hentikan Akashi-kun! Kata-katamu membuatku ingin muntah." Ucap Kuroko terang-terangan.

"Maaf Tetsuya aku belum melakukan apapun padamu, bagaimana mungkin kau bisa hamil."

"Akashi-kun tolong mati saja sana!"

"Aku rela mati asalkan bersama Tetsuya." Akashi terkekeh sendiri dengan apa yang baru saja dia katakan.

"Arrrghhh!" Tetsuya berteriak frustasi.

Menghadapi Akashi sangat melelahkan bagi Kuroko. Karena jengkel, Kuroko beranjak dari kasur, dia bangun berdiri, tapi sebelum benar-benar beranjak tangannya digenggam oleh Akashi.

"Maafkan aku, tolong jangan pergi Tetsuya. Biarkan aku yang keluar. Tidurlah, besok kita harus berangkat." Akashi mengalah dan beranjak pergi.

Kuroko jadi merasa bersalah, dia sebenarnya tidak benar-benar mengusir Akashi tadi. Akashi sudah ada di depan pintu, tangannya sudah siap membuka kenope pintu, namun ada yang menarik ujung kaosnya dari belakang.

"Maaf, bisakah kita tidur dengan normal Akashi-kun." Ucap Kuroko sambil menundukan kepala.

Akashi berbalik, lalu mengusap-usap pucuk kepala Kuroko penuh sayang. Menyebabkan timbulnya semburat merah samar-samar di pipi putih Kuroko.

"Aku mengerti, mari kita tidur." Ajak Akashi. Kuroko menganggukan kepala, menyetujui ajakan Akashi.

Mereka kini kembali berbaring di kasur.

Dalam hati Akashi menyeringai, merasa menang. Oh Kuroko kau tidak tahu betapa liciknya si setan merah di sampingmu itu.

.

.

.

.

.

Kamar 113, kamar Kagami Taiga

Hemm mari kita lewati saja kamar ini, karena penghuni kamarnya sedang tidur. Suara dengkuran menandakan penghuninya tidak mau diganggu.

Kamar 115, kamar AoKise

Kise baru saja keluar dari kamar mandi. Dia sengaja hanya mengenakan handuk di bagian pinggang, niatnya sih mau menggoda Aomine.

Aomine sedang menonton televise di ruang tamu, di layar menampilkan pertandingan basket luar Negeri. Sofa yang didudukinya berantakan dengan baju yang dibuangnya asal karena kegerahan. Dia sangat malas bahkan hanya untuk mandi, pantas saja kulitnya sangat eksotik begitu.

Kise dengan pedenya mondar mandir di depan televise.

Satu kali, Aomine masih diam. Kedua kali, Aomine memicingkan mata. Ketiga kali, urat-urat kekesalan mulai bermunculan. Empat kali Aomine mulai jengkel. Kelima kalinya Aomine berdiri.

"Kise kucium kau, baru tahu rasa!" teriak Aomine, tanpa maksud.

Kise yang mendengarnya justru mengeluarkan aura bling-bling.

"Sungguh Aomine-chi?" Tanya Kise semangat.

"Ya aku serius. Nih dengan bajuku!"

Aomine melempar bajunya yang sangat bau tepat di depan muka Kise. Bahkan sepertinya tikuspun enggan mencuri baju yang baunya gak bisa didefinisakan itu.

Seketika Kise pingsan dengan tidak elitnya. Handuk yang melilit pinggangnyapun merosot, menampakan kebanggaan Kise. Aomine yang melihanya secara live langsung memalingkan wajahnya ke arah lain.

'Sial mataku sudah terkontaminasi' batin Aomine.

Setelah ini Aomine berniat mencuci matanya dengan deterjen sekalian dengan tubuhnya biar putih XD.

Kamar 116, kamar MuraHimu

Entah kenapa Himuro lebih banyak diam. Melihat Murasakibara tadi masuk kamar juga hanya diam. Padahal Murasakibara ingin perhatian dari Himuro karena dia sangat kelelahan.

"Muro-chin?" Murasakibara mendekati Himuro yang kini sedang duduk di meja belajar. Tanpa basa-basi titan ungu memeluk Himuro dari belakang.

"Aku lelah, aku mau susu." Katanya manja.

"Aku tidak punya." Jawab Himuro singkat.

"Aku mau susu." Ucap Murasakibara lagi.

"Aku laki-laki Atsushi."

Percakapan ambigu masih berlangsung.

"Aku tahu, tapi sekarang aku mau susu." Rengek Murasakibara.

"Sudah aku bilang, aku tidak punya!" teriak Himuro sambil melepaskan pelukan Murasakibara, dan pergi meninggalkan si bayi besar yang matanya sudah berkaca-kaca.

"Muro-chin tega padaku."

"Aku bukan ibumu!" teriak Himuro membanting pintu kamar.

Demi nasib si dompet, Himuro harus jadi orang jahat kali ini. Menulikan pendengaran dari suara rengekan si bayi besar dari dalam kamar.

Kamar 112, kamar MidoTaka.

Sedang cape-capenya bukannya disambut, Midorima malah disuguhi aura tak mengenakan di kamar. Takao tak memedulikan kedatangan Midorima. Memandangpun tak sudi, Takao selalu memalingkan wajahnya ketika tak sengaja menatap Midorima.

Midorima menghela nafas panjang. Lalu mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya.

"Hari ini Cancer diurutan pertama. Perintah dari Oha-asa harus membuat orang disekitar senang. Jadi aku membeli ini-nanodayo." Midorima meletakan setangkai bunga mawar berwarna merah di samping Takao yang sedang menonton televisi.

"Bukannya aku peduli, tadi aku hanya tidak sengaja mampir-nodayo" tambahnya sambil berlalu. Midorima memasuki kamar mandi.

"Shin-chan…" mata Takao berkaca-kaca, dia merasa sangat bahagia.

Di dalam kamar mandi Midorima tersenyum tipis. Oh pasangan yang sangat manis.

.

.

.

.

.

Pagi hari Teikou Gakuen heboh. Para siswa sudah berkumpul di depan gerbang karena kedatangan tiga pemuda yang kini berdiri di depan gerbang sekolah.

"Mana Kuroko Tetsuya, keluar kau!" teriak pemuda tinggi, di telinga kanannya terdapat tindikan.

Merasa terpanggil Kuroko maju.

"Doumo. Kuroko Tetsuya-deshu."

Pemuda tadi celingukan namun tak medapati siapapun, padahal Kuroko sudah ada di depannya persis. Setelah sadar, dia terperanjat kaget, namun sedetik kemudian dia kembali stay cool.

'Menarik!' batin pemuda itu.

"Ikut denganku!" perintahnya.

"Sumimasen, aku tidak akan ikut dengan orang yang tidak aku kenal." Jawab Kuroko masih dengan tampang datarnya.

"Nash Gold J.R. dari SMA JabberWock." Tanpa basa basi dia menarik tangan Kuroko.

"Maaf, dia milikku!" aku Akashi yang tiba-tiba sudah menarik Kuroko kebelakangnya. Akashi menatap Nash tajam.

Nash menyeringai. Dia menatap teman-temannya sambil memberikan kode. Temannya yang berjumlah dua orang itu mengangguk.

Bukk!

Akashi tidak tahu apa yang terjadi. Tiba-tiba dia sudah jatuh tersungkur ke tanah.

Ketika Akashi hendak berdiri, laki-laki yang bertubuh paling besar menginjakan kaki di punggungnya. Lalu menendang Akashi berulang kali, sambil tertawa sangat keras. Siswa Teikou Gakuen terdiam, mematung menyaksikan kejadian itu. Bahkan seorang seperti Akashi tak berdaya jika diserang mendadak seperti itu.

Sedangkan Kuroko tiba-tiba sudah disekap oleh teman Nash yang satunya lagi. Nash mendekati Kuroko dan memegang dagu Kuroko. Kuroko menggeleng-gelengkan kepala tidak mau disentuh oleh Nash, dia mencoba memberontak, namun gagal.

"Aku tidak tertarik untuk minta maaf pada pemuda manis ini, Kapten." Kata Nash mengejek

Akashi berulangkali mencoba berdiri namun tak pernah berhasil karena pemuda besar itu sudah menduduki punggung Akashi. Akashi sudah babak belur, tubuhnya seperti mati rasa karena tertimpa beban yang sangat berat.

Kuroko menatap Akashi yang kini tertelungkup di tanah, tubuhnya sudah tidak bisa digerakan lagi. Nash memberi kode pada pemuda besar itu.

Bakk

Tendangan yang sangat kuat dilancarkan. Membuat Akashi memuntahkan darah dari mulutnya. Kuroko melotot menyaksikan kejadian tersebut.

"Aku bawa si manismu ini, Kapten!" kata Nash sambil berlalu pergi, diikuti temannya yang lain. Kuroko dibawa pergi, dibopong oleh pemuda yang menyekapnya tadi. Meski Kuroko memeberontak, tenaganya tak cukup kuat jika dibandingkan pemuda besar yang membopongnya seperti karung beras tersebut.

Para pemuda itu pergi meninggalkan Teikou Gakuen sambil tertawa sangat keras. Kuroko terus menatap kebelakang, dimana Akashi tergeletak tak berdaya, sampai tak terlihat lagi di penglihatan Akashi.

'Akashi-kun tolong aku.' Tatapan Kuroko menyiratkan hal tersebut tadi.

'Sial!' Akashi merutuk dalam hati.

Seperginya mereka GoM yang baru tahu kedatangan anak-anak JabberWock, berlari dengan tergesa-gesa menghampiri Akashi yang sudah babak belur.

"Akashi kau baik-baik saja?" Tanya Midorima menghampiri Akashi, sambil membantunya berdiri. Aura-aura tidak mengenakan sudah menyelimuti Akashi dari tadi, membuat GoM merinding.

Akashi menatap mereka dengan tatapan sangat tajam. Seperti mengatakan 'kemana saja kalian'.

"Go-gomen Akashi-chi tadi aku habis mengerjakan tes susulan." Jawab Kise.

"Aku juga." Tambah Aomine dan Kagami kompak.

"Aku sedang mengerjakan laporan bulanan-nodayo,' jawab Midorima sedikit gemetaran.

Hanya Murasakibara yang diam saja, dia asyik memakan maibou.

"E-etto aku tidak melihat Kuroko?" Tanya Kagami meski ketakutan namun dia memberanikan diri untuk bertanya.

"Mereka membawa Tetsuya pergi. Karena kalian tidak datang-datang sedari tadi!" sindir Akashi. Aura tidak mengenakan masih menyelimutinya. GoM dan Kagami sudah gemetaran tidak karuan. Mereka merasa Akashi benar-benar akan membunuh mereka dengan aura di sekelilingnya.

"Ka-kami benar-benar minta maaf-nodayo" ucap Midorima mewakili.

"Aku tidak butuh maaf kalian. Ikut aku sekarang juga!" perintah Akashi.

"T-tunggu Akashi-chi, sebaiknya kita obati dulu lukamu. Tidak mungkin kita membalas mereka dengan kondisimu yang seperti ini-suu." usul Kise. Akashi melotot ke arah Kise. Dia sudah bersiap-siap mengeluarkan gunting dari saku seragamnya. Namun perkataan Aomine menghentikannya.

"Aku setuju dengan Kise, dengan kondisimu yang seperti ini kau tidak mungkin bisa menyelamatkan Tetsu, Akashi." kata Aomine.

"Aku setuju-nodayo. Aku yakin Kuroko juga pasti mengkhawatirkan kondisimu, Akashi." Tambah Midorima mencoba menenangkan Akashi. Kagami ikut ngangguk-ngangguk setuju, dia sudah ketakutan dari tadi.

Akashi menghela nafas panjang. Dengan terpaksa dia harus menuruti perkataan teman-temannya itu. Untuk kali ini dia mengalah, demi menyelamatkan Tetsuya-nya.

'Tunggu aku Tetsuya. Aku akan datang menyelamatkanmu.' Batin Akashi.

.

.

.

To be Continued

.

.

.

Yuhuu Ai kembali nih. Terima kasih sudah membaca, semoga readers suka dengan chapter kali ini.

thanks to;

zhichaloveanime

FriendShit

Dhia484

Rizky307

Dewi15

Dwi341

Naruhina-Sri-Alwas

ChintyaRosita

Dedee5671

.

.

.

.

Terima kasih sudah mau mampir dan membaca. Syukur-syukur mau meninggalkan review juga

See You~

Ai-chan