Song for Unbroken Soul
.
Original story Song for Unbroken Soul by Nureesh Vhalega, ©2014
Re-make YunJae (yaoi version)
.
Warning: Yaoi, Mature-Adult contents, Out of Character, Typo
.
.
.
.
- 03 -
[ Menghindari Matahari ]
.
.
Seoul, November 2014
Jaejoong mengerang kesal ketika sinar matahari yang masuk melalui celah tirai menyinarinya, membuatnya mau tidak mau membuka matanya. Dia membenci matahari, karena matahari membuatnya merasa beban yang memberati bahunya semakin bertambah, matahari juga membuatnya seakan tidak memiliki hak hanya untuk sekedar melihat warna cerahnya. Dia merasa begitu kelam, tenggelam dalam lukanya yang dalam.
Jaejoong menatap ke luar jendela dan melihat suasana sibuk yang berpadu dengan suara klakson yang terdengar riuh di luar sana. Hari baru saja menyentuh pagi, namun Seoul telah digeluti berbagai kesibukan. Kota yang begitu ramai dan menjadi pusat kegiatan vital negara ini.
Satu lirikan singkat pada penunjuk tanggal di ponselnya menambah rasa bersalahnya, dia telah melewatkan kunjungannnya ke panti asuhan kemarin. Dia membiarkan satu-satunya kegiatan yang berharga baginya terenggut oleh satu senyuman itu, senyum yang mengoyak hatinya.
Satu minggu yang lalu ketika mengunjungi panti asuhan seperti biasanya, dia bertemu dengan seorang pria. Tidak juga bisa dikatakan bertemu, karena mereka hanya saling melihat selama beberapa detik, namun beberapa detik itu berhasil mencuri perhatiannya. Begitu melihat pria itu, hanya satu kata yang muncul di benaknya: menarik. Pria itu terlihat cukup menarik perhatiannya.
Hingga senyum terkutuk itu terulas, senyum yang mengingatkannya pada seseorang yang tidak ingin diingatnya lagi seumur hidup. Senyum yang terlalu banyak menorehkan luka di hatinya, bahkan hingga saat ini, ketika waktu enam tahun telah berlalu.
Sebelum otaknya memutar ulang kengerian di hidupnya, Jaejoong segera beranjak menuju kantornya. Seperti biasanya, hari Senin menjadi pembuka untuk segala kesibukan. Khusus bagi Jaejoong dia harus bekerja lebih keras karena dia harus menyelesaikan proposal kerja sama dengan Jung Property Company siang ini, lalu segera mengajukannya ke pimpinan perusahaan besar itu.
Kerja sama ini sangat penting baginya, karena perusahaan yang dipimpinnya -buah dari kerja kerasnya selama dua tahun ini- tengah berada di ambang kehancuran. Korupsi besar-besaran yang baru saja terjadi di perusahaannya, membuatnya tidak memiliki pilihan selain mengusahakan seluruh kemampuannya untuk menarik perusahaan lain agar mau bekerja sama dengannya.
Sebenarnya Jaejoong tidak perlu berusaha sekeras itu, karena seluruh perwakilan dari perusahaan yang pernah bekerja sama dengannya selalu bertekuk lutut di hadapannya. Meski benci mengakuinya, dia tahu dia memiliki kemampuan untuk memanipulasi orang-orang bodoh yang tidak pernah menggunakan otak mereka. Sejak awal karirnya, banyak dari mereka yang berusaha menundukan dan meremehkannya, tetapi semua berakhir dengan keberhasilannya menundukan mereka bahkan tanpa perlu melakukan apapun sebagai gantinya. Dan jika sudah seperti itu, Jaejoong akan pergi dengan dagu terangkat tinggi. Dia bukan merasa sombong, tapi itulah yang selalu terjadi padanya.
"Selamat pagi, Jaejoong. Aku sudah menyiapkan kopi dengan empat sendok gula dan juga dua sendok krim seperti biasanya di mejamu" sapa Amber tepat ketika dia sampai di kantornya.
Jaejoong memasuki ruangannya yang berwarna kuning gading diikuti Amber yang membacakan jadwalnya, dia sendiri memilih mendudukan tubuhnya di belakang meja kayu besar -meja kerjanya- lalu menyesap kopinya dengan helaan nafas pelan. Lukisan-lukisan yang memenuhi dinding menjadi saksi bisu seluruh kegiatan Jaejoong di ruangan itu, ruangan yang menjadi tempat persembunyiannya.
"Bagaimana menurutmu?" tanya Amber tiba-tiba.
Jaejoong tersentak. "Apa?"
Amber mengulangi pertanyaannya. "Kepala bagian keuangan, Lee Soman. Dia mengajukan cuti selama dua minggu, bagaimana menurutmu?"
"Apakah sudah disetujui?" tanya Jaejoong sambil menikmati kopinya.
Amber membuka catatan laporannya. "Ya, sudah. Lee Soman memang memiliki hak cuti selama dua minggu untuk tahun ini"
Jaejoong mengerutkan dahi dan menatap Amber. "Lalu kenapa kau menanyakan pendapatku?"
Amber menghela nafas pelan. "Tidakkah kau mengerti, Jae? Kau terlalu mempercayai pria tua itu, dan kasus korupsi ini harus segera dituntaskan. Mengapa kau tidak mulai menyelidiki siapa pelakunya?"
Jaejoong mengetukan jarinya ke atas meja, lalu mendesah pelan. "Kau benar, kondisi keuangan perusahaan kita sangat mengkhawatirkan. Aku sedang berusaha membuat kerja sama dengan Jung Property Company, kuharap semua berjalan dengan lancar"
"Kurasa tidak semudah itu, Jae. Apa kau lupa jika Jung Jihoon baru saja meninggal minggu lalu? Kepemimpinan perusahaan itu kini berada di tangan pewarisnya yang sampai saat ini masih dirahasiakan" ucap Amber mengingatkan Jaejoong.
Jaejoong terdiam, dia tahu hal itu akan sulit baginya. Awalnya dia merasa mudah karena dia sangat mengenal Jung Jihoon dan tahu bagaimana cara untuk mengajaknya bekerja sama, tetapi saat ini menjadi sulit dengan penggantinya yang bahkan tidak diketahui oleh siapapun. Bagaimana caranya menundukan pengganti Jung Jihoon, dan membuatnya mau bekerja sama dengannya?
Jaejoong menyentuh dahinya dan memijatnya pelan, semua ini sungguh di luar perkiraannya. Tiba-tiba saja ponselnya bergetar menandakan pesan masuk, dengan sedikit malas dia membaca pesan yang berisi kabar bahwa ibunya sedang berada di bandara Incheon, itu berarti dia akan segera bertemu dengan wanita yang sudah melahirkannya.
Jaejoong menatap ponselnya dan mendesah pelan. "Ini akan menjadi hari yang panjang"
.
- xxx -
.
Waktu sudah memasuki jam makan siang saat Jaeoong memasuki sebuah restoran yang cukup berkelas dan elegan, sesuai dengan selera ibunya. Dia mengedarkan pandangannya ke setiap sudut restoran, hingga akhirnya dia melihat ibunya -Lee Yoonji- sedang duduk di sudut kanan restoran dan tampak sibuk menatap buku menu di hadapannya. Selain mengabarkan jika sudah tiba di Seoul, ibunya juga mengajaknya untuk makan siang bersama. Mau tidak mau, Jaejoong menemui ibunya yang sudah menunggunya di salah satu restoran mewah di Seoul.
Jaejoong tersenyum dan menghampiri ibunya, lalu mencium pipinya. "Selamat siang, eomma"
Yoonji menoleh dan melihat putranya yang sedang tersenyum padanya, lalu memeluknya. "Jaejoongie... aku merindukanmu. Bagaimana kabarmu? Kau baik-baik saja, bukan?"
Jaejoong membalas dengan anggukan kepala.
"Aku akan menginap di Ritz-Carlton selama satu minggu. Kau bisa mengunjungiku kapanpun kau mau, dan kita bisa menghabiskan waktu untuk melakukan banyak hal bersama seperti dulu" ucap Yoojin bersemangat.
Lagi-lagi Jaejoong hanya tersenyum dan menganggukan kepalanya. Ibunya tidak menyukai apartemennya -yang menurutnya terlalu sederhana- dan lebih memilih menginap di hotel jika mengunjunginya, dan dia sangat bersyukur ibunya tidak mau tingal di apartemennya. Bukan karena dia tidak suka jika ibunya tinggal bersamanya selama di Seoul, hanya saja dia merasa canggung.
Hubungan Jaejoong dan ibunya merenggang beberapa tahun terakhir, tepatnya setelah kejadian itu. Kejadian yang meninggalkan luka di hatinya, luka yang membekas hingga saat ini dan meninggalkan rasa sakit yang teramat dalam. Dia merasa tidak sanggup menatap ibunya tanpa mengingat dirinya-lah yang telah membuat ibunya sedih dan juga kecewa, hingga akhirnya dia mulai melakukan hal-hal yang dulu dia tidak pernah terpikirkan olehnya; memutuskan untuk hidup sendiri dan menghabiskan waktu untuk belajar atau bekerja. Apapun itu, asal dia bisa menghindari ibunya.
Tetapi ibunya terus berusaha mengunjunginya, bahkan sampai melakukan sedikit paksaan, karena Jaejoong selalu saja menolak untuk dikunjungi. Dan setelah banyaknya bujukan yang dilakukan ibunya, Jaejoong akhirnya mengalah dan mau menghabiskan waktu bersama ibunya. Tetapi Jaejoong tetap mendirikan dinding pertahanannya, hingga tidak ada satupun orang yang bisa melihat dirinya yang sesungguhnya, termasuk ibunya.
Pada kenyataannya, Jaejoong menghindari nyaris segala hal dalam hidupnya. Demi menjaga hatinya tetap nyaman, Jaejoong bersedia mengorbankan banyak hal, terutama kebahagiaan agar tidak merasakan sakit seperti yang pernah dia rasakan sebelumnya. Jaejoong mengunci rapat dirinya di dalam ruang rahasia di dalam jiwanya yang terdalam, lalu mematahkan kunci itu hingga dia sendiri pun tidak bisa keluar dari penjara yang dia ciptakan sendiri.
Maka setiap kali ibunya bertanya apakah dia baik-baik saja, Jaejoong hanya menjawabnya dengan seulas senyum tipis tanpa makna.
.
- xxx -
.
Jaejoong melangkah masuki gedung apartemennya dengan benak sibuk membayangkan es krim yang berada di dalam lemari esnya, jam sudah menunjukan pukul sebelas malam dia merasa tubuhnya sudah begitu lelah. Entah pemimpin perusahaan macam apa yang harus bekerja hingga selarut ini, namun itulah yang Jaejoong lakukan. Ditambah dengan kedatangan ibunya, sungguh terasa semakin melelahkan.
Jaejoong baru saja melewati resepsionis ketika matanya menangkap sesosok wanita yang dikenalnya, seketika Jaejoong menghentikan langkahnya dan matanya menatap wanita itu tidak pecaya.
Wanita itu melihat Jaejoong dan menghampirinya, lalu menyapanya dengan seulas senyum. "Jaejoong, apa kabar?"
Jaejoong hanya menatap wanita itu dingin. "Apa yang kau lakukan di sini?"
"Aku baru saja dipindahtugaskan ke negara ini. Karena aku ingat kau juga berada di negara ini, jadi aku datang hanya untuk menyapamu. Apartemenku tidak jauh dari sini, kau bisa mengunjungiku kapanpun kau mau" ucap wanita yang tidak lain adalah Victoria -mantan kekasih Hyunjoong- dengan tenang. "Sekedar mengakrabkan diri sepeti dulu, atau mungkin kau bisa mengatakan padaku alasan sesungguhnya Hyunjoong bunuh diri. Alasan sebenarnya bukan karena diriku, bukan?"
Jaejoong berusaha keras tidak menunjukan emosinya dan tetap menjaga ekspresi datarnya. Wanita di hadapannya ini terlihat seperti iblis di matanya, iblis yang membangkitkan seluruh sisi gelap dalam hidupnya. Dia tidak bisa membiarkan wanita ini tiba-tiba saja datang dan menghancurkan segala ketenangan yang telah dibangunnya, jika bisa dia tidak ingin melihatnya lagi.
"Aku tidak tertarik untuk akrab dan berteman dengan orang sepertimu, semoga kita tidak akan bertemu lagi. Selamat tinggal"
Jaejoong melangkah meninggalkan Victoria yang menatapnya dengan senyum di bibirnya, senyum yang sangat Jaejoong benci dan memilih menuju mobilnya, lalu kembali menyusuri jalan. Hilang semua rasa lelah di tubuhnya, berganti dengan rasa kesal dan benci yang meluap. Tuhan benar-benar sedang mengujinya, selain harus menghadapi ibunya, dia juga bertemu kembali dengan Victoria. Jaejoong membencinya lebih dari apapun, karena Victoria-lah yang menjadi akar dari seluruh kehancuran hidupnya.
Seandainya Hyunjoong hyung tidak mengenalnya.
Seandainya aku tidak mirip dengannya.
Seandainya dia tidak mengkhianati Hyunjoong hyung.
Seandainya... seandainya... seandainya hyungku tidak...
Kata terakhir yang hampir terucap terasa amat menyakitkan Jaejoong. Karena kata itu adalah sebuah pengingat betapa tidak berdayanya dia saat itu, betapa hancur hidupnya, juga betapa banyak luka yang tertoreh di jiwanya.
Jaejoong menghentikan mobilnya di depan sebuah klub malam. Dia tidak berencana untuk minum, dia hanya ingin menenggelamkan dirinya sesaat di keramaian dan membuang semua rasa menyakitkan yang kembali memenuhi hati dan pikirannya. Segera setelah Jaejoong masuk, terdengar musik yang berdentum kencang menyambutnya.
Jaejoong membawa dirinya ke lantai dansa dan membiarkan tubuhnya bergerak mengikuti ritme musik. Dia memejamkan matanya dan tidak perduli pada orang-orang di sekitarnya, namun begitu banyak orang yang mengganggunya. Seperti seorang pria yang berada di hadapannya dan mencoba untuk menyentuhnya, pria yang sepertinya tergoda dengan wajah dan juga tubuhnya. Klub malam yang Jaejoong datangi memanglah sangat bebas, berbagai pasangan terlihat tanpa malu bercumbu, baik berlawanan jenis maupun sesama jenis. Itu sebabnya tidak aneh jika ada pria yang tertarik padanya, dan cukup banyak yang berusaha mendekatinya. Di mata mereka, Jaejoong memiliki tubuh yang menggoda, tapi sayangnya dia tidak tertarik untuk meladeni mereka.
Jaejoong segera berhenti, dia memilih melangkah keluar dari lantai dansa meninggalkan pria yang tampaknya sedang bergairah padanya dan kembali menuju mobilnya. Dia tidak menyukai sentuhan dari pria asing, ada rasa jijik yang begitu besar di dirinya saat mereka menyentuhnya.
Jaejoong menghela nafas dalam-dalam. Saat ini dia butuh pengalih perhatian, dan hanya satu orang yang bisa membantunya. Dengan segera dia menghubungi orang itu dan menjalankan mobilnya ke suatu tempat dimana dia bisa menghilangkan beban pikirannya.
.
- xxx -
.
Suara tubuh yang saling bertumbukan memenuhi kamar hotel. Nafas yang berat memenuhii udara, sementara titik-titik keringat membanjiri kedua tubuh yang tengah bersatu dalam pusaran nafsu. Tidak ada erangan apalagi teriakan kepuasan, mereka hanya berusaha memenuhi kebutuhan.
Jaejoong sendiri berusaha keras mematikan pikirannya, ada rasa tidak nyaman yang merayapi hatinya harus dia musnahkan. Sementara tubuhnya kini berada di bawah tubuh atletis Shim Changmin, teman yang menjadi patnernya bersetubuh sejak lima tahun yang lalu. Changmin adalah orang yang selalu membantunya menghilangkan beban pikirannya, orang yang bisa dia andalkan di saat pikirannya kacau.
Mereka pertama kali bertemu di salah satu pesta semasa kuliah. Mereka memiliki banyak persamaan, seperti kebencian melakukan seks mengikat sekaligus obsesi untuk tetap memegang kontrol. Ketika mereka bersama, mereka saling memenuhi. Tidak ada ikatan, dan juga tidak membiarkan yang lain memegang kontrol. Persetubuhan mereka lebih sering melibatkan pergulatan merebutkan kontrol sebelum akhirnya orgasme menghantam, yang bagi Jaejoong dan Changmin, itu lebih dari cukup. Mereka saling mempercayai dan merasa saling menguntungkan, segalanya murni hanya tentang kebutuhan fisik semata.
Ketika akhirnya mereka mendapat pelepasan, Jaejoong menghela nafas lega. Berhubungan intim tidak pernah mudah baginya, namun hanya itu satu-satunya cara yang dia miliki untuk mematikan pikirannya. Karena kebenciannya yang sangat besar pada alkohol, maka satu-satunya cara baginya hanyalah seks. Jaejoong membutuhkan itu, meskipun dia tidak nyaman ketika melakukannya. Ditambah lagi dia melakukannya dengan pria, bukan dengan wanita.
Bukan berarti Changmin tidak hebat dalam memuaskannya, pria itu sangat mengerti apa yang dia inginkan. Selain itu, Changmin memiliki wajah yang tampan dan memenuhi kriteria pria idaman seluruh wanita di muka bumi. Mungkin jika Jaejoong seorang wanita, dia juga akan terpesona padanya. Dan sama seperti dirinya, Changmin juga memiliki masa lalu yang kelam. Tetapi Jaejoong tidak tahu tepatnya, karena itu hal yang sangat privat dan dia tidak ingin mengusiknya. Yang dia tahu, Changmin masih memiliki ketertarikan pada tubuh wanita. Walaupun begitu, dia jarang terlihat dekat dengan wanita, dia lebih memilih menyendiri dengan kesibukannya atau bersama Jaejoong dan melakukan seks dengannya.
Jaejoong bersyukur bertemu dengan Changmin, karena setelah apa yang Hyunjoong lakukan padanya, hidupnya dipenuhi dengan berbagai hal yang membuat pikirannya kacau. Dan apa yang dia lakukan bersama Changmin, membuatnya merasa lebih baik dan nyaman.
"Kau sangat kacau hari ini" ucap Changmin sambil menarik selimut untuk menutupi tubuh telanjang Jaejoong, sedangkan dia sendiri hanya memakai boxer untuk menutupi daerah pribadinya.
"Kapan aku tidak pernah kacau? Sama seperti dirimu, bukan?" balas Jaejoong datar sambil menutupi bagian bawah tubuhnya dengan selimut yang diberikan Changmin, lalu duduk bersandar ke kepala ranjang.
Changmin tersenyum mendengar jawaban dari Jaejoong, lalu duduk disebelahnya. "Ya. Kita berdua memang kacau"
Setelahnya mereka terlarut dalam keheningan dan sibuk dalam pikiran masing-masing.
.
.
.
.
.
- TBC -
