Kesedihan.
Tak ada yang pernah bisa pergi dari yang namanya kesedihan, dimana ia adalah aspek yang menyusun kehidupan manusia untuk mencapai sebuah kebahagiaan. Kutatap dengan kosong bangku yang di duduki Nii-san dan Nee-chan, semua ini karena diriku yang lemah.
Nii-san telah mengajarkanku untuk menjadi kuat, tetapi kenapa malah ia juga yang harus berkorban untuk menyelamatkanku. Masih dalam posisi yang sama, kutatap wajah Nee-chan yang sedih dengan mata sembab karena seharian menangis.
Tak bisakah sang pencipta bertindak adil kepada kehidupanku? TAK BISAKAH!?
Dia telah mengambil kedua orang tuaku hingga mempertemukanku dengan Nii-san, meskipun pada awalnya ku beranikan diri untuk ikut dengannya karena merasakan sesuatu kehangatan yang terpancar dari bola mata itu.
Aku tak bisa apa-apa ketika dihadapkan situasi seperti ini, kuhiraukan pelajaran Biologi yang saat ini menjadi homeroom ku. Semuanya berjalan terlalu cepat, terlalu cepat untuk tenggelam dalam kesedihan. Kucoba untuk tersenyum kearah Asia yang sepertinya sangat khawatir terhadapku.
Ingin kusembunyikan semua ini tetapi aku tetap tak bisa menghindari kenyataan pahit yang mungkin sudah menungguku diluar sana.
Di tubuhku hidup para iblis penghisap kebahagiaan, mereka tumbuh dari rasa sakit dan kemarahan. Tentu saja mereka tak suka jika aku bahagia, aku hanya berharap kalau kebahagiaan memusnahkan mereka.
Banyak orang ingin bahagia namun mereka memilih sebaliknya, ada yang tidak sadar melakukannya, ada yang tidak mau meyakininya, ada yang percaya mereka berhak merasa bahagia namun kenyataan selalu memberikan yang sebaliknya.
Karena kebahagiaan takkan pernah datang bersama makhluk yang tenggelam dalam kesedihan.
.
D.E.S.C.L.A.I.M.E.R
Naruto © Masashi Kishimoto
Highschool DxD © Ichiei Ishibumi
:: Cataclysm ::
Warning : Godlike!Naru, Smart!Naru, etc
Mungkin Aneh, Mungkin Jelek dan Mungkin OOC
Genre : Adventure
Rating : M
Chapter Empat :
The Four Dragon Great Kings
.
.
Draconsteel, In!
.
.
Selamat membaca
.
"Cataclysm"
Pagi hari yang seperti biasa, menguap sebentar dan berjalan kekamar mandi lalu membantu Asia membuat sarapan, Asia yang merasa menumpang di keluarga ini pun mulai bersikeras untuk melakukan semua pekerjaan rumah.
Namun satu hal yang berbeda, sang kakak yang tak ada disini lagi.
Ise menunduk dalam diam, sesekali menatap kearah bangku yang biasa diduduki oleh Nii-san. Masih dalam posisi yang sama, Ise menatap ke kamar milik Naruto yang terbuka menampakkan wanita cantik yang berusaha memasang senyumannya.
"Nee-chan, apakah kamu tidak terlalu terpendam dalam kesedihan? Kuyakin kalau Nii-san takkan senang kalau Nee-chan seperti ini" namun semua itu tidak berpengaruh kepada Kaguya yang sepertinya mulai membuka dirinya. "Meskipun kalian seperti suami istri ketika didalam kamar"
"Gak jelas"
Ise tersenyum ketika melihat wajah memerah dan bibir mengerucut dari kakak perempuannya. "Begitu dong, kan lebih cantik"
Kaguya akhirnya mengerti maksud dari Ise yang terus membuatnya malu ketika membicarakan hal suami-istri, karena Ise tak ingin membuatnya bersedih. Terlalu pekat kesedihan yang dialami hingga tidak menyadari ada beberapa orang yang mulai mengetahuinya.
"Ise"
Muka Ise berubah menjadi heran. "Hm?"
"Terima kasih"
Dan Hyoudou Issei memberikan senyuman yang jarang sekali ia berikan kepada orang lain. "Tentu"
Seraya menyantap masakan buatan Asia, mereka terkadang bergurau bersama dan berbicara satu sama lain hampir semua kesedihan yang wanita itu pendam sedikit mulai sedikit terhapuskan oleh waktu. Kaguya menatap kearah Ise yang sedang berbicara dengan Asia.
'Aku mengerti kenapa kamu sering membicarakan Ise ketika sebelum tidur kepadaku, Naruto-kun'
Deru angin menyeruak kedalam jubah yang mereka kenakan hingga membuatnya berkibar, mata mereka memandang jauh kedepan tepat pada danau Kuoh. Saat ini mereka tengah berada di pinggir jalan, Naruto melirik sejenak untuk melihat kedua sahabatnya yang terhanyut dalam suasana sunyi.
"Jadi, apa yang akan kita lakukan"
Naruto tersenyum tipis. "Memberontak"
"Apa maksudmu?" Great Red berbicara dengan nada tak percaya. "Bukankah tujuan kita kesini untuk membunuh [True Longinus] ?"
"Benar" Naruto mengangguk kecil. "Kita akan memberontak pada saat rapat Tiga Fraksi yang akan terjadi nanti malam"
Great Red menautkan alisnya. "Kau yakin dengan semua ini?"
"Tidak"
Dan jawaban itu membuat keduanya tambah bingung. Sebenarnya Naruto telah memprediksi semua ini, tak sedikit pun ia berpikir untuk melakukan kesalahan. Namun meskipun ia dapat membaca [Ingatan Dunia] atau [Aksara Semesta] itu tidak bisa membuatnya tahu akan takdir seseorang.
"Jelaskan yang sebenarnya, Cataclysm"
Naruto mengangguk. "Kita akan muncul pada saat ketiga Fraksi sedang dalam keadaan genting karena kedatangan Katerea Leviathan, golongan maou lama. Dan pada saat itu Ophis akan datang membawa pemilik [True Longinus] bersama kedua temannya" Naruto menyeringai penuh kemenangan. "Kita akan membunuhnya disana"
"Dari mana kau tahu semua itu?"
Pertanyaan bodoh.
Naruto tersenyum tipis. "Tidak, aku tidak membaca Ark ataupun Aksara Semesta. Aku mengetahuinya dari Ophis, seperti biasa naga centil itu membagikan kekuatannya kepada makhluk lemah"
Terdengar helaan nafas dari kedua sahabatnya. Tiba-tiba mereka merasakan hawa keberadaan yang sangat Naruto kenali, Naruto menghentikan pergerakan kedua sahabatnya yang langsung dilanda kebingungan. Namun ada alasan tersendiri bagi Naruto.
"Yo Azazel" sapa Naruto dengan nada ramah. Sedangkan yang di panggil pun menautkan alisnya dengan mata melebar dan terkejut.
"K-kau...siapa"
"Kau melupakanku? Sepertinya otak tua mu harus dicuci" koment Naruto sedikit kesal dengan tingkah Azazel. "Mungkin kematian Kokabiel membuatmu pikun"
Azazel menoleh kearah Trihexa dan Great Red yang dalam wujud manusianya, mencoba mengenali aura dari tiga orang didepannya. Tiba-tiba ia menunjuk kearah Naruto dengan wajah bego dan terkejutnya.
"Kulihat dari ekspresimu sepertinya kau mengenal kami"
Azazel menatap satu persatu tiga sosok didepannya dengan teliti, menilik lebih jelas mulai dari penampilan dan aura mereka. Matanya melebar seketika saat mengetahui siapakah tiga sosok yang berada didepannya.
"Cataclysm, Great Red, Trihexa" Azazel menyebutkan satu persatu dari tiga sosok ini. "Tiga dari Empat Raja Naga Terkuat"
Tiba-tiba ekspresi Azazel berkerut menatap kearah Naruto. "Kau masih hidup? Kata anak buahku, Kokabiel menusukmu yang berusaha melindungi Sekiryuutei"
"Aku? Mati semudah itu?" Naruto tersenyum sinis. "Ketahuilah kalau aku dapat dengan mudah menghapus eksistensi kalian"
"Jadi ini penampilan baru?" tanya Azazel sedikit tertarik, sedangkan Naruto yang dipandang seperti itu pun menautkan alisnya.
"Kau homo?"
Azazel memutar mata bosan. "Aku Cuma kagum saja, jadi ada apa kalian mendatangiku"
"Tentu saja membunuhmu" balas Trihexa dengan seringaian diwajahnya.
Naruto tersenyum dengan mata menyipit. "Tenang Azazel, kematianmu masih dalam takdir yang kugenggam. Aku hanya ingin bertanya, apakah nanti malam ada rapat Tiga Fraksi?"
"Yah, karena Rias Gremory melapor kepada Sirzech tentang penyerangan Kokabiel"
Naruto menatap langit sambil berjalan diatas rumput. "Sepertinya sedikit hiburan bisa membantu kalian" ucap Naruto sambil menciptakan robekan dimensi. Baru beberapa langkah, Naruto melemparkan sebuah kertas segel kearah Azazel yang langsung menangkapnya. "Lempar saja jika ada kekacauan yang mengganggu kalian"
"Memangnya ini apa?"
Azazel memandang Naruto cukup agak lama karena tidak diberikan jawaban olehnya, Naruto melirik kearah Azazel sekilas sebelum masuk kedalam robekan dimensi di ikuti oleh dua sahabatnya.
"Sesuatu yang dapat membuat kalian mendapatkan perdamaian" Naruto tersenyum tipis. "Katakan kepada adikku, kalau jangan cepat-cepat menemuiku"
Azazel merasa aneh dengan Naruto yang sudah masuk kedalam robekan dimensi meninggalkannya seorang diri, entah karena apa ia tidak tahu pemikiran personifikasi Naga itu. Sesekali menatap kearah selebaran kertas segel yang digenggamnya.
Azazel tersenyum kecil sambil memasukan kertas segel itu kedalam kantung jubahnya, entah kenapa ia merasa kalau kepribadian Naruto telah berubah. Setahunya dari buku catatan milik Gubernur Malaikat Jatuh pertama, Cataclysm tidak memiliki perasaan baik dan jahat. Dia itu Netral dan tidak memihak pada Fraksi manapun, dan Naga Pemicu Ragnarok itu hanyalah melaksanakan Tugas dari Tuhan.
Kemudian Azazel berjalan menuju tempatnya biasa memancing. "Tak kusangka dia merencanakan semua itu, menghilang ditengah Great War" ia menatap langit dengan senyum sedih. "Kembali untuk mengukir sebuah perdamaian melalui kehancuran"
"Cataclysm The Ragnarok"
. . .
Cataclysm
. . .
Berjalan dengan langkah kecil menuju sebuah cafe bersama dengan kedua sahabatnya. Menyusuri jalan yang panjang, menyebrangi samudra yang luas hingga menemukan sebuah cahaya. Oke ini Cuma diskripsian Draco yang berlebihan. Mungkin saat ini mereka bisa dikatakan baik, namun dilain hal apa yang dirasakan oleh mereka adalah kasihan.
Kasihan dengan para makhluk yang akan musnah ditangan pemimpinnya, tanpa mereka sadari kalau Cataclysm mengawasi semua makhluk didunia ini.
"Kau serius melakukan semua ini?" tanya Great Red dengan tatapan serius. "Apa kau benar-benar ingin membuat Ragnarok kembali?"
"Tapi aku suka dengan keputusanmu, Cataclysm. Ragnarok membuat darah hitamku mendidih" Great Red mendelik tajam kearah monster yang imbang melawannya.
"Mereka lah yang terlena dengan suatu yang menyenangkan" Naruto menatap langit dan tersenyum sedih. "Menyalahgunakan keberkahan yang mereka dapatkan hingga tidak mengetahui batasan yang dimilikinya"
Mereka terdiam, memang mereka tak bisa menjawab kata-kata yang diutarakan oleh pemimpinnya. Kalau mereka bisa berkata, mungkin hanya mampu mengulum senyum miris.
"Mungkin ini semua memang harus kuakhiri"
XXX...Draco~N~Steel...XXX
At Kuoh.
Kini ketiga Fraksi sedang melakukan sebuah pertemuan yang menentukan tujuan mereka selama ini, hidup penuh akan hawa nafsu yang tak pernah terselesaikan oleh waktu. Sekalipun mereka telah mengerti tentang kesalahan yang mereka perbuat.
Anak buah yang membangkang, pemimpin yang disalahkan.
Salah satu keluhan yang dipegang teguh oleh sosok Gubernur Malaikat Jatuh saat ini, Azazel. Namun kini keadaan telah jauh berbeda, dimana mereka semua telah memulai rapat ini sejak lima belas menit yang lalu. Para perwakilan dari Fraksi pun telah membawa orang kepercayaan mereka untuk mendampinginya.
"Jadi, bisa kau katakan kenapa Kokabiel menyerang adikku?"
Dengan wajah terkesan serius dan terdapat kemarahan yang tanggung itu. Melihat hampir semua penghuni ruangan ini memfokuskan matanya pada dirinya, Azazel pun mengganjal kepalanya dengan sebelah tangan lalu menaikkan sudut bibirnya.
"Hahh, inilah jadinya kalau anak buah membangkang. Tapi adikmu selamat kan?"
Sirzech mengangguk. "Dia memang selamat, tapi kita memiliki korban yaitu kakak dari Pawn Rias. Profil yang kuketahui adalah dia seorang manusia biasa dengan Sacred Gear naga. Ia juga yang telah membuat Hyoudou Ise mencapai Balance Breaker nya"
Masih dalam posisi yang sama, Azazel membatin. 'Mereka menganggap kalau Naruto memiliki Sacred Gear naga? Kheh betapa salahnya kalian'
"Lalu?"
Sirzech memejamkan matanya sesaat. "Dia tewas ketika melindungi Hyoudou-san saat Kokabiel memberikan serangan terakhir, dan menggunakan tubuhnya sebagai pelindung"
"Sebelum kalian menuduhku yang tidak-tidak, apakah ada bukti nyata kalau manusia itu mati"
Sunyi.
"Hahaha sudah kuduga, kalau ia manusia pasti mayatnya ada. Hal ini masih terasa ganjil, manusia dengan kekuatan naga seperti yang kau katakan mati semudah itu?" Azazel tersenyum lebar menatap wajah diam dari iblis muda dibelakang Sirzech, kecuali tatapannya berhenti pada Hyoudou Issei.
"Sepertinya kau sangat menyayangi kakakmu"
Issei mengepalkan tangannya erat-erat. "Tentu saja! Dialah yang membuatku mengerti tentang arti kehidupan yang kejam ini, dan dia lah yang juga merawatku ketika orang tuaku tewas"
.
' Deg '
Akulah pemegang serpihan kecil kekuatan Time Traveller
Meninggalkan sebuah mimpi yang telah tenggelam
Hidup tersisa bersama kepedihan yang utuh...
Membekulah sang waktu..
"Forbidden Balor View"
Pada detik-detik itu, tak sepatah kata pun yang keluar dari mulut mereka. Mereka yang lemah akan tertindas, mungkin benar apa kata orang.
Terdiam, tubuh yang tidak bergerak menandakan kalau waktu benar-benar berhenti.
Ise menatap kearah Azazel dan beberapa pemimpin Fraksi untuk mengetahui ada kejadian apa saat ini, namun ketika melihat mata Azazel yang tadinya main-main menjadi serius membuat Ise meneguk ludahnya.
Berbeda dengan Sirzech, dia bukanlah orang yang berambisi untuk menjadi orang yang sangat serius hanya karena menyangkut perdamaian ini. Ia bukannya tidak peduli, tetapi ia menyadari kalau rapat ini tidaklah berjalan dengan sempurna.
Sebagaimana banyak sekali makhluk di luar sana yang ingin sekali memecahkan perdamaian semu ini, sehingga di antara mereka banyak yang merasa kalau perdamaian hanyalah pemikiran yang naif.
"Hmm bocah vampire yang dulu kau temui, Rias?" tanya Sirzech sambil berdiri dan menatap sebuah lingkaran sihir besar tercipta di atas sana, satu per satu penyihir (mage) pun keluar dari atas sana lalu menembakkan sinar laser melalui salah satu dari tiga matanya.
Bukan berarti penyerangan hanya sampai situ, kini Sirzech mengalihkan pandangannya pada sosok wanita yang memegang tongkat, ia melebarkan matanya sejenak ketika melihat tongkat itu mengeluarkan cahaya yang terang.
Satu detik kemudian. Dan...
BOOM!
Ledakan sangat besar pun terjadi, bangunan tertinggi di Kuoh hancur tak bersisa sama sekali menyisakan puing-puing yang berterbangan membelah jutaan partikel udara.
Dengan kedua tangan mengepal erat, Ise pun menatap kearah Rias dengan tatapan seriusnya. "Buchou, kita harus menolong Gasper!"
"Benar" Rias mengalihkan tatapannya kearah sang kakak. "Onii-sama, biarkan aku dan Ise menyelamatkan Gasper!"
"Maa maa, tunggu iblis muda"
Rias dan Ise menyipitkan matanya ketika melihat Azazel yang berjalan kearah mereka, namun perasaan yang mereka berdua rasakan berikutnya adalah helaan nafas lega. Azazel memberikan dua buah gelang kepada Ise sekaligus memberitahu apa kegunaannya.
"Baiklah, kami pergi!"
Setelah kepergian mereka berdua, ketiga pemimpin Fraksi pun menatap kearah Katerea yang tetap dengan pendiriannya untuk mengambil kembali gelar Leviathan yang telah di dapatkan oleh Serafall. Memang, pada saat pertarungan mereka berdua dimenangkan oleh Serafall tetapi itulah dampak dari pertarungan.
Pertarungan akan menyisakan rasa sakit yang tak pernah bisa kau lupakan.
Sehingga sebuah dendam yang sangat besar menyelimuti perasaan Katerea.
"Sirzech, Michael izinkan aku melawannya"
Melihat anggukan dari keduanya sudah membuat Azazel mendapatkan jawabannya.
Dengan kedua tangan berada di samping tubuhnya dan di ikuti oleh aura berwarna kuning, ia pun terbang dengan ke enam sayapnya dan melayang tepat di hadapan Katerea. Sebelum ia melakukan pertarungan, Azazel pun mengeluarkan secarik kertas yang diberikan oleh Naruto.
Wush!
Ketika kertas itu terjatuh.
Segel pun terbuka dengan sendirinya.
GROAR!
"L-lerneaen H-hydra" ucap Katerea terkejut ketika melihat naga berkepala sembilan itu mulai menembakkan cairan kuning bening ke arah para penyihir. "B-bukankah dia sudah mati di tangan Herkules"
"Gya-ha-ha-ha ada seseorang yang memberikanku itu, dia berkata akan membantuku mendapatkan perdamaian" Azazel tertawa pelan sambil menatap kearah Katerea yang masih terkejut. "Sosok yang membawa perdamaian melalui kehancuran"
"Kau banyak bicara!"
Katerea melesat kearah Azazel yang menahan ayunan tongkatnya dengan satu tangan miring, dan melakukan counter attack dengan mengayunkan tendangan memutar untuk menendang perut Katerea hingga membuat wanita itu terpental beberapa meter.
"Hanya segitu saja yang bisa kau lakukan, berikan aku serangan terbaikmu Katerea-chan~" kata Azazel sambil tersenyum mengejek kearah Katerea.
"Sialan kau, Malaikat Jatuh hina!" umpat Katerea sambil membentuk lima buah lingkaran sihir untuk menembakkan [Demonic Power] miliknya.
Tembakan itu tepat mengenai Azazel dan membuat Katerea tertawa meremehkan, tapi sayang tawa itu tak bertahan lama ketika ia mendengar suara di belakangnya. Dan ketika ia membalik tubuhnya kini terlihat Azazel yang dengan pose melipat kedua tangannya.
"Aww itu mengerikan. Katerea-chan"
Tentu saja perkataan itu membuat wanita ini menggeram marah dan mengayunkan pukulan maut kearah Azazel yang kembali menangkisnya dengan sebelah tangan. Katerea melakukan tendangan namun berhasil di tepis oleh Azazel, ia berpikir kalau serangan seperti itu tidaklah mampu membunuh Azazel.
Keduanya secara serempak mengeluarkan masing-masing sesuatu yang tidak mereka ketahui satu sama lain.
Katerea mengeluarkan sebuah ular dan Azazel mengeluarkan sebuah pisau emas dengan bola berwarna ungu di belakangnya.
Azazel tersenyum menyipit ketika melihat kekuatan Katerea yang berlipat-lipat, [Demonic Power] yang semakin terasa sampai manapun.
Tapi Azazel tidak mempermasalahkan hal itu, ia mengangkat pisau emas yang menjadi hasil eksprerimen terhebat selama ini.
Cahaya berwarna emas bersinar ketika pisau emas itu memancarkannya.
"Balance Breaker!"
Di atas kota yang cukup megah, terlihatlah empat sosok yang menatap kearah pemandangan di hadapannya. Jubah yang mereka kenakan berkibar, terdapat kanji di belakang jubah itu sangat kentara. Satu-satunya wanita di sana pun menatap kearah pria berambut pirang keemasan.
"Cataclysm-kun, jadi kita akan menggagalkan rencana?"
Naruto mengangguk singkat. "Ya, pemilik [True Longinus] ternyata lebih pintar dari yang kuduga" Naruto mendecih tak suka dan mendapat tatapan jawdrop dari mereka.
"Meskipun kau otak dunia ini, tak ada yang mustahil untuk bisa menggagalkan pemikiranmu"
"Aku tahu Aegwynn" Naruto menatap Great Red sekilas. "Sebenarnya masalah kita bukan pada [True Longinus], dia hanya pengguna senjata yang disebut sebagai Tombak Tuhan"
"Lalu masalah kita sebenarnya?" tanya Ophis dengan heran, tak lupa mengalungkna tangannya di lengan Naruto. "Aku tahu kau punya rencana selanjutnya"
Naruto mencoba melepaskan rangkulan itu namun Ophis lebih garang menatapnya. "Kita akan mencari naga-naga lainnya, meskipun naga kolosal sekalipun yang akan kita cari"
"Cataclysm"
Naruto menolehkan kepalanya kearah Trihexa. "Hm?"
"Apakah benar, kau membunuh Tuhan?"
XxX...DraconsteeL...XxX
Sudah dua hari ketika pertemuan Tiga Fraksi, Hyoudou Issei yang merupakan adik dari Naruto pun mengalami depresi yang sangat berat. Kenangan tentang kakaknya kembali teringat ketika ia melihat naga yang merupakan milik kakaknya muncul di dalam pertempuran.
Lerneaen Hydra.
Yah itu kalau tidak salah Ise berpikir, tapi bagaimana bisa naga itu datang sedangkan kakaknya tidak ada. Saat ia bertanya kepada Maou Lucifer, pria berambut merah itu menunjuk kearah Azazel yang katanya mengeluarkan Hydra dari selebaran.
Namun ketika ia bertanya kepada Azazel, pria yang menjabat sebagai Gubernur Malaikat Jatuh itu hanya berkata sesuatu yang tak ia mengerti. "Jangan cepat-cepat untuk menemuinya"
Kini ia hanya bisa terdiam dan menerima apa yang terjadi.
Tapi di langkah kepergian ini dalam keterhirisan hati yang kurasa ini, Ise mungkin hanya bisa berkata dalam hati dalam ketakberartian.
Ia mengecap semua perih ini dan juga meneguk semua pedih ini. Dimana yang untuk terakhir kalinya dia dapat mengenang senyum dan canda tawa itu.
Dan untuk yang terakhir kalinya, dia dapat mendengar tawa renyah yang begitu dirindukan.
"Ise, ada apa denganmu?"
Keturunan dari keluarga Hyoudou ini menoleh dan menampakkan senyum sedih, mencoba untuk mempertahankan senyuman yang ia miliki. Namun usaha itu sia-sia ketika melihat mata wanita itu menyipit dan dengan gerak seperti ibu-ibu marah.
Pletak!
Ise terpental menabrak dinding ketika sebuah sentilan di dahi ia dapatkan secara lapang dada. Meringis sesaat, ia pun menatap kearah Kaguya yang sudah berkacak pinggang.
"Kau membohongiku?"
Ise menelan ludahnya kuat-kuat. "T-tidak"
"Benarkah?" Kaguya bertanya kembali dengan tatapan menyelidik dan jangan lupakan ekspresinya yang tidak percaya sama sekali.
Sementara itu dengan Ise, ia pun mencoba untuk menciptakan lingkaran sihir dari sebelahnya untuk pergi dari tempat ini. Ketika lingkaran sihir itu telah tercipta, ia pun berniat untuk segera kabur dari predator ganas melebihi Tirex sekalipun.
Grep! Uwaa! Brak!
"Jangan mencoba untuk kabur, bocah mesum!"
Ise menoleh dengan tatapan menunduk seakan senyum tadi memang benar-benar palsu, matanya menghitam tertutup oleh poni dan tangannya mengepal erat.
"Nii-san masih hidup"
At kantin.
Ise Hyoudou, matanya menatap kearah para siswa yang sedang asik berbincang-bincang mengenai murid baru yang akan pindah dari SMA Kuoroshi. Terlebih lagi Matohama dan Matsuda yang sudah mengetahui hal ini, Ise pun memberengut kesal ketika ketinggalan informasi.
"Matohama, sebenarnya siapakah murid baru itu?"
Matohama mengangkat bahu singkat. "Entahlah Ise, tapi katanya mereka ada tiga orang dan sama-sama satu keluarga"
Ise terdiam mengamati pemuda di hadapannya dengan jeli, tidak ada kebohongan sama sekali. Lalu ia menatap kearah para murid lainnya yang memang sedang membicarakan tiga anak kembar yang akan masuk Kuoh dan lagi masuk kedalam kelasnya.
Memang, kelas Ise memiliki tiga kursi kosong. Yang awalnya hanya dua tetapi menjadi tiga ketika kematian kakaknya.
Ketua dari Trio Mesum itu memejamkan matanya lalu membuang nafas melalui mulut dengan pelan, ia menutup mulutnya kembali tanpa suara dan berjalan kearah kelasnya. Meninggalkan kedua temannya yang sedang memandangnya dengan tatapan heran.
Matohama memberi kode kearah Matsuda dengan gerakan alis yang menuju tempat Ise berada, dan Matsuda membalasnya dengan mengerdikkan bahunya tanda tak tahu.
Sedangkan Ise menutup mata dan memijit pelipisnya dengan tenang untuk menghilangkan beban yang terkandung didalam hati.
"Kuharap hari ini tidak menambah kesialanku"
Namun Tuhan berkata lain tentang tinta takdir yang Ise jalani.
Ketika bel istirahat selesai telah berbunyi, kini ia harus di buat menganga dengan rahang menggantung sambil membulatkan matanya melihat tiga cowok yang terkesan keren dan tampan sedang berdiri dengan ekspresi yang berbeda-beda.
"Perkenalkan, Namaku Draco Gallywix. Murid baru yang akan mengubah pandangan para makhluk hina yang berbuat semena-mena"
Ise melebarkan matanya ketika merasakan aura yang terasa sangat besar, ia yang telah di ajarkan beberapa aspek penting dalam merasakan aura pun langsung mengangkat tangannya untuk izin ke toilet.
...
Brak!
Pintu kayu itu terbuka dengan kasarnya, para penghuni yang sedang berada didalam ruangan itu pun sedikit berjengit. Menolehkan kepalanya untuk menatap kearah pion baru-nya yang sedang membungkuk dengan nafas tersengal-sengal, jika dilihat lebih jelas pria ini sedang terburu-buru.
"Buchou! Mereka disini.."
Rias menautkan alisnya dengan heran. "Siapa?"
"Yang Azazel-sensei katakan beberapa hari yang lalu!"
Ise mendongak menatap kearah Rias dengan setetes keringat jatuh dari dagunya, kemudian Ise menjelaskan lebih detail tentang ciri-ciri serta penampilan. Dan yang paling inti adalah penjelasan Ddraig dari dalam pikirannya kalau ketiga makhluk didepannya adalah tiga dari empat yang terkenal dengan julukan...
.
"The Four Dragon Great Kings"
.
To be Continued~
Saya gak akan banyak bicara kali ini, sedang membuat kelanjutan Fic dan mencari beberapa ide yang kebetulan singgah. Oke silahkan berikan komentar kalian akan chapter kali ini, jangan bertanya tentang Alur Kecepetan, sudut pandang merepotkan dan tentang plot lainnya. Karena saya memang lemah pada bidang itu.
Sudah membaca Fic saya bernama Dark Eye by Draco Shadowsong?
Nggak sih nanya doang.
Mungkin bahasanya sulit di mengerti, namun saya akan mencoba untuk mencari kata-kata yang pas untuk Fic ini.
.
Review?
.
Draco, Out!
