Summer Venice Chapter IV
"Bagaimana kalau mereka tahu ini hanya kebohongan?"
"Jangan sampai mereka tahu."
"Kau tahu benar bahwa cepat atau lambat mereka pasti akan tahu."
"Kalau begitu buatlah mereka tahu tidak dalam waktu dekat ini,"
"Setidaknya hingga aku tak ada nanti."
"—ra… ra...Sakura.."
. . .
Naruto belongs to Masashi Kishimoto
My first fiction based on many drama
Romance, Family, Angst (maybe), AU, OOC, typos (semoga tidak ada:o)
Enjoy! :]
. . .
Haruno Mebuki dan Haruno Kizashi menatap cemas puterinya yang kini terkulai lemah di ranjang king size milik bungsu Uchiha. Dokter pribadi keluarga Uchiha, Yakushi Kabuto, tengah memeriksa keadaan gadis musim semi itu. Kerutan di dahi Sakura mulai nampak diiringi erangan kecil yang menandakan ia akan segera sadar. Semua orang yang ada di ruangan—tidak terkecuali bungsu Uchiha, itu menampakkan satu raut wajah yang sama saat emerald itu mulai nampak, ekspresi kelegaan. Haruno Mebuki langsung memeluk putrinya posesif.
"Ada apa denganmu Saku-chan? Kaa-san sangat khawatir."
"Aku tak apa Kaa-san. Mungkin hanya sedikit kelelahan." Sakura mencoba meyakinkan ibunya. Kali ini Mikoto yang menghampiri Sakura. "Sungguh kau tak apa Sakura-chan? Ini pasti karena Sasu-kun memaksamu turut mengurus perlengkapan pernikahan kan?" Mikoto menatap puteranya yang berada di sisi ranjang yang lain sebal. "Kaa-san kan sudah bilang Sasuke-kun, kau hanya perlu menyuruh orang untuk mempersiapkan pernikahan kalian," lanjut Mikoto.
"Tidak baa—maksudku Kaa-san, ini bukan karena Sasuke," ucapnya meyakinkan. "Aku mungkin hanya sedikit kelelahan, percayalah." Lanjutnya. Senyum tulus Sakura membuat Mikoto tenang.
.
.
.
Semua orang telah keluar dari ruangan bernuansa dark blue ini. Menyisakan sepasang pengantin baru itu. Sakura melirik sekilas jam tangannya. 'Pantas saja, ini sudah pukul 11 malam.' Tak ada yang berniat membuka percakapan. Tak ada yang bergeming, tetap pada posisi awal. Canggung eh?
"Aku mau mandi," ucap Sakura. "Aku juga." Sakura menatap kaget satu-satunya makhluk bernyawa lain di ruangan itu. "Setelah kau," sergahnya cepat.
'fiuh...' keduanya menghela napas lega.
Sasuke berniat memecahkan rasa canggung namun justru membuat suasana makin awkward. Dua kata itu sukses membuat mereka memerah seketika. Seakan mengindikasikan Sasuke ingin err—mandi bersama?
Menghindari kecanggungan yang masih sangat terasa di atmosfir ruangan itu, Sakura melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar mandi. Sasuke menghela napas singkat, merutuki rasa canggungnya yang membuat bungsu Uchiha ini bertindak bodoh tadi. Sasuke beranjak dari posisinya sekarang, bergerak ke arah sudut ruangan lain di ruangan itu. Duduk di sebuah sofa santainya memegang sebuah Ipad. Sementara itu, Sakura sudah selesai membersihkan tubuhnya. Namun sudah 60 menit ia selesai dan ia hanya diam di kamar mandi. Bingung harus melakukan apa. Dengan bodohnya ia lupa mengambil kimono mandi atau sekedar sebuah handuk sebelum masuk kamar mandi tadi. Kimono yang ia pakai tadi juga sudah terkulai basah di lantai kamar mandi. Dasar kebiasaan buruk! Memang ini di kamar mandi di kamarmu eh? Kalau lupa bawa handuk keluar bugil juga tak masalah ckck. Sayang sekali ini di kamar seorang laki-laki. Uchiha Sasuke pasti akan menatapnya ilfeel jika ia melakukan itu. 'Haaaaah bagaimana ini...' menggeram frustasi, sekarang tubuhnya sudah kedinginan bukan main. Memantapkan keberaniannya, Sakura pun menebalkan wajahnya menahan rasa malu yang pasti akan menderanya setelah ini. Tiba-tiba sebuah kepala pink muncul dari celah pintu kamar mandi yang terbuka. Menghela napas sekali sebelum benar-benar melakukan hal itu.
"Sasuke.." cicit Sakura.
Duh dengan volume sekecil itu bagaimana bisa didengar Uchiha Sasuke yang berada di sudut ruang lain. Salahkan arsitek kamar ini yang membuatnya terlalu luas.
"Sasuke..." kali ini sedikit lebih keras. Dan sukses, Sasuke menyahut.
"Hn?"
"Handuk...Aku butuh handuk."
"Ada di lemari."
Sialnya, onyx nya tak terlepas dari Ipad yang ada di tangannya. Jadi, ia tak tahu bagaimana keadaan Sakura saat ini. Poor you!
"Ano... bisakah kau ambilkan? Aku lupa dan sekarang aku sangat kedinginan."
Kalimat kali ini berhasil membuat Sasuke mengalihkan pandangannya dari Ipad itu. Sekilas melirik ke arah Sakura kemudian berjalan menuju sebuah lemari dan mengambil sebuah kimono mandi miliknya, lalu memberikan itu kepada Sakura tanpa melihat ke arahnya.
"Hehehe... arigatou.."
.
.
.
Kali ini giliran Sasuke yang masuk kamar mandi. Hanya butuh waktu 20 menit Sasuke sudah keluar lengkap dengan piamanya. Sedangkan Sakura?
"Kau tidak ganti baju?" Sasuke menggosok kasar rambut basahnya dengan sebuah handuk kecil.
"Ano...sepertinya koperku masih ada di bawah. Tidak mungkin kan aku keluar dengan kimono mandi seperti ini?"
"Jadi?"
"Bisakah kau am—"
"Tidak!"
"Kenapa?" Tatapan Sakura kini sedikit memohon. Sasuke nampak tengah berpikir. "Aku malas." dustanya. Ada betulnya juga sih, ia malas meladeni aniki bodohnya dengan pertanyaan seputar first night jika ia keluar tengah malam begini.
"Kau tega sekali membiarkanku tidur dengan kimono ini—"
hatchiiii
"Aku bisa tambah sakit besok."
"Pakai saja bajuku yang ada di lemari, pilih sesukamu."
Sasuke kemudian melengos pergi ke arah ranjang mengambil sebuah bantal kemudian segera menyamankan dirinya di sebuah sofa panjang. Meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku.
"Kau tidur di sofa?"
"Kau mau aku tidur satu ranjang denganmu?"
"Ti—tidak bukan seperti itu." Sakura gelagapan, harusnya ia biarkan saja tadi Sasuke mengambil bantal dari ranjangnya. Tanpa perlu repot-repot basa-basi. Catat Sakura, bungsu Uchiha ini tak akan bersikap manis meski hanya untuk menanggapi basa-basimu.
.
.
.
Cicit burung di pagi hari membangunkan Sakura. Mengulet singkat di ranjangnya—eh? ranjang suaminya. Sama saja kan? Menoleh ke sekitar, emeraldnya menangkap sesuatu yang tak biasa pagi ini. Uchiha Sasuke tengah tidur meringkuk di sebuah sofa. Tampaknya ia sangat kedinginan. Perasaan bersalah sedikit menjalari hatinya.
'Tidak…tidak… ini kan ide gilanya… jadi bukan salahku kan kalau dia harus menerima akibatnya?' batin Sakura, menggelengkan singkat kepalanya. Sakura segera beranjak dari ranjang itu, menyeret sebuah bed cover. Memandang sekilas wajah Sasuke yg tengah terlelap itu. Kerutan kasar nampak di dahi cowok emo itu. Lalu Sakura menyelimuti Sasuke yang nampak kedinginan. Perlahan kerutan di dahi Sasuke pun hilang, berganti dengan wajah damai Sasuke saat tidur. Tak ada mata yang menatapnya datar. Tak ada wajah stoic yang biasanya terpatri disana. Hanya ada wajah damai bak seorang dewa. Kulit mulus seputih porselen, rahang tegas, hidung mancung, serta rambut yang acak-acakan.
"Saat tertidur dia manis juga..." kata-kata itu meluncur begitu saja dari bibirnya.
'Ngomong apa sih aku ini...' batinnya. Menggeleng singkat kemudian meninggalkan Sasuke dengan mata masih terpejam. Ke kamar mandi meski sekedar untuk mencuci muka dan menggosok gigi. Tak sadar, onyx itu perlahan terbuka. Jadi? Uchiha bungsu ini sudah terjaga dari tadi eh? Hanya terbengong singkat, sebelum onyx itu kembali mengatup.
.
.
.
"Ohayou?"
"Ohayou Sakura-chan..." Mikoto membalas. Masih sibuk dengan kegiatannya dengan alat dapur. Sakura pun menghampirinya berniat membantu.
"Ohayou Sakura-chan..." kali ini Uchiha sulung yang menyapa adik iparnya. Menyunggingkan senyum khas miliknya. Lalu duduk santai di pantry dapur itu.
"Ah ohayou Itachi-nii."
Mata Itachi mengerling nakal melihat Sakura memakai piama kebesaran yang sudah pasti milik adiknya itu.
"Piama Sasuke eh? Pasti dia merobek kasar gaun tidurmu tadi malam ya?" Seringai menggoda nampak dari laki-laki berusia 23 tahun itu.
"Ti—tidak… tidak seperti itu..." Sakura menggeleng kuat, menggerakkan kedua telapak tangannya cepat dengan wajah sedikit memerah.
"Wajar siih pengantin baru. " Itachi senang sekali meledek adik barunya ini. Mungkin akan menjadi hobi barunya mulai dari sekarang.
"Sasuke belum bangun?"
"Hu'um, dia masih tertidur di atas." Jawaban ini tidak ada yang salah kan? Tidak untuk orang normal. Berbeda dengan sulung Uchiha yang sedikit ngeres ini.
'Gila! Sampai tepar seperti itu. Liar sekali dia! Berapa ronde dia habiskan? Ckck' Itachi senyum-senyum sendiri, sibuk berkutat dengan pikiran-pikiran anehnya.
"Kau bisa berjalan?"
"Hah?! Tentu saja bisa Itachi-nii, memangnya kakiku kenapa?" Sakura menanggapi. Polos, ia melirik sebentar kedua kaki nya yang sama sekali tidak terluka. Itachi hanya mendengus geli melihat kepolosan adik iparnya itu.
Benar kan? Uchiha Pervert!
.
.
.
Satu jam Sakura melalui pagi ini dengan godaan mesum dari Nii-chan barunya. Ia sudah selesai membantu Mikoto menyiapkan sarapan pagi untuk keluarga Uchiha ini. Sarapan pagi sudah terhidangkan di meja makan. Sakura berniat untuk mandi dan membangunkan Sasuke untuk sarapan pagi. Sesampainya di kamar, sofa yang di tempati oleh Sasuke tadi sudah rapi. Sasuke lenyap. Suara air dari arah kamar mandi menyadarkan Sakura dari pikiran-pikiran mystery nya. Sasuke keluar dengan pakaian rumah santainya.
"Kau sudah ditunggu Kaa-san dibawah untuk sarapan!" ucap Sakura gugup.
"Hn." Sudah trade mark sih, jadi susah deh menghilangkan kebiasaan bergumam tak jelas saat menjawab pertanyaan orang lain.
Setelah 15 menit Sakura masuk ke dalam kamar mandi, kali ini Sakura keluar lengkap memakai pakaian santainya. Sebuah celana pendek selutut dengan sebuah kaus pink. Ck teenager style.
"Kok masih disini?" Keluar kamar mandi, Sakura kini sibuk mematut dirinya disebuah cermin besar.
"Hn. Kita turun bersama."
'Eh? Dia menungguku?' Sesaat hati Sakura menghangat. Tapi benar-benar hanya sesaat.
"Lelet sekali sih!" Tuhkan kata-kata pedas lagi.
'Si stoic ini gabisa apa sebentar aja membiarkanku merasa diperlakukan lembut?' Eh? Kau menginginkan hal itu Sakura?
.
.
.
Sarapan pagi ini membuat Sakura sedikit canggung. Pasalnya suasana sarapan kali ini benar-benar sunyi. Tak ada satupun yang memulai bicara. Hanya sesekali suara dentuman sendok dan garpu milik Itachi yang terdengar. Ini pasti karena satu alasan. Manner. Keluarga Sakura tahu akan tatacara makan dengan sopan. Tapi tidak sekaku ini, pikirnya. Sarapan 'horor' ini pun selesai. Mikoto meminta semua—Itachi, Sasuke, Sakura, juga Fugaku untuk mengobrol santai di taman belakang mansion mereka. Mereka duduk-duduk sambil menyesap ocha hangat.
"Jadi, kapan kalian akan melaksanakan honeymoon?" Itachi bertanya to the point. Ia tau benar alasan Ibunya mengajak mereka ke taman dengan alasan 'mengobrol santai'.
'Uhuk…uhuk…uhuk..' Sakura terbatuk kaget mendengar Itachi mengatakan hal itu. Rasanya sedikit menyakitkan harus tersedak saat meminum ocha hangat itu. Apalagi hingga masuk ke dalam hidung, euh. Sasuke hanya memutar bola matanya bosan, kebiasaan. "Haruskah?"
"Kami tau Sasuke-kun, kalian sudah memiliki buah hati disini," Mikoto mengelus singkat perut datar Sakura. Blush…blush.. "Tapi itu perlu untuk dilakukan, agar kalian semakin harmonis." Tambahnya.
"Kaa-san benar, siapa tahu kan bisa jadi kembar,"
Bletak
Kali ini Itachi sukses mendapat deathglare++ dari Sasuke.
"Mungkin minggu depan kami akan ke Venice. Sakura juga akan meneruskan kuliahnya disana," jelas Sasuke. Sukses membungkam Itachi dan juga Ibunya yang terus saja mengoceh tentang honeymoon.
"Jadi kalian berencana menetap disana?" Mikoto menyesap ocha hangatnya.
"Hn,"
"Baiklah, setelah ini pergilah kerumah Sakura, dan katakan rencana ini pada Mebuki dan Kizashi." Akhirnya kepala keluarga Uchiha angkat suara setelah dari tadi hanya menyimak obrolan keluarganya itu.
.
.
.
Tepat tiga hari sebelum keberangkatan mereka ke Venice, Sasuke sebagai CEO di Uchiha corp. harus menyelesaikan pekerjaannya di induk perusahaan di Tokyo sebelum mengambil alih cabang di Venice. Agak tergesa-gesa pagi ini, Uchiha Sasuke kesiangan. Jadilah situasi ricuh seperti saat ini. Jangan salahkan Sakura, karena saat dibangunkan Sasuke malah menarik bed cover nya tinggi-tinggi sampai menutupi wajahnya. Sasuke meminum singkat secangkir kopi tanpa gula itu. Menggenggam sebuah dasi yang belum terpakai di tangannya.
"Loh kau belum memakai dasimu Sasu-kun?" Mikoto melihatnya menggenggam dasi yang hampir kusut itu.
"Hn, sudah telat."
"Nah, Sakura-chan, pakaikanlah dasi untuk suamimu!" Mikoto membimbing tangan menantunya itu ke tangan Sasuke agar mengambil alih dasi itu.
"Tak perlu Kaa-san aku sudah telat."
"Tidak membantah!" Kalimat maut dari Ibunya sukses membuat Sasuke diam. Dengan sedikit kikuk Sakura mulai memakaikan dasi pada lelaki yang menyandang gelar 'suami' nya itu. Tangannya gemetar bukan main. Rasanya ia tidak pernah berada sedekat ini dengan lelaki manapun, kecuali ayahnya. Sasuke yang memang lebih tinggi itu hanya memperhatikan tangan Sakura yang meliuk-liuk memakaikannya dasi itu. Duh jangan sampai uncontrollable thing itu terulang lagi.
"Nah, selesai!" Sakura berujar riang. Artinya dia tidak perlu berlama-lama merasakan jantungnya berdegup kencang seakan ingin loncat keluar kan?
"Nah sekarang kalian harus melaksanakan ritual pasangan suami isteri lainnya!" Uchiha Mikoto mendorong pasangan suami isteri itu ke arah pintu.
'Mendokusei,' batin Sasuke. Ia sudah telat, namun masih harus dipaksa melakukan ritual apalah itu namanya oleh sang ibu. Sasuke memandang jengah ibunya yang terlihat menunggu Sasuke melakukan sesuatu.
"Kali ini apalagi Kaa-san?" Memutar onyx bosan, as always.
"Kau harus mencium isterimu sebelum berangkat bekerja."
"Kaa-san ak—"
"Tidak membantah Sasu-kun!"
CUP'
Sebuah ciuman singkat didahi ia hadiahi kepada isterinya itu. Sudah tahu kan bagaimana reaksi Sakura?
To be continued
A/N :
Yap! 4th chapter's up. Ohiya mau info aja, mungkin chapter 5 akan aku update lebih lama dari biasanya-_- aku mau focus ujian dulu -_- maaf yaa :") Doain aku yaa semoga ujiannya lancar o:) Semoga soalnya gampang hehehe... Sebagai permintaan maaf, chapter 4 ini aku update lebih cepat kan? Hehehe…
Triana
Aku seneng deh kamu ngereview teruuus… makasih yaaa :")
Menurut kamu bagusnya happy ending atau sad ending? Hehehe…
mako-chan
Sakura sakit kanker, kalau Sasuke kelainan jantung gitu deeh hehehe :")
NE
Iiih seneng deh aku kamu ngereview terus :") terimakasih yaaa… naik ke atas genteng ya? Yaah maaf yaah rumahku di daerah hutan belantara gitu wkwkwk… ini sudah kilat kaan? :p
sasusaku uciha
Hahaha iyaa kasihan yaa pasangan penyakitan XD terimakasih yaa reviewnya :")
Review? :")
