.
Setelah hari pernikahan Jungkook dan Taehyung kemarin di Kanada, tidak menunggu lama esoknya mereka sudah terbang kembali ke Korea. Jungkook tidak mempermasalahkan itu, maksudnya dia lebih nyaman di negaranya sendiri, dan omong-omong bila kalian bertanya tentang bulan madu pasangan baru ini lebih baik hentikan karena pemuda satu ini tidak mengerti apa yang dilakukan dua orang yang terikat pernikahan bahkan dia sendiri masih tidak yakin apa benar dia sudah menikah padahal baru beberapa minggu lalu dia lulus SMA. Dan seperti Taehyung sedang sibuk karna sedari tadi pria itu membaca lembar-lembar kertas ditangannya.
Sejak dari Bandara Incheon, Taehyung maupun Jungkook hanya diam membisu didalam mobil, dan supir didepan pun sangat sunyi seakan mobil yang mereka kendarai ini memiliki autodriver yang membuatnya tetap berjalan tanpa supir.
Jungkook menatap jalanan Seoul yang masih ramai walau sudah malam. Tapi sebegitupun ramainya diluar sana tetap saja didalam mobil ini sangat sunyi. Hanya suara lembar-lembar kertas yang Taehyung bolak-balik baca. Jungkook tidak biasa dengan situasi seperti ini, dirinya sudah gatal untuk melakukan sesuatu. Matanya yang sedari tadi betah menatap keluar jendela sekarang sudah melirik-lirik Taehyung yang begitu serius dengan kegiatannya. Dia sebenarnya punya pertanyaan untuk pria yang duduk disampingnya sedari tadi, tapi karena dia sudah menduga jawabannya jadi dia tetap diam.
Tangan Jungkook saling mengusap, dia bergerak gelisah karena bosan, dia benar-benar tidak suka situasi hening seperti ini jadi ia memutuskan bicara pada Taehyung.
"Uh, jadi kita akan kemana?" Akhirnya Jungkook bertanya. Taehyung terlihat masih membaca dokumennya.
"Ke rumahku." Singkat Taehyung bahkan tanpa menoleh kearah Jungkook. Pemuda itu mendengus, pria ini menyebalkan. Jungkook tidak suka diperlakukan seperti itu. Tapi itu tidak membuatnya diam.
"Apa aku akan tinggal bersamamu?" Tanpa menoleh lagi Taehyung menjawab pertanyaan tadi dengan sebuah anggukan, hal itu sukses membuat Jungkook semakin kesal.
"Kalau begitu apa memang aku 'harus' tinggal denganmu? Maksudku seminggu lebih lagi aku akan kuliah dan aku berencana menyewa flat didekat kampus." tanya lagi Jungkook. Pertanyaan Jungkook tadi membuat Taehyung berhenti dari kegiatannya. Pria berambut hazelnut itu menyampingkan duduknya agar bisa berhadapan dengan Jungkook. Jungkook menelan salivanya kasar, ia tidak meprediksi pria ini akan menghadapkan dirinya dan menatap Jungkook begitu dalam dengan mata coklat tua pria ini.
"Dengar, aku tidak suka pertanyaan bodoh seperti itu Jungkook. Kau dan aku sudah menikah, tentu saja kita harus tinggal bersama dibawah atap yang sama. Dan lupakan tentang tinggal di flat itu, salah satu supirku akan mengantarkan kau kemana saja. Kapan saja." Pria itu berkata dengan suara beratnya yang sedikit serak. Jungkook sebenarnya kesal karena pertanyaannya dikatai bodoh, tapi dia memilih untuk diam dan kembali menatap keluar jendela.
Mobil mereka melewati jalan yang dipinggirnya ditumbuhi pohon-pohon pinus yang rimbun, gelapnya malam membuat jalanan sangat seram. Lampu jalan tidak sedikitpun membantu menghilangkan pemandangan seram diluar. Jungkook bergidik ngeri, ia melihat Taehyung kemudian supir mereka yang tampaknya biasa-biasa saja dengan pemandangan itu tidak seperti dirinya yang memilih menatap kakinya daripada harus melihat keluar.
Sebenarnya dia ini akan dibawa kemana? Kenapa daripada jalan menuju rumah, jalanan ini lebih seperti jalan menuju penjara. Oh jangan lupakan pria disampingnya ini seorang mafia, fakta itu membuat Jungkook semakin yakin rumah yang Taehyung maksud pasti seperti penjara.
Tidak membuat Jungkook berspekulasi terlalu lama tentang 'rumah' Taehyung, mobil mereka mendekati sebuah bangunan megah berwarna putih yang sangat kontras dengan gelapnya langit malam. Jungkook yang melihatnya terkagum-kagum. Mobil mereka ternyata memasuki gerbang bangunan tersebut. Dan Jungkook sempat melihat sebuah plang hitam yang tergantung di tembok gerbang bertuliskan 'Kim's Mansion', hal itu sukses membuat Jungkook melempar wajahnya kearah Taehyung, dengan wajah tidak percayanya Jungkook bertanya."Ini yang kau maksud rumahmu itu?" melihat ekspresi Jungkook, Taehyung menyeringai.
"Ya, benar."
.
KICK THEN KISS
A VKOOK/TAEKOOK's Fanfiction by shyfukuru
Please do not do plagiarism each work is very meaningful for the artist. Thankyou.
Yaoi, V!Seme JK!Uke, that could be mean a romantic relationship between two boys.
Mature Content
Romance, Crime, Mafia
"Joongkook baru saja berusia 20 tahun tapi ayahnya memaksa dia menikah dengan kepala mafia Kim Taehyung yang terkenal keji. Dihadiri gangster seram dan orang-orang penting di dunia mafia di upacara pernikahannya, Jungkook tak habis pikir apa yang akan terjadi dengan masa depannya."
.
.
Kick Then Kiss Chapter 4: Trapped in Evil's Cage
.
Mobil berhenti tepat didepan pintu masuk rumah. Supir dengan gesit keluar dan membukakan pintu mobil untuk Taehyung, setelahnya bergegas ke pintu mobil Jungkook tapi terlambat, pemuda itu sudah membukanya sendiri. Pemuda itu langsung melihat bangunan rumah itu sejauh matanya bisa menjangkau.
"Ini gedung putih?" Taehyung tiba-tiba terkekeh mendengar pertanyaan lucu Jungkook. Merasa pertanyaanya aneh, Jungkook jadi ingat pertanyaannya yang dikatai bodoh Taehyung tadi, selain merasa malu dia juga jadi semakin kesal ke Taehyung. "Aku hanya bertanya." Lanjutnya lagi.
"Entahlah." Jawab Taehyung. "Aku rasa tidak sebesar itu rumahku." Jungkook membulatkan mulutnya, jika bangunan didepannya yang sudah ia anggap besar, bagaimana dengan ukuran gedung putih. "Ayo masuk." Tambah Taehyung yang berhasil membuat Jungkook kembali kedunia nyata.
Jungkook jalan berdampingan dengan Taehyung. Sepasang kristal hitamnya menangkap pemandangan yang cukup menakutkan baginya. Ternyata sedari tadi di pintu masuk sudah berdiri dengan rapi pria-pria berbadan tangguh di sekitar pintu masuk. Melihat kedatangannya dengan Taehyung pria-pria itu dengan sigap mengucapkan salam dan membungkuk sedalam mungkin menyambut mereka. Taehyung hanya mengangguk dan berjalan melalui mereka masuk kedalam rumah. Jungkook yang tidak tahu harus melakukan apa ikut membungkuk kikuk sambil berjalan cepat mengikuti langkah kaki Taehyung. Selain pria-pria tadi, setelah melewati pintu ternyata para maid rumah juga sedang berbaris rapi mengucapkan salam mereka.
Jungkook melihat Taehyung seakan seorang raja di rumahnya ini. Memang benar pria yang sedang berjalan didepannya ini pemilik mansion, tapi dengan bangunannya yang indah serta jumlah pekerjanya tidak bisa menahan Jungkook untuk tidak berpikir seperti itu.
"Jungkook, berjalanlah disampingku, jangan dibelakangku." Panggil Taehyung, Jungkook berjalan lebih cepat lagi mengikuti perintah Taehyung. Melalui tangga yang berada tepat di depan pintu masuk rumah, mereka berdua naik kelantai atas. Banyak barang-barang antik yang tersimpan baik di seisi rumah juga lukisan-lukisan didinding yang begitu indah.
Setelah sedikit berbelok kesana-kemari sampailah mereka didepan pintu suatu kamar. Taehyung membukanya dan Jungkook bisa melihat kamar tidur yang sangat luas. Rapi dan memiliki aroma khas yang Jungkook sadari adalah aroma Taehyung. Mereka masuk kedalamnya. Ranjang ukuran king size yang bersisian tapi tidak terlalu dekat dengan jendela yang sangat besar, uniknya lantai untuk ranjang lebih tinggi beberapa centimeter. Ada dua pintu lagi didalam kamar, satu adalah kamar mandi dan satunya lagi entah apa.
"Ini kamarmu?" Taehyung mengangguk membuka jasnya dan melemparkannya ke sandaran sofa, ia duduk di sofa tersebut dan menuangkan cairan merah anggur dari botol ke gelas kemudian meminumnya. "Oke. Jadi kapan kau mengantarkanku ke kamarku?" Taehyung mengangkat sebelah alisnya aneh.
"Ini juga kamarmu." Sekarang dahi Jungkook yang berkerut.
"Apa maksudmu? Kita tidur sekamar?" Taehyung mengangguk lagi. "Tentu saja, Jungkook."
"Tapi aku tidak mau!" Tolak Jungkook, sebenarnya ia tidak masalah satu kamar dengan pria lain hanya saja sebagai manusia dia butuh privasi, bukan?
"Kau tidak berhak menolak Jungkook." Dingin Taehyung.
"Kenapa tidak?" Tanya lagi Jungkook, dan detik itu pula Jungkook bisa merasakan atmosfir berat dari Taehyung. Pria itu berdiri dan berjalan mendekati Jungkook. Jarak mereka hanya satu langkah lagi.
Taehyung menatap dingin Jungkook, dan yang ditatap tidak bergeming. Jungkook sepertinya sudah biasa dengan aura mengintimidasi Taehyung. Walau tidak cukup membuatnya tidak khawatir.
"Kau bertanya pertanyaan bodoh lagi Jungkook." Jungkook mendengus kesal. "Kalau kau ingin jawaban, maka jawaban itu sama seperti saat kita dimobil."
"Tapi aku butuh privasi, aku butuh sudut untukku belajar, juga sudut untuk tempatku bermain game." Taehyung terkekeh.
"Kita tidak butuh semua itu dalam satu kamar. Percayalah besok juga kau tahu." Ekspresi Jungkook menampakan bahwa dia tidak suka dan tidak puas dengan jawaban Taehyung.
"Dan privasimu itu, tidak masalah kalau aku tahu karena aku adalah suamimu." Alasan itu lagi, Jungkook menggigit bibir bawahnya kesal dan hal itu tertangkap mata Taehyung. Pria itu menjilat bibir bawahnya. Atmosfir yang mengintimidasi tadi tiba-tiba berubah, Jungkook sadar akan hal itu, tapi tidak mengerti suasana apa ini. Yang ia tahu Taehyung sedang menatapnya lekat.
"Kau tahu akan lebih baik kalau kau hanya menuruti apa yang kukatakan padamu. Tapi kau yang selalu ingin tahu membuatku—" Bergairah, kata itu terucap dalam benaknya. Pria itu melangkah dan itu membuat jarak antara mereka lagi-lagi sangat kecil, bahkan ujuang sepatu mereka sudah bersentuhan. Jungkook kaget karena ia sudah ada di situasi ini lagi saja, situasi seperti saat mereka di pesta kemarin. Pemuda itu tidak sempat menjauh karena ibu jari kanan Taehyung sudah menyapu bibir bawah Jungkook, membuat Jungkook semakin kaget.
"Kau—" Taehyung mendesis membuat Jungkook diam. Iris berwarna coklat tua Taehyung menatap lurus onyx gelap Jungkook. Pria itu tersenyum.
"Jungkook—" Taehyung memanggilnya dengan suara dalam yang sedikit seraknya. "Aku ingin menciummu." Tanpa menunggu jawaban pemuda itu, bibir Taehyung sudah berlabuh di bibir tipis Jungkook. Matanya menutup menikmati sensasi saat mereka bersentuhan.
Jungkook bisa merasakan bibirnya tertekan benda kenyal dan basah milik Taehyung. Matanya yang tidak menutup bisa melihat wajah Taehyung dari dekat, dan karena begitu dekatnya hingga hanya mata dengan alis tajam serta bulu mata lentik indah Taehyung yang bisa Jungkook lihat. Taehyung menarik bibirnya, namun hanya sebentar karena dia kembali menekan bibirnya ke bibir Jungkook. Kini pria itu meraup bibir tipis Jungkook, mengulumnya membuatnya basah. Jungkook berjengit dengan ciuman Taehyung yang ini. Dirinya yang sedari tadi diam karena schock sekarang mulai sadar dan mencoba mendorong Taehyung. Taehyung melepas ciumannya yang diakhiri dengan dirinya yang menggigit bibir bawah Jungkook seakan dirinya gemas dengan bibir itu.
Jungkook mundur beberapa langkah, mengumpulkan semua informasi tentang apa yang barusan telah terjadi padanya. "Kau menciumku lagi!" Pekik Jungkook.
"Benar."
"Kenapa?!"
"Kau bilang aku boleh menciummu jika aku bilang terlebih dahulu bukan." Jungkook tidak percaya dengan jawaban itu.
"Aku tidak pernah bilang seperti itu."
"Apa maksudmu Jungkook? Kita sudah menyepakatinya kemarin." Taehyung terkekeh melihat air muka Jungkook yang menggelap. Pemuda itu mendecih kesal.
Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu, hal itu membuat perhatian Jungkook teralihkan, kemudian suara seseorang memanggil Tuan Kim—Taehyung membuat pandangannya beralih kearah Taehyung. Pria itu berdeham.
"Jungkook aku harus pergi. Kau, aku janji kau akan nyaman tinggal disini. Aku janji." Jungkook tidak menjawab dan Taehyung berjalan keluar kamar.
.
Kick Then Kiss
.
Taehyung menutup pintu kamarnya dan Kim Namjoon sudah berdiri didepannya tersenyum miring.
"Baru melakukan hal menyenangkan, Tuan Kim?" Taehyung tidak menjawab, tapi Namjoon tahu diam Taehyung itu mengiyakan pertanyaannya.
Taehyung mulai berjalan pergi dengan Namjoon yang mengikutinya dibelakang. Setelah beberapa langkah menjauhi pintu kamar Namjoon membuka mulutnya lagi.
"Kecoa-kecoa itu belum juga membuka mulut." Ucap Namjoon, Taehyung mengangguk.
"Mereka ada dibawah?" Namjoon mengangguk mengiyakan. Kedua pria itu berjalan menyusuri lorong-lorong Kim's mansion, turun kelantai bawah dan menyusuri lorong-lorong lagi. Kemudian berhenti didepan sebuah pintu. Namjoon membuka pintunya dan berjalan mendahului Taehyung. Mereka melewati lorong panjang lagi yang diakhiri pintu kayu, langkah kaki Namjoon dan Taehyung beriringan dengan suara pukulan dan jeritan seseorang. Saat pintu itu dibuka sebuah tangga turun ada disana, merekapun turun mengikuti anak tangga. Mencapai anak tangga terakhir bisa dilihat beberapa anak buah Taehyung sedang memukuli lima orang lain, beberapa terikat dan sisanya sudah terkapar dilantai.
"Kurasa sebentar lagi mereka akan buka mulut." Ucap Namjoon. Taehyung berjalan lebih dekat kesana. Memperhatikan lima orang yang sedang disiksa anak buahnya dengan tatapan dingin dan tak peduli.
"Yang mana bosnya?" Tanya Taehyung. Salah satu anak buahnya menyeret seorang pria gundul kehadapan Taehyung, memaksanya duduk berlutut didepan Taehyung. Wajah, leher dan dada pria sudah penuh darah karena hidungnya yang tidak berhenti mengeluarkan cairan merah berbau besi itu.
Taehyung tanpa diperkirakan langsung menendang tepat diwajah pria gundul itu, membuatnya terjungkang kebelakang. Terbaring terlentang, tampak lemas tapi masih mencoba bangkit dari posisinya namun sepatu Taehyung sudah menginjak dengan kuat wajah pria itu membuat kepalanya sukses menghantam lantai yang kotor dengan darahnya dan anak-anak buahnya. Pria itu melenguh kesakitan.
"Kau kecoa yang mencoba menculik istriku, huh?" Taehyung menepuk-nepuk dahi pria itu dengan ujung sepatunya. "Kau berani juga." Pria itu benar-benar tidak berdaya dibawah kaki Taehyung. Luka-lukanya sudah begitu banyak.
"Kecoa-kecoa yang mencoba menjadi gangster yang terlalu bodoh untuk tahu cara menculik. Mengikuti korban dari bandara dan baru bergerak saat tahu dia kabur? Kalian tidak punya rencana dan benar-benar tidak tahu cara menculik." Taehyung tersenyum sinis. "Untung saja orang-orangku sudah tahu keberadaan kalian yang terlalu jelas."
Taehyung menginjak pipi kanan pria itu memaksanya melihat kekirinya. Anak buahnya sudah terbaring tak berdaya seperti dirinya. "Lihatlah mereka, sama sepertimu. Dan aku berjanji akan membuatnya semakin buruk—kau tahu maksudku, bukan?" Taehyung berujar dingin. Pria gundul itu menangis mendengarnya. "Dan bukan hanya mereka, sisa anak buahmu di Kanada pun akan berakhir sama." Tubuh pria itu mengejang takut, matanya menyiratkan horror. Taehyung tersenyum miring.
"Kau tahu apa yang kuinginkan, sebuah nama..." Taehyung berjongkok disebelah pria itu dan merendahkan kepalanya agar bisa mendengar suara pria itu. Sebuah nama terdengar, dan tatapan Taehyung semakin dingin, matanya bersinar murka. Pria Kim itu berdiri dan langsung melangkah pergi keluar dari ruangan bawah tanahnya. Namjoon langsung mengejarnya.
"Siapa?" Tanya Namjoon.
"Hope sialan." Namjoon membuat wajah kaget. "Namjoon siapkan mobil besok untuk ketempat tinggal si bodoh sialan itu. Dan bawa para kecoa itu juga. Aku akan diam di ruanganku." Ucap Taehyung sambil berjalan cepat. Namjoon mengangguk.
.
Kick Then Kiss
.
Hope adalah salah satu mafia besar di Korea. Usahanya meliputi perdagangan obat-obatan dan senjata ilegal serta penyelundupan. Hope bukanlah nama aslinya, nama itu hanya panggilan kerja karena dia lebih terkenal akan usaha narkobanya yang sangat luas, membuatnya seperti 'harapan' bagi para konsumen obat-obatan itu.
Pria itu sekarang sedang berdiri didepan jendela yang berada di ruang kerjanya. Ia melihat kebawah, ke halaman rumahnya dimana dua mobil hitam masuk dan memakirkan diri disana. Ia tersenyum lebar tahu saudaranya telah datang. Dan senyumnya semakin lebar saat tahu salah satu mobil tengah mengeluarkan tubuh-tubuh tidak berdaya ke rerumputan pekarangan rumahnya.
Ia segera keluar dari ruangannya dan pergi menuju pintu depan. Seorang pria sudah menunggunya disana, pria itu adalah Taehyung.
"Kim Taehyung, saudaraku, selamat datang." Hope membuka tangannya cukup lebar seakan ingin memeluk Taehyung, tapi pria bermarga Kim itu hanya melengos pergi menuju ruang tamu, tidak peduli dengan pelukan Hope yang menggantung diudara. Namjoon yang sedari tadi disana tertawa terbahak-bahak melihatnya. Senyuman Hope tidak luntur, dirinya melihat Namjoon yang belum mampu berhenti tertawa.
"Kulihat kabarmu baik, Namjoon." Hope tersenyum manis kepada Namjoon, tidak peduli kalau pria itu sedang menertawakannya.
"Sangat baik, dan tidak pernah sebaik ini Hoseok."
Hope-atau Hoseok dan Namjoon berjalan menuju ruang tamu. Disana Taehyung sudah duduk sambil meminum anggur merahnya, ia duduk seakan ini merupakan rumahnya sendiri. Hoseok duduk disofa seberang Taehyung. Tapi Namjoon sendiri sudah pergi entah kemana.
"Kulihat kau membawa pulang tamu undangan pernikahanmu dari Kanada, saudaraku." Hoseok membuka percakapan.
"Ya, kecoa-kecoamu." Hoseok tersenyum lagi.
"Kau berniat sekali sampai membawa mereka ke Korea. Kau sangat ingin tahu nama dibalik mereka ya."
"Aku tidak sempat melakukannya di Kanada jadi kubawa mereka kemari, sekalian mengirim kembali mereka kepada pemilik bodohnya."
"Kau membunuh mereka?"
"Tidak, tapi anak buahku cukup membuat mereka bertahan di rumah sakit selama berminggu-minggu." Hoseok tertawa.
"Tipikalmu sekali. Kau marah, saudaraku?" Tanyanya tapi Taehyung tidak menjawab.
"Ayolah Taehyung, tidak perlu marah begitu. Mereka itu pengganti aku yang tidak bisa datang kepernikahanmu."
"Kau bukan mengirim tamu undangan bodoh, mereka ingin menculik istriku!"
"Itu hanya lelucon, saudaraku."
"Leluconmu tidak lucu." Hoseok tertawa keras.
"Tapi mereka tidak berhasil bukan, aku sudah dengar bagaimana ceritanya."
"Ya mereka sangat bodoh seperti kau. Mereka tidak punya rencana, mereka brengsek amatir. Bagaimana bisa kau menyewa amatiran seperti mereka?"
"Karena mereka hanya peduli jumlah uang yang kuberikan, bukan siapa yang akan mereka culik. Jadi lebih mudah merekrut mereka."
"Bodoh."
"Ya memang. Tapi katakanlah ini pemanasan untukmu, saudaraku. Hal seperti ini akan terjadi lagi, dan akan lebih buruk."
"Aku bisa menanganinya."
"Aku tahu. Kau ini Kim Taehyung, kau bisa menanganinya, dan semoga saja benar." Taehyung mendengus. "Dengar, saudaraku. Kau punya banyak musuh, dan Jeon tua itu yang akan mati itu juga punya banyak musuh. Dengan kau menikahi putranya itu hanya berarti satu hal, kau harus menangani dua kali lipat musuhmu." Taehyung tampak tidak peduli kata-kata Hoseok.
"Sudah bicaranya?" Dingin Taehyung. "Aku kesini hanya ingin memperingatimu untuk tidak mengganggu aku dan istriku, bukan mendengar nasihatmu. Aku tahu apa yang sedang aku lakukan dan jangan ikut campur tanpa aku suruh."
"Baiklah, baiklah. Aku mengerti. Tapi sungguh, perhatikan istrimu itu, dia bisa dalam bahaya setiap saat." Taehyung mengangguk malas kemudian bangkit berdiri.
"Aku harus pergi lagi."
"Baiklah. Jaga dirimu, Taehyung." Tanpa menjawab Taehyung pergi dari sana, Namjoon sudah menunggunya didepan. Mereka masuk kedalam mobil dan mobil melaju pergi menjauhi kediaman Hope.
.
Kembali ke Jungkook yang terbangun dari tidurnya yang lelap. Dia sangat lelah mulai dari fisik lalu batinnya. Ia kesal setengah mati karena ciuman Taehyung, dia ini laki-laki bagaimana bisa ia berciuman dengan pria lain. Bagian kecil dari dirinya merasa direndahkan. Tapi selalu saja ia tidak bisa menghindar dari Taehyung.
Ranjang Taehyung yang luas dan empuk membuat tubuhnya sangat nyaman, bahkan jam sudah menunjukan pukul sepuluh tapi Jungkook masih betah bergulung disana. Tapi perutnya yang meraung kelaparan membuatnya harus meninggalkan ranjang itu. Ia menuju jendela dan membukanya, sinar mentari yang hangat langsung menyelimuti tubuhnya yang hanya memakai kaus putih dan boxer hitam. Jungkook menyadari ternyata jendela itu berpintu, pintu itu menghubungkan antara kamar dan balkon. Jungkook membukanya dan berjalan kearah balkon. Pemandangan yang bisa ia tangkap adalah tembok yang membatasi rumah dan lahan luas pohon pinus diluarnya. Deretan pohon pinus berwarna hijau tua itu sangat indah ternyata saat cahaya matahari mengenainya tidak seperti malam tadi. Dan diujung perbatasan pohon pinus itu ada kota yang ramai. Ia jadi mengerti kenapa ketempat ini terasa sangat jauh dan lama untuk dicapai. Udara disini sangat segar walau matahari cukup terik.
Menyudahi kekagumannya. Jungkook pergi ke kamar mandi dan membersihkan tubuhnya. Didalam kamar mandi terdapat dua handuk yang berwarna putih yang nampak baru dan tanpa pikir panjang Jungkook mengambilnya untuk dipakai tanpa peduli punya siapa itu.
Setelah membersihkan dirinya, Jungkook keluar. Dan dia baru menyadari kalau tidak punya satupun baju ganti, dia kemari benar-benar dengan tangan kosong. Kaus dan boxernya sudah basah dan dia sudah melemparnya ke keranjang cucian. Sekarang apa yang harus dia pakai? Jungkook berdiri termenung dengan hanya selembar handuk yang menutupi daerah privatnya, ia melihat jaket yang ia sampirkan di sofa dan celana jeans yang terdampar dilantai. Yang benar saja, dia akan memakai hanya jaket dan celana jeans nya tanpa boxer? Hell no. Tapi dia tidak punya pakaian lain.
Pandangannya tiba-tiba menangkap satu pintu lagi diruangan itu. Dan menyadari kalau ada ruangan dibalik pintu itu yang Jungkook yakin sekali adalah ruang pakaian, ia yakin karena di kamar tidur ini sendiri ia tidak melihat satupun lemari. Membunuh rasa ingin tahunya, Jungkook membawa dirinya masuk keruangan itu, benar saja tempat ini ruangan pakaian. Tapi gilanya ruang pakaian ini sama besarnya dengan kamar tidur.
Lemari-lemari dari kaca mendominasi ruangan ini. Jungkook bisa melihat lemari berisi kemeja dan jas yang tergantung, tas, dan sepatu yang berjejer rapi. Serta kaca besar yang menenpel didinding. Menyusuri lebih dalam, ia mendekat ke meja kayu besar yang begitu cantik akan ukirannya, letaknya ditengah ruangan. Meja tersebut memiliki banyak laci. Jungkook membukanya dan dirinya kaget karena begitu banyak jam disana dengan berbagai merek terkenal. Laci selanjutnyanya berisi berbagai jenis dasi. Kamar ini lebih seperti toko, pikir Jungkook.
Tidak sengaja onyx gelapnya menangkap sebuah note kecil berwarna kuning yang tertempel di sebuah lemari kaca yang besar. Jungkook membacanya dan setelahnya dia mengangguk. Taehyung yang menuliskan note ini untuknya. Kertas itu bertuliskan bahwa pria itu telah menyiapkan beberapa pakaian untuknya sebelum barang-barang Jungkook dari rumahnya datang nanti. Jungkook membuka lemari itu dan menemukan beberapa boxer, kaos dan kemeja serta jaket kulit yang ternyata sangat pas ditubuh Jungkook.
Tanpa pikir panjang pemuda bersurai hitam itu langsung berpakaian.
.
Benar apa kata Taehyung, pemuda yang sekarang bernama Kim Jungkook ini akan sangat menyukai tinggal di mansion milik suaminya. Makanan disini benar-benar enak dan mewah, para maid dan anak-anak buah Taehyung sangat sopan juga ramah padanya, terlepas dari wajah mereka yang sangar. Jungkook juga bisa menonton film di ruang film yang gilanya seperti bioskop mini. Juga ruangan yang penuh berbagai macam game terkenal dan terbaru, ruangan terbaik bagi dirinya yang gila dengan game. Dan perpustakaan berisi koleksi buku milik Taehyung yang cukup luas, cocok bagi Jungkook untuk belajar, mengingat dirinya akan memulai kuliah. Dan jangan lupakan pemandangan yang indah disekitar mansion yang cocok bagi dirinya yang suka jogging pagi.
Ia benar-benar menyukai tinggal disini, tapi bagaimanapun juga ia merasa sepi bermain sendiri tanpa orang yang dikenalnya dirumah sebesar ini, tapi sungguh dia sangat suka di tempat ini. Tanpa dia sadari Taehyung begitu memanjakannya, dan sekali lagi tanpa dia sadari. Bicara tentang Taehyung, tidak sedikitpun Jungkook pernah melihat lagi Taehyung, pria itu entah kemana, para maid dan anak buah Taehyung tidak ada yang memberitahunya, Jungkook akui ia sedikit penasaran tapi memilih untuk tidak peduli. Bahkan hingga hari pertamanya masuk kuliah pun, lelaki bernama Kim Taehyung itu tidak menunjukan batang hidungnya.
Jungkook benar-benar diantarkan kemanapun dan kapanpun oleh supir Taehyung. Pagi ini dia hampir saja terlambat masuk kelas pagi, karena saat di tengah jalan mereka harus kembali ke mansion karena Jungkook lupa akan ponselnya, mereka kembali pergi tapi kesialan kembali datang, saat masih di tengah perjalanan lagi, mobil yang Jungkook naiki entah kenapa tiba-tiba mogok. Tapi tidak perlu waktu lama setelah supirnya menelfon rekannya, mobil lain datang dan siap mengantar Jungkook ke kampus.
Walaupun paginya seperti itu, tapi tidak sedikitpun melunturkan semangat Jungkook karena hari ini pemuda itu akan bertemu sahabatnya Jimin, mereka sudah berteman sejak SMA karena itu mereka sangat dekat selain alasan itu juga Jungkook tidak punya teman selain Jimin, jadi jangan heran Jungkook akan selalu berada didekat Jimin. Jungkook bersyukur Park Jimin bisa sekampus dengannya walau mereka beda fakultas, yang membuat mereka terpisah gedung belajar. Tapi setidaknya dia masih bisa bertemu Jimin.
Jungkook sedang duduk di cafetaria kampus menunggu Jimin yang 'katanya' akan datang dua atau tiga menit lagi, kata-kata itu tertulis dipesan yang Jimin kirim, tapi nyatanya 11 menit telah berlalu dan pria berambut oranye yang Jungkook sangat kenali itu tidak terlihat juga. Jungkook mendengus kasar, ia merasa sangat bosan, dia benar-benar tidak suka menunggu. Tapi sebuah tepukan dibahunya dan seseorang dengan santainya duduk disebelahnya, menampakan siluet rambut oranye yang Jungkook kenal betul pemiliknya.
Jimin tersenyum pada Jungkook, matanya melengkung sempurna seperti bulan sabit disiang hari. Jungkook yang melihat senyum bodoh Jimin hanya mendengus kasar.
"Tersenyum seperti itu karena tahu kesalahanmu, Park Jimin?" Jimin semakin tersenyum lebar mendengar kata-kata Jungkook.
"Hehe, maafkan aku." Jungkook mendengus lagi, mengabaikan Jimin dan memilih untuk mulai memakan pesanannya, Jimin pun beralih ke makan siang yang sudah dipesankan Jungkook untuknya.
"Jungkook bagaimana rumah pamanmu itu?" Tanya Jimin sambil menyeruput jus jeruknya, Jungkook menaikan satu alisnya bingung.
"Paman?"
"Iya pamanmu itu. Bagaimana rasanya tinggal disana? Kau nyaman?" Awalnya Jungkook bingung dengan apa yang dibicarakan tapi kemudian ia ingat kembali dan dia langsung membeku.
Jungkook lupa untuk mengarang cerita ini. Cerita mengenai dia yang tinggal di rumah pamannya—yang sebenarnya adalah suaminya, Kim Taehyung. Kebohongan ini bermula saat hari pertama Jungkook tinggal di mansion Taehyung. Jimin tiba-tiba menelfonnya dan mengatakan kalau dia akan kerumah Jungkook. Memang sudah biasa Jimin akan main kerumahnya 2-3 kali seminggu, tapi kondisinya sudah menikah dan tinggal dirumah suaminya. Demi apapun Jungkook tidak ingin Jimin tahu dia menikah, terlebih lagi menikahi seorang pria, pria mafia.
"Kook?" panggil Jimin lagi. Jungkook menelan ludahnya kasar.
"Ah ya? Pamanku itu ya? Aku suka rumahnya, sangat nyaman." Jawab Jungkook gugup, tapi Jimin tidak menyadarinya.
"Tapi, bukankah kalian baru bertemu. Apa tidak canggung? Dan apa dia galak?" Tanyanya lagi, ia melihat Jungkook dengan begitu penasarannya.
"Entahlah..haha." Mendengar jawaban Jungkook, Jimin mendengus.
"Oh ayolah, Kook. Ceritakan padaku. Sudah seminggu kita tidak berkomunikasi karena kau tahu bukan aku pergi ke gunung dan sinyal disana sangat tidak oke. Aku hampir gila karena hanya bisa bercakap-cakap dengan keluargaku saja disana. Aku butuh percakapan denganmu. Aku ingin tahu kabarmu seminggu ini dengan empat mata oke." Ucap jimin menggebu-gebu. Jungkook menggigit bibirnya ragu.
Tak tahu Jimin, bahwa selama kepergiannya berlibur bersama keluarganya, Jungkook ada dibagian benua lain, dibawa paksa dengan cara dibius ayahnya sendiri, kabur, lalu dibius lagi oleh anak buah calon suaminya, dan terakhir menikah dengan orang asing ditengah orang-orang berbahaya dari dunia gelap. Jadi, punya siapa yang lebih buruk? Jungkook mengalah.
"Euh oke, mmh kurasa sedikit canggung, tapi kalau tentang galak kurasa tidak, dia lebih seperti dingin...kurasa?" Jimin mengangguk.
"Ya memang paman-paman seperti itu. Aku juga punya satu yang persis seperti itu." Jimin menyeruput jusnya lagi. "Tapi aku jadi ingin kesana." Jungkook melotot.
"Jangan!" pekiknya. Jimin kaget.
"Kenapa memang?" Jungkook menggaruk belakang lehernya.
"Euh tempatnya jauh..."
"Jauh?" Jungkook mengangguk kaku. "Ah sayang sekali. Kalau tempatnya sedekat rumahmu pasti aku akan datang." Jungkook mendesah lega karena Jimin mulai fokus lagi dengan makanannya dan tidak bertanya apa-apa lagi.
Jungkook tidak tahu mengapa dia memakai kata 'paman' untuk mengelabui Jimin. Tapi setidaknya itu cukup manjur untuk membungkam mulut pemuda bersurai oranye itu. Jungkook bilang kepada sahabatnya ini bahwa ia dipaksa pindah oleh ayahnya untuk tinggal bersama 'pamannya' ini dengan alasan yang Jungkook sendiri tidak ketahui, tiba-tiba saja ayahnya sudah membawanya tinggal dirumah pamannya dengan paksa. Sebenarnya semua kebohongan Jungkook tidak seratus persen palsu, karena apa adanya memang dia dipaksa bersama dengan orang asing bernama Kim Taehyung oleh sang ayah, dan 'kebersamaan' itu abadi dalam pernikahan.
Jimin tidak terlalu banyak bertanya tentang 'alasan' ayahnya yang tiba-tiba punya rencana begitu walaupun tidak masuk akal mengirim anaknya tinggal dirumah 'paman jauhnya' dan apa tadi Jungkook bilang? Tempatnya Jauh? Untuk apa tinggal ditempat jauh kalau Jungkook kuliah disini. Tidak masuk akal memang, tapi Jimin sudah sejak lama tahu sifat ayah Jungkook yang suka memerintah tiba-tiba dan tidak masuk akal, tapi terlepas dari itu Jimin tahu maksud Tuan Jeon itu selalu baik.
Jimin memang mengenal ayah Jungkook dan tahu pria tua itu adalah mafia. Tapi Jimin sudah terlanjur suka bermain dengan Jungkook jadi dia merasa tidak masalah berbaur dengan Jeon muda itu. Toh, selama ini ia tidak pernah mendapat masalah dari orang-orang Tuan Jeon. Lucunya keluarga Jimin kebanyakan adalah penegak hukum, seperti ayahnya yang merupakan jaksa dipengadilan umum di Busan, kampung halamannya. Seorang anak penegak hukum berteman dengan anak mafia, benar itu lucu sekali.
"Kook." Panggil Jimin lagi, Jungkook yang sudah tenang sekarang tegang lagi karena takut pertanyaan yang akan terlontar dari Jimin.
"Kau tahu bukan malam ini semua senior akan mengadakan penyambutan bagi kita anak baru bukan?" Jungkook tanpa sadar mendesah lega kemudian mengangguk.
"Kau ikut tidak?" Jungkook mendengus.
"Kau tahu aku tidak suka acara-acara seperti itu, 'kan? Aku tidak mau dipaksa minum soju oleh mereka." Jimin terkekeh.
"Tenang saja, kupastikan kau hanya minum jus disana." Jimin melihat Jungkook yang mendengarnya malas. "Kuberi tahu ya, aku sudah kenal beberapa senior disini dan mereka semua populer. Yang ku maksud kenal itu aku tahu mereka dan mereka kenal aku. Karena itu bisa kupastikan kau hanya minum jus dan makan camilan saja."
"Aku tidak mau ketempat berisik, dan aku tidak tahu harus bicara apa saja dengan orang-orang disana. Aku menolak tawaran ini, Min." Jimin mengusap wajahnya kasar. Sahabatnya yang satu ini keras kepala juga ya.
"Ini bukan tentang kau mau atau tidak. Tapi kalau kau bertindak seperti ini masa kuliahmu akan sulit. Kau akan sulit mendapat saran dan referensi karena tidak ada yang kau kenal. Aku yakin bahkan tidak ada satupun teman kelasmu tadi yang bicara padamu, tahu wajah mereka saja tidak." Mendengar kata-kata masa kuliah yang sulit membuat Jungkook jadi bimbang.
"Dan umurmu sudah 20 tahun, kawan. Saatnya kau kenal ciptaan Tuhan yang disebut wanita. Aku ingin membantumu juga dalam hal itu. Lihat kesana oke." Jimin mengarahkan pandangan Jungkook untuk melihat ke meja kasir cafetaria. Seorang wanita berdiri disana memesan sesuatu kepada kasir.
"Itu Irene, senior paling seksi yang pernah kukenal. Dan malam ini dia akan ada di pesta. Aku sudah mengincarnya. Ini adalah kesempatanku bisa dekat dengan perempuan. Kau pun harus sepertiku yang punya tujuan hidup seperti ini, bung—" Jimin menjelaskan tanpa henti. Sedangkan Jungkook masih melihat gadis bernama Irene itu. Gadis itu berbalik sambil menggenggam gelas kopi. Dan entah halusinasinya atau apa, gadis dengan rambut pirang itu ternyata menatapnya balik. Tatapan dalam yang tidak bisa Jungkook jelaskan artinya.
.
.
To Be Continued
.
Chapter kali ini mencapai 4K+/otw 5K words, readers! Tapi semoga saja kalian tidak bosan atau bingung, karena banyak hal yang terjadi dalam ch.4 ini. Dan sekali lagi aku ucapkan terimakasih atas riview yang membangun guys, aku juga suka banget kalau baca riview yang dengan panjang lebar kalian menjelaskan persaan kalian tiap chapter. Entah itu seneng, sedih, atau nano-nano. Beberapa ada yang minta chapter asem alis lemon scenenya Vkook, duh kita lihat nanti aja ya.
Lagi dan lagi, SHY harapkan kritik dan saran di kotak riview juga bagi pembaca baru jangan sungkan untuk riview ya. Terimakasih karena telah mengikuti Kick Then Kiss, dan selalu tunggu update chapter selanjutnya, readers.
.
ILY!1!
