a/n : Assalamu'alaykum sahabat semua, alhamdulillah akhirnya dapet ide juga buat update. T_T Huhuhu, senengnya.. Ah, akhirnya vea liburan juga.. Tapi, saat libur, vea ngga janji cepet update lho, soalnya kalau libur, pasti banyak disuruhnya! Makanya buat vea mah libur ngga libur teh sama aja, malah enakkan kalau ngga libur.. Hehe, jadi curcol. Gimana hasil rapot kalian? Semoga mendapatkan hasil yang terbaik ya^^ Hehe, vea mau bales yang review dulu ya^^
Kumi : Hehe, soalnya ngga ada malu-malu ikan, hihi.. Terima kasih banyak senpai^^
Evel : Nih, udah vea update. Apa update-an kali ini sudah lebih panjang?^^
Hikari : Kyaa~! Makasih banyak~! X3 *peluk-peluk Hikari*
Dio : Hehe, mungkin, nanti... Sudah pastilah Rin akan dihukum ayahnya yang killer itu hehe.. Makasih ya^^
Yaya : Ah, terima kasih banyak senpai. Kritikan dan sarannya akan vea nantikan, tidak perlu segan-segan memberi kritikan ya^^ Di fav? O.o Kyaa~! Makasih banyak senpai! X3 *peluk-peluk Yaya-senpai*
Shihui : Ah, shihui, terima kasih banyak, ponselnya bagaimana? Sudah sembuhkah? Nomor vea? Nomor vea mah pakai kartu as, hehe #Plak malah promosi
Vea juga mengucapkan terima kasih untuk para readers yang mau meluangkan waktunya membaca karya vea, selamat menikmati ya!^^
Mélodie de L'amour
Vocaloid © Yamaha Corp dkk
Mélodie de L'amour © Invea
Warning : GaJe! OOC! Aneh! Ngga Rame! Typo! Miss-typo! Kurang Pendeskripsian! Kependekan! De eL eL
.
.
Len menaruh tasnya di atas meja belajarnya. Ia kemudian melepas blazer seragam sekolahnya dan lantas membuka dasi yang tadi meliliti lehernya. Setelah itu, dihempaskannya tubuhnya itu ke atas kasurnya yang dilapisi seprai dengan motif pisang. Matanya menerawang jauh menatap langit-langit kamarnya yang dicat dengan warna kuning pucat. Ia melihat wajah Rin yang tersenyum di sana. Len kembali tersenyum mengingati putri duyung yang telah mencuri hatinya. Semua kekesalannya yang membuncah musnah sudah berganti dengan kebahagiaan akan manisnya cinta yang baru tumbuh di hatinya.
Len kemudian memandang keluar jendela. Pesona pantai di malam hari memang tak kalah dengan indahnya di siang hari. Bebintang yang menghiasi langit malam, menerangi─menjadi petunjuk jalan bagi mereka yang mengembara. Kilauan dari sinar rembulan menambah manisnya pemandangan karya Yang Maha Kuasa. Deburan ombak yang memecah batu karang mengisi keheningan malam di kala semua insan tengah beristirahat.
Len tersenyum. Sejak ia pertama kali melihat kibasan ekor Rin, ia sama sekali tidak pernah menutupi jendela kamarnya dengan tirai agar ia bisa melihat ke pantai setiap saat─memastikan keberadaan putri duyung itu. Ia kemudian bangkit dan mendekati kaca jendela kamarnya. Matanya menerawang ke arah batu karang di mana ia pertama kali bertemu dengan putri duyung itu. Sebuah senyuman tipis kembali mengukir wajah tampannya.
'Andaikan kita ditakdirkan untuk selalu hidup bersama,' gumamnya pelan.
.
.
Rin berenang secepat mungkin menuju dasar samudera─tempat di mana ia tinggal. Ia sangat cemas kedua orang tuanya akan memarahinya─apalagi dia adalah pewaris tahta kerajaan.
Setibanya di istana, Rin dengan bergegas menuju ruang makan. Ia tahu bahwa kedua orang tuanya beserta pamannya pasti sedang menyantap makan malam dan tidak menunggunya─bagaimanapun juga, ia sudah sangat terlambat dan keterlambatannya kali ini tak dapat ditolerir lagi sehingga mereka pasti sudah lelah untuk menunggunya.
Benar saja, Raja dan Ratu tengah makan malam, beserta Mikuo. Kaito memakan makan malamnya dengan tenang─berusaha bersikap bijaksana dan berpura-pura tegar. Sementara Miku hanya memainkan makanan yang kini telah terhidang di atas piringnya. Ia sangat khawatir akan keadaan putri semata wayangnya itu. Sementara Mikuo hanya memakan makanannya dengan lambat dan tidak berselera. Ia pun kelihatannya sangat mengkhawatirkan keponakannya itu.
"Ta... Tadaima," seru Rin dengan nada gemetar karena ketakutan dan nafas yang masih ngos-ngosan. Ia langsung menghampiri kursi tempat di mana ia biasa makan.
"Okaeri... Rin-chan, kau dari mana saja? Kami sangat mengkhawatirkanmu," ujar Miku. Ia tak dapat membendung lagi air matanya. Rin sangat merasa bersalah karena telah membuat ibunya menangis mengkhawatirkannya seperti itu.
"Miku, lanjutkan makan malammu. Rin, berdirilah kau di sana. Berapa kali aku harus mengatakan padamu untuk tidak bermain sampai malam? Dari mana saja kau ini?" bentak Kaito. Ia memang baru saja menyelesaikan makan malamnya. Rin hanya menunduk pasrah. Ia tahu bahwa ayahnya itu pasti akan menghukumnya.
"Sekarang juga, pergi ke kamarmu dan jangan keluar sebelum ku perintahkan!" lanjut pemuda berambut biru itu. Rin hanya mengangguk dan kemudian menuju kamarnya.
"BaKaito, setidaknya biarkan dia makan malam!" bentak Miku kesal. Ia merasa hukuman yang diberikan suaminya itu terlalu berlebihan.
"Tidak ada kompensasi. Hukum harus ditegakkan! Di tangan hukum, siapapun yang bersalah, seberapa tinggipun derajatnya, hukum harus ditegakkan dengan adil. Seharusnya itu kau pelajari sebagai seorang Ratu kerajaan ini. Aku ke kamar dulu," ujar Kaito. Ia kemudian meninggalkan Miku dan Mikuo yang masih menyantap makan malamnya.
"Ck, mentang-mentang dia ini seorang raja jadi bertindak dengan seenaknya saja tanpa pertimbangan orang lain!" keluh Miku kesal. Ia kemudian dengan kasar memasukkan makanan ke dalam mulutnya.
"Sebenarnya dia raja yang baik karena bersikap adil dalam menjalankan hukum pemerintahan," ujar Mikuo menanggapi.
"Tapi setidaknya biarkan anaknya untuk makan! Kejam sekali dia! Dasar BaKaito!" seru Miku geram. Ia merasa bahwa suaminya itu sudah sangat keterlaluan.
"Lagi pula, Rin sebenarnya main ke mana sih? Bisa di bilang tadi itu ia sangat terlambat pulang," sahut Mikuo. Miku menghela nafas pelan. Memang akhir-akhir ini, anak semata wayangnya selalu pulang terlambat. Biasanya sebelum sore pun Rin pasti sudah berada di istana.
"Biar aku berbicara dulu dengannya," seru Miku. Ia kemudian meminta pelayan untuk menyiapkan roti khusus untuk Rin. Dengan segera, wanita paruh baya berambut hijau tosca itu kemudian menuju kamar putri kesayangannya.
.
.
Tok! Tok! Tok! Terdengar suara ketukan pintu ketika Miku mengetuk pintu kamar Rin. Rin yang tengah terbaring menatap ke luar jendela langsung membukakan pintu kamarnya.
"Rinny~!" panggil ibunya sembari langsung memeluk tubuh putrinya itu. Rin hanya mengeluh sesak dipeluk dengan begitu keras oleh ibunya.
"I─ibu! Sakit!" keluhnya. Miku lantas melepaskan pelukannya dan membimbing putrinya untuk duduk bersebelahan dengannya di tempat tidur.
"Rin, kau ini main ke mana saja? Akhir-akhir ini kau selalu pulang terlambat," ujar wanita paruh baya itu. Mahkota aquamarine nya menghias rambutnya yang bermodel twintail panjang menjuntai hampir setinggi badannya.
"Ah, ta─tadi aku sedikit tersesat sehingga pulang terlambat. Maafkan aku," kata gadis blonde honey itu. Ia meneguk ludah. Sejujurnya ia merasa tidak enak karena telah berbohong pada ibu kandungnya itu.
"Uh, kau ini. Ibu kan sudah bilang kalau kau pergi bermain jangan jauh-jauh! Kalau kau tidak bisa pulang bagaimana coba? Ibu sangat khawatir tahu!" sahut Miku. Rin hanya tersenyum tipis.
"Maafkan aku,"
"Hah~! Sudahlah, yang penting kau sudah sampai rumah dengan selamat! Kau sudah makan belum?" tanya ibunya kemudian. Rin menggeleng pelan.
"A─aku sudah kenyang kok," ujar Rin kemudian.
"Konyol! Hampir seharian kau berada di luar. Apalagi, ibu dan ayah sama sekali tidak memberimu uang. Kau pasti belum makan! Sekarang makan dulu ya, ibu sudah menyuruh dayang istana untuk mengantarkan roti spesial dan susu rasa jeruk kesukaanmu. Dimakan ya," seru Miku. Rin kembali tersenyum tipis.
'Menghabiskan waktu dengan pemuda itu sudah membuatku merasa sangat kenyang,' gumam putri duyung penyuka orange itu dalam hati.
Tak lama kemudian, masuklah salah seorang dayang istana ke dalam kamar Rin. Ia lalu membungkuk─memberikan hormat kepada Rin dan Miku.
"Yang Mulia Ratu, Yang Mulia Putri, saya kemari hendak mengantarkan makan malam untuk Yang Mulia Putri," ujarnya kemudian. Miku langsung mengambil alih nampan yang dibawakan oleh dayang istana tersebut.
"Terima kasih," ujar sang Ratu kerajaan Siréne tersebut.
"Kalau begitu, saya permisi dulu, Yang Mulia," Dayang tersebut lantas pamit undur diri dan meninggalkan dua putri duyung tersebut. Miku langsung menaruh nampan tersebut di atas meja.
"Cepat kau makan dan habiskan! Ibu mau ke kamar dulu ya. Akan ku marahi BaKaito yang suka seenaknya itu!" seru Miku. Rin menganggukan kepalanya. Miku lalu pergi meninggalkan kamar putrinya tersebut.
Rin meraih roti yang berada di atas nampan. Dia kemudian menggigitnya pelan. Pikirannya masih terhanyut akan pemuda itu. Ia lalu teringat ketika Len mengelus pipinya saat ia tertidur. Dielusnya pipi putihnya. Masih terasa kehangatan sentuhan jemari Len di sana.
Rin langsung menghabiskan makan malamnya dan meneguk habis segelas susu rasa jeruk kesukaannya. Seperti Len yang begitu menyukai pisang, putri duyung ini pun sangat terobsesi dengan jeruk!
'Ah, Len bilang ia akan datang di sore hari! Tapi, kalau seperti itu terus, kami hanya akan bertemu sebentar di setiap harinya... Uuh, padahal aku ingin selalu menghabiskan waktu bersama dengannya!' keluh Rin dalam hati. Ia kemudian menatap keluar jendela. Menerawang ke atas samudera.
'Tuhan, aku tahu kalau aku dan dia berbeda. Aku seorang putri duyung, sementara dia seorang manusia. Tapi, aku mohon, jodohkanlah aku dengannya,' gumam Rin dalam hati. Ia mulai menyadari bahwa ada sebuah rasa yang kini tertanam di hatinya. Benih-benih cinta perlahan mulai tumbuh menghiasi taman wangian hatinya. Dan ia sangat bersyukur telah merasakannya. Ini pertama kalinya dia merasakan perasaan itu. Ia tahu, tak mudah untuk memperjuangkannya. Bagaimana pun juga, seekor putri duyung tidak ditakdirkan dengan manusia. Tapi, meski begitu, salahkah bila ada pengecualian untuknya?
.
.
Sinar mentari menerobos masuk menyilaukan kedua mata Len yang tengah terpejam. Perlahan, pemuda itu mulai membuka kedua matanya. Ia lantas menaruh punggung tangan kanannya di atas keningnya─berusaha menahan sinar mentari agar tidak terlalu menyilaukan matanya.
Ia kemudian bangkit dan menatap kalender lipat yang tertera di atas meja belajarnya. Esok adalah tanggal merah. What? Ya, tanggal merah. Itu baru di sadari pemuda itu. Ia langsung berjingkrak-jingkrak karena senang. Kesempatannya untuk menghabiskan waktu bersama putri duyung yang disukainya akan lebih banyak esok.
Dengan penuh semangat, pemuda itu langsung menyikat giginya dan mengganti piyamanya dengan seragam sailor sekolahnya. Setelah itu, ia langsung mengolesi roti dengan selai pisang favoritnya. Roti selai pisang dan susu pisang merupakan menu sarapannya di pagi hari. Dan bisakah kalian percayai, dia sama sekali tidak pernah merubah menu sarapannya itu!
.
.
Di sekolah, kini Len terlihat jauh lebih ceria. Ia jadi lebih banyak senyum hari itu. Leon langsung menghampiri tempat duduk Len ketika sahabatnya itu tiba.
"Hoi, Len," sapa pemuda berambut pirang itu. Len menoleh ke arahnya. Ia sedikit heran karena tak ada Lily di samping sahabatnya itu. 'Bukankah mereka selalu bersama setiap saat?' tanya Len heran dalam hati.
"Yo, kok ngga sama Lily?" tanya Len heran. Leon hanya terkekeh mendengarnya. Ia kemudian duduk di atas kursi yang berada di depan meja Len.
"Lily sedang sakit, makanya hari ini dia tidak bisa pergi ke sekolah," terang Leon. Len hanya mengangguk.
"Nanti, temani aku menjenguknya mau?" ajak Leon. Len terdiam. Sejenak ia berpikir.
'Kalau aku menemaninya, berarti, aku akan telat menemui putri duyung itu. Tapi, kalau aku tidak menemani Leon, nanti dia marah dan memutuskan persahabatan kita bertiga yang sudah lama terjalin,' gumamnya dalam hati.
"Hoi, bisa tidak?" tanya Leon kembali. Len tersentak.
"Bi─bisa," jawab Len mengiyakan─dengan sedikit terpaksa. Ada keraguan di hatinya harus membuat Rin kembali menunggu. Tapi, ia tak ingin membuat sahabatnya itu kecewa.
"Baiklah, pulang sekolah, aku akan menunggumu di depan pagar. Aku ke kelas dulu ya," ujar Leon. Ia kemudian melambaikan tangannya pada Len. Len hanya membalasnya dengan sebuah senyuman simpul.
'Maafkan aku, Rin. Aku janji aku akan datang menemuimu walau harus terlambat,' ujar Len kemudian di dalam hatinya.
"Kagamine-kun!" seru ketiga fans Len. Aih, Len paling sebal kalau mereka sudah datang. Len meneguk ludah dan langsung menutupi kepalanya dengan buku paket matematika.
"Kagamine-kun, kenapa tadi tidak menunggu kami datang? Padahal tadi kami ke rumahmu dulu lho," seru Teto.
"Iya nih, Kagamine-kun jahat, ih," ujar Neru. Len kembali meneguk ludah.
'Kalau kalian merasa aku jahat, ngapain juga lagi masih suka sama aku?' gerutu Len dalam hati.
"Eh, eh, eh, Kagamine-kun, bagaimana kalau nanti kita makan siang bareng?" ajak Teto. Ia kemudian memainkan salah satu ikatan rambut merah batanya yang menyerupai bor itu.
"Ah, betul, betul! Aku sudah membuat minuman sporty yang akan membuatmu kembali bersemangat!" seru Neru.
"A─aku juga sudah mem─membuatkan be─bento spesial un─untuk Kagamine-kun," timbal Gumi.
"Zzzz,"
Oow! Rupanya perkataan mereka barusan sama sekali tidak didengar Len karena pria pujaan mereka itu sudah tidur di sana sedari tadi. Teto dan Neru sontak menggembungkan kedua pipinya karena kesal. Sementara itu, Gumi langsung bersembunyi di bawah meja tempat duduknya karena malu.
Tak lama kemudian, bel pun berbunyi. Dan kelihatannya, Meiko-sensei lagi-lagi akan memberikan hukuman pada salah satu siswa.
"Kagamine-kun! Cepat berdiri di lorong!" bentak guru yang memiliki brown hair tersebut. Ia kesal karena melihat Len yang kini tengah asyik tertidur di mejanya.
Len langsung tersentak mendengar bentakan dari guru killer tersebut. Ia kemudian melangkahkan kakinya menuju lorong kelas dan berdiri di sana.
'Tck, gara-gara ketiga cewek genit itu!' gerutunya dalam hati.
.
.
To Be Continued
.
.
Review Please?
