Sasagi

-ささぎ-

Naruto (c) Masashi Kishimoto

Itachi&Sarada

.

Hari-harinya yang baru dimulai. Itachi dengan senang hati menceburkan diri ke dalam urusan yang sebenarnya tidak boleh menjadi urusannya. Tapi Itachi senang melakukannya—tentu saja, senang, memang karena apa lagi? Karena hanya dengan itu ia mampu menilik kehidupan lain seorang Uzumaki Sarada.

.

.

.


Bab 4

Sebenarnya, Itachi tidak akan langsung mengajar. Karena berkas-berkas seperti riwayat pendidikan dan semacamnya yang dibawa Kakashi tadi malam akan diurus bersama kepala sekolah hari ini. Ia sendiri baru akan dilibatkan soal kepengurusan berkas tingkat lanjut pada siang harinya. Tapi Kakashi berkata bahwa Itachi boleh mengunjungi sekolah di pagi hari untuk melihat-lihat situasi dan kondisi di sana.

Kisame menjemput Itachi pukul lima pagi. Mungkin terbilang terlalu pagi untuk berangkat ke sekolah, tapi karena jam kerja Kisame adalah jam segitu (itu pun Kisame sebenarnya sudah mengundur jam berangkatnya, karena biasanya ia mulai ke pelelangan ikan di pasar pada pukul empat). Mereka pergi ke sekolah menaiki sebuah truk yang di belakangnya berisi sayur-sayuran yang nantinya akan dijual di pasar. Rupanya sayur-sayur itu milik pria bernama Zetsu. Jadi dalam satu mobil itu terdapat tiga orang.

Kisame menurunkan Itachi tepat di gerbang sekolah. Rupanya di sana sudah berjaga seorang penjaga sekolah yang sibuk membenarkan gerbang depan yang kelihatannya sedang macet.

"Permisi."

Seorang pria beruban, memakai ikat kepala, dengan lengan baju disingsingkan hingga hampir mencapai batas bahu dan lengan. Pria tua itu sedang mengolesi oli pada pagar besi sekolah yang sudah karatan.

Mendengar suara Itachi, spontan pak tua itu menyahut, sambil tetap fokus pada pekerjaannya. "Sekolah masih belum buka."

"Ya, tapi saya hanya datang untuk melihat-lihat."

"Ini masih terlalu pagi untuk masuk."

"Tidak apa-apa. Lagipula saya tidak punya tempat di dekat sini untuk tinggal sampai pagi."

Pak tua penjaga sekolah meletakkan kaleng olinya. Untuk pertama kalinya, akhirnya ia menoleh juga. Dahinya berkerut dan matanya memicing. "Siapa kau? Ada keperluan apa kemari pagi-pagi?"

"Saya calon guru pengganti di sini, Pak. Nama saya Uchiha Itachi. Seperti yang sudah saya bilang tadi, saya kemari untuk melihat-lihat."

.

Pada akhirnya, pagi Itachi menunggu gerbang sekolah dibuka berakhir dengan dirinya dijamu di rumah Tazuna, si penjaga sekolah. Ternyata Tazuna tidak seperti impresi pertama Itachi terhadap pria itu itu. Orangnya blak-blakkan dan cerewet.

Saat matahari sudah cukup tinggi berada di angkasa, barulah mereka berdua bergegas menuju sekolah. Sebagai penjaga sekolah, rumah Tazuna memang tepat berada di samping sekolah.

Tazuna membuka gerbang yang sebenarnya perlu dicat ulang itu. Tak lama kemudian, murid-murid SD dari berbagai tingkat pun mulai berdatangan. Sesekali guru juga melintas di sana. Sementara sampai lima belas menit Itachi berdiri di sana, akhirnya sosok Hatake Kakashi muncul juga, memasuki gerbang sekolah menggunakan mobilnya.

"Kakashi-sensei? Tumben sekali kau datang sepagi ini. Apa karena membawa mobil?" sapa Tazuna saat Kakashi menurunkan kaca jendela mobilnya.

Kakashi hanya tersenyum simpul. "Ada keperluan penting hari ini. Aku diminta menjemput Kepala Sekolah di kota." Melihat Itachi berdiri kikuk di sebelah Tazuna, Kakashi pun menyuruhnya untuk menunggunya tepat di pintu masuk gedung utama.

.

"Gaji seorang guru pengganti tidak besar." Kakashi tetap saja menggumamkan itu untuk yang kesekian kalinya. Setelah ia sempat dikagetkan oleh fakta bahwa Itachi seorang lulusan Todai.

"Kau sudah bilang itu kemarin, Kakashi-sensei."

Setelahnya Kakashi akan diam. Memang benar, awalnya ia yang meminta bantuan Itachi. Tapi tetap saja, setelah tahu bahwa Itachi lulusan Todai ... ada perasaan enggan dalam hati Kakashi yang tak bisa diabaikan. Walaupun pada akhirnya, meski seenggan apa pun juga, mau tak mau Kakashi toh pada akan tetap memakai jasa Itachi. Menemukan seorang guru bahasa inggris, apalagi guru pengganti, di daerah seperti ini memang sangat sulit. Padahal Konoha Shougakkou bisa dibilang merupakan SD yang cukup besar, murid yang bersekolah di sini berasal dari berbagai desa.

Kakashi menyerahkan Itachi pada seorang guru olahraga nyentrik bernama Maito Gai. Sebenarnya Gai bisa dibilang cukup berumur. Namun semangat hidupnya tak terbantahkan oleh faktor usia. Gai selalu berdua bersama guru olahraga lain di sekolah itu. Rupa dan semangat mereka nyaris serupa. Namun, guru lain itu terbilang masih cukup muda. Namanya Rock Lee.

Gai membawa Itachi mengelilingi sekolah. Menjelaskan masing-masing nama tempat dan kelas yang mereka lewati. Kira-kira pukul sepuluh mereka kembali ke ruang ruang guru karena Gai akan ada kelas sebentar lagi.

Gai menunjuk meja kerja Shizune, guru bahasa inggris yang Itachi gantikan. Katanya, jika memang benar Itachi guru pengganti Shizune-sensei yang sedang cuti karena hendak melahirkan, maka meja Shizune menjadi hak Itachi. Meja Shizune sudah bersih, menyisakan beberapa jurnal yang sepertinya memang sengaja ditinggalkan.

Itachi duduk di sana. Di meja guru yang sebentar lagi akan menjadi miliknya. Rasanya memang mendebarkan. Ia akan mengajar anak-anak, sementara ia datang dari dunia non-pendidikan. Apakah nanti ia akan bisa mengajar dengan baik?

Apakah nanti ... ia akan diberi kesempatan untuk mengajar Sarada?

.

Itachi sibuk berkenalan dan berbincang-bincang dengan para guru tetap di Konoha Shougakkou sepanjang jam pelajaran. Tak ada henti-hentinya. Jika seorang guru mengundurkan diri dari obrolan karena ia akan mengajar, maka datang guru lainnya yang sedang tidak mengajar.

Bukan Itachi sendiri yang memulai obrolan sebenarnya. Tapi guru-guru itu kelihatan begitu tertarik dengan orang kota seperti Itachi. Apalagi entah bocoran dari Kakashi atau bukan, para guru itu sudah tahu bahwa Itachi adalah lulusan Todai.

Jam makan siang pun datang. Itachi yang merasa sudah cukup berbasa-basi akhirnya pamit undur diri. Ia akan mencari Kakashi-sensei untuk membahas lebih lanjut soal urusan dirinya sebagai guru pengganti. Tapi, tepat saat ia berada di depan pintu ruang guru, sebuah kekacauan terjadi di depannya.

Mitarashi Anko dengan wajah merah meletup-letup membuka pintu ruang guru bahkan sebelum Itachi sempat menyentuh pegangannya. Di sebelah Anko, Uzumaki Sarada berdiri, mendongak tak sengaja, dan mendelik lebar saat melihat Itachi.

Sarada tak sempat meneruskan keterkejutannya karena ia sendiri sudah keburu ditarik Anko masuk ke ruang guru.

"Mana Kakashi-sensei?!" geram Anko, matanya yang melotot menyapu seluruh isi ruangan.

"Bukankah Kakashi-sensei masih ada keperluan dengan Kepala Sekolah?"

Anko tak kelihatan membaik juga. Justru ia kelihatan makin geram dan menyeramkan, tentu saja.

Itachi masih berdiri di ambang pintu. Berusaha menerka-nerka apa yang sedang terjadi. Ia menatap Sarada, dan mempertanyakan dalam hati apa yang membuat Sarada terlibat dalam kemurkaan guru perempuan yang satu itu.

Saat gestur bagian atas Sarada menyiratkan bahwa ia hendak menoleh ke Itachi, Anko buru-buru menginterupsi. "Baiklah, Sarada-chan." Anko tersenyum mistis. "Hari ini hukumanmu datang dariku."

Ah! Itachi tahu!

Diam-diam ia tersenyum saat melihat Sarada menekuk bibirnya dalam dan semakin dalam.

.

Kesal. Kesal. Kesal.

Itulah kesan yang Itachi tangkap dari wajah seorang Uzumaki Sarada, yang sejak tadi enggan untuk menoleh padanya yang tengah duduk manis dan nyaman di atas bangku di bawah pohon yang rindang.

Sementara itu Sarada di depan sana, berdiri dengan satu kaki, memegang kedua telinganya, tersengat terik matahari di lapangan terbuka. Seringkali mendapat lirikan penasaran dari murid-murid yang berada di gedung sekolah.

"Apakah masih lama?"

Itachi melirik stopwatch-nya. "Lumayan."

"Katakan pada Anko-sensei kalau aku akan pingsan."

"Baiklah, silakan. Nanti 'Sensei' akan menggendongmu."

Muka Sarada kelihatan makin sebal. Akhirnya ia menoleh ke Itachi juga setelah sekian lamanya menolak mati-matian untuk menatap pria kota itu. "Paman."

"Eits. Sebentar lagi Paman akan dipanggil 'Sensei' sama semua orang di sekolah ini."

"Paman-sensei."

Itachi gemas mendengarnya. Walau ekspresinya tak berubah, tapi sebenarnya ia sedang menahan senyumnya saat ini. "Panggil Itachi-sensei."

"Paman." Sarada bersikeras.

"Dasar bandel." Itachi menghela napas. "Sekarang duduk." Itachi pun memasukkan stopwatch ke dalam sakunya.

Sarada mendelik. "Apakah Paman menambah waktunya?!" protes Sarada. "Aku merasa aku berdiri lama sekali!" tambahnya. "Apakah Paman mengerjaiku?"

Itachi pun meledakkan tawanya. Mengabaikan fakta bahwa Sarada sedang marah padanya, Itachi justru nekat menarik Sarada untuk mendekat dan mendudukkan gadis cilik itu di sampingnya. "Nih, sekarang minum dulu."

"Aku tidak mau minum pemberian orang jahat!"

Tapi Itachi menganggap hal itu sebagai guyonan. Ia menyingkirkan poni Sarada yang basah oleh keringat, dan mengapus keringat yang bersemayam di sana. "Minumlah, kau kelelahan."

Sarada memalingkan muka setelah mengambil botol yang tadi Itachi tawarkan. "Aku begini gara-gara siapa!"

"Paman hanya menambah waktunya satu menit kok, sungguh. Habis kau manis sekali kalau sedang dihukum seperti itu."

Sarada langsung memukul Itachi menggunakan botol yang sudah habis setengahnya dengan beringas.

"Hei! Hei! Stop! Stop!"

Sarada tak berhenti melancarkan aksinya sampai akhirnya Itachi terpaksa memegangi kedua tangan gadis itu. Barulah saat Sarada benar-benar berhenti, di balik wajah tertunduknya, ada kilau tetesan air mata berjatuhan, tertutup sekilas oleh helai-helai rambut hitamnya.

Itachi tersenyum kecil. Tetap pada posisinya, hanya menahan tangan Sarada untuk tetap berada di sana. Sementara itu Sarada sedang susah payah menyembunyikan wajahnya di balik rambutnya yang jatuh tertunduk ke bawah.

"Kenapa berbuat jahat pada temanmu?"

"Aku tidak akan jahat ... kalau Ami tidak jahat duluan ..."

"Kenapa Ami jahat padamu?"

Sarada menggeleng lemah. Entah karena ia tidak tahu jawabannya atau karena ia enggan untuk bercerita. Tapi melihat keadaan Sarada sekarang ... rasanya akan kurang bijak kalau Itachi tetap memaksa Sarada untuk bicara.

Maka yang dilakukan Itachi hanya membawa kepala mungil itu untuk jatuh terpendam, melesak ke dalam rengkuhannya. Sarada tidak menolak. Justru Itachi merasa Sarada menangis semakin kencang di pelukannya. Suaranya campur aduk. Antara burung-burung di pepohonan, juga suara hewan musim panas di balik semak belukar dan pekarangan di belakang.

.

Hari ini turun hujan, dan Itachi tidak membawa payung.

Semua urusan di sekolah juga dinas pendidikan daerah sudah selesai. Sayang prosesnya memakan waktu yang cukup lama dan mereka selesai pada saat petang. Untunglah Kakashi yang sedang membawa mobil mau berbaik hati mengantarkan Itachi pulang. Katanya, hitung-hitung ini adalah bentuk terima kasih yang lain dari Kakashi untuk Itachi sebagai guru yang bersedia menggantikan istrinya mengajar.

Kakashi bukan tipe orang yang banyak bicara. Tetapi berada satu mobil bersama pria itu tidak semembosankan yang akan diprediksikan jika ia bersatu dengan Itachi yang tergolong pendiam. Awalnya, ada keengganan Kakashi yang membatasi pembicaraan mereka, tapi lama-kelamaan, keduanya sudah terbiasa. Walaupun kalau suatu pembicaraan terjadi di antara mereka berdua, semua karena Kakashi yang berinisiatif mencari topik obrolan terlebih dahulu, selebihnya Itachi hanya menjawab atau meneruskan. Tapi setidaknya, gara-gara itu, gaya berbicara mereka tidak seformal waktu pertama kali bertemu.

"Lalu kudengar, tadi kau sempat mengawasi Sarada yang dihukum Anko-sensei ya?"

"Ya, begitulah."

"Maaf kau jadi kerepotan begitu. Aku wali kelasnya, seharusnya aku yang mengawasinya."

"Tidak sama sekali. Kurasa tidak ada salahnya mengenal lebih jauh murid-muridku, meski lewat mengawasinya saat sedang dihukum."

"Tapi Sarada masih kelas tiga. Kau tidak akan mengajar ia. Yah, bersyukurlah."

"Oh ya?" Itachi tertawa hambar. Bersyukur? Justru ia tidak senang mendengarnya!

"Tapi semua guru sudah tahu dia. Si pembuat onar nomor satu, terlepas dari predikatnya sebagai anak terjenius sepanjang angkatan."

Kakashi mengekeh tipis, tapi kemudian secara mengejutkan ia bergumam "ah", seolah teringat akan sesuatu. "Ada piknik yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat. Tapi kurasa kita bisa membicarakannya lain waktu."

Ya, karena plang persimpangan sudah terlihat di depan sana, yang berarti tinggal sebentar lagi mobil yang ditumpangi Itachi bersama Kakashi akan mencapai tujuannya. Kakashi bilang, ia akan menurunkan Itachi tepat di depan rumah, mengingat hujan belum berhenti juga.

"Benar kan ini rumahmu? Persis di persimpangan." Kakashi mengedarkan pandangan memerhatikan bangunan berlantai dua di depannya itu dengan seksama.

Catnya yang dulu berwarna putih kusam sekarang sudah diperbarui menjadi warna ivory yang lembut. Halaman depan yang dulu hanya berupa ilalang liar, kini sudah dicabuti dan dihiasi beberapa pot tanaman bonsai. Begitupula pintunya. Dulu pintu kayu itu berlubang, sedikit oleng, dan catnya mengelupas. Kini pintu untuk menyambut sang tuan rumah telah diganti, menjadi pintu kayu berwarna cokelat dan tegak menantang halaman. Ada undakan tiga tingkat dari halaman depan menuju pintu utama rumah. Nah, dan lenggekan yang harus ditempuh Itachi sebelum mencapai pintu rumahnya itu kini telah diduduki oleh seseorang.

Seorang anak kecil.

Selama beberapa detik, kedua manusia di dalam mobil itu terdiam.

Itachi buru-buru keluar. "Terima kasih atas tumpangannya Kakashi-sensei!" Tanpa menoleh lagi ke belakang, Itachi segera menaruh tas kerjanya di atas kepala untuk menghindari hujan. Ia berlari ke arah undakan secepat mungkin.

"Sarada? Sarada?" Itachi mengguncang-guncangkan bahu Sarada. Gadis itu tengah menenggelamkan kepala di kedua lututnya yang terlipat di depan dada. Tapi yang terdengar hanya sahutan mirip igauan, meski Itachi sudah memanggil namanya berulang kali, sedang mata Sarada tetap tertutup.

Akhirnya Itachi membuka pintu masuk, kemudian ia bergegas menggendong Sarada—yang sepertinya ketiduran. Sebelum ia benar-benar menutup pintu, Itachi sempat melihat mobil Kakashi masih belum menghilang juga dari depan sana. Samar-samar (terhalang lebatnya air hujan) terlihat wajah Kakashi yang melongok sedikit dari jendela mobilnya, berusaha mencari tahu apa yang terjadi di depan sana.

Bam.

Lalu pintu ditutup, dan mobil Kakashi tak terlihat lagi.

.

Sarada melihat gambaran langit-langit rumah yang tidak asing lagi di matanya. Sayup-sayup terdengar suara saling sahut-menyahut dari kejauhan.

Sarada mencoba duduk, ia singkirkan selimut tebal yang membungkus tubuhnya tadi. Sekarang pakaiannya sudah berganti menjadi piyama berwarna merah muda dengan motif kelinci putih. Sarada melangkah gontai keluar kamar.

"Paman ...," panggil Sarada lemah pada Itachi yang tengah menonton televisi sendirian.

Itachi menoleh ke belakang dan tersenyum. "Kau sudah bangun rupanya. Apa kau lapar?"

Sarada menggembungkan pipi, ia memegang perutnya, tapi tak menjawab.

Itachi tertawa, lalu ia bangkit, mematikan TV, dan berjalan menuju dapur. Sarada mengekorinya. "Kau bisa cerita pada Paman setelah makan." Itachi membuka kulkas, sementara Sarada duduk di kursi makan.

"Paman akan masak apa?"

"Kau mau makan apa?"

"Aku ..." Sarada memalingkan muka. Bibirnya mengerucut dan mukanya merah matang. "Oni ... onigiri ..."

"Ah." Itachi mengerling. "Dulu tomat, sekarang onigiri." Tatapan pria berumur tiga dua itu pun melembut.

.

Sarada memakan onigiri buatan Itachi dengan sangat lahap. Tapi kelahapan itu tak menumpulkan kemampuannya untuk berbicara. "Apakah Ibu mencariku?"

Itachi menggeleng.

"Aku, sebenarnya—"

"Habiskan dulu makananmu."

"Hmph." Sarada mengambil satu kepal onigiri lagi. Ia memakannya dalam gigitan yang lumayan besar. "Apakah baju tidur yang kupakai ini punya Paman?"

"Mmm ..." Itachi menjawab dengan gumaman. Ia menopang kedua pipinya dengan tangan yang ditumpukan di atas meja makan.

Beberapa menit kemudian, piring di hadapan Sarada tak berisi apa pun lagi, walau hanya sebutir nasi yang tersisa. "Paman jago masak ya."

"Ya, dan sekarang cuci tanganmu."

"Baik, baik." Sarada berjalan lunglai ke arah wastafel. Gadis itu berinisiatif menarik sebuah kursi untuk dinaiki karena wastafelnya terlalu tinggi.

Kemudian, bunyi air keran dikucurkan pun memenuhi ruangan, mengalahkan gemerisik hujan yang tak kunjung reda juga.

Sarada tengah mencuci tangannya asal-asalan, tapi Itachi tak membiarkannya. Pria itu berdiri di belakang Sarada dan membantu anak itu untuk mencuci tangan. Diremasnya tangan mungil dengan jari-jari kecil itu dengan sabun.

"Mulai sekarang biasakan mencuci tangan dengan benar."

"Ya, ya. Sekarang Paman suka ngasih kuliah. Mentang-mentang sudah jadi guru. Sen-sei~"

Itachi tertawa kecil. Ia memukul puncak kepala Sarada dengan ujung dagunya.

"Aww!"

Setelah selesai dengan acara makan, mencuci, dan tetek bengeknya, dua makhluk dalam rumah persimpangan itu pun berpindah tempat ke ruang televisi. Sarada menonton acara mingguan kesukaannya, sementara Itachi iseng mengepang rambut Sarada yang sebenarnya tidak panjang. Saat sedang iklan, itulah kesempatan yang Itachi punya untuk bertanya.

"Kenapa kemari?"

"Maafkan aku."

"Jangan minta maaf. Kenapa kemari?"

"Aku ... aku cuma ingin ketemu Paman ..." Sarada menjawab lirih. "Tapi aku tidak bilang pada siapa pun kalau aku ke sini."

"Kau sudah izin pada ibumu?"

Sarada menggeleng, seraya menunduk.

"Hm, kalau begini, bisa-bisa nanti Paman kena pukul lagi."

"Eh?!" Sarada membalikkan badan. Wajahnya panik sekali.

"Haha, bercanda." Itachi menjewer kedua pipi tembem Sarada sambil tertawa tanpa dosa.

Sarada menggembungkan pipi. "Tapi aku serius benar-benar ingin minta maaf ..." Mengumpulkan keberanian lewat kepalan tangannya, ia melirih, "Apa ... apa waktu Ibu memukul Paman rasanya sakit? Aku lihat kemarin Paman sampai berdarah. Aku takut Paman kenapa-napa karena aku."

"Paman baik-baik saja. Lihat?" Itachi meraih dagu Sarada, membuatnya mendongak dan menatapnya. Itachi pun tersenyum lembut. "Paman tidak kenapa-napa." Itachi membenturkan dahinya dengan dahi lebar Sarada. "Sekarang ayo bilang, kenapa kemari?"

"Tadi kan aku sudah jawab."

"Alasan yang sebenarnya."

Benar saja. Sarada langsung kelihatan berbeda. Sikapnya juga jadi aneh. Ia malah menenggelamkan mukanya di dada Itachi, padahal acara di TV sudah dimulai. Itachi tak bisa berbuat banyak selain membelai rambut hitam Sarada yang setengah terkepang.

"Aku ingin tahu pendapat Paman ..." Sarada memulai lirih. "Apakah kalau seorang anak tidak mirip dengan ibunya sama sekali, apa itu berarti dia bukan anak ibunya?"

Jari-jari Itachi berhenti membelai dan hanya menggantung kejur di udara.

"Ami bilang ... aku ini anak buangan ..."

.

.

"Kenapa Ayah selalu mengatakan 'kau memang anak Ayah'-'kau memang anak Ayah' pada Kakak terus-terusan?" Sasuke menggerutu. Ia memeluk lututnya dan menolak untuk bersitatap dengan Itachi yang duduk di samping kirinya. "Tapi Ayah tidak pernah bilang begitu padaku."

"Apa sih, Sasuke? Suatu saat Ayah pasti—"

"Kapan? Kapan Ayah akan bilang itu padaku?" Sasuke kembali menggerutu. "Ngomong itu gampang sekali. Kenyataannya, Kakak tak tahu apa yang sudah kulakukan sejauh ini. Apa pun keberhasilanku, Ayah tak akan pernah ngomong seperti itu padaku."

.

.

"Jangan-jangan benar ya? Aku ini anak buangan? Kalau kuperhatikan, aku dan Ibu memang tidak mirip. Berbeda dengan Nee-chan yang mirip sekali dengan Ibu." Sarada terus berkicau. Ia berbicara hal menyakitkan itu dengan suara yang tegar, bukan berarti perasaannya tak teriris saat mengatakannya. Perlahan-lahan, suaranya mulai berguncang. "Lalu, aku ini bandel, tidak feminin, tapi cengeng sekali. Bukan cuma penampilannya, tapi sifatnya juga tidak ada mirip-miripnya."

.

.

"Jangan-jangan memang benar kalau aku ini bukan anak Ayah."

"Sasuke, jangan ngomong sambil ngelantur deh."

.

.

"Kupikir, kalau benar-benar anak sungguhan, setidaknya ada sedikit—"

"Sudah! Jangan bicara lagi!" potong Itachi dengan suara membentak. Dengan paksa ia lesakkan wajah Sarada kembali ke dadanya. Ia peluk gadis kecil itu seerat mungkin, dan tak membiarkan Sarada untuk mendongak barang sesenti saja.

Itachi menatap televisi yang masih menyala. Tapi pandangannya kabur, karena air mata sudah berjaga di depan sana. "Kalau tidak mirip ibumu, kau pasti mirip sekali dengan ayahmu."

"Tapi aku tidak pernah lihat bagaimana wajah Ayah ... Ibu tidak mau menunjukkan fotonya sama sekali ..."

"Mungkin ... mungkin karena ayahmu terlalu mirip denganmu ... makanya ..." Tidak, barangkali Sarada tidak mengerti bahwa sebenarnya sang ibunda membenci suaminya sendiri. Itachi rasa, ada alasan lain juga yang menjadi pertimbangan mengapa Karin melakukan hal ini pada anaknya.

"Tetap saja Ayah tidak ada di sini sekarang, aku tidak pernah melihatnya, semua orang seperti tidak pernah melihatnya. Tidak ada yang tahu dia, bahkan Ibu seperti tidak pernah mau tahu dia. Hanya ada aku dan Ibu sekarang, dan aku yang tidak mirip dengan Ibu akan tetap menjadi anak buangan."

.

.

"Sasuke?"

"Hn."

"Haha, apa sih? Kenapa ngomongmu jadi tiba-tiba kayak Ayah begitu?"

"...hn."

.

.

Perasaan anak-anak itu rapuh sekali. Indah, bersih, wangi, dan masih baru. Perasaan seorang anak harus dijaga sebaik mungkin, jangan dikotori walau oleh setitik debu pun.

Perasaan anak-anak itu seperti kelopak mawar yang sekali sentuh mudah sekali jatuh. Perasaan anak-anak itu seperti air sungai yang mengalir, yang terus bergerak mengikuti ke mana hilir berpijak. Perasaan anak-anak itu seperti secarik kertas putih yang kosong, mudah sekali ditulisi oleh tinta.

Dan jika satu kesalahan saja dari tinta tercetak di atas bidang kertas itu, maka kesalahan itu akan sulit sekali dibersihkan. Walau bisa dibersihkan pun, bekasnya akan tetap nampak di sana, barang sedikit saja.

Seorang anak, tidak akan mudah lupa akan apa yang pernah menyakiti hatinya.

Hei, apa kalian tahu bagaimana perasaan anak-anak yang sesungguhnya?

Berkata buruk di depan mereka, lalu dengan gampang memberi solusi, "Kenapa? Justru kita berbicara seperti ini karena anak-anak tak akan tahu apa yang kita katakan."

...

Mereka tahu kok.

Mereka tahu persis apa yang didengarnya. Mereka tahu ketika sedang dibicarakan. Mereka tahu ketika dibenci tanpa alasan. Mereka tahu sekali, tapi perasaan mereka belum cukup kuat untuk mengatasinya.

Karena mereka ... sebenarnya rapuh ...

Rapuh sekali ...

Kelihatannya kuat karena belum mengerti apa itu kehancuran, tapi perasaan itu mudah sekali terkikis walau hanya terkena guncangan setipis getaran ketika seseorang menyentuhnya.

.

.

Mungkin sebelum kejujuran ini diungkapkan pun, Sarada telah berkali-kali bercermin. Bertanya-tanya dan mencari akan bagian mana dari wajahnya yang bisa disamakan dengan Karin.

Hanya saja ... bagaimana perasaannya jikalau ia tak kunjung menemukan persamaan mereka?

Rasa khawatir itu terus berdiam di sana, membuatnya was-was setiap waktu. Pada akhirnya, bukan tidak mungkin Sarada takut bahwa suatu hari akan ada orang yang mengungkapkan hal yang tidak ingin didengarnya itu.

Gadis itu selalu memendam perasaan takut setiap waktu. Setiap ia tersenyum. Setiap Karin menggandengnya, dan teman-teman sekelas melihat mereka.

Dan Sarada tahu, dari dalam lubuk hatinya yang terdalam, bahwa sebenarnya ia tidak punya tempat untuk mengadu.

.

.

Gadis yang malang.

Itachi memejamkan mata.

Benar-benar gadis yang malang.

"Sarada, nanti Kakashi-sensei akan datang menjemputmu. Kau harus pulang malam ini."

"Apa? Kenapa—"

"Tapi sebelum itu, kita akan pergi jalan-jalan."

"Eh ke mana?"

"Ke pasar."

"Untuk apa?"

"Membelikanmu kacamata."

Bersambung


AN

Yah, berhubung saya udah nggak tertarik lagi ama Naruto, bisa jadi ini adalah fanfic terakhir saya di fandom ini. Ga tahu juga sih mo bikin lagi apa nggak, karena saya orangnya moody. Tapi seriusan saya emang udah susah nulis lagi di fandom ini. Hilang feel gitu. Jadi kayaknya fic ini emang bener-bener jadi yang terakhir.

Tapi sebisa mungkin Sasagi bakal saya selesein kok, apalagi ini settingnya AU.

Pokoknya makasih banyak ya buat reader di fandom ini, yang udah setia nemenin saya dari awal gabung sampai sekarang. Tanpa kalian saya nggak akan bisa berkembang. Apalagi buat SSL yang cantik-cantik dan baik-baik, mungkin sekarang kita udah nggak di kapal yang sama lagi, tapi yah, kalian tetap teman-teman terbaik saya! :D coretsayabakalmainkekapalsesekalikokcoret

Jadi langsung aja ke pertanyaan di review chapter 3 ya.

Q: Apa Sasuke bakal ke Konoha?

A: Liat aja perkembangan ceritanya nanti, walaupun jujur saja saya masih belum bisa menentukan sejauh ini.

Q: Siapa tunangan Itachi?

A: Nanti bakal muncul di beberapa chapter mendatang.

Q: Apakah Sakura bakal muncul di sini?

A: Iya.

Wehehe, segitu aja dulu ya ^^ see you next chapter!
Jangan lupa review dan tanggapannya buat chapter ini ya :D /nyiapincookies/