Disclaimer: I don't own Bleach dan idenya berasal dari Supernatural. Haha. XD. Inget, gak ada shinigami-shinigami-an di sini ya.

Werewolves

CHAPTER IV

Kereta itu mulai bergerak. Pemandangan pagi yang indah dapat dilihat di balik kaca yang berembun. Pohon-pohon bergerak semu ketika kereta berwarna biru tua itu terus melaju dengan kencang.

Pemandangan di kota Karakura berubah perlahan-lahan menjadi sebuah pemandangan yang baru. Kota Toho. Sebuah kota asri yang tak begitu besar dan tak banyak penduduknya.

Kereta berhenti ketika jam menunjukkan pukul 06.30 pagi. Para penumpang yang tidak banyak jumlahnya turun dari kereta. Delapan murid Universitas Karakura yang juga merupakan pemburu hantu turun dari kereta dan dapat melihat siapa yang sudah menunggu mereka di stasiun.

"Selamat datang di Toho anak-anakku!!" sapa Shunsui Kyoraku dengan wajah berseri-seri. Di sebelahnya berdirilah wanita berwajah cantik namun sepertinya tegas dan galak bernama Ise Nanao, asistennya Shunsui.

"Ohayo, Kyoraku-san! Nanao-san!" sapa Orihime dengan suara yang ceria bukan main. Nanao hanya menaikkan kaca matanya lalu mengangguk pada Orihime.

Sebuah mobil limousine sudah menunggu untuk membawa mereka semua ke rumah Shunsui. Untuk istirahat kemudian mulai bekerja keras mencari werewolf yang saat ini ada di Toho. Mobil limousine itu melaju dengan kencang. Supir Shunsui-lah yang menyetirnya.

"Wah sekarang sudah masuk Universitas ya. Pantas sudah lebih tinggi dari 3 tahun yang lalu waktu SMU! Iya kan Nanao-chan yang manis??" ujar Shunsui. Memulai percakapan selama perjalanan. Nanao hanya diam, tapi memberikan pandangan yang biasa ia berikan kalau Shunsui memanggilnya seperti itu.

"Ah tidak juga," balas Ichigo. Maksud Ichigo menjawab seperti itu jelas ada maksudnya. Berhubung dengan adanya 2 orang pendek di antara mereka bersembilan. Toushiro dan Rukia. Rukia jelas langsung menonjok Ichigo sementara Toushiro sudah mengumpat-umpat Ichigo dalam hati.

"Kyoraku-san, setelah sampai di rumah, kami langsung pergi ke rumah sakit dimana perempuan itu dirawat atau istirahat dulu?" tanya Uryuu sambil menaikkan kaca-matanya yang turun 3 cm.

"Oh terserah kalian. Maunya bagaimana?" balas Shunsui yang sedang meminum sebotol sake.

"Kita langsung pergi saja. Semakin cepat bergerak semakin baik," jawab Toushiro yang paling pandai mengatur. Teman-temannya yang lain mengangguk. Setelah sampai mereka akan segera menyelidiki perempuan yang menjadi korban gigitan werewolf itu.

--

Akhirnya limo itu berhenti di rumah Shunsui yang cukup besar. Dengan tembok bernuansa bata seperti rumah Eropa zaman dahulu kala. Terdapat pekarangan yang luas di depannya, dari belakang rumah kita dapat melihat sebuah pegunungan dengan danau di tengah-tengah pegunungan itu. Pemandangannya sungguh indah dan sejuk.

"Nah sekarang kita menyamar jadi apa untuk mewawancarai perempuan itu?" tanya Renji yang tak mengerti.

"Tenang saja Abarai-kun.. aku sudah menjahitkan seperangkat pakaian perawat dan satu pakaian dokter dan satu pakaian cleaning service! Ini ambil saja..," jawab Uryuu sambil mengeluarkan seperangkat pakaian-pakaian perawat dari kopernya.

"Ini.." ujar Uryuu yang sedang menyodorkan satu pakaian perawat wanita ke arah Renji.

"I- INI?! Ini kostum perawat wanita, bodoh!!" balas Renji kaget. Ia jelas tidak mau memakai kostum seperti itu.

"Hah! Kalau kau gerai rambutmu, kau sudah sempurna kostumnya!" ejek Ichigo dari sisi lain ruangan. Membuat Renji panas dan memulai pertengkaran konyol.

"Ishida, memangnya tidak ada kostum perawat laki-laki?" tanya Rukia kepada Uryuu. Ishida Uryuu menaikkan kaca matanya yang turun 2,5 cm lalu menjawab.

"Tentu saja ada. Aku hanya meledek Abarai-kun saja tadi,"

"Oh baiklah. Berarti kita akan menyamar menjadi perawat untuk mengorek informasi dari perempuan itu," ujar Chad.

-oOo-

Rumah sakit Bleach adalah rumah sakit dimana perempuan korban gigitan werewolf itu dirawat. Delapan perawat (palsu) itu memasuki gedung dan langsung berpura-pura sebagai perawat yang sedang sibuk bekerja. Mondar-mandir. Mereka segera menanyakan ke recepsionist dimana perempuan yang ditemukan di bukit kemarin dirawat.

"Permisi, maaf. Saya lupa kamar perempuan yang ditemukan di bukit kemarin itu dimana ya?" tanya Tatsuki dengan ramah.

"Oh perempuan itu.. hmm.. sebentar ya," balas recepsionist itu. Tatsuki tersenyum agar terkesan ramah.

"Nemu Kurotsuchi. Kamar nomor 848," jawab recepsionist itu ramah. Tatsuki mengumankan kata terima kasih lalu segera pergi menuju ke tempat teman-temanya bersembunyi dan siap pergi ke kamar 848 untuk berbicara dengan perempuan yang ternyata bernama Nemu itu.

-oOo-

Ketika lift terbuka, delapan perawat palsu yaitu Ichigo dan kawan-kawan segera keluar dan mencari kamar nomor 848, mereka menyusuri sebuah koridor dan akhirnya menemukan kamar itu.

Mereka segera mengetuk pintu dengan Ichigo di paling depan karena dialah yang menyamar menjadi dokter.

TOK! TOK! Ichigo mengetuk pintunya. Seorang laki-laki dengan wajah aneh dan topi yang tidak jelas bentuknya apa membuka pintunya.

"Permisi, kami akan mengecek perkembangan Nemu-san," Ichigo mulai akting sebisa mungkin.

"Mengecek keadaan Nemu? Aku rasa ia baru saja dicek keadaannya 15 menit yang lalu," balas orang itu yang ternyata adalah ayah Nemu, Mayuri Kurotsuchi.

"Ah, ada kesalahan dalam pengecekkan yang tadi. Maka itu pengecekkannya diulang," jawab Ichigo. Ia mencoba sebisa mungkin agar tak ketahuan bahwa ia adalah dokter palsu.

Mayuri terlihat bingung tapi akhirnya mengangguk juga lalu mempersilahkan Ichigo masuk. Mayuri bahkan dapat menghitung berapa jumlah perawat yang ikut dalam pemeriksaan.

"Tunggu dulu, kenapa perawatnya banyak sekali?" tanya Mayuri sedikit curiga.

"Oh itu karena mereka semua dibutuhkan dalam pengecekkan keadaan Nemu-san. Yang berbadan besar itu cleaning service tuan, yang itu ahli luka bakar, yang ini ahli psikologis, yang rambut merah itu ahli jantung, yang satunya lagi ahli—" jawaban bohong Ichigo dipotong oleh Mayuri.

"Ya sudah kalau mau memeriksa Nemu, tapi jangan lama-lama." balas Mayuri ketus.

"Baik. Tapi bisakah tuan meninggalkan ruangan? Yah, soalnya ini adalah pemeriksaan antara dokter, perawat, dan pasien," ucap Rukia pada Mayuri.

Mayuri memberikan pandangan kesal pada delapan perawat palsu itu lalu segera meninggalkan ruangan.

Ichigo, Renji, Tatsuki, Orihime, Uryuu, Rukia, Toushiro, dan Chad menarik kursi untuk berbicara dengan Nemu. Nemu sudah sadar. Matanya terbuka namun dari tadi ia diam saja. Bahkan ia terlihat seperti manusia yang tak punya harapan hidup.

"Ehm, Nemu-san.. boleh tanya? Sebenarnya—" baru saja Uryuu akan memulai bicara tiba-tiba saja pintu kamar 848 terbuka. Terlihat Mayuri dengan raut muka marah di sana.

"KALIAN INI SEBENARNYA SIAPA HAH?!" tanya Mayuri dengan nada yang mengecam. Ichigo dan kawan-kawan dapat melihat reaksi Mayuri dan menebak apa yang terjadi. Mayuri telah mengetahui kebohongan mereka.

"Ka-kami—" Orihime mencoba untuk menjawab pertanyaan Mayuri tapi segera dipotong oleh Mayuri yang sedang marah itu.

"Kalau kalian itu benar dokter yang akan mengecek keadaan Nemu, bagaimana dengan dokter dan perawat-perawat yang ini?!" kata Mayuri dengan mata melotot. Ia menunjuk sekelompok orang yang dandanannya mencolok berpakaian dokter dan perawat.

Laki-laki berkepala botak cemerlang—Wanita berambut ikal panjang coklat kekuning-kuningan—Laki-laki berambut bob dengan make-up—Laki-laki dengan badan besar dan tampang menyeramkan seperti preman—dan seorang bocah kecil berambut pink yang suaranya menggemaskan.

"Kenpachi Zaraki. Dokter yang akan merawat Nemu," kata laki-laki yang berbadan besar itu. Suaranya menggelegar membuat seisi ruangan takut padanya.

"Bo-bohong! Mana ada dokter gayanya seperti itu!" ujar Uryuu yang reflect langsung berkata begitu.

"Hah! Mana ada cleaning service ikut dalam pemeriksaan, bodoh!!" balas laki-laki berkepala cemerlang, Ikkaku Madarame sambil menunjuk Chad yang ikut duduk di sebelah Rukia.

"Perawat yang kecil seperti bocah juga tak ada, baka!" balas Ichigo dan Renji bersamaan.

"CUKUP! SEKARANG, SIAPA DOKTER NEMU SESUNGGUHNYA?!!" bentak Mayuri dengan keras. Suaranya dapat terdengar sampai ke ruangan sebelah. Pantas saja, seorang dokter yang benar-benar dokter datang ke kamar 848.

"Ada apa ini sebenarnya?" tanya Dokter itu dengan heran.

"RUMAH SAKIT MACAM APA INI?! Ada dokter-dokter yang mengaku sebagai dokternya Nemu! Sebenarnya siapa dokternya Nemu?!" bantak Mayuri kepada Dokter asli yang baru saja datang.

Sang dokter menatap ke arah Kenpachi dan kelompoknya serta ke arah Ichigo dan kelompoknya dengan tatapan bingung yang lama kelamaan menjadi tatapan marah.

"Selama 10 tahun aku bekerja di sini, tak pernah ada dokter dan perawat berdandanan mencolok seperti ini! Orang-orang ini pastilah penipu! Keluar kalian dari sini sebelum aku panggilkan polisi!!" bentak Dokter asli itu. Ichigo dan kawan-kawan segera meninggalkan ruangan. Begitu juga Kenpachi dan yang lain.

Kenpachi dan kelompoknya merupakan dokter palsu juga. Itu berarti ada tujuan yang ingin mereka lakukan terhadap Nemu.

-oOo-

"Ken-chan! Rencana kita gagal ya untuk mengorek informasi dari Nemu-chan!!" ujar bocah berambut pink yang duduk di atas pundak Kenpachi, Yachiru Kusajishi. Kenpachi mengangguk lalu terus berjalan, diikuti dengan Ikkaku, dan dua orang lainnya yaitu Rangiku Matsumoto dan Yumichika Yasegawa.

"Hei! Hei!" terdengar panggilan dari belakang. Ternyata Ichigo yang memanggil Kenpachi dan rombongannya.

"Ada apa?" balas Ikkaku yang menengok ke belakang. Ichigo dan yang lain berjalan mendekat ke arah Ikkaku dan rombongannya.

"Apa yang kalian inginkan dari Nemu Kurotsuchi?" tanya Toushiro pada Kenpachi dan yang lain.

"Tujuan kami hanya satu. Mencari informasi," jawab Yumichika.

"Mencari informasi?" ulang Tatsuki tak mengerti. Yumichika mengangguk.

"Kalau mau bicara lebih lanjut, ayo bicarakan sambil minum-minum!!" ujar wanita berambut ikal panjang bernama Rangiku.

Toushiro memandang teman-temannya, meminta sebuah kesepakatan. Ketika teman-temannya mengangguk setuju, Toushiro mengangguk pula ke arah Rangiku tanda mereka setuju untuk minum sebentar dengan kelompok orang-orang aneh itu.

"Baiklah," jawab Hitsugaya Toushiro.

-oOo-

Mereka duduk di sebuah cafe. Cafe itu bernama cafe Zaraki. Ternyata di cafe itulah mereka (Kenpachi dan lainnya) bekerja dan berkumpul. Ichigo dan yang lain juga mendapat sebuah informasi yaitu Kenpachi, adalah bos Ikkaku, Yumichika, Yachiru, dan Rangiku. Dan ternyata Nemu bekerja sebagai cleaning service di cafe itu.

"Jadi kenapa kalian ingin bertemu Nemu? Informasi apa yang ingin kalian cari?" tanya Tatsuki kepada Rangiku yang sedang minum sake.

"Sebelumnya biarkan kami memperkenalkan diri. Namaku Rangiku Matsumoto." ujar wanita yang gayanya nyentrik itu.

"Madarame Ikkaku," ujar kepala cemerlang.

"Yumichika Yasegawa," ujar laki-laki berambut bob.

"Yachiru Kusajishi," ujar bocah berambut pink yang menggemaskan.

"Kenpachi Zaraki," ujar laki-laki seperti preman dengan seringaian yang menyeramkan.

Ichigo dan kawan-kawan pun balas memperkenalkan diri. Setelah mereka sudah mengenal nama masing-masing, mereka kembali ke topik pembicaraan.

"Pertanyaan kalian biar aku yang jawab. Kalau kalian tanya apa yang kami inginkan dari Nemu, hanya satu… menanyakan siapa yang menyerangnya hingga menjadi werewolf," jawab Rangiku Matsumoto dengan santai tapi tidak menghilangkan aura keseriusan yang ada.

Werewolf. Kata-kata yang diucapkan Rangiku itu jelas membuat delapan Universitas Karakura itu kaget. Rangiku dan yang lainnya mengetahui keberadaan werewolf? Apa mereka adalah pemburu hantu juga? Hanya itu yang ada di benak delapan pemburu hantu dari Karakura itu.

"Muka kalian jelek begitu, belum pernah dengar kata werewolf sebelumnya?" tanya Yumichika dengan nada mengejek.

"Ba-ba-bagaimana bisa kalian tahu tentang werewolf?" Uryuu balas bertanya dengan kaget.

"Huh dasar. Kalian itu pemburu hantu kan? Masak tak tahu werewolf?" Ikkaku juga bals bertanya.

"Bagaimana bisa kalian tahu kami itu pemburu hantu?" tanya Toushiro kepada Ikakaku dan yang lainnya. Memberikan tatapan tidak mengerti kepada mereka.

"Bodoh. Kami tahu karena melihat tindak tanduk kalian. Ditambah lagi dengan senjata itu." kata Rangiku sambil menunjuk sebuah senapan yang sudah Renji coba sembunyikan agar tak terlihat tapi ternyata kelihatan juga.

"Ah ya. Kami memang pemburu hantu yang berniat untuk menemukan werewolf yang menyerang Nemu. Apa kalian pemburu hantu juga?" tanya Toushiro. Pertanyaan ini tidak dijawab oleh Yumichika, Ikkaku, ataupun Rangiku. Pertanyaan ini langsung dijawab oleh Kenpachi Zaraki.

"Kami bukan pemburu werewolves. Malahan sebaliknya, kami adalah werewolves. Bangsa werewolves," jawab Kenpachi dengan suara yang menggelegar.

Mata Ichigo dan kawan-kawan melebar. Mereka tak mempercayai apa yang mereka dengar. Orang-orang aneh di depan mereka saat ini adalah werewolves? Itulah yang ada di benak mereka masing-masing.

"Ka- kalian werewolves?" ulang Rukia dengan terbata-bata. Yachiru mengangguk kemudian menjawabnya.

"Ya! Aku, Ken-chan, Yumichika, Ran-chan, dan baldy-chan adalah werewolves. Tapi kami tidak jahat kok. Jangan takut," ujar Yachiru dengan senyum yang lucu.

"Sekarang ini biarkan aku memberitahu kalian siapa aku sebenarnya. Namaku Kenpachi Zaraki. Werewolf murni sekaligus pendiri kelompok kecil ini," kata kenpachi dengan seringaian yang keren.

"Kau werewolf murni? A-apa sebenarnya yang terjadi?" Uryuu masih lah bingung. Tiba-tiba mereka bertemu dengan segerombolan orang aneh yang memiliki tujuan yang sama dengan mereka lalu orang-orang itu mengatakan mereka adalah werewolves. Tidak masuk akal bagi Uryuu.

"Aku Ikkaku Madarame. Bukan werewolf murni. Aku digigit oleh Yumichika hingga menjadi werewolf, lalu aku bertemu dengan Taichou (Kenpachi) dan bergabung dengannya di sini. Aku suka hidup dengan makhluk yang sejenis denganku," Ikkaku mulai memperkenalkan dirinya.

"Selanjutnya aku. Namaku Yumichika Yasegawa. Aku sangat menyukai hal yang cantik dan membenci hal yang jelek. Aku bukan werewolf murni karena aku adalah gigitan seorang werewolf yang selama ini tak kuketahui siapa. Kemudian aku hilang kendali saat aku bertransformasi hingga menyerang Ikkaku,"

Ichigo dan kawan-kawan hanya bisa memandang mereka dengan bingung. Atau bisa dibilang tidak mengerti. Tapi ini adalah kesempatan yang bagus untuk mereka. Ichigo dan yang lain bisa saja berkerja sama dengan kelompok Zaraki.

"Aku Rangiku Matsumoto. Aku suka bersantai dan aku bukan werewolf murni. Aku bertemu dengan Taichou 3 tahun yang lalu, kemudian bergabung dengannya," Rangiku menjelaskan dengan sedikit malas-malasan. Ia sepertinya akan mabuk.

"Aku Yachiru Kusajishi. Aku bukan werewolf murni. Aku digigit oleh Ken-chan.. lalu aku membantu Ken-chan mendirikan café ini!" itulah giliran si bocah kecil, Yachiru.

"Sekarang, kalau boleh tahu, apa tujuan kalian mendatangi Nemu?" tanya Yumichika si cantik.

"Yah sesuai dengan pekerjaan kami.. kami ingin menemukan werewolf yang menyerang Nemu," jawab Ichigo simpel dan singkat.

"Kalau begitu tujuan kalian sama dengan kami. Kami ingin mengetahui siapa werewolf yang menyerang Nemu. Bagaimana kalau kita bekerja sama?" Ikkaku berkata walau dengan nada yang sedikit malas-malasan.

Toushiro yang betindak seperti ketua menengok ke arah teman-temannya, seakan meminta persetujuan menerima atau tidaknya tawaran Ikkaku tadi. Mereka jelas masih miskin informasi dan tak mengerti apa-apa tentang werewolf. Mereka jelas butuh bantuan orang yang berpengalaman untuk menyelesaikan masalah ini.

Dan sepertinya tawaran bekerja sama dengan werewolves yang baik akan sangat membantu mereka.

"Ide bagus.." gumam Ichigo sambil terus mempertimbangkan keputusannya.

"Fufufu.. kalau begitu ayo kita temukan werewolf itu bersama-sama," ujar Kenpachi. Lidahnya yang keluar memberikan aura menyeramkan.

"Tapi sebelumnya, ada pertanyaan. Apa kalian tahu dari mana werewolf ini datang?" tanya Renji.

"Tidak. Maksudku belum. Yah, kami memang belum tahu siapa yang memanggil werewolf ini. Werewolves hanya bisa dipanggil oleh sesama werewolves. Yang jelas bukan kami yang memanggilnya. Kami terlalu anggun untuk melakukan hal kotor seperti itu," jawab Yumichika sambil membetulkan rambutnya.

"Werewolves hanya bisa dipanggil oleh sesame werewolves? Itu berarti—" kata-kata Uryuu dipotong oleh Rukia.

"Itu berarti yang memanggil werewolf ini adalah orang dari bangsa werewolves juga," katanya.

"Selain kalian, apa ada werewolves lain yang kalian kenal?" tanya Toushiro pada bangsa werewolves itu.

"Selama ini tidak. Werewolves yang kami kenal adalah werewolves yang bergabung dengan kami selama ini. Selain kami, aku tidak mengenal werewolves lain," si kepala cemerlang, Ikkaku berhenti sejenak untuk mengambil nafas.

"Kecuali Yumichika dan Rangiku-san," tambah Ikkaku cepat-cepat.

Yumichika menarik nafas panjang lalu berbicara. "Ya. Kecuali aku dan Rangiku-san. Karena sampai sekarang aku tak tahu siapa yang menggigitku hingga aku menjadi werewolf seperti ini.. Aku hanya ingat bahwa werewolf itu berambut putih. Putih bersih.. dan yah.. anggun.. tidak abu-abu kusam seperti werewolf yang akhir-akhir ini menyerang kota,"

Ketika mendengar cerita Yumichika, Rangiku Matsumoto terdiam. Ia bahkan masih ingat siapa yang mengubahnya menjadi werewolf. Ia bahkan masih ingat siapa namanya dan ia mengenal orang yang mengubahnya menjadi werewolf.

Selama ini, Rangiku tak pernah memberitahu siapa yang mengubahnya menjadi werewolf. Jika ditanya, ia selalu menjawab 'aku tak sempat lihat wajahnya.' Begitu jawabnya. Padahal sebenarnya ia masih dapat mengingat dengan baik werewolf yang menyerangnya.

"A- aku lama-lama bosan dengan pembicaraan werewolf ini.. lebih baik kita sudahi saja. Besok saja kita lanjutkan ya. Besok juga kita coba berbicara dengan Nemu.. oh oke, ja~!" Rangiku tiba-tiba saja berakting aneh dan meninggalkan cafe Zaraki secepatnya.

"Ada apa dengan Ran-chan ya Ken?" ujar Yachiru dengan nada yang bingung. Tak ada yang menjawabnya. Kata-kata Rangiku benar juga. Mereka sudah lelah berdiskusi sepeti ini. Lebih baik mereka pulang dan bertemu lagi nanti.

"Besok jam 7 pagi di Café Zaraki," ujar Ikkaku saat bersalaman dengan Ichigo.

"Ah ya," jawab Ichigo.

-oOo-

Toushiro memilih untuk beristirahat di kamarnya, Orihime sedang memasak, Tatsuki memilih untuk keliling kota dengan Chad dan Uryuu. Ichigo memilih untuk tidur siang di kamarnya karena kelelahan. Renji dan Rukia duduk di tepi danau dekat pegunungan yang berada di dekat rumah Shunsui.

"Rukia, kalau Kuchiki-taichou ada. Dia pasti tak akan membiarkanmu ikut," kata Renji yang sedang berbaring di sebelah Rukia yang sedang duduk.

"Hn.. Sudah berapa tahun aku tak bertemu dengannya lagi, Renji?" tanya Rukia kepada sahabatnya.

"Tiga tahun. Aku rasa sudah tiga tahun," jawab Renji tanpa melihat ke arah Rukia.

"Tiga tahun ya? Sudah lumayan lama juga.. apa dia bahagia di sana ya?" Rukia bertanya lagi. Renji mengalihkan pandangannya dari langit ke arah Rukia.

"Aku rasa begitu. Kau harus tinggalkan masa lalu Rukia! Jangan sedih terus!" Renji mencoba menyemangati Rukia. Rukia tak membalas perkataan sahabatnya itu. Ia tak mau membalasnya karena Renji itu benar.

Rukia mengeluarkan HP-nya. Membuka gallery photo yang ada di HP dan tersenyum sedih. Ia memandang sebuah foto dimana ada Hisana yang tersenyum ceria, di sebelahnya ada Byakuya dengan ekspesi dingin yang biasa, serta dirinya saat masih kecil sekitar 10 tahun tersenyum ceria.

Ada juga foto Kaien dan Miyako yang sedang tersenyum. Rukia berdiri di antara mereka. Kaien merangkulkan tangan kanannya di leher Rukia, tangan kirinya membentuk hurup V untuk victory. Miyako yang cantik tersenyum manis di sebelah Rukia. Foto itu diambil saat dirinya berusia 10 tahun.

"Renji…," panggil Rukia pelan sementara ia terus tersenyum melihat gallery photo di HP-nya.

"Hn?" jawab Renji yang sedang berbaring di rumput.

"Tahu apa yang aku rasakan sekarang saat bertemu Rangiku-san, dan yang lain?" tanya Rukia. Senyumnya tak memudar.

"Entahlah.. memang apa yang kau rasakan?" tanya Renji sambil mencoba bangun ke posisi duduknya.

"Aku sendiri tidak tahu Renji. Tapi perasaanku menjadi jauh lebih baik. Sangat jauh malah.. untuk mengetahui dan mengenal, orang-orang yang sebangsa denganku," ujar Rukia. Ia sudah tak menatap gallery photo itu lagi. Ia menatap langit yang gelap dan berkabut. Sekali lagi, senyum Rukia tidak memudar.

"Syukurlah.. akhirnya kamu menemukan orang-orang yang sebangsa denganmu ya," balas Renji. Ia juga tersenyum. Renji tersenyum untuk temannya, Rukia.


Another vulnerability is to use a weapon of silver (bullet, knife etc). To stab a werewolf with a silver dagger, or to shoot it with a silver bullet is said to not only kill a werewolf, but to also cause it agony in the time before it dies, rather resembling being slowly burned from the inside.

T-B-C


Author's note: Maaf ya update-nya dicepetin (kecepetan) haha.. soalnya kalo minggu depan, saya kayaknya ga bisa karena mau pergi.. :) ga apa-apa ya kalo updatenya dicepetin.. ^^v chapter depan kemungkinan bakal lama updatenya.. :) Saya udah bikin sampe chapter nya udah mau tamat sih jadi tinggal update aja.. maaf ya kalo kecepetan.. hahaha.. :P

Okeeyy terima kasih atas review-review yang telah masuk! Sangat membantu! : )

Review sangat dibutuhkan! Hohohoho XDD.

HAPPY VERY EARLY NEW YEAR!! ^o^ AND HAPPY HOLIDAY!!

-Wammy-