Naruto© Masashi Kishimoto

Story© Kuchiki Mikan

Rated: T

Genre: Romance/Drama

Pairing: Sakura H/Sasuke U

Special Thanks To:

Poetri-Chan

DEVIL'D

Saver tomato

Kikyo Fujikazu

Kuchiki Lover

Diosas

Amutia Putri

Ria-Chan

Senayuki-Chan

AoLia Seiya

Review dari kalian adalah Obat Super keren plus ampuh yang membuat saya sangat bersemangat hehe XD

どうも ありがとう みんな XD

.

.

.

Hari sudah semakin larut, warna hitam sudah tampak mendominasi di malam hari. Kini pikiranku masih melayang, entah kenapa semuanya semakin rumit saja, sekali lagi aku menghela nafas lalu melirik jam dinding yang berada tepat diatas tumpukan rak makanan, yang tidak terlalu jauh dari meja kasir. Sudah waktunya aku pulang.

"Ah, Sakura-Chan kau sudah mau pulang?"

Aku sedikit membungkuk mendapati seorang wanita paruh baya menyapaku dengan lembut, ah dia sungguhlah tidak asing di mataku, sudah setahun ini aku bekerja di tokonya. dan mereka memperlakukanku dengan sangat baik. Aku mengeluarkan senyum andalanku sebelum aku membungkuk hormat.

"Iya Bibi..."

"Ah, ini! Bawalah, kemarin aku membelinya terlalu banyak jadi sebaiknya aku berikan padamu..."

"Terima kasih..."

"Haha Iya, Pergilah, aku rasa pemuda tampan itu menunggumu lagi disana..."

Bibi Chiyo tersenyum menggoda, aku hanya bisa tersenyum melihatnya. Entah kenapa hatiku terasa hangat. Dengan cepat aku beranjak setelah sebelumnya memberikan salam kepada Bibi Chiyo.

Sasuke, entah kenapa orang itu mampu membuat jantungku berdebar sekuat ini. Ada perasaan menggebu di dalam hatiku mengingat sebentar lagi aku akan menemuinya. Aku hanya perlu membuka pintu ini dan...

"Caku-Chan..."

.

.

.

"Naruto...?"

"Sedang apa kau disini?"

"Ah, aku baru saja membeli Ramen, karena aku ingat kau kerja disini jadi sekalian saja..."

Aku hanya tersenyum melihatnya, entah kenapa dadaku terasa sesak, dan perasaan apa ini?

Bodoh! Aku benci perasaan ini, kenapa aku harus begitu kecewa seperti ini?

"Caku-Chan? Kau melamun lagi?"

Naruto menggerakkan tangannya di hadapanku, membuatku tersadar dan sedikit menunduk.

"Kau kenapa?"

Sudah satu minggu ini aku tidak bertemu dengannya. Sasuke...

Dia benar-benar orang yang mengganggu.

"Tidak..."

"Benarkah?"

Aku hanya tersenyum mencoba untuk meyakinkannya, dan dia membalasnya dengan senyuman Rubah seperti biasa.

"Kalau begitu ayo kita makan Ramen, walaupun sepertinya Ramennya sudah hampir dingin..."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Sasuke...?"

"Hn..."

"Mengertilah... Ibu Mohon..."

Sejenak Suasana Hening menghampiri duo Uchiha ini, sungguh ini sangat mendadak bahkan terkesan memaksa, ck dan ingat!

Bahkan semua ini direncanakan tanpa sepengetahuannya.

"Lalu apa ibu tidak mengerti aku?"

"Sasuke, Ibu mohon ini demi kebaikanmu..."

Sasuke menyeringai pelan, dia sudah muak dengan semua ini. dia sudah muak dengan sikap sepihak yang sering dilakukan ayahnya ini.

"Kebaikanku?"

"Ck, Jangan bercanda Bu..."

"Sebaiknya ikuti perintah Ayah..."

Sasuke mendelik ketika sosok Uchiha yang lain masuk kedalam kamarnya. Kakak tertua miliknya yang mempunyai sikap serupa dengan ayahnya. Anak emas Uchiha, seseorang yang sering menjadi kebanggaan dan menjadi topik utama di keluarganya. Sosok yang jauh berbeda darinya yang hanya bisa menjadi parasit tak berguna yang sebentar lagi akan di buang. Menyedihkan...

"Apa kau puas?"

Sebuah senyum sinis mengembang di wajah Sasuke. Dia sudah sangat muak.

"Apa maksudmu?"

Itachi melihat adiknya dengan heran, dia sungguh tak mengerti dengan apa yang dimaksudkan adik semata wayangnya itu.

"Ck, jangan pura-pura bodoh..."

"Sasuke!"

Mikoto sedikit membentak anaknya, dia merasa ucapan Sasuke itu sedikit keterlaluan.

"Ck..."

"Aku sebentar lagi akan dibuang kau pasti senang..."

Itachi mengerutkan dahinya, kenapa adiknya itu bisa mengatakan hal seperti itu padanya.

"Aku sungguh tak mengerti kenapa kau berbicara seperti itu?"

Sasuke terkekeh pelan, lagi.

"Kau memang tidak akan pernah mengerti."

"Sasuke?"

"He-Hei, Kau mau kemana? Aku belum selesai berbicara!"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Semilir angin malam membuat pikiran Uchiha ini larut sejenak, beriringan dengan sejuknya udara. Sebuah pemandangan indah tersuguh untuk sang Onyx, danau yang berkilauan karena terpaan sinar rembulan, tempat yang sama yang di singgahinya beberapa waktu yang lalu dengan Gadisnya itu, ah Kini dia sudah sedikit pulih. Namun Pandangannya tetap menerawang, teringat akan sosok merah muda yang selalu saja menempel di benaknya. Ck...

Dia patut untuk hawatir karena di dalam pikirannya sekarang, hanya ada Gadis dingin, bermarga Haruno, pemilik mata Emerald yang mampu membuatnya tenggelam disana. dan dia bersumpah akan merubah marga gadis itu menjadi Uchiha suatu saat nanti.

Yah, tentu saja semua itu butuh proses.

"Sasuke..."

Sedikit mengerutkan keningnya.

Ck, omong kosong apalagi ini. apa dia sudah mulai gila, dia tahu bahwa dia sangat merindukan Haruno itu, tapi kenapa bahkan suaranya saja terdengar begitu nyata seperti ini. kau harus cepat-cepat pergi ke Psikiater Uchiha...

"Sasuke...?"

.

.

.

Baiklah, Kau benar-benar harus kesana.

.

.

.

Sasuke berbalik dari tempatnya duduk, dan matanya membulat seketika Onyxnya itu menangkap Gadis itu disana. Gadis yang sudah membuatnya Gila seperti ini.

"Sa-Sakura...?"

.

.

.

"Sa-Sakura...?"

Aku hanya menatapnya dengan heran, sedikit terkejut melihatnya ada di tempat ini. ini sudah hampir jam 12 malam.

"Apa yang kau lakukan disini?"

"Hn?"

Dia menatapku, dengan pandangan balik bertanya.

Membuatku hanya dapat menghela nafas, lalu ikut duduk disampingnya. Mencoba merasakan semilir angin yang menyejukkan. Sangat sejuk seolah-olah mengiring perasaanku ke batas maksimum kesenangan yang mengembang disana karena akhirnya aku dapat bertemu dengan Uchiha ini, entah kenapa aku seperti orang idiot yang keangkuhannya entah pergi kemana...

Aku tidak dapat menepisnya...

Tidak dapat menepis rasa rindu yang berlebihan di dalam hatiku...

Ck, aku merasa sangat bodoh sekarang, tenggelam kedalam perasaan semu seperti ini...

Tanpa sadar aku menatap wajahnya lekat, entah apa alasannya tidak menemuiku selama hampir 2 minggu ini.

"Jangan menatapku seperti itu."

Aku tersentak, lalu dengan cepat mengalihkan pandanganku.

Sasuke terkekeh dengan pelan, membuatku mendelik menatapnya. Lalu pandangannya berubah menjadi sayu...

Redup... ada apa dengan Uchiha ini?

"Sasuke?"

"Hmm... Kau tahu Sakura?"

Sasuke memejamkan matanya sejenak lalu menatapku lembut. Ekspresi yang jarang sekali aku lihat.

"Kau itu milikku!"

Aku hanya bisa tersenyum mendengarnya, entah kenapa walaupun aku sering mendengarnya. Tetapi tetap saja, setiap kali dia mengatakan hal itu rasanya hatiku bergemuruh. Hangat, perasaan yang sering aku dapat ketika dekat dengannya...

"Sasuke?"

"Hn?"

Cup

Aku menyondongkan tubuhku dan mengecup bibirnya sekilas. Membuat Sasuke membelakkan kedua matanya, namun tidak lama, ketika bibirnya membentuk sebuah seringai aneh...

"Hanya itu?"

"Eh?"

Kini giliran aku yang membelakkan mataku ketika dengan cepat tangannya meraih tanganku dan membawaku kedalam dekapannya. Secepat kilat bibirnya mendarat di bibirku dan mulai melumatnya dengan sedikit agak kasar. Membuatku mengerang dalam ciumannya.

Entah kenapa aku merindukan hal ini, dengan pelan aku menutup mataku mencoba merasakannya, membalasnya...

Uchiha ini...

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"APA?"

"Kau jangan bercanda Caku-Chan, aku tidak sudi satu kamar dengannya!"

Naruto menatapku horor, ketika aku mengatakan itu. Sedangkan Sasuke hanya memasang tatapan paling membunuh yang hanya di tujukan untuk Naruto. Membuatku sedikit terkekeh melihat tingkah mereka.

Sasuke memang memutuskan untuk tinggal di apartemen yang bersampingan denganku. Awalnya Sasuke sempat terkejut dan marah, ketika tahu jika selama ini aku tinggal bersama dengan Naruto. Tapi itu tidak lama ketika aku menjelaskan semuanya. Walaupun dia terlihat paham, tapi sepertinya dia tidak paham sepenuhnya. Terbukti dari tatapannya yang siap mencengkram Naruto kapan saja, aku jadi cukup hawatir.

"Aku juga Tidak sudi sekamar denganmu!"

Dengan penuh penekanan Sasuke mengatakan hal itu, membuat aku dan Naruto menatap kearahnya. Karena Sejak tadi baru kali ini Sasuke menyeruakkan suaranya.

"KAU! DASAR PANTAT AYAM! LALU KENAPA KAU MENYURUHKU UNTUK SATU KAMAR DENGANMU?"

Sasuke mengerutkan keningnya kesal ketika mendengar sebutan baru dari Naruto, lalu dengan datar Sasuke menjawabnya.

"Karena Sakura adalah Gadisku!"

Aku sedikit tersentak ketika lagi-lagi Sasuke menarik tanganku, namun tindakan selanjutnya yang dilakukan Sasuke membuatku terkejut setengah mati.

Tangannya merangkul pinggangku dan menarikku ke dalam ciumannya, dan hal ini dilakukannya di depan Naruto, sekilas dapat terlihat dari ekor mataku. Wajah Naruto yang terlihat sama terkejutnya denganku sebelum kemudian dia mendecih dan mengalihkan pandangannya...

"Sa-Sasuke?"

Aku mendorong Sasuke dengan kasar, sebelum dia bertindak lebih. Dan rasa bersalah menyerang dadaku hingga sesak ketika aku melihat raut wajah apa yang ditunjukkan Naruto padaku.

Kecewa, marah, dan sedih terukir dengan jelas di wajahnya.

"Na-Naruto..."

"Apa kau mengerti sekarang?"

Sasuke tersenyum sinis, ekspresi wajah yang jarang sekali di perlihatkannya, kecuali jika dia menemukan hal yang paling di bencinya.

Naruto mengangkat wajahnya, tangannya mengepal dengan erat, menahan emosi. Lalu seringai kecil mengembang dari bibirnya.

"Ck, Aku tidak akan kalah darimu! Kita lihat saja, siapa yang akan menang..."

Aku hanya dapat mematung sekali lagi ketika Naruto membawaku kedalam pelukannya mengangkat daguku dan mengecup pipiku singkat. Dan aura membunuh dapat kurasakan kali ini juga.

"Kau..."

Sudah, kini giliran aku yang tak dapat menahan emosiku. Aku ini bukan barang yang ditarik seenaknya kesana kemari.

Aku menyentakkan diriku keluar dari pelukannya, mendelik kearah mereka berdua lalu beranjak dan menutup pintu apartemanku dengan keras.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Caku-Chan, kau sudah siap?"

Aku terhenyak mendapati Naruto dengan senyuman rubahnya tengah berdiri di pintu apartemenku. Pagi sekali...

"Apa yang kau lakukan disini?"

"Apalagi? Kita kan selalu berangkat bersama..."

Naruto menarik tanganku kedekatnya, setelah aku selesai mengunci pintu apartemanku, senyuman tetap terpasang utuh di wajahnya. Membuatku menatapnya heran. Tunggu...

"Dimana Sasuke?"

Lenyap, itu yang kulihat, kini senyuman rubahnya itu lenyap tergantikan dengan wajah kusam dan horor.

"Untuk apa kau menanyakannya, kau menghancurkan Moodku saja Caku-Chan..."

Aku hanya tersenyum, entah kenapa aku akhir-akhir ini dapat tersenyum dengan tulusnya, hal yang jarang bahkan dulu terasa asing bagiku. Kenapa denganku...?

"Sudahlah, ayo kita pergi Si pantat Ayam itu masih tidur... dasar pemalas!"

Naruto menarikku dengan cepat untuk mengikuti langkah kakinya yang lebar, ah Uchiha itu ternyata masih tidur?

.

.

.

Sementara di tempat lain, seorang Uchiha tampak memakai bajunya dengan gusar, yah... dia sedang menahan amarahnya. Mahluk kuning yang bermarga Uzumaki itu sukses membuatnya terjebak di dalam Toilet. Ck, dan dia melewatkan acara paginya dengan sang Gadis, bahkan saat dia melewati apartemen gadis itu, tidak tampak adanya ciri-ciri kehidupan disana. Dia terlambat...

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Haruno...?"

"Iya Tuan..."

"Jadi gadis ini...?"

Seorang pemuda memandang Photo di tangannya dengan pelan, sekali dia menghela nafas...

"Dia sangat Cantik... Tapi sayang Nasibnya tidak terlalu baik..."

Seringai terbentuk dengan sempurna di wajah tampannya. Ah, dia sudah tidak sabar...

"Apa yang akan kita lakukan?"

"Hahaha Kenapa kau masih bertanya?"

Pemuda itu menyandarkan kepalanya dengan nyaman di kursi hitam yang sedang didudukinya saat ini. sedikit pemuda itu memejamkan matanya mencoba menyamankan dirinya disana...

"Baiklah aku-"

"Siapa bilang ini tugasmu?"

"Tu-tuan...?"

"Aku yang akan melakukannya sendiri..."

"A-apa?"

Pengawal itu membelakkan matanya terkejut, tidak biasanya...

"Ta-tapi Sasori-Sama?"

Tersenyum, dia membuka sedikit matanya...

"Apa kau mau membantah hm...?"

"A-ah Tidak Sasori-Sama,... Baiklah Saya permisi..."

Pemuda lain yang sejak tadi berbicara dengan tuannya ini, menunduk menyampaikan rasa hormatnya sebelum melangkah dengan pelan dan meninggalkan ruangan Tuan mudanya itu dengan cepat.

Sedangkan Pemuda yang dipanggilnya Sasori-Sama itu tengah terdiam dalam senyumnya, tangannya tak henti-henti bergerak mengelus Photo yang sejak tadi ada di tangannya.

Photo seorang gadis cantik, dengan rambut merah muda di kepalanya. Rambut aneh yang hanya dimiliki oleh satu orang di dunia ini...

"Sakura..."

.

.

.

.

.

.

.

To Be Continue

Mitsumura Tatsuya's Wife Note: Sunnguh!©ᴖ©Maafkan Daku yang menelantarkan Fic saya sampai Buluk Begini O.o #Plak

Karena terlalu Sibuk, pada akhirnya Fic ini menjadi terbengkalai seperti Udang di balik Batu (Abaikan) =="

Dan untuk Teman-Teman yang dengan Setia menunggu Fic ini, saya Ucapkan TERIMA KASIH BANYAK! XD (GR tingkat tinggi) O.o

Tapi kalau gk ada juga gk papa (=,=") #garuk2 tembok

Dan Fic Diatas? Kembali menambahkan Koleksi Ending Paling Gaje yang tingkatnya sudah melewati batas Maksimum... (O.O)

Singkat?

Hahaha Iya =="

Dan mungkin di Chapter depan akan lebih panjang lagi...

Dan untuk Adegan SasuSakuNaru? O.O

No Coment! =.= Saya juga bingung Nulisin suasananya haha #Di Bunuh

Baiklah, sebelum Curcolan saya melanjut kearah Bandara Haneda Airport Di jepang (?)

Seperti biasanya saya meminta Saran, masukan, dan bimbingannya Minna... dan hal itu dapat dituangkan kedalam sebuah bentuk REVIEW XD #PLAK

ありがとう ございます みんな。。。XD