Risky800: Terima kasih telah menunggu.

Silakan dibaca :)

Blairendais Reshida: Okay :D

Webtoon GOH emang Muantaff :)

Penghisap Darah: Makasih :)

ibnu: jangan sangka, guru the best itu. :v

Btw, makasih reviewnya.

.161: antimainstream menjadikan semuanya lebih aneh nan menarik.

Beneran alurnya seru? Padahal ini fic pertama author loh.

Ketipu? Waduh.

Yep. Pairnya Miku aka [Artemis]. Dilihat dari flashback masa lalu Naruto, kau pasti akan tahu alasan kenapa aku memasangkan mereka berdua.

Maaf lama, soalnya author bikin dulu beberapa plot line biar gak kena WB.

Fahzi Luchifer: Oke. Akan saya pikirkan requestmu ini.

Done.

Nagisa-sann: Done :)

Takon: Beneran? Wah author gak tau tuh. Btw, terima kasih karena telah mereview :)

Nesia Dirgantara: Done :)

Vin'DieseL D'.Newgates: HUWAAAAAAAAA ADAAAAAAAA AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAUUUUUUUUUUUUUTTTTTTTTTHHHHHHHHOOOOOOORRRRRR LEGENDDDDDDDD.

Arigatou telah sempat-sempatnya membaca di lapakku ini :D, apalagi sampai sempat meninggalkan komentar *Author terharu*.

"Sarkas" adalah salah satu hal yang membuatku senang menulis fanfic ini :)

Terima kasih karena telah follow :D

Myth: Done :)

Dimas Kurosaki: Setiap perbuatan selalu ada konsekuensi.

Lagipula, karena Naruto di fic ku sifatnya sedikit berbeda dari Naruto-canon... Jangan harap ada kata 'pengampunan' :v

KidsNo TERROR13: Done :)

Ikeda-chan: Saya ngakak baca f-review ini :v

Udah gak ngasih saran, gak baca genre(humor? Seriously?!) dan komentar layaknya pelawak kehabisan materi :v

Pantes aja kebanyakan author agak absen, reviewer-nya kaya anda :v.

Luarrr binasa :v

Ren Azure Lucifer D Kanedy: Done :)

Si Kutil:

Naruto. Basara. Menma. Kaguya: 14.

Sirzech dan Grayfia: 16.

Miji695: Fufufu, soal 'kenapa Michael' akan terjawab tentunya.

boled99: Tenang bro, akan ada sesuatu yang mengerikan menimpa Kaguya nanti.

Rodvek97: Iya bro NTR emang sakit. Tapi yah, kalau gak ada itu agak susah nanti bikin konfliknya.

Done :)

Assassin Reaper: Yap, kekuatan mantra :D dari AW itu.

Benar sekali lagi. Laba-laba itu memang chakravartin.

Lucifer26: Wah, beneran? Padahal author sendiri gak gak terlalu bisa bikin scene yang ada 'feel'nya.

Benar, one and last pair is Izayoi Miku :)

Next is done :v

renza kurosaki: Done :)

Ahandi Latusima: Benar sekali :D

Uzunami1: Benarkah? Wah, sepertinya saya butuh latihan lagi soal deskripsi.

Yep, tsundere itu sexy nan moe and kawai :v

Ashuraindra64: Well, gak akan terkejut sih dengan reaksi agan mengenai 'Menma' dan 'Kaguya'.

Gak lah. Bahkan kekuatan yang Naruto punya sekarang bukan 'kekuatan' aslinya.

Soal Michael, tunggu aja di chapter yang entah keberapa.

Myth: Oke. Makasih atas reviewnya :)

Tanpa banyak basa-basi, silakan baca chapter terbaru fic ini.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Chapter 4: Bertemu Teman Lama. Hello Yunani.

Kami no Gakuen [Highschool of God]

Summary: Naruto Uzumaki, seseorang yang dilahirkan tanpa kekuatan [Gods] diterima di Kami no Gakuen berbekal latihan fisik dan kecepatan melebihi rata-rata. Dibalik sifat baiknya, tersimpan niat tersembunyi untuk melenyapkan 'mereka' yang telah merusak masa kecilnya.

"Membunuh, atau dibunuh. Aneh menurutku, namun apakah salah jika aku merasa bahagia mendengar kata-kata itu diulang-ulang?"

Disclaimer: Naruto. HS DxD. Beserta karakter anime yang dimasukkan ke dalam fanfic ini, adalah pemilik penciptanya masing-masing.

Chapter IV

Bertemu Teman Lama. Hello Yunani.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

{Story Start}

"Apa?"

"Aku kasihan padamu, Naruto."

"Benar-benar kasihan."

"Aku yakin kau akan mendapat tempat di atas sana."

Seusai berpisah dengan Miku di tangga, Naruto pergi ke kamar timnya hanya untuk disambut dengan kata-kata bersifat ambigu dari Shirou, Valerie dan Nero.

"Kau semua bicara seolah aku akan meregang nyawa dalam waktu dekat." Naruto terkekeh kering. "Terharu aku, serius."

"Ini menyangkut pasangan [Duo] kau," kata Shirou serius, "percayalah Naruto. Dia adalah yang terburuk terlebih kelaminmu pria."

Naruto menaikkan alisnya.

"Maksudmu dia gay?"

"Dia perempuan sih," celetuk Valerie.

Pemuda pirang mengernyit. "Lalu masalahnya dimana?"

"Dia [Man-Hater]." Nero menambahkan.

Mereka bertiga keheranan melihat Naruto berseri layaknya mendapat tumpukan gunung emas. Remaja iris biru dengan santai menghampiri kasur pribadinya dan langsung tidur di sana.

Nero mengerutkan kening, "Padahal ini masih sore tapi Naruto malah tidur duluan."

Valerie mengangkat bahu. "Biarkan saja dia. Ini tidak seperti dunia akan musnah hanya karena Naruto tidur pada waktu belum tepat."

Menggelengkan kepala, Shirou menoleh ke arah gadis mata hijau.

"Nero. Bisa kau temani aku pergi belanja?"

"Sekarang? Tentu. Tapi aku ingin kau belikan aku es krim sebagai bayarannya."

Remaja rambut merah terkekeh sebelum mengangguk.

Line Break

Dalam lorong yang sepi akan kehadiran murid, terlihat Sairaorg dan Euclid melangkah beriringan sambil berbicara satu sama lain. Dilihat dari ekspresi mereka nampaknya topik yang dibicarakan sangat lah penting.

"Jadi, mau kau apakan helai rambut Uzumaki?"

Sairaorg memandang Euclid sambil menautkan alisnya, "Membuangnya tentu saja. Lagian sudah tak ada gunanya lagi untukku."

Euclid mengangguk, "Kalau begitu berikan saja padaku. Ada hal yang ingin aku lakukan dan aku membutuhkan helai rambut itu."

Sairaorg langsung memberikan helai rambut Naruto pada Euclid, yang diterima dengan tangan terbuka oleh si remaja rambut perak.

Euclid mulai memperlambat langkah kakinya, membiarkan Sairaorg melangkah lebih jauh darinya. Dia memilih [Contact] dan menekan [Favorite] untuk mencari nomor seseorang.

Line Break

Dalam Asrama wanita, tepatnya di salah satu ruangan tahun pertama. Izayoi Miku sekarang sedang memastikan kembali barang bawaannya tak ada yang kelupaan.

'Dompet? Cek. Kartu kredit? Cek. Pulpen dan Notepad? Cek. Pakaian ganti? Cek. Alat elektronik? Cek.'

Selesai, Miku langsung menutup koper hitamnya dan meletakkan itu ke bawah kasurnya. Dia mengalihkan pandangan pada anggota tim sekaligus teman-temannya.

"Aku akan pergi ke super-market untuk membeli bahan mentah mudah diolah. Kalian ada yang ingin aku belikan sesuatu?"

Sylvia menengok Miku dari balik majalah Teen Weekly-nya. Dia mengelus dagu dan mengutarakan keinginannya.

"Chupa chups aneka rasa, Miku-chan."

Miku mengangguk, beralih pada Mio yang tiduran di atas kasurnya dengan Yuzuru yang sedang menyisir rambutnya di depan kaca.

"Bagaimana dengan kalian?"

Yuzuru menggeleng. "Tidak butuh. Yuzuru tak memerlukan apapun saat ini."

"Tumben kau ingin masak Miku. Biasanya kau lebih suka makanan cepat saji," kata Mio dengan alis ditekuk.

"Aku tidak ingin skill-ku jadi tumpul karena sudah lama tidak pegang pisau," bohong Miku.

Tidak aneh kalau dirinya berbohong. Lagipula, tak mungkin dia jujur mengingat Miku juga masih punya harga diri untuk dijaga. Lagian, dia tidak ingin ada orang lain-bahkan temannya- tahu jika Izayoi Miku mempunyai hutang makan pada lelaki dari semua kelamin.

Line Break

Valerie Tepes melipat kedua lengannya di dada dan menatap tajam rekan setimnya yang tengah tidur-pura-pura tidur lebih tepatnya-. Sepasang iris merahnya menyala beberapa menit berikutnya.

"Terlalu banyak istirahat tidak bagus untuk kesehatanmu Naruto."

Kelopak mata biru Naruto terbuka kemudian tertuju pada Valerie. Sebelah alisnya terangkat.

"Ada saran?"

"Barangkali membersihkan diri. Kalau ingatanku tidak salah kau belum mandi bukan?"

"Oh!"

Pemuda pirang menepuk kening seraya tersenyum tipis, bangkit dari tempat tidur dan mulai menurunkan ritsleting jeansnya. Tindakannya terpaksa terhenti ketika gadis pirang memegang lengannya dengan muka merah (menahan kesal).

Naruto berkedip. "Kenapa kau menghentikanku?"

"Kenapa kau bilang?" Valerie menggeram. "Apa kau tidak punya rasa malu!"

"Ouch, tentu saja aku punya."

"Lalu jelaskan mengapa kau tidak melakukannya di kamar mandi!"

Naruto memicingkan matanya. "Dengar, Mystique. Kau tidak perlu risau. Aku cukup bangga dengan ukuran kemaluanku. Jadi untuk apa merasa malu?"

Valerie menjambak rambutnya kasar dan segera keluar dari ruangan dengan raut kekesalan di wajahnya. Pintu pun dibanting secara kasar olehnya.

Naruto memutar bola matanya dan menurunkan celana panjangnya ke bawah... Hanya untuk menampilkan celana pendek lain melindungi 'pusaka' miliknya. Meraih handuk sebelum masuk ke dalam kamar mandi.

"Dasar wanita mesum."

Line Break

Taksi menurunkan Shirou dan Nero di depan supermarket. Dengan santai keduanya masuk ke dalam tempat penuh barang-barang kebutuhan sehari-hari itu. Mengambil troli terdekat dan segera mencari hal-hal mereka butuhkan.

Shirou melirik ke arah Nero. "Nero, menurutmu apa yang kita harus ambil terlebih dahulu?"

Nero mengelus dagunya. "Barangkali susu segar, daging sapi atau ayam, dan beberapa sayur serta salmon. Kedengarannya bagaimana?"

Shirou mengangguk. "Jangan lupa kita punya [Ladon Meat] sebagai bahan tambahan bila kurang."

Sementara remaja rambut merah dan gadis iris hijau sibuk mengambil satu per satu barang yang dibutuhkan nanti pagi. Di sudut lain supermarket nampak Izayoi Miku sedang mendorong troli dengan earphone terpasang di telinganya. Dalam perjalanan menuju meja kasir Miku bersenandung dengan suara kecil.

"Terima kasih telah berbelanja. Ingin lewat tunai atau alat pembayaran lain?" tanya sang penjaga kasir dengan nada ramah.

Menekan tombol off di alat elektronik dan merogoh dompetnya, Miku mengeluarkan kartu platina dan memberikan itu ke penjaga kasir. Penjaga kasir tersenyum lalu menggesek kartu pada perangkat pembayaran. Melihat transaksi selesai kartu platina dikembalikan lagi kepada pemiliknya.

"Ditunggu kunjungan berikutnya!"

Miku memasang "senyum" kemudian berjalan menuju tempat parkir, menghampiri mobil Audi putih dan menempati kursi di samping sopir. Sopir yang dimaksud merupakan pria lanjut usia berpakaian butler dengan rambut diikat ekor kuda serta memakai sepasang sarung tangan putih.

"Ada yang ingin kau kunjungi sebelum kita kembali ke sekolah, Miku-sama?"

"Tiada sepertinya, Wilhelm."

Wilhelm van Astrea mengangguk. Memutar kunci mobil dan menyalakan mesin sebelum kendaraan roda empat itu meluncur ke jalanan.

Biiiiiiiiiip! Biiiiiiiiiiiip!

Merogoh ponsel pintarnya, Miku terdiam ketika membaca nama Father tertera di layar. Jari tangannya menggesek layar sebelum meletakkan ponsel ke telinga.

"Aku dengar pasangan [Duo] dirimu adalah seorang lelaki. Apa itu benar, Bastard?"

(Bastard: Sebutan untuk pengguna [Gods] yang terlahir karena "one-night". Biasanya 20% dari 100% [Divine Power] milik kategori ini disegel dengan niat membuatnya lebih lemah daripada anak "legal".)

"Itu benar... Tou-sama."

"Begitu. Dengar baik-baik, jika lelaki ini dapat "berguna" untuk hal tertentu. Pastikan kau buat dia "nyaman" dalam pengawasanmu. Mengerti?"

Miku mengatupkan bibir. "Mengerti... Tou-sama."

"Itu baru putriku."

Line Break

Menyender di tembok sisi kiri pintu, Valerie menghembuskan nafas sembari melipat kedua lengannya. Kedutan terlihat di kening ketika mengingat kejadian yang melibatkan dirinya dengan Naruto.

"Loh Tepes-san?/Apa yang kau lakukan di luar, Valerie?/Gara-gara kau tidak di dalam kejutannya jadi gagal, Valerie-chan."

Mengerutkan kening, Valerie menoleh ke samping. Sepasang iris merahnya melihat Ikki, Basara, Tamamo, Kuroko, Miyuki, Issei, Sayaka, Godou. Masing-masing dari mereka terlihat membawa kotak dengan warna dan ukuran yang berbeda-beda.

"Oh, kalian rupanya." Valerie menaikkan alisnya. "Untuk apa kalian membawa kotak-kotak itu?"

"Kami kemari ingin melihat keadaan Uzumaki-kun, dan soal kotak-kotak ini sebenarnya untuknya, " kata Sayaka, mendapat anggukan dari yang lainnya.

"Jadi biarkan kami masuk dan menjenguk sang [Strongest Human]." Issei menyatakan seraya menyengir.

Valerie berkedip. "[Strongest Human]?"

"Mengingat pertempuran di halaman sekolah, julukan [Strongest Human] kedengarannya cocok untuk Naruto." Godou menambahkan.

"Oh... Begitu."

Kedua tim Navy Hydra dan Black Cerberus melangkah beriringan ke pintu tim White Imoogi, Valerie memutar kenop lalu mengerutkan kening sebelum menyadari pintu dikunci dari dalam.

"Naruto, buka pintunya!"

"JANGAN MENGGANGGUKU! SEBENTAR LAGI KEANGGOTAAN SITUS PORNO BLAZERKU HAMPIR HABIS!"

Sudut kelamin laki-laki memiliki ekspresi berbeda-beda. Ada yang sweatdrop (Ikki dan Kuroko), sebagian tersenyum cabul(Issei dan Godou) terakhir anehnya sedikit takut(Basara). Sementara di pihak perempuan, ada yang terkikik(Tamamo), mendesah kesal(Valerie dan Sayaka), tertawa canggung (Miyuki).

Sayaka memperbaiki letak kaca matanya, mengepalkan tangannya seraya menariknya ke belakang.

"Tepes-san, urusan reparasi biar aku saja yang urus. Jadi tolong ijinkan aku."

Valerie tanpa protes menganggukkan kepalanya.

Perlahan angin menyelimuti pergelangan hingga kuku lengan Sayaka, dengan sekali gerakan tangannya melesat dan mengenai pintu. Melubangi sampai menghancurkan itu dalam proses.

Selesai, mereka bersembilan kebingungan melihat balon merah menghalangi jalur masuk, sepenuhnya tak sadar bila Basara menjauh dari kelompok dan memilih mendekati dinding di sisi kanan pintu, seolah ngeri akan sesuatu.

Sayaka berkedip, membaca barisan kata yang tertulis di balon merah.

"If you feel brave enough, can you touch It?"

Memutar bola matanya, tanpa pikir panjang dia menyentuh balon tersebut. Mendengus saat melihat benda berisi udara itu meletus dan menunjukkan wajah...

"You'III want float, too?"

...Pennywise.

"..."

"..."

"..."

"..."

"..."

"..."

"..."

"..."

"..."

""AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!""

Mereka semua minus Basara pingsan dengan raut muka masing-masing pucat bagaikan terserang anemia dadakan. Meskipun masih sadar, sang putra Toujou Jin tampak gemetar dan melirik ke arah "Pennywise" dengan gerakan patah-patah.

"Aku benar-benar menyesal menunjukkan situs penjualan kostum karakter film padamu."

"Pennywise" memegang alat semacam ritsleting di ujung helai rambutnya, mulai menarik itu ke bawah hingga menjangkau sepatunya. Menampilkan seringai Naruto sebelum mengeluarkan dirinya dari kostum badut seram itu.

"Dan aku benar-benar gembira pada kebaikan hatimu."

Basara menghela nafas, mengernyit ketika melihat Naruto berjalan ke arahnya dan menunjukkan sebuah kartu putih. Bola matanya membulat kala mencermati simbol Gremory di belakang benda persegi panjang itu.

"Apa ini?"

"Kartu khusus agar kita dapat masuk ke dalam perayaan Gremory Corporation yang ke-10."

"Untuk satu orang?"

"Tidak tahu. Tapi, karena Sirzech teman kita, jadi kupikir berdua untuk satu bukanlah masalah, bukan?"

"Yah... Benar juga sih."

Beberapa menit kemudian kelopak mata mereka berdelapan terbuka. Tim Navy Hydra dan tim Black Cerberus serta salah satu anggota tim White Imoogi bangkit sambil menegakkan badan. Issei yang tak sengaja melihat "Pennywise", berteriak dan hampir menendang "Pennywise" sebelum terhenti saat menyadari "Pennywise" rupanya tidak lebih daripada sebuah kostum.

Issei menatap tajam Naruto. "Dan kupikir kau punya banyak 'koleksi' yang nanti bisa kupinjam."

Naruto terkekeh dan membisikkan sesuatu ke telinga Issei. Issei yang kebingungan perlahan mulai menunjukkan wajah cabul diakhiri darah menetes dari lubang hidungnya. Keduanya mengabaikan tatapan jijik dan sedikit tidak suka dari kaum wanita.

"B95-W70-H93?!"

"Belum semuanya, Israel. Aku punya lebih dari satu kartu memori untuk beberapa alasan kau tahu."

"…punya email?"

(Five minutes later)

Shirou dan Nero mengedipkan mata beberapa saat, melihat banyak sekali kertas kado berserakan dengan berbagai macam makanan manis terletak di lantai.

Sang remaja rambut merah menatap si gadis iris ruby.

"Valerie, saat kami tidak ada apa yang baru saja terjadi tadi?"

Gadis yang dimaksud mengelap krim putih dari sudut bibirnya, tertawa gugup seraya menunjuk Naruto, yang tertidur lelap di tempat tidur dengan kening dipenuhi garis sirop anggur.

Line Break

Malam. Waktu yang tepat untuk Naruto dan Basara pergi ke hotel tempat diselenggarakannya ulang tahun Gremory Corporation, perusahaan yang menciptakan SB, alat khusus untuk mengetahui, mengawasi, menyimpan, segala informasi penting terkait [Gods] dan pemilik kekuatan sekaligus perkembangan serta kesehatannya. Usut punya usut, SB juga dapat gunakan sebagai alat komunikasi, dengan syarat pemilik punya [Id Number] seseorang yang ingin dirinya ajak bicara.

Sesampainya mereka di depan pintu masuk, Naruto dan Basara mengamati seorang wanita sedang terlibat perdebatan dengan seseorang di teleponnya. Keduanya langsung sadar kalau wanita ini semenjak barusan menghalangi jalur pintu masuk.

Basara menghela nafas. "Sepertinya ini akan memakan waktu lama, bagaimana kalau kita membeli makan dulu di luar Narut–"

Ada jeda dalam perkataannya kala ia melihat Naruto diam-diam mengambil sesuatu semacam dompet dari tas sang wanita, yang entah mengapa terbuka. Sang pemuda pirang dengan tenang melempar dompet tersebut ke belakang, mendapat Tud dan "Hey!" dari korban pelemparan itu.

Naruto berdeham, memancing perhatian si wanita yang mukanya merah pertanda masih marah.

"Apa? Tidakkah kau lihat kalau aku sedang sibuk saat ini!"

Naruto mengembangkan senyum simpul.

"Sebelumnya aku minta maaf karena telah mengambil waktumu. Tapi Nona, aku yakin dompetmu baru saja diambil seseorang di belakangku tadi."

Seperti yang diharapkan Naruto, si wanita dengan muka bertambah merah layaknya banteng siap mengamuk segera bergegas menuju antrean paling terakhir. Suara jeritan dan teriakan memohon ampun terdengar di latar belakang.

Sorot manik ombak tertuju pada Basara, yang tercengang serta tidak mempercayai kejadian yang baru terjadi. Selagi keduanya masuk dan menjelajah lebih jauh, Basara berbisik.

"Kenapa tante itu tak menaruh sedikit pun curiga padamu, Naruto?"

Naruto mengangkat bahu. "Ketika seseorang dalam situasi dimana gejolak emosinya tengah tinggi, maka pikirannya takkan fokus selama beberapa saat."

Basara berkedip. "Oh… Pantas kalau begitu."

Ketika berjalan, Naruto dan Basara terus menerus mengamati sekeliling mereka, menyadari kalau semua pengunjung kebanyakan memakai tuxedo serba hitam atau biru tua. Beruntung, keduanya mengenakan pakaian tipe warna kesatu.

"Hello tamu spesialku yang di sebelah sana."

Mereka berdua mengalihkan pandangan pada asal suara. Mengedipkan mata selama lima detik, Naruto dengan Basara mengembangkan seringai lebar ketika melihat Sirzech Gremory, dalam tuxedo crimson, memasang ekspresi yang tak jauh berbeda dari keduanya.

Sang putra Toujou Jin mencermati Sirzech dari bawah hingga ke atas, ia terkekeh.

"Mau setua apapun dirimu, kau tetap bermuka tomat."

Sirzech memutar bola matanya. "Ha! Lucu sekali Toujou. Lucu sekali." Sorot matanya terfokus pada Naruto, kemudian berseri. "Ikuti aku Naruto. Ada seseorang yang ingin aku perkenalkan padamu."

Naruto berkedip. "Waria?"

Sirzech mengernyit. "Shemale."

"Lady boy?"

"Other."

"Tak berbatang. Roger."

Seketika mereka tertawa satu sama lain.

Basara mengerang seraya menepuk keningnya.

"Demi kesehatanku tolong jangan mengatakan sex joke lagi."

Sirzech menaikkan alisnya. "Aku terkesan. Sejak kapan kau menyimpang ke jalur yang itu, Basara?"

Basara menyipitkan matanya ke arah Sirzech.

"Pergi jilat bokong beruang!"

Line Break

Sembari meletakkan kedua lengannya di tengkuk, Naruto melangkah bersama Sirzech, sepenuhnya mengabaikan Basara yang tertinggal jauh di belakang. Tambahan, dia tertinggal sebab keadaannya bagaikan gula dikerubungi semut.

Naruto terkekeh. "Kau kejam juga Sir, membiarkan Basara 'ditelan' beberapa fans-nya."

Sirzech mengangkat bahu. "Nah, mereka itu penyuka Norse sekaligus penggemar [Tyr]. Sebagai salah satu tuan penyelenggara acara, sudah sepantasnya aku memberikan pelayanan yang terbaik."

"Pelayanan terbaik? Oke, kalau begitu isi ember dengan ludah sekarang juga."

"…Kau lupa menaruh otakmu di kepala?"

Nada kering menyatu dengan kata-kata Sirzech.

Pemuda pirang menggelengkan kepala. "Pertanyaanmu benar-benar tak logis, Sir. Sudah pasti setiap otak itu ditusuk menggunakan lidi lalu dibiarkan jatuh ke perut."

"…Minat jadi teman singa?"

"Klise. Sudah tahu itu tugasnya [Heracles]."

Sirzech memijat pelipisnya, mulai merindukan Naruto yang "dulu" dibandingkan yang "sekarang". Itu mungkin, jika saja si "jalang" tidak mengkhianati kepercayaan teman masa kecilnya tersebut. Dia menggertakkan giginya.

'Aku telah gagal waktu itu. Sekarang, dengan kesempatan kedua ini aku takkan mengulangi kesalahan yang sama!'

"…ech. Sirzech."

"Ya?"

Naruto mengerutkan kening. "Mana orang yang ingin kau kenalkan padaku? Semenjak tadi kita hanya berkeliling saja kesana kemari."

Sang pemuda crimson memaksakan tertawa, mencoba menutupi kegugupannya saat ini.

"Maaf. Maaf. Barusan aku tak sengaja mengingat memori kebersamaan kita berempat di masa lalu."

Raut wajah Naruto mengeras seketika, penyebabnya tidak lain dan tak bukan ialah memori seseorang yang ia "cinta" dan "sayangi" dahulu. Dia perlahan menarik nafas dan menghembuskannya secara tenang. Matanya berkedip beberapa saat.

"Tunggu, empat katamu?"

"Ya, empat. Kecuali jika kau menghitung–"

"Jangan diteruskan."

"Dengan senang hati."

Sirzech mengedarkan pandangan, sorot matanya tertuju pada kerumunan. Tempat dimana beberapa orang penting yang ayahnya sengaja panggil berada di area situ. Menengok ke sudut lain, bibirnya membentuk senyum tipis.

"Akhirnya kau keluar juga. Kemari Marina."

Sirzech menarik dan merangkul bahu seorang gadis berambut hitam sepunggung. Gadis ini memiliki iris mata berwarna kuning. Dia menatap Naruto sambil memamerkan senyuman.

"Naruto. Ini Marina Arusu Gremory. Dia adalah Imouto-ku. Marina. Ini Uzumaki Naruto. Sahabat baik yang kuceritakan padamu waktu itu."

Berniat menunjukkan sikap "mengesankan", Naruto meraih tangan Marina dan mengecup punggung lengannya. Sang lelaki iris biru menyunggingkan senyuman.

"Uzumaki Naruto. Single. Suatu kehormatan bisa berjumpa dengan visual nyata dari Monalisa."

Marina menutup mulut menggunakan salah satu tangannya, dia terkikik.

"Fufufu, benar-benar gentleman sekali dirimu ini, Naruto-san."

Masih mempertahankan senyumnya, Naruto melepas tangan Marina kemudian meletakkan kedua lengannya di saku celana.

"Aku lebih suka dipanggil bad ass daripada gentleman sebenarnya."

Sirzech jelas sekali "senang" mengamati interaksi Naruto dengan Marina berjalan tanpa adanya kecanggungan. Dia berdeham, mendapat perhatian lebih dari keduanya.

"Omong-omong Marina, karena ada beberapa kepentingan yang mewajibkan kehadiranku, tolong temani Naruto selagi aku tidak ada."

Marina tersenyum, reaksi yang Sirzech anggap sebagai "Ya".

Naruto menautkan alisnya, merasakan sedikit kejanggalan dari sikap teman rambut merahnya tersebut. Dia berkedip, menyingkirkan pikiran tak baik itu dan mengamati Sirzech lenyap dalam kerumunan.

Marina menengok kepada Naruto, berseri.

"Nah, Naruto-san, menurutmu bagaimana kalau kita melakukan tour sejenak?"

Naruto membalasnya dengan reaksi yang sama.

"Pimpin jalannya."

Line Break

Sambil mengobrol, Marina mengajak Naruto mengunjungi beberapa fasilitas terbaik di gedung; sebut saja kolam renang. Ruang spa. Arcade center. Terakhir Kafetaria. Naik ke lantai berikutnya, Marina mengantar Naruto ke sebuah pintu ganda di ujung koridor. Ketika terbuka, Naruto menemukan dirinya dalam suatu tempat semacam ruangan dansa. Itu luas dengan diterangi cahaya kelap-kelip di langit-langit.

Di ujung ruangan, sebuah band yang namanya Naruto tidak tahu sedang mengerjakan kewajiban di panggung yang tinggi. Mengedarkan pandangan, Naruto mengamati meja tertata rapi di atas lantai, penuh dengan berbagai jenis hidangan serta beberapa makanan yang belum pernah Naruto lihat sebelumnya. Dan rupanya, dia adalah salah satu tamu terakhir yang datang saat ruangan sudah dipenuhi orang-orang berpenampilan mewah. Naruto mengernyit, menyadari kalau orang-orang ini terlihat berdansa dengan pasangannya masing-masing.

'Sukacita bagi mereka. Canggung untukku.' Pikir Naruto sweatdrop.

"Naruto-san."

Naruto memusatkan seluruh perhatiannya pada Marina.

"Ya?"

Marina tersenyum ambigu. "Aneh bila seorang wanita yang pertama kali mengajak seorang pria dalam berdansa."

Mengetahui makna dari perkataan sang gadis berambut hitam, Naruto menggaruk bagian belakang kepalanya seraya terkekeh gugup.

"Maaf jika mengecewakanmu, tapi aku ini tidak terlalu pandai berdansa."

Marina tertawa kecil, tanpa peringatan memegang lengan remaja manik ombak dan menyeretnya ke tengah lantai dansa. Kedua lengannya dia taruh di sekitar leher Naruto, sedangkan orang yang bersangkutan gelagapan akibat tindakan Marina.

"A-Apa yang–"

Naruto tak sempat menyelesaikan perkataannya ketika jari Marina menyentuh bibirnya.

"Untuk malam ini saja, cobalah nikmati kesenangan ini meskipun sebentar. Sebagai calon Defender, kau akan sibuk dan takkan memiliki waktu untuk dirimu sendiri pada akhirnya, Naruto-san."

Sang pemuda pirang terdiam, tak bisa membalas perkataan Marina yang memang benar sesuai fakta yang ada. Dia menghela nafas.

"Jadi... Apa yang harus aku lakukan?"

"Pertama, letakkan tanganmu di sekitar punggungku."

Naruto menuruti apa yang dikatakannya.

"Kedua, turunkan tanganmu sedikit ke bawah dan matamu menghadap mataku."

Sepasang iris biru bertemu iris kuning.

"Ketiga, jangan pernah melepas kontak mata dan ikuti gerakkan badanku."

Dibarengi alunan musik yang sesuai keadaan, Naruto dan Marina memulai acara dansa mereka. Baru bergerak tapi tiba-tiba sepatu Naruto hampir bertabrakan dengan sepatu Marina. Meskipun begitu, secara pelan dan hati-hati Naruto mulai beradaptasi dengan gerakannya. Tak ada kata-kata yang keluar di antara keduanya, tapi senyum di wajah masing-masing mewakili emosi yang mereka sedang rasakan sekarang.

Di kejauhan, Sirzech dan Zeoticus Gremory mengamati Naruto dan Marina dengan ekspresi berbeda-beda. Sepasang ayah dan putra itu saling tatap satu sama lain.

"Aku yakin Naruto pantas menjadi bagian dari keluarga kita," kata Sirzech mantap.

Zeoticus menaikkan alisnya. "Selama dia menunjukkan performa menakjubkan di sekolah lamamu. Akan kupikirkan baik-baik."

Sirzech menyipitkan matanya. "Dia adalah anak sahabatmu Tou-sama. Terlebih, kau pasti tahu pencapaian yang dilakukan Naruto di event yang selalu diselenggarakan di Kami no Gakuen setiap tahunnya."

Zeoticus memutar bola matanya, berbalik sebelum menengok Sirzech lewat balik bahu.

"Derajat para [Gods] akan selalu di atas mortal sampai kapan pun juga."

Sirzech memandang Zeoticus yang keluar ruangan pesta, menghembuskan napas dan segera melirik kesana kemari. Senyumnya mengembang ketika melihat Basara.

Naruto tidak terlalu ingat kapan dia pernah senyaman ini. Hari-harinya sebelum masuk Kami no Gakuen selalu diiringi latihan, latihan, dan terus latihan sambil mengelilingi dunia bersama Helios dan Augus. Sorot matanya tak sengaja tertuju pada bibir merah menggoda Marina, instingnya mengatakan untuk mencondongkan muka dan melu–

Pemuda pirang menggertakkan giginya.

'Tahan DIRIMU Uzumaki Naruto! Jika kau membiarkan perasaan 'menjijikkan' itu merasukimu lagi. Maka yang menunggumu di akhir hanyalah pengkhianatan!'

Senyum di wajah Marina memudar saat mencermati raut wajah Naruto, ia mengerutkan kening kemudian membuka mulut.

"Ada masalah, Naruto-san?"

"Hm?" Naruto mengedipkan mata dalam kepanikan, otaknya berputar untuk mencari alasan bagus. "Ya, Marina. Aku mendapat err... Panggilan alam. Jadi permisi."

Memutar badan, Naruto langsung pergi dari ruang dansa, meninggalkan Marina di antara kerumunan orang banyak, tanpa mengetahui kalau si gadis iris kuning meneteskan air mata dari indra penglihatannya. Dia berbisik.

"Sebentar lagi Tou-chan. Tolong bersabarlah."

Line Break

Basara menemukan dirinya dalam suatu ruangan di area lobi, iris emerald nya terfokus pada pelaku penculikannya, yang tidak lain dan tak bukan merupakan sahabat masa kecilnya. Dia memicingkan mata sembari melipat kedua lengannya.

"Berikan aku alasan bagus mengapa aku belum meneriakkan 'Maho!' sekeras-kerasnya sekarang juga."

Sirzech memutar bola matanya, dia melangkah menuju sebuah meja dan menarik laci teratas, mengeluarkan semacam flash disk sebelum memberikan itu pada Basara.

"Apa ini?"

"Sebelum kita membahas apa yang ada di dalam itu. Beritahu aku, seberapa banyak pengetahuanmu tentang [Trinity]?"

Basara berkedip. "[Trinity]? Maksudmu ketiga [Deity] yang membuat, memusnahkan, dan menyeimbangkan alam semesta?"

Sirzech mengangguk. "Tepat sekali. Terus, apalagi yang kau ketahui tentang mereka?"

"Kalau tidak salah [Deity] itu terdiri atas Chakravartin aka Overlord of Creation. Chaos aka Overlord of Destroyer. Serta Noa aka Overlord of Balance."

"Sekali lagi tepat. Hanya saja, fakta kalau Noa merupakan Overlord of Balance hanyalah semata-mata bualan agar planet ini selamat dari ras [Monster]."

Basara mengerutkan kening. "Monster? Maksudmu Gouma?"

Sirzech menggelengkan kepala. "Bukan. Bukan Gouma."

"Kalau begitu Vlitra?"

"Bukan."

"Lalu apa?"

"Jawabannya terdapat di dalam flash disk tadi."

Basara memutar bola matanya. "Kenapa kau tidak bilang dari awal kalau kau tak punya teman untuk main tebak-tebakan, Sirzech?"

Dia terperanjat saat Sirzech meraih kerah bajunya dan mendorongnya sampai ke dinding, sepenuhnya kaget melihat ekspresi murka di wajah lelaki surai crimson.

"Bagaimana jika... Tebak-tebakan ini menyangkut hidup dan matinya Naruto, Basara?"

Line Break

Entah sudah berapa lama Naruto memandang replikanya sendiri di cermin, yang pasti, "sendiri" adalah kata kesukaannya untuk saat ini. Dia menghela nafas, menyalakan keran air dan mulai mencuci wajahnya.

"Yo. Diriku yang manusia."

Naruto terdiam, menengok kesana kemari tapi tak ada siapapun selain dirinya dalam toilet. Keningnya mengerut.

"Dasar halusinasi."

"Halusinasi? Kau tega sekali diriku yang lain."

Mengangkat wajah, Naruto terbelalak dan tak sadar mengambil langkah mundur.

Di sisi "lain" cermin, berdiri "Naruto" dengan penampilan hampir sama namun berbeda terutama di bagian mata, dimana iris Naruto biru sementara iris "Naruto" maroon, serta sklera Naruto putih sedangkan "Naruto" ungu.

"S-Siapa kau?"

"Naruto" menunjuk dirinya sendiri, menyeringai lebar.

"Aza. Untuk sementara 'diriku' bisa memanggilku dengan itu."

Mendengar kata "diriku" dari orang yang mengaku sebagai dirinya, perlahan lenyap rasa kaget dan digantikan dengan rasa marah dalam hati Naruto.

"Aku bukan monster. Aku seorang manusia."

Aza tertawa, seakan menemukan hal lucu di perkataan Naruto.

"Itu menjelaskan mengapa Otsutsuki Kaguya pergi meninggalkanmu."

Thump!

Naruto menggeram, menggertakkan giginya dengan tubuh bergetar menahan gejolak amarahnya yang naik tiba-tiba. [Wrath Mantra] mulai menyelimuti pergelangan tangan serta bahu, secara tak langsung memasuki [Vajra Form] sembari melayangkan pukulan ke cermin.

"SHUT UP!"

"Hentikan!"

Clang!

Tinju Naruto ditahan sebuah bilah katana dibalut pendar biru tua. Pemilik daripada senjata tajam ini merupakan seorang lelaki bersurai perak menghadap langit, memiliki sepasang iris biru beku serta kulit putih hampir mendekati pucat.

"Kalau kau buat keributan menggunakan [Mantra]," bisik sang lelaki, "maka habislah kita."

Naruto mengedipkan matanya, dua menit terlewat emosinya mulai mereda disertai kembalinya penampilan aslinya. Menarik nafas dan membuangnya beberapa kali. Dia berjalan lima kaki ke belakang sebelum menatap sang lelaki.

"Darimana kau tahu… Kalau aura yang aku keluarkan tadi itu [Mantra]?"

Perlahan namun pasti, sekujur tubuh sang lelaki memancarkan aura biru tua terang. Naruto membulatkan bola matanya, tidak seperti [Wrath] yang auranya bagaikan api, itu seperti air sungai yang tenang tapi bisa deras jika situasi diperlukan. Dan ini mengandung emosi…

"Sayu."

Sang lelaki berbicara dengan nada tenang, katana-nya lenyap dari eksistensi dalam sekejap. Dia mengamati Naruto beberapa saat sebelum mengulas senyum tipis.

"Omong-omong, namaku Vergil. Pengguna [Melancholy Mantra]. Senang bisa berjumpa denganmu. Pengguna [Wrath Mantra]. Karena tidak nyaman melanjutkan percakapan di sini, bagaimana jika kita pergi ke tempat yang mendukung urusan kita?"

Naruto mengangguk. Dia mengamati Vergil menekan sesuatu di WC, membersihkan "air" dan segera keluar dari toilet. Menengok lagi ke kaca, ia melihat Aza telah tiada di sana.

Line Break

"Jadi, kau juga murid di Kami no Gakuen sama sepertiku."

"Begitulah. Aku di Tahun Kedua. Meskipun umurku tak jauh berbeda dari angkatanmu."

"Eh? Kau naik kelas sebelum waktunya?!"

Sesudah kejadian di toilet, Vergil dan Naruto sekarang tengah berada di Arcade Center, memainkan Time Crisis sembari berbicara satu sama lain. Keduanya menodong senjata api ke layar dan mulai menembaki sebagian teroris.

Vergil mengangguk. "Demi menghindari kecurigaan tentangku yang pengguna [Mantra], aku memilih keputusan untuk menunjukkan talentaku dalam seni pedang sebagai alat untuk meloloskan diri dari hidung 'mereka'."

"Mereka?"

"Itu rahasia. Ngomong-ngomong, apa pendapatmu tentang Qlippoth?"

"…"

"Apa kau tahu… Lokasi Qlippoth?"

"Bisa dibilang sih iya."

"..."

Naruto meraih kerah baju Vergil kemudian mendorongnya ke tembok, dia menggeram dengan [Wrath Mantra] menyelimuti tangannya.

"Beritahu aku tempat persembunyian MEREKA!"

Mengabaikan keadaannya yang terjepit, iris biru beku Vergil berhadapan dengan iris biru Naruto.

"Kalau kau ingin tahu... Bantu aku mencari Park Il-Pyo."

Naruto menyipitkan matanya. "Park Il-Pyo? Jangan bercanda, seingatku keberadaannya tak diketahui siapapun. Bahkan ada rumor kalau dia bertapa di suatu tempat terpencil yang bahkan para Defender-Prime saja tidak tahu. Memangnya kau ada keperluan apa dengannya?"

Vergil memandang Naruto cukup lama, berujar.

"Karena dia satu-satunya orang yang bisa 'Menyegel' kekuatan makhluk supranatural serta dapat 'Membuka' batasan yang mengunci kemampuan asli manusia."

Line Break

Selagi melangkah di tengah orang banyak, Basara meletakkan kedua lengannya di saku celana. Pikirannya berlabuh entah ke mana, sampai dirinya hampir terdorong ketika seorang anak kecil usia lima tahun, mempunyai surai cokelat dengan beberapa ujung helai kuning, menabraknya dan mungkin jatuh jika Basara tak menariknya duluan.

"Aku minta maaf, apa kau baik-baik saja?"

Sang anak mengangguk dengan semangat. "Um, aku baik-baik saja kok. Jadi jangan terlalu khawatir Onii-chan."

Basara tersenyum tipis, menaikkan alisnya saat melihat sepasang iris biru milik sang anak perempuan.

'Aku pikir mata seperti Naruto dan Minato Jii-san itu langka. Tapi ternyata tidak.'

"Kihana!"

Kihana, yang Basara tebak sebagai nama sang anak perempuan, menengok ke orang yang memanggilnya sebelum bintang menyala di kedua matanya. Mengikuti arah lari Kihana, Basara melihat Venelana Gremory, dalam gaun crimson menangkap Kihana yang melompat ke pelukannya.

'Sejak kapan Venelana-san melahirkan anak lagi?'

"Mama!"

Venelana mengacak-acak gemas rambut Kihana, membuat Kihana menggembungkan pipinya lucu.

"Hentikan mama! Menata rambut itu bukan hal gampang tahu!"

"Habis putri manisku terlalu imut jika tidak dibeginikan."

Basara bisa merasakan dirinya menyunggingkan senyum mengamati interaksi anak dengan Ibu di hadapannya. Dia menggertakkan giginya.

'Bajingan kau Sirzech! Kenapa kau tidak bilang kalau kau punya adik seIMUT ini!'

Menyadari kalau Basara masih memandanginya dan Kihana, Venelana mengerutkan kening.

"Tidak baik melihat seseorang dalam jangka waktu yang lama, Basara. Terlebih jika orang yang dimaksud sudah menikah."

Basara gelagapan. "M-Maaf Venelana-san, aku tidak bermaksud seperti itu. Hanya saja mata putrimu mengingatkanku tentang beberapa orang."

Venelana tersenyum simpul. "Kau bukan orang pertama yang mengatakan hal itu."

Sang remaja iris emerald menghela nafas, lega karena tidak kena omelan dari Ibu temannya.

"Omong-omong, Basara. Bisa kau rahasiakan pertemuanmu dengan Kihana?"

Basara mengernyit mendengar pertanyaan Venelana, tapi mengangguk.

"Aku tidak melihat adanya masalah jika melakukan itu."

Sang Istri Kepala Keluarga Gremory berseri, menunduk sembari memasang sebuah kalung emas di sekitar leher Kihana.

Kihana membulatkan bola matanya. "Mama, i-ini–"

"Saat kau lepas dari penjagaan penjaga, Mama tidak sengaja melihatmu menjatuhkan ini ketika sedang berlari."

Gembira, Kihana membuka liontin dan cengar-cengir melihat foto di dalam itu.

Basara berdeham, mendapat perhatian Venelana dan Kihana.

"Venelana-san, kalau begitu aku mohon pamit untuk mencari temanku."

Venelana mengangguk, menatap Basara memutar badan kemudian melangkah ke koridor lain. Setelah punggungnya tak terlihat, ia merasakan gaunnya ditarik seseorang. Mengalihkan pandangan pada pelaku penarikan, senyum tipis terbentuk saat menyadari Kihana pelakunya.

"Ya, sayang?"

Kihana mengatupkan bibir. "Ne, Mama. Kapan aku bisa bertemu Papa?"

Venelana terdiam, menundukkan badan dan menyamakan tingginya dengan tinggi Kihana. Mengecup keningnya seraya tersenyum simpul.

"Dengarkan Mama, sayang, untuk saat ini situasinya belum aman untuk kalian bertemu. Tapi Mama janji, kalau waktunya tiba Papa akan berkumpul bersama kita."

Kihana merespon dengan senyum lebar.

Line Break

"Aku akan pergi berenang, kau mau ikut?"

Vergil menggelengkan kepala. "Aku tidak suka berenang. Lagipula aku ada urusan lain dengan seseorang."

Naruto meletakkan kedua lengannya di belakang kepalanya, cemberut.

"Padahal aku ada niat menenggelamkan seseorang saat ini."

"Kau bilang apa tadi?"

"Hm? Oh, aku barusan bilang 'Aku terbiasa kena air bila malam tiba.' omong-omong kenapa kau bertanya soal itu?"

Vergil mengangkat bahu. "Hanya Penasaran."

Selepas berpisah dengan Vergil, Naruto berpindah tempat ke lantai sebelumnya, yang dimana terdapat kolam renang indoor di sana. Menanggalkan pakaian sehingga menyisakan celana boxernya saja. Kemudian dia terjun ke kolam, membiarkan sensasi dingin langsung menyerang seluruh permukaan kulitnya.

"Yahoo kawai-kun~."

Kulit Naruto kehilangan warnanya seketika, niatnya untuk menahan napas di bawah air diurungkan karena ia mendengar suara seorang yang seharusnya tak boleh berada di dekatnya sekarang. Dia meneguk ludah, merasa "sesuatu" yang lembut dan "berisi" menekan punggungnya.

"Seilah, apapun yang kau lakukan sekarang, tolong hentikan saat ini juga."

Sylvia, dalam bikini merah muda, mengembangkan senyum sensual serta mengalungkan lengannya ke leher pemuda pirang. Mendekatkan mulutnya ke daun telinga Naruto dan meniupnya.

"Kalau… Aku tidak mau bagaimana?"

"…Tutup lubang hidung."

Karena tangan Sylvia masih bersentuhan dengan leher Naruto, otomatis saat remaja iris biru menyelam ke bagian terdalam kolam renang ia pun ikut terbawa. Anehnya, bukannya menjerit Sylvia malah tertawa sehingga gelembung-gelembung air keluar dari mulutnya. Lima menit berlalu, Naruto akhirnya menyerah dan membawa dirinya beserta Sylvia ke tepi kolam.

"Ngomong-ngomong, kartu yang kau berikan padaku selain terdapat nama Gremory fungsinya untuk apa, Shazam? Saat kami masuk aku tidak dimintai kartu itu."

"Katakan kau membawanya, kawai-kun."

"Ini. Sekarang beritahu aku."

Sylvia tertawa canggung. "Sejujurnya... Kartu itu hanya keisenganku saja."

"…"

"Begitu. Ngomong-ngomong…"

Naruto menatap tajam sang gadis berambut ungu. "…dasar perempuan sinting."

Sylvia berseri. "Terima kasih atas pujiannya… Mangsa para Milf."

Sang pemuda pirang memutar bola matan dan mengambil handuk kecil di kursi terdekat.

"Berapa kali harus kubilang kalau tipeku ini Tsundere bukan Cougar."

"Jika benar berarti Miku-chan itu tipemu?"

Sebuah handuk langsung menutupi muka Sylvia seketika. Pengguna benda yang dimaksud acuh tak acuh dan segera berjalan menuju ruang ganti.

Cemberut, Sylvia menjauhkan benda itu dari wajahnya.

"Mou~ apa susahnya coba jawab pertanyaanku ini."

Berhenti di kejauhan tujuh kaki, Naruto menghembuskan napas sebelum melirik Sylvia lewat balik bahu.

"Selain daripada membuatnya kesal dan… Senang. Mungkin aku takkan mencoba lebih daripada kedua itu."

Tanpa menunggu balasan Naruto memutuskan melanjutkan perjalanannya. Masuk ke ruang ganti dan melakukan hal seharusnya.

Sylvia terdiam, mengembangkan senyum namun kali ini tidak mengandung keusilan, melainkan ketulusan.

"Kami akan pastikan kalian mendapat apa yang sepantasnya kalian terima sejak awal."

Line Break

Setelah menghabiskan beberapa jam untuk kembali ke sekolah, Naruto bersama Basara berpisah di tangga dan keduanya berjalan ke arah kamar tidur masing-masing. Di koridor, ia mengerutkan kening melihat seorang remaja bersurai putih datang menghampirinya. Remaja ini memiliki iris mata biru gelap serta aura berbahaya di sekitarnya.

"Apa kau yang bernama Uzumaki Naruto-kun?" tanya sang remaja.

Naruto menaikkan alisnya. "Karena hanya aku seorang yang menggunakan nama itu di sekolah, jadi yah namaku Uzumaki Naruto."

Remaja itu tersenyum tipis. "Salam kenal, Uzumaki-kun. Perkenalkan, namaku Hikami Kyouya. [Top-Level Gods: Waruna]. Tahun Kedua. Ketua dari [Blue Fraction]."

Naruto mengernyitkan dahi. "Seingatku aku tidak pernah membuat masalah di sekolah ini."

Kyouya terkekeh. "Aku kesini bukan untuk hal itu," dia tersenyum lagi, "aku mendapat kabar dari anggota baruku bahwa kau menolak ajakanku. Boleh aku tanya alasannya?"

Naruto mengangguk. "Jika diringkas; kalian semua penghisap kemaluan waria."

Kalau ada hal yang dia tak mengerti, yaitu Kyouya tiba-tiba tertawa seakan ada makna humor dalam perkataannya.

"Begitu. Itu menjelaskan kenapa kau tidak menerima undanganku," Kyouya menambahkan, "apa kau mau bertaruh denganku, Uzumaki-kun?"

Naruto mengangkat bahu. "Tergantung jika hal yang kau tawarkan menarik minatku."

"Lusa depan. Saat [Sparring] dilaksanakan, kami diperbolehkan untuk mengamati dan menguji coba kebolehan masing-masing murid di bawah tahun kami. Tentunya, akan ada 'batas' bagi kami ketika menghadapi kalian. Kesepakatannya, bila kau berhasil bertahan lebih dari lima menit saat melawanku, maka aku akan menggunakan 'koneksi'ku untuk mengabulkan permintaanmu. Jika sebaliknya, kau akan kubuat melakukan hal paling menjijikkan yang pernah ada di muka bumi. Bagaimana menurutmu?"

Mengingat Naruto bukanlah tipe orang yang kabur dari tantangan, ia menganggukkan kepala. Plus, barangkali ia bisa dapat sesuatu dari hal ini.

"Aku terima."

Line Break

Shirou Emiya tidak tahu kalau menjaga ruangan timnya lebih mengerikan daripada menari bersama kumpulan alien Xenomorph. Dia seharusnya sadar jika membiarkan Nero dan Valerie bermain bersama gadis lain bukan hal bagus di situasi saat ini.

Dan semua penyebab itu karena...

"Shirou, istrimu diluar. Bisa kau berakting sebagai suami yang baik dan membukakan pintu untuknya?"

...orang ini.

Shirou menjawab lewat balik pintu. "Mungkin ini sudah ke sekian kalinya aku mengatakan ini; Tindakanmu sudah kelewatan Origami-san! Hari sudah malam bukankah seharusnya kau bersama tim-mu sekarang?"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Kau benar juga. Kalau begitu oyasumi."

"…"

Shirou mencondongkan tubuhnya pada lubang kunci, mengumpulkan keberanian sebelum membukakan pintu. Dia mengedarkan pandangan, menghela nafas lega menyadari Origami menuruti kata-katanya. Menutup itu kembali, dirinya berbalik dan jawdrop menatap Origami memasang posisi duduk di kasurnya.

"Sebelum kau bilang sesuatu, aku sudah menemui anggota tim-ku dan memberitahu mereka kalau aku ada urusan pribadi."

"... Caramu masuk?"

"Jendelamu terbuka."

Shirou mengerang seraya menutup matanya menggunakan tangan.

"Kau takkan pernah menerima kata 'tidak.' dariku, bukan?"

Origami mengangguk. "Seperti yang kuharapkan dari suamiku. Kau benar-benar tahu segala kelakuanku."

"Aku tahu karena sifatmu memang kelihatan seperti halaman buku yang selalu dibuka."

Origami mengabaikan perkataan sarkasme Shirou. Turun dari kasur sembari berjalan mendekati lelaki iris amber.

Line Break

Setelah menggerakkan kakinya selama beberapa menit, Naruto akhirnya sampai di depan ruangan timnya lalu mengetuk pintu. Mulutnya terbuka.

"Shiryu. Nila. Valkyrie. Kalian ada di dalam?"

"T-Tunggu sebentar Naruto, jangan kau buka pintunya!"

Terlambat. Naruto memutar kenop lalu membuka pintu, alisnya terangkat saat melihat Origami dan Shirou. Dengan posisi si gadis berambut putih menindih remaja rambut merah di lantai.

"Apa aku mengganggu kegiatan suci kalian?"

"Ya."

"TIDAK!"

Naruto berdiri di ambang pintu, mengamati Shirou dan Origami dalam keadaan diam. Cukup lama ia seperti itu sebelum mengalihkan pandangan ke kiri kemudian sebaliknya. Sorot matanya kembali pada keduanya.

"Kalian perlu kondom?"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Sembari tertawa, Naruto secepat mungkin menutup pintu, menghentikan ratusan senjata tajam dari kegiatan "Menusuk dan melukainya.". Mendengar suara langkah kaki, dia menengok ke samping.

"Yo, Sena. Lama tidak berjumpa. Masih hidup?"

Sona Sitri acuh tak acuh dengan kata-kata Naruto, sebaliknya, seorang lelaki di sebelahnya justru terlihat marah kepada Naruto. Lelaki ini mendekat dan mencengkeram kerah bajunya.

"Hey, bajingan! Sekali lagi kau bicara seperti itu pada Fuku-Kaichou aku akan–"

Omongannya terhenti ketika Naruto memukul pipinya menggunakan tangan kiri, menyebabkan sang remaja berputar di udara dan mendarat dengan bokong menyentuh lantai pertama.

Mendengus, sang pemuda pirang melirik ke arah Sona.

"Pertahanan diri. Dia menyerang duluan."

Sona menghela nafas. "Aku sadar akan hal itu. Daripada itu," nadanya terdengar lebih dingin, "Uzumaki Naruto. Atas permintaan OSIS kami ingin mengajakmu masuk ke dalam [Red Fraction]."

Naruto menaruh lengannya di belakang kepala. "Kalau aku tidak mau, bagaimana?"

Sona menambahkan. "Ada alasan kuat kenapa kami mengundangmu menjadi bagian dari kami. Kau tahu, lusa depan merupakan satu-satunya hari dimana para [Fraction] dapat menguji potensi murid yang di bawah tahun mereka. Mengingat dirimu tak mempunyai [Gods] setidaknya kau harus ikut salah satu [Fraction] agar ketika ditantang maka penantang harus mendapat ijin terlebih dahulu ke [Fraction Leader].

Ia memperbaiki letak kaca matanya. "Dilihat dari situasimu, kau pasti tahu keputusan apa yang harus kau ambil."

Naruto mengangguk. "Tanpa kau beritahu pun aku sudah tahu keputusan mana yang terbaik. Yaitu menghajar semua yang menantangku."

Sona mengedipkan mata beberapa saat, tidak mempercayai kata-kata yang baru keluar dari mulut lelaki iris biru.

"Aku tidak harus menganggap sifatmu ini sebagai 'sombong', 'terlalu percaya diri', atau paling cocok 'idiot'."

Mengangkat bahu, Naruto memutar badan dan berjalan menjauh dari Sona.

"Itu urusanku. Bukan urusanmu. Toh, yang kena serangnya aku ini bukan kau."

"Mau pergi kemana, Uzumaki-kun?"

"Toilet. Daripada mengkhawatirkanku, lebih baik kau bantu temanku di dalam sana."

Mengabaikan keributan yang terjadi di ruangan tim White Imoogi, Naruto melanjutkan perjalanan sembari tertawa dalam hati.

Line Break

Keesokan harinya. Di jalur yang menghubungkan area luar dengan Kami no Gakuen, tampak sebuah bus putih bergerak dalam kecepatan sedang menuju jalanan umum. Dalam kendaraan itu, terlihat Naruto bersama Izayoi Miku duduk bersebelahan. Dengan nama kedua fokus pada ponsel pintarnya.

"Di Yunani kita tidak mungkin lama. Yang menjadi pertanyaanku, kenapa kau bawa banyak sekali barang?" tanya Naruto kering.

"Aku perempuan," jawab Miku, seakan itu menjawab segala hal.

Pemuda pirang memutar bola matanya, meraih earphone dan mp3 player kepunyaannya dari tas. Mencari lagu Sign - Flow sebelum memejamkan matanya.

Naruto berkedip, menengok kesana kemari dan hanya melihat tembok dengan permukaan layaknya kristal berwarna biru. Menyentuh dinding, dia membulatkan bola matanya ketika menatap hal yang dilihatnya sekarang.

Tiang, kendaraan, gedung, serta ratusan pohon sebagian besar hancur, terbakar atau roboh. Sumber dari semua masalah itu, karena monster yang sangat berbeda dari Gouma, dan makhluk mitologi dalam catatan sejarah yang dibaca lelaki manik ombak, tengah terbang di langit malam dan gembira memusnahkan seluruh benda biotik maupun abiotik di bawah raga raksasa mereka. Tanpa ampun. Tanpa belas kasihan. Tanpa pandang bulu.

Belum sempat Naruto mengatakan sesuatu, alat apapun yang mengurung dirinya tiba-tiba naik dengan sendirinya, atau mungkin, terangkat oleh seseorang. Dia tidak tahu siapa yang melakukan itu, yang jelas, sorot matanya tertuju pada seorang gadis bersurai pink. Gadis ini memakai jaket hitam tanpa ritsleting, menunjukkan kemeja putih dan dasi kuning di sekitar lehernya. Dia memakai rok putih dan sepasang sepatu hitam.

"Jangan bercanda Seha! Kalau kau melakukan itu, maka kau juga akan–"

"Terima kasih atas segalanya Seulbi. Tolong beritahu yang lain... Bukan, maksudku sahabat kita yang lain, jangan menangis ketika aku pergi 'jalan-jalan'."

Lelaki iris biru menengadah sebelum mengerutkan kening, menyadari ia tak dapat melihat dengan jelas orang yang memegang "Alat.". Melebarkan matanya, dirinya menatap si orang menjatuhkan "alat." ke tanah, kemudian menancapkan bilah semacam pedang dialiri pendar navy ke "alat.".

Seketika semuanya menjadi silau.

Naruto membuka kelopak matanya, menggosok mata dan melihat Miku sudah mengambil koper hitamnya. Orang yang dimaksud melirik ke arah Naruto.

"Aneh, tadinya aku pikir kau tertidur pulas, Uzumaki."

Naruto mengangkat bahu, mengembalikan kedua benda elektroniknya ke tas sebelum menyelipkan itu ke punggung. Keduanya turun lalu berjalan beriringan menuju pintu masuk bandara.

Line Break

"Kau yakin ini pesawatnya?"

"Ya."

"Dengan kita berdua saja disini?"

"Aku tinggal membidik alat kelaminmu jika kau berani macam-macam."

"Tapi pesawat ini dibuat dengan dana Amakusa Corporation."

"Jadi?"

"Jadi kenapa kita berada di sini?!"

Miku memutar bola matanya, sama sekali tak asing dengan reaksi yang ditunjukkan remaja iris safir. Setidaknya, Naruto lebih fokus pada "Takut salah naik." daripada "Kenapa kau tidak bilang Ayah dan Ibumu orang kaya, Miku?".

Dia tak ingin mengakuinya, tapi mengamati orang yang membantunya membasmi Stoor ketakutan hanya karena hal sepele membuatnya ingin tertawa di tempat. Parahnya lagi, akibat "menahan diri." menyebabkan rasa sakit di beberapa bagian tertentu tubuhnya.

Tidak bisa menahan diri lebih lama, Miku beranjak dari kursinya dan masuk ke dalam toilet. Meninggalkan Naruto yang masih gemetar untuk beberapa alasan.

Sontak gema tawa terdengar ke seluruh ruang pesawat, mengakibatkan pemuda pirang menjerit dari tempat duduknya.

(Five Minute Later)

Naruto menautkan alisnya, melihat Miku menciptakan lambang hexagram menggunakan [Gods Power] miliknya. Selesai, sang gadis berambut indigo mundur beberapa langkah sebelum terhenti dan mengarahkan telapak tangannya ke hexagram.

"Thou, who serve me from ancient time. Come and do thee duty!"

'[Hero Summoning] hm? Semoga yang dipanggil tidak terlalu [Man-Hater].' Pikir Naruto berharap.

Seketika pendar hijau daun menyala terang di menengah simbol hexagram, perlahan itu bergerak sehingga mengelilingi sekitar sudutnya. Api berwarna sama tumbuh hingga menjangkau tinggi Miku. Sesaat setelah padam, di tempat bekas api berdiri seseorang.

Seseorang yang dibicarakan merupakan gadis muda. Gadis ini mengenakan gaun hijau dengan rok tempur warna sama yang membalut atas hingga bawah sekujur tubuhnya. Alas kakinya adalah sepasang sepatu bot hitam. Rambutnya acak-acakan dengan sedikit gabungan kuning dan hijau.

Yang paling menarik perhatian Naruto dan Miku, bagaimanapun, adalah si gadis memiliki ekor singa yang menonjol keluar dari roknya dan memiliki sepasang telinga kucing di atas kepalanya.

"Thee Hero already answer thou call."

Gadis itu berkata sembari mengamati Miku dari ujung rambut sampai ujung sepatunya. Perlahan senyum tipis terbentuk di bibirnya.

"Salam, Nona Artemis. Namaku Atalanta."

Line Break

Ketika Atalanta dipanggil dari "waktu"nya, dia tidak pernah menyangka kalau orang yang memanggilnya adalah orang yang mengasuhnya semenjak kecil. Meskipun penampilannya berbeda, tapi dirinya yakin jika perempuan di hadapannya ialah sang dewi perburuan.

Namun, sebuah pertanyaan klise mengambang di benaknya saat ini.

"Jika Nona tidak keberatan menjawab pertanyaan," kata Atalanta, melirik Naruto yang sedang memandangi ekor beserta telinga hewannya, "mengapa Nona berkawan dengan seorang pria?"

Miku menghela nafas. "Sebelumnya namanya Uzumaki Naruto. Memang sifatnya agak menyebalkan, tapi bisa dibilang dia adalah orang pertama yang mengimbangiku dalam pertempuran."

"Benarkah?"

"Ya."

Mengalihkan pandangan pada Miku, Naruto menautkan alisnya.

"Seingatku aku yang menang waktu itu."

Si gadis surai indigo menatap tajam Naruto, busur perak muncul dari ketiadaan.

"Ingin membuktikan teorimu?"

Naruto memicingkan mata, tangan kirinya terkepal sehingga membunyikan suara.

"Aku yakin Cina tidak keberatan menerima paket dadakan dari langit."

"Seperti kau punya nyali untuk melakukan itu."

"Hmph, dan akan aku buktikan bahwa seorang virgin selalu membayangkan sentuhan pria di bagian paling intimnya."

"Lalu akan aku buktikan kalau seorang perjaka seperti–"

Miku tak melanjutkan perkataannya ketika dirinya menyadari apa yang ia hampir mau selesaikan, dengan muka sedikit merah dia menggeram pada Naruto. Pemilik nama kedua menyengir menantang padanya.

"Aku tunggu lanjutannya loh~."

Untuk beberapa alasan Miku menemukan awan lebih menarik dari biasanya.

Naruto: 1. Miku: 0.

"...Candaanmu lebih parah dari Dewa Pencuri," kata Atalanta takjub.

Naruto menepuk tangannya, mengeluarkan ponsel pintarnya dan menekan suatu app di layar. Kemudian ia memberikan itu pada Atalanta.

"Pegang ini."

Atalanta mengerutkan kening. "Untuk apa, Tuan Naruto?"

"Panggil saja Naruto. Ngomong-ngomong, kau suka berburu, benar?"

"Tentu saja."

"Kalau begitu kau pasti akan sangat menyukai Minecraft."

Selama beberapa menit Naruto mengajari Atalanta cara main dan memberitahu beberapa nama item penting dalam Minecraft, selama itu juga, pemuda pirang tak menyadari kalau Miku mengamatinya.

Sang gadis berambut indigo mengernyit, kebingungan karena untuk beberapa alasan dirinya sedikit... Tidak suka melihat Naruto berinteraksi dengan Atalanta.

Hal ini sering terjadi sebenarnya. Ketika ia dan Mio bermain saat mereka masih kecil, Mio yang ingin meminjam mainannya dia dorong sambil berteriak "Mine!" beberapa kali dengan nada tinggi.

Menggelengkan kepala, Miku memutuskan mengambil ps vita-nya dari koper dan memainkan game kesukaannya.

Line Break

Yunani. Negara dimana mitologi Olympus sangat terkenal di sekitar wilayah ini. Merupakan salah satu tempat karya wisata yang menarik bila dilihat dari segi sejarahnya, terutama di bagian kerajinan serta peninggalan-peninggalan lain dalam museum di beberapa kota.

Turun dari pesawat dan keluar dari bandara, Miku, Naruto, dan Atalanta yang disuruh mengenakan pakaian si gadis iris indigo demi menyembunyikan identitasnya, sekarang tengah berada dalam taksi.

Meletakkan ponsel pintar miliknya(yang tentu saja dibelikan oleh Miku) di paha, Atalanta mengetuk pundak Naruto, mendapat perhatian dari pemuda pirang.

"Apa?"

"Diamond ore bisa di-craft menjadi apa saja, Naruto?"

"Itu sama saja seperti material lainnya."

"Oh... "

Miku beralih pada Naruto, pura-pura batuk sehingga mendapat perhatiannya.

"Apa?"

"Latihanmu akan dimulai nanti siang, kau tidak keberatan, Uzumaki?"

Naruto mengangkat bahu, berseri.

"Sama sekali tidak."

Line Break

Di sebuah mulut gua, tepatnya di atas sebuah batu besar. Seorang pria berambut biru mencapai leher, mengenakan kaus hitam dibalut jaket hoodie dengan wajah harimau di punggungnya. Terlihat sedang bermeditasi dengan posisi sila.

""Il-Pyo-san.""

Sang pria perlahan membuka kelopak matanya, menundukkan kepala sebelum menatap Sylvia dan Euclid mengangkat dua objek yang memang penting di tangan masing-masing. Dia menjatuhkan diri di hadapan mereka sambil tersenyum tipis.

"Kalian berhasil rupanya."

Tanpa pikir panjang Sylvia dan Euclid menyerahkan kartu putih serta helai rambut pirang kepada Il-Pyo. Menerima itu, Il-Pyo berbalik kemudian melempar mereka ke atas, dimana disitu berdiri sesosok makhluk berupa raksasa bertubuh perak. Raksasa ini memiliki semacam sayap berwarna sama di punggungnya, kedua indra penglihatannya hanya sepasang mata putih tanpa pupil, dan di dadanya tercetak simbol seperti "V" merah namun redup.

(Raksasa: cari gambar "Ultraman Noa")

Ketika kartu putih dan helai rambut pirang terserap ke simbol "V" raksasa, tiba-tiba cahaya terang menyelimuti sekujur badannya, memaksa Il-Pyo, Euclid serta Sylvia menutup mata masing-masing. Setelah redup, mereka melihat raksasa perak masih dibalut cahaya, hanya kali ini tak terlalu terang seperti sebelumnya.

"Jadi tinggal giliran masa lalu Shin Jii-san, 'Pikiran lalu terakhir 'Kekuatan."

Mereka bertiga mengalihkan pandangan pada Vergil, yang berjalan mendekat bersama seorang pria berotot berambut putih acak-acakan di sampingnya.

"Begitulah Tendou Arashi, Vergil," kata Il-Pyo dengan senyum tipis.

Arashi mengerutkan kening. "Akan lebih baik kau memanggilku 'Kekuatan' daripada nama yang diberikan orang tua tiriku, Il-Pyo."

Sang [Hojosa] menggelengkan kepala. "Hanya karena 'tubuh'mu dan dirimu terlahir dari [Infinite Force], bukan berarti kau ini bukan seorang manusia. Buktinya, kau sanggup 'menaklukkan' pengguna [Angra Mainyu] dan bahkan menikah hingga punya anak perempuan bersamanya."

"Jangan bergurau. Sifat baikku hanya replika dari sifat 'Jiwa'," kata Arashi datar, "dan soal anakku, DNA miliknya hanya akan cocok dengan 'Jiwa'. Lagipula, aku ini tak memiliki DNA. Dan sejak ia lahir pun dia tidak pernah menganggapku sebagai 'Ayah'nya dari awal."

Sylvia menghampiri Vergil kemudian memeluknya, mereka berada dalam posisi itu sebelum melepaskan diri masing-masing.

Sang gadis berambut ungu berseri. "Bagaimana, Ver-kun?"

Vergil tersenyum simpul.

"Seperti yang dikatakan Kaa-chan. Dia pemarah. Bahkan kontrol emosinya kurang. Meskipun begitu... Aku senang bisa bertemu dengannya. Walaupun ia tak mungkin mengenaliku."

.

.

.

.

.

T-B-C

.

.

.

.

.

Selanjutnya di Kami no Gakuen [Highschool of Gods]

Line Break

"Baik. Pertama, kita bagi menjadi dua tim. Kedua, kita–"

Ada jeda dalam perkataan Valerie ketika dirinya tak sengaja melirik Naruto, yang terlihat mengangkat bola salju berukuran besar sambil berlari menuju kumpulan penguin.

Line Break

"Siapa bilang pertarungan kita selesai?"

Kyouya membulatkan bola matanya, memutar badan untuk melihat Naruto kembali ke tempatnya, memperlihatkan pakaiannya yang sedikit sobek di bagian bahu serta dada.

"Sekali lagi kau mengirimku ke Tokyo... Akan kubalas kau dengan melemparmu ke Inggris."

[This chapter is just Repaired]