Disclaimer :
Detektif Conan milik Gosho Aoyama.
Catatan Penulis :
Waktunya balas komen!
ArdhyaMouri : Wah, kalau Ruang Rindu memang ending-nya cukup sampai di situ. Aku menyerahkan kesimpulannya pada pembaca, apakah mereka menikah atau tidak setelah pembaca membaca epilog yang seperti itu. Lalu untuk Ai yang jatuh cinta, Ai memang harus kelihatan berbeda, soalnya kalau nggak, ntar nggak ada yang sadar kalau dia sedang jatuh cinta. He he he.
Aiwha-san : Semoga saja. XD
Septi SSS : Lho, ya harus ditulis sendiri, soalnya belum tentu interpretasi orang terhadap suatu ide itu sama. Ide sama, jalan cerita bisa berbeda di tangan dua orang yang berbeda. XD. Kalau sekuel JBT, aku lagi bingung harus bikin rate T atau M. Memang sih nggak bakalan ada lime atau lemonnya, tapi kalau menoleh pada cerita JBT yang kemarin, aku jadi ragu.
Shiho cute : Wah, susah nih. Karena yang menjadi love interest-nya Ai di awal cerita adalah Subaru, maka Subaru pasti akan sering muncul. Apalagi Subaru tinggal di sebelah rumah Ai. XD
Kongming-san : Sebenarnya movie 14 itu udah release setahun yang lalu, cuma akunya nggak punya waktu buat nonton. Dan jangan khawatir, walaupun Kid mencintai kambing itu, masih banyak kambing lain untuk Idul Adha. He he he. Karena tokoh utama wanitanya suka pada Subaru, tentu saja cerita ini akan mengarah pada AixSubaru sampai nanti ketemu belokan, baru deh mengarah ke AixConan. XD
Airin-san : Conan nasibnya ya bakal gitu-gitu aja. He he he.
Jessica-san : Mungkin, he he he. Menyukai laki-laki tampan adalah hal paling natural bagi wanita. Dan kalau laki-laki tampan itu selalu ada di sampingnya dan sangat peduli padanya, wajar kalau wanitanya jadi jatuh cinta. Itulah yang terjadi pada Ai. XD
Rawr : Bagian akhir yang mana yang kurang kerasa feel-nya? Bagian akhir percakapan Conan dan Heiji atau bagian akhir chapter? Yah, untuk sementara ini, AixSubaru mungkin akan mendominasi sampai suatu kejadian tertentu yang akan membuat cerita beralih menjadi AixConan. XD
Misyel-san : Ai pengin cepat besar tapi dia nggak bisa jadi terpaksa dia menjalani masa-masa sekolahnya lagi. XD
SteffanyChoi : Update ceritaku biasanya teratur. Kalau nasib Subaru, nanti akan kita lihat sama-sama gimana nasibnya. He he he. Subaru itu kerja sambilan dimana-mana, jadi bukan hanya penjual es krim. Di chapter ini pekerjaan Subaru sudah beda lagi. Kalau movie 15, di youtube sudah ada yang eng sub, tapi kayaknya aku belum bisa nonton karena akhir-akhir ini aku sibuk banget. XD
Fujita-san : Kalau perasaan Conan ke Ai memang belum jelas, soalnya dia baru patah hati. Kalau perasaan Ai ke Conan, menurut Ai, Conan adalah masa lalu. Jadi kalau nanti dia suka sama Conan, itu artinya dia CLBK dan itu baru akan terjadi setelah peristiwa tertentu. XD
Lan-san : Soalnya Subaru selalu memakai kaos turtleneck+jas, jadi pas Ai melihat Subaru yang tidak memakai pakaiannya yang biasanya, dia jadi terpesona, XD. Subaru akan tahu nanti dan itu akan memicu cerita ini berjalan ke arah AixConan.
shiho Nakahara : Bukan Suguru, tapi Subaru, XD. Subaru tinggal di rumahnya Shinichi, jadi dia adalah tetangganya Profesor Agasa dan Ai.
shiho Cool'n : Kalau begitu kutunggu komennya di setiap chapter. He he he.
Lollytha-chan : Okeeeh!
Nachie-chan : Lihat gambar itu dimana? Aku belum pernah nemu. Memangnya gambar itu dari anime ya? Kalau ada, aku di-tag dong.
Waktunya curcol!
Chapter ini berisi kelanjutan dari kasus kucing hilang dan dimulainya cerita baru tentang berlatih recorder. Chapter ini masih didominasi oleh AixSubaru jadi buat yang minta momen AixConan yang banyak, harus bersabar dulu. XD
Lalu karena besok adalah Hari Raya Idul Adha maka penulis mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Adha. Idul Adha tahun ini sungguh berbeda bagi penulis karena penulis akan menghabiskan Hari Raya Idul Adha tahun ini bersama keluarga setelah sejak SMA hingga kuliah, penulis selalu menghabiskan Hari Raya Idul Adha bersama teman-teman penulis di desa yang miskin dan terpencil dalam rangka bakti sosial. Para pembaca harus mencobanya kalau ada kesempatan karena kegiatan bakti sosial Idul Adha itu benar-benar menyenangkan, terutama ketika takbir keliling desa bersama anak-anak kecil di desa itu dan ketika melihat ekspresi bahagia warga desa saat menerima daging hewan kurban yang dibagi-bagi ke rumah-rumah. XD
Terakhir, selamat membaca dan berkomentar!
Tanpa Batas
By Enji86
Chapter 4 – Apa yang Terjadi Denganku?
Keesokan harinya, para anggota Grup Detektif Cilik pun kembali mencari pemilik kucing yang ditemukan Subaru setelah mereka pulang sekolah. Dan setelah satu jam berkeliling, akhirnya mereka mendapatkan titik terang setelah mereka bertemu orang yang mengaku sebagai teman baik pemilik kucing itu. Orang itu pun mengajak mereka ke rumah pemilik kucing itu karena pemilik kucing itu menjanjikan hadiah bagi siapa yang menemukan kucing itu. Mereka melihat beberapa mobil polisi terparkir di depan rumah pemilik kucing itu sehingga mereka pun segera masuk ke dalam setelah mendapat ijin dari petugas polisi yang berjaga. Ternyata istri pemilik rumah, yaitu pemilik kucing yang berada dalam dekapan Ai itu meninggal karena dibunuh. Dan yang membuat Grup Detektif Cilik menjadi kaget, terutama Ai, adalah Subaru menjadi salah satu tersangka.
"Bagaimana bisa kau jadi tersangka?" tanya Ai sambil berkacak pinggang pada Subaru yang berlutut di depannya agar mereka berdua bisa saling bertatapan.
"Aku kebetulan sedang kerja sambilan di Watson Laundry dan waktu aku ke rumah ini untuk mengantarkan pakaian pagi tadi, tidak ada yang membukakan pintu sehingga aku kembali lagi pada siang hari dan saat itulah, aku menemukan mayat wanita itu bersama suaminya yang baru pulang dari kantor untuk mengambil barangnya yang ketinggalan," jawab Subaru.
"Kau tidak membunuhnya kan?" tanya Ai dengan curiga.
"Hei, bagaimana bisa kau bertanya begitu? Tentu saja aku tidak membunuhnya," seru Subaru sambil mencubit pipi Ai dengan main-main.
"Habisnya, kemarin kau menemukan kucing wanita itu. Dan sekarang kau menemukan mayat wanita itu. Bukankah itu kebetulan yang sangat mencurigakan?" ucap Ai.
"Ai-chan, kalau aku tidak terlihat mencurigakan, menurutmu apa polisi akan menjadikan aku tersangka?" tanya Subaru.
"Yah, kau benar juga," jawab Ai sambil mengangkat bahu.
"Tapi aku tidak membunuhnya. Aku bahkan sama sekali belum pernah bertemu dengan wanita itu sebelumnya," ucap Subaru.
"Ya, baiklah. Kalau begitu sekarang aku akan membantu Edogawa-kun dan yang lain untuk menemukan pelakunya," ucap Ai tapi Subaru langsung meraih tangannya.
"Bagaimana kalau kau di sini saja dan menemaniku bicara? Conan-kun dan yang lain pasti bisa mengatasinya," ucap Subaru.
"Jangan manja begitu. Aku akan segera kembali," ucap Ai sambil mengelus-elus kepala Subaru seolah-olah Subaru adalah anak kecil untuk menggoda Subaru.
"Ai-chan, apa kau mau kucium?" tanya Subaru dengan senyum mengancam sehingga Ai langsung menarik tangannya kembali.
"Itu akan sangat menyenangkan. Tapi tidak sekarang," jawab Ai sambil nyengir. "Sampai nanti," ucap Ai lalu dia berbalik dan melangkah pergi untuk mencari teman-temannya.
"Dasar wanita itu!" gumam Subaru sambil tertawa kecil.
Sementara itu, tanpa diketahui oleh Subaru dan Ai, Detektif Takagi dari tadi memperhatikan mereka walaupun dia tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan dan di tengah-tengah pembicaraan Subaru dan Ai, bahunya ditepuk oleh Detektif Sato.
"Kau lihat apa? Sepertinya serius sekali?" tanya Detektif Sato.
"Ah, tidak," jawab Detektif Takagi tapi Detektif Sato sudah memandang ke arah yang tadi dipandang Detektif Takagi dan menemukan Subaru dan Ai yang sedang bicara.
"Pantas saja kau begitu serius. Kau sedang mengamati Okiya-san untuk belajar menjadi ayah yang baik ya?" ucap Detektif Sato sambil tersenyum sehingga wajah Detektif Takagi agak memerah.
"Tidak juga," ucap Detektif Takagi dengan malu-malu.
"Kenapa tidak? Okiya-san sepertinya tahu bagaimana menjadi ayah yang baik. Buktinya dia bisa membuat Ai-chan yang pendiam dan selalu berwajah datar itu menjadi lebih ceria," ucap Detektif Sato.
"Jadi menurutmu hubungan Okiya-san dan Ai-chan seperti hubungan ayah dan anak?" tanya Detektif Takagi.
"Tentu saja. Memangnya menurutmu apa?" jawab Detektif Sato sambil balik bertanya.
Detektif Takagi ingin berkata bahwa menurutnya, Subaru dan Ai terlihat seperti dua orang yang saling menyukai, tapi tentu saja itu akan terdengar seaneh teorinya yang lain yaitu teori Conan Edogawa adalah Shinichi Kudo yang tubuhnya mengecil, mengingat perbedaan usia Subaru dan Ai yang memang lebih cocok menjadi ayah dan anak.
"Uhm, bagaimana dengan kakak dan adik?" tawar Detektif Takagi.
"Yah, itu mungkin juga. Tapi perbedaan usia mereka terlalu jauh. Mereka lebih cocok jadi ayah dan anak," ucap Detektif Sato.
Lalu mereka berdua mendengar Inspektur Megure memanggil mereka sehingga mereka langsung bergegas menuju Inspektur Megure.
XXX
"Kemana saja kau?" tanya Conan saat Ai berdiri di sampingnya.
"Bicara dengan Subaru-san," jawab Ai.
"Kenapa kau bicara dengannya?" tanya Conan.
"Memangnya tidak boleh?" Ai balik bertanya sambil menaikkan alisnya.
"Bukan begitu. Tapi kau kan bisa bicara dengannya nanti setelah penyelidikan selesai," jawab Conan.
"Yah, aku hanya ingin menunjukkan perhatian sebagai tetangga kepada tetangganya yang sedang kesusahan," ucap Ai.
"Lucu kau bilang begitu. Padahal dulu kau selalu memintaku menendangnya keluar dari rumahku dan kau selalu bersembunyi di balik punggungku jika dia ada di dekatmu," ucap Conan dengan sinis.
"Jadi apa maumu sekarang?" tanya Ai dengan kesal sehingga Conan nyengir.
"Aku mau kau percaya sepenuhnya padaku. Aku mau kau selalu percaya pada apa yang kukatakan, oke?" jawab Conan.
"Maaf, kalau yang itu aku tidak bisa," ucap Ai.
"Huh? Kenapa?" tanya Conan.
"Bukankah itu sudah jelas? Kau bahkan mampu menipu wanita yang kau cintai, jadi mana mungkin aku bisa percaya padamu?" jawab Ai sambil nyengir.
"Tutup mulutmu," ucap Conan dengan kesal sehingga Ai tertawa.
"Jadi bagaimana? Apa kau sudah tahu pelakunya?" tanya Ai, mengalihkan pembicaraan.
"Tentu saja," jawab Conan dengan sombong sambil menatap Ai dengan tatapan mengharapkan pujian.
"Ya, ya, kau memang detektif hebat, Kudo-sama," ucap Ai sambil memutar bola matanya sementara Conan hanya nyengir lebar.
"Tapi aku belum punya bukti yang kuat jadi aku belum bisa mengungkap kasus ini," ucap Conan.
"Kalau begitu kita harus mencarinya," ucap Ai.
Conan mengangguk sebagai jawaban.
Mereka pun melangkah menuju salah satu anggota tim forensik untuk mencari bukti.
"Ngomong-ngomong, yang lain ke mana?" tanya Ai.
"Mereka kusuruh membuat persiapan untuk mengungkap trik pembunuhannya," jawab Conan.
Ai pun mengangguk sebagai balasan.
Setelah mengamati foto-foto korban dan barang bukti yang ditemukan sambil berdiskusi dengan Ai dan bicara dengan Detektif Takagi, Conan pun memperlihatkan senyum setannya yang menandakan bahwa dia sudah tahu semuanya. Dia pun langsung mengontak anggota Grup Detektif Cilik yang lain dan memberi instruksi kepada Ai untuk membantunya melakukan pertunjukan analisis. Memang sejak beberapa bulan belakangan, Grup Detektif Cilik sudah mulai diakui oleh kepolisian sehingga Conan tidak perlu bingung mencari orang untuk ditidurkan jika dia ingin melakukan pertunjukan analisis.
Pelaku pembunuhan itu ternyata adalah teman baik korban yang mengajak anggota Grup Detektif Cilik ke rumah itu. Dia juga yang menculik kucing korban dan menempatkan kucing itu di taman Beika untuk mencari saksi atas alibinya. Motifnya adalah karena pelaku tidak bisa membayar hutangnya pada korban.
"Wah, kalian memang hebat ya," ucap Detektif Sato pada Detektif Cilik sehingga mereka berlima tersenyum lebar. Lalu dia mengalihkan perhatiannya pada Subaru. "Maaf ya, Okiya-san, sudah membuatmu ikut menjadi tersangka," ucap Detektif Sato dengan tatapan minta maaf.
"Ah, tidak apa. Itu memang sudah tugas polisi," ucap Subaru sambil tersenyum. "Kalau begitu, apa aku boleh pergi sekarang? Aku harus kembali bekerja," lanjutnya.
"Tentu saja," ucap Detektif Sato.
"Baiklah, kalau begitu sampai jumpa," ucap Subaru masih dengan senyum ramahnya. Kemudian dia mengalihkan perhatiannya pada Detektif Cilik. "Terima kasih ya atas bantuannya," ucapnya.
"Apa kami akan mendapat es krim lagi?" tanya Genta dengan bersemangat.
"Wah, aku harus kembali bekerja sekarang. Tapi kalau kalian mau, aku bisa mentraktir kalian es krim hari minggu besok, bagaimana?" jawab Subaru.
"Yay!" seru Genta, Ayumi dan Mitsuhiko sementara Conan dan Ai tersenyum.
"Kalau begitu, aku pergi dulu. Sampai jumpa," ucap Subaru kemudian dia mengusap kepala Ai sejenak karena kebiasaan dan melangkah pergi sementara Conan menatapnya dengan kening berkerut.
Sementara itu, Detektif Sato yang dari tadi memperhatikan Subaru dan Detektif Cilik dengan senyum di bibirnya membuat Detektif Takagi merasa tidak senang, atau dengan kata lain dia cemburu. Dia pun menghampiri istrinya itu lalu menepuk bahu istrinya.
"Sayang, kalau kulihat dari tadi kau ramah sekali pada Okiya-san?" tanya Detektif Takagi, mencoba berbicara seperti biasa.
"Benarkah? Tapi aku biasa saja," jawab Detektif Sato.
"Tidak, kau tidak biasa saja. Kau bahkan terus memperhatikannya," ucap Detektif Takagi tanpa bisa menyembunyikan nada kesal dalam suaranya.
Detektif Sato pun langsung menoleh pada suaminya itu sambil nyengir.
"Kau cemburu, ya?" tanya Detektif Sato.
"Uh, tentu saja tidak," jawab Detektif Takagi tapi karena Detektif Sato terus nyengir kepadanya akhirnya dia pun mengaku. "Ya, baiklah. Aku memang cemburu," ucap Detektif Takagi sehingga Detektif Sato tertawa.
"Yah, aku memang suka memperhatikan Okiya-san bersama anak-anak itu. Mereka terlihat begitu hangat. Aku ingin sekali melihatmu seperti itu dengan anak-anak kita nanti," ucap Detektif Sato sambil tersenyum tapi kemudian dia menghela nafas. "Tapi sampai sekarang aku belum hamil juga," lanjutnya dengan lesu.
Detektif Takagi pun langsung memegang kedua bahu istrinya.
"Jangan khawatir. Kau pasti akan segera hamil. Kita baru setahun menikah, jadi itu bukan masalah besar, oke?" ucap Detektif Takagi sambil tersenyum menenangkan.
"Ya, kau benar. Terima kasih, Sayang," ucap Detektif Sato sambil tersenyum juga.
Lalu mereka mendengar Inspektur Megure berdehem dengan keras di dekat mereka sehingga Detektif Takagi langsung melepaskan bahu Detektif Sato.
"Kalau kalian sudah selesai, lebih baik kita segera bersiap-siap untuk pergi," ucap Inspektur Megure kemudian dia melangkah pergi sambil menggerutu tentang repotnya punya pasangan suami-istri sebagai anak buah sementara Detektif Takagi dan Detektif Sato hanya nyengir lebar.
XXX
"Suara apa itu?" tanya Subaru ketika dia masuk ke dalam rumah Profesor Agasa.
"Oh, Ai-kun sedang berlatih bermain recorder untuk kelas musiknya di sekolah," jawab Profesor Agasa sambil menutup pintu depan.
Kemudian Subaru dan Profesor Agasa melangkah bersama ke ruang tengah dimana Ai sedang berlatih dengan recordernya. Subaru pun tidak bisa menahan tawa geli yang keluar dari mulutnya ketika dia melihat Ai berusaha keras meniup recordernya dengan benar. Ai sepertinya benar-benar tidak menguasai bidang ini. Ai yang mendengar tawa Subaru langsung berhenti meniup recordernya dan menatap Subaru dengan kesal.
"Kalau begitu, aku berangkat dulu," ucap Profesor Agasa sambil mengangkat kopernya dari lantai. "Jaga dirimu, Ai-kun," ucapnya pada Ai sehingga Ai mengalihkan perhatiannya pada Profesor Agasa.
"Hati-hati di jalan dan semoga sukses dengan presentasimu, Profesor," ucap Ai sambil tersenyum tipis.
Profesor Agasa pun mengangguk sambil tersenyum lebar. Kemudian dia menoleh ke Subaru.
"Terima kasih kau sudah bersedia menjaga Ai-kun. Tolong jaga dia baik-baik ya? Aku pasti akan membawakanmu banyak oleh-oleh," ucap Profesor Agasa.
"Tidak masalah, Profesor. Dan aku tidak sabar menunggu oleh-olehnya," ucap Subaru sambil nyengir.
Profesor Agasa pun menepuk bahu Subaru kemudian melangkah ke pintu depan diikuti Ai dan Subaru. Profesor melambai kepada mereka berdua sebelum menghilang dengan mobil VW-nya. Setelah itu, Subaru dan Ai masuk kembali ke dalam rumah.
Sesampainya di ruang tengah, Ai mengambil recordernya yang dia letakkan di meja dan melangkah pergi sehingga Subaru langsung meraih tangannya.
"Hei, kau mau ke mana?" tanya Subaru.
"Mau berlatih di ruang bawah tanah," jawab Ai sambil mencoba melepaskan tangannya dari genggaman Subaru.
"Kenapa tidak di sini saja? Tidak sopan kan meninggalkan tamu sendirian?" tanya Subaru sambil nyengir dan menolak melepaskan tangan Ai.
"Bagaimana mungkin aku mau berlatih di sini denganmu kalau kau menertawakanku?" jawab Ai dengan tajam.
"Oh, dia benar-benar lucu," pikir Subaru sambil tersenyum lebar.
"Baik, baik, aku tidak akan tertawa. Aku janji," ucap Subaru.
Ai memandang Subaru dengan ragu selama beberapa saat sebelum akhirnya menghela nafas karena dia tahu Subaru pasti tidak akan mau melepaskan tangannya sampai dia bilang iya.
"Baiklah," ucap Ai sehingga Subaru langsung melepaskan tangannya.
Ai pun kembali duduk di sofa dengan buku musiknya terbuka di pangkuannya. Lalu dia kembali memainkan recordernya sambil sesekali melirik Subaru yang duduk di depannya dan memperhatikannya bermain recorder untuk mengecek apakah Subaru tertawa atau tidak ketika dia membuat nada yang sumbang.
Setelah beberapa lama mampu menahan diri, akhirnya Subaru tidak tahan juga dan tertawa karena permainan recorder Ai benar-benar sumbang. Ai pun langsung berhenti dan memandang Subaru dengan marah.
"Maaf, Ai-chan, tapi aku benar-benar tidak tahan," ucap Subaru masih sambil tertawa sehingga Ai semakin marah.
Ai meremas recorder di tangannya lalu melemparnya ke wajah Subaru, tapi Subaru yang refleksnya sangat bagus, menangkap recorder itu dengan sigap sebelum recorder itu mengenai wajahnya.
"Hei, kenapa kau melakukan itu?" tanya Subaru.
Ai tidak menjawab dan hanya menyilangkan tangannya di depan dadanya sambil membuang muka dengan wajah cemberut.
Subaru pun hanya bisa geleng-geleng kepala sambil tersenyum lalu bangkit untuk duduk di sebelah Ai.
"Apa kau mau kuajari? Aku sangat mahir bermain recorder waktu aku masih SD," ucap Subaru dengan nada membujuk agar Ai tidak marah lagi.
Ai hanya diam dan tetap menolak untuk menatap Subaru sehingga Subaru menghela nafas.
"Ai-chan, aku benar-benar minta maaf," ucap Subaru dengan nada memohon.
Ai akhirnya menoleh untuk menatap Subaru.
"Baiklah, ajari aku kalau begitu," ucap Ai sehingga Subaru langsung tersenyum.
"Lihat ya. Aku akan memberimu contoh," ucap Subaru sambil mengambil buku musik Ai dari pangkuan Ai lalu meletakkan buku itu di pangkuannya.
Lalu Subaru pun mulai bermain tapi kemudian dia langsung berhenti sementara Ai menaikkan alis padanya. Subaru memandang recorder Ai dengan bingung kemudian dia mencoba lagi dan langsung berhenti lagi.
"Ai-chan, recordermu tidak rusak kan?" tanya Subaru.
"Tentu saja tidak," jawab Ai.
Subaru pun kembali bermain, tapi tetap saja dia menghasilkan suara sumbang sehingga Ai pun nyengir.
"Jangan bilang kau tadi berbohong soal kau mahir bermain recorder dan sebenarnya kau sama payahnya denganku dalam bermain recorder," ucap Ai.
"Tentu saja tidak," ucap Subaru dengan angkuh.
"Tapi kenyataannya permainanmu sama jeleknya dengan permainanku," ucap Ai sambil menyeringai.
"Recordermu yang rusak, bukan aku yang tidak mahir," ucap Subaru dengan agak kesal sehingga Ai tertawa.
"Sudah jangan banyak alasan. Kalau kau payah, ya mengaku saja," ucap Ai masih sambil tertawa sehingga Subaru bertambah kesal. Ingin sekali rasanya dia menutup mulut Ai agar Ai berhenti tertawa, dengan mulutnya, dan itu membuatnya tersentak.
"Apa yang terjadi denganku? Kenapa aku berpikir seperti itu?" omel Subaru pada dirinya sendiri sambil menggelengkan kepalanya dengan kuat.
Melihat Subaru yang kelihatannya sedang berkonflik dengan dirinya sendiri membuat Ai heran sehingga dia berhenti tertawa. Namun belum sempat dia membuka mulutnya untuk bertanya pada Subaru, bel pintu depan berbunyi.
"Aku akan membukanya," ucap Subaru sambil bangkit dari sofa, masih dengan kening berkerut.
Bersambung...
