Title : Never Say Good Bye Anymore
Genre : Hurt/Comfort, Angst
Length : Chapter 4 (end)
Main Cast : Kim Kibum, Kim Jaejoong
Cast : Kibum, Jaejoong, Yunho, Siwon
Pair : YunJae (till the END)
Warning : YAOI, gaje, hasil remake, typos. Karena alurnya mundur, perhatikan tanda waktunya yah? Hehee
Cinta, luka, pengkhianatan, balasan lara, dan pengorbanan yang terkubur kepalsuan. Harapan yang jauh dari asa yang tengah dirajutnya. Penyesalan mendalam, kala kenyataan menggerus habis kepalsuan yang selama ini memenuhi isi kepala.
Gempita malam kian mencekam. Sambaran halilintar mengantarkan sang malam dalam masa penuaan. Gaduh sang sumber kehidupan tak berhenti berperang. Membasahi apa yang tak terlindungi, menenggelamkan kerikil bebatuan dalam kubang kegelapan.
Hewan malam meringkuk takut. Bersembunyi dari ganasnya amuk sang penguasa jagad raya. Tak ubahnya anak ayam yang membutuhkan perlindungan, tubuh rapuh keduanyapun mengharapkan kehangatan.
Meski nyatanya tak satupun dari mereka yang rela melangkahkan kaki.
Tetap berdiri dalam posisi yang sama seperti sedia kala.
Hingga debam yang menghempas satu dari dua tubuh itu menghancurkan segala kearogansian yang terjamah waktu.
"J-Jaejoong hyuuung!"
Kibum bergegas menghampiri, membantunya berdiri, memapahnya kembali duduk di sofa. Berjongkok di hadapan namja dengan surai panjang yang enggan menatapnya.
"Minum ini hyung…" tuturnya lembut. Memaksa Jaejoong kembali meneguk manis coklat yang mengalirkan hangat dalam benak.
"Tak perlu mencemaskan orang sepertiku… aku tak pantas mendapat belas kasihmu"
"Aku tak mengasihanimu hyung, aku hanya tak mau terjadi sesuatu padamu"
Diam…
Jaejoong memandangnya tak percaya, benarkah apa yang telah di dengarnya? Salahkah pendengarannya? Kim Kibum masih peduli padanya?
Terbuat dari apa hati namja manis ini?
Seketika itu juga gletser panas mengalir membasahi pipi chubbynya. Menebah punggung tangan Kibum yang tak melepas genggamannya.
Lagi…
Lagi…
Dan lagi…
Bak salsabila, sang mata air surga yang mengalir tak ada habisnya.
Kibum meremas lembut jemari itu, memandang dengan binar mata yang tak pernah lelah menunjukkan ketulusannya. Hingga hati itu tak tahan melihat sosok yang sepatutnya ia jaga tersedu seperti itu.
Menenangkan… Dipeluknya Jaejoong dengan rengkuhan lengan rampingnya.
"Hyung… aku tak pernah membencimu, berhentilah menyalahkan dirimu sendiri"
Malam itu, satu mimpi yang sempat memudar dan mati, kembali datang menghampiri. Betapa Jaejoong rela membayar penguasa kegelapan demi terpautnya kembali ikatan manis ini.
"Aku sudah tak selemah dulu Bummie-ya, sekitar satu setengah bulan yang lalu aku telah menjalani pengobatan" jelasnya kala ketenangan itu kembali Jaejoong dapatkan.
Diam sesaat, Kibum sempat menatapnya dalam.
"Hmm… syukurlah kalau begitu…"
"Maaf tak mengabarimu sebelumnya"
"Melihat hyung sehat-sehat saja bagiku sudah cukup"
"L-lalu… maukah kau mempertemukanku dengan Yunho?"
Menghela nafas, Kibum membuang pandangannya begitu saja.
"Besok kau akan menikah hyung, untuk apa menemui mantan kekasihmu?"
"Jika kukatakan satu kenyataan padamu, maukah kau mempertemukanku dengannya?"
"Aku tidak—"
"Aku hamil…"
Tepat saat kalimat singkat itu terlontar dari bibir cherry Jaejoong, kilat yang menyambar pada pekatnya langit malam memutus pasokan udara yang Kibum butuhkan. Tak percaya, seolah apa yang telah didengarnya hanyalah gurauan tak berguna.
Kibum menatap Jaejoong tajam. Meminta penjelasan yang sanggup membuatnya mempercayai omong kosong ini.
"Bukan Siwon ayah dari janin yang kukandung, Yunholah yang menanamnya."
"Yun—ho hyung…" Kibum membelalakkan matanya.
"S-sejak kapan?"
"Aku mengetahui kondisiku ini saat pemeriksaan dua bulan yang lalu. Dua minggu tepat sebelum operasi besar itu kujalani"
"…"
"Ada seseorang yang rela memberikan jantungnya untukku, pihak rumah sakit tak memberikan kejelasan tentang siapa dermawan itu. Bahkan biaya operasi beserta hal-hal yang berkaitan dengan urusan pengobatan kudapatkan begitu saja"
Jaejoong mulai bercerita. Menjelaskan detail pertarungannya dalam hidup dan mati, terlebih satu kenyataan yang membuat takdir seolah benar-benar mempermainkannya. Mengandung benih yang sang mantan kekasih tanam, meskipun Siwon tak mempermasalahkan kenyataan pahit itu, jauh dalam hati, Jaejoong merasa berdosa.
"Saat kami membicarakannya, Siwon berinisiatif untuk segera meminangku. Dia tulus mencintaiku, dan berjanji akan merawat janin yang kukandung ini seperti darah dagingnya sendiri. Aku tak dapat menolaknya, meskipun… Bummie…?"
Dengan satu tangan, Kibum menutup jalur suara miliknya. Terisak tanpa suara, hingga Jaejoong bahkan tak sadar pada tangis namja manis ini.
"Maafkan aku Kibummie… aku tak memikirkan perasaanmu… maaf…"
Berkali-kali mengucap kalimat yang sama, mengutuk kebodohannya yang tak berpikir sebelum bercerita. Lagi-lagi membuat batin namja manis ini merana. Terluka pada jalinan kasih yang tak dapat direguknya.
Kibum menggeleng samar, menepis kedua tangan Jaejoong yang sibuk mengusap derai air mata yang membanjiri wajahnya. Memukul dadanya keras, seolah hendak menghancurkan karang yang bersemayam tenang. Meminta kelonggaran dalam dada sempit yang mencekik hidupnya. Merintih sakit dengan lara hati yang tak tertahan lagi.
Jaejoong semakin ketakutan, melihat dengan mata kepalanya sendiri kesengsaraan yang Kibum lalui. Benteng ketegaran yang susah payah dibangunnya runtuh begitu saja. Menunjukkan sisi kerapuhan yang mati-matian Kibum jaga.
"Kenapa hyung… kenapa kau baru mengatakannya? Kenapa tak kau katakan dari dulu? KENAPA KAU TAK MEMBIARKAN YUNHO HYUNG TAHU TENTANG JANIN YANG ADA DALAM PERUTMU? KENAPA?!"
Beku…
Jaejoong membatu, merasakan hantaman kuat tepat di dada kirinya. Satu rongga dimana terdapat organ lain yang bukan miliknya. Ia sadar, perasaan ini bukan suatu hal yang biasa. Debar kuat yang membuat tubuhnya gemetar dengan diiringi gemelatuk deretan gigi manisnya tak pernah ia alami sebelumnya.
Lalu… kalimat Kibum yang seperti itu…
"K-Kibummie… kau menyembunyikan sesuatu bukan? K-katakan padaku… katakan…"
"Hyuuuung~"
"Kumohon… jangan membuatku semakin gila…"
"Y-Yunho hyung… dia…"
( Flashback )
Masih di musim semi yang sama, tahun yang tak berbeda, dengan wangi khas yang tak terganti. Hijau rerumputan yang menari dengan iringan siul sang awan menjadikan kesan indah kian mendalam. Satu persatu kepak sparrow tertangkap gendang telinga. Berkelebat, membumbung tinggi menyongsong dunianya sendiri. Hingga bingar itu terganti gemerisik ilalang yang saling berbenturan. Mengusik sang penikmat alam tertegun akan merdu gesekan tanaman itu.
"Kurasa aku akan merindukannya"
Dingin kaleng soda dengan wangi strawberry mendiskriminasi kulit pipi. Membuat sosok itu menoleh dengan pias paras yang tak mengurangi ayu wajahnya.
"Pabbo, kau memang akan merindukan indahnya dunia ini hyung"
Terkekeh geli dengan jawaban namja manis itu, Jung Yunho menghempaskan tubuhnya tepat disebelah sang penunggu. Membuka satu dari dua soda kaleng yang tadi digenggamnya.
Hening beberapa saat, namja tampan itu memilih memejamkan kembar onyxnya, menyembunyikan pijar purnama yang kerap membuat lawan mainnya menggelapar tak berdaya.
"Hyung…"
"Hmm…"
"Aku sudah menemui Siwon hyung tadi"
"Lalu… apa yang namja bodoh itu katakan?"
Kim Kibum tersenyum, menyandarkan pelipis kepalanya di bahu lebar lelaki itu. Memandang gores langit yang teramat cantik dimatanya.
"Tidak ada, aku yang memutuskan untuk meninggalkannya. Aku hebat kan hyung?"
"Kibum-ah…"
"Aku tulus hyung… jangan membahas perasaanku lagi"
Diam…
Yunho turut melengkungkan senyuman, menggerakkan lengan dengan poros yang menjadi sandaran manja namja manis itu. Mengusap kepala Kibum lembut.
"Kau akan mendapatkan yang lebih baik dari itu"
"Aku tahu, Siwon hyung akan menyesal karena telah membuangku"
"Tentu saja… dia akan menyesal…"
"Hyung…"
"Hmmm?"
"Tak bisakah kau mengundurnya? Perjanjianmu dengan pihak rumah sakit itu, bukankah terlalu terburu-buru?"
Menghela nafas, Yunho menarik lengannya dari surai lembut Kibum.
"Orang yang membayar mahal ginjalku telah menunggu moment ini sejak berbulan-bulan yang lalu. Kurasa ini memang waktu yang tepat"
Bak anak kucing yang membutuhkan belaian, Kibum menggesekkan kepalanya pada bahu kekar Yunho.
"Aku akan merindukan hangatnya tubuhmu hyung, aku juga akan merindukan kasih yang tak pernah lelah kau berikan"
Terkekeh…
Yunho menarik tega pipi tirus Kibum, mengabaikan pekik kesakitan yang berbaur dengan alunan musik alam.
"Itu bukan pernyataan cinta darimu kan?"
"Hyung pabbo!"
"Hahahahaha…"
Sebal… Bahkan saat hembus nafas yang terlihat baik-baik saja nyaris melampaui masa penghabisannya, yang Kibum lihat hanyalah ketulusan tak terkira. Tanpa keraguan. Tanpa balas pengharapan.
Yang ia tahu, bibir mugilnya turut melolongkan tawa. Mencoba mengabaikan satu kenyataan yang ia sadari tak kan dapat diubahnya.
Saat itu, liuk satu bulu sang burung gereja yang terlepas dari tubuh mungilnya jatuh menghantam lembut sungai kecil di depan keduanya. Menciptakan gelombang cantik sampai riak tenang menghancurkan pesona singkat itu.
Akhir maret, hangat dan indah.
Seoul hospital, halaman taman cantik dengan wangi cherry blossom yang menguar samar. Balutan kemeja biru muda membelit tubuh kekarnya.
Jung Yunho, namja tampan dengan tubuh sehat itu menyandarkan punggungnya di pohon kokoh sang pengumbar harum memabukan. Meraba dada bidangnya, memejamkan mata, merasakan detak yang berdentum stabil dalam rongga itu.
"Hyung…"
Bisikan lembut yang mengalun ragu memaksa pijar kelamnya kembali menoleh, tersenyum hangat sebagai respon bagi namja yang lebih muda darinya.
"Aku akan merindukanmu…"
Kibum menubruk tubuh tegap Yunho tanpa memikirkan tatapan aneh yang tertuju bagi keduanya. Meremas keras punggung berbalut kemeja lembut Yunho. Menyembunyikan paras ayunya di dada bidang namja tampan itu. Tak terisak, meski getar bahu sempit Kibum cukup membuktikan seberapa besar tekanan yang nyaris mencekik hidupnya.
"Kau tahu aku sangat menyayangimu bukan? Terimakasih atas segala kebaikanmu, ingat janjimu padaku, dan aku akan mengawasimu dengan senyum yang tak kan pernah berubah"
"Hyuuung~"
"Sejatinya aku tak akan pernah meninggalkanmu, aku akan hidup dalam balutan raga sosok yang amat kau kenal. Dan seperti yang kukatakan sebelumnya, kau teramat baik untuk terabaikan, Tuhan akan memberikan yang terbaik bagimu Kibummie…"
Basah…
Tetes bening yang mengalir tanpa suara itu menembus sekat pakaian yang Yunho kenakan, ia hanya balas memeluknya, menenangkan sebelum waktu penghabisannya datang.
"Tuan Jung…"
Yunho menoleh, mengangguk singkat pada yeojya berseragam serba putih yang berdiri tak jauh darinya. Seketika itu juga pelukan Kibum mengerat, seakan tak rela membiarkan namja tampan itu mengayunkan langkah.
"Bummie… aku harus pergi"
Kibum menggeleng keras masih dengan paras yang terbenam dalam dada bidang itu, hingga Yunho harus melemparkan senyum masam pada nurse muda yang tak berhenti memperhatikan keduanya.
"Kibum ah… jangan seperti ini"
"Tapi hyung, ini tidak adil… kenapa kau harus… hikss…"
"Jika kau berada dalam posisi yang sama denganku, melihat orang yang kau cintai begitu rapuh dan tak tahu sampai kapan dapat menghirup udara sebersih ini, kaupun akan melakukan hal yang sama sepertiku… bukankah seperti itu, Kibummie?"
Menunduk, tanpa menjawabpun, Kibum sadar namja tampan dihadapannya ini tahu apa yang tengah berada dalam kepalanya. Perlahan lengan ramping yang membelengu erat punggung lebar Yunho merenggang, terkulai lemah ditiap sisi tubuhnya.
Dan saat tautan mereka sepenuhnya terlepas, Yunho memajukan wajahnya. Menjatuhkan satu kecupan sayang tepat di kening namja manis itu.
"Aku menyayangimu…"
Dan dengan bisikan lirih itu, Yunho melangkah pergi. Hingga satu tarikan lembut kembali menghentikan langkahnya.
"Adakah yang ingin hyung katakan pada Jaejoong hyung?"
Tertegun sesaat, Yunho hanya melempar senyum tipis. "Aku ingin dia melupakanku, dan jika dia masih mengingatku, aku hanya berharap dia mengingat segala kebusukanku. Justru aku ingin meninggalkan pesan untukmu, Kibummie. Kau harus tahu, jika cinta itu mati kau tak harus ikut mati bersamanya. Satu lagi, buang abuku di lautan lepas, biarkan angin membawaku pergi. Aku tak mau melihat orang lain menangisi liang lahatku. Selamat tinggal…"
Cherry blossom dengan kelopak pucat dan harum samar yang menaungi keduanya mengantar kepergian Yunho. Berjatuhan tiap jenjang kaki namja tampan itu menapak kulit bumi. Alam seolah berbisik padanya, melantunkan melodi syahdu dalam detak yang masih ada dalam dada.
Kibum tak beranjak, masih menatap lekat punggung tegar lelaki itu. Cerah sang cakrawala hanyalah kelam baginya, memburai semerbak kemenyan fana. Menenggelamkan diri dalam rentetan kelam cerita cinta.
Kibum sadar,
Luka…
Derita…
Sengsara…
Tak ada sakit melebihi apa yang Yunho rasa, dan pengorbanannya yang hanya tertutup benteng tebal kepalsuan menjadikannya tampak tak berharga.
( End of Flashback )
Genggaman tangan Kibum mengerat, masih dengan kepala tertunduk, tak menghiraukan ubin kayu yang ia pijak nyaris menghanyutkan dirinya dalam genangan air mata. Tak berani melihatnya, tak ingin lubang yang menganga dalam dada kian menggerogoti hidupnya.
Sesak itu kini jauh lebih tak terkira. Kala tangis yang menggema dalam ruang sempit ini tak hanya berasal darinya.
Si pemilik paras cantik, Kim Jaejoong, hanya meratapi kebodohannya. Meraung dengan pekik yang menghunus tajamnya parang tepat dalam organ vital siapapun yang mendengarnya. Menghindar dari belenggu hangat yang siap menamengi kerapuhannya. Hanya menangis, memaksa raga miliknya bekerja memproduksi bulir permata.
Luapan emosi, menghancurkan kenyataan palsu yang belakangan ini ia percayai.
Kini Zeuspun tak berani mengganggunya, menyerahkan malam yang tersisa terisi jerit yang menguasai angkasa. Mengiring kepak sayap kelelawar menjauhi pondok mungil itu. Melepasnya. Membiarkan kesenyapan mengurangi beban yang mengubur hidup-hidup jiwa miliknya.
"Hyuung~"
"LEPASKAN AKU! KENAPA KAU BUNGKAM PADA KENYATAAN ITU?! KAU TAHU TAPI KAU MEMBISU! KAU— DAN YUNHO JUGA… KALIAN SAMA SAJA!"
"Jae hyung… maaf… maafkan aku… maaf… maaf… "
"LEPAAASSS!"
Tidak!
Kibum tak memberinya kesempatan untuk berontak. Hanya dengan pelukan ini, kehangatan satu-satunya yang Kibum miliki, ia dapat menyalurkan asa yang nyaris tak tersisa.
"Kalian membuatku tampak begitu bodoh. Apa kalian puas? Hanya karena penyakit sialan itu… kalian harus— hikss… Yunho… Yunho… Yunhoooo… dasar idiot! Dia memang idiot, si idiot yang pantas pergi, si idiot yang tak pantas bersanding denganku… si idiot— hukss…Yunhooooo~"
Jantung lemah, Jaejoong menderita penyakit mematikan itu sejak lama. Bahkan jauh sebelum Yunho mengenalnya. Kondisi tubuh yang kian hari melemah, satu hal yang bisa menyelamatkannya hanyalah operasi pencangkokan jantung. Biaya yang tak murah, dan antrian guna mendapatkan donor jantung bukanlah hal sepele. Selalu menguatkan batinnya, dengan semangat yang segenap hati ia punya. Jung Yunho, satu dari sosok yang menjadi alasannya bertahan sekian lama. Meski ia hanya menjadi benalu bagi namja tampan itu, mengais kasih yang terlimpah baginya.
Hingga segalanya memburuk, pengkhianatan, dan balas dari lara yang Jaejoong rasa. Tanpa tahu kenyataan yang tersembunyi selama ini.
Pengorbanan Yunho yang tak terkira melampaui nalar manusia biasa. Rela menjual satu organ vitalnya hanya untuk membiayai pengobatan sosok yang teramat penting dalam hidupnya. Bahkan tulus menyerahkan nyawa, saat apa yang tampak dihadapannya serasa tak sanggup hati itu terima.
Pengkhianatan yang jauh lebih menyakitkan!
Dasar pemikiran itu tiba-tiba memberondong isi kepala namja cantik ini. Seandainya saja ia mau mempercayainya, tak menerima cinta yang hadir padanya, Yunho tak kan sampai hati melontarkan kata perpisahan yang telah terjadi. Namja tampan itu pasti masih ada di dekatnya, dan dapat ia rasa keberadaannya.
Kini meski darah segar menggantikan air mata yang merembes di sela bulu matanya, Yunho tak kan pernah kembali menjejak dunia. Dan detak ini, debar yang membuat sang pemuja rela menjual jiwanya, seakan mematahkan separuh sayap yang tersisa.
Sang peri yang tak sanggup terbang lagi, sang peri yang telah dibutakan emosi.
Dia tak dapat memejamkan mata, terjaga sampai pagi muda kembali menyapanya. Masih berada di tempat yang sama, terdiam di atas ranjang memeluk lutut seerat yang ia bisa. Tak ada lagi pekik kencang yang sanggup menggulingkan penguasa malam, sedu sedan yang merajam kebahagiaan, dan getar tajam berselimut kesengsaraan.
Ia hanya meremas dada, memejamkan mata, merasakan perih yang tertinggal disana. Sesekali ekor matanya melirik hal lain, sosok manis dengan mata terpejam yang terbaring disisinya. Bersikeras mempertahankan tautan keduanya.
Pelan, Jaejoong menyingkirkan jemari Kibum yang membelit jari-jarinya. Diusapnya kening namja manis itu dengan gerakan hati-hati.
Lihat bagaimana paras manis itu saat ini, sama berantakannya dengan apa yang terjadi pada namja cantik ini.
"Maafkan aku Kibummie… aku menyayangimu, selalu…" bisiknya lirih sebelum ia menghilang ditelan malam.
Wangi khas mawar putih yang mendominasi tak mengurangi debar sesak yang menghimpit hati. Denting piano yang tak lagi menggema dalam ruangan itu seakan memutus harapan semu.
Bisikan was-was, tatapan tak mengerti, penjelasan yang dikehendaki, dan getar samar yang ia alami, cukup menjadikan moment yang seharusnya sakral itu tertimbun duri dalam nadi.
Dengan tubuh tegap, dia berdiri di atas altar. Meremas jari-jari panjangnya. Menatap penuh harap pintu utama gereja yang menjeblak lebar tanpa sosok yang tengah dinantinya. Menenangkan diri, mengumpulkan asa yang dimiliki. Meski kecemasan, kegelisahan, dan harap penantian begitu tampak dari raut wajah tampannya.
Ragu, bulir keringat yang keluar dari pori-pori kulit wajah itu menebah lantai suci yang dipijaknya. Menunduk malu, kala pastor yang berdiri di hadapannya turut mengharap kejelasan.
Kim Kibum, satu dari puluhan pasang mata yang menanti terpautnya ikatan suci sosok ini meremas gusar punggung tangannya. Memandang pintu pengharapan itu. Seakan berada dalam posisi yang sama, kegundahan itu turut dirasakannya. Menjalar kuat dalam dada, meremas titik penting yang kerap merasakan pahitnya dunia. Bak merenda lara yang tercipta, luka yang terasa kian menganga, kala mata elang yang mempesona itu melelehkan bulir permata. Jatuh begitu saja, tanpa mau tahu tatapan mata yang tertuju padanya.
Kibum tak tahan, saat sosok yang masih dicintainya gemetar sendirian di depan matanya. Menutup bibir tipisnya dengan lengan yang terbalut jas hitam kebanggaan. Yang Kibum tahu, ia mulai melangkah maju, meremas bahu namja tampan itu.
Dalam sekejap, kedua pasang mata mereka saling bertemu. Mencipta dimensi tersendiri yang tak terjangkau sosok semu.
Berdua, dalam batas alam yang tak terkira. Lelaki tampan itu, Choi Siwon, tersedu tanpa malu. Mengubur harga diri yang dimiliki. Menjatuhkan tubuh tegapnya dalam dekap sosok manis ini.
"Aku kurang apa Kibummie… kenapa dia tidak datang? Kenapa dia meninggalkanku? Kurang pantaskah aku untuknya? Aku mencintainya, sangat mencintainya. Aku tulus padanya… aku tulus menerima dia apa adanya. Kenapa… kenapa dia tega sekali…"
"Maafkan aku hyung… maaf…"
Tangis itu tak tertahan. Bak dejavu yang kembali membelenggu. Larut dalam dekap hangat berselimut kebisuan yang membekap lajur pengharapan.
Dengan lilitan baju hangat yang membungkus tubuhnya, Kim Jaejoong menyusuri tepi pantai seorang diri. Merasakan hangat mentari yang menyinari bumi. Gores senja diatas sana menghipnotis manik mata itu akan pesona indahnya.
Tak lelah, tak bosan, meski dari pagi ia menikmati keindahan ini.
Melangkah pasti, menenggelamkan diri dalam riak asin sampai mata kaki. Tersapu ombak pantai yang bergelung lembut. Memejamkan mata, menengadah dalam udara yang dibutuhkannya. Menggenggam segumpal keputusan yang telah dipilihnya.
Keyakinan nyata terpancar dari manik bintangnya. Tersenyum lembut, tanpa beban, meski puing yang tersisa dalam dada tak sepenuhnya terlupa.
"JUNG YUNHO PABBOO! IDIOOOT!" pekiknya kencang. Memecah udara dalam kepalan tangannya. Mengenggam erat keputusan yang tak lagi berada disana. Hanya ruang kosong.
Menarik nafas panjang, Jaejoong menutup kelopak mata. Memindahkan jemari yang menengadah tepat di dadanya. Menenangkan genderam keras yang menggempur kewarasannya.
"Aku mencintaimu… sangat mencintaimu…" seakan angin pantai mengerti bisikan lirih itu, debur ombak mengubur kepak camar dalam senja cakrawala.
Remasan lembut di perutnya yang masih rata seolah menjadikan satu kekuatan tersendiri yang menguatkan hati.
"Aku akan menjaganya, merawat buah hati kita dengan segenap cinta yang kupunya. Tak akan ada sosok lain selain kita bertiga dalam hidupku yang tersisa. Kau menginginkan kebahagiaanku, maka inilah keputusanku. Lihat dan percayai aku, tersenyumlah layaknya malam yang senantiasa menyelimutiku. Tunggu aku, sampai Tuhan menjadikan kita satu"
Keputusan itu, dan penantian yang telah diikrarkannya menjadikan janji suci tersendiri yang menghubungkan jalan kebersamaan mereka di keabadian dunia.
END!
Gomawo buat dukungan readers selama ini *deepbow. Saat saya ngetik FF ini, saya teringat salah satu temen yang meninggal di bangku SMA karena penyakit yang sama seperti apa yang ada si jalan cerita. Kurasa memang dari situlah inspirasi itu muncul.
Aista vangelia : seperti inilah endingnya. Ga ada cast tambahan macem Kyu & Hae, mian jika mengecewakan *bow. Gomawo buat reviewnya^^
Rivisofayy : Mira W? Agness Jessica? Hmm… jujur saya tidak tahu siapa mereka. Saya lebih tahu sosok macam Masashi Kishimoto, Nakamura Shungiku, Zaou Taishi, dll. Karena saya tipe orang yang ga bisa ngabisin waktu berjam-jam dengan membaca cerita tanpa gambar *plak* bahkan seingatku, satu-satunya novel yang saya baca tuh ayat-ayat cinta. Itupun ga semua lembar kertas saya baca *plaaaak* justru tokoh semacam Edgar Allan Poe, Kahlil Gibran, dan Chairil Anwarlah yang saya tahu. Jadi bisa dibilang gaya bahasa saya terpengaruh dengan karya-karya mereka. Dan entah ini kebetulan atau tidak, banyak yang bilang kalo saya puitis. Padahal enggak lhoooh, tinggal melihat genre apa yang saya bawa. Perbedaannya akan terlihat jelas. Ga lucu kan kalo genrenya romance humor pakai diksi macam ini. Kekekekeke. Lain kali saat aku publish FF dg genre lain, chingu akan tahu apa maksudku. Jeongmal gomawo buat reviewnya, review lagi ne? *ngareep*
Yukishima7 : hehehehe… chingu terlalu melebih-lebihkan. Diksi yang saya pakai emg rada beda ama FF buatan saya yang lain. Soalnya di FF ini emg saya totalin buat nyampein segala macam perasaan main cast, yang pasti mah tergantung genre yang saya pakai sih… kalo selain angst saya gunain gaya bahasa yang biasa saja. Gomawo buat reviewnya^^, review lagi ne?
Shim Yeonhae : Mianhee jika chara Kibum disini ga seperti apa yang chingu mau, Kibum emang dibuat semelas mungkin sih *dilempar*. Diakan cast utama. Gomawo buat reviewnya *bow*
Nara-chan : boleh deh panggil Zhii-chan. Berasa manis gitu *plaak*. Nara-chan nangis? Pesannya sampe ke hati dong. Kekekeke… gmn dengan part terakhir ini? Masih nyesek nggak? Kalo masih mah saya seneng banget, biar pas ama genre gitu *ngajakin perang*. Sudah tahu kan Jae eonnie sakit apa? Ini emg sudah END, lain kali saya mau remake lagi dengan cast Sibum. Baca lagi yaaa… *puppy eyes* Gomawo buat reviewnya, review lagi yaa? Oh ya… tissunya ga sampe, jalanan macet. Wkwkwkwkwk…
Snowhite04 : hehehe… Siwon disini emg nyebellin, tapi di ff remake lainnya enggak kok. Jangan benci Wonpaaa~ *peluk*. Gomawo buat review chingu *deepbow*
Yolyol : sampai sejauh ini, kurasa prediksi chingu yang paling bener. Yunpa emang sudah meninggal, alur cerita mundur, dan itulah alasan Kibum kenapa ga mau nemuin Jae ama Yunpa. Gomawo buat reviewnya ^^
Zelenvi : eehhh? Ada kata Jaejin? OMG! Kurasa saya yang gak nyadar, ini emg FF hasil remake dari FF saya sendiri. Dengan main cast anak-anak FT Island, saya adalah Primadonna *buka kartu* Gomawo sudah diingetin, meskipun sampe sekarang saya ga tahu tuh kata ada dimana *plak* Dan thanks juga buat reviewnya *bow*
HarunoZuka : diksi bisa bikin jalan cerita serasa nyata, haha… itu kata-kata author fave saya. Gomawo deh, padahal saya masih amatiran. Menurutku sih ini happy ending, buktinya Jae yang memilih untuk setia dengan Yunho *plak* Thanks juga buat reviewnya *deepbow*
Vivii-ken : Yunpa emg ga ngecewain Kibum, meskipun dia memilih kematian untuk menyelamatkan Jaejoong. Yah… kurasa chara macam Kibum disini sangat sulit dijumpai didunia nyata, kalo aku jadi dia, kurasa Siwon ama Jae juga gak akan hidup tenang *high five bareng Kyu* Thanks buat reviewnya, review lagi ne?
Cho97 : disini Siwon sudah mendapatkan balasannya bukan? Ditinggalkan saat hari pernikahan itu menyedihkan, kurasa ga ada yang lebih buruk dari itu *ikutan sebel* *dilempar Wonpa kejurang*. Nama fb? Haduuww… berasa jadi artis *plak* senaluvjongki .id itu alamat fb-ku^^ thanks ne buat review chingu, review lagi yaa?
HaerinAhn : disini yang paling nyesek emang uri Kibummi sih, dia kan tokoh utama *tepokin bahu Bummie* tapi Jae eonni ga kalah nyesek juga. Gomawo buat reviewnya, review lagi ne?
Meirah.1111 : hahahahaha… chingu bawa2 pat kai, jadi keinget ama tuh orang *gulingguling* kalo beneran nyesek mah berarti pesan dalam tiap kata itu sampe ke hati chingu, duuuh senengnyaaa *plaaaak* gomawo buat reviewnya, review lagi ne?
Wonniebummie : Yunpa jual ginjalnya ama orang xxxx yang ga saya sebutin disini, biarlah itu jadi misteri *dihajar* uang dari jual ginjal itu buat biaya RS Jae eonnie, terus jantung Yunpa sendiri buat gantiin jantung Jae yang ga sehat. Sebenernya Yunpa juga ga ada pemikiran kesitu, tapi pas tahu Jae selingkuh, dia jadi mutusin buat donorin jantungnya. Toh Siwon bakal jaga Jaejoong. Tapi ternyata apa yang dipikirin Yunpa ga berakhir sesuai dengan bayangannya (Kibum buka kartu). Seperti itulah kisahnya, gomawo buat review chingu. Review lagi ne?
Guest : hehehe… ini sudah lanjut^^ Thanks udah ninggalin jejak *bow*
DewiDestriaPutri : tata bahasa seperti ini sangat jarang saya pakai, tergantung dari genre yang saya bawa sih. Kalo nyesek-nyesek mah baru pakai gaya bahasa yang ga semua orang paham *pundung* tapi syukurlah, chingu bisa paham *elusdada*. Ga ada pairing YunBum (?) aneh banget rasanya, kekekekeke… saya kan suka yang happy ending (versi saya) *plaaaak*. Thanks buat reviewnya, review lagi ne?
Jeongmal gomawo buat semua yang sudah mampir kesini, chaptered pertama saya akhirnya berakhir juga. Saya bakal publish remake chaptered lainnya deh *halaaahhhh.
Sampai jumpaaaa^^
