Some Secrets

Summary

Do Kyungsoo. Seseorang yang paling bahagia hidupnya, sebelum ia kehilangan noona tersayangnya. New York, mempertemukan ia pada seseorang yang mampu menyembuhkan keterpurukannya. Tapi, siapakah Kim Jongin?

Rate : T -M

Cast : KAISOO

Genre : Romance, Hurt

YAOI, Boys Love

Don't Like, Don't Read

Happy Reading

[PREVIOUS]

Entahlah, hari ini kami banyak bertukar pandang saat sedang bekerja, dan Kyungsoo selalu melemparkan senyum yang sangat manis padaku, sungguh, aku dan Kyungsoo seperti sepasang kekasih yang baru jadian, NGAREP YE.

"Annyeonghasseyo" ucap Kyungsoo menyambut pelanggan yang baru masuk. Aku tersenyum melihatnya.

"O? Insungie hyung?" Kyungsoo membelalakan matanya dan langsung menghampiri pria yang baru saja datang.

Oh Tuhan! Mereka bahkan saling berpelukan. Aku membanting handuk kecil yang ada ditanganku. Aku melihatnya dari sudut dapur, kemudian meneriakinya,

"KYUNGSOO-YAA! LANJUTKAN PEKERJAANMU!"

.

.

Some Secrets

.

.

Ish, dia kenapa sih harus teriak teriak begitu, batinku kesal.

"Hyung? Hm, besok kita bisa bertemu lagi?" Tanyaku pada insungie hyung yang... baru saja beberapa menit sampai ditoko ini.

"Ya kyung, besok kita bertemu lagi saja. Tapi, bisa kah kita bertemu di echo cafe? nanti aku kirimkan alamatnya padamu. Mana nomor handphone mu?"

"YAAA KYUNGSOO-YAAA!"

Jongin berteriak lagi. Ah! Sungguh menyebalkan. "aish kim Jongin" aku menggerutu sendiri. " Hyung, masukkan saja nomormu ke handphoneku" ucapku buru-buru sambil melemparkan handphoneku keatas meja dan meninggalkan insungie hyung sendirian untuk segera menemui Jongin didapur.

"Wae?" tanyaku dengan ketus.

Jongin tersenyum ke arahku.

"Kau... hmm.. apa kau lapar?" Michyeosoooo! Memanggilku hanya untuk menanyakan itu? Berteriak - teriak untuk sesuatu yang kukira sangat penting. batinku kesal.

"Sebentar lagi jam pulang. aku makan dirumah saja"

"Kita makan diluar saja kyung?"

"Kau saja sendiri" Aku membalikkan badanku kesal, lebih baik aku menemui Insungie hyung saja daripada menanggapi pria ini. Tapi Jongin buru buru menarik tanganku.

"Kau mau kemana?" Aku terdiam sambil menatap mata Jongin dengan wajah yang malas.

"Bukan urusanmu" aku melepaskan tangan Jongin dan bergegas keluar lagi menemui Insungie hyung.

.

.

.

Daebak! Insungie Hyung sekarang adalah seorang pengacara? Apa Tuhan sudah merencanakan semuanya? Tentu saja! Aku merasakan rencana Tuhan sekarang. Hyung bahkan datang ke Amerika untuk berlibur? Dan menyelesaikan pekerjaannya disini. Aku bahkan terkagum mengetahui bahwa Hyung sudah menyelesaikan kasus di berbagai negara, jinjja daebakkk! Pria pujaanku selama ini sudah se-sukses itu ya sekarang?

"Jongin-aah, besok aku tidak pulang bersamamu, ya?" ucapku saat baru saja mau menaiki motor Jongin.

"wae?"

"aku janjian bertemu dengan temanku yang tadi datang"

"teman?"

"memang harusnya apa?"

"ani, lupakan."

Aku terdiam sejenak mencoba memahami perkataan Jongin barusan,

"sooo... otte?" aku bertanya lagi dengan pelan.

"aku antar kau bertemu dengannya"

Aku menghela nafasku. Haruskah Jongin terus mengikutiku begini?

"apa kau tidak lelah mengikutiku terus?" aku bertanya pelan dengan ragu.

Jongin hanya diam, ia tak menajawab sedikitpun. Apa mungkin ia tidak mendengar karena sedang membawa motor? Entahlah, Jongin tetap diam saja bahkan sampai kita tiba didepan rumahku.

Aku turun dari motornya kemudian berdiri disampingnya untuk sekedar memastikan apakah besok dia benar jadi ikut mengantarku. Tapi, baru saja aku mau bicara, Jongin menarik tubuhku dan memelukku.

"Jongin-aah..."

Aku tersentak kaget, tapi tak sedikitpun memberontak. Ia terus memelukku tanpa bersuara,

"Jongin-aah... wae?"

aku mencoba melepaskan tubuhku dari pelukkannya, tapi Jongin menahan tubuhku dan semakin memelukku dengan erat,

"Aku tidak akan pernah lelah mengikutimu, Kyung"

Aku sedikit terkejut, rupanya tadi dia mendengar pertanyaanku?

Jongin menyembunyikan wajahnya diceruk leherku. Aku bingung, sungguh bingung. Apa Jongin seorang gay sepertiku? Apa maksud kata-katanya barusan?

"apa maksudmu, Jongin-aah?"

Jongin melepaskan pelukkannya kemudian menatap mataku. Ia menarik kedua tanganku dan menggenggamnya dengan erat,

"aku menyukaimu... sungguh menyukaimu"

"jongin-aah..."

"hm?" Jongin masih menggenggam erat tanganku.

"Kumohon jangan seperti ini" aku berucap ragu, dan bisa kulihat raut wajahnya mulai berubah semakin pilu,

"mianhae, tapi... aku tidak tahu siapa dirimu. Kau tidak tahu bagaimana latar belakang kehidupanku, dan aku sungguh trauma. Aku sulit mempercayai orang lain Jongin-ssii..."

Jongin menundukkan kepalanya dan mengusak rambutnya kasar sebentar sebelum akhirnya ia menoleh lagi menatapku dan bertanya padaku,

"Apa kau tidak menyukaiku?"

"ani... bukan begitu... hanya saja..."

"Baiklah, aku sudah mendapat jawabannya" Jongin memutus perkataanku,

"mwo? jawaban apa?"

"ani..." Jongin senyum-senyum sendiri, dan berhasil membuatku bingung setengah mati, tapi aku pikir, dia juga tahu kalau aku memang menyukainya juga,

Jongin turun dari motornya kemudian berdiri dihadapanku, dekat, sungguh dekat dengan tubuhku.

"wae? mau apa?" aku memundurkan tubuhku, tapi Jongin hanya tersenyum.

"diam kyung, berhenti sampai disitu" Jongin menghentikan langkahku, dan aku bisa lihat kini Jongin bergegas jalan menuju ke arahku lagi.

"cukup diam saja. aku yang akan berjuang untukmu, dan aku yang akan berjalan menuju ke arahmu. Aku tidak memaksamu, Kyung. Tapi aku akan berusaha menggapaimu."

Sungguh, perkataan Jongin barusan membuatku hampir meneteskan airmata, padahal, apa sulitnya untuk mengatakan 'aku juga menyukaimu'? Hati dan pikiranku bertengkar, aku selalu takut mencintai orang lain sejak kepergian noona, sungguh, aku benar-benar trauma.


KEESOKAN HARINYA

.

.

.

Pagi ini rasanya aku ingin berangkat sendirian ke kampus, aku merasa tidak enak pada Jongin karena kejadian semalam. Tapi Jongin tidak mau tahu, ia memintaku untuk bersikap biasa saja padanya walaupun aku menolaknya, bukan menolak, sih, aku hanya butuh waktu saja. Karena, aku sungguh trauma.

"Kau seperti menghindariku?" Tanya Jongin saat aku baru saja turun dari motornya sesampainya kami dikampus.

"eoh? ani" aku kemudian buru buru berjalan mendahuluinya menuju kelas. Jongin hanya terkekeh melihatku, apa yang salah denganku? Apa aku terlihat seperti orang yang salah tingkah?

"Kyung?" Jongin memanggilku sambil tertawa, aku terus berjalan menjauhi Jongin karena dia malah mengejarku sekarang, tapi memang benar, entah kenapa sejak semalam ia mengatakan bahwa ia menyukaiku, jantungku semakin berdebar saja didekatnya.

Aku terus teringat bagaimana cara Jongin mengumpamakan perasaannya semalam, sesekali aku tersenyum hingga membuat sang dosen melempar pertanyaan ke arahku.

"OH? Yes sir? Me?" aku membelalakkan mataku ke arah dosen yang tiba-tiba saja memanggilku.

"Yes, what do you think?"

"hm i think... love is how u struggle to reach the person u love"

"LOVE?"

"O?" Aku tersentak kaget menyadari apa yang baru saja aku katakan.

"Apa arti dari seni, Kyung" Jongin berbisik ditelingaku.

"mwo?" aku membalas bisikkan Jongin, "aha..ha..ha..ha yes i mean that art is like love. art is the way person show his feeling to make other people happy, right? yeah, hahaha, i think so" aku sedikit tertawa dengan terpaksa karena malu, bisa-bisanya aku menyebut pengertian cinta? AH BABO! SUNGGUHHH! INI MEMALUKAN.

Jongin terkekeh mendengar jawabanku, walaupun dosen mengangguk benar, setidaknya aku belajar pengertian seni sejak SD, hanya saja, kenapa aku harus menjelaskan apa itu cinta,pffffttt...

"Kyung? Kau pintar juga, ya" Jongin terkekeh saat tengah berjalan disampingku.

"Jangan mengejekku."

"Ani, walaupun kau sedang melamun, kau bisa juga menjelaskan pengertian seni."

"Aku belajar seni sejak SD tau"

"tapi kau menjelaskannya dengan perumpamaan cinta. apa kau sedang jatuh cinta?" Jongin menghalangi jalanku karena kini ia sudah berdiri didepanku sambil mememiringkan wajahnya agar sejajar dengan wajahku, tepat didepan wajahku, Jongin tersenyum sangat manis.

"YAAA!" aku menyingkirkan tubuhnya dan berlari mendahuluinya, aku tau wajahku sudah memerah saat wajahnya ada didepan wajahku, dan aku hampir salah tingkah lagi dibuatnya.

"HEY KYUNGSOO~~ KAU SALAH TINGKAH YA?" Kai terkekeh meneriakiku dari jauh.

.

.

.

.

.

.

Jongin ternyata tidak bercanda, dia sungguh-sungguh mengantarku bertemu dengan Insungie Hyung malam ini.

Suasana cafe di tengah pusat kota New York ternyata lebih mirip dengan bar di Korea, kenapa mereka menyebutnya cafe? Ah! Sungguh pencitraan.

"Jongin-ssi, kau bisa duduk disana, kan?" pintaku sambil menunjuk kursi yang 'agak' jauh dari tempatku. Jongin mengangguk dan menuruti permintaanku.

Aku berjalan menuju tempat Insungie hyung berada,

"annyeong hyung"

"eoh Kyungsoo? Kau sudah daritadi?"

"ani, aku baru sampai, kok, heheh" jawabku sambil mendudukkan tubuhku disamping hyung.

Insungie hyung ikut tersenyum ke arahku,

"jadi... bagaimana? kau mau melanjutkan kasusnya bersamaku?"

Aku diam sejenak untuk memantapkan tekadku melanjutkan kasus noona bersama Insungie hyung, iya, mengetahui bahwa Hyung adalah pengacara, maka aku tidak sungkan lagi menceritakan masalahku padanya, lagipula, memang siapa lagi tempat ternyaman yang bisa aku jadikan tempat curhat kalo bukan dia.

"Liburan musim panas, pulanglah bersamaku untuk menyelidiki kasus ini dikorea, Kyung. Bagaimana?"

"Good idea! Doakan aku supaya uangku sudah terkumpul nanti, ne?"

"Tidak usah memikirkan itu, Kyung. Kau bisa andalkan aku sekarang, hehehe"

"Ani, hyung... aku sudah besar, sudah seharusnya aku menanggung hidupku sendiri, kan?"

"Kyung? bilang padaku kalau butuh apa-apa, ya? Jangan sungkan. Di negeri luar seperti ini siapa lagi yang bisa kau andalkan kalo bukan teman setanah air, kan?"

"YUP! Gomawo" ucapku sambil tersenyum ke arahnya. Entahlah, mungkin memang aku sudah tidak ada perasaan lagi dengan Insungie hyung, tapi, entah kenapa aku selalu merasa nyaman didekatnya.

"Hyung, Kupikir aku tidak bisa berlama-lama. Ini data yang sedikitnya aku punya. Aku tahu ini tidak akan bisa membuktikan apa-apa, tapi aku janji untuk segera menyeldikinya diKorea bersamamu, hyung" Aku menyodorkan beberapa dokumen ke arahnya.

"eoh? Tentu saja hal-hal kecil itu sangat membantu Kyung dalam suatu penyelidikan. Ne! Aku juga ada janji lagi dengan seseorang"

"Eish sibuk sekali~~ ternyata sepertinya hyung yang akan pulang duluan"

Insungie Hyung tertawa dan mengusap pelan rambutku,

"Heheheh semangatttt penguin kecilllll, kau pasti bisa melalui semua ini. hubungi hyung kalau ada apa-apa, ne?"

Aku hanya tersenyum ke arahnya yang sudah harus bergegas pergi lagi. Aku menatapnya sampai hilang dari pandanganku.

Aku buru-buru bangkit dari kursiku untuk menghampiri Jongin, tapi...

"wohoo! there's korean here? So cute~~~" dua pria asing—berbadan tinggi dan berotot—menghampiriku dan mulai mencolek dagu ku.

"Hey, u r so beautiful. are u gay?" panggil salah satu—dari pria asing terebut—dan semakin mendekati tubuhku.

"sorry sir, im a student"

"who care? so lets make threesome with us!" Aku merasa tubuhku terhimpit ketembok oleh pria tersebut, dan aku mulai ketakutan.

"jongin-aahhhh...hiksss" Aku terisak saat tubuhku terkunci oleh dua tubuh tegap pria asing tersebut,bahkan tangan pria tersebut sudah mulai meraba dada ku. Aku tahu, aku sungguh lemah, bahkan aku tak mampu lagi melarikan diri,aku terus memanggil nama Jongin walaupun aku tahu suara bar selalu mampu meredam suara siapa saja yang berteriak, dan Jongin.. tak akan mendengarnya.

"YAAA!"

Aku bisa melihat tubuh kedua pria tadi tertarik kebelakang menjauhiku, Jongin datang menyingkirkan dua tubuh pria besar—yang sedari tadi menghimpit tubuhku, Jongin melihat ke arahku yang sudah terisak, aku mencoba untuk menutupi dada ku dengan kedua tanganku—tapi tetep saja, tubuhku sudah diraba penuh oleh kedua pria tersebut.

"gwaenchana?"

Jongin mendekap tubuh lemahku yang bergetar, aku terus terisak karena ketakutan.

"Hey man! who are you?"

"Sorry, he is my boyfriend. Im a gay, like you two, so lets respect each other, guys. You can find another man to have fun, except him, cause he's mine"

Jongin membangunkan tubuhku dengan santai dan mencoba akrab dengan dua pria tadi,

"Oke? Bye guys!" Jongin melambaikan tangannya dan tersenyum untuk segera meninggalkan dua pria asing tadi. Tapi, baru saja aku dan Jongin melewati tubuh dua pria tersebut, salah satu dari mereka, menarik tangan Jongin dan menonjok bagian kanan pipinya,

"HEY YOU SON OF A BITCH! HE WILL GET HAVE FUN WITH US, NOT WITH YOU!"

BUAKKKKK!

Sekali lagi, Jongin mendapat tonjokkan diwajahnya hingga membuat pipinya mengeluarkan darah. Jongin tersungkur dilantai dan aku yang terkejut? tidak tahu harus berbuat apa, aku hanya bisa menangis. Dengan segera, kuhampiri tubuh Jongin dilantai, baru saja aku mau mengelus pipi Jongin, tanganku ditarik lagi oleh pria asing tersebut. Melihat itu, Jongin buru-buru membangunkan tubuhnya dan membalas tonjokkan yang sudah ia terima.

BUAKKKKK!

"HE'S MINE! HE'S MINE!" aku bisa mendengar Jongin terus mengatakan hal itu dengan tatapan nanar disetiap pukulan yang ia berikan,

Jongin menghabisi dua pria asing itu sekaligus, memukul dan menonjoknya secara binal, tiada henti, hingga kedua pria tersebut terduduk dilantai memegangi bagian wajah mereka yang berdarah. Jongin berdiri dan menggenggam tanganku yang tengah ketakutan, ia menatap tajam kedua pria tersebut sebelum akhirnya kami mendengar keributan bahwa polisi akan segera datang. Jongin menarik tanganku dan membawa tubuh ku berlari keluar tempat tersebut. Aku sungguh tidak tahu lagi apa yang sebenarnya sedang terjadi padaku, aku mengikuti kemana Jongin membawaku, Jongin menggenggam tanganku dengan erat walaupun kami sedang berlari kencang, hingga akhirnya kami bersembunyi dibelakang cafe, duduk dan bersandar di temboknya.

Jongin menatap wajahku yang terengah-engah, kemudian aku meneteskan airmata melihat wajahnya.

"Kyung? uljima. kenapa menangis,hm?" Jongin berbisik pelan kemudian tangannya mulai mengelus pipiku.

.

.

Jongin POV

Kyungsoo terus menangis menatap wajahku walau saat aku mulai mengelus pipinya, hingga akhirnya tangannya ikut mengelus pipiku, ia menatapku dengan nanar.

"mianhae, Jongin-aah" Kyungsoo mengelus pelan pipiku yang membiru, ia terus terisak dan bibirnya terus bergetar. Aku benci melihatnya seperti ini, aku memeluk tubuhnya dengan cepat, dan bisa kurasakan tubuhnya semakin menggigil. Ini yang kedua kalinya aku melihat Kyungsoo seperti ini, apa dia trauma?

"kau terlalu sering berkata maaf" Aku berbisik pelan ditelinganya, kemudian mengecup pucuk kepalanya. Aku semakin erat memeluk tubuhnya, walaupun tubuhnya lemas tak mampu membalas pelukanku.

"gwaenchana?"

Kyungsoo hanya mengangguk didalam pelukanku,

"Kau tau Kyung kenapa aku tidak pernah lelah mengikutimu?"

Kyungsoo menggelengkan kepalanya—masih sambil menangis,

"Aku tidak mau hal-hal yang seperti ini terjadi padamu."

Kyungsoo hanya diam dan menganggukkan kepalanya. Aku mengeratkan tubuhnya masuk kedalam pelukanku—sambil tersenyum,

"kyung?"

Kyungsoo kini berdeham didalam pelukanku, ia sudah mulai menghentikan tangisannya.

"hm?"

"Bisakah aku benar-benar menjagamu?"

Bukannya menjawab, Kyungsoo malah melepaskan pelukannya kemudian menatap mataku dengan nanar.

"hiks...hiks..." kyungsoo mulai terisak lagi didepan wajahku,

"uljima kyung" aku terus mengelus pipinya dan mengusap airmatanya

"mianhae...hiks... mianhae telah meragukanmu.. Jongin-aah"

Aku tersenyum melihat Kyungsoo yang semakin terisak, pipinya merah dan terlihat seperti semakin membengkak, sungguh itu menggemaskan. Tapi bukan itu yang membuatku tersenyum,

"kenapa tersenyum?" Kyungsoo bertanya sambil menangis, ah! rasanya aku ingin menyimpannya dalam kantong bajuku.

Aku langsung menarik tubuhnya lagi masuk ke dalam pelukanku,

"apa kau sudah mempercayaiku?"

Kyungsoo hanya mengangguk sambil menundukkan kepalanya, tentu saja, itulah yang membuatku sedari tadi tersenyum,

"aku mencintaimu, Kyung. Sangat mencintaimu"

"nadoo~~~"

Aku tersenyum sambil terus mengeratkan pelukanku pada tubuhnya. Aku menunggu nunggu kata kata itu keluar dari mulutnya, dan kini rasanya perih dan sakit diwajahku sudah mulai tidak terasa lagi, yang aku tahu, aku tidak akan pernah membiarkan pria didalam pelukanku ini terluka lagi.

.

.

.

.

.

"AH! APPO!" aku berteriak kesakitan sedari tadi saat Kyungsoo mengobati luka di wajahku, Kyungsoo hanya menunjukkan raut khawatir, kemudian Kyungsoo pelan-pelan mengompres pipiku yang sudah berwarna ungu.

"mianhae"

"kau tidak bosan mengatakan itu?"

Kyungsoo menggelengkan kepalanya.

"Kyung..."

Aku mulai meraih tangan Kyungsoo kemudian menatap matanya, cukup lama, hingga membuat Kyungsoo mengomel,

"YA! Kenapa menatapku begitu sih"

Kyungsoo langsung membangunkan tubuhnya dari sofa dengan wajah kesal, tapi buru-buru aku menarik tangannya hingga dia terduduk lagi disampingku,

"Jongin-aah? waee?" Kyungsoo bertanya bingung karena kini aku terus menatapnya sambil tersenyum,

"ani, tidak apa-apa. Hanya ingin melihat wajahmu saja" aku terus menatap wajahnya hingga membuat pipinya memerah,

"eish, konyol sekali"

"jadi pria yang sedang ku tatap ini adalah kekasihku, ya?"

"eoh? siapa yang bilang?"

"YA! Kau tadi bilang nadoo saat aku bilang aku mencintaimu"

"lalu kita pacaran?"

"memang kau maunya apa?"

"menikah" Kyungsoo menjulurkan lidahnya kemudian tertawa dan melarikan dirinya dari tubuhku,

"OHOO! Kau itu nakal yaaa~~~"

aku mengejar tubuh Kyungsoo berlari ke kamarnya.

.

.

KYUNGSOO POV

.

.

Aku meletakkan kepalaku diatas dada Jongin yang sedang terbaring diatas kasurku,

"kau tidak pulang? ini sudah jam 11 malam" tanyaku pada Jongin sambil terus memainkan jemarinya.

"aku menginapa saja, ya?"

"mwo? andwae! kau terlalu sering menginap disini!"

"terlalu sering? aku baru menginap dua hari, kok"

"yaaa... pokoknya tetap saja! jangan menginap disini"

Jongin membalikkan tubuhnya hingga menindih tubuhku diatas kasur,

"memangnya kenapa sih, kyung? aku kan kekasihmu, masa tidak boleh menginap disini, sih"

"justru karena kau kekasihku, aku takut"

"takut apa, hm?"

Jongin mendekatkan wajahnya ke wajahku, dan mulai mendekatkan bibirnya ke bibirku, aku langsung menutup wajah ku dengan kedua tanganku sambil berteriak,

"annnnndwwaaaeeeeeee!"

Tiba- tiba, aku merasakan hangat di keningku,

Jongin mengecup kening dan pucuk kepalaku.

"saranghae!"

Jongin kemudian meembaringkan tubuhnya lagi dikasur dan membawa tubuhku kedalam pelukannya.

"aku lelah, jangan menyuruhku untuk pulang" ucap Jongin sambil memejamkan matanya.

Aku pikir tidak ada salahnya, malam ini tidur bersamanya, memangnya siapa yang mau dia pulang? Aku juga inginnya dia terus disisiku.

Aku merasa nyaman, sungguh nyaman tidur didalam dekapannya.

.

.

.

.

.

.

TO BE CONTINUED

HMMM, GAIS ITS BEEN A LONG TIME TO CONTINUE THIS STORY

WHY SO SEPI SIHHHH

PADAHAL AKU TETEP NULIS ROMANCE TERUS BUAT KAISOONYA

ITS NOT AS SAD AS THE FIRST CHAPTER TAUUUUUU

I LOVE YOUUUU YANG UDAH NGIKUTIN

MUAH!