Chapter Four: Shota's First Love 2

Disclaimer: Dynasty Warrior belong to Koei

Warning: OOC, AU High School Style, Pairing beserta hint yang gado-gado, mungkin ada typo.

Don't Like Don't Read


Misteri hari ini dimulai saat pagi hari di koridor sekolah.

Dua pasangan corettsunderecoret yang lagi-lagi bertengkar karena hal sepele terperanjat kaget begitu mengetahui teman (yang beralih fungsi jadi obat nyamuk kalau mereka sedang kumpul bertiga) mereka yang imut-imut tapi jago bikin kokoro cenat-cenut sedang meringkuk di pojokan koridor, dengan tatapan nelangsa menghadap taman sekolah. Ling Tong, yang kebetulan lebih pintar baca suasana, berinisiatif menghentikan pertengkaran -yang tidak penting-penting amat, sumber masalahnya hanya siapa yang lebih dulu berjalan memasuki gerbang- mereka untuk menghampiri Lu Xun.

"Boyan." Ia menepuk pundak Lu Xun, yang langsung loncat saking kagetnya -untung dia gak latah.

"Biasa aja kali reaksinya." Gan Ning mengernyit.

Lu Xun menghela napas, "Kalian yang ngagetin."

Gan Ning melipat lengannya di dada, "Salahmu sendiri meringkuk disini, kau nunggu dielus-elus orang ya?"

Ling Tong dengan sukarela menyikut iga Gan Ning. Pakai kaki.

Gan Ning tumbang seketika.

"Itu untuk menghentikan mulutmu yang selalu seenaknya bicara, kau pikir dia kucing, hah?" Ling Tong berkata dengan gaya angkuhnya yang biasa*

*hanya berlaku terhadap seseorang dengan rambut landak, dan bertato.

"Salahnya sendiri mirip kucing!" Gan Ning berteriak tidak terima, ia menunjuk Ling Tong dengan ujung kakinya (ia masih tiduran di lantai sambil memegangi iganya). "Tidak ada cara yang lebih baik memangnya?"

Ling Tong mendengus, dengan aura penuh hinaan terhadap musuh bebuyutannya (tsundere-claimed). "Menggunakan apa? Menyodokmu pakai sapu?"

"Setidaknya kau bisa menciumku!"

Lu Xun mematung. Beberapa siswi berteriak fangirl. Xiao Qiao sprint dari kelasnya untuk mengabadikan momen dengan handycam ditangan.


"Boleh kutanya mengapa kau melakukan hal berani tadi?" Lu Xun menyejajarkan langkahnya dengan Gan Ning, yang melangkah santai seakan-akan hal yang dikatakan -diteriakan- olehnya tadi pagi selevel dengan pertanyaan dimana letaknya dragon ball ke tujuh.

Ia memasukkan kedua tangannya ke kantong celana, pose cool. "Hanya ingin meniru adegan di drama yang kutonton semalam."

Lu Xun mengurut dada dalam hati, mendadak ia merasa amat prihatin pada Ling Tong.


Sementara itu Ling Tong..

Ling tong mendadak merasa menyesal. Seharusnya ia tahu hari ini akan menjadi hari sialnya. Seharusnya ia menyadari pertanda saat melihat Lu Bu lewat dengan memakai backpack hello kitty. Seharusnya ia sadar, bahwa melihat Lu Bu -yang tampangnya beneran ngeri, tapi hati biri-biri- di pagi hari akan membawa nasib buruk. Seharusnya ia menghindar saat bertemu Si Landak di gerbang sekolah tadi. Seharusnya -kenapa jadi banyak sekali kata seharusnya?

Sudahlah, yang pasti sekarang hidupnya dalam bahaya. Ia sudah berlari sejak Xiao Qiao datang dengan handycam dan berteriak keras-keras memanggil anggota klubnya (klub-apapun-itu, Ling Tong bersumpah demi koleksi boxer lope-lopenya Lu Bu dia enggak mau tahu). Ling Tong kembali berbalik di belokan koridor, lalu sembunyi di lemari sapu. Dikejar fans Gan Ning sekaligus fujoshi satu sekolahan mungkin bukan olahraga yang baik.

"Ketemu!" Seorang gadis berteriak melengking sembari menunjuknya.

Ling Tong kembali menangisi nasib.


Pelajaran pertama hari ini adalah bahasa inggris, Lu Meng memberikan pop quiz untuk anak muridnya. Lu Xun mendadak galau sendiri. Ia bahkan tidak menggubris tatapan Gan Ning yang minta contekan. Ia bahkan tidak peduli dengan Ling Tong yang mendadak masuk kelas dalam keadaan berantakan -literally. Ia bahkan tidak menyentuh soal pemberian Lu Meng sedikitpun. Hingga akhirnya bel pergantian pelajaran berdering, dan Lu Xun tersentak kaget. Ia memekik pelan menyadari soalnya tidak terisi apapun, bahkan kolom namanya masih kosong.

"Boyan."

"Y-ya, Sir?"

"Keruangan saya, nanti."

Lu Xun menunduk, suara bass Lu Meng terdengar amat mengintimidasi. "Baik, Sir."

Lu Meng meninggalkan kelas sambil menggeleng pelan.

Sesaat setelah Lu Meng keluar kelas, Ling Tong dan Gan Ning segera mengerumuni Lu Xun.

"Boyan?"

Lu Xun menatap Ling Tong, ia tidak menjawab panggilannya.

"Kau oke?" Gan Ning ikut-ikutan. Ling Tong langsung mendelik sadis, sepertinya ia dendam.

Lu Xun menepis tangan Gan Ning dibahunya dengan amat dramatis, sekilas adegan ini mirip adegan sinetron. Si tokoh utama pria ketahuan selingkuh dengan pembantu depan rumah, ia sedang berusaha menjelaskan pada sang kekasih kalau sebaiknya si pacar jadian aja dengan supirnya.

Absurd.

Lu Xun hendak membuka mulutnya ketika seorang siswi dari kelas sebelah masuk dan menggebrak pelan meja Lu Xun.

Gadis itu berambut hitam pendek. Mukanya kuudere nyerempet tsundere (harap dibedakan dengan Ling Tong yang mukanya tsundere maksimal). Gadis itu menatap Trio coretkwekkwekcoret Wu dengan ekspresi dingin. Uh-oh, gadis ini kebetulan juga dikenal sebagai kapten primadona tim judo sekolah. Xing Cai, dengan motto hidupnya yang sudah dipatenkan; senggol banting. Putri dari guru olahraga yang hobinya ngasih materi lari keliling lapangan sampai bel istirahat.

Gila.

"Kau." Ia mengarahkan jari telunjuknya tepat di depan wajah Lu Xun, "Ikut denganku"


Lu Xun digiring sampai taman belakang sekolah yang sepi. Ia didorong hingga punggungnya menabrak dinding. Xing Cai menatapnya tajam, sehingga Lu Xun hampir yakin kalau wajahnya serasa berlubang. Kalau ada murid lain yang kebetulan lewat, Xing Cai pasti terlihat seperti pelaku sekuhara yang berhasil menangkap korbannya.

"Kau." Suara Xing Cai terdengar dingin dan kejam. Lu Xun sudah komat-kamit dengan semua doa yang ia hapal.

"Aku akan membantumu." Tiba-tiba Xing Cai melepaskan kunciannya.

Lu Xun mengerjap bingung, "Maaf, tapi aku tidak ingat kalau aku membutuhkan bantuan."

Xing Cai memberinya pandangan please-deh-bukan-itu-yang-gue-maksud.

"Xing Cai, kelas 11-1, Secret agent fujoshi club."

Lu Xun mematung di tempat.


"Jadi? Kau tidak berniat mendekati Sir Lu Meng? Begitu maksudmu?" Xing Cai menyeruput milkshake ditangan dengan pandangan menyelidik, mereka berdua duduk tenang di pojok kantin yang sepi. Omong-omong mereka bolos kelas loh.

Lu Xun menggerutu. Ia tidak habis pikir kenapa cewek sewaras Xing Cai mau-maunya gabung koloni Xiao Qiao.

"Tsk. Dia single, oke? Dia masih muda dan wajahnya juga gak jelek-jelek amat." Xing Cai berhenti sebentar, ia menyeruput milkshakenya yang tinggal setengah, "Kau hanya perlu bilang ya, dan aku akan membantumu."

Lu Xun menggeleng, "Um, terimakasih. Tapi aku akan berusaha dengan caraku sendiri."


Setelah Lu Xun pamit untuk kembali ke kelas, Xing Cai masih duduk-duduk di kantin. Sampai akhirnya seseorang menghampirinya dengan senyum lebar permanen diwajahnya.

"Kau benar, leader." Xing Cai tersenyum tipis, matanya mengamati Lu Xun yang berlari dikejauhan. "Kita hanya perlu mendorongnya sedikit, dan, bum, dia jatuh di tempat yang tepat."

"I know, right?" Xiao Qiao terkikik geli.


.

.

.

.

.

balesan review:

Evil Red Thorn: om-om pedo itu cuma lewat sekali, dia gak akan aku kasih lewat lagi haha oh iya dong aku juga kan demen lu mengxlu xun :3 ini lanjutannya~

xtreme guavaniko: ung ma-maaf juga, tapi emang beneran deh sulit buat gak demen sama lu xun, sampe cewek cowok dan om-om(?) lovestruck sama senyumnya dia :3

SoniCanvas: bukan kok, bukan huang gai haha lu meng protektif banget kaan? :3

yondie93: cuma figuran numpang lewat kok haha yang ngintip gak aku jelasin, tapi aku kasih hint disini :3

Caramel Star: halo salam kenal jugaa :D bukan kok, bukan dia yang dibalik tiang hehe

mole13: halooo salam kenal :3 wah makasih ya hehe

well, halo? haha /ketawagaring

gomen lagi karena updatenya kelamaan /garukgaruk

makasih banyak ya buat yang review, fave maupun follow, dan yang nunggu ^^ saya bener-bener seneng hehe

well, um, sampai jumpa lagi di next chapter? ah dan, kalau ada kesalahan, tolong koreksi saya hehe

see you~