Chapter 4 : Learning to feel.

Shikamaru bertemu Naruto dan Kiba di kantor hokage. Mereka berdua sepertinya masih teler tapi Misi tidak bisa menunggu. "Naruto, Kiba ini misi kalian kita menerima kabar dari sunagakure beberapa simpatisan Madara Uchiha melarikan diri kearah konoha. Kalian ditugaskan untuk melacak keberadaan orang-orang ini"

"Ah shika, Kami masih sakit kepala"

"Siapa suruh kalian terlalu banyak minum semalam" Shikamaru geleng-geleng kepala, Naruto dan Kiba satu team. Mereka berdua sama-sama bodoh. Semoga saja misinya lancar.

" Apa Ino juga sama hang overnya dengan kita ya? Semalam dia minum seperti seekor sapi"

"Aku dan kiba tidak berdaya, Kemampuan minum sake Ino setara dengan nenek tsunade"

"aku sudah ke rumah Ino, Dia baik-baik saja bersama Sai"

"Sai? Ngapain dia disana?"

"Sepertinya dia bermalam bersama Ino"

"Yang benar saja Shika" Kiba Shock, "Baru saja aku mau mengajak Ino kencan" muka nya muram. Satu-satunya kunoichi yang tersedia di konoha sudah di embat orang.

"Tidak usah repot-repot Kiba, Kau bukan tipe-nya Ino" Ujar shikamaru, membuat Kiba tambah down.

"Ha betul..betul, Tipenya Ino itu Sasuke, Sekarang semua masuk akal. Ino memang cantik, sexy dan rada ganjen tapi masak Sai jatuh ke pelukannya dengan mudah"

"Kau memang bodoh Naruto, Kucing dikasih Ikan ya dimakan"

"Iya kalau pria normal, Sai itu tidak normal" Naruto garuk-garuk kepala.

"Sudah-sudah jangan bergosip, pergi sana jalankan misi kalian" Shikamaru mengusir kedua orang itu.

Sebelum mereka berangkat untuk menjalankan misi Naruto dan Kiba mencari Sakura untuk meminta obat sakit kepala. Dasarnya mulut ember, Merekapun menceritakan prihal Ino dan Sai pada Sakura. Mata hijau gadis itu melebar mendengarkan gossip soal Ino, tapi dia tidak akan mennilai temannya itu. " Biarkan saja mereka, Ino dan Sai sudah dewasa dan sama-sama single terserah mereka mau ngapain" komentar gadis itu bijaksana. Sepertinya dia harus berbicara dengan Ino segera karena main-main dengan Sai adalah Ide yang buruk.

Ino sungguh merasa kesal hari ini, semuanya tidak berjalan lancar. Sai melihatnya menangis bahkan sampai dua kali. Shika dan Choji salah paham dan sekarang bisnis juga sedang lesu. Apa hidupnya akan begini-begini saja. Dia menghela nafas dan mulai merapikan bunga-bunga di tokonya. Keluarga Yamanaka adalah botanist, Ino mempunyai banyak pengetahuan soal tumbuhan dan dia sangat suka bunga. Bekerja dengan bunga membuat mood nya lebih baik dan dia berharap hari ini akan menjadi lebih baik. Sebenarnya ada beberapa hal perlu dipikirkan oleh gadis itu dengan serius, tapi untuk saat ini dia malas berpikir.

Seharian ini Sai sudah mengelilingi semua spot favorit nya di Konoha tapi hari masih terang dan dia enggan untuk pulang ke apartement nya. Tadi dia sempat mampir ke kantor hokage, berharap hokage-sama berubah pikiran dan memberikanya misi. Yang ada Kakashi malah memberikanya buku yang berjudul "Berbagai macam kenikmatan hidup" dan "Seni relaksasi dan memuaskan diri sendiri" . Dia sudah membolak-balik beberapa halaman. Tidak semuanya dia mengerti tapi dia menemukan beberapa gambar illustrasi yang menurut jiwa seninya terlalu vulgar. Dia berjalan melewati toko bunga Yamanaka. Akhirnya dia memutuskan untuk mampir.

"Hi gorgeous", Sapa pria itu. Dia masih mengenakan seragam ANBU nya, serba hitam hanya tanpa topeng.

"Mau membeli bunga Sai?" Gadis itu tersenyum,

"Tidak, Aku kebetulan lewat. Aku harap kamu sudah tidak marah"

"Tidak, Aku tidak marah lagi" Gadis itu sekarang paham kalau Sai luar biasa polos lebih polos dari anak-anak bahkan. Sai tidak mengerti ternyata kata tidur bisa bermakna lain. Buku di tangan Sai menarik perhatian Ino . "Buku apa itu Sai, Kamu suka membaca ya?" Sai menyodorkan buku-buku itu padanya.

"Iya aku perlu banyak belajar, Hokage memaksaku cuti seminggu aku tidak tahu apa yang harus kulakukan di masa cuti, dia menyarankanku untuk mencoba relax dan menikmati hidup, aku tidak tahu caranya jadi dia memberikan ku buku-buku itu"

Ino membolak-baik beberapa halaman dan mukanya menjadi merah padam 'Dasar Kakashi Mesum'pikirnya marah. "Sudah kamu baca bukunya?" Ino lalu tanpa sengaja membayangkan Sai mempraktekan hal-hal yang tertulis di buku 'ah, ada apa denganku. Tiba-tiba membayangkan Sai begitu, Impossible Ino , mungkin aku kurang tidur'

"Sudah, tapi aku tidak mengerti bagian yang menjelaskan bagaimana pria menikmati wanita"

Ino memutuskan kalau Sai benar-benar butuh bimbingan dan arahan langsung, bukanya di berikan buku yang menyesatkan. "Sai bagaimakan kalau aku membantu mu? "

Sai memandang mata biru Ino dengan tidak percaya "Benarkah. Kau mau mengajariku cara untuk menikmati wanita?, terimakasih gorgeous"

Wajah Ino tambah merah,Dia ingin menjitak kepala Sai " Bukan, Aku akan mengajari mu hal yang basic dulu, Kita bisa memulainya malam ini di rumahku"

Pria itu hanya mangut-mangut.

Malam itu Sai muncul di kediaman Yamanaka, Dia mengenakan pakian casual, Celana panjang dan kaus ketat tanpa lengan serba hitam yang menonjolkan bahu lebar dan otot-otot kencang hasil latihan bertahun-tahun. Ino sudah menunggunya untuk makan malam. Gadis itu mengerai rambut nya yang panjang. Dia mengenakan blouse crop top berwarna unggu dan rok panjang dengan belahan yang memamerkan kakinya yang mulus dan jenjang. Lipstick pink mewarnai bibir Ino yang penuh. Yang paling menarik bagi Sai adalah warna mata gadis itu, Biru-hijau. Sebagai seorang pelukis Sai tertarik dengan warna Ino, Gadis itu perwujudan warna-warna pastel yang lembut. Begitu kontras dengan pilhan warna dirinya. Sai selalu memilih melukis dalam hitam putih. Dia memperhatikan gadis itu dari ujung kepala hingga ujung kaki, tidak melewatkan setiap detailnya. Tiba-tiba Sai merasakan mulutnya menjadi kering 'mungkin aku haus' pikirnya. Dia pun meraih cangkir teh di hadapannya.

Ino merasa senang dan juga bodoh, Dia senang karena tidak perlu makan sendirian. Biasanya makan malam di keluarga Yamanka adalah hal yang heboh. Karena Dia dan ayahnya adalah orang-orang yang suka heboh, dan ibu nya hanya geleng-geleng melihat bapak anak bergossip. Sepeninggalan mereka Ino harus makan sendirian di ruangan yang sama dihantui kenangan orangtuanya. Kadang Shika dan Choji muncul tapi itu pun jarang karena mereka sibuk. Makan sendirian terasa menyesakkan. Jadi dia senang Sai disini, walau dia tidak banyak bicara tetapi ino tau dia tidak sendirian. Lalu dia merasa bodoh karena malam ini dia all-out berdandan. Memang siapa yang mau dia buat terkesan. Ini hanya Sai, teman se tim Sakura yang punya masalah dalam bergaul.

Ino menatap pria diseberang meja. Rambutnya hitamnya menjuntai menutupi dahi, bulu mata panjang dan lentik seperti seorang wanita. Matanya gelap tanpa serberkas sinar, Kulit pria itu berwarna pucat. Bila Ino terlihat seperti boneka barbie maka Sai terlihat seperti boneka porcelain. Lalu pandangan Ino jatuh pada bibir Sai yang tipis 'bibir sexy yang layak dicium' pikir gadis itu. 'Damn, Ino hold yourself' katanya dalam hati. Salah Sai bila Ino mulai berpikiran aneh-aneh. Itu semua karna Sai terlalu tampan atau mungkin karena Ino terlalu lama sendiri.

Setelah semua hidangan habis, Ino mengeluarkan buku catatan dan pena "Sai, Aku baru akan bisa membantu mu bila aku tahu masalah mu apa. Tolong jawab pertanyaanku dengan jujur" pinta gadis itu.

"Baiklah Ino" Jawab kapten ANBU itu sambil mengangguk. dan Ino pun memulai sesi konseling nya

"Nama"

"Sai"

"Usia?"

" Mungkin sekitar Dua puluh tahunan"

"Pekerjaan?"

"Ninja"

"Jabatan ?"

"Kapten ANBU"

"Hobi?"

"Melukis"

"Makanan Favorite?"

"Tofu"

"Yang paling dibenci ?"

"Sasuke Uciha"

Warna Favorite?

"Tidak Tahu"

"Masih Virgin?"

"Tidak"

Jawaban Sai membuat Ino berhenti sebentar. 'Mustahil Pria polos macam Sai sudah pernah begituan' pikirnya. "Ok, Sekarang aku akan bertanya lebih dalam, Sex preference?"

"Maksudnya?" Pria didepan Ino kebingungan.

Ino mendesah "Maksudnya kamu lebih suka berhubungan sex dengan Wanita atau Pria atau dua-duanya?"

" Aku melakukannya dengan pria dan juga wanita, masalah suka atau tidak aku tidak paham" Ino Shock mendengarnya.

"Lalu mengapa kau melakukannya?"

"Tugas sebagai Shinobi" Jawabnya ringan.

Sekarang semuanya jelas buat Ino, Gadis itu sendiri sering menjalankan Misi-misi yang mengharuskannya tidur dengan seseorang. Kurenai dan Anko sendiri yang mendidiknya karena diantara semua Kunoichi Konoha yang seangkatan dengan nya. Hanya dia yang memiliki natural asset untuk berperan menjadi wanita penggoda. Dan tentu saja Ino tidak pernah menikmati pekerjaannya yang itu. Bahkan kadang dia merasa jijik. Tapi misi tetaplah misi.

Ino merasa kasihan dengan pria di hadapannya, dia tidak bisa membayangkan hidup tanpa rasa. Tidak pernah tahu rasanya bahagia maupun cinta.

"Sai kita harus mencari tahu apa yang membuatmu tertarik, Kau bilang kau suka tofu mengapa?"

"Karena aku sering makan tofu rasanya menjadi familiar di lidah ku, jadi aku lebih nyaman dengan rasa tofu daripada makan-makanan yang lain"

"Lalu mengapa kau membenci Sasuke"

"Dia membuat Sakura menangis" tapi Sai merasakan ada perasaan lain dalam dirinya yang tidak bisa dia jelaskan mengapa dia sangat tidak suka dengan Uchiha.

"Emosi apa yang pernah kau rasakan?"

"Marah" Sai ingat perasaan itu, Dia merasakan amarah yang luar biasa ketika melihat Shin dijadikan manusia peledak oleh Deidara.

"kupikir satu-satu nya cara kita mencari tahu apa kau mampu merasakan sesuatu atau tidak hanya dengan mencoba" Ino merasa Sai pastinya mampu merasakan emosi karena itu adalah hal yang natural. Mungkin kemampuan itu jauh terkunci di alam bawah sadar Sai akibat metode cuci otak Danzo, dan Sai sendiri tidak punya kemampuan untuk mengidentifikasi apa yang dia rasakan.

"Berdirilah" Perintah gadis itu dan Sai mematuhinya. "Tutup mata mu dan konsentrasi" lanjut Kunoichi berambut pirang itu. Dia berdiri dihadapan pria itu. Jari-jarinya yang lentik membelai pipi Sai yang mulus. kemudian turun menelusuri rahang yang terpahat sempurna. Ino tak berhenti mengagumi ketampanan pria itu. "Apa yang kau rasakan?" tanyanya dengan suara serak.

"Tangan mu yang halus menyentuh kulit ku"

"apa kau bisa memutuskan menyukainya atau tidak?"

"Tidak tahu" Dia mengelengkan kepala.

"Hm.. Bagaimana dengan yang ini" guman Ino mencondongkan bibirnya kearah pria itu, 'mengapa dada ku jadi berdebar-debar' pikirnya. Ino tidak perduli reaksi macam apa yang akan dihasilkan Sai, Selama dia menunjukan reaksi berarti dia merasakan sesuatu.

Kecupan gadis itu mendarat di bibir Sai, tapi pria itu tetap tidak bergeming diam bagai patung. Ino tidak menyerah. Dia membelai bibir sai dengan lidahnya kemudian mengigit bibir pria itu dengan keras, secara insting Sai membuka mulutnya. Ino pun mengunakan kesempatan itu untuk memperdalam ciumannya.

Aroma bunga yang manis mengelitik hidung Sai, Gadis Yamanaka itu mengalungkan tanggan di lehernya. Sai merasakan suatu sensasi yang mirip dengan ketika alcohol meracuni sistemnya. 'ada aroma lain yang sangat ringan tercium' Sai menyadari Ino memancarkan pheromone dengan intensitas tinggi. Kalau dia bukan ninja yang terlatih mungkin Sai sudah terpengaruh dan menjadi budak Ino. Walau terlatih tetap saja Sai tidak immune dengan pheromone sebanyak itu, perlahan-lahan kesadarannya hilang dan insting nya mengambil alih.

Ino mulai khawatir, Biasanya dia bisa membuat pria kehilangan kendali atau paling tidak ia berhasil memancing nafsu mereka dengan cara ini. Tapi Sai tetap tidak bereaksi. Ketika Ino mulai berpikir mungkin mereka harus mencari cara baru dan mengehentikan ciumannya, pria itu langsung menarik Ino lebih dekat, tubuh mereka hanya dipisahkan oleh pakian yang mereka kenakan, Ino langsung merasa panas, Sai balas menciumnya dengan ahli. Bila saja Sai tidak mendekapnya dengan erat Ino pasti sudah jatuh. Ciuman dari pria berkulit pucat itu membuatnya lemas, seharusnya dia yang mengajari Sai bukan sebaliknya. Sai membuka matanya, sepertinya tersadar dari pengaruh Ino tapi dia tidak berhenti mencium gadis itu, Sai merasa tidak ingin berhenti.

'oh my god, mungkin kemampuanku sebagai kunoichi sudah berkarat , masa hanya karena ciuman aku gagal fokus'. Pikir gadis itu, Mata biru Ino mencoba menemukan perubahan ekspresi di wajah Sai tapi Ino hanya menemukan ekspresi kosong. Mata kelamnya tidak menunjukan apapun meski dia mencium Ino dengan Intens. Dengan segenap tekad dia mendorong Sai menjauh mengakhiri mantra ciuman yang mengikat mereka.

"Gorgeous?" Sai memandang gadis yang sedang terengah-engah di hadapanya, Bibir merah muda gadis itu sedikit bengkak. Tapi dia tidak mengerti apa yang terjadi. Dia ingin mencium Ino, dia ingin merasakan bibir gadis itu. Rasaya seperti dalam pengaruh jutsu "Apa kau mengunakan jutsu?"

Ino Yamanaka mengelengkan kepala, "Tidak? Tidak ada jutsu seperti itu. Memang apa yang kau rasakan?"

Pria itu menyentuh bibirnya dan berpikir " aku merasa panas dan Ms. Gorgeous pheromone mu membuat pikirian ku berkabut dan bibir mu terasa manis, aku ingin mencobanya lagi"

Pipi Ino memerah, "well, kita bisa menarik kesimpulan kalau kau menyukai ciuman wanita"

Sai menyunggingkan senyum palsunya. "Terima kasih gorgeous"

Malam itu ino tidak bisa tidur, Dia sedikit kecewa dengan reaksi Sai yang cuma begitu saja. Semua pria bertekuk lutut dihadapannya kecuali Uchiha Sasuke mungkin karena Ego nya yang malang itu Ino mengejar-ngejar Sasuke, dan sekarang Sai juga tidak jatuh kedalam pesonanya, catatan; Sai itu special case dan tentu saja reaksinya tidak seperti pria normal. Gadis itu menarik nafas dalam, Dia harus hati-hati, tubuhnya bereaksi ketika Sai balas menciumnya. Apa Ino terpesona pada Ninja bermata kelam dan berkulit pucat itu? Tak dapat ia pungkri pria itu kuat dan tampan dan dia selalu terarik pada tipe seperti itu. Tapi jatuh cinta pada Sai adalah mimpi buruk, Karena sebanyak apapun perasaan yang dicurahkan, pria itu tidak akan mampu mengerti dan membalas perasaan itu. Ino tidak butuh patah hati.

Masa cuti Sai berlalu dengan menemani Gadis Yamanaka, Ketika dia tidak tahu lagi mau mengerjakan apa, Dia pasti akan datang ke toko mencari Ino dan gadis itu berceloteh panjang lebar tentang segala hal tanpa jeda. Lalu mereka pergi makan malam dan Ino selalu memaksanya mencoba menu baru. Terkadang Ino memintanya membantu mengurus bunga-bunga di toko. Gadis itu tidak pernah keberatan dengan keberadaannya. Ino selalu menyambutnya dengan senyum.

Suatu hari mereka pergi ke padang rumput, Ino sibuk mengumpulkan bunga dan tanaman dan Sai mulai melukis. Lagi-lagi dia melukis Yamanaka Ino. Dia menyadari separuh dari isi buku sketsanya penuh dengan gambar gadis itu tapi dia tidak bisa berhenti. Gadis itu memiliki banyak facet dand ekspresi yang ingin dia ingat. Ekspresi yang tidak akan pernah bisa dibuat wajahnya sendiri.

Ino telah menyelesaikan pekerjaannya dengan bunga, dia merebahkan tubuhnya di atas rerumputan memandangi awan dengan malas seperti yang sering dilakukannya dengan Shikamaru. Sekarang dia harus memikirkan masa depan nya. Ibiki Morino merekomendasikan dirinya untuk bergabung dengan team introgasi tapi dia belum menerima tawaran itu. Ino tidak yakin dia akan mampu melakukan tugas menyiksa dan mengintrograsi tawanan walaupun sebenarnya Mind jutsu keluarga Yamanaka akan sangat membantu proses intrograsi. Ino perlu melakukan sesuatu, dan masuk ke dalam pikirian orang lain adalah hal tebaik yang dia bisa lakukan, Seharusnya dia langsung menerimanya tapi gadis itu takut bila dia melakukannya dia akan tertelan kegelapan. Jauh didalam diri gadis itu ada sifat Sadis yang tersembunyi, Ino sangat menikmati menyiksa orang dengan pikirannya, Ino mampu mengendalikan mereka dan menghancurkan kewarasan mereka dengan jutsunya. Hal tersebut membuat Ino merasa kuat. Ino paham dia punya potensi dan Ibiki dengan senang hati akan membantunya berkembang. Ino hanya takut lama-lama dia akan kehilangan dirinya. Shika dan Choji juga pasti tidak akan setuju dia bergabung dengan divisi paling kejam di konoha.

Sai duduk disebelah Ino yang sedang berbaring, Sering menghabiskan waktu bersama gadis itu membuatnya hapal dengan semua ekspresi yang dia buat, melihat kening Ino berkerut Sai bertanya "Apa yang kau pikirkan?"

"Aku diminta Hokage untuk bergabung dengan divisi intrograsi, Tapi tidak yakin aku mampu" ungkap gadis itu.

Sai yang merupakan Kapten divisi Intellegent ANBU mengerti betapa berat dan suramnya pekerjaan itu, mengali informasi dari musuh sangat penting bagi keberlangsungan perdamaian konoha dan bagian terburuknya adalah metode yang digunakan terkadang terlalu mengerikan. Bagi Sai dia sudah terbiasa dengan hal-hal seperti itu. "Ms. Gorgeous bila kau ingin melakukannya, lakukan saja, Aku yakin bila kamu mau kamu akan mampu mengerjakannya"

"Bagaimana bila aku berubah menjadi dingin dan tak berperasaan?"

"Ms, Gorgeous, Apa ayah mu seorang yang Sadis, dingin dan tak berperasaan?" Sai bertanya dengan serius.

Gadis itu mengeleng, mengingat almarhum ayahnya adalah orang yang bersemangat, ceria dan penyayang tapi Inoichi tidak pernah menceritakan soal pekerjaannya,

"Inoichi Yamanka adalah introgator terbaik bersama Ibiki Morino, dan terkadang kita harus melakukan pekerjaan kotor agar perdamaian tetap terjaga"

"Bukankah itu yang dulu kau lakukan di Nee?"

Pria itu tidak menjawab, Dia memberikan Ino senyum palsunya.

Apartement Sai begitu minimalis, dia hanya memiliki benda-benda yang dia butuhkan, sebuah tempat tidur, meja, sofa dan area pantry. Apartement nya itu penuh dengan lukisan. Lukisan portrait gadis Yamanaka yang sedang tersenyum berdiri di sebelah jendela. Bibir Ino yang melengkung dan matanya yang bersinar membuatnya menyaingi matahari. Image seorang yamanaka Ino dalam benak Sai seperti yang telah dia lukis, terang dan lembut. Tapi hari ini Sai memiliki ide yang berbeda. Dia ingin melukis Ino dengan warna-warnanya, Hitam, kelabu dan merah darah. Dia ingin tahu apa sosok gadis berambut pirang itu akan cocok dengan pilihan warnanya yang gelap. Sai menatap kanvas kosong di hadapannya dan mulai bekerja.

Hari ini Ino begitu sibuk, Dia mempersiapkan dokumen untuk kepindahannya ke divisi Intellegent. Dia sudah bertemu dengan Shikamaru dan Choji untuk memberitahukan keinginannya. Dan tentu saja mereka tidak setuju. Ino sangat marah pada kedua sahabatnya itu. Mengapa mereka mergukan kemampuanya bukannya seorang teman harus saling mendukung. Shikamaru beralasan kalau melakukan introgasi tidak sesuai dengan kepribadian Ino yang terlalu penuh emosi. Gadis itu paham kalau Shikamaru bermaksud baik. Dia hanya ingin melindungi Ino dari hal-hal buruk yang mungkin akan mempengaruhi kesehatan mentalnya tapi Shikamaru gagal paham kalau Gadis itu bukan lagi gadis naïf yang hanya bisa berpikir yang tidak lagi selalu berjalan di sisi terang. Perang sudah mengajarkannya untuk menjadi realistist. Sahabatnya tidak tahu kalau dia pergi mengerjakan misi yang mengorbankan tubuh dan kehormatannya dan Ino tidak perduli, seperti kata Sai, seseorang harus melakukan pekerjaan kotor. Dan dia tidak keberatan selama perdamaian dunia shinobi terjaga. Dia tidak ingin lagi kehilangan orang-orang yang dia sayangi.

Sai menghadap Hokage, Dia mendapatkan misi rahasia untuk menyelidiki tempat yang bernama land of silence, Dia akan memimpin tim ANBU beranggotakan 10 orang shinobi. Sepertinya ini hal yang gawat karena tidak biasanya hokage mengirimkan banyak shinobi hanya untuk melakukan penyelidikan. Sai sudah cukup lama tidak bertemu Ino karena kesibukannya. Dia berpikir untuk mampir sebentar untuk melihat gadis itu.

Sai berpapasan dengan Shikamaru di lorong, Dia berdiri menghalangi jalan Pria berkulit pucat itu

"Sai, ada yang mau aku bicarakan dengan mu?" Ujar Shikamaru."Aku tidak perduli apa hubunganmu dengan Ino, tolong jauhi dia" Pinta sang shadow master. "Aku tidak bermaksud buruk Sai, Tapi Ino adalah Kepala keluarga Yamanaka dan dia perlu seorang pria yang layak sebagai pendampingnya"

Sai sesungguhnya tidak mengerti, mengapa shikamaru memintanya menjauhi Ino, Ino selalu tersenyum padanya. Gadis itu bilang mereka berteman dan dia boleh mencarinya kapan saja.

Melihat pria yang berdiri dihadapannya tidak bereaksi Kepala keluarga Nara menghela nafas, Dia tidak suka melakukan ini tapi para tetua klan Yamanka memaksanya, "Sai, para tetua Klan Yamanaka berniat menjodohkan Ino, Aku tidak suka ide mereka tapi itu urusan internal klan Yamanaka. Mereka mengangap keberadaan mu di sekitar Ino membuat reputasinya buruk"

"Jadi keberadaan ku menggangu Ino?" Tanya pria itu dengan nada datar

"Secara tidak langsung, Iya" Ungkap Shikamaru dengan pahit, Rumor tentang dua shinobi itu sudah berhembus di desa Konoha. Banyak orang melihat Ino sering jalan berduaan dengan Sai, Belum lagi Sai sering mengunjungi rumah gadis yang kini tinggal sendirian itu sampai larut malam. Para pelayan Yamanaka pun ikut-ikutan menyebar gossip kalau Mantan Shinobi Nee itu sering menghabiskan waktu dikamar tidur sang Nona besar.

Dari dulu Ino sering di panggil wanita jalang, tapi Shika dan Choji tau itu hanya rumor yang dibuat oleh barisan sakit hati dan wanita-wanita yang iri dengan kepopuleran Ino. tapi rumor yang menimpa Ino kali ini separuhnya benar. Bila saja mereka berdua pacaran tidak akan ada masalah, Tapi setiap Shikamaru bertanya pada Ino soal Sai, Gadis itu menjawab kalau mereka hanya berteman.

"Baiklah aku mengerti, aku tidak akan mendekati Ino lagi" Sai pun berlalu.

Shikamaru merasa bersalah pada kedua temannya itu. Semenjak Ino banyak menghabiskan waktu dengan Sai. Gadis itu menjadi sering tersenyum, tetapi dia merasa khawatir bila Ino jatuh cinta pada Ninja apatis itu Ino akan menderita. Lebih baik dia segera bertindak sebelum Ino menjadi terlalu dekat dengan Sai.

Sai menyelipkan tantou nya di pingang bersiap untuk melakukan perjalanan ke land of silence, Dia akan menemui Ino untuk mengucapkan selamat tinggal, entah mengapa dia merasakan sakit, walau tidak ada luka yang terlihat di tubuhnya. Dia tidak punya banyak waktu dengan cepat dia berlari menuju kediaman Yamanaka. Sai menemukan gadis itu di kebun sedang merawat bunga-bunganya.

Ino menyirami tanaman sambil bersiul-siul riang. akhirnya dia mendapatkan hari libur, Pekerjaannya begitu berat dan menuntut. Ibiki juga melatihnya dengan keras dan tanpa ampun, kadang dia ingin menyerah saja. tapi almarhum ayahnya pasti tidak setuju. Semua kesulitannya terbayar ketika Ibiki memuji keberhasilannya. Dengan segala tekad dan Usaha Ino akan menjadi seseorang yang akan dibangakan oleh almarhum ayahnya. Hampir setiap hari tawanan melecehkannya dan menganggap dia bodoh hanya karena dia wanita cantik berambut pirang. Dia membalasnya dengan menyiksa dan mengacaukan pikiran mereka. Ino bergidik awalnya dia segan dan engan menyakiti seseorang dengan sengaja karena tidak sesuai dengan kode moralnya tetapi melihat bahwa semua informasi yang dia dapatkan berhasil mencegah tindakan jahat terjadi. Kini dia tidak perduli lagi akan metode yang dia pilih selama dia berhasil mengekstrak informasi dari musuh dan dia menikmati setiap detiknya. lebih baik dia menyakiti mereka sebelum mereka menyakiti orang-orang yang dia ingin lindungi.

"Pagi Ms. Gorgeous" Sapa Sai.

Ino terkejut melihat Sai berdiri di halamannya sepagi Ini. "Hi Sai, Ada yang bisa kubantu?"

"Aku hanya mau memberi salam sebelum aku pergi"

"Misi lagi, Berapa lama kau akan pergi?" Tanya gadis itu

"Tidak tahu" Ujar Pria itu datar.

"Bila kau kembali nanti kita harus pergi makan ramen ramai-ramai dengan yang lainnya ok?" Gadis itu melempar senyuman yang secerah matahari. Sai pun tersenyum datar.

Sai melangkah menutup jarak diantara mereka, mereka berdiri begitu dekat. Aura pria itu terasa berbeda sedikit lebih kelam dari biasa, Ino melihat kedalam mata Sai yang berwarna hitam. sedikit terkejut melihat secercah keraguan melintasi mata yang biasanya kosong itu. Udara di sekitar mereka menjadi lebih berat, dan Ino merasa telapak tanggannya berkeringat.'Mengapa aku nervous?' tanya gadis itu dalam hati.

"Boleh aku menyentuhmu?" Tanya pria itu,

Ino terdiam seolah tersihir dalam tatapan pria itu. Tanpa menggu jawaban, Sai meraih ikatan rambutnya, dengan sedikit sentakan rambut Ino jatuh tergerai di punggungnya. Jari-jari lentik pria itu menyisir helaian rambut panjang keemasan yang berkilau tertimpa sinar matahari. "Gorgeous" Guman Sai perlahan memperhatikan dan mengingat semua detail garis wajah gadis yamanka dari dekat.

"Sai?" ada apa dengannya, pria itu tiba-tiba jadi aneh, Belum sempat Ino berpikir. Sai mendaratkan ciuman kilat di pipinya, dan membisikan terimakasih. Hanya dalam kedipan mata pria itu menghilang dari hadapan Ino, Meningalkan gadis itu keingungan.