Yo! Jangan kaget kalau update saya secepat kecepatan cahaya *digetok Itachi*, tapi memang tangan saya gatel karena banyak bagian yang udah fix, jadi saya update! Hehehehe.

Well, jadi jangan kaget ya.

Mohon maaf untuk setiap typo(s) yang terjadi karena itu tidak disengaja.

Disclaimer: Naruto by Masashi Kishimoto. Runa by me.


Naruto POV

Aku memandang gulungan itu dengan wajah bingung. Gulungan-gulungan itu membuat kepalanya berdenyut-denyut. Ini dia, kriminal yang telah membunuh banyak orang. Gadis yang diciri-cirikan bertubuh pendek, berambut panjang dan bergelombang, terkenal dengan tatapan membunuhnya. Seorang gadis yang bisa membunuh sambil melangkah ketika orang yang ia tatap menatap matanya. Foto dari data yang kumiliki tak seperti yang kuharapkan. Data yang kumiliki adalah saat ia berusia 11 tahun. Gila, 11 tahun jadi ninja pelarian?

Aku mulai membaca profil gadis tersebut.

Menguasai lima elemen. Apa dia benar-benar manusia? batinku bingung.

Ninja kriminal kelas S. Tak aneh jika ia kelas S. Ia bisa membunuh ketua ANBU.

Memiliki mata sharingan. Ini yang membuatku bingung. Karena yang aku tahu, tidak ada klan Uchiha yang tersisa setelah pembunuhan masal itu kecuali sahabatku, Sasuke, yang kini kembali ke Konoha dan baru-baru ini diangkat menjadi ketua ANBU setelah pembunuhan ketua ANBU sebelumnya, Natsume Kisato.

Saat itu sesosok pria muncul.

"Siap menerima perintah, Tuan Hokage," ANBU bertopeng elang itu tampak berlutut dengan satu kakinya dengan takzim.

"Baiklah, suruh burung hantu dan ular untuk mengejar gadis ini. Ini ciri-ciri gadis tersebut, ada dalam gulungan ini. Aku mendapat informasi jika ia sedang mengarah kesini. Segera berangkat, tangkap dia hidup-hidup, dan bawa ia kemari."

ANBU bertopeng elang itu mengangguk, menerima gulungan itu. Pria yang tak lain adalah Sasuke – kini izin pamit, lalu melesat menghilang.

Terdengar sebuah ketukan pintu.

"Masuk," sahutnya.

"Bagaimana, Naruto?" Tsunade tersenyum pada sang rokudaime hokage yang kini tampak pusing dengan gulungan di mejanya. Shikamaru, sang penasihat, kini sedang sibuk membantu sang hokage.

"Ini soal pembunuhan ketua ANBU itu, Nenek Tsunade," Naruto memandangnya. "Kata nenek, nenek punya prakiraan siapa yang melakukannya?"

"Ini hanya asumsi, kalau dia memang benar-benar memiliki mata sharingan. Nama asli gadis yang kau cari adalah Runa,"

"Runa?" Shikamaru memandang Naruto. "Sepertinya aku pernah dengar."

"Aku belum pernah," Naruto menggeleng. "Ceritakanlah Nek!"

"Runa adalah nuke-nin jenius yang merupakan hasil penelitian Rei. Sekitar 20 tahun lalu, ia meminta izinku untuk mengambil DNA kakekku, untuk mendapat gen mokuton. Aku, juga hokage saat itu menyetujui penelitian ini, karena kupikir penelitian ini adalah sebuah terobosan baru untuk menghasilkan ninja-ninja berbakat yang akan melindungi desa. Ia juga meminta gen dari klan Uchiha, meski banyak yang tak setuju, tapi beberapa dari mereka menyetujui, dan memberikannya. Dan, jadilah seorang Runa, seorang anak kloning yang sukses dengan elemen mokuton dan mata sharingan miliknya..."

"Lalu kenapa sekarang ia menjadi nuke-nin?"

"Entahlah. Kalau kuperhatikan tak ada yang salah dengan anak itu, meski ia mendapat beberapa tekanan dari para petinggi klan Uchiha, karena mereka iri dengan kemampuan anak tersebut yang melampaui batas usia anak-anak seumurannya. Ia lulus chuunin di usia 10 tahun, dan membunuh Yuichi Uchiha sebelum ia meninggalkan desa. Tampaknya ia mengetahui tentang eternal mangekyou sharingan."

"Tunggu sebentar nek, aku tak paham. Apa hubungannya ia membunuh Yuichi Uchiha dengan kemampuan eternal mangekyou tersebut?"

"Kau ini kemana saja, tuan hokage? Eternal mangekyou sharingan diperoleh dari mencangkokkan mata anggota keluarga sendiri ke mata kita!" Shikamaru menjelaskan.

"Dan apa hubungannya dengan Yuichi Uchiha?"

"Ia membunuh Yuichi dan mengambil matanya, karena syarat mangekyou adalah kau harus membunuh sahabat terdekat atau keluargamu sendiri, sedangkan mata itu untuk matanya, tentu saja."

"Tunggu sebentar," Naruto mencerna kalimat sang wanita cantik tersebut. "Bukannya Runa adalah gadis hasil kloning, bagaimana ia memiliki keluarga?"

"Yuichi masih ada pertalian darah dengan Runa, karena dialah yang memberikan gen dirinya atas nama klan Uchiha untuk penelitian Rei," sahut Tsunade lagi. "Karena masih ada DNA atau pertalian darah antara Runa dan Yuichi, mereka masih termasuk kerabat."

"Sekarang kau paham, tuan hokage?" tanya Shikamaru dengan pandangan malas.

"Sepertinya Rei memberi pengaruh buruk padanya, atau semacamnya, entahlah..." Tsunade melipat tangannya ke dada. "Sayang sekali ia harus berakhir menjadi seorang nuke-nin. Kemampuannya luar biasa. Sekarang ia malah menjadi pembunuh bayaran, ninja kriminal kelas S."

~oOo~

Runa menggendong kucing peliharaannya. Tanpa mengetuk ia masuk sekenanya ke dalam ruangan dimana Rei biasa berkutat dengan penelitiannya. Tapi, matanya kini tak menemukan apa yang ia harapkan. Ia memandang ruangan tersebut. Berantakan. Beberapa tabung kaca pecah, cairan-cairan kimia berceceran. Seperti bekas pertarungan, batin Runa. Ia merasakan ada yang tak beres. Ia mencari sosok pria yang menciptakannya, dan matanya tertumbuk pada sesosok pria yang tak asing baginya di lantai. Rei. Ia bersimbah darah, dengan keadaan mengenaskan.

Kematian Rei. Sebuah hal yang sudah ia tunggu sejak lama.

"Kenapa jadi begini?" tanya Runa singkat pada sosok yang kini tinggal jasad tersebut.

Mia ia letakkan di bahunya. Ia berjongkok, memegang pembuluh darah di leher tersebut.

"Ah, kau benar-benar sudah mati," Runa beranjak berdiri.

Saat itu ia merasa , ada tiga sosok dengan seragam yang begitu ia kenali. Ia menoleh memandang 3 pria berseragam ANBU dengan topeng di wajah mereka. Seketika ketiga ANBU itu kaget. Gadis itu tak tampak seperti seorang kriminal. Ia mengenakan sebuah terusan selutut dengan dua katana terselip di pinggang belakang. Rambutnya sangat panjang , menjuntai berwarna hitam yang terikat di ujungnya, serta sedikit rambut yang juga terikat di ujung, menutupi bagian mata kanannya. Kulitnya gelap, tubuhnya pendek.

Mereka tak menyangka, bahwa seorang ninja kriminal kelas S itu ternyata seorang wanita manis. Alih-alih kriminal, ia lebih tampak sebagai gadis tak berdosa.

Sayang saja, raut wajah itu tampak kosong.

Runa menghela nafas, diliriknya jasad Rei yang kini bersimbah darah, lalu memandang ketiga ANBU tersebut.

"Jadi ini perbuatan kalian?" tanyanya singkat. Ketiga ANBU itu saling berpandangan.

"Tak apa, jawab saja. Aku tak akan membunuhmu," katanya lagi.

"Ya, perbuatan kami."

Runa berjalan mendekat, membuat mereka awas dan siap-siap mengambil katana dari punggungnya.

Puk.

"Terima kasih," Runa menepuk bahu salah seorang ANBU. Ketiganya terperangah. Kenapa malah mengucapkan terima kasih? Ada apa dengan sang pembunuh terkejam se-dunia shinobi ini?

"Lalu apa yang akan kalian lakukan setelah ini?"

Ketiganya kembali berpandangan.

"Kalian ANBU konoha bukan?"

"Ya."

"Baiklah, aku tahu dimana salahku kalau begitu," Runa mengangguk. Ia memberikan 2 katana miliknya pada ANBU tersebut. "Aku tak akan lari."

Salah satu dari mereka memandang seorang pria dengan panggilan elang tersebut, sementara pia yang dipandang tersebut mengangguk.

Tiba-tiba saja, Runa merasakan matanya gelap.

~oOo~

.

.

Normal POV

Runa mengerjapkan matanya beberapa kali. Bayangan dari mata kirinya menangkap beberapa sosok di ruang yang tampak gelap itu. Kini semuanya mulai jelas. Dua ANBU bertopeng, sementara ketua mereka melepas topengnya – ah wajah Sasuke yang tak asing karena ia sempat jadi nuke-nin internasional, seorang pria berjubah hokage, seorang pria berambut nanas dengan jonin vest hijaunya, memandangnya dengan wajah dingin, cenderung culas, serta wanita cantik dengan segel byakugou di keningnya, ia kenal wanita itu. Runa merasakan sebuah tali melilit tubuhnya hingga kaki, bahkan jari jemari tangannya pun ikut ditali. Saat itu yang terpikirkan di otaknya hanyalah Mia.

"Mia! Dimana Mia? Jangan kau bunuh dia!"

"Mia?" mereka bingung.

"Kucing kuning tadi! Dimana dia?"

"Tidak, Mia sudah kami pindahkan ke tempat yang lebih aman..." ucap sang ANBU bertopeng Ular, membuat Runa terdiam sejenak.

"Sekarang jawab pertanyaanku, siapa kau sebenarnya!" sang Hokage tersebut memandang Runa dengan tatapan ingin tahu.

"Aku Runa,"

Shikamaru memandang sang hokage dengan tatapan malas, "Tuan Hokage, kau kan sudah tahu siapa dirinya, seharusnya yang kau tanyakan adalah benar atau tidaknya identitas tersebut."

"Ah ya," Naruto menggaruk kepalanya. "Baiklah. Ini saatnya aku bertanya tentang dirimu."

Runa mengangguk. "Silahkan."

"Apa benar, kau dulu adalah seorang shinobi Konoha?"

"Ya."

"Kau merupakan bayi kloning, hasil penelitian seorang pria bernama Rei, benar?"

"Ya, ketiga ANBU tadi sudah membunuhnya," sahut Runa pelan.

"Apa benar kau memiliki eternal mangekyou sharingan?"

"Nona Tsunade mengenalku, tanya saja padanya..." Runa menunduk.

"Jawab saja," sahut Shikamaru malas.

"Ya, dari Yuichi Uchiha."

"Sebentar Naruto," Tsunade menyela interogasi tersebut, mendekat pada Runa. "Runa, mengapa kau menjadi pembunuh seperti ini?"

"Rei."

"Eh?"

"Ia sengaja membuatku bukan atas dasar niatannya untuk menciptakan ninja-ninja berkompetensi, tapi menjadikanku sebagai seorang pembunuh. Aku hanya dibuat demi menjadi mesin pencari uang untuknya, membunuh sana sini, demi sebuah bayaran, sementara aku bisa makan dan mendapat bagian beberapa persen darinya, ia mendapat banyak uang dari upah misi tersebut yang banyak dilimpahkan untuk penelitiannya yang gila. Aku tak bisa lepas darinya, sebab aku memiliki segel dalam tubuhku, dimana jika aku memiliki niatan kabur untuk meninggalkannya, segel tersebut otomatis menghentikan semua pergerakan ototku, sehingga aku tak bisa bergerak, kecuali berbicara dan berkedip," jelas Runa panjang lebar.

~oOo~

.

.

Runa POV

"Sebentar Naruto," Tsunade menyela interogasi tersebut, mendekat padaku. "Runa, mengapa kau menjadi pembunuh seperti ini?"

"Rei."

"Eh?"

"Ia sengaja membuatku bukan atas dasar niatannya untuk menciptakan ninja-ninja berkompetensi, tapi menjadikanku sebagai seorang pembunuh. Aku hanya dibuat demi menjadi mesin pencari uang untuknya, membunuh sana sini, demi sebuah bayaran, sementara aku bisa makan dan mendapat bagian beberapa persen darinya, ia mendapat banyak uang dari upah misi tersebut yang banyak dilimpahkan untuk penelitiannya yang gila. Aku tak bisa lepas darinya, sebab aku memiliki segel dalam tubuhku, dimana jika aku memiliki niatan kabur untuk meninggalkannya, segel tersebut otomatis menghentikan semua pergerakan ototku, sehingga aku tak bisa bergerak, kecuali berbicara dan berkedip," jelasku panjang lebar.

Kudengar pekikan tak percaya. Aku kembali menunduk, menunggu pertanyaan selanjutnya.

"Lalu, siapa yang telah menyuruhmu membunuh Natsume?"

Aku terdiam. Kalau memang aku mengatakan semuanya secara jujur, ini akan jadi masalah baru buat mereka, dan sebuah ancaman buatku. Kenapa? Keluarga itu pasti tahu suatu saat nanti, bahwa yang membocorkan semua rahasia permintaan mereka adalah aku, karena hanya aku, Rei dan keluarga orang itu yang mengetahui misi yang kulakukan, dan orang tersebut pasti akan dituntut. Mengingat orang yang meminta misi itu adalah orang yang cukup berpengaruh didesanya, kurasa keluarganya pasti akan malu menanggu aib, dan salah seorang dari mereka – mungkin bisa jadi juga suruhan mereka, pasti akan mengejar aku.

Eh, lalu apa yang kutakutkan? Bukankah aku kesini, menyerahkan diri, telah berkomitmen dan siap untuk menerima semua konsekuensi yang mungkin terjadi, bahkan konsekuensi untuk mati sekalipun?

"Dia Tomoaki Matsuda, salah satu bangsawan dari Kumo..."

"Kau tahu alasannya?"

"Aku ini pembunuh bayaran, bukan mesin penjawab semua pertanyaan," sahutku sebal. Tentu saja aku tak tahu motifnya. Tentu hanya bangsawan dan tuhan yang tahu maksud permintaan terkutuknya itu!

"Dan kau membunuh orang sembarangan saja tanpa tahu alasannya?!" tanya Tsunade ternganga kaget.

Aku tertawa kecil. "Semua ini hanya sebuah balas jasa, sementara aku tak bisa lepas dari Rei."

Merek terhenyak. Sang pria berjubah oranye itu kembali menatapku.

"Bicara soal segel, bagaimana segelmu saat ini?

"Segelku otomatis terlepas jika sang pemasang terbunuh atau dibunuh."

"Jadi kau terbebas dari segelnya karena ia telah mati?"

"Hn."

Hening. Semuanya diam. Mungkin mereka sedang sibuk dengan pikirannya masing-masing. Aku kembali tertunduk, menghela nafasku yang berat karena dadaku tertahan tali tambang yang begitu besar dan erat merengkuh tubuhku.

"Ngomong-ngomong, mengapa kau menyerahkan diri?"

"Aku tak punya tujuan apapun lagi kecuali ingin kembali ke desa dimana aku berasal," jawabku pelan. "Menjalani hidup yang normal, kalau bisa."

"Jadi kriminal sepertimu ingin hidup normal juga, eh?" tanya Shikamaru dengan nada malas

"KAU PIKIR AKU MAU JADI PEMBUNUH, HAH?" aku mengaktifkan mangekyou sharinganku. "AKU JUGA INGIN HIDUP SEPERTI KALIAN!"

Mereka saling berpandangan, memandang mataku. Sang hokage mengalihkan pandangannya ke arah Sasuke.

"Nah teme, tampaknya ada saudara jauhmu yang datang dari negara yang berbeda," suara Hokage kembali terdengar, mengajak bicara sang Ketua ANBU yang sejak tadi hening. "Setidaknya ada dua Uchiha di desa kita."

"Aku tetap tak mau disebut bagian dari Uchiha," kataku, mengalihkan kepalaku ke arah lain, meski mataku masih ditutup. "Seharusnya juga aku tak disini."

Semua kembali membisu. Hanya detak jarum jam yang memecah sepi. Beberapa kali terdengar mereka menghela nafas panjang.

"Baiklah. Kini semua pertanyaan terjawab. Kini ada beberapa permintaan untukmu. Aku minta kau menyebutkan nama-nama orang yang telah memintamu melakukan 'pekerjaan' tersebut agar kau mendapat keringanan hukuman. Bagaimanapun, disini kau hanyalah seorang mesin pembunuh."

"Sejujurnya aku tak suka disamakan dengan barang – tapi kurasa, istilah tadi cukup tepat untukku," sahutku kalem.

"Jadi, apa kau mau menuruti permintaanku?"

"Untuk apa aku harus menuruti permintaanmu, Tuan Hokage? Aku tak masalah jika harus dihukum mati. Itu setimpal untuk semua perbuatanku,"

"Kami bukan kau. Akan selalu ada cara untuk meringankan hukuman sang terdakwa jika sang terdakwa memang patut mendapatkannya," sebuah suara menginterupsi. Aku menoleh ke sumber suara. Ah suara sang Ketua ANBU tadi rupanya. Aku tersenyum tipis.

"Apa menurutmu aku patut mendapatkan keringanan hukuman itu, mantan nuke-nin, eh?"

Terdengar suara nafas tertahan. "Tentu saja, Uchiha-san."

"Tidak, tidakk...tidak...Panggil saja Runa."

"Nah, jadi?" suara sang hokage kembali terdengar.

"Baik. Aku menuruti permintaanmu."

.

.

Sasuke POV

Aku terhenyak saat mendengar bahwa ia mendapat ternyata seorang Uchiha juga. Ternyata masih ada satu Uchiha yang selamat meski kini statusnya adalah ninja kriminal kelas S. Hanya saja aku tak begitu percaya saat melihat wajahnya yang manis dan berkulit gelap ini ternyata seorang ninja pembunuh bayaran. Ah, klanku. Kekuatan klanku ini terkadang jadi senjata yang menikam kita akan kemampuan hebat agar ditakuti. Bodohnya, batinku di dalam hati.

"Nah teme, tampaknya ada saudara jauhmu yang datang dari negara yang berbeda," Naruto memandangku dengan senyumnya, "setidaknya ada dua Uchiha di desa kita."

Aku terdiam. Kami, tepatnya para Uchiha, memang bukanlah orang yang banyak bicara. Emosi, ekspresi, dan beberapa yang berhubungan dengan perasaan bukanlah hal yang akrab dengan para Uchiha. Memang kebiasaan kami banyak membuat orang jengah, tapi itu pun sulit dihilangkan. Rasanya watak irit bicara ini seperti sudah mendarah daging dalam tubuh para Uchiha.

"Aku tetap tak mau disebut bagian dari Uchiha," kata gadis tersebut, mengalihkan kepalanya ke arah lain, tak suka. "Seharusnya juga aku tak disini."

Memangnya ada apa dengan Uchiha? Aku menggerutu dalam hati. Bukankah itu adalah kekuatan yang membuatnya jadi kuat dan menjadi ninja kelas S yang dicari se-internasional? Kalau kulihat dari wajahnya, sepertinya ia tak suka sama sekali saat disebut bagian dari Uchiha. Aku menghela nafas. Mungkin ia punya alasan sendiri?

"Baiklah. Kini semua pertanyaan terjawab. Kini ada beberapa permintaan untukmu. Aku minta kau menyebutkan nama-nama orang yang telah memintamu melakukan 'pekerjaan' tersebut agar kau mendapat keringanan hukuman. Bagaimanapun, disini kau hanyalah seorang mesin pembunuh."

"Tch. Sejujurnya aku tak suka disamakan dengan barang – tapi kurasa, istilah tadi cukup tepat untukku," sahut gadis berambut indah itu dengan senyum sinis.

"Jadi, apa kau mau menuruti permintaanku?"

"Untuk apa aku harus menuruti permintaanmu, Tuan Hokage? Aku tak masalah jika harus dihukum mati. Itu setimpal untuk semua perbuatanku,"

"Kami bukan kau. Akan selalu ada cara untuk meringankan hukuman sang terdakwa jika sang terdakwa memang patut mendapatkannya," kataku, dan kulihat kepalanya kini menoleh ke arahku, mendengarkanku.

"Apa menurutmu aku patut mendapatkan keringanan hukuman itu, mantan nuke-nin, eh?"

Hah, dia tahu? Aku berpikir. Aku dulu juga seorang kriminal, mantan nuke-nin, buronan lima negara shinobi, dan kini kembali lagi ke desa asalnya. Kalau bukan karena sahabatku yang kini jadi Hokage, mungkin sekarang aku hanya tinggal nama saja. Para tetua itu memang sulit diajak kompromi.

"Tentu saja, Uchiha-san."

"Tidak, tidakk...tidak...Panggil saja Runa," ia mendengus. Ia memang tak suka dengan klan ku, sepertinya.

"Nah, jadi?" suara sang hokage kembali terdengar.

"Baik. Aku menuruti permintaanmu."

Gadis ini ternyata tak sulit diajak bekerja sama.

"Sejujurnya..." ia menghela nafas panjang. "Aku tak keberatan untuk kalian interogasi, bahkan aku kesini memang sudah siap mati. Jadi sebelum menuruti permintaan Tuan Hokage, bisakah lepaskan tali ini?"

Aku terdiam. Ya, ucapannya memang benar. Kalau dia berniat menyerang buat apa dia dengan mudahnya menyerahkan diri, sementara semua negara shinobi tahu, kekuatannya...mengerikan?

Kedua ANBU itu memandangku seolah meminta persetujuan. Aku mengangguk sekali, dan mereka langsung melepas ikatan kencang yang membebat tubuh gadis pendek itu. Ya, gadis itu pendek. Mungkin hanya 150 atau 155 cm. Hanya saja tubuhnya tampak cenderung kekar dan berisi. Itu terlihat dari tangan, bentuk paha dan da – ah, bicara apa sih aku? Kenapa jadi menilai bagian yang itu?

Gadis itu meregangkan tubuhnya. Ia duduk dengan sopan diatas kursi tersebut. "Baiklah, jadi kapan dimulai?"

.

.

Runa POV

Interogasi itu membuatku lelah. Selain pertanyaan, Ibiki pun langsung turun tangan menginterogasiku. Kini dalam sel tahananku, aku menunggu saat-saat pengadilan Konoha memanggilku untuk didakwa. Aku tersenyum, merebahkan tubuhku di atas ranjang yang keras itu. Aku tak peduli. Toh aku juga biasa tak tidur.

Seandainya aku didakwa bersalah dan dihukum mati, bagaimana si manis, Mia? Aku beranjak duduk. Ya, teman sekaligus peliharaan yang sangat kusayang. Apa aku harus titipkan Mia pada sosok yang mau memeliharanya?

"Aku berharap ia mendapat majikan yang lebih baik," gumamku pelan.

"Runa," sebuah suara ngebass memanggilku dari luar sel, membuka pintu sel. "Ada yang ingin bertemu denganmu."

Aku memiringkan kepalaku. Bertemu denganku?

Aku beranjak berdiri, berjalan keluar. Aku dikawal oleh 2 ANBU menuju ruang dimana orang tersebut telah menunggu. Disana seorang wanita dengan kucir dua dan poni samping yang membingkai wajah cantiknya, memandangku dingin. Ia mengenakan baju hijau, dengan dalaman putih yang tampak mencuat menutupi dadanya.

"Nona Tsunade?"

"Kau masih ingat namaku rupanya?"

"Bagaimanapun kau terkenal, Nona..." kataku pelan. "Iryo-nin handal dengan kekuatan mengerikan, siapa yang akan melupakan?"

Tsunade tersenyum.

"Duduklah. Aku akan membicarakan hal mengenai pengadilan esok hari tentang masalahmu."

"Lebih tepatnya, kasusku..." kataku pelan sembari duduk. "Lalu?"

"Aku sudah membuat kesepakatan dengan hokage untuk meringankan hukumanmu. Hokage menyetujuinya, dan kuharap kau juga turut mengiyakan pembelaan dari hokage."

"Kenapa kau melakukan hal ini pada seorang pembunuh sepertiku?" tanyaku singkat.

"Hm, baiklah. Perlu kujelaskan. Beberapa ANBU menerangkan proses tentang bagaimana kau bisa dibawa kesini tanpa pertumpahan darah, sementara di satu sisi kau terkenal dengan keganasanmu yang membunuh tanpa basa-basi," ia memulai.

"Kalau aku mau, aku juga bisa membunuhnya," kataku pelan, menunduk. "Sayangnya, aku tak punya mood untuk membunuh orang lagi. Aku lelah."

"Lelah?"

"Kau pikir membunuh ratusan nyawa manusia tanpa tahu alasannya itu menyenangkan, heh?" aku mengaktifkan mangekyou sharinganku, menatapnya tajam. "AKU LELAH MENJADI MESIN PEMBUNUH! AKU HANYA BONEKA BERNYAWA YANG TAMPAK SEPERTI TAK PUNYA HATI!"

"Jadi kau masih punya hati?"

"Tentu saja," aku menonaktifkan mata merah itu, menunduk.

"Lalu apalagi yang mau kau jelaskan, Nona Tsunade?"

"Aku malah ingin bertanya," katanya singkat. "Apa kau masih memiliki semangat untuk melanjutkan hidup yang lebih baik?"

Aku mengerling ke arah lain. "Kalau bisa, tentu saja."

Tsunade tersenyum kecil.

"Tapi..." aku menggantungkan kalimatku, sementara wanita di hadapanku menunggu. "Seandainya aku tak mendapat keringanan, aku minta satu hal..."

Tsunade menatapku dengan pandangan penuh tanda tanya. Mataku kembali normal, menunduk.

"Urus kucingku, Mia, untukku. Ia segalanya bagiku. Dan sampaikan salamku pada Sakura, dari Izumi."

~oOo~

.

Sakura POV

Aku menyelesaikan semua persiapanku untuk pulang. Saat itu bertepatan sebuah elang mengantarkan surat untukku, hinggap di jendela dan menatapku tajam. Ini dia yang sudah lama kutunggu. Surat dari sahabat penaku. Aku membuka surat dalam gulungan tersebut.

Sakura yang baik,

Maaf aku baru bisa membalas suratmu sekarang. Jujur saja, sekarang aku di Konoha, tapi aku belum bisa memberitahu dimana aku berada. Kuharap kabarmu baik-baik saja, karena aku kini terserang flu. Ah, sepertinya aku memang harus belajar lebih banyak ninjutsu medis dan meramu obat-obatan sepertimu. Jika kita bertemu, ajari aku ya? Aku akan mengajarimu masak, dan kau mengajariku ilmu medis dan ramuan obat-obatan. Bagaimana?

Bagaimana kabarmu dengan Sasuke? Pria dingin berwajah stoic itu masih sama? Atau sudah ada perkembangan? Kuharap kau bisa segera mendapatkan cintanya. Kalau ia masih memperlakukanmu dengan watak dinginnya, aku berani bersumpah akan menghajarnya. Lihat saja Sakura. Katakan saja padaku dengan jujur. Aku tahu, kau sakit dan tak bisa memendamnya sendiri. Mungkin inilah resiko mencinta sendiri, eh? Kesannya seperti aku paling tahu, ya?

Aku banyak menganggur sekarang, jadi kau bisa langsung membalasnya, dan aku juga akan langsung membalasmu. Beri saja El makan sedikit daging. Elang itu memang selalu lapar.

Tak sabar bertemu denganmu. Semoga harimu menyenangkan!

Salam sayang,

Izumi

Sakura tersenyum geli. Ia tak jadi pulang, mengambil pulpennya, lalu menulis.

Izu-chan,

Kau tahu, rasanya senang sekali mendapat balasan darimu. Beberapa hari aku bingung, karena balasanmu yang biasanya kilat kini sangat lama! Tapi tak masalah, kini aku senang kau membalasku, terlebih kau kini sekarang berada di Konoha! Aku jadi tak sabar ingin bertemu denganmu! Soal medis itu, tentu saja! Aku pasti akan mengajarimu.

Sasuke...sama. Ia tetap tak berubah. Dingin dan datar. Aku beberapa kali datangnya dengan maksud yang tak tentu sekedar mencuri perhatiannya. Membuatkannya onigiri atau memasak untuknya tapi tampaknya pria itu memang berhati batu. Padahal aku begitu mencintainya. Ia hanya bilang dengan wajah dinginnya yang super menyebalkan, "kau harus belajar masak lagi." Nah! Itu secara tak langsung menghina masakanku kaaaan? Pria tampan itu memang sialan!

Kau tak perlu memukul Sasuke, Izu-chan. Lagipula ia pasti bereaksi kalau kau pukul tanpa memberi alasan yang jelas. Malah bisa jadi ketika kau memberikannya alasan, ia malah mengeluarkan jurus pamungkasnya. Aaaah, aku tak mau membayangkan pria itu dengan jurus andalannya itu. Aku kesal, kesal, kesall...

Ingin rasanya cepat-cepat bertemu denganmu, Izu-chan. Hariku menyenangkan setelah menerima surat darimu. Lekas sembuh Izu-chan

Salam sayang,

Sakura Haruno

PS: Banyak-banyaklah minum air jahe dan makan yang teratur serta konsumsi buah-buahan. Semoga lekas sembuh!

Aku memasukkan gulungan itu ke dalam tabung di kaki El. Setelah memberinya sepotong daging dari sisa makan siangku, aku melenggang pulang. Tak sabar bertemu dengan Izu-chan.


Itachi: Kok aku belum muncul sih? *jambak rambut sendiri*

Author :*elus-elus kepala Itachi* bentar lagi kok say.

Yah. Jadi sampai sini dulu update-nya. Maaf kalo ngaco. Mohon reviewnya! *nari hula*