Disclaimer : EXO adalah milik agensi mereka, diri mereka, dan orang tua mereka masing masing.
Genre : Romance
Pair : Kai/Suho.
Rating : T
Warning : Shou-ai, Crack pair, AU.
+H+
Suho menatap keluar jendela, langit terlihat mendung dan itu membuat salju di jalan tidak akan mencair, dia menatap pot kecil di hadapannya, Hellebore, tapi kenapa juga dia harus memelihara tanaman beracun itu? Ah, dia sedang ingin saja.
"Kita tidak pergi ke rumah kakakmu, Dae?" Tanya Kris, bergelung di sofa dengan banyak selimut.
"Musim dingin seperti ini, kau mau ke pantai? Yang benar saja, Kris?"
"Pantai sepi saat ini, kita bisa menikmati pastai seakan kita yang punya, Dae."
"Terserah kau saja, tidak akan kutolong kalau kau membeku."
Suho hanya mendengarkan pembicaraan tidak penting itu. Rumahnya tepat disebelah dan dia ada di rumah tetangganya sekarang. Apa, ya, yang membuatnya berakhir disini?
"Aku mengantuk." Kai keluar dari kamarnya dan terhuyung huyung, lalu ambruk di atas selimut Kris yang hangat.
"Tidur saja, kalau mengantuk." Kata Kris, dia membungkus Kai dengan satu dari banyak selimutnya dan menggulingkannya ke lantai.
"Ibu mengusirku dari kamar, aku mau tidur dimana lagi?"
"Ya, di kamar kakakmu."
"Serius, ya, Kris, bagaimana dia bisa tidur di kamar kakaknya?" Kata Jongdae.
"Ya, dia hanya mencari tempat tidur, kan?"
"Tidakkah itu menimbulkan masalah?" Tanya Jongdae.
Kai mengangkat tubuhnya dari lantai, Suho yang diam saja jadi memperhatikannya, dia mengangkat kepalanya dan mata coklatnya bertemu dengan mata Suho, Suho buang muka.
"Sebenarnya ada satu masalah." Katanya, pada sepupunya dan anak sahabat ibunya.
"Masalah?" Tanya anak sahabat ibunya, Kris.
"Masalah itu?" Tanya sepupunya, Jongdae.
"Kau tahu sendiri, kan, Dae, ada sesuatu yang membuatku malas masuk ke kamarnya."
"Bukannya kau punya dua kakak? Siapa yang bermasalah? Jungah atau Junghwa?" Tanya Kris.
"Dua duanya!" Seru Kai dan Jongdae.
"Aku tidak mau membicarakannya!" Seru Kai lagi dan dia berguling guling di lantai.
"Serius? Lalu siapa yang tadi memulai pembicaraan ini?" Tanya Jongdae.
"Diam kau! Aku masih ingin tidur, jangan membuatku kesal!"
"Masalah apa? Aku sama sekali tidak mengerti yang kalian bicarakan." Kata Kris.
"Masalah pos-Hmph!"
Kai membekap Jongdae yang sudah mulai bicara. "Sudah kubilang diam!"
Mereka bergelut di lantai dan, entah sihir atau apa, kali ini Jongdae menang, Kai tergulung selimut Kris.
"Poster maksudnya?" Tanya Suho.
"Iya, iya, poster." Jawab Jongdae.
"Apa masalahnya dengan poster?" Tanya Kris.
Yang lain menghela napas. "Itu bukan sembarang poster, Hyung." Kata Jongdae.
"Itu poster Shinhwa." Sambung Suho.
"Hanya poster Shinhwa?" Tanya Kris, dia makin tidak mengerti.
"Dan itu telanjang! TEL-HMPH!" Kai berseru dan Jongdae menutup mulutnya dengan selimut.
"Ya, seperti yang kau dengar begitulah keadaannya." Kata Jongdae, Kai terbatuk batuk setelah lepas dari jerat selimutnya sendiri.
"Tapi itu membuatku geli. Geli!" Katanya.
Suho jadi memikirkan kata geli, geli karena melihat Shinhwa dalam pose seperti itu. Ya, dia sendiri juga sedikit geli, tapi kalau Kai sampai seperti itu.
"Apa apaan itu, bukannya kau biasa menonton video porno?" Tanya Kris.
"Siapa yang menyebarkan tuduhan itu?" Tanya Kai horror, Kris menunjuk Jongdae, dan mereka bergulat lagi.
Tapi kalau Kai sampai seperti itu, ada kemungkinan dia normal normal saja.
Mengerti tidak apa maksud dari normal normal saja?
Suho menghela napas, Kris bangun dari tidur tidurannya di sofa, meninggalkan banyak selimutnya.
"Sekali kali menonton juga tidak masalah, kan?!" Kata Jongdae, Kris yang sudah berdiri menendangnya.
"Kalau kalian masih berisik, akan aku ikat di depan pagar." Dan dia pergi.
"Mau kemana?" Tanya Kai, nadanya seperti anak yang ditinggal ibunya.
"Cari makan, kalian juga lebih baik makan daripada mati kedinginnan." Katanya pada Kai dan Jongdae.
"Yang di pojok sana juga makan, ya." Katanya pada Suho, Suho tiba tiba mendongkak menatapnya.
"Aduh, perhatian sekali pada Suho Hyung." Kata Jongdae, Kai memukul kepalanya.
Suho tertawa entah meremehkan atau mengejek. "Tidak mungkin, Dae, yang kau pikirkan hanya percintaan saja."
"Ya, jelas tidak mungkin." Kata Kai. "Kalau sampai terjadi akan kupatahkan lehernya."
Suho sedikit tersipu, entah Kai cemburu pada siapa, mengingat dia tidak terlalu dekat dengannya dan selalu bertengkar dengan Kris, lagipula orang punya cara yang berbeda dalam menunjukan cinta.
"Ya… Tidakkah kalian menganggapnya sebagai kakak?" Tanya Suho, dia turun ke lantai dan menarik selimut Kris untuk dipakai bersama.
"Kakak yang tidak menyebalkan seperti Jongmin." Kata Jongdae.
"Kakak laki laki satu satunya." Kata Kai.
"Ya, kakak yang tidak membuatku ada di sauna selama tujuh jam."
Jongdae terduduk tiba tiba, meninggalkan Kai dan Suho yang tidur di lantai. "Ceritakan lagi soal sauna, aku ingin mendengarnya lagi!"
"Diam kau, Kim Jongdae! Aku tidak akan pernah cerita lagi!" Kata Suho, dia berlindung di perut Kai yang malah mengelus rambutnya yang di cat merah.
"Ah, Hyung, ayolah…"
"Jongdae."
"Itu salahmu, kan, Hyung, kenapa juga harus kabur ke sauna?"
"Jongdae."
"Ayolah, Hyung, atau aku minta Junsu Hyung saja yang cerita?"
"Kim Jongdae!"
"Ah, Hyung, tidak asyik." Katanya, dia tiduran di lantai lagi.
"Setidaknya cerita kenapa dia bisa dapat nama separasan Junsu." Kata Jongdae lagi.
"Memang Junsu pasaran?" Tanya Suho.
"Hyung ini bagaimana? Banyak sekali orang bernama Junsu!"
"Junsu, Siwon, dan Seunghyun juga pasaran, model Victoria's Secret juga bernama Seunghyun." Kata Kai.
Suho dan Jongdae tiba tiba menjauh.
"Apa?" Tanya Kai.
"Darimana kau tahu soal Victoria's Secret?" Tanya Suho.
"Bukannya melihat fotonya saja sudah seperti melihat majalah porno?" Tanya Jongdae, Suho memukul kepalanya.
Kai jadi panik. "Tidak, tidak, bukan aku yang suka melihat model Victoria's Secret! Eng… Temanku! Temanku yang suka melihatnya!"
"Si Sehun, ya?" Tanya Jongdae, Kai panik lagi.
Kai menghela napas, si Sehun itu memang suka Miranda Kerr, tapi dia tidak ingin membocorkannya juga. "Darimana kau tahu itu Sehun?" Tanyanya.
"Memangnya kau punya teman selain dia?" Tanya Jongdae.
"Ada Moonkyu! Ada Sulli! Ada Krystal, aku punya teman!"
"Tapi tetap tidak dapat cokelat saat Valentine." Ejek Jongdae.
"Ah! Sudah! Kau harusnya bersikap baik padaku, kalau aku sudah kembali ke Juilliard kau pasti akan merindukanku!" Kata Kai.
Ah, Juilliard.
Suho yang akan merindukannya kalau dia pergi ke Juilliard.
Hari hari berikutnya Kai dan Kris mulai bersiap pergi, Suho diam saja dengan pot Hellebore-nya, Dan Jongdae akan pindah ke apartemen editornya yang dekat dengan apartemen ilustratornya agar semua yang menyangkut novelnya bisa dibicarakan dengan mudah.
"Pak guru, kenapa diam saja?" Tanya Jongdae, Suho masih berpangku tangan di jendela.
"Aku belum jadi guru, Dae."
"Tapi calon guru, kan?"
Suho masih diam, diam, dan diam.
"Ada apa, Hyung?" Tanya Jongdae.
"Tidak ada apa apa."
"Kusuruh Kai saja yang bicara, ya."
Suho menoleh, Jongdae tertawa.
"Dia sedang bersiap siap terbang ke New York."
"Dia tidak akan keberatan kalau kau ganggu." Kata Jongdae.
"Bukan aku yang ganggu, tapi kau karena aku, dan dari mana kau tahu dia tidak akan keberatan?"
Jongdae tertawa. "Kau bodoh kalau tidak menyadarinya."
"Kau berani mengataiku bodoh?"
"Ya, karena Hyung memang bodoh kalau soal percintaan."
"Memangnya kau pernah punya pacar?"
"Tidak juga, tapi aku saja sadar kenapa Hyung tidak?"
"Sadar apanya?"
"Perasaan In."
"Kau hanya mengkhayal, Dae."
"Kau terlalu pesimis, Hyung."
"Tidak, aku realistis."
"Lihat saja nanti, Hyung, siapa yang benar, kau atau aku."
"Berhenti bicara seperti kita ada di film aksi, Dae."
"Dan kau juga berhenti duduk disitu seperti kita ada di drama TV, Hyung! Angkat pantatmu dan dekati dia!"
Suho menatap Jongdae tajam. "Aku tidak suka pemilihan katamu."
"Tapi adanya memang seperti itu, Hyung! Jangan terlalu banyak duduk!"
Jongdae menariknya berdiri dan meninggalkan pot helleborenya, Hellebore sebentar lagi mekar.
"Kapan kau akan pergi?" Tanya Jungah.
"Huhin hehok, hanya huis haha." 'Mungkin besok, tanya Kris saja' maksudnya.
"Habiskan dulu makananmu baru bicara." Kata Jungah lagi.
"Seperti kau tidak saja."
"Terserah padaku, ya, memangnya disini kau yang kakak?"
"Ya, terserah padamu saja, Jungah Noona!" Kai memberi penekanan pada panggilan Noona.
Jungah tertawa. "Jadi kapan kau pergi?"
"Besok, mungkin? Tanya Kris saja." Kai memberi jeda sebentar. "Ada urusan dengan kantornya jadi kami harus berangkat lebih awal."
"Lebih awal?" Tanya Suho, dia datang ditarik Jongdae dan tahu tahu sudah mendengar bahwa Kai akan pergi.
"Ya, lebih awal." Ulang Jungah.
"Memang ada apa dengan perusahaanmu?" Tanya Jungah.
"Susah kalau kujelaskan, pokoknya ini mendesak sekali." Kata Kris, dia berleha leha di depan TV.
"Hebat sekali kau, Tuan CEO, saat ini masih bisa berleha leha seperti itu."
"Semua orang harus menikmati liburnya, Jungah. Oh, iya, aku titip mobilku, ya, janga lecet."
"Ya, kita lihat saja nanti."
"Kau akan kembali ke New York besok?" Tanya Suho lagi.
"Ya, seperti itulah." Kata Kai.
"Tidak bisakah kau di Korea saja?" Tanya Suho lagi, padahal kalau Kai tetap di Korea itu tidak menjamin Suho akan berani mengambil langkah.
"Hyung tahu, kan, Juilliard itu mimpiku dari dulu."
"Ya, aku mengerti."
Suho tidak bisa apa apa lagi, tidak berani apa apa lagi, dia hanya duduk di dekat jendela dan pot hellebore-nya, bunganya yang putih mulai mekar, sebentar lagi musim semi.
"Hyung, kau serius mau duduk di situ terus?" Tanya Jongdae, dia lewat sekilas di sekitar Suho.
"Nanti ditinggal, Hyung, kita mau mengantar Kai dan Kris ke Bandara."
"Joonmyun Hyung!"
Suho bahkan tidak menoleh saat dipanggil nama aslinya, mana kuat dia melepas orang yang dicintainya untuk waktu yang entah berapa lama di negri orang seperti itu.
Ah! Tapi dia harus kuat, setidaknya pura pura kuat, memang dia siapanya Kim Jongin?!
Jadi dia menoleh dan mendapati Kai, Kim Jongin, ada di sana, menatap langsung ke matanya.
"Hyung tidak ingin mengantarku?"
Kai bertanya dan Suho tidak bisa menjawab.
"Kau tidak mencegahku pergi?" Tanya Kai lagi.
"Aku sudah melakukannya, tapi kau bilang Juilliard itu mimpimu." Jawab Suho.
Kai tiba tiba mengenggam tangannya. Kenapa? Suho juga tidak tahu, yang jelas saat ini dia merasa harus mengambil langkah, jadi dia menarik tangan Kai.
Kai dengan senyum di bibirnya mendekat pada Suho dan mencium bibirnya, Suho tidak mengerti kenapa dia dicium apa Kai juga mencintainya? Tapi rasa cinta itu percuma kalau tidak ada yang bicara, meskipun mereka saling mencintai.
Suho harus berani, berani dalam bertindak, berani dalam mencium, sebelum waktunya habis. Suho yang pertama membuka mulut dan memainkan lidah, dengan sedikit kasar menarik Kai makin mendekat, dia sudah tidak peduli karena inilah yang dia inginkan.
"Jongin! Suho! Aish! Dimana anak anak itu?!"
Gigi terbentur dan lidah sedikit tergigit, mencampur linu dan sakit, Kai dan Suho sama sama tahu itu teriakan Junghwa dan sama sama tahu kalau mereka akan sedikit terlambat untuk penerbangan Kai. Jadi mereka melupakan rasa sakit dan pergi sambil terus berharap mereka akan dapat waktu seperti ini lagi
+FIN+
